stahdnj.ac.id

STAH Dharma Nusantara Jakarta
Subscribe

INTELLIGENCE BASED LEADERSHIP - ENTREPRENEURSHIP CHALLENGES IN THE ERA OF LIMIT

November 10, 2014 By: admin Category: Kewirausahaan

Oleh:

Dr. I Putu Gede Ary Suta*

Terjadinya krisis global yang menimpa hampir seluruh belahan dunia ini telah menempatkan isu entrepreneurship yang didukung oleh sikap kepemimpinan menjadi semakin sentral. Entrepreneur adalah pemimpin yang berani untuk mengambil keputusan, walaupun tidak selamanya harus selalu benar. Di samping itu penemuan-penemuan baru di bidang brain science telah menjadikan isu kecerdasan (intelligence) menjadi perhatian mengingat banyaknya perubahan yang terjadi yang selama ini diyakini oleh mainstream neuroscientists.

Brain Power atau Intelligence merupakan determinant factor untuk meraih kesuksesan dalam kepemimpinan (leadership performance). Setiap pembicaraan yang menyangkut brain atau mind tidak pernah lepas dari pembahasan tentang intelligence. Faktor intelligence inilah yang secara mendasar membedakan manusia dari makhluk Tuhan lainnya. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: mengapa intelligence factor ini demikian pentingnya sehingga menjadi topik bahasan tidak hanya bagi neuroscientists dan psychologists, tetapi juga bagi para ahli dari disiplin ilmu lainnya termasuk ahli manajemen dan leadership.

Intelligence merupakan kapabilitas mental, emotional, dan spiritual yang melibatkan kemampuan manusia untuk berfikir, membuat rencana, berimajinasi, memecahkan masalah, mengerti dan memahami ide-ide yang bersifat kompleks serta mampu mentransformasikan pengalaman menjadi pengetahuan. Oleh karenanya masalah intelligence ini menjadi sangat relevan baik bagi pemimpin maupun para pengikutnya.

Pada dasarnya fungsi utama seorang leader adalah mendesain masa depan bangsa atau organisasi yang dipimpinnya dan leader yang bersangkutan dituntut untuk berani dan mampu menghadapi perubahan (deal with change). Karena pentingnya fungsi yang diembannya, maka greatness memerlukan great leader dan great leader memerlukan great leadership.

Brain power (executive intelligence) akan menentukan kualitas kepemimpinan seorang leader dalam membangun visinya dan membuat atau memilih strategi yang tepat guna mencapai tujuan organisasi. A great leader tidak akan pernah berhenti belajar dan belajar. Dengan pembelajaran ini seorang great leader akan mampu untuk: 1) mentransformasi pengalaman yang dimiliki menjadi knowledge, 2) menyederhanakan persoalan yang dihadapi, 3) secara skillful menggunakan informasi atau pengalaman yang ada untuk memecahkan persoalan yang dihadapi.

Berdasarkan pemikiran ini, seorang great leader harus memberikan perhatian lebih serius terhadap brain power (intelligence) karena dampaknya yang dapat ditimbulkan terhadap fungsi-fungsi kepemimpinan. Neuroplasticity mengandung arti juga bahwa otak akan mengalami perubahan secara berkelanjutan (the brain continously changes itself).

WHAT IS AN ENTREPRENEUR?

Seorang entrepreneur adalah orang yang melihat kesempatan dan memulai bisnisnya sendiri, memberdayakan kreativitas, kemampuan, pengetahuan, sumber daya dan usaha sendiri. Mereka biasanya mengoperasikan sendiri pada awal berdirinya perusahaan dan mempekerjakan orang lain di saat bisnis bertumbuh. Ada banyak karakteristik entrepreneur sukses yang disimpulkan oleh para akademisi di seluruh dunia, antara lain memiliki 1) Passion for business, ia harus mencintai bisnis yang dirintisnya; 2) Great Self-confidence, Seorang entrepreneur percaya bahwa dirinya akan sukses; 3) Perseverance with a “Never Say Die” Attitude, dalam perjalanan bisnisnya, entrepreneur harus memiliki mental baja untuk menghadapi berbagai macam kesulitan dan ketekunan untuk memecahkannya; 4) Great Curiosity, Rasa keingintahuan yang besar menjembatani entrepreneur untuk dapat bereaksi secara cepat terhadap setiap kesempatan yang muncul guna menunjang kesuksesan bisnisnya; 5) Ability to Focus on Goals and a Single-minded Mindset, seorang entrepreneur memiliki pemikiran tunggal dan sangat berorientasi pada tujuannya. Entrepreneur yang sukses selalu memulai dengan tujuan yang sangat jelas dalam pikirannya dan kemudian bekerja untuk mencapai tujuan tersebut; 6) People-oriented, Entrepreneur mempunyai kemampuan untuk bergaul dengan orang lain dari semua tingkatan yang ada di masyarakat; 7) Innovative and Creative, Entrepreneur yang kreatif memiliki probabilitas untuk meraih kesuksesan yang lebih besar dibandingkan dengan individu yang tidak kreatif.

Entrepreneur adalah seorang leader yang mengambil keputusan walaupun tidak harus setiap keputusan yang diambil selalu tepat. Jika tidak ingin mendapat kritikan, maka seseorang tidak melakukan apapun dan tidak akan mencapai tujuan satupun. Jika menemui kegagalan, setidaknya ia menyadari bahwa itu adalah hasil keputusannya sendiri dan bukan milik orang lain yang sebenarnya telah ia ragukan pada awalnya. Leader yang efektif mengetahui bahwa mereka mendapatkan usaha terbaik dari orang-orang yang bekerja bersamanya, dengan menolong mereka melakukan yang terbaik, dan dengan menunjukkan kepada mereka tentang bagaimana untuk lebih produktif.

BRAIN AND ITS FUNCTIONS

Secara umum dapat dikatakan bahwa brain merupakan anatomi dan bagian dari tubuh manusia, sedangkan mind merupakan fungsi dari brain itu sendiri. Fungsi brain dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1) mengatur proses berpikir atau pikiran (thought), memory, judgment, identitas personal dan aspek lainnya dari mind; 2) tempat bersemayamnya harapan dan cita-cita (hope) mimpi (dream), dan imajinasi; 3) merupakan pusat pembelajaran (center of learning).

Masyarakat luas telah mengetahui bahwa rational intelligence (Intelligent Quotient/ IQ) merupakan pengukuran tingkat kecerdasan manusia secara umum yang dimulai pada awal abad ke-20. Pengukuran dengan IQ dimaksudkan untuk mengukur kecerdasan (intelligence) melalui serangkaian tes yang mencakup kemampuan spatial, numerical, dan linguistic abilities. Selanjutnya IQ test digunakan pada sistem pendidikan dan bisnis untuk melihat kemampuan (kecerdasan) yang berkaitan dengan rational, logical, linear intelligence, untuk memecahkan problem-problem tertentu dari strategic thinking.

Banyak di antara kita belum berhasil memahami atau menempatkan secara tepat posisi intelligence dalam kaitannya dengan talent, genius, competence, maupun wisdom. Berdasarkan definisi intelligence yang disebutkan di atas, penulis mencoba untuk membuat framework hubungan antara intelligence dengan talent, genius, competence, dan wisdom tersebut sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1.

gbr11

Gambar 1. Intelligent-Competence-Wisdom Framework

Critical thinking dipercaya sebagai mental ability untuk terciptanya kesuksesan di bidang bisnis, karena meliputi kemampuan untuk probing, proving, asking the right question dan mengantisipasi permasalahan. Semua hal tersebut merupakan aspek besar dari leadership.

Kualitas kepemimpinan maksimal yang hendak dicapai (greatness) membutuhkan keberadaan great leader. Great leader membutuhkan level kecerdasan excecutive (excecutive intelligent). Dan great leader pada akhirnya memerlukan great leadership. Lahirnya great leader umumnya melalui proses yang panjang karena tidak hanya melibatkan satu jenis kecerdasan. Dalam lingkungan yang sangat kompleks, penguasaan berbagai jenis intelligence,rasional, emotional dan spiritual, mutlak dimiliki oleh seorang great leader.

Mengingat great leadership merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan great leader, maka untuk mencapai itu, pendekatan yang dapat digunakan adalah intelligence based leadership.

Era of Limit

Era of limit ini merupakan aspek kepemimpinan yang penting namun kurang memperoleh perhatian yang seharusnya. Era of Limit menjadi semakin penting bukan karena ditujukan pada perseorangan, namun era tersebut memberikan informasi atau fakta sejarah, budaya, dan arena yang memungkinkan pemimpin untuk bertindak. Era of Limit ini berbeda dengan generasi yang berubah setiap periode tertentu. Namun era dimaksud ditandai oleh peristiwa penting (defining events) yang mungkin terjadi setiap kurang lebih dua puluh tahun. Sebagai contoh era dimana kita dibesarkan hingga menjelang dewasa tetap merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap kehidupan kita.

Fungsi utama seorang pemimpin adalah mendesain masa depan dari masyarakat (organisasi) yang dipimpinnya, yang memerlukan kemampuan dan seni tersendiri serta strategi yang tepat. Selama melibatkan masa depan, berarti peranan kemampuan dan intelligence menjadi sangat menonjol terutama pemanfaatan right hemishpere (otak kanan) karena melibatkan imajinasi dan kreativitas pemimpin tersebut. Disamping itu perlu diingat bahwa executive intelligence, sebagaimana diuraikan pada bagian leadership challenge, merupakan elemen yang penting dalam proses ini.

Fungsi kedua berhubungan dengan bagaimana menyikapi perubahan yang terjadi, melalui penetapan paradigma baru, dan berani mengambil keputusan serta bersedia untuk menanggung risiko terhadap kemungkinan yang terjadi. Perubahan dapat bersumber dari dalam organisasi atau dipaksakan oleh lingkungan yang selalu berubah. Untuk menyikapi perubahan yang terjadi perlu dikembangkan leadership competencies (Bennis, G. W. & Thomas, J. R., 2007), yang terdiri dari :

· Adaptive capacity, kemampuan untuk melakukan penyesuaian terhadap perubahan melalui kerja keras, pembelajaran, first class noticer) dan kreativitas.

· Share of meaning, memahami perasaan pihak lain melalui empathy, dan

· Voice, kemampuan untuk menetapkan tujuan, self awareness, self confidence dan emotional intelligence

· Integrity, memiliki keseimbangan ambisi, kompeten, dan moral compass.

Leadership performance akan selalu dikaitkan dengan kedua fungsi penting kepemimpinan di atas, selain fungsi manajemen lainnya yang sudah seharusnya dikuasai oleh pemimpin agar kinerjanya menjadi maksimal, termasuk membangun distinctive competence dan resources atau sumber daya dalam penciptaan nilai (value creation) sehingga akan tercipta competitive advantages secara berkesinambungan.

CONCLUSION

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan di atas, beberapa kesimpulan penting dapat diambil: Pertama, entrepreneur yang sukses didukung oleh sikap kepemimpinan yang didasari oleh intelligence. Bahwa peranan intelligence menjadi semakin penting setelah adanya pemahaman yang lebih luas terhadap fungsi-fungsi brain & mind. Kedua, akar dari kecerdasan adalah critical thinking dan intelligence merupakan akar dari talenta atau competencies. Selanjutnya competence akan melahirkan pendewasaan yang merupakan penyubur kelahiran wisdom. Wisdom akan merupakan the prime seater dari kebahagiaan. Ketiga, Kualitas kepemimpinan maksimal yang hendak dicapai (greatness) membutuhkan keberadaan great leader. Keempat, Setiap pemimpin yang sukses sudah sewajarnya mengetahui dan memahami tanda-tanda perubahan era (era of limit). Perubahan era ini mengakibatkan karakter kepemimpinan yang diperlukan juga berubah mengingat challenge yang dihadapi juga berbeda. Perbedaan tersebut meliputi antara lain pandangan hidup, aspirasi, live balance, dan tantangan lainnya. Perbedaan antar era memunculkan isu-isu kepemimpinan yang penting, antara lain: sejalan dengan keterbatasan usia manusia (limit of human presence), kapankah seorang pemimpin harus turun; kondisi apa yang menjadi faktor untuk dipertimbangkan (new era is waiting); sudahkah pemimpin menyiapkan pengganti (successor); dan siapkah secara mental sebagai pemimpin untuk dikalahkan oleh pemimpin lainnya (leadership transition). Kelima, Implikasi yang timbul adalah diperlukannya intelligence based leadership yang memanfaatkan secara maksimal potensi otak atau mind untuk menjawab tantangan yang ada dan mencapai kinerja kepemimpinan yang maksimal, melalui learning (study, observation, dan experience), mentoring dan pengembangan rational, emotional dan spiritual intelligence secara terus menerus disamping executive intelligence yang mutlak harus dimiliki setiap pemimpin yang sukses.


* Founder and Chairman of The Ary Suta Center, Member Board of Trustee and Lecturer University of Udayana, Chairman of PT. Kiran Resources Indonesia, Lecturer Graduate Scholl of Management University of Indonesia, Former Chairman of The Indonesia Capital Market Supervisory Agency (BAPEPAM) and Former Chairman of Indonesia Banking Restructuring Agency (IBRA).

RESENSI BUKU STRATEGI HINDU & MENGAPA BALI UNIK?

October 10, 2014 By: admin Category: Artikel

text

Peresensi : Arya Suta*

Tidak banyak buku bertemakan Hindu Indonesia yang diulas secara sosiologis, terlebih yang disajikan dengan data dan teori sosial-budaya yang dikemas secara apik dan rigid. Kiranya perlu membaca karya sosiologis mengenai agama sendiri sebagai langkah awal untuk secara terang dan jelas mengurai masalah sosial-keagamaan yang kita hadapi saat ini. Di samping itu, karya sosiologis membuat kita terbuka secara ilmiah-universal dalam menemukan rumusan masalah yang hendak kita jawab dengan mengandalkan akal sehat. Sifat yang ilmiah-universal menjadi sesuatu yang tak terhindarkan mengingat masyarakat Hindu di tanah air tidak dapat menyelesaikan masalahnya hanya dengan mengandalkan semangat komunitas yang cenderung tertutup.

Karya seperti inilah yang akhirnya dapat kita rasakan pada dua buah buku karya Prof. Dr. IBG Yudha Triguna, MS yang berjudul Strategi Hindu dan Mengapa Bali Unik? yang kami anggap sebagai representasi buku Sosiologi Hindu di tanah air.

Kedua buku ini ingin menjelaskan bahwa Agama Hindu oleh umatnya dianggap sebagai satu kesatuan yang integral, artinya bagi umat Hindu, agama tidak dapat dipisahkan dengan hidup dan kehidupan umat manusia. Manusia Hindu diharapkan menjadi manusia yang memiliki keperibadian yang utuh dalam pengamalan ajaran agama, setiap tingkah laku dan keperibadiannya, senantiasa mencerminkan pengamalan ajaran agama Hindu. Melihat kembali berbagai fungsi agama dalam kehidupan umat manusia, seperti sebagai faktor motivatif, edukatif, inspiratif, faktor sublimatif dan lain-lain, maka secara ringkas dapat dikatakan bahwa agama Hindu merupakan sesuatu yang relevan dengan segala tindakan intelektual, emosional manusia latar belakang sosial-budaya, geografis dan sebagainya.

resensiTerdapat harapan yang secara eksplisit dipaparkan pada Kata Pengantar Mengapa Bali Unik? Penulis ingin Bali tetap diperkuat oleh energi toleransi, keramahan, kejujuran dan berpengatahuan. Sisi tradisional masyarakat Bali yang terbuka harus dibina. Karena itulah Bali harus menjadi wilayah sebagai pusat peradaban dunia, anti kekerasan, anti diskriminasi sekaligus sebagai poros tegaknya hak asasi manusia. Penulis juga bermaksud mendorong berfungsinya kebudayaan daerah di mana agama itu dianut. Kerenanya, setiap kebijakan harus diarahkan untuk memberdayakan potensi-potensi daerah secara maksimal. Dalam kebijakan seperti ini tidak berlaku konsepsi universalisme Hindu, karena yang dipentingkan adanya relativisme kultural. Jadi, semangat civilization consciousness harus lebih diarahkan pada tumbuhnya kesadaran akan kebudayaan sendiri (ix). Inilah mengapa di dalam buku Strategi Hindu banyak menjelaskan gerakan kegamaan seperti Gerakan Komunitas, Gerakan Keagamaan Hindu Dharma, Golongan Modernis, Fenomena Warga Pasek, Warga Pande dan gerakan lainnya yang secara dinamis memainkan peran dalam membangun struktur dan fungsi keagamaan Hindu di Indonesia.

Terdapat benang merah yang secara nyata dapat kita tarik dari kedua buku ini yakni sorotannya terhadap lembaga keumatan baik bersifat agama, pendidikan dan pemerintahan. Lembaga umat belum mampu secara maksimal mengantarkan umat untuk dapat mengenal identitas dirinya, melalui ajaran agama yang komprehensif, karena wawasan personal di samping interest oknum-oknum di lembaga/kelembagaan umat Hindu untuk mempertahankan privilege, warisan berabad-abad yang nyata-nyata bertentangan dengan ajaran agama Hindu. Mereka yang memahami, namun tidak memiliki akses untuk hal tersebut hanya tersenyum dan ketawa geli melihat oknum-oknum tersebut. Untuk itu sesuai semangat reformasi, maka reformasi kelembagaan, khususnya personal kelembagaan tersebut mesti diperbaiki, diganti oleh mereka yang memiki wawasan Hindu yang luas dan visi jauh ke depan.

Tidak seperti bacaan mainstream buku-buku Hindu yang kerap mengedepankan klaim-klaim narsistik tentang universalitas Agama Hindu, gaya bahasa di dalam buku ini sangat lugas dan menempatkan fakta dan cita-cita secara proporsional. Kita berharap ada gambar atau ilustrasi yang terselip di kedua buku ini pada cetakan-cetakan berikutnya, selain sebagai pemanis, hal ini sebagai representasi dari isi kedua judul dari buku tersebut. Adanya gambar justru memperjelas bahwa Bali memang unik bukan? *) Adalah Dosen STAH DN Jakarta

Jurnal Pasupati

October 10, 2014 By: admin Category: Pengumuman

Diumumkan Kepada Seluruh Penulis Jurnal Pasupati dimohon untuk segera mengirimkan tulisannya via e-mail :stahdnj@yahoo.com atau jurnalpasupati@stahdnj.ac.id, dan akan diserahkan kepada mitra bestari suksme

Redaksi Jurnal Pasupati

Usulan Calon Pembimbing

October 10, 2014 By: admin Category: Uncategorized

BAGI MAHASISWA/I YANG TELAH MENGIKUTI VERIFIKASI JUDUL PROPOSAL PENELITIAN HARAP DENGAN SEGERA MENGAJUKAN USULAN CALON PEMBIMBING 1 DAN PEMBIMBING 2 SEMINGGU SETELAH VERIFIKASI SUKSME

TEAM VERIFIKASI

Membangun Daya Kritis Umat Hindu Melalui Media

October 07, 2014 By: admin Category: Artikel

Oleh : Ngakan Putra*

Om Swastyastu.

I. Pendahuluan.

Daya kritis saya maksudkan sebagai kemampuan untuk memberikan penilaian secara rasional atas suatu realitas atau ideologi termasuk yang bersumber dari agama yang dapat mempengaruhi perilaku masyarakat.

Yang dimaksud dengan “media” meliputi media cetak (surat kabar, majalah), eletronik (tv, radio), online (berita online, website) dan media sosial (facebook, twitter, dll).

Untuk apa membangun daya kritis? Dan mengapa melalui media?

Penyebaran agama-agama Semitik (rumpun Yahudi) sampai permulaan abad 20 menggunakan pola 3 M, yaitu: M = Mercenaries (tentara bayaran), Merchant (pedagang), Missionaris (penyebar agama).

Pola ini dapat dilihat dalam penyebaran agama Kristen dan Islam di India, dan juga di Indonesia. Sekarang pun pola 3 M juga masih dipergunakan. Tetapi secara umum M yang pertama tidak lagi merupakan singkatan dari Mercenaries (crusader, jihadi), tetapi Media, kecuali di beberapa negara di Timur Tengah dan Afrika Utara, di mana penyebaran agama masih menggunakan kekerasan ala tentara bayaran. M yang kedua adalah Money, uang dalam bentuk bantuan pendidikan, kesehatan, bantuan modal usaha, pekerjaan dll, yang bisa datang dari para Merchant, bisa juga dari iuran para anggota kelompok pemeluk agama yang memiliki semangat tinggi untuk menambah jumlah anggotanya.

Perlu dicatat, agama Hindu tidak pernah disebarkan dengan bantuan pasukan berkuda (mercenaries) sambil merampok dan menjarah, atau bujukan uang dalam bentuk bantuan modal usaha, pendidikan dan kesehatan (money). Agama Hindu menyebar luas ke berbagai belahan dunia, karena daya tarik filsafat dan praktik spiritualnya (sadhana). Di zaman modern ini, agama Hindu mau tidak mau bahkan harus menggunakan media massa untuk menyampaikan pesan-pesannya yang bermanfaat bagi hidup bersama secara damai dan untuk membangun etika global dalam penyelamatan lingkungan.

Media massa cetak dan elektronik, merupakan sarana yang sangat ampuh untuk siar agama. Surat kabar nasional, misalnya Kompas, dicetak sebanyak 600.000 eksemplar, dan satu eksemplar dibaca oleh satu keluarga, minimal 2 orang. Media elektronik, seperti TV ditonton oleh jutaan orang. Siar agama bisa dalam bentuk berita, opini, features, diskusi, sinetron, kotbah dllnya. Semua bentuk siar agama ini bisa tembus ke ruang keluarga, bahkan kamar tidur orang-orang Hindu.

Namun masyarakat Hindu belum dapat menggunakan sarana media massa cetak dan elektronik, karena dua alasan. Pertama, adalah hambatan modal. Belum ada pengusaha Hindu yang berani atau mampu menanamkan modalnya di media massa cetak atau elektronik dengan lingkup nasional, karena memerlukan biaya yang sangat besar. Kedua, adalah hambatan mental. Masyarakat Hindu umumnya, termasuk kaum intelektualnya, kurang berani atau masih enggan melakukan dialog kritis dengan pemikiran-pemikiran dari agama lain.

Saya lebih banyak akan mengangkat masalah kedua, karena orasi ilmiah ini bukan tentang membangun media massa, tetapi tentang membangun daya kritis, sambil mencari upaya bagaimana caranya kita menyiasati hambatan pertama dengan memanfaatkan teknologi informasi yang tersedia, seperti media online dan media sosial. Sekalipun kedua jenis media ini memang belum memperoleh kepercayaan yang tinggi dari masyarakat, tetapi keduanya boleh dikatakan menembus hegemoni dan ‘blokade’ dari media massa cetak dan elektronik.

II. Berpikir kritis dalam tradisi Hindu.

Tanda adanya pemikiran kritis di dalam suatu agama adalah bilamana pertanyaan tentang hal-hal fundamental, misalnya, tentang makna dari teks-teks suci, tentang hakikat Tuhan, tentang tindakan Tuhan, tentang manusia, diijinkan. Di dalam agama Hindu pertanyaan-pertanyaan semacam itu diijinkan. Di dalam Upanisad ajaran-ajaran fundamental dari agama Hindu (tattva) disampaikan dalam bentuk dialog kritis antara guru dengan sisyanya, antara manusia dengan Inkarnasi Tuhan (Avatara).

Salah satu dialog yang menarik di dalam Upanisad akan saya kemukakan di bawah ini sebagai contoh.

Vajrasravasa, karena menginginkan pahala surga dan duniawi, mengorbankan seluruh harta miliknya yaitu seekor kerbau tua yang sudah tidak bisa merumput, minum, menghasilkan susu, apalagi melahirkan anak.

Putranya, Nachiketas, sekalipun masih muda telah memiliki pandangan jauh ke depan. Ketika upacara itu dilaksanakan ia berpikir:

Upacara korban kerbau yang buruk ini, yang sudah terlalu tua untuk menghasilkan susu, bahkan tidak sanggup lagi makan rumput dan minum air, hanya akan membawa penderitaan. Dan ia berpikir untuk mengorbankan dirinya sendiri (sebagai dhakshina). Ia berkata kepada ayanya:

“Oh, ayah, kepada siapa engkau akan mempersembahkan aku?” Ayahnya tidak menjawab. Ia lalu mengulangi pertanyaannya: “Oh, ayah, kepada siapa engkau akan mempersembahkan aku?” Ayahnya diam. Untuk ketiga kalinya ia mengulangi pertanyaan itu: ”Ayah, kepada siapa engkau akan mempersembahkan aku?”

Ayahnya marah, lalu berkata: “Aku akan mempersembahkan kamu kepada Yama, penguasa kematian.”

Nachiketas terkejut oleh perkataan ayahnya, merenung dan memberi tahu ayahnya yang sekarang menyesal, bahwa ia jauh lebih baik dari banyak anak lain, dan tidak ada yang akan diperoleh dengan menjilat kata-kata yang sudah diucapkannya.

Nachiketas mengingatkan ayahnya bahwa tidak ada leluhur mereka, maupun keluarga mereka yang masih hidup yang merupakan orang-orang yang sopan melanggar janjinya. Lagi pula kehidupan manusia hanya bersifat sementara. Seperti sehelai rumput manusia mati dan lahir kembali.

Nachiketas pergi kepada Yama, Sang Penguasa kematian. Di sana ia menunggu selama tiga hari tiga malam tanpa makan dan minum. Pada hari ketiga Yama menemuinya, katanya: “kamu telah datang sebagai tamu suci ke tempatku, dan kamu telah diabaikan selama tiga hari tiga malam. Sekarang mintalah tiga hadiah.”

Nachiketas mengajukan tiga permohonan. Pertama agar kemarahan ayahnya diredakan. Kedua, agar dijelaskan kepadanya tentang api suci yang menuntun ke surga. Ketiga agar dijelaskan kepadanya apakah setelah seseorang mati, “ia ada” atau “ia tiada”?

Permohonan pertama dan kedua segera dikabulkan. Tetapi untuk permohonan ketiga Yama tidak menjawab. Sebagai gantinya Yama menawarkan kekayaan, kemashuran dan kekuasaan kepada Nachiketas. Nachiketas menolak tawaran itu, “karena apa artinya semua itu karena kematian ada di mana-mana?” Ia berkukuh agar Yama menjawab pertanyaannya yang ketiga. Apa yang terjadi setelah seseorang mati?

Yama mengelak untuk menjawab: “Pilihlah anak-anak dan cucu-cucu yang akan hidup seratus tahun, ternak dalam jumlah banyak, gajah, emas dan kuda. Pilihlah tanah yang luas dan hiduplah selama yang kamu inginkan.”

Nachiketas tidak terpengaruh oleh janji-janji itu. “Semua itu bersifat sementara dan semua kekuatan indriya manusia akan melemah. Lagi pula, seluruh hidup ini sangat singkat. Milikmulah kereta-kereta itu, milikmulah tarian dan nyanyian itu. Kumohon, beritahu aku mengenai keberangkatan besar itu.”

Nachiketas ingin mengetahui rahasia keberangkatan besar, mahan samparaya, dari mana tidak ada yang kembali (moksa). Karena kegigihan Nachiketas, Yama akhirnya mengajarinya tentang pengetahuan tertinggi itu, tentang perbedaan antara kemakmuran dunia dan pembebasan juga perbedaan antara pencerahan dan ketidak-tahuan. Sesudah itu Yama memuji Nachiketas dengan berkata: “Saya mengganggap Nachiketas sebagai seorang pencari pengetahuan, karena hal-hal yang didambakan, sekalipun banyak, tidak mengggodamu.” [1]

Bhagawad Gita sepenuhnya menggunakan dialog kritis sebagai metode dalam penyampaian ajarannya. Arjuna terus mengajukan pertanyaan akan keraguannya atas berbagai hal. Dan Krishna menjawabnya dengan sabar. Barulah pada percakapan XI, Arjuna percaya akan jawaban Krishna, setelah Krishna menunjukkan siapa dirinya, bahwa Ia adalah Avatara Tuhan.

Perintah utama di dalam agama Hindu bukan, “Sembahlah Aku saja!” atau “Percayalah hanya padaku, kalau tidak kamu akan masuk neraka”. Tetapi “Ketahuilah Itu, karena Itu adalah Brahman”.[2] Dan “Siapa yang mengetahui Brahman menjadi Brahman”.[3] “Ketika Brahman itu, dasar dari semua sebab dan akibat, diketahui, hasil dari tindakan tidak akan mengikatmu.” [4] “Mereka yang mencapai Brahman dengan bergerak maju melalui jalan ini, tidak kembali ke dalam lingkaran kelahiran dan kematian.” [5]“Seseorang yang mengetahui kebahagiaan abadi (hakikat sesungguhnya dari) Brahman, tidak lagi memiliki ketakutan terhadap apapun.” [6]

Pengetahuan itu membawa kesejahteraan dan pembebasan. Pengetahuan yang lebih rendah (apara vidya) membawa kesejahteraan (abhyudaya, prosperity). Pengetahuan yang lebih tinggi (para vidya) membawa pembebasan (moksa, nihsreyasa, liberation).

Para maharsi berpendapat, kepercayaan itu harus ada di dalam terang cahaya pengetahuan (jnana). Kepercayaan buta ditolak, karena buta dalam keyakinan berarti buta dalam akal dan hati nurani, ini jauh lebih buruk dari buta secara fisik. Kepercayaan buta berpotensi menjatuhkan manusia ke dalam jurang fanatisme, kebencian dan kekerasan. Orang semacam ini, menurut Blaise Pascal (filsuf Perancis 1623-1662), mampu melakukan kekejaman luar biasa dan dengan riang gembira pula.

Segala metode atau pramana (epistemologi) termasuk bertanya dan meragukan dipergunakan untuk memperoleh pengetahuan. Dan hanya orang yang memiliki daya kritis yang mampu bertanya dan meragukan secara benar. Makin sering kita bertanya tentang Tuhan makin dekat kita kepadanya. Dalam agama-agama lain, ada larangan meragukan dan bertanya tentang keyakinannya. “Janganlah engkau terlalu banyak bertanya, karena hal itu menyebabkan kamu akan kehilangan iman.”

Hindu bukan agama dogmatik atau legalistik yang tidak tidak tahan sorotan cahaya akal dan kritik sejarah. Hindu merupakan kumpulan dari pengalaman rohani yang luas dari para maharsi Veda yang memperoleh pengetahuan secara langsung (manunggaling kawula gusti). Oleh karena itu Hindu adalah agama filsafat dan spiritualitas. Filsafat bersifat rasional, dan spiritualitas berdasarkan pengalaman rohani yang nyata.

III. Purva paksa.

Tradisi dialog kritis berkembang menjadi purva paksa dalam kehidupan intelektual agama Hindu. Purva paksa artinya = prima facie view (pandangan yang kokoh), pandangan lawan; titik pandang sebelumnya. Secara umum, di dalam semua karya filsafat India, pertama pandangan lawan dikemukakan, dan kemudian, setelah pandangan ini ditolak, lalu pandangan sang penolak dikemukakan. [7]

Mereka yang kalah dalam perdebatan menjadi murid dari yang menang. Tidak jarang, seorang guru yang kalah berdebat dengan muridnya, lalu menjadi murid dari mantan muridnya itu. Tradisi purva paksa terbukti mampu mencegah konflik yang timbul dari pemaksaan kehendak untuk menciptakan ideologi monolit.

Metode ini dipergunakan oleh para filsuf Hindu sejak zaman klasik, dari Sankara sampai zaman modern, Radhakrishnan dan lain-lain. Di India, sudah sejak zaman Ramayana, para raja menyelenggarakan perdebatan antara para pandit tentang agama dan filsafat. Perbedaan pendapat di bidang agama dan filsafat bukan dilarang atau ditindas tetapi dirayakan dan disuburkan.

1. Shankaracharya.

Adi Shankara (788-820) juga dikenal sebagai (Adi) Shankaracharya dan Shankara Bhagavatpada, ?a?kara Bhagavatp?da, ?a?kara Bhagavatp?d?c?rya - adalah seorang filsuf Hindu yang paling dihormati yang mengkonsolidasi doktrin Advaita Veda nta.

Karya-karyanya dalam bahasa Sansekerta membangun doktrin advaita, kesatuan atman dan Nirguna Brahman “brahman tanpa sifat”. Karya-karyanya menguraikan ide-ide yang ditemukan dalam Upanisad. Dia menulis komentar secara rinci tentang ajaran Veda (Brahma Sutra, Upanisad Utama dan Bhagavad Gita) untuk mendukung tesisnya.

Di dalam bukunya “Brahma Sutra Bhasya” (tafsir dari Brahma Sutra) Veda, Upanisad, Bhagawad Gita diperdebatkan. Atau dengan kata lain, kitab-kitab Sruti itu dijelaskan dengan metode perdebatan. Dengan menggunakan model purva paksa Sankara juga mengeritik aliran filsafat lain, seperti Yoga[8], Sankhya[9], Vaisesika[10], Buddha[11] dan Jaina[12].

Sankara juga melakukan debat secara lisan dengan tokoh-tokoh Hindu yang berbeda pandangan filsafat dengannya, dan tokoh-tokoh Buddha dan Jaina yang tidak tunduk pada otoritas Veda . Sankara dianggap menegakkan kembali kejayaan Hindu di India, setelah hampir dikalahkan oleh Buddha yang berkembang pesat sejak zaman Asoka.

2. Swami Dayananda Saraswati.

Swami Dayananda Saraswati (1824-1883), pendiri Arya Samaj, juga melakukan hal yang sama dengan Sankara. Swami Dayananda melakukan polemik dan debat dengan tokoh-tokoh Hindu yang berbeda pandangannya. Di samping itu, Swami Dayananda menerapkan purva paksa terhadap agama lain, seperti Kristen, Islam, Sikh, Buddha, Jaina. Dalam bukunya “Satyarth Prakash (Light of Truth) bab 13 [13] dan 14 [14], secara berturut ia memberikan pandangan kritis terhadap Injil dan Alquran. Dialah orang Hindu pertama yang memberikan kritik terhadap agama Kristen dan Islam, sebagai jawaban atas kritik Kristen dan Islam terhadap Hindu.

Tentang kritiknya atas Alkitab Swami Dayananda mengatakan: “Ketika membaca terjemahannya dalam bahasa Hindi dan Sansekerta, saya memperoleh banyak keraguan tentangnya, mengenai mana beberapa diberikan di sini dalam bab 13 untuk menjadi pertimbangan publik. Resensi atau ulasan ini hanya untuk kepentingan penyebaran kebenaran dan melenyapkan kepalsuan, tetapi bukan untuk menyinggung perasaan siapapun, atau untuk melukainya, atau untuk menuduhkan kesalahan kepadanya. Sasaran dari ulasan ini sekaligus untuk mengetahui dari membaca dan apa yang mengikuti tentang buku macam apa Alkitab ini, dan agama macam apa Kekristenan itu.”

“Semua orang harus membaca kitab suci dari agama-agama lain dan menyatakan opininya tentang kitab suci itu. (……) bila orang tidak mengetahui agama-agama lain, mereka tidak akan dapat berbicara satu sama lain. Orang-orang yang bodoh akan jatuh ke dalam parit kebingungan.” [15]

Tentang kritiknya atas Al-Quran Swami Dayananda mengatakan: “Adalah tidak biasa bagi kita untuk mencari kesalahan agama apapun atau Islam; tetapi adalah tujuan kita untuk membawa ke dalam terang cahaya apapun yang baik dalam realitas dan apa yang jahat pada akhirnya untuk semua orang. Tidak seorangpun dapat memaksakan kepalsuan pada orang lain, atau menentang kemajuan dari kebenaran di dunia. Bahkan setelah kebenaran dan ketidak benaran ditentukan, setiap orang bebas untuk menerima atau menolak apa yang mereka sukai atau tidak sukai; tidak ada paksaan tetapi kebebasan sempurna untuk memilih”. [16]

3. Swami Vivekananda.

Swami Vivekananda (1863 –1902), sebagai satu-satunya wakil Hindu di dalam Parlemen Agama-agama Dunia yang diadakan di Chicago, AS, pada bulan September 1893, yang dihadiri oleh tujuh ribu orang, menyampaikan pandangan kritis terhadap dogma agama-agama Semitik yang masing-masing mengklaim sebagai satu-satu jalan keselamatan.

Swami Vivekananda mulai pidatonya, memberi salam kepada bangsa termuda atas nama “ordo terkuno dari para biarawan di dunia, ordo para Sannyasin Veda , agama yang telah mengajarkan dunia toleransi dan penerimaan universal”. Vivekananda mengutip dua bagian ilustrasi dari “Shiva Mahimna Stotram”: “Sebagai sungai-sungai yang berbeda memiliki sumber mereka di tempat yang berbeda semua lebur jadi satu di laut, demikianlah, ya Tuhan, jalan yang berbeda yang ditempuh manusia, melalui kecenderungan yang berbeda, sekalipun tampak beragam, bengkok atau lurus, semua mengarah ke Mu! “dan “Barang siapa datang kepada-Ku, melalui bentuk apapun, Aku menjengkaunya, semua orang berjuang melalui berbagai jalan yang pada akhirnya menuju padaKu.”

Presiden Parlemen John Henry Barrows berkata, “India, Bunda agama-agama diwakili oleh Swami Vivekananda, biarawan berjubah oranye yang memberikan pengaruh yang paling indah pada para pendengarnya”. Vivekananda menarik perhatian luas di media massa, yang menyebutnya “biksu angin topan dari India”. The New York Herald mencatat, “Vivekananda tidak diragukan lagi sosok terbesar dalam Parlemen Agama-agama. Setelah mendengar dia kita merasa betapa bodoh mengirim misionaris untuk bangsa terpelajar ini”.

Vivekananda mengkritik pokok keyakinan Kristen yang menyatakan manusia adalah pendosa. Adalah dosa mengatakan manusia sebagai pendosa, katanya. Kalian semua memiliki hakikat yang suci. “Kalian adalah mahluk suci dan sempurna, kalian adalah kedewataan di atas bumi – kalian pendosa? Adalah dosa untuk menyebut manusia sebagai pendosa.”[17]

Vivekananda percaya bahwa esensi dari agama Hindu yang terbaik disajikan dalam filsafat Vedanta, sebagaimana diinterpretasikan oleh Adi Shankara. Ia meringkas Veda nta sebagai berikut:
“Setiap jiwa berpotensi suci. Tujuannya adalah untuk mewujudkan Kedewataan di dalam diri ini dengan mengendalikan alam, di luar dan di dalam diri. Lakukan ini apakah dengan pekerjaan, atau ibadah, atau disiplin mental, atau filsafat-satu per satu, atau lebih, atau semua ini - dan menjadi bebas.
Ini adalah agama secara keseluruhan. Doktrin, atau dogma-dogma, dan ritual, atau buku, atau tempat ibadah, atau bentuk-bentuk lainnya, hanyalah detail sekunder.

4. M.K. Gandhi.

Mohandas Karamchand Gandhi (1869 – 1948), tokoh pejuang kemerdekaan India, melalui jalan non kekerasan (ahimsa dan satyagraha), juga melakukan dialog kritis dengan teman-temannya orang-orang Kristen dan para missionaris Kristen yang tidak kenal lelah untuk membujuknya masuk Kristen.

Gandhi membela agama Hindu dari kritik mereka, dan sebaliknya Gandhi juga memberikan

kritik terhadap agama Kristen, mengenai perilaku maupun doktrin utama mereka. Gandhi tidak percaya Yesus sebagai satu-satunya anak Tuhan. Bila memang ada konsep tentang anak Tuhan, kita semua adalah anak-anak Tuhan, karena sang diri atau diri sejati kita, jiwa adalah bagian atau pantulan dari Tuhan. Ia juga tidak percaya bahwa Yesus mampu menghidupkan orang mati atau kebangkitan Yesus dari kuburnya pada hari ketiga. Ia tidak percaya pada pengampunan dosa oleh kematian Yesus. Saya tidak ingin mencari pengampunan dosa, tetapi agar saya dijauhkan dari perbuatan dosa.

Dialog-dialog Gandhi tersebut di atas dikumpulkan dalam satu buku dan diterbitkan di AS dengan judul Gandhi On Christianity (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan diterbitkan oleh Media Hindu, dengan judul “Dialog Gandhi Dengan Missionaris Tentang Kristen dan Konversi”).

5. Sarvepalli Radhakrishnan.

Sarvepalli Radhakrishnan (1888 - 1975) adalah seorang filsuf dan negarawan India. Ia adalah seorang filsuf-raja (philosopher-king) yang diidealkan oleh Socrates. Ia adalah seorang filsuf India terbaik dan paling berpengaruh dalam abad puluh dalam bidang perbandingan agama dan filsafat. Ia pernah mendukuki berbagai jabatan penting di dunia akademis di India dan Spalding Profesor Agama Timur dan Etika di Universitas Oxford, Inggris (1936-1952). Ia menjabat sebagai wakil Presiden India (1952-1962) dan Presiden kedua India (1962-1967).

Filosofinya didasarkan pada Advaita Vedanta, menginterpretasi ulang tradisi ini untuk pemahaman kontemporer. Dia membela Hindu terhadap “kritik Barat yang kurang informasi”, memberikan kontribusi bagi pembentukan identitas Hindu kontemporer. Ia telah berpengaruh dalam membentuk pemahaman agama Hindu, baik di India dan barat, dan memperoleh reputasi sebagai pembangun jembatan antara India dan Barat.

Ketika ia memberi kuliah di Oxford, Inggris, Radhakrishnan memberi seri ceramah yang membela agama Hindu, yang kemudian dibukukan dengan judul The Hindu View of Life yang ditulisnya pada tahun 1926 (telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Media Hindu menjadi “Pandangan Hidup Hindu”).

Di dalam bukunya Eastern Religions And Western Thought, Oxford University Press, New York,1997, Radhakrishnan menjawab kritik dari para pemikir Barat, terutama Albert Schweitzer, dalam bukunya Indian Thought and Its Develovment, bahwa filsafat Hindu melahirkan etika penolakan dunia dan kehidupan (world and life negation) berlawanan dengan etika Kristen yang melahirkan penerimaan dunia dan kehidupan (world and life affirmation). Radhakrishnan tidak saja membantah kritik tersebut tetapi juga memberikan kritik terhadap doktrin Kristen yang justru melahirkan etika pelarian diri dari dunia. Misalnya, soal orang miskin (Lazarus yang surga) sementara orang kaya masuk neraka. Tentang dogma kiamat, menyebabkan manusia tidak mau berusaha atau bahkan berkeluarga karena akan sia-sia saja, sebab kiamat atau akhir dunia segera akan tiba.

6. Ram Swarup.

Ram Swarup (1920 - 1998), adalah pemikir Hindu independen dan penulis produktif. Karya-karyanya mengambil sikap kritis terhadap Kristen, Islam dan Komunisme. Karyanya telah mempengaruhi penulis India lainnya.

Salah satu buku Hindu View of Christianity and Islam (1993) memberikan pandangan kritis terhadap agama Kristen dan Islam. (Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Media Hindu, dengan judul “Pandangan Hindu atas Kristen dan Islam). Karyanya yang lain, Understanding Islam Through Hadits, dilarang beredar di India (dapat diunduh di internet).

Bila kita sudah membaca karya-karya mereka ini, barulah kita akan tahu di mana letak agama Hindu di dalam peta agama-agama besar di dunia ini. Hal ini membawa kita kepada subjek yang juga sangat penting, yaitu perbandingan agama.

IV. Perbandingan agama.

Banyak orang Hindu termasuk para intelektualnya menganggap perbadingan agama sebagai sesuatu yang sensitif dan bahkan berbahaya, oleh karena itu tabu untuk dibicarakan. Perbandingan agama merupakan suatu keniscayaan bagi masyarakat yang hidup dalam lingkungan yang sangat heterogin secara keyakinan. Perjumpaan dalam bentuk dialog agama tidak dapat dihindarkan, baik secara formal di ruang-ruang diskusi atau seminar maupun secara informal dalam pergaulan sehari-hari.

Di agama-agama lain, khususnya dilingkungan agama-agama Semitik, perbandingan agama sudah diajarkan sejak kecil, dan cara yang sangat subyektif, ekslusif dan negatif. Mereka diajarkan tentang dikotomi agama langit (samawi) versus agama bumi (aardi), juga tentang apartheid orang beriman vs orang kafir. Doktrin yang sangat subyektif ini telah menjadi sumber dari kebencian dan kekerasan agama.

Di perguruan tinggi agama Kristen, seperti Sekolah Tinggi Teologia, dan Seminari Tinggi Katolik, serta di perguruan tinggi agama Islam (IAIN, UIN), perbandingan agama merupakan kuliah wajib.

Sebenarnya dalam tradisi Hindu perbandingan filsafat dan agama sudah lama dikenal, dan diakui memiliki peran penting di dalam pemahaman yang lebih jelas tentang kategori-kategori realitas. Rsi Kanada (sekitar abad ke 2 BCE), pendiri Vaisesika Darsana, mengakui pentingnya perbandingan filsafat atau agama. Dia mengatakan sebagai berikut: Pengetahuan tentang kategori-kategori Realitas, dapat disempurnakan dengan perbandingan dan kontras. Kita sering gagal untuk menyadari kebaikan dan cacat apa pun, serta prinsip-prinsip dasarnya selama perhatian kita terbatas pada hal itu saja.” [18]

Perbandingan agama, menurut Radhakrishnan, sangat penting, karena, “ini akan meningkatkan keyakinan kita tentang universalitas dari Tuhan dan rasa hormat kita kepada ras manusia. Ia menginduksi atau menimbulkan di dalam diri kita bukan sekedar sikap toleransi yang menyiratkan kesadaran superioritas, bukan rasa kasihan yang merendahkan (patronizing pity), tetapi rasa hormat dan apresiasi yang murni.” Dan, “Agama-agama yang berbeda sekarang telah hadir bersama, dan bila mereka tidak berlanjut dalam keadaan kompetisi dan konflik, mereka harus membangun semangat pemahaman yang akan memecahkan prasangka dan salah pengertian dan mengikat mereka bersama sebagai beragam ekspresi dari Kebenaran yang tunggal.” [19]

Perbandingan agama, dalam pandangan Radhakrishnan berfungsi untuk saling menyuburkan wawasan para pihak (cross fertilizing), atau sebagai peleburan cakrawala pemikiran (fusion of horizon). Tetapi tidak semua perbandingan agama bersifat simpatik sebagaimana yang dimaksud oleh Radhakrishnan. Ada juga bahkan mungkin banyak buku perbandingan agama yang bersikap eksklusif, di nama si penulis memuat keunggulan agamanya, dengan merendahkan agama-agama lain. Perbandingan agama yang netral adalah yang bersifat fenomenologis, di mana pokok-pokok ajaran atau doktrin dari agama-agama yang diperbandingkan, dibiarkan hadir dengan sendirinya, seperti membandingkan apel dengan apel, dan diberikan kebebasan dari para pembaca untuk menilainya.

V. Media sebagai sarana.

Veda mengajarkan metafisika tentang Realitas Tunggal yang meliputi atau meresapi segalanya (monisme atau panteisme) dan dari padanya lahir mahawakya “Tat tvam Asi” yang pada gilirannya melahirkan etika sosial tentang persaudaraan universal (vasudaiva kutumbakan). Metafisika dan etika ini bisa menjadi alternatif bagi ideologi devisif yang lahir dari paham ketuhanan yang partisan, pencemburu dan pemecah belah.

Veda mengajarkan kebijaksanaan (wisdoms), keutamaan (virtues) tentang persahabatan, persaudaran universal, yang bermanfaat untuk mencegah sektarianisme, radikalisme, kekerasan dan terorisme berdasarkan agama, dan dengan demikian mendorong terbangunnya kehidupan bersama yang harmonis.

Veda mengajarkan etika, tentang penghormatan terhadap manusia berdasarkan kesamaan jati dirinya, tentang etika kewajiban yang mengharuskan manusia mengambil tanggung jawab terhadap dirinya yang mendukung pembangunan karakter manusia unggul secara intelektual, moral dan prestasi. Veda memiliki pengetahuan dan praktik rohani seperti yoga yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan ketenangan batin.

Veda memiliki ilmu pengetahuan antara lain matematika, kosmologi, astonomi, kedokteran dll, yang memperkaya, mendahului dan mendorong sains modern.

Kita memerlukan media (massa) untuk menyebar luaskan dan membagi harta karun ini kepada masyarakat. Menyembunyikan atau menyimpannya untuk diri sendiri adalah sifat kikir yang sangat keliru, karena ini akan membuat dunia menjadi lebih miskin. Media massa adalah sarana untuk menyampaikan informasi tentang ajaran Hindu yang konstruktif bagi kemajuan dan kesejahteraan manusia.

Di samping itu, melalui media kita juga dapat memberikan klarifikasi atau koreksi atas berbagai opini negatif yang diproyeksikan terhadap agama Hindu baik secara sengaja maupun tidak. Media massa memang menjadi medan pertempuran pemikiran (the battle of mind) dari berbagai keyakinan yang bersaing menawarkan idenya tentang keselamatan bagi seluruh manusia, sebagaimana dikatakan oleh Dr David Frawley (Pandit Vamadeva Sastri). [20]

Sayangnya, seperti telah dijelaskan pada Pendahuluan, masyarakat Hindu memiliki akses yang sangat terbatas terhadap media massa nasional. Tidak ada pengusaha Hindu yang memiliki media massa pada tingkat nasional.

Di Jakarta, kita hanya mempunyai Media Hindu, tetapi tidak bisa dikagetorikan sebagai media massa, karena segmen pembacanya yang khusus, yaitu masyarakat Hindu, sekalipun juga dibaca oleh orang-orang non-Hindu yang berminat, tetapi jumlahnya tidak banyak.

Media Hindu memang dimaksudkan untuk membangun daya kritis masyarakat Hindu, dengan menghidupkan atau memperkenalkan purva paksa dan perbandingan agama dalam artikel ataupun buku-buku yang diterbitkannya. Memang harus ada keberanian untuk mengambil risiko menerbitkan tulisan dan buku-buku semacam itu. Tetapi sejauh ini, selama 11 tahun Media Hindu melakukan hal itu, tidak ada masalah dari luar. Masalah justru kadang-kadang timbul dari dalam umat Hindu sendiri. Mereka yang sudah terbiasa di pojok nyaman terganggu rasa amannya.

Media Hindu adalah tempat pembibitan atau persemaian bagi para pemikir Hindu yang kompeten, percaya diri tetapi rendah hati di dalam menyampaikan ajaran Hindu Dharma. Sayangnya sarana ini belum banyak dimanfaatkan oleh mahasiswa dan dosen dari perguruan tinggi Hindu di Indonesia.

VI. Media Internal di Perguruan Tinggi Hindu.

Dalam era informasi ini masyarakat Hindu betul-betul memerlukan banyak Baudika, atau apa yang disebut oleh Dr David Frawly sebagai Intellectual Warrior (Ksatriya Intelektual) yang berjuang membela Hindu dengan pena, lewat tulisan di media massa, majalah atau buku.

Sumber dari para “Ksatriya Intelektual” adalah Perguruan Tinggi (PT) Hindu. PT Hindu harus memiliki media internal atau jurnal ilmiah sebagai ajang latihan bagi mahasiswa dan dosen untuk melahirkan tulisan-tulisan yang membangun daya kritis.

PT Hindu seharusnya memanfaatkan teknologi informasi untuk membuat sarana media online, seperti Website yang dikelola secara profesional. Di samping kompetensi, diperlukan keberanian untuk menerbitkan tulisan-tulisan yang memiliki daya kritis, terutama yang berkaitan dengan dialog antar agama.

Agar memiliki kompetensi mahasiswa, terutama dosen PT Hindu harus betul-betul menguasai filsafat dan sadhana Hindu secara mendalam. Inti dari filsafat Hindu terdapat di dalam Vedanta Darsana, maka Vedanta harus menjadi inti kuliah di PT Hindu. Karya-karya klasik dari para filsuf Vedanta, seperti Sankara, Radhakrishnan dan karya-karya klasik dari para pemikir Hindu, seperti Swami Dayananda Saraswati, dll yang telah disebutkan di atas, harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh PT Hindu. (Lihat Daftar Pustaka)

Terkait dengan hambatan mental, harus ada perubahan paradigma (paradigm shift) - meniru istilah yang sedang populer - harus ada revolusi mental dalam masyarakat akademis di PT Hindu. Di dunia pemikiran, dalam dialog intelektual, sama seperti di dunia akademis, tidak ada kategori-kategori mayoritas vs minoritas. Yang menentukan adalah rasionalitas dari argumen yang disampaikan; klaim tentang kebenaran harus dapat diverifikasi atau difalsifikasi. Para dosen di PT Hindu tidak boleh sudah merasa pantas memberi kuliah hanya dengan bermodal satu atau dua buku pegangan yang mungkin sudah usang.

Untuk membangun komptensi berdialog secara kritis dengan pemikiran dari keyakinan lain dalam masyarakat yang semakin majemuk, perbandingan agama harus diajarkan kepada semua mahasiswa PT Hindu. Buku-buku perbandingan agama harus ditulis oleh orang-orang Hindu untuk mengedepankan sudut pandang Hindu.

Sedangkan keberanian mengungkapkan pendapat kritis dapat dibangun melalui latihan debat, misalnya.

VII. Kesimpulan dan Saran.

Pemikiran kritis, merupakan tradisi di dalam agama Hindu, dimulai sejak zaman Upanisad. Tradisi ini diteruskan oleh filsuf dan para tokoh pembaru Hindu dari Sankara sampai sekarang.

Hindu Dharma memiliki ajaran tentang metafisika, etika, ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, keutamaan, dan praktik spiritual yang dapat disumbangkan bagi kemajuan masyarakat luas. Untuk ini media (massa) memegang peranan yang penting.

PT Hindu, melalui jurnal ilmiah internalnya berperan membangun daya kritis bagi dosen dan mahasiswanya, sebagai sumber dari baudika (ksatriya intelektual).

Dengan memiliki daya kritis, masyarakat Hindu, terutama para sarjana agama Hindu, akan mampu membangun citra positif bagi Hindu Dharma dan memberikan sumbangan konstruktif dalam dialog agama pada khususnya dan dialog peradaban pada umumnya.

Mereka yang mampu menggunakan daya kritis, akan lebih didengar atau diperhatikan oleh mitra dialognya, seperti prajurit pemberani di medan tempur, kalah atau menang, hidup atau mati, akan dipandang dengan hormat oleh kawan maupun lawan.

Savere aude, jangan takut menggunakan akalmu. (Immanuel Kant).

Om santi, santi, santi Om

Bekasi, 20 September 2014

*) Pemimpin Redaksi Media Hindu

Daftar Kepustakaan.

Frawley, David, Dr (Pandit Vamadeva Sastri): Hinduism and the Clash of Civilizations, Paperback Voice of India, 2001

Gandhi, MK: “Dialog Gandhi Dengan Missionaris Tentang Kristen dan Konversi,” Media Hindu, jakarta 2012.

Grimes, John: A Concise Dictionary of Indian Philosophy, Sanskrit Terms Defined in English, State University of New York Press, New York, 1996.

Griswold, Harvey De Witt: Insight Into Modern Hinduism, Aryan Books International, New Delhi, 1996

Radhakarishnan, Sarvepalli: The Principal Upanisad, HarperCollins Publisher India, 1996

———————————: Eastern Religions And Western Thought, Oxford University Press, New York, 1997.

———————————: The Hindu View of Life, Unwin Books, London, 1971 (First edition, 1927)

——————————— and Moore, Charles A. ed: A Sourcebook in Indian Philosophy, Princeton University Press, 1989

——————————–-: The Principal Upanisads, HarperCollin Publisher India Pvt Ltd, New Delhi, 1994.

———————————: Indian Philosophy, vol 2, MacMillan Company, New York, 1996 (First edition 1927).

Sankaracharya: Brahma Sutra Bhasya, translated by Swami Gambhirananda, Advaita Ashram, Kolkata, 2011.

——————-: Upadesa Sahasri, translated by Swami Jagananda, Sri Ramakirishna Math, Cenai, 2009 (First edition, 1941).

——————: Aparokshanabhuti, translated by Swami Vimuktanana, Advaita Ashram, Kolkata, 2010 (First edition, 1938).

——————-: Self-Knowledge (Atmaboddha), Translated from the Sankrit with Notes, Comments, and Introduction by Swami Nikhilananda, Ramakrishna-Vivekananda Center, New York, 1974. Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Media Hindu dengan judul “ATMABODHA, Pengetahuan Diri Untuk Kedamaian Tertinggi”, Media Hindu, Jakarta, 2014.

——————: Vivekacudamani, Online.

Saraswati, Swami Dayananda : Satyarth Prakash (Light of Truth), Jan Gyan Prakasan, New Delhi, second edition, 1970

Schilpp, Paul Arthur: The Philosophy of Sarvepalli Radhakrishnan, Motilal Banarsidas Publishers Pct Ltd, Delhi, First Indian Edition. 1992.

Schweitzer, Albert : Indian Thought and Its Develovment, The Beacon Press, Boston, 1936

Svarup, Ram : “Pandangan Hindu atas Kristen dan Islam”, Media Hindu, Jakarta, 2008.


[1] Katha Upanisad I, 2-29, dan komentar dari S. Radhakrishnan dan Sankara. Dalam S. Radhakarishnan: The Principal Upanisad, HarperCollins Publisher India, 1996: 595-607. Cf Sankara: Brahma Sutra Bhasya: 236-257.

[2] Taittiriya Upanisad III.1

[3] Mundaka Upanisad III.11.19. Bhagawad Gita VIII.24

[4] Mundaka Upanisad II.ii.8.

[5] Chandogya Upanisad IV. Xv.5

[6] Taittiriya Upanisad II.ix.

[7] John Grimes: A Concise Dictionary of Indian Philosophy, Sanskrit Terms Defined in English, State University of New York Press, New York, 1996: : 252.

[8] Sankara: Brahma Sutra Bhasya, translated by Swami Gambhirananda, Advaita Ashram, Kolkata, 2011 (First edition, 1965): 305-307

[9] Ibid: 367-383

[10] Ibid: 383-402

[11] Ibid: 402 - 426

[12] Ibid: 426-433

[13] Swami Dayananda Saraswati: Satyarth Prakash (Light of Truth), Jan Gyan Prakasan, New Delhi, second edition, 1970: 460-505

[14] Ibid: 506-562.

[15] Ibid: 460.

[16] Ibid: 506.

[17] Harvey De Witt Griswold: Insight Into Modern Hinduism, Aryan Books International, New Delhi, 1996: 70.

[18] Dhirendra Mohan Data: Radhakrishnan and Comparative Philosophy” dalam Schilpp, Paul Arthur: The Philosophy of Sarvepalli Radhakrishnan, Motilal Banarsidas Publishers Pct Ltd, Delhi, First Indian Edition. 1992:661.

[19] Pernyataan ini terdapat dalam buku East and West in Religion, dikutip oleh Joachim Wach dalam tulisannya: Radhakrishnan And The Comparative Study Of Religion, dalam Schilpp, Paul Arthur: The Philosophy of Sarvepalli Radhakrishnan, Motilal Banarsidas Publishers Pct Ltd, Delhi, First Indian Edition. 1992: 445.

[20] Dr David Frawley (Pandit Vamadeva Sastri): Hinduism and the Clash of Civilizations, Paperback Voice of India, 2001

PENGUMUMAN VERIFIKASI JUDUL PROPOSAL PENELITIAN

October 07, 2014 By: admin Category: Pengumuman

verifikasi1

Dies Natalis XX dan Wisuda XII Sarjana Strata 1 STAH Dharma Nusantara Jakarta

September 28, 2014 By: admin Category: Berita/News

by Ulianta

Jakarta, 27 September 2014.Usai Upacara Sakral Samawartana dan Upanayana, Keesokan harinya Tanggal 27 September 2014 dilangsungkan Dies Natalis XX dan Wisuda XII STAH Dharma Nusantara Jakarta dengan semangat dan keihklasan, seluruh civitas akademika yang terlibat dalam acara Dies Natalis tersebut menumbuhkan jiwa dan semangat baru. Terlebih pelaksanaan Wisuda Kali ini sangat menumental karena tanggalnya bertepatan dengan hari lahirnya STAH DN Jakarta.

yuda2

Foto Bersama Wisudawan/Wati

Acara Dies Natalis dan Wisuda kali ini berlangsung di Gedung Astagina, Wisma Bhayangkari Jl. Sanjaya I/1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sebelum acara resmi dimulai, tabuh geguntangan yang dibawakan oleh sekehe geguntangan STAH DN Jakarta dikumandangkan mengiringi langkah kaki para undangan, wisudawan dan para orang tua menuju tempat acara.

Kegiatan panitia menjelang acara dimulai penuh dengan dinamika persiapan berangsur-angsur tenang sesaat menjelang dimulainya acara inti. Nampak Langkah-langkah cepat dan sigap untuk berusaha agar acara bisa dimulai sesuai dengan rencana. Tepat Pkl. 9.03 Acara dimulai serentak kesibukan tersebut terhenti setelah semua dinyatakan siap dan acara  dinyatakan bisa dimulai.

yuda3

Prof. Dr. IBG Yudha Triguna, MS., Dirjen Agama Hindu

Diawali dengan gemulai tarian penyambutan tamu undangan yang dibawakan oleh mahasiswi STAH Dharma Nusantara, menunjukkan kompetensinya bahwa tidak saja dalam bidang akademik dan keagamaan tapi juga terampil menari, mengolah gerak tubuh menjadi sesuatu yang indah dan seni serta dapat membuat suasana menjadi segar ceria dan mampu membawa vibrasi kebahagiaan seperti apa yang tengah dirasakan oleh para wisudawan-wisudawati serta keluarga sebagai hasil dari perjuangannya dibangku kuliah selama kurang lebih 4 tahun lamanya. Dengan segala suka dan duka, yang dialami dalam rangka menempuh proses belajar atau proses tranformasi yang terjadi dan direncanakan dengan sungguh-sungguh di Lembaga milik umat Hindu STAH Dharma Nusantara Jakarta dengan langkah yang penuh perjuangan ditengah – tengah derasnya pengaruh hiruk-pikuk Ibukota.

Suara Sunggu yang ditiup oleh Sampurno Sejati mahasiswa semester VII, dengan panjang dan menggema sebanyak tiga kali sebagai pertanda prosesi sidang terbuka Senat STAH DN Jakarta dimulai, petugas pembawa bendera dan perlengkapan prosesi dengan gerak langkah tegap menuntun barisan Senat menuju panggung kehormatan dengan diiringi lagu khas sebagai lagu perjuangan kebebasan akademik, dengan judul Gaudemus Igitur. (”Karenanya marilah kita bergembira”) adalah lagu berbahasa Latin yang merupakan lagu komersium akademik dan sering dinyanyikan di berbagai negara Eropa. Di negara-negara Barat, lagu ini dinyanyikan sebagai anthem dalam upacara kelulusan. Melodi lagu ini terinspirasi oleh lagu abad pertengahan, bishop of Bologna ciptaan Strada. Liriknya sendiri mencerminkan semangat para pelajar yang tetap semangat meskipun dengan pengetahuan bahwa pada suatu hari nanti kita semua akan mati, seperti terangkum dalam bait pertama pada baris ke-4 dan yang lebih diperjelas lagi pada isi bait ketiga, yang mengandung arti kesadaran akan dekatnya kematian dengan kehidupan manusia di bumi ini. Suasana bertambah khidmat dengan suara paduan suara yang berkumandang dan yang mendapat apresiasi dari bapak Dirjen Agama Hindu Kementerian Agama RI. Itulah buah atas kegigihan latihan para personilnya yang diasuh pelatihnya dengan penuh semangat.

Lagu Indonesia Raya dikumandangkan di awal sebagai penghormatan anak bangsa kepada bangsa dan negaranya. Selanjutnya pembacaan Weda Vakya oleh duet mahasiswa dan mahasiswi STAH DN Jakarta

Laporan Ketua Panitia penyelenggara Oleh I Wayan Kantun, M.Fil.H. Dalam kesempatan ini dilaporkan beberapa hal terkait dengan dasar penyelenggaraan dan keseluruhan rangkaian acara termasuk penyelenggaraan wiku saksi, guru daksina yang menghadirkan para pandita saat upacara Upanayana dan Samawartana sehari menjelang pelaksanan Wisuda. Wisudawan dan wisudawati yang dilantik sebanyak 31 orang. Dilaporkan pula yang mengikuti Upanayana yaitu 20 orang mahasiswa S1 yang bertempat di Pura Aditya Jaya Rawamangun Jakarta Timur.

Ketua Panitia I Wayan Kantun, S.Ag., M.Fil.H

Ketua Panitia I Wayan Kantun, S.Ag., M.Fil.H

Usai laporan ketua panitia, himne STAH DN Jakarta, dikumandangkan kembali oleh Group paduan suara dengan iringan melodi dan nampak Dirigen dengan gerak yang tangkas, sigap dan tegas memimpin peserta paduan suara.

Orasi Ilmiah yang dibawakan oleh Ngakan Putu Putra, mengetengahkan JudulMembangun Daya Kritis Umat Hindu Melalui Media” Dalam orasi ilmiahnya pemimpin redaksi Media Hindu ini mengungkapkan bahwa Agama Hindu menyebar luas ke berbagai belahan dunia karena daya tarik filsafat dan praktik spiritualnya (sadhana). Dizaman modern ini agama Hindu mau tidak mau bahkan harus menggunakan media massa untuk menyampaikan pesan nya yang bermanfaat bagi hidup bersama secara damai dan untuk membangun etika global dalam penyelamatan lingkungan. Media massa cetak dan elektronik merupakan saran yang sangat ampuh untuk siar agama. Siar agama dapat berupa bentuk berita, opini, features, diskusi, sinetron,kotbah dan lainnya yang semuanya itu mampu menembus ruang-ruang keluarga bahkan kamar tidur orang-orang Hindu. Lebih lanjut bahwa tanda adanya pemikiran kritis di dalam suatu agama adalah bilamana pertanyaan tentang hal-hal fundamental, misalnya tentang makna dari teks-teks suci, tentang hakikat Tuhan, tentang tindakan Tuhan, tentang manusia, diijinkan. Di dalam agama Hindu pertanyaan-pertanyaan semacam itu diijinkan.

Bhagawad Gita sepenuhnya menggunakan dialog kritis sebagai metode dalam menyampaikan ajarannya. Arjuna terus mengajukan pertanyaan akan keraguannya atas berbagai hal. Dan Krishna menjawabnya dengan sabar. Barulah pada percakapan XI. Arjuna percaya akan jawaban Krishna, setelah Krishna menunjukkan siapa dirinya, bahwa ia adalah Awatara Tuhan.

Lebih Jauh Ngakan Putra menambahkan didalam Upanisad ajaran-ajaran fundamental dari agama Hindu (tattwa) disampaikan dalam bentuk dialog kritis antara guru dengan sisyannya, antara manusia dengan Inkarnasi Tuhan (Awatara). Perintah utama didalam agama Hindu bukanlah “Sembahlah Aku saja!” Percayalah hanya padaku, kalau tidak kamu akan masuk neraka”. Tetapi “Ketahuilah itu, karena Itu karena Itu adalah Brahman”. Dan “Siapa yang mengetahui Brahman menjadi Brahman”. Ketika Brahman itu dasar dari semua sebab dan akibat, diketahui, hasil dari tindakan tidak akan mengikatmu”. Mereka yang menyampaikan Brahman dengan bergerak maju melalui jalan ini, tidak kembali ke dalam lingkaran kelahiran dan kematian.” Seseorang yang mengetahui kebahagiaan abadi (hakekat sesungguhnya dari) Brahman, tidak lagi memiliki ketakutan terhadap apapun.

senat1

Sidang Terbuka Senat STAH DN Jakarta

Veda mengajarkan metafisika tentang realitas tunggal yang meliputi atau meresapi segalanya (monisme atau panteisme) dan dari pada lahirnya mahawakya “Tat twam Asi” yang pada gilirannya melahirkan etika sosial tentang persaudaraan universal.

Veda mengajarkan kebijaksanaan, keutamaan tentang persahabatan, persaudaraan universal yang bermanfaat mencegah sektarianisme, radikalisme, kekerasan dan terorisme berdasarkan agama dan dengan demikian mendorong terbangunnya kehidupan bersama yang harmonis.

Veda mengajarkan etika tentang penghormatan terhadap manusia berdasarkan kesamaan jati dirinya, tentang etika kewajiban yang mengharuskan manusia mengambil tanggung jawab terhadap dirinya yang mendukung pembangunan karakter manusia unggul secara intelektual, moral dan prestasi.

Veda memiliki pengetahuan dan praktek rohani seperti yoga yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan ketenangan batin. Veda mememiliki ilmu pengetahuan antara lain matematika, kosmologi, astronomi, kedokteran dan lainnya yang memperkaya dan mendahului dan mendorong sain modern.

Media sangat diperlukan untuk menyebarluaskan ini semua kepada masyarakat. Media massa adalah sarana untuk menyampaikan informasi tentang ajaran Hindu yang konstruktif bagi kemajuan dan kesejahteraan manusia.

Disamping itu melalui media kita juga dapat memberikan klarifikasi atau koreksi atas berbagai opini negatif yang diproyeksikan terhadap agama Hindu baik secara disengaja maupun tidak.

Dalam era informasi ini masyarakat Hindu betul-betul memerlukan banyak Baudika, sebagai kesatria intelektual yang berjuang membela Hindu dengan pena, lewat tulisan di media massa, majalah dan buku. Sumber dari Kesatria Intelektual adalah Perguruan Tinggi Hindu. Perguruan Tinggi Hindu harus memiliki, media internal untuk ajang latihan bagi mahasiswa dan dosen untuk melahirkan tulisan-tulisan yang membangun daya kritis.

Perguruan Tinggi Hindu dapat memanfaatkan teknologi informasi untuk membuat sarana media online, seperti website yang dikelola secara profesional dan berani menerbitkan tulisan tulisan yang memiliki daya kritis. Mengakhiri orasi ilmiah ini disimpulkan kembali bahwa dengan memiliki daya kritis masyararakat Hindu terutama para sarjana Hindu, akan mampu membangun citra positif bagi Hindu Dharma dan memberikan sumbangan konstruktif dalam dialog agama pada khususnya dan dialog peradaban pada umumnya. Mereka yang mampu menggunakan daya kritis, akan lebih didengar atau diperhatikan oleh mitra dialognya, seperti prajurit pemberani di medan tempur, kalah atau menang, hidup atau mati, akan dipandang dengan hormat oleh kawan maupun lawan.

Usai Orasi ilmiah acara yang ditunggu-tunggu yaitu Pelantikan Wisudawan-wisudawati. Perlahan-lahan dengan langkah pasti satu persatu wisudawan menuju podium untuk dilantik oleh Ketua STAH Dharma Nusantara Jakarta Prof. Dr. Ir. I Made Kartika Dhiputra, Dipl.-Ing. Pada saat yang sama seluruh wisudawan menerima Ijazah dan Akta 4 (Empat). Suasana haru bercampur bahagia tercermin nampak pada wajah para wisudawan, bahwa inilah saatnya kebahagiaan hasil perjuangan selama ini di bangku kuliah. Gemblengan, tantangan, tugas, masalah semua dapat teratasi dengan kegigihan dan ketekunan tanpa mengenal putus asa.

Janji Wisudawan dibacakan oleh dua perwakilan mahasiswa dan mahasiswi yaitu yang diikuti secara serentak oleh seluruh wisudawan dan wisudawati,

Dilanjutkan kemudian Kesan dan Pesan Wisudawan yang dibawakan oleh Lulusan terbaik dengan IPK 3, 95 yaitu Eka Sulastri kelahiran Blitar Jawa Timur. Secara dalam kesan yang dikemukakan adalah bahwa mahasiswa merasa sangat bangga menjadi bagian dari keluarga besar STAH DN Jakarta karena telah mampu memberikan banyak pengalaman berharga yang berguna bagi pengembangan diri, dan mampu menggiring menjadi individu yang cerdas secara intelektual, spiritual dan emosional.

Lulusan Terbaik Wisuda 2014 STAH DN Jakarta

Eka Sulastri, Lulusan Terbaik Wisuda 2014 STAH DN Jakarta

Mampu pula menunjukkan eksistensi dalam berkarya terbukti dari beberapa prestasi yang telah ditorehkan dalam mengikuti ajang dan peristiwa yang dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas SDM Hindu baik tingkat lokal dan nasional sebagai wujud kesungguhan dalam upaya turut serta dalam meningkatkan kualitas diri dan masyarakat. Harapan juga terlontar dengan suatu maksud membangun kampus tercinta untuk lebih baik lagi meningkatkan management komunikasi baik antar dosen, staf, dosen dengan mahasiswa maupun dengan orang tua, karena salah satu unsur yang dapat memberikan sumbangsih dalam upaya meningkatkan kualitas lembaga adalah terjalinnya komunikasi yang efektif.

Acara dilanjutkan dengan penyerahan Kendi Ilmu Pengetahuan sebagai lambang mengalirnya terus menerus Ilmu pengetahuan tanpa henti dari generasi ke generasi, agar tak henti-hentinya kita belajar dan selalu berkesinambungan. Kendi ini diserahkan kepada mahasiwa baru oleh perwakilan wisudawan.

Lagu Bagimu Negeri mengingatkan bahwa kita harus berbuat untuk negeri sesuai swadarma masing-masing.

Sambutan-sambutan yang diawali dengan sambutan dari Ketua STAH DN Jakarta. Dalam sambutannya Ketua STAH DN Jakarta mengungkapkan bahwa STAH Dharma Nusantara Jakarta, adalah milik umat Hindu yang memiliki tujuan untuk mengembangkan mahasiswa menjadi sarjana yang Sujana. Jadi Jangan dilihat siapa yang memimpin tetapi lihatlah Stah sebagai institusi milik umat dengan tujuan mulia sehingga perlu didukung oleh seluruh umat Hindu sehingga keberadaannya dapat benar-benar berfungsi guna melahirkan insan-insan yang benar-benar memiliki kompetensi baik secara spiritual maupun intelektual yang memadai sehingga berguna bagi agama, keluarga, bangsa dan negaranya. Memiliki kualitas spiritual dan berbudi pekerti yang baik, lahir Hindu dan matipun tetap Hindu. Dalam kesempatan yang sama ketua STAH juga mengungkapkan bahwa saat ini telah sedang dalam proses Re-Akreditasi Ban PT setelah mengajukan /menyampaikan dokumen serta lampiran-lampiran yang dipersyaratkan dengan dokumen terkait dengan portfolio, Borang dan Evaluasi Diri dan juga telah divisitasi oleh tim Assesor yang terdiri dari Prof. Dr. Ida Ayu Gde Yadnyawati, M.Pd dan Dr. Ni Putu Listiawati, SE-Ak., MM pada tanggal 19September 2014. Sampai larut malam , dalam kiat, usaha dan upaya sehingga dapat terbentuk “Branch Image yang baik” bagi STAH Dharma Nusantara Jakarta sebagai satu-satunya Lembaga Pendidikan Tinggi Agama Hindu yang berwibawa dan kompetens di Jakarta. Dalam kesempatan ini pula Selaku Ketua dan Mewakili Pimpiman STAH DN Jakarta mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Team Assesor maupun semua pihak terkait : Sivitas Akademika, Pihak Yayasan Dharma Nusantara, Yayasan Mandira Widayaka, Pengurus dan Pengempon Pura Adiya Jaya Rawamangun Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat maupun DKI, Suka-Duka Hindu Dharma Se-Jabodetabek khususnya banjar Jakarta Timur, Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, beserta jajarannya terkait dalam pembinaan Lembaga Pendidikan Tinggi Agama Hindu, serta para Stake Holder lainya yang terpanggil “ Jengah, Lascarya dan Legowo untuk ikut berperan dan ambil bagian dalam rangka meningkatkan kualitas “Sumber Daya Manusia Hindu Nusantara yang cerdas dan religius” melalui proses pendidikan berkelanjutan, dengan segala bantuan baik moril , materiil maupun kerjasama dan doa restunya, semoga STAH Dharma Nusantara Jakarta dapat mempertahankan statusnya “B” Akreditasi BAN PT yang selama ini telah dicapai, guna pemantapan pengabdian Tri Dharma selanjutnya. Selain itu juga diungkapkan STAH juga telah berupaya pada penguatan sarana prasarana dan sampai kini masih berproses dan berharap kepada generasi muda tetap semangat dan meneruskan agar bersiap diri untuk tetap berjuang akan keberadaan lembaga Perguruan Tinggi Hindu yang satu-satuya di Ibukota ini sehingga mampu berdiri kokoh baik dari penguatan sisi sarana prasarana terutama Bangunan Gedung maupun Sistem dan Management untuk menunjang terlaksananya Tri Dharma Perguruan Tinggi .

Diakhir sambutannya Ketua STAH mengucapkan Selamat dan Sukses kepada para Wisudawan/Wisudawati beserta keluarga yang berbahagia atas keberhasilan mereka menyandang gelar S.Pd.H., maka mulai saat ini teruskanlah cita-cita Saudara semua sebagai Duta Agama Hindu dalam mencerahkan dan meningkatkan Sradha - Bhakti umat Hindu melalui Dharma Sadhana di Bumi Nusantara berpedoman “NIAT BAIK”, dan jangan pernah melupakan Almamater Saudara.

Terimakasih juga disampaikan terima kasih kepada Para Pandita/Sulinggih yang berkenan sebagai Manggala Upacara maupun Wiku Saksi dalam acara Upanayanam dan Samawartanam; kepada Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, Bapak Prof. Dr. IBG. Yudha Triguna MS yang dengan penuh ketulusan telah memberi dukungan moril maupun materiil dalam memajukan STAH Dharma Nusantara Jakarta; begitu juga kepada segenap Pengurus Yayasan Dharma Nusantara, para Guru Besar, Dosen dan Staf Akademik / non Akademik serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas kerja keras dan tim work-nya yang baik sehingga Upacara Dies Natalis ke XX dan Wisuda ke XII, dapat berlangsung sehidmat dan semeriah ini,Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa Asung krtha war?nugraha dalam membimbing kita semua.

Ketua Umum Yayasan Dharma Nusantara dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh IB Jayapati menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi atas kesuksesan lembaga STAH DN untuk ikut dalam upaya pencerdasan umat dan telah mampu melaksanakan wisuda kali ini yang berarti tahap-tahap proses pendidikan sebagaimana yang diisyaratkan oleh peraturan dan perundangan yang berlaku secara formal telah dijalankan oleh STAH hingga akhirnya seluruh mahasiswa pada jenjang tersebut dapat sampai pada tahap akhir dari proses yang diisyaratkan.

Dalam sambutannya ketua Yayasan juga mengajak dan mengingatkan bahwa kewajiban bagi seluruh umat untuk ikut serta berpartisipasi dan peduli terhadap upaya pembinaan anak-anak dalam menyiapkan mereka menjadi generasi penerus masa depan Hindu.

Diakhir sambutanya disampaikan ucapan selamat dan sukses kepada para wisudawan/wisudawati atas keberhasilan dalam menjalani seluruh proses yang panjang seraya berpesan bahwa teruslah belajar dan menerapkan ilmu yang diperoleh karena sesungguhnya universitas yang sebenarnya adalah dimasyarakat dalam hidup kita.

Sambutan Dirjen diawali dengan pujian secara tulus diberikan kepada team paduan suara yang telah menunjukan kesungguhan dan prestasinya dalam acara ini sehingga menghasilkan karya maksimal walaupun itu bukanlah bidangnya. Beliau menggaris bawahi, kalau kita rajin latihan dan semangat untuk itu walaupun bukan bidangnya pasti bisa juga berbuat maksimal bahkan berprestasi.

Beliau juga memberikan apresiasi dan penghargaan kepada STAH Dharma Nusantara atas segala prestasi yang telah dicapai selama ini. Sebagai wakil pemerintah tentu sangat mendukung dan akan berusaha memperhatikan dan sejauh mungkin memfasilitasi, setiap gagasan dan upaya positif dalam bidang pendidikan.

Kepada para Wisudawan dan Wisudawati yang telah berprestasi dan berhasil mendapatkan predikat Mahasiswa Terbaik dan Cum laude beliau menyarakan untuk mengirimkan aplikasi permohonan beasiswa kepada Dirjen Agama Hindu Kementerian Agama RI karena anggaran untuk itu ada dan harus diinformasikan, sehingga dapat dimanfaatkan oleh yang benar-benar memiliki prestasi untuk melanjutkan ke jenjang S2.

Diakhir sambutannya Dirjen mengucapkan selamat kepada Wisudawan dan Wisudawati semoga dengan meraik gelar Sarjana Pendidikan Agama Hindu (S.Pd.H) ini dapat berkecimpung dalam dunia pendidikan, serta dapat mengabdikan diri dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama.

Setelah dipanjatkan mantram doa penutup oleh Jero Mangku Nyoman Sutisna, salah seorang pinandita di Jakarta, prosesi penutupan Sidang Terbuka Senat STAH Dharma Nusantara Jakarta ditutup kembali oleh Ketua Senat dengan Mengetuk Palu sidang sebanyak 3 kali, iring-iringan bendera, bedel dan Para Senat dan Guru Besar meninggalkan Panggung Kehormatan.

Acara diakhiri dengan ramah-tamah tamu undangan para wisudawan, foto bersama dan makan siang bersama. Suasana menjadi bertambah ceria dengan alunan lagu-lagu bernada ceria mengiringi suasana makan siang bersama. Berangsur-angsur suasana kegembiraan terbawa ke rumah masing-masing tepat pukul 13.00 Wib sesuai waktu yang disediakan oleh pengelola gedung, dan ……susana bahagia, gembira, haru semoga bukan merupakan hal yang akhir tapi sebagai batu pijakan melanjutkan kehidupan yang lebih baik dalam menatap masa depan. Astungkara…!!!

Pengumuman Verifikasi Proposal Penelitian

September 28, 2014 By: admin Category: Pengumuman

umum4

Metatah/Potong Gigi/Pangur Massal Oleh STAH Dharma Nusantara Jakarta

September 25, 2014 By: admin Category: Berita/News

By Ulianta

Tabuh Gender berkolaborasi dengan lantunan Dharma gita yang mengiringi prosesi metatah/pangur (potong gigi) massal yang diprakarsai oleh Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Dharma Nusantara Jakarta terasa sakral dan membangkitkan vibrasi spiritual. Acara yang dilaksanakan pada tanggal 23 september 2014 berlangsung di GOR Pura Taman Sari Halim Perdana Kusuma Jakarta Timur. Upacara Potong gigi massal ini diikuti oleh perserta dari masyarakat umum dan mahasiswa yang rata-rata dari generasi muda.

Upacara metatah massal ini adalah salah satu bentuk pengabdian masyarakat sebagai perwujudan kewajiban sebuah perguruan tinggi yang diamanatkan untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan dan pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian masyarakat. Pengabdian masyarakat melalui upacara metatah ini adalah program yang senantiasa dilaksanakan setiap tahun sebagai upaya melaksanakan kegiatan yang membumi dan bermakna bagi masyarakat dan terhindar dari sekedar wacana tetapi suatu kegiatan nyata yang langsung bersentuhan dan berarti bagi masyarakat.

Bertindak selaku pimpinan sangging dalam upacara metatah kali ini Jero Mangku Gede Prof. Dr. I Made Kartika Dhiputra, Dipl.-Ing yang sekaligus Menjabat sebagai ketua STAH DN Jakarta, yang didampingi oleh Jero Mangku Gede Made Sudiada, S.Pd.H., Alumni STAH Dharma Nusantara, Jero Mangku Pasek, S.Pd.H yang juga Alumni STAH Dharma Nusantara. Hadir juga mendampingi Jero Mangku Ketut Bratayudha, S.Pd.H., Sehari sebelum Hari H. Dilakukan Matur Piuning yang dipimpin Pinandita yang menghantarkan persembahyangan Jero Mangku Wayan Baret, S.Pd.H, dan didampingi Jero Mangku Nyoman Sutisna. Dalam Kesempatan tersebut dihadirkan Pendarma Wacana yaitu Bpk. Nengah Dhana, S.Ag.img_20140924_094143

Rangkaian metatah kali ini didahului dengan pencucian kaki peserta untuk terakhir kalinya oleh orang tua masing-masing dilanjutkan dengan sungkeman dari anak kepada orang tua untuk memohon restu, kemudian dilanjutkan dengan Raja Sewala dan naik ke balai metatah. Setelah semua peserta selesai metatah dilakukan prosesi Ida Pandita Pemuput Karya Mepios. Kali ini dipimpin Ida Pandita Panji Sogata dari Grya Lenteng Agung Jakarta Selatan. Kegiatan Sakral ini diakhiri dengan Persembahyangan bersama oleh Peserta Metatah, Orang Tua dan seluruh undangan dan Hadirin. Seluruh Kegiatan sakral ini disaksikan oleh kehadiran Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat yang diwakili Sekretaris Umum  Bp. Ir. I Ketut Parwata, Dirjen Agama Hindu Kementerian Agama RI yang diwakili Direktur Urusan Agama Hindu I Ketut Lancar, M.Si., Ketua WHDI Ibu Wikanti, Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi DKI Jakarta yang dihadiri oleh Bp. I Wayan Kantun, M.Fil.H.

img_20140924_094151

Usai acara sakral dilanjutkan acara profan yang diawali dengan laporan ketua panitia I Made Awanita, S.Ag., M.Pd. Dalam Laporannya ketua panitia mengatakan Upacara Metatah massal ini mengambil tema “Melalui Upacara Potong Gigi Massal Kita Tingkatkan Kualitas Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat” karena terkait dengan kewajiban STAH melakukan kegiatan Nyata sebagai perwujudan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam mengamalkan Ilmu Pengetahuan untuk kemajuan masyarakat dan bangsa. Stah adalah tempat untuk membina dan membentuk SDM Hindu sebagai putra bangsa yang berkarakter dan mampu mengendalikan dirinya, cakap, berpikir logis dan berbudi luhur dan berguna bagi agama, masyarakat bangsa dan negara.

img_20140924_094155

Acara dilanjutkan dengan sambutan Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat yang disampaikan oleh Bp.Ir. Ketut Parwata selaku Sekretaris Umum. Dalam sambutannya Sekum PHDI memberikan dukungannya atas kegiatan ini, bahkan berharap agar kegiatan metatah massal seperti ini harus diperluas lagi jangkauannya melibatkan umat Hindu yang lebih besar. Harapan besar juga disampaikan kepada seluruh umat Hindu dimanapun berada untuk mendukung kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan STAH DN Jakarta yang bermakna bagi kepentingan masyarakat baik dalam ruang lingkup Pendidikan dan pengajaran, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat yang menjadi satu kesatuan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ditambahkan pula bahwa kedepan dukungan kegiatan seperti tersebut di atas oleh stake holder dan masyarakat akan berdampak kepada peningkatan kualitas lembaga pendidikan milik agama Hindu yang satu-satunya berada di ibukota yang dapat dilihat tolok ukurnya melalui akreditas yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional.

Direktur Jenderal Agama Hindu, Kementrian Agama RI Prof. Dr. IBG. Yuda Triguna, Ms., dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Direktur Urusan Agama Hindu I Ketut Lancar, M.Si mengatakan bahwa selaku pemerintah dan pribadi menyambut baik, berterima kasih dan memberikan apresiasi kepada STAH Dharma Nusantara Jakarta yang telah memprakarsai dilaksanakannya metatah massal (potong gigi massal) ini sebagai perwujudan pengabdian masyarakat salah satu dari bagian Tri Dharma Perguruan Tinggi. Acara potong gigi massal, yang bersama-sama dengan masyarakat Jakarta seperti inilah sangat perlu untuk dikembangkan dan disebarluaskan tidak hanya di jakarta tetapi berpeluang juga untuk dilaksanakan di daerah lainnya. Disamping biayanya yang murah juga menjadi ceminan bahwa umat Hindu telah mampu mengaplikasikan ajaran agamanya yaitu Tatwam Asi, hidup saling tolong menolong, membantu dan menghargai yang lain. Pada prinsipnya kita adalah sama yang bersumber dari Brahman. Kedepan pelaksanaan Yadnya perlu ada penyederhanaan dengan tidak mengurangi makna dan artinya. Pelaksanaan potong gigi massal ini sesungguhnya secara tidak langsung dapat memberikan pendidikan yang baik kepada generasi muda, bagaimana kita bisa hidup sederhana sebab kedepan kita akan sedikit demi sedikit akan kekurangan bahan baku, untuk upakara dan walaupun ada akan makin tidak terjangkau harganya oleh masyarakat. Oleh karenanya sebagai pemerintah kami sangat berterimakasih kepada masyarkat Jakarta yang sudah mulai mengantisipasi hal ini. Berkait dengan pelaksanaan upacara keagamaan di seluruh tanah air pemerintah telah berupaya untuk mendukung melalui bantuan dengan penyediaan sarana keagamaan seperti gong, gender dan lainnya sehingga semangat dalam pelaksanaan keagamaan terus tumbuh dan berkembang dengan baik. Semangat dan kerja sama seperti ini kedepan harus terus dikembangkan dengan baik demi kemajuan bersama.img_20140924_094213

Pelaksanaan potong gigi seperti ini jangan hanya dilihat dari sisi cerimonialnya saja tetapi lebih penting dari itu adalah pengorbanan untuk kepentingan Dharma karena itulah Yadnya yang sesungguhnya. Bahkan pengorbanan atas dirinya sendiri untuk kepentingan Yadnya secara iklas dilakukan. Oleh karena itu semua umat Hindu Wajib metatah (potong gigi) sebagai simbul mengurangi kepuasan, keserahakan dan dimaknai pula sebagai pengendalian diri, pengendalian Sadripu sehingga tidak menjerumuskan diri ke jalan yang tidak baik tapi selalu menjunjung tinggi kebenaran dan mampu mengendalikan sifat sifat sadripu tersebut sehingga terjalin hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam semesta.

Usai sambutan Dirjen acara dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat kepada peserta metatah dan orang tua, yang diberikan oleh seluruh hadirin yang hadir dan dilanjutkan dengan santap siang bersama dan adapula sesi foto bersama seluruh peserta dengan panitia dan hadirin yang berminat.

Tidak terasa rangkaian upacara potong gigi masal yang dimulai pada pukul 09.00 wib dan berakhir seluruh rangkaian upacara diakhir pukul 14.00. semoga pelaksanaan Yadnya dengan penuh kehiklasan ini bermakna dan berguna bagi masyarakat umum maupun masyarakat akademik maupun seluruh pemangku kepentingan. Semoga…!

Visitasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Di Stah Dharma Nusantara Jakarta

September 20, 2014 By: admin Category: Berita/News, Uncategorized

Jakarta, 19 September 2014. Bertempat di Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta Berlangsung Visitasi Oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Pada tanggal 18 sampai dengan 20 September 2014. Hadir Asesor dari BAN-PT Prof. Dr. Ida Ayu Gde Yadnyawati, M.Pd dan Dr. Ni Putu Sulistiawati, SE, AK.,MM. Disambut Ketua Stah Dharma Nusantara Jakarta Prof. Dr. Ir. I Made Kartika Dhiputra, Dipl.-Ing., Yayasan Dharma Nusantara Jakarta berserta civitas akademika Stah Dharma Nusantara Jakarta. visit3

Acara pembukaan visitasi dilaksanakan di gedung Dharma Sewanam Lt 1. juga dihadiri pemangku kepentingan, mahasiswa dan undangan. Kemudian dilanjutkan dengan dialog dan diskusi dilantai 3 gedung yang sama. Visitasi juga dilakukan keseluruh fasilitas pembelajaran seperti Lab Micro teaching, Lab Acara, Lab Komputer Dan Bahasa, Perpustakaan, Ruang Kelas dan lainnya.

Ketua Stah dalam acara pembukaan mengatakan semoga Stah dapat memberikan yang terbaik sehingga dapat memperoleh penilaian maksimal seperti yang diharapkan.

visit2

Dan menjadikan sebagai pembelajaran untuk tahun- tahun yang akan datang. Dr. Nyoman Gde Arsana yang mewakili ketua Yayasan Dharma Nusantara yang tidak bisa hadir mengharapkan agar Stah Dharma Nusantara Jakarta mendapatkan prioritas untuk dibina karena sebagai satu satunya lembaga pendidikan Hindu di Ibu kota, sehingga sekolah ini  dapat berperan meningkatkan Sumber daya manusia Hindu khususnya dan Bangsa umumnya. Dalam diskusi Ketua Jurusan Keguruan dan Ilmu Pendidikan I Ketut Ulianta menunjukkan pengembangan sistem informasi akademik dan sistem informasi perpustakan online yang berhasil dibangun dan dimiliki oleh Stah Dalam rangka mendukung pelayanan akademik serta sumber belajar mahasiswa dan masyarakat. Pembantu Ketua I,  Nyoman Yoga Segara Menjelaskan Visi misi Stah Kedepan diarahkan kepada upaya pengembangan kampus, Pengembangan prodi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat ibukota. Ketua Prodi Pendidikan Agama Hindu I Ketut Budiawan Aktif menjawab pertanyaan asesor dibantu para dosen dan mahasiwa yang hadir. visit1

Suasana kaku diawal akhirnya cair setelah pemeriksaan data berjalan 2 jam pertama jam selanjtnya lancar suasana relax dan akhirnya dapat diselesaikan dengan suasana lega yang dilanjutkan rekomendasi dan penyerahan rekomendasi tersebut oleh asesor. Asesor juga aktif memberikan masukan terhadap kekurangan sebagai pembelajaran untuk lebih meningkatkan mutu lembaga. Prof. Dr . Ida Ayu Gde Yadnyawati juga mengharapkan pengembangan prodi yang lebih banyak dan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat. uli

  • Categories

  • Recent Posts

  • Archives

  • Pages

  • Aneka Info

    Info Beasiswa S1 S2 S3

    Direktori Indonesia - Indonesian free listing directory, SEO friendly free link directory, a comprehensive directory of Indonesian website.

  • PASUPATI ISSN 2303-0860

    Jurnal Ilmiah Kajian Hindu & Humaniora (021) 4752750 Volume I No. 1 kulit1 Volume I No. 2 kulit2
  • DHARMAGITA

    Mrdukomala

    Ong sembah ninganatha tinghalana de tri loka sarana

    Ya Tuhan sembah hamba ini orang hina, silahkan lihat oleh Mu penguasa tiga dunia

    Wahya dhyatmika sembahing hulun ijongta tanhana waneh

    Lahir bathin sembah hamba tiada lain kehadapan kakiMu

    Sang lwir Agni sakeng tahen kadi minyak saking dadhi kita

    Engkau bagaikan api yang keluar dari kayu kering, bagaikan minyak yang keluar dari santan

    Sang saksat metu yan hana wwang ngamuter tutur pinahayu

    Engkau seakan-akan nyata tampak apabila ada orang yang mengolah ilmu bathin dengan baik

  • Pointer

    * Lembaga Pendidikan hendaknya tidak hanya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan saja, tetapi juga menciptakan setting sosial yang memungkinkan implementasi pengetahuan yang diperoleh untuk memecahkan problem-problem yang ada dalam masyarakat, lembaga pendidikan seharusnya merupakan contoh kehidupan masyarakat yang ideal.

  • Blog Advertising - Advertise on blogs with SponsoredReviews.com