STAH Dharma Nusantara Jakarta

Analisis terhadap Bhagawadgita Adyaya II Sloka 47 tentang kewajiban kita bekerja tanpa mengharapkan hasil.

Oleh  : Wayan Tantre*

Dalam kehidupan ini atau di jaman kaliyuga ini kita memiliki kodrat sebagai mahkluk yang berkegiatan. Semua yang kita lakukan tidak terlepas dari dari tuntutan hidup itu sendiri. Demi terpenuhinya tuntutan hidup kita hari demi hari kita harus melakukan pekerjaan, Melalui pekerjaan itulah kita dapat mendapatkan hasil atau upah.  Dengan tercapainya hal itu tentunya dibutuhkan bakat dan minat yang kita miliki, Agar kita dapat memilih pekerjaan yang kita sukai dan kita akan menjalani pekerjaan tersebut.

Bekerja adalah kegiatan yang tidak hanya melibatkan fisik tetapi juga didalamnya meliputi kegiatan Spiritual.  Jika kita bekerja dengan menggunakan Fisik saja tanpa menggunakan kecerdasan Spritual maka pekerjaan yang kita lakukan akan menghasilkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan harapan.

Didalam agama Hindu banyak kita temui tulisan-tulisan yang terdapat didalam sastra Veda, yang menjelaskan bahwa bagaimana selayaknya kita bekerja. Seperti didalam Bhagawadgita yang tertera dalam Adyaya II Sloka 47  berbunyi sebagai berikut.

karma?y ev?dhik?ras te m? phale?u kad?cana

ma karma-phala-hetur bh?r m? te sa?go ‘stv akarma?i

 

Terjemahannya

Hanya berbuat untuk kewajibanmu,

Tidak hasil perbuatan itu (yang kau pikirkan)

Jangan sekali-kali pahala jadi motifmu dalam bekerja,

Jangan pula hanya berdiam diri.[1]

 

Dari sloka diatas dapat kita pahami bahwa tugas kita hanyalah bekerja, kerja dan kerja dan tanpa mengharapkan hasil. Bukan dengan bakat dan minat yang kita lakukan saja kita dapat memperoleh hasil, tetapi dalam hal ini ada keikut sertaan dari karma kita. Karma juga dapat mempengaruhi hasil yang kita dapatkan dari pekerjaan kita, oleh karena itu kita bekerja sesuai dengan aturan-aturan atau tuntunan yang relevan seperti yang tertera dalam Sastra Veda.

Hal senada juga disampaikan oleh Krsna kepada Arjuna. Dimana pada saat perang Bharatayuda, Arjuna bimbang akan tugasnya sebagai seorang Ksatria. Hal itu disebabkan semua musuh yang dihadapi dalam perang itu tidak lain adalah keluarganya sendiri yang didalamnya ada kakek, ada paman dan saudara-saudaranya yang lain.[2] Melihat hal itu Krsna menasehati sang Arjuna bahwa sebagai seorang Ksatria ia harus mengkesampingkan keterikatannya dengan melakukan tugasnya sebagai seorang ksatria. Dalam hal ini Arjuna juga dinasehati bagaimana tugas kita bekerja tanpa mengharapkan hasilnya. Dengan demikian kita akan memperoleh hasil seperti yang telah ditetapkan walaupun kita tidak mengharapkan.[3]

[1]  G. Puja Ma. Sh. Bhagawadgita (Pancama Weda). (Jakarta : Intsitut Hindu Dharma, 1982.) Hal : 57

[2]  Sri-Srimad A.C Bhakti Vedanta Swami Prabhupada.  Bhagawad-gita menurut aslinya. (Hanuman sakti, 2006).) Hal : 133

 *) Mahasiswa STAH DN Jakarta