Malam Sastra di Pura Aditya Jaya Rawamangun

6333_1192458058143_1429142627_2421320_4820561_nOleh I Gusti Made Arya Suta, S.Hum

Beragam cara dilakukan manusia untuk mere- fleksikan kehidupannya. Jika ia umat beragama tentu perefleksiannya tertuju kepada kuasa yang transenden yakni Tuhan. Begitu juga dengan Umat Hindu yang melakukan Puja Saraswati di Pura Aditya Jaya Rawamangun pada Sabtu 1 Agustus 2009 yang lalu. Kesadaran religius mereka tuangkan lewat persembahyangan dan secara kasat mata para umat sedharma melakukan semua itu dengan tulus ikhlas. Secara empiris tak ada yang harus ”diperdebatkan”. Persepsi tersebut dapat dipertanggungjawabkan jika kita berkesempatan menyaksikan bagaimana umat sedharma ngayah sehari sebelum hari Saraswati tiba.

Paradigma terhadap Umat Hindu yang selalu menerjemahkan rasa syukur mereka terhadap pelaksanaan upacara tak akan bisa hilang. Lagipula tidak ada yang salah dari hal tersebut. Hanya saja penerjemahan itu juga harus diikuti dengan “tertangkapnya” esensi dari kegiatan yang dilaksanakan. Terlebih untuk perayaan Hari Saraswati. Saraswati itu sendiri sangat kental muatan filosofinya. Hal tersebut bisa dibuktikan mengingat Saraswati itu sendiri memiliki makna yang dialektis. Dalam arti secara historis maknanya bisa kita cocokkan sesuai dengan perubahan zaman. Kedialektisan dari makna Saraswati inilah yang paling sulit untuk ditangkap. Kesulitan ini sebenarnya dapat diatasi apabila kita sudah menjadi sosok manusia yang peduli. Peduli terhadap apa, kapan dan dimana saja. Kepedulian ini menjadikan kita sebagai individu yang mau belajar sehingga kita akan selalu berada pada situasi yang kondusif.

Peduli berarti belajar. Dan belajar adalah esensi dari Saraswati itu sendiri. Hal inilah yang sangat tampak pada pelaksanaan Malam Sastra di Pura Aditya Jaya Rawamangun. Pada kesempatan itu, umat sedharma yang keesokannya menggelar Upacara Banyu Pinaruh secara seksama mengikuti acara diskusi yang bertemakan “Saraswati: Sebuah Tinjauan Filsafat dan Seni”. Acara yang dihadiri oleh dua narasumber yakni I Gusti Bagus Sutarta yang akrab disapa Gustar dan Ida Made Sugita ini disaksikan oleh umat yang terdiri dari mahasiswa dan umum. Acara yang dimoderatori oleh I Gusti Made Arya Suta ini dihiasi oleh penampilan memukau dari Alam Dewata Band. Band Religius kontemporer yang salah satu personelnya masih tercatat sebagai mahasiswa STAH DN-Jakarta ini benar-benar berhasil membawakan lagu-lagu yang merepresentasikan tema diskusi malam itu. Sarasawati Puja, tembang andalan dari Band asal Jakarta ini dijadikan referensi pembedahan makna dari Saraswati itu sendiri.

Menyampaikan Pesan Lewat Musik

Musik adalah bahasa universal. Begitu kira-kira yang dilontarkan I Gusti Bagus Sutarta dalam pembukaan dharmawacananya. Sisi universal dari musik merupakan pendobrak terhadap sekat-sekat yang ada di masyarakat. Bahasa musik tidak menjadikannya sekat bagi ras, suku apalagi keimanan. Maka dari itu, kita tidak perlu alergi dengan produk-produk (musik) dari daerah kita sendiri dalam hal ini Musik Bali. Mengapa Bali mungkin karena mayoritas hadirin yang mengikuti acara tersebut berasal dari Bali.

Musik-musik Bali kaya akan nuansa etika dan estetika. Gustar memberikan contoh karya-karya Nengah Kembar sebagai sebuah karya yang memiliki nuansa tersebut. Selain memiliki makna yang kuat, karya-karya beliau juga disampaikan dengan alunan yang sederhana. Paling tidak proses penangkapan makna dari tiap liriknya bisa didapat hanya dengan bersenandung. Inilah yang disebut Gustar bahwa musik Bali itu sendiri bisa eksis secara otonom tanpa harus diiringi gamelan. Cukup perhatikan irama pentatonik khas Bali maka anda bisa menangkap dan menikmati nuansa dari musik Bali tersebut.

Begitu kuatnya nilai-nilai kehidupan dan agama dalam musik Bali membuat musik ini menjadi media yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan untuk kita pelajari. Sesuai dengan bahasa musik yang universal, maka pesan-pesan yang disampaikan akan lebih mudah dicerna oleh individu yang mengamati dan menikamatinya. Disini dapat dijelaskan bahwa perwujudan dari ilmu pengetahuan tidak hanya berupa sains-sains yang kaku seperti fisika dan kimia, tetapi juga sebuah karya seni berupa musik yang semakin hari semakin efektif guna menyampaikan pesan atau ajaran dari kitab suci.

Tidak seperti biasanya, penampilan Alam Dewata malam itu minus gamelan. Namun berkat latihan dan kepiawan sang gitaris, Agus Widodo (Alumni STAH DN Jakarta), dalam menarikan jari di tiap senar gitar listriknya telah mampu membius para hadirin yang malam itu sudah terlihat letih, bahkan mengantuk! Saraswati Puja, judul lagu yang konon tercipta lewat hasil perefleksian sang gitaris ketika malam Saraswati yang lalu menempatkan bait dari Saraswati Stuti di awal lirik lagunya.

OM

Saraswati namas tubhyam,

varadeka kaama-rupini,

siddaarambham karisyaami,

siddhir bhawatu me sadaa.

Artinya:

OM Saraswati terpujilah Engkau,

Engkau mengabulkan semua doa merasuk segala bentuk;

Dengan bantuanMu hamba mendapat sukses;

Semoga hamba tetap sukses untuk selama-lamanya.

Mantra diatas (tanpa bait artinya) inilah yang digunakan sebagai lirik pembuka lagu Saraswati Puja. Mantra tersebut dinyanyikan secara repetitif (berulang-ulang), dengan nada khas Bali yang membuat para pendengat cepat untuk menghafalnya. Secara tidak langsung, lagu ini bisa membuat orang bernyanyi sekaligus berdoa. Ini adalah gagasan yang sangat efektif. Seharusnya band-band seperti ini dapat terbentuk secara massif. Tak apa jika dibilang mengekor, toh umat sedharma menjadi semakin tercerahkan. Yang paling penting Umat Hindu berkesempatan berkompetisi melakukan sesuatu di jalan dharma. Mengambil pesan dari sebuah lagu adalah sebuah keefektifan. Tak perlu membuat sinetron religi yang kadang ‘mentah’ ketika divisualisasikan. Dengan begitu umat Hindu bisa belajar merefleksikan hidupnya hanya cukup dengan bersenandung.

Saraswati di Jaman Kali

Ida Made Sugita, narasumber kedua yang akrab disapa Gusde ini mencoba menerjemahkan perayaan Saraswati di Jaman Kali ini. Teringat akan tragedi Bom Kuningan beberapa pekan yang lalu membuat ia berpikir bahwa keganasan dari Terorisme adalah sesuatu yang setiap saat dapat menimpa siapa saja. Tragedi ini memiliki pesan bahwa umat Hindu harus terus, tiada henti-hentinya serius untuk memuja Dewi Saraswati agar terhindar dari hal-hal yang dapat mencelakakan diri kita. Inilah yang menurut beliau merupakan esensi dari perayaan hari Saraswati.

Apapun caranya untuk menangkap esensi dari perayaan Saraswati ini, bagi beliau adalah agar hal tersebut dicapai lewat proses kejujuran. Beliau mencontohkannya dengan lagu anak dari Bali yang jujur secara lirik. “Anak-anak adalah sosok yang sulit untuk berbohong, maka dari itu meski liriknya sederhana namun memiliki makna yang sangat dalam”. Begitulah kira-kira yang disampaikan oleh beliau.

Untuk itu, sebagai tumpuan masyarakat, hendaknya generasi muda juga mampu menghasilkan karya-karya yang jujur mengingat kejujuran adalah sesuatu yang langka di zaman Kali Yuga ini. Ketidakjujuran bisa dibilang telah menjadi budaya ditengah-tengah masyarakat. Hal ini terjadi karena ketidakjujuran secara intensif dilakukan berulang-ulang oleh setiap individu. Keterdesakkan dan sifat gengsi yang merupakan kondisi umum masyarakat perkotaan adalah factor-faktor yang mempengaruhi munculnya ketidakjujuran.

Kejujuran ini pula yang mempengaruhi cepat atau lambatnya pesan yang disampaikan. Sebuah pesan dimana kebenaran dapat disampaikan dengan semestinya kepada mereka yang membutuhkannya. Walaubagaimanapun, seni yang jujur dapat mempengaruhi alam (lingkungan) di sekitar kita. Tidak dapat dipungkiri hancurnya alam adalah akibat dari pengabaian seni itu sendiri. Alam disini bisa berupa interaksi sesama manusia atau bahkan alam dalam wujudnya sebagai satu kesatuan kosmis dimana manusia tidak bisa lari dari hukum-hukum yang ada di dalamnya. Maka dari itu, seni yang jujur akan sendirinya metaksu. Jika sampai pada tahap ini, maka pesan yang disampaikan akan mudah terserap oleh siapa saja yang berusaha mendekatinya.

Zaman dimana tidak semua umat dapat mempelajari agama dengan sungguh-sungguh adalah peluang bagi kesenian untuk siap dijadikan suplemen bagi mereka yang membutuhkannya. Kapanpun dan dimanapun, tidak ada alasan untuk tidak belajar. Seyogyanya kita mendidik diri dan lingkungan kita. Karena hanya pendidikan yang merupakan modal yang sangat murni untuk kemajuan. Dengan pendidikan kita mendapat pengetahuan. Dan pengetahuan yang kita raih dapat dijadikan motivasi untuk terus belajar tanpa henti. Keyakinan dan daya juang untuk menemukan dan menggali potensi diri adalah satu-satunya jalan guna membentuk kecerdasan dan identitas yang berkarakter. Kuatnya karakter yang terbentuk berimplikasi atas keberanian dalam menunjukkan kemampuan diri dan identitas kita sebagai Umat Hindu yang senantiasa bersahaja dan siap bersaing dengan siapapun. Apapun yang berserakan di dunia ini dapat kita pelajari. Yang sulit adalah bagaimana belajar menjadi orang baik. Maka dari itu, bertemanlah dengan orang baik sebanyak mungkin.

Hukum relativitas Einstein berlaku dalam diskusi ini. Waktu tiga jam yang bagi pengangguran terasa sangat lama, terasa singkat dilewati karena asupan pencerahan yang secara sengaja maupun tidak sengaja terhimpun oleh forum diskusi malam itu. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi. Setelah Parama Santhi, acara dilanjutkan dengan berkunjung ke Pura Segara guna melaksanaan upacara Banyu Pinaruh.