Oleh : Arya Suta Wirawan *
Kuliah umum menjadi sesuatu yang penting bagi perguruan tinggi dalam mengawali tahun ajaran baru. Secara kuantitas, kuliah umum menjadi semacam indikator terhadap tingkat partisipasi sivitas akdemika di perguruan tinggi tersebut. Sedangkan secara kualitas, kualitas umum menjadi semacam refleksi bagaimana perguruan tinggi itu menangkap setiap poin penting dari kuliah tersebut untuk dapat segera diimplimentasikan sesuai dengan visi misi perguruan tinggi yang disinkronkan dengan gagasan ideal tri dharma perguruan tinggi.

Pesan ini lah yang disampaikan oleh I Gusti Made Arya selaku moderator dari kuliah umum STAH Dharma Nusantara Jakarta (STAH-DNJ) yang bertajuk Manajemen Pendidikan Menuju Lulusan Berkualitas. Kuliah umum yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 18 Pebruari 2012 tersebut menghadirkan narasumber dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yakni Ibu Dr.Ir. Illah Sailah, MS dan dibuka langsung oleh Ketua STAH DNJ Bapak Prof. Dr. Ir. I Made Kartika D., Dipl.-Ing. Wanita yang kini menjabat sebagai Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan mengawali kuliah umumnya dengan memberikan semacam games yang diikuti oleh seluruh hadirin yang terdiri dari seluruh unsur, mulai dari Yayasan, Subdit Pendidikan Tinggi Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, Senat dan Dewan Dosen, dan seluruh Mahasiswa STAH DNJ. Games yang menarik tersebut benar-benar melarutkan suasana dan secara sekejap Ibu Illah mampu menguasai audiens.

Ibu Illah memaparkan materi kuliahnya dengan sangat interaktif. Terlihat dari berbagai tayangan yang disampaikan yang tidak hanya bersifat informatif, namun juga bersifat reflektif dan motivatif. Paparan yang berjudul “Manajemen Perguruan Tinggi Menuju Lulusan Berkualitas” tersebut mengedepankan beberapa poin penting. Pertama, yang harus dilakukan sebuah perguruan tinggi jika ingin menghasilkan lulusan yang berkualitas adalah menyatukan persepsi tentang apa itu kualitas. Secara internal seluruh jajaran mulai dari Ketua hingga tukang sapu harus memiliki kesamaan tentang apa itu kualitas. Kesamaan persepsi ini jelas mempengaruhi manajamen perguruan tinggi tersebut. Kedua, bahwa secara internal harus ada lembaga yang memegang kendali terhadap terjaganya kualitas. Untuk sampai pada kondisi tersebut sebuah perguran tinggi harus memiliki Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) yang dapat menghadirkan data terkini tentang kondisi perguruan tinggi, yang tentunya harus segera siap dihadirkan jika tiba saatnya untuk pengevaluasian dan penilaian (akreditasi) oleh BAN PT. Ketiga, perguruan tinggi harus menyadari bahwa yang pengakuan kualitas secara real terhadap lulusan ada di masyarakat. Masyarakatlah yang menjadi user dari lulusan-lulusan perguruan tinggi, dan karena terjadi perubahan pola kehidupan dari jaman industrial ke jaman pos-industrial, maka seyogyanya sebuah lulusan perguruan tinggi harus memiliki tiga jenis komptensi yakni kompetensi umum (life skills, hard skills dan soft skills), utama (mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan di masyarakat sesuai dengan disiplin ilmunya) dan khusus (kemampuan khusus yang menjadi pembeda dengan lulusan lain, dan memiliki great of services). Tidak itu saja, sebuah perguruan tinggi harus jelas Body of Knowledge dan Core Competencynya.

Ibu Illah mengaharapkan agar STAH-DNJ bisa membangun masyarakat ilmiah di kampusnya. Masyarakat ilmiah yang dimaksud adalah sebuah kelompok atau komunitas yang jika saling bertemu tidak membicarakan hal-hal yang tidak penting seperti menggosip atau membicarakan hal-hal negatif lainnya, melainkan membahas sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan akademis dan bersifat kosntruktif (membangun) terhadap setiap anggota masyarakat tersebut. Karakter masyarakat ilmiah ini harus terus dibangun dengan mengedepankan lima poin, yakni 1) pembelajaran sepanjang hayat, 2) membangun organisasi pembelajar dengan menggeser cara berpikir dan berinteraksi, 3) berpikir kreatif, 4) berpikir analitis, 5) Jejaring hubungan dan kolaborasi. Semua poin tersebut harus dibagun secara berkelanjutan, bervariasi, melalui proses pembelajaran serta aktif dan menyenangkan.
Sebelum mengakhiri Kuliah Umum ini saudara moderator memberikan kesempatan bagi dua penanya untuk menyampaikan pertanyaan dan tanggapan. Beruntung bagi mahasiswa yang ketika itu bertanya karena mendapatkan hadiah dari Ibu Illah.
Kuliah umum diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Bapak Drs. I Wayan Budha, M.Pd. Pembacaan doa selesai, acara sepenuhnya diserahkan kepada MC yang saat itu pula memohon kepada Ibu Illah untuk tetap di tempat karena ada sesi foto bersama.
*Dosen STAH DN Jakarta