Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
I Wayan Sudarma, S.Ag – Bekasi
”Om Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud-Mu sebagai dewi Saraswati, penganugrah berkah, wujud kasih seorang ibu sangat didambakan umat manusia. Semogalah segala kegiatan hamba senantiasa berhasil atas karunia-Mu.” (Saraswatistawa . 1)
Umat Hindu di Indonesia merayakan hari raya Saraswati yang disebut juga Saraswati Puja. Sebenarnya hari untuk memperingati turunnya ilmu pengetahuan suci (Weda) dirangkai pula dengan pemujaan kepada Sri, Laksmi dan Paramesti Guru .
Di Bali masing-masing hari-hari untuk memuja sakti Tuhan Yang Maha Esa itu disebut Sapuwau (Saraswati), banyu Pinaruh (rangkaian dari Saraswati), Soma Ribek, Sabuh Mas dan Pagerwesi. Hari-hari raya atau hari keagamaan ini sesungguhnya adalah hari memuja Tuhan Yang Maha Esa (Sang Hyang Tunggal), namun untuk kepentingan praktis yakni untuk memudahkan umat memuja-Nya, maka yang dipuja itu adalah aspek-aspek atau manifestasi-manifestasi yang sangat didambakan oleh umat manusia.
.Di dalam teologi Hindu (Brahma Widya), Tuhan Yang Maha Esa disebut dengan ribuan nama (Sahasrara nama Brahman). Di antara ribuan nama atau manifestasi-Nya itu, Brahma, Visnu dan Siva merupakan tiga manifestasi utama-Nya. Hyang Brahma adalah Tuhan Yang Mahaesa yang dipahami sebagai pencipta alam semesta. Kata Brahma sendiri berarti: yang tumbuh, berkembang, berevolusi, yang bertambah besar, yang meluap dari diri-Nya, dan sejenisnya. Ciptaan-Nya muncul dari diri-Nya, seperti halnya Weda yang muncul dari nafas-Nya. Kemahakuasaan Hyang Brahma sebagai pencipta jagat raya didukung oleh sakti-Nya yang disebut Sarasvatì, dewi pengetahuan dan kebijaksanaan yang memberikan inspirasi untuk kebajikan umat manusia. Saraswati digambarkan sebagai dewi yang cantik dengan empat tangan dan masing-masing tangan-Nya membawa keropak atau pustaka suci, yang melambangkan sumber pengetahuan (Weda), teratai, melambangkan kesucian, tasbih melambangkan bahwa mereka yang mampu berkonsentrasi mempelajari ilmu pengetahuan akan memperoleh pengetahuan yang sejati dan wina atau gitar melambangkan keindahan. Atribut lain dari dewi yang digambarkan berkulit putih mulus dan berbhusana serba putih adalah angsa yang melambangkan Wiwekajnana, yakni kemampuan membedakan yang baik dengan buruk, yang salah dengan yang benar. Di samping kendaraan angsa tadi, terdapat juga di bagian bawahnya seekor merak yang melambangkan keangkuhan. Dengan pengetahuan suci (sejati), keangkuhan seseorang yang memiliki pengetahuan ditekan sehingga menjadi lembut dan pemurah.
Hyang Wisnu manifestasi Tuhan Yang Mahaesa memelihara jagat raya dan segala isinya.. Ia yang menghidupkan segalanya. Kata Wisnu berarti: pekerja, yang meresapi segalanya dan sejenisnya. Kemahakuasaan Hyang Wisnu dalam memelihara alam semesta beserta segala isinya didukung oleh saktinya yang bernama Laksmi.
Hyang Siva adalah Tuhan Yang Mahaesa sebagai pelebur kembali (aspek pralaya atau pralina dari alam semesta dan segala isinya). Siva yang sangat ditakuti disebut Rudra (yang suaranya menggelegar dan menakutkan). Kata Siva berarti: yang memberikan keberuntungan (kerahayuan), yang baik hati, ramah, suka memaafkan, menyenangkan, memberi banyak harapan, membahagiakan dan sejenisnya. Siva di dalam menggerakkan hukum kemahakuasaan-Nya didukung oleh saktinya Durgà atau Parvatì. Salah satu manifestasi Siva adalah Paramesti Guru, Mahaguru atau Siwamahaguru yang artinya guru tertinggi di alam semesta dan pemujaan kepada-Nya dilakukan pada hari Pagerwesi.
Demikian antara lain beberapa manifestasi Tuhan Yang Mahaesa akan sulit diterima oleh mereka yang tidak memahami Hindu secara baik. Ketiga manifestasi utama itu disebut Trimùrti, dan masing-masing manifestasi utama Sang Hyang Widhi memiliki pula ribuan nama, yakni nama yang mengandung aspek atau sifat yang didambakan oleh setiap umat manusia. Adalah merupakan tradisi dalam setiap persembahyangan di India, para pandit atau pujari, juga para sadhu, yogi atau resi membaca ribuan nama dari Tuhan Yang Mahaesa itu. Demikianlah kita menjumpai buku dengan topik Sivasahasranama yang di dalamnya terdapat seribu nama Siva, Wisnusahasranama, ribuan nama Wisnu dan sebagainya. Apakah ribuan nama dalam Hindu itu menunjukkan politheisme ? Jawabannya jelas tidak! Jangankan Tuhan Yang Mahaesa, Yang Maha Besar wajar disebut dengan ribuan nama, kitapun memiliki lebih dari satu nama, disamping nama formal, juga julukan dan sebagainya.
Hyang Wisnu dalam menggerakkan hukum kemahakuasaan-Nya memelihara alam semesta, Ia didukung oleh sakti-Nya bernama Laksmi. Laksmi artinya keberutungan, kemakmuran, kecantikan, keindahan, kenang-kenangan dan lain-lain. Kata ini sangat erat dan dekat dengan kata Srì yang artinya: kemakmuran, keberuntungan, kekayaan, kebesaran, keagungan, kecantikan, kemuliaan dan sejenisnya. Di dalam Weda (Rgweda) Laksmi adalah dewi keberuntungan dan di dalam Atharwaweda personifikasinya semakin gamblang sebagai seorang dewi yang cantik dan penuh keberuntungan. Di dalam Taittiriya Samhita dijelaskan bahwa Laksmi dan Srì adalah dua sakti dari Adhitya dan salah satu nama dari Adhitya adalah Visnu. Di dalam Satapatha Brahmana digambarkan bahwa Srì muncul dari Prajapati dan dalam perkembangannya di Bali dewi Laksmi dipuja tidak sepopuler dewi Srì atau Sàdhana. Dewi Srì di Bali digambarkan sebagai dewinya padi atau beras sedang Sadhana disebut dewinya uang. Pemujaan kepada Srì dan Sàdhana di Bali dilakukan pada hari Soma Ribek, Sabuh Emas dan juga Buddha Cemeng Klawu.
Dihiasi dengan uang kertas baru
Umat Hindu yakin bahwa hidup dan kehidupan ini adalah anugrah-Nya, demikian pula kesejahtraan material dan kebahagiaan rohani, tidak lepas dari karunia-Nya. Seperti halnya di Bali, saat perayaan yang jatuh pada hari Soma Ribek, Sabuh Mas dan Buda Cemeng, Tuhan Yang Mahaesa disebut Bhattari Srì Amrta atau Bhatari Manik Galih dan masyarakat menyebutnya Bhattari Rambut Sadhana, dan arcanya berupa rangkaian uang kepeng, maka umat Hindu di Indiapun, ketika memuja Lakûmi atau Srì pada hari raya Holi atau Vijaya Dasami, Dipavali dan sebagainya, arca dewi Laksmi dihias dengan uang kertas baru. Uang kertas itu dirangkai sedemikian rupa sebagai selendang, badong (kalung), ikat pinggang bahkan juga sebagai hiasan kainnya. Toko-toko yang menjual dupa atau sarana upacara dan upakara telah pula menyiapkan arca, pratima, lingga dan pada hari-hari yang berkaitan dengan pemujaan dewi Laksmi mereka selalu menyiapkan hiasan dari uang kertas baru. Biasanya seseorang datang ke Bank untuk mencari uang kertas baru yang nominalnya kecil yang bila dibandingkan nilainya di Indonesia sama dengan seratusan, lima ratusan atau seribuan rupiah dan kadang-kadang ada juga yang lebih tinggi lagi.
Perayaan Holi yang jatuh pada sehari sebelum Tilem Kesanga mengingatkan kita pada upacara dewi Srì di Bali karena padi, gandum atau biji-bijian yang mendukung kehidupan ini (sebagai bhoga) diupacarakan dan sore harinya dinyalakan api unggun mengingatkan kita pada tradisi Ngrupuk di Bali.
Pada hari-hari raya keagamaan, umumnya dewi Laksmi, dewi kekayaan dan kemakmuran lebih dominan dipuja oleh umat dibandingkan dengan dewi Srì, rupanya dewi Srì ini seperti halnya di Bali lebih banyak dipuja oleh para petani. Hal sejenis yakni dewa Varuna lebih banyak dipuja oleh para nelayan dibandingkan para pedagang. Di Bali, dewi Laksmi yang mengusai segala isi pasar disebut dengan dewi Melanting.
Istadevata dan Adhikara
Kembali kepada topik tulisan ini, agama Hindu memperkenalkan kemerdekaan mutlak terhadap pikiran rasional manusia. Hindu Dharma tidak pernah menuntut sesuatu pengekangan yang tidak semestinya terhadap kemerdekaan dari kemampuan berpikir, kemerdekaan dari pikiran, perasaan dan pemikiran manusia. Ia memperkenalkan kebebasan yang paling luas dalam masalah keyakinan dan pemujaan. Hindu Dharma adalah suatu agama pembebasan. Ia memperkenalkan kebebasan mutlak terhadap kemampuan berpikir dan perasaan manusia dengan membahas pertanyaan-pertanyaan yang mendalam tentang Tuhan Yang Mahaesa, jiwa, penciptaan alam dan bentuk-bentuk pemujaan dan tujuan kehidupan ini. Hindu Dharma tidak bersandar pada satu doktrin tertentu ataupun ketaatan akan beberapa macam ritual tertentu maupun dogma-dogma atau bentuk-bentuk pemujaan tertentu. Ia memperkenalkan kepada setiap orang untuk merenungkan, menyelidiki, mencari dan memikirkannya, oleh karena itu berbagai macam pandangan tentang Tuhan Yang Mahaesa, bermacam ritual dan adat-istiadat yang berbeda-beda memperoleh tempat yang terhormat dalam Hindu Dharma dan dibudayakan serta dikembangkan dalam hubungan yang selaras antara yang satu dengan yang lainnya.
Tentang kemerdekaan berpikir, memberikan tafsiran terhadap berbagai aspek tentang Hindu Dharma, dapat kita jumpai sebuah penjelasan dalam kitab Mahabharata sebagai berikut : “Bukanlah seorang maharesi (muni) bila tidak memberikan pendapat terhadap yang dipahami”. Inilah salah satu ciri dari Hindu Dharma.
Karakteristik atau ciri khas lainnya yang merupakan barikade mencegah berbagai pandangan yang memungkinkan menimbulkan pertentangan di dalam Hindu adalah Isþadevatà dan Adhikara. Istadevatà adalah kebebasan memilih bentuk atau aspek-aspek kemahakuasaan Hyang Widhi,Tuhan Yang Mahaesa yang beraneka nama dan manifestasi-Nya digambarkan dalam kitab suci dan susastra Hindu yang ingin dipuja sesuai dengan kemantapan hatinya, sedang Adhikara adalah kebebasan untuk memilih disiplin dan cara tertentu untuk mendekatkan dirinya dengan Tuhan Yang Mahaesa sesuai dengan kemampuan dan kesenangannya.
Berdasarkan kebebasan itu, maka bermacam cara umat Hindu untuk memuja keagungan Tuhan Yang Mahaesa. Di dalam setiap pemujaan yang dilandasi ketulusan hati terkandung pula keinginan untuk mengekpresikan rasa syukur atas karunia-Nya. Demikianlah para petani mengikatkan padi dalam bentuk seorang dewi yang disebut Bhattari Nini untuk memuja dewi Srì atau Laksmi. Pada saat habis memasak, seorang ibu memberi persembahan Yajnasesa (banten nasi/jotan/saiban) yang di tempatkan di ujung nasi yang berbentuk tumpeng bila memasak dengan kuskusan (disebut jitkuskusan), di sawah, mempersembahkan sesajen pada pengalapan, di jineng dan sebagainya semuanya itu sebagai rasa syukur dan memohon karunia berupa kesejahtraan dan kemakmuran kepada Tuhan Yang Mahaesa. Demikian, Hindu mengenal multimedia pemujaan, pada dokar, bemo, bus, taksi dan sejenisnya terdapat pelangkiran untuk memuja Tuhan Yang Mahaesa. Di mana saja umat Hindu berada, mereka diharapkan selalu dekat dengan Tuhan Yang Mahaesa.
Adakah relevansinya pemujaan saraswati dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini. Seperti digambarkan dalam perwujudan Saraswati, umat manusia yang memperoleh ilmu pengetahuan yang tinggi tentunya memiliki sifat-sifat seperti penggambaran dewi Saraswati tersebut di atas. Diamanatkan dalam kitab suci Weda bahwa setiap orang hendaknya mencari ilmu pengetahuan setinggi mungkin untuk kesejahtraan dan kebahagiaan umat manusia. Seperti telah dimaklumi bahwa ilmu pengetahuan itu ibarat pisau bermata dua, dapat berfungsi positif atau negatif tergantung yang memanfaatkan. Ilmu pengetahuan yang menjermuskan nilai-nilai kemanusiaan, bukanlah ilmu pengetahuan yang sejati, sebab ilmu pengetahuan yang sejati adalah karunia-Nya yang menyadarkan missi penjelmaan manusia di dunia ini untuk mengemban kebenaran, kebaikan, kasih dan kemanusiaan yang secara sederhana disebut Dharma. Selama umat manusia menyadari bahwa ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan umat manusia, selama itu umat manusia tiada hentinya memuja dewi saraswati, satu wujud dari Tuhan Yang Maha Esa. Demikian pula makna pemujaan kepada dewi Sri, Laksmi atau Paramesti Guru adalah dalam rangka tetap terpelihara dan dilaksanakannya Dharma umat manusia. Pelaksana Dharma dilindungi oleh-Nya, oleh Dharma itu sendiri. Dharma Raksatah Dharma Raksitah.