stahdnj.ac.id

STAH Dharma Nusantara Jakarta
Subscribe

IMPLEMENTASI AJARAN PARASARA DHARMASASTRA PASCA REFORMASI DALAM MEMPERTAHANKAN SRADDHA DAN BHAKTI UMAT HINDU

March 27, 2014 By: admin Category: Penelitian

Oleh : Ketut Budiawan*

Abstract

In post-reform era, people change their way of thinking from collectivism to individualistic by the considering values of human rights. There is the controversy between them and rule ignorance. For instance, some people think that they have rights to do anything they want and they often neglect the rules in the society. To maintain the rules in creating the harmonious and peaceful life, shanti, Hindu has Parashara Dharmasastra. The research questions are: 1) How is the Parasara Dharmasastra concept in Hindu?, 2) How is the implementation of Parasara Dharmasastra in post-reform era in order to keep Sradha and Bhakti for Hindu people that it concerns on Hindu fundamental framework?, 3) How is the implementation of Parasara Dharmasastra in post-reform era in order to keep Sradha and Bhakti for Hindu people that it emphasizes on Tri Hita Karana concept. Parasara Dharmasastra concerns on Tattva that is based on five beliefs, Panca Sradha consisiting of WidhiTattva, believe in God (Brahman), AtmaTattva, believe in Atman (the true self of an individual or the essence of an individual), Karmaphala Tattva, believe in karma (natural law of cause and effect), Punarbawa Tattva, believe in rebirth process (reincarnation), and MoksaTattva, believe that Atman and Brahman are integrated. Ethic is the reciprocal process to build the individual and social life harmoniously. Acarais the customary law including the Hindu holy rituals consisting PancaYajna and Tri Hita Karana as the theory in order to make the bliss. The implementation of Par??ara Dharma??stra that focuses on Hindu fundamental frameworkand Tri Hita Karanaaims to guide human beings as the individual and social people in gaining the awareness to reach the freedom in order to increase the quality of humanism and social life.

Key words: Implementation, Hindu Law (Dharmasastra), sraddha and bhakti.


I. Pendahuluan

Manusia dan hukum adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan dalam ilmu hukum, terdapat adagium yang terkenal yang berbunyi: “Ubi-Societas Ubi-Ius” (di mana ada masyarakat di situ ada hukumnya). Artinya bahwa dalam setiap pembentukan suatu bangunan struktur sosial yang bernama masyarakat, maka selalu akan dibutuhkan bahan yang bersifat sebagai perekat atas berbagai komponen pembentuk dari masyarakat itu, dan yang berfungsi sebagai perekat tersebut adalah hukum. Bagaimana hal ini terjadi? Manusia, di samping bersifat sebagai makhluk individu (personal), juga berhakekat dasar sebagai makhluk sosial, mengingat manusia tidak dilahirkan dalam keadaaan yang sama (baik fisik, psikologis, hingga lingkungan geografis, sosiologis, maupun ekonomis) sehingga dari perbedaan itulah yang mendorong manusia untuk berhubungan dengan sesamanya.

Berdasar dari usaha perwujudan hakekat sosialnya di atas, manusia membentuk hubungan sosio-ekonomis di antara sesamanya, yakni hubungan di antara manusia atas landasan motif eksistensial yaitu usaha pemenuhan kebutuhan hidupnya (baik fisik maupun psikis) dalam hal ini masyarakat Hindu dalam kerangka interrelasi manusia di atas motif eksistensial itulah sistem hubungan sosial terbentuk. Usaha perealisasian motif eksistensial dalam suatu sistem hubungan sosial bersifat sangat kompleks akibat dari kuantitas dan heterogenitas kebutuhan di dalam kemajemukan manusia dengan pluralitasnya itu, oleh karena itu upaya yang dilakukan dalam kompleks interrelasi ini meniscayakan kebutuhan akan satu hal : keteraturan.

Eksistensi manusia pada masa pasca reformasi seperti saat ini yang dimulai dari pola berpikir manusia yang kolektifitas menuju keindividualisme hal ini mengarah pada nilai-nilai tentang hak asasi manusia yang sering menjadi perdebatan masyarakat dewasa ini sehingga seringkali kebebasan-kebebasan individu mengabaikan keteraturan dan rusaknya tatanan keteraturan di dalam masyarakat. Sebagai upaya-upaya untuk menyelamatkan tatanan keteraturan kehidupan demi keharmonisan menuju santih (kedamaian), Hindu mengenal ajaran Parasara Dharmasastra.

Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep Parasara Dharmasastra dalam ajaran Hindu?

2. Bagaimana implementasi dari ajaran Parasara Dharmasastra pasca reformasi dalam mempertahankan sraddha dan Bhakti umat Hindu yang berpusat pada Kerangka Dasar Agama Hindu?

3. Bagaimana implementasi dari ajaran Parasara Dharmasastra pasca reformasi dalam mempertahankan ?raddh? dan Bhakti umat Hindu yang berpusat pada Tri Hita Karana?

II. Landasan Teori

2.1 Teori Rasionalisme

Rasionalisme dapat didefinisikan sebagai faham yang menekankan akan sebagai sumber utama pengetahuan manusia dan pemegang otoritas terakhir bagi penentuan kebenaran. Manusia dengan akalnya memiliki kemampuan untuk mengetahui struktur dasar alam dunia ini secara apriori. Pengetahuan diperoleh tanpa melalui pengalaman inderawi. Singkatnya rasionalisme menyatakan bahwa sumber pengetahuan manusia adalah akal atau ide. (Donny Gahral Adian, 2002:44)

Rasionalisme mengidealkan cara kerja deduktif dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Pengetahuan manusia tentang dunia merupakan hasil deduksi dari kebenaran-kebenaran apriori yang diketahui secara jernih dan gamblang oleh akal manusia. Pengalaman inderawi selalu dicurigai karena selalu berubah-ubah, tidak pasti sehingga tidak memberi landasan yang kokoh bagi ilmu pengetahuan. Misalnya lilin yang terbakar mencair dan berubah bentuk; tanaman yang bermula dari benih, tumbuh, layu kemudian mati; pensil bila dicelupkan kedalam gelas yang berisi air nampak bengkok; dan lain sebagainya. (Donny Gahral Adian, 2002:44)

Berdasarkan uraian dari teori tersebut di atas, kaitannya dengan penelitian ini bahwa rasionalisme mengidealkan sumber pengetahuan manusia adalah akal atau ide yang mampu memanfaatkan pengetahuannya dalam hai ini berkaitan dengan ajaran Parasara Dharmasatra yang berpusat pada Kerangka dasar Agama Hindu dan Tri Hita Karana.

Read the rest of this entry →

KONSEPSI DEMOKRASI DALAM KEHIDUPAN EKONOMI DAN POLITIK MENURUT PERSPEKTIF ARTHASASTRA (Merangkai Butir Mutiara Kepemimpinan)

March 21, 2014 By: admin Category: Penelitian

Oleh : Untung Suhardi

Abstract

Arthasastra book first examines community by explaining the purpose trayi, anvikshiki, Varta, and danda within the framework of human existence. Then went on to explain warnasrama dharma as the foundation of social order and the general obligations that apply to everyone. As a statesman, Kautilya pay great attention to work and power. Arthasastra reflected elements of democracy, as described in the conception of democracy among other kingdoms or states recognize diversity; folk in the free association or organization; cooperation are independent and harmonious; seek justice; contained the separation and division of powers; powers acquired under the law; election of state officials based on moral qualities and skills; government policy implemented by law; carried out in a planned leadership succession; no freedom of individuals to develop their talents and interests; ensure the protection of the rights and welfare; magnitude of taxes and trading profits stipulated by the agreement, and dispute resolution institutionalized by prioritizing peace.

Key Word: Democracy, Arthasastra, politics and the state.

Pendahuluan

Bangsa Indonesia sampai tahun ini sudah menjalani umur kemerdekaan yang sudah mencapai umur 68. Hal ini bukanlah usia yang muda lagi tetapi sudah sangat matang untuk menyiapkan masa depan bangsa yang lebih baik lagi. Pada masa perjuangan kemerdekaan gaung tentang demokrasi pancasila sudah sangat marak dikumandangkan, sehingga oleh para pejuang kemerdekaan bangsa merumuskannya pada dasar negara yaitu Pancasila dan UUD 45 yang terdapat dalam pembukaan undang-undang tahun 1945. Tetapi untuk mewujudkan hal itu tidaklah mudah banyak pihak yang tidak setuju dengan paham demokrasi pancasila yang mengutamakan musyawarah mufakat dan kekuasaan berada ditangan rakyat, banyak dari oknum kontra demokrasi menolak tentang konsepsi ini, sehingga muncul paham liberalisme, kapitalisme, teokrasi yang terpimpin oleh satu agama sampai dengan komunisme. Akan tetapi melihat keadaan budaya bangsa Indonesia yang menerapkan nilai-nilai Pancasila ini sudah dari jaman kerajaan terdahulu, sehingga menjadi nafas dalam berperilaku sehari-hari, sehingga paham tersebut tidaklah cocok diterapkan didalam masyarakat Indonesia, maka para pendiri bangsa mengkultuskan bahwa demokrasi di Indonesia adalah demokrasi Pancasila yang mendasarkan kepada kepentingan rakyat dan keadilan sosial tanpa membedakan suku, asal, ras, agama ataupun golongan. Hal ini nampaknya hampir senada dengan sistem pemerintahan india kuno yang disebut dengan arthasastra yang didalamnya terdapat ajaran tentang ilmu pemerintahan, ekomomi, politik dan urusan ketatanegaraan yang terintegrasi dengan kesatuan pemerintahan yang lain.

Sepanjang sejarah peradaban manusia bahwa Arthasastra merupakan sebuah rujukan pandangan dalam ilmu kepemimpinan. Menurut pandangan beberapa para ahli kepemimpinan dan para pakar ekonomi bahwa sejak jaman dahulu sebelum perkembangan ilmuan modern Arthasastra ini sudah dijadikan referensi untuk para pemimpin yang ada di seluruh dunia. Para pemuka pemerintahan yang ada di seluruh dunia menggunakan panduan buku ini sebagai acuan dalam menjalankan pemerintahan, seperti pada kehidupan Romawi dan Yunani yang dalam perkembangan peradaban dunia sangat kagum dengan adanya acuan ini. Padahal jika dikaji dengan ilmiah sesungguhnya Arthasastra sudah ada jauh sebelum perkembangan kebudayaan tersebut. Berdasarkan referensi yang dikemukakan oleh I.B.Radendra Suastama, M.H yang menyadur terjemahan L.N Rangarajan (1992) beliau menulis bahwa buku Arthasastra sudah ditulis sekurangnya pada 18 abad yang lalu. Dari tulisan yang terkait ini bahwa dalam perkembangan kehidupan dipanggung politik dunia bahwa peran pemimpin sangatlah mutlak diperlukan karena dalam hal ini pemimpin merupakan tonggak sejarah dalam kemajuan dan kemunduran suatu bangsa dalam torehan sejarah dari seluruh dunia.

Read the rest of this entry →

Bedah Buku STAH Dharma Nusantara

March 20, 2014 By: admin Category: Berita/News

Bedah Buku STAH DN Jakarta

Bedah Buku

Bedah Buku

APLIKASI CATUR PURUSA ARTHA, MENGHADAPI HIMPITAN KEHIDUPAN YANG BERAT PADA ERA GLOBALISASI (SEBUAH TINJAUAN POLITIK & KEPEMIMPINAN HINDU)

March 13, 2014 By: admin Category: Kepemimpinan

Oleh : A. A. Gede Raka Mas*

Abstract

To know and understanding “Catur Purusa Artha”, as one concept of the Hindu’s teaching is very important. But, the most important is how to do in daily life. Fenomena that develop in our country today, are the raising of corruption, robbery, fighting between people of our village, and other amoral behaviors. Today, we know the condition is contrast from that teaching. We have to know, why this condition happened, and what’s the problem. Knowing the problems, I thing could find the solution, and hoping that solution can minimizing the moral degradation. The conclution we have to apply the Catur Purusa Artha in good action.

Keyword : Catur Purusa Artha, and the application.

A. Pendahuluan

Peneliti sangat tertarik dengan judul diatas. Setelah merenung cukup lama, membandingkan kehidupan peneliti ketika masih berumur 10 tahun di sebuah desa yang sangat tenang, aman dan sejahtera, sekitar tahun 50 (lima puluhan). Hari ini peneliti berumur 70 th, kondisi desa yang peneliti tinggalkan puluhan tahun yang lalu, wajahnya sudah sangat berbeda. Terjadi perubahan yang sangat signifikan, jika dibandingkan dengan kehidupan modern dewasa ini, sebagai suatu akibat dari pengaruh era globalisasi. Berdasarkan dengan fenomena masyarakat dewasa ini, yang tidak henti-hentinya diterpa oleh kejadian-kejadian yang memalukan, seperti terjadinya perbuatan amoral sebagai tanda adanya degradasi moral dan runtuhnya kemuliaan manusia, yaitu demikian maraknya perampokan, pencurian, pemerkosaan, tindakan kekerasan, bahkan terjadinya pembunuhan yang sangat sadis, demikian pula terjadinya penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang oleh oknum pejabat, menimbulkan motivasi yang sangat kuat bagi peneliti untuk mencari solusi dari permasalahan itu. Untuk mempersempit atau menyederhanakan objek penelitian ini, maka peneliti mengambil sebuah ajaran yang sangat populer di Bali (lebih-lebih di desa penulis) yaitu di desa Mas, Ubud, Gianyar, Bali.Ajaran itu adalah “Catur Purusa Artha”.Ajaran ini lebih terkenal di Bali, melalui produk sastra “Sekar Agung” yang berjudul “Prihen Temen”.

Read the rest of this entry →

FILSAFAT POLITIK KAUTILYA DALAM ARTHASASTRA

February 02, 2014 By: admin Category: Penelitian

Oleh:

I Nyoman Yoga Segara*

Abstract

Arthasastra is one of Upaweda parts. It reveals some aspects such as the politics, government, leadership, economics, justice, and administration. Kautilya who is the author is considered successfully to devote his political idea and make it as the book that can be used to reach the spiritual and material happiness. Those are expressed by Chandragupta who is prepared to be the leader and successor of Mauriya dynasty. Kautilya’s idea in Arthasastra is Hindu political philosophy that is still alive until this day.

Keywords: Arthasastra, Kautilya, political philosophy

Pendahuluan

Penelitian ini ingin menjelaskan persoalan seputar pemikiran Kautilya dan filsafat politik dalam ajaran agama Hindu, dengan kitab Arthasastra sebagai buku utama.1 Gagasan pokok ini akan berangkat dari sejumlah masalah yang selama ini banyak ditinggalkan para intelektual Hindu, seperti pernyataan: ‘Kautilya itu sama dengan Niccollo Machiavelli’, atau ‘gagasan Kautilya itu bukan sebuah filsafat politik’. Benarkah?

Khusus untuk asumsi pertama, membanding-bandingkan keduanya (Kautilya-Machiavelli) dengan hanya membaca sejarah hidup dan karya yang dihasilkannya jelas terasa ganjil dan tidak adil, terutama bukan hanya Kautilya dan Machiavelli tidak hidup sejaman tetapi juga pondasi pemikiran keduanya sangat berbeda.2 Kautilya misalnya, hidup abad 4 Sebelum Masehi, bandingkan dengan Machiavelli yang dilahirkan di Florence, 3 Mei 1469 saat Italia dan daratan Eropa bergolak akibat kecamuk perang.3 Memang harus diakui, gaya politik Machiavelli telah menjadi magnet bagi perpolitikan dunia ketika itu dan sesudahnya. Ia menjadi sosok kontroversial yang dibenci dan ditolak namun pada saat bersamaan ideologi politiknya diikuti dan dijalankan oleh banyak negara dan banyak pemimpin. Atas kontribusi besarnya dalam ilmu politik, Machiavelli sempat mendapat gelar “Bapak Ilmu Politik”, meski tidak semua ahli mengamininya, salah satunya Hannah Arendt dalam Between Past and Future (1968).

Dalam pikiran penulis, beberapa asumsi yang berkembang selama ini akan tetap menyisakan persoalan, dan ternyata sampai saat ini masih belum dilanjutkan dengan satu kajian/penelitian khusus untuk menguji kebenaran hipotesis sebagaimana tersebut di atas. Penelitian ini mencoba menstimulus ke arah itu, dengan mengajukan dua pertanyaan kunci, yakni: 1) Mengapa pemikiran Kautilya dalam Arthasastra disebut filsafat politik?; dan 2) Apa implikasi akademik dan teoritik dari filsafat politik Kautilya?4

Melalui pertanyaan tersebut, Penelitian ini akan berupaya memberikan inspirasi bagi siapa saja yang gelisah untuk menemukan diskursus baru, hanya saja, penulis memulai dari seorang tokoh, sehingga pendekatan yang akan digunakan adalah sejarah dan historisitas. Meski hanya selintas, dan terutama karena bukan murni penelitian sejarah, jejak-jejak kehidupan Kautilya perlu diceritakan kembali untuk merespon agar gagasan ini tidak bersifat ahistoris.

Menurut penulis, langkah ini harus dilakukan sejak awal karena sebuah gagasan besar tidak hadir begitu saja, terlebih gagasan itu bernuansa filsafat. Sebuah gagasan besar, biasanya, digodok oleh tradisi dan budaya pada masanya dengan berbagai kejadian-kejadian penting dan bersejarah, serta hasil kontemplasi intelektualitas maupun pergolakan batin sang empunya gagasan. Sebuah gagasan jenius, sekali lagi, biasanya akan melahirkan satu perspektif yang boleh jadi baru, atau bahkan belum pernah dipikirkan banyak orang. Karena orisinalitasnya, gagasan jenius itu dapat melampui batasan spasial dan temporalitas pemikirnya sendiri, bahkan ketika ia telah tiada, gagasannya pun akan tetap hidup abadi. Universalisme pemikiran seperti ini sekurang-kurangnya dapat ditelusuri dari bagaimana seorang pemikir, katakanlah Kautilya dalam kasus ini, mengalami “proses menjadi”.

Read the rest of this entry →

MODEL MAHATMA GANDHI DALAM DUNIA POLITIK (Sebuah Eksposisi Praktis di Era Kontemporer)

January 28, 2014 By: admin Category: Penelitian

Oleh: I Gede Suwantana *

Abstract

Mahatma Gandhi has been a master for himself. Master is meant in the sense that he has mastered all the lust, greed, violence, anger and other negative forms within. People who have been releasing these negative tendencies will have a special quality in it radiates purity, without tendentious and interests to be achieved fully for the common good. Gandhi demonstrated that to achieve this goal, using any means used must be in accordance with morality. By relying on the truth, Gandhi had his political career with courage. Tools to achieve it is Ahimsa, so that Satyagraha struggle could walk perfectly.

Key Words: Ahimsa, satyagraha, satya,

A. Pendahuluan

Gandhi mengatakan, ‘my life is my message’ kepada dunia. Cara inilah sesungguhnya mengapa Gandhi selalu mengetuk hati setiap umat manusia. Setiap gerakan tubuhnya mampu menyihir orang-orang yang ada di sekelilingnya. Detail ritmik tubuhnya seolah menebarkan aroma yang mampu membuat suasana chaos menjadi sejuk dan penuh kedamaian. Gandhi mengajar setiap orang melalui peragaan hidupnya, karena inilah model yang paling mendekati kebenaran baginya. Contoh akan selalu lebih baik dari kata-kata. Mendidik dengan contoh adalah yang paling ideal. Memberi pelajaran kepada orang lain tanpa si pengajar melakoni objek yang diajarkan tidak akan berarti apa-apa. Ajaran itu hanya sekedar hafalan yang tidak menyentuh nurani manusia dan bahkan mungkin ajaran itu menyesatkan. Bagi Gandhi ajaran akan memiliki makna apabila muncul dari apa yang setiap orang ragakan. Ajaran itu akan hidup dan mempengaruhi nurani manusia sehingga mampu merubah karakter buruk yang ada di dalamnya.

Pembentukan karakter harus dimulai dari keteladanan. Bangsa yang memiliki karakter adalah bangsa yang mampu memberikan teladan bagi generasinya. Keteladanan adalah bentuk pendidikan berantai yang hidup. Ia tidak hanya memberikan informasi tetapi mentransformasi sisi-sisi keagungan jiwa ke dalam hati generasi berikutnya. Keteladanan ibarat gen yang diwariskan dari pendahulunya. Bila gen pendahulunya unggul, maka dipastikan kelanjutan gen generasi berikutnya juga akan unggul, demikian sebaliknya. Keteladanan akan menghangatkan hati setiap generasi sehingga mampu menyalakan api jiwanya untuk menuntun tapak-tapak hidupnya demi sebuah cita-cita kehidupan yang suci, penuh dedikasi dan pengabdian.

Mahatma Gandhi pernah mengatakan ‘jika hanya satu kata dapat menyampaikan kebenaran, maka itu sudah cukup dan lebih berarti dibandingkan banyak kata tapi kosong. Yang dipentingkan bukan banyaknya kata, tetapi kebenaran yang terkandung di dalam kata itu. Banyak kata namun kosong tidak berarti apa-apa, hanya keributan, satu kata tapi menyatakan esensi, maka itulah yang utama. Jika kata-kata selalu menyatakan esensi maka ia akan menjadi mantra. Jika kata kita menjadi mantra, maka ia akan memiliki kekuatan ilahi yang tiada terkira. Jika kata kita memiliki kekuatan, maka ia akan dapat mengetuk nurani siapa saja yang mendengarkannya. Inilah dasar gerakan politik Mahatma Gandhi yang membuat namanya abadi sebagai tokoh tanpa kekerasan (Suwantana, 2012: 5).

Apa yang dinyatakan Mahatma Gandhi ini adalah hukum alam. Dengan demikian, setiap gesture tubuhnya sangat indah dan mempesona banyak orang. Kemanapun jemari telunjuknya diarahkan, ribuan orang menurutinya. Apapun yang disampaikannya selalu menggugah perasaan pendengarnya. Mahatma Gandhi bukanlah siapa-siapa, namun seorang manusia yang hidupnya terus-menerus didedikasikan pada kebenaran hukum semesta. Semakin selaras hidup manusia dengan alam, maka semakin mereka memiliki kekuatan untuk mengatasi alam. Bagi Mahatma Gandhi, mengatasi alam beserta seluruh yang ada di dalamnya bukan dengan melakukan penguasaan atau kekerasan terhadapnya, namun justru selaras dengannya. Dengan senjata politik ini, Gandhi mampu memenangkan masyarakatnya untuk merdeka terhindar dari belenggu kebodohan dan penjajahan asing.

Jejak politik Mahatma Gandhi ini telah membersihkan tanah India dari kekotoran penjajahan, serta membangkitkan masyarakatnya dari reruntuhan dan kegelapan. Jurang-jurang pemisah dan pemecah masyarakat berhasil direkatkan dan disatukan kembali atas nama kesederajatan. Pemecah masyarakat seperti sistem kasta, kefanatikan terhadap sampradaya (garis perguruan) tertentu, subordinasi kaum perempuan, pernikahan usia dini, dan penolakan atau menajiskan kaum tertentu, secara perlahan tetapi pasti, Gandhi berhasil menghalaunya serta menyambung kembali keretakan-keretakan itu menjadi sebuah kekuatan Bangsa yang berkarakter. Dari stand-point kemanusiaan dan persamaan derajat, jurang-jurang itu semakin hari semakin berkurang pengaruhnya di dalam masyarakat. Kaum untouchable (Dalit) dimana Gandhi menyebut mereka sebagai Harijan (anak Tuhan) mulai diperbolehkan masuk kuil untuk sembahyang. Pengidentifikasian kaum Dalit sebagai orang yang tak boleh disentuh oleh golongan/kasta tertentu mulai ditinggalkan. Kaum perempuan mulai mendapat tempat di berbagai lini kehidupan. Perempuan mulai diperbolehkan mengenyam pendidikan sama seperti laki-laki, demikian juga di dalam memilih pekerjaan, perempuan tidak hanya bertugas mengurus rumah tangga. Perempuan juga mulai mendapat hak untuk mengerjakan apa saja sesuai bidangnya.

Dilihat dari besarnya prestasi masing-masing tokoh penentu sejarah dan dampak inspirasional masing-masing dari mereka telah melakukan sesuatu yang besar untuk dunia, Gandhi muncul yang tertinggi di antara para pemimpin modern yang pernah ada. Pada abad yang memiliki perbedaan mengagumkan dari yang paling kejam dalam sejarah Gandhi, menghadapinya dengan tanpa kekerasan, yang terbesar, kekuasaan yang paling kuat dan menjanjikan kebebasan bagi India, yang kemudian memiliki seperlima dari seluruh penduduk dunia, dan diinduksi perubahan spektrum yang luas di bidang politik, ekonomi dan sosial di dalamnya. Beliau kemudian mengilhami perjuangan tanpa kekerasan oleh rakyat yang dicapai di seluruh dekolonisasi dunia, mengakhiri penindasan rasial di Amerika Serikat dan Afrika Selatan dan kediktatoran pada akhirnya juga berakhir di Polandia, Rumania, Hungaria, Cekoslowakia, Republik Demokratik Jerman, Estonia, Latvia, Lithuania, Filipina, Uni Soviet, Chili, Serbia, Georgia Ukraina, Uzbekistan, Tunisia dan Mesir. Inspirasinya terus terlihat dalam heroik perjuangan rakyat Tibet dan Burma dan kaum ekolog, aktivis lingkungan sosial dan lain-lain di seluruh dunia. Selain itu, Gandhi memiliki lebih banyak buku yang berasal dari tulisan orang lain tentang dirinya dan banyak komunitas dan pusat informasi di seluruh dunia mempromosikan strategi tanpa kekerasan yang diambil dari modelnya. Dia juga satu-satunya dari seluruh pahlawan perdamaian yang dihormati dengan opera panjang - ‘Satyagraha’ oleh Phillip Glass - yang meskipun dinyanyikan dalam Sansekerta telah mewarnai gedung-gedung konser di kota-kota terkemuka AS dan Eropa. Film Richard Attenborough tentang Gandhi telah ditonton oleh banyak orang, lebih banyak orang menontonnya dibandingkan film lain dalam hal pemimpin modern. Dalam jajak pendapat yang diambil pada tahun 1999 untuk ‘Man of the Millenium‘ Gandhi berada di atas dan dalam tiga teratas dengan yang lainnya (Nazareth, 2011: 3).

B. Komponen Kepemimpinan Gandhi dalam Ranah Politik

Gandhi sebagai tokoh politik sekaligus tokoh moral terdepan abad ke-20 ini memiliki cirri khas yang unik yang tidak dimiliki oleh yang lainnya. Keyakinannya akan kebenaran, kejujuran, dan cinta kasih  dalam politik ini Gandhi telah sukses mengawinkan antara politik dan moral. Moralitas tidak mesti bertolak-belakang dengan politik, melainkan mesti saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Politik tanpa moralitas (Gandhi menyebutkan politik tanpa prinsip) akan membuat masyarakat dunia semakin kacau. Keadilan, kesejahteraan, dan kesetaraan mustahil terjadi tanpa adanya nilai-nilai moral di dalam politik yang terkait dengan kepemerintahan. Menurut Pascal Alan Nazareth ada beberapa komponen yang ada di dalam kepemimpinan Mahatma Gandhi di balik kesuksesannya menerapkan prinsip-prinsip yang tegas di dalam politik (2011: 13 – 48).

Pertama, komponen utama dari politik Gandhi adalah visinya yang menyatakan bahwa manusia, manifestasi tertinggi dari ciptaan Tuhan, dapat dan akan hidup dalam keselarasan dan kedamaian, tegas mengikuti Kebenaran, Keadilan, Cinta dan Tanpa-kekerasan. Gandhi melihat kaum diktator dan tiran mempertahankan dirinya hanya bersifat sementara. Semua kerajaan yang dibangun dengan pedang berakhir di tong sampah sejarah. Hanya sesuatu yang dibangun di atas spirit Kebenaran, cinta dan pengorbanan diri seperti yang para pencari dan Nabi besar dapat bertahan dan berkembang.

Read the rest of this entry →

___________________________________

January 18, 2014 By: admin Category: Uncategorized

SISTEM INFORMASI STAH DN JAKARTA

icon

REINTERPRETASI ARCHA DALAM PEMUJAAN AGAMA HINDU

October 17, 2013 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh : Halfian *

A. Kasus

Sering sekali kita mendengar mengenai Archa atau pratima yang merupakan hal yang biasa dalam kegiatan keagamaan Hindu, terutama dalam upacara pujawali, melasti dan abhisekha atau pasupati (melaspas). Dalam khazanah ritual, agama Hindu memiliki keistimewaan tersendiri bila dibandingkan dengan agama lainnya terutama agama barat. Agama Hindu bila dilihat secara kasat mata maka pandangan yang akan diterima sangatlah rumit dan irrasional. Mengapa hal ini terjadi? Dikarenakan kita tidak mengetahui makna dibalik kegiatan agama Hindu tersebut. Sangat banyak tidak hanya opini dari agama non-Hindu namun juga umat Hindu sendiri yang banyak terjebak pada pemahaman secara agama sastra atau sabda suci. Hal ini wajar terjadi, bisa dikarenakan kurangnya pendistribusian buku agama, hegemoni agama, penyuluhan dan pembinaaan yang kurang atau bahkan karena guru agama atau tokoh agama yang berkecimpung di dalam permasalahan agama tidak` memahaminya. Sehingga memiliki makna yang tidak jelas atau nisbi mengenai hal tersebut.

Atau dikarenakan hegemoni agama, dikarenakan sebagai minoritas maka kita mengikuti bahkan menyamakan konsep yang ada sehingga menghilangkan sesuatu yang ada di agama kita. Semua agama berbeda dan mata dunia melihat dengan berbagai perspektif baik secara holistik, parsial maupun abstrak. Dalam kasus ini penulis ingin mengangkat sebuah kasus yang selalu ditemukan dimana saja ketika kita pergi ke sebuah pura atau mandir juga kuil suci Hindu. Ada banyak perspektif atau sudut pandang yang diterima oleh banyak umat Hindu saat ini. Penulis ingin membahas mengenai Archa yang merupakan sesuatu yang terpenting dalam pemujaan dalam agama Hindu karena berkaitan dengan keyakinan dan pengahayatan beragama.

Ketika penulis datang ke sebuah pura di Rawamangun, penulis menemukan dua orang berbincang-bincang mengenai Archa di dalam pura tersebut. Menurut penulis, tema perbincangan tersebut sering dibicarakan, katakanlah nama mereka Made dan Nyoman. Perbincangan mereka sangatlah menarik karena berkaitan dengan bagaimana mereka menginterpretasikan Archa sesuai dengan pemahamannya. Made memiliki pemahaman bahwa Archa Dewi Saraswati hanyalah sekedar media konsentrasi, agar kita dapat memusatkan pikiran yang selalu liar agar terikat pada satu objek citra suci, yang memang diciptakan oleh manusia untuk itu. Namun berbeda dengan Nyoman, ia memiliki pemahaman bahwa Archa hanyalah sebuah simbol dan berbeda dengan Tuhan yang sulit dipikirkan dan dilukiskan karena beliau tidak memiliki bentuk.

Mereka membahas dan berdiskusi mengenai hal ini melalui interpretasi pikirannya sendiri. Begitu juga paradigma yang berkembang yang memiliki makna yang sama dengan burung garuda ataupun bendera kebangsaan dengan Archa Tuhan. Begitu juga penafsiran mengenai perbedaan antara foto sang ayah dengan ayah sendiri. lnterpretasi atau pemberian makna kepada Archa sangatlah diberikan kebebasan dalam memaknai sesuatu namun bila sesuatu tersebut berkaitan dengan apa yang disebut sebagai tujuan umat manusia yaitu Tuhan, kita hendaknya merunut pada pandangan sastra Veda yang merupakan sabda suci dari Tuhan.

Tampaknya kita sebagai pemerhati dan calon pengajar agama Hindu dan akan terlibat dengan berbagai kasus masyarakat membahas mengenai “Pemujaan Archa” dalam masyarakat Hindu ini benar-benar suatu fenomena yang dapat memberikan kejelasan pada kasus tersebut, karena pemujaan terhadap Archa adalah bentuk praktik rohani yang banyak digemakan bahkan disalah mengerti baik oleh umat non-Hindu bahkan umat Hindu sendiri. Keadaan demikian sangatlah menyedihkan karena adalah orang-orang Hindu sendiri yang akan menjelaskan dengan baik, tepat dan benar praktik keagamaan yang telah menjadi bagian integral dalam masyarakat Hindu sejak jaman yang tak mampu diingat lagi. Tentunya penjelasan tersebut harus dimengerti sebagaimana seharusnya sehingga tidak memiliki suatu pandangan yang abstrak sehingga dapat memberikan dampak yang fatal bagi umat, bukan menurut pengertian terbatas dari paham-paham non-Hindu yang justru telah dilampaui oleh Maharsi atau Acharya.

Dengan demikian kita harus memiliki pandangan yang sejalur dengan mereka yang memiliki pengetahuan yang sempurna dalam praktik ini, bukan dari mereka yang memiliki pengetahuan parsial bahkan dari mereka yang sedari mula tidak menerima bentuk pemujaan Archa seperti umumnya pengikut agama Abrahamik. Sebelum memulainya maka kita perlu tahu bahwa apa yang dikatakan sebagai “patung Hindu” atau “berhala Hindu” oleh mereka yang tidak mengetahui apa yang dijelaskan menurut sastra suci Hindu,Veda. Bahkan istilah-istilah yang digunakan sudah menjelaskan hal ini. dalam bahasa sanskerta, kita memiliki terminologi yang kaya akan menyebutkan suatu ikon atau benda yang disucikan.

· Murti, yang memiliki pengertian sebagai wujud atau pengejawantahan sesuatu pada benda.

· Vigruha, sama dengan stana atau lingga dari Tuhan dan prabhawa-Nya.

· Pratima, keserupaan.

· Rupam, bentuk.

· Archa, pusat dari aktivitas pemujaan yaitu Tuhan sendiri dan dapat berarti sebagai tujuan dari pemujaan.

Selanjutnya untuk mengetahui hal ini kita juga harus memahami mengenai pramana atau dasar pembuktian dari kasus ini. ketika kita menjelaskan suatu praktik dalam agama Hindu, maka kita harus menggunakan sastra yang menjadi acuan. Adalah sastra-sastra agama yang akan menguraikan kehidupan ritualistik sehari-hari sehingga tidak ada sudut pandang “nak mulo keto atau dari dulu sudah demikian”. Dalam pustaka suci pula menjelaskan secara prosedural dari kegiatan keagamaan Hindu yang menggunakan berbagai sarana baik dilakukan di pura dan kuil bahkan di rumah.

B. Apa Yang Dikatakan Agama Sastra Tentang Archa?

Menurut ajaran-ajaran dari pustaka Agama, Sang Ada Tertinggi atau Tuhan berada di balik semua konsep duniawi, melampaui semua yang dikonsepkan dan bersifat mutlak. Tuhan berada diluar jangkauan pikiran manusia. Namun oleh belas kasih Tuhan Yang Tak Terbatas dan Kekuatan RohaniNya yang tak dapat dipahami, Tuhan memanifestasikan, mewujudkan, menampilkan Diri—Nya dalam citra suci yang dibentuk melalui aturan—aturan yang ketat dan sesuai dengan sastra suci, dikonsentrasikan dan dipuja sesuai prosedur ritual agama Hindu tersebut. Di dalam konsep ketuhanan Hindu dapat dipahami melalui 5 konsep yaitu:

1. Para, bentuk tertinggi atau transenden dari Tuhan beserta kemuliaannya yang tak terbatas.

2. Vyuha, bentuk ekspansi atau perluasan dari Tuhan, contohnya Vasudeva, Sankarsana, Pradyumma, Aniruddha.

3. Vaibhava, perwujudan Tuhan sebagai awatara—awatara yang memiliki misi untuk menegakan dharma.

4. Antaryami, Tuhan bersemayam dan meresapi segala ciptaan-Nya, sebagai objek meditasi.

5. Archa, Tuhan memasuki substansi yang menjadi objek pemujaan.

Dari konsep di atas jelas walaupun Tuhan Transenden, tak terpikirkan dan terlukiskan, namun Tuhan dapat distanakan di dalam Archa atau Pratima untuk menerima pengabdian suci dari penyembah-Nya dan menganugerahkan mereka anugerah. Citra suci merupakan manifestasi sebagai Tuhan di bumi yang merupakan objek dan titik pusat pemujaan yang sungguh—sungguh hadir dihadapan para penyembah. Bagaimana kita dapat memahami doktrin kebenaran tersebut? Pertama, Tuhan Hindu adalah Maha Ada, Meresapi Segalanya, Maha Tahu dan Maha Sakti (Omnipresent, Omniscient dan Omnipotent). Tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang melebihi kekuatan Beliau. Pada saat Citra suci di Abhisheka atau prana pratistha (dipasupati) dengan mengikuti aturan yang ada pada sastra dengan tepat dan benar, Tuhan dimohonkan hadir dalam Archa tersebut. Kedua, Tuhan merupakan saksi bathin yang mengetahui semua pikiran dan hati nurani manusia dan Tuhan pastilah akan membalas perasaan cinta kasih manusia kepada-Nya. Hubungan antara pemuja dan yang dipuja berlangsung dengan berbalas-balasan bukan hanya satu arah. Dengan memperhatikan hal ini maka dengan sebagian kecil dari kekuatan—Nya yang tak terbatas. Konsep ajaran ini dengan demikian merupakan suatu representasi unik yang tiada duanya dan dimiliki secara khusus sampai saat ini hanya oleh masyarakat Hindu. Contohnya pada waktu upacara pujawali, melasti, abhiseka atau prana pratistha (pasupati).

C. Memahami Perumpamaan Secara Jelas Dan Benar

Archa tidak hanya memiliki makna simbolis, yang memiliki makna suci atau sakral untuk pemujaan akan tetapi Archa adalah wujud Tuhan sendiri di Bumi. Ada beberapa interpretasi seseorang terhadap Archa yang sehingga memiliki multi tafsir yang dapat menyebabkan makna yang keliru terhadap pemaknaan Archa. Contohnya, Archa merupakan suatu bentuk yang dipikirkan oleh seseorang sebagai media pemujaan, seperti halnya bendera kebangsaan yang harus dihormati.

Dengan menganggap bahwa Archa hanya sekedar symbol dan itu berbeda dengan Tuhan Yang Tak Terpikirkan dan Terlukiskan. Dan berpikir bahwa semua bangsa di dunia ini mencintai dan menghayati bangsanya, tetapi cobalah bertanya, bagaimana wajah bangsanya? Tidak seorangpun dapat menggambarkannya Karena itulah membuat symbol sebagai representasi bangsanya yang besar. Pemahaman seperti ini sesungguhnya haruslah diluruskan dengan mengacu pada sastra yang ada yaitu : Bhagavata Purana 10.40.7 “Yajanti tvam maya vai bahu murtyeka murtikam, meskipun Tuhan mewujudkan diri dalam berbagai macam rupa dan bentuk, tetapi Anda tetap satu tiada dua, dan kami hanya menyembah diri-Mu saja”. Juga dalam Bhagavad Gita 4.6 “ajo pisan avyayatma bhutanam isvaro pisan, prakrtiim svam adhistanaya sambhavamy atma mayaya——walaupun Aku tidak dilahirkan, abadi dan penguasa segala makhluk, namun dengan menundukan prakrti-Ku sendiri, Aku mewujudkan diri-Ku melalui kekuatan maya-Ku” dan Bhagavad Gita 4.9 ‘janma karma ea me divyam, kelahiran dan kegiatan-Ku sepenuhnya adalah rohani”. Maka jelas Tuhan memiliki wujud rohani yang tidak dapat dibayangkan, dipikirkan bahkan dilukiskan, namun hanya melalui kehendak

Beliau seseorang dapat melihat wujud rohani Tuhan walaupun hanya sebagian dari kemuliaan dan kebesaran-Nya sesuai kemampuan seseorang yang ditunjang bhakti yang murni. Seperti Arjuna., Narada Muni, Vyasaveda dan acharya lainnya.

Dalam pembuatan Archa pun digunakan bahan-bahan yang dibenarkan oleh sastra, yaitu:

1. Arca terbuat dari kayu.

2. Arca terbuat dari logam (emas, perak, tembaga, dsb).

3. Arca terbuat dari tanah lihat.

4. Arca terbuat dari kain dan cat.

5. Arca terbuat dari pasir.

6. Arca terbuat dari batu.

7. Arca terbuat dari permata, dan

8. Arca yang dibayangkan dalam pikiran (Bhagavata Purana 11.27.12).

Masalahya adalah bila perumpamaan bendera atau burung garuda disamakan dan dijadikan tolak ukur untuk jawaban seperti itu sangatlah dapat memberikan makna yang kering sehingga rasa bhakti dan keyakinan pun kering, sehingga memaknai Archa hanya sebagai media konsentrasi atau simbol seperti bendera.

Mengenai pemikiran bahwa Tuhan tidak dapat diwujudkan atau tidak memiliki wujud dan tidak dapat digambarkan, maka hal ini bertentangan dengan kebesaran Tuhan Yang Maha Sempurna (Isha Upanisad, mantra pembuka juga Bhagavad Gita 10.10). Wujud Tuhan dalam Archa bukan dibentuk oleh sesuai angan-angan pikiran si pembuat, akan tetapi wujud tersebut ada dalam relung hati para Maharsi dan Acharya atau Alwar yang telah mengalami anubhavam (mengalami secara langsung menyatakan kesetujuan untuk memperlihatkan diri-Nya) seperti, Godai Devi, Haridasa Thakura, Narsi Mehta, Tulsidas, Appaya Diksitar, Kanaka Dasa dan lainnya. Murti sama dengan Tuhan, karena merupakan wahana ekspresi dari mantra Chaitanya yang merupakan Dewata (Sivananda Svami, 2003).

Umat Hindu yang mematuhi aturan-aturan Veda dan Agama dilarang keras untuk mengimajinasikan, menghayalkan, atau membuat sesuatu untuk kemudian dipuja tanpa mengikuti aturan atau prosedural sabda suci Veda. Di atas itu semua Tuhan sendiri telah menurunkan svayam-murti, citra suci yang tidak dibentuk oleh makhluk fana apapun, diberbagai tanah suci Hindu. Semua rupa dengan berbagai posisi, duduk, berdiri, berbaring telah diwujudkan oleh Tuhan sendiri sebagai model untuk pembentukan murti-murti berikutnya. Bahkan Tuhan juga hadir dalam wujud yang penuh dengan satyam, sivam dan sundaram. Seperti di Gandaki-sila yang ada di Thirucchalagramam-Nepal, Daru-Brahman di Jaganatha Puri-Orissa, Sri Rangam dan Srinivasa di Tirupati serta sebagainya.

* Penulis Dosen STAH DN Jakarta

TEMU KARYA ILMIAH DAN LOMBA KETERAMPILAN AKADEMIK PERGURUAN TINGGI AGAMA HINDU SELURUH INDONESIA 2013

July 19, 2013 By: admin Category: Berita/News

Palangka Raya – Diawali Pemukulan Gong sebagai tanda dibukanya secara resmi Temu Karya Ilmiah Perguruan Tinggi Hindu Seluruh Indonesia oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Prof Dr H. Nasaruddin Umar, MA. Pemukulan Gong pada pembukaan acara itu, Wamenag disaksikan Wakil Gubernur Kalteng Achmad Diran, Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI Ida bagus Yudha Triguna, Wakil Ketua DPRD Provinsi Arief Budiatmo, Para Undangan serta para peserta yang mengikuti perlombaan, bertempat di Swiss Bell Hotel Danum Jl. Cilik Riwut Kilometer 5 Palangkaraya Kalimantan Tengah pada tanggal 16 Juli 2013. Acara Pembukaan di hibur oleh penampilan sendra tari kolaborasi antara tarian lokal Palangka Raya dan Bali dengan judul Guru Susruca.wamen

Sehari sebelumnya para peserta kontingen dari berbagai perguruan tinggi telah tiba  untuk mengikuti acara ini antara lain IHDN Denpasar, UNHI Denpasar, STAHN Gde Pudja Mataram, STAHN Tampung Penyang Palangka Raya, STAH Dharma Nusantara Jakarta, STHD Klaten, STAH Lampung, STKIP Agama Hindu Singaraja, STKIP Agama Hindu Amlapura, UNIMA Tondano, STAH Dharma Senatana Palu, STAH Gema Totabuan Sulawesi Utara, dan STAH Santika Dharma Malang. Kali ini Temu Karya Ilmiah ini mengambil tema “Melalui Temu Karya Ilmiah Kita Galang Komitmen Akademik Guna Membangun Budaya Ilmiah di Lingkungan Perguruan Tinggi Hindu”.`

Temu Karya Ilmiah ini bertujuan antara lain untuk meningkatkan kerjasama antara Perguruan Tinggi Agama Hindu seluruh Indonesia, meningkatkan kualitas pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta meningkatkan kualitas suasana akademik.

1000864_642305209115085_201806911_nMata lomba dalam kegiatan ini terdiri atas Presentasi Proposal Penelitian untuk kategori dosen dan mahasiswa, Presentasi Hasil Penelitian untuk kategori mahasiswa dan dosen, Lomba Pembacaan Palawakya & Sloka Kategori dosen dan mahasiswa, Lomba Cipta Lagu Rohani kategori mahasiswa, Lomba Karya Sastra Yantra kategori mahasiswa, Lomba Dharma Wacana Bahasa Indonesia kategori dosen dan mahasiswa, Lomba Dharma Wacana Bahasa Inggris, Lomba Penulisan Jurnal Ilmiah, Lomba Tari Kreasi oleh mahasiswa. Selain lomba juga berlangsung Pameran berbagai produk kreatif dan pementasan seni tari yang disumbangkan oleh kontingen peserta.

Dalam sambutannya Wakil Menteri Agama berharap agar melalui semua agama kita bisa menciptakan sebuah kerukunan dan wawasan yang luas dan damai demi menciptakan negara yang maju dan berkembang. Untuk itu, bagi semua Perguruan Tinggi Agama diharapkan bisa memberikan ilmu pengetahuan yang bisa menjadi solusi ketika ada masalah di kalangan masyarakat yang lebih luas.

dirjen2Serangkaian dengan acara TKI ini juga berlangsung Sarasehan dengan Narasumber Direktur Jenderal Agama Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia Prof. Dr. IBG Yudha Triguna, MS dan Ketua Sekolah Tinggi Tampung Penyang Palangka Raya Prof. Dr. I Ketut Subagiastha yang sekaligus sebagai Ketua Umum Panitia Temu Karya Ilmiah yang ke lima (5) kali ini. Dalam kesempatan ini Dirjen Mengharapkan seluruh Perguruan Tinggi Hindu untuk dapat berpartisipasi dan mengambil peran dalam acara dengan persiapan yang matang sebagai pembelajaran dalam bidang Pengetahuan dan Keterampilan Akademik bagi lembaga masing-masing sehingga terjadi proses peningkatan dimasa yang akan datang baik bagi kalangan dosen maupun mahasiswa.dirjen

Ketua Panitia, Prof. Dr. Ketut Subagiastha Mengung-kapkan Berbagai kegiatan yang dilaksanakan di antaranya, lomba karya ilmiah akademik, lomba keterampilan akademik, sa- rasehan, pameran berbagai karya akademik, launching/ bedah buku serta gelaran seni. Kegiatan diselenggarakan di STAHN Tam- pung Penyang, Swiss Bellhotel Danum, Pura Pitamaha, dan lainnya. Berbagai permasalahan juga banyak kita temui dengan adanya berbagai keterbatasan dan situasi daerah yang ada.(uli)

Diklat Manggala Upacara

July 10, 2013 By: admin Category: Uncategorized

manggala