stahdnj.ac.id

STAH Dharma Nusantara Jakarta
Subscribe

PENERIMAAN MAHASISWA BARU TA 2013/2014

February 01, 2013 By: admin Category: Berita/News

penerimaan-mahasiswa1head7291

UPAYA PENINGKATAN MAKNA NORMA HINDU DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT DAN BERBANGSA

March 21, 2013 By: admin Category: Uncategorized

Oleh : I Ketut Oka Setiawan

Di dalam masyarakat, setiap anggotanya mempunyai kepentingan masing-masing. Kadang-kadang kepentingan mereka ada yang memiliki kesamaan, ada pula yang memiliki perbedaan. Terhadap yang disebut belakangan itu dalam banyak peristiwa kerap kali menimbulkan pertentangan atau perselisihan. Untuk menghindari terjadinya pertentangan yang seringkali berakhir dengan kekacauan itu, maka masyarakat memerlukan adanya suatu tatanan (orde / ordnung ), yaitu berupa aturan-aturan yang menjadi pedoman atau bimbingan bagi segala tingkah laku manusia dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Dengan adanya aturan-aturan tersebut setiap anggota masyarakat diharapkan dapat melaksanakan kepentingan yang berbeda itu secara tenteram dan damai.

Read the rest of this entry →

MENUMBUHKAN INSAN KREATIF MELALUI PRAKTEK PENDIDIKAN SESUAI PERKEMBANGAN

March 13, 2013 By: admin Category: Artikel Pendidikan

by Ulianta

Dalam menilai sebuah lembaga pendidikan bermutu atau tidak, apakah lembaga tersebut dapat memenuhi kebutuhan akan pengetahuan atau ketrampilan yang ingin kita peroleh, salah satu komponen utama yang harus diperhatikan adalah Kurikulum lembaga Tersebut. Ini termasuk salah satu fungsi kurikulum. Dengan mempelajari kurikulumnya kita dapat melihat sejauh mana mutu dari lembaga tersebut.

Tujuan belajar apa yang akan dicapai, materi apa yang diberikan, pengalaman –pengalaman belajar apakah yang akan diperoleh setelah mengikuti proses pembelajaran dilembaga tersebut semua tergambar di dalam kurkulum lembaga tersebut.

Kurikulum sebagai suatu rencana mempunyai dua arti yaitu pertama sebagai suatu produk yang mengarah pada tercapainya tujuan akhir suatu program tertentu. Kedua, sebagai proses suatu perencanaan yang menunjuk pada prosedur-prosedur dan materi instruksional  yang dirancang oleh guru serta pengalaman-pengalaman belajar yang dirancang oleh guru agar dikuasai oleh siswa. Dalam arti pengalaman-pengalaman belajar dirancang untuk dikuasai siswa sebagai jalan menuju tercapai tujuan yang dinginkan. Secara komprehensif kurikulum dapat diartikan sebagai segala pengalaman dan kegiatan belajar yang diberikan oleh sekolah kepada siswa-siswanya.

Read the rest of this entry →

Apresiasi

February 11, 2013 By: admin Category: Renungan

pdf1-copy

Sinergi Peran Catur Guru, Menuju Learning Outcome Pendidikan Agama Yang Benar

January 30, 2013 By: admin Category: Artikel Pendidikan

Oleh K. Ulianta

Menurunnya etika, moral, dan sensitifitas individu dan masyarakat sebagai akibat dari terjadinya verbalisme dalam pendidikan etika dan tata nilai yang cenderung mendewakan satu aspek saja dari tiga aspek yang menjadi learning outcome pendidikan yang seharusnya, baik di sisi proses maupun penilaian.

Masalah ini meluas dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan perilaku dalam berbagai segi kehidupan yang dilakukan, masyarakat, baik yang tergolong rakyat dengan perilakunya yang tidak disiplin dan memudarnya toleransi dan budaya saling menghormati yang berimpas kepada terjadinya kerusuhan maupun upaya-upaya destruktif lainya. Juga dilakukan oleh pejabat dalam bentuk korupsi serta pembodohan yang secara disengaja. Serta tidak disiplin melakukan tugas sesuai sumpah jabatannya.

Masalah tersebut sebagai akibat menurunnya internalisasi tata nilai dalam diri insan elemen masyarakat sebagai akibat semakin tingginya tingkat verbalisme pendidikan dimana hasil – hasil belajar hanya sebatas konsep dan teori yang dihapal tanpa dipraktekan, diaplikasikan. Pembiasaan menerapkan nilai-nilai yang luhur sebagai aspek afektif dari hasil belajar dalam pendidikan kita jarang dilakukan, jarang dikontrol dan kurang menjadi perhatian dalam evaluasi pembelajaran di sekolah yang hanya mementingkan nilai angka kuantitaif yang semestinya dikombinasi dengan nilai kualitatif. Disamping itu peran orang tua juga menurun tingkat partisipasinya untuk menanamkan nilai-nilai dasar dalam pendidikan pertama dan utama, karena terpenjara oleh waktunya yang sebagian besar dihabiskan untuk mengejar kebutuhan hidup yang harus ada sebagai tuntutan kebutuhan keluarga.

Diperlukan kesadaran yang lebih terhadap penerapan konsep bahwa hasil belajar terdiri dari aspek kognitif, afektif dan psikomotor sesuai dengan pendapat Bloom, dimana semua aspek tersebut hendaknya dilatih, dibiasakan dan diperhatikan secara seimbang dalam pendidikan kita baik dalam proses pembelajarannya maupun dalam penilaiannya. Dalam proses pembelajaran, bagaimana bentuk pembelajaran maupun tugas serta kegiatan siswa diarahkan untuk dapat aktif mempraktekkan serta memahami konsep untuk pemecahan masalah dalam hidup maupun berinteraksi dengan lingkungan. Disisi penilaian hendaknya jangan terlalu mendewakan aspek kognitif, yang sangat penting justru bagaimana pengetahuan/kognitif yang telah dimiliki itu digunakannya dan diterapkannya dalam memecahkan persoalan serta berperilaku sesuai dengan tata nilai sehingga nilai-nilai yang dipahami dan dipelajari melalui konsep dapat menginternalisasi dalam dirinya yang akan digunakan untuk hidup dimasyarakat yang akan sangat menentukan kesuksesan hidup seseorang. Gadner dalam kecerdasan majemuk mengungkapkan 8 kecerdasan yang dimiliki individu. Kecerdasan tersebut membutuhkan peran pendidikan dalam pengembangannya. Tidak hanya kecerdasan logika-matematika, tapi banyak yang lainnya. Bagaimana individu berkomunikasi antar sesama melalui kecerdasasan linguistik, bagaimana berinteraksi dengan orang lain sesuai dengan tata nilai melalui kecerdasan interpersonal, bagaimana individu itu bertanggung jawab terhadap diri sendiri, bekerja mandiri melalui kecerdasan intrapersonal, bagaimana individu itu memahami ruang dan waktu melalui kecerdasan spasial, bagaimana individu menghargai dan mempraktekan seni, musik melalui kecerdasan musikal, melalui kecerdasan kinestetik individu memanfaatkan indera gerak dan psikomotoriknya serta melalui kecerdasan naturalis manusia menghargai dan memelihara alam. Demikian luasnya yang perlu diperhatikan dan dikembangkan sehingga sudah seharusnya kita tidak hanya menuntut peran guru disekolah saja tetapi semua guru harus berperan baik guru di masyarakat, guru disekolah, guru dirumah maupun pemerintah dan tidak saling lempar tanggung jawab.

Hindu sebagai Sanatana Dharma telah mengajarkan konsep tersebut melalui ajaran Catur Guru yang seharusnya menjadi contoh, menanamkan nilai-nilai, memberikan pemahaman konsep-konsep yang diperlukan kepada anak didik yang belum dewasa sehingga dapat dijadikan pegangan dalam hidupnya menuju kedewasaan. Catur Guru yang dimaksud dalam Hindu adalah empat guru yang akan menuntundan menjadi contoh bagi manusia/insani:

1. Guru Rupaka adalah Orang tua kita di rumah. Orang tua adalah orang yang harus berperan menanamkan nilai-nilai yang pertama dan utama sejak anak baru dilahirkan hingga dia menjadi dewasa. Orang tua hendaknya jangan melempar seluruhnya tanggung jawabnya kepada guru di sekolah. Karena nilai-nilai yang ditanamkan di rumah menjadi bekal untuk dibawa keluar rumah dalam berinteraksi dengan orang lain di masyarakat. Bagaimana berhadapan dengan orang yang lebih tua, bagaiman sopan santun, bagaimana bertutur kata yang benar dan baik. Kini dapat dirasakan nilai-nilai seperti ini jarang sekali menjadi perhatian orang tua terutama di kota besar, karena orang tua masing-masing terpenjara karena mengejar material untuk kebutuhan hidup. Dalam hal ini diperlukan mendisain ulang pengelolaan waktunya untuk si anak. Anak membutuhkan perhatian dan petunjuk dari orang tua yang mana boleh dan tidak boleh. Yang mana yang benar dan tidak benar…. Juga sangat diperlukan nasehat-nasehat, pitutur dan pengertian-pengertian yang minim sekali diperolehnya dari guru lain selain guru rupaka. Peran Guru rupaka/orang tua di rumah seingat penulis saat masih kecil sering dilakukan dengan metode dongeng, cerita-cerita yang mengandung petuah dan nilai-nilai luhur sehingga cenderung diminati oleh seorang anak yang belum dewasa, yang mana metode dongeng ini jarang sekali dipraktekan oleh orang tua sekarang ini. Melalui cerita, anak mendapatkan nilai-nilai kebenaran, pengetahuan dan perbendaharan kata, contoh-contoh kebajikan (Dharma) yang harus dijunjung tinggi, nilai kejujuran, toleransi, kerjasama, tolong menolong dan masih banyak lagi. Orang tua sudah seharusnya tidak lagi menyalahkan guru disekolah tetapi mengevaluasi kembali dan mengambil peran masing-masing sebagai salah satu Catur Sinangguh Guru, yang harus menjadi contoh, memotivasi dan mendorong sesuai apa yang di ungkapkan oleh ki Hajar Dewantara yaitu Ing Ngarso Sung tulodo, Ing Madyo Mangun Karso dan Tut Wudi Handayani.

2. Guru Pengajian

Guru di sekolah, hendaknya jangan hanya mengajar tetapi juga mendidik seperti mengarahkan anak didik untuk bisa bersopan santun dalam bertindak dan menghadapi orang lain di masyarakat, memberi contoh perilaku yang baik. Tugas guru memang mengajarkan ilmu pengetahuan tetapi harus dihindari pembelajaran yang hanya sekedar tahu konsep tetapi dapat memanfaatkan konsep tersebut untuk hidup di masyarakat. Demikian juga evaluasi terhadap padatnya kurikulum dan cara penilaian yang cenderung didominasi oleh pengetahuan kognitif yang harus dikejar dan dihabiskan dalam proses pembelajaran karena akan diujikan melalui alat uji yang juga cenderung di dominasi oleh penilaian terhadap aspek kognitif perlu di kaji kembali, agar tersedia waktu yang lebih untuk mempraktekkan serta menginternalisasi konsep dan tata nilai yang dipelajari menjadi kompetensi pribadi yang utuh dalam diri anak didik. Tidak terkesan mengejar materi agar habis tetapi nyatanya anak tidak memiliki kompetensi apapun. Sehingga timbulah kemampuan-kemampuan semu dimana anak hanya bisa saat akan di tes atau ujian tetapi setelahnya tidak mampu apa-apa. Untuk ini guru disekolah juga mesti memulai menggunakan penilaian yang sesuai dengan / valid mengukur apa yang seharusnya diukur. Tidak selalu menggunakan tes dalam menilai siswa. Instrumen penilaian hendaknya memiliki validitas yang tinggi relevan dengan aspek apakah yang ingin diketahui dari instrument tersebut. Jika aspek kognitif yang akan dinilai memang relevan dengan menggunakan Tes tertulis, tetapi ketika hendak menilai aspek afektif lebih relevan menggunakan instrument nontes semisal skala sikap atau pun kuesioner maupun unjuk kerja. Demikian juga untuk menilai aspek psikomotor/keterampilan anak didik lebih valid menggunakan observasi terhadap tugas yang diberikan dan anak didik haruslah melakukan sesuatu dan kita amati dengan menggunakan pedoman pengamatan/rubrik yang sudah dirancang mengenai dimensi/aspek apa yang akan kita nilai sehingga unsur subyektif dapat kita minimalisir dalam penilaian. Sudah saatnya kita mulai mengadakan evaluasi tidak hanya diakhir pembelajaran tetapi juga saat proses pembelajarn berlangsung, dan instrumen yang kita gunakan tidak melulu tes tertulis, tetapi kita sesuaikan dengan aspek tadi ibarat kalau menimbang emas janganlah menggunakan timbangan beras karena hasilnya nanti bias tidak benar/semu. Terlebih lagi dalam pembelajaran Agama yang notebena learning outcome didominasi oleh aspek afektif dan psikomotor seyogyanya penilaiannya juga lebih banyak penilaian sikap dan psikomotor adapun kognitif serta konsep-konsep yang digunakan untuk mendukung dua aspek tersebut, dengan demikian akan tercapai tujuan pembelajaran agama yang sebenarnya.

3. Guru Wisesa

Pemerintah adalah termasuk salah satu dari catur guru, hendaknya perilaku, perkataannya dan pemikirannya menjadi contoh bagi rakyat. Hendaknya tidak melakukan tidakkan tidak terpuji seperti korupsi, bohong, membodohi, janji-janji yang muluk, tetapi sebaliknya harus mengarahkan masyarakat atau rakyat ke hal – hal yang positif. Janganlah berebut kekuasaan hanya untuk kepentingan pribadi. Guru wisesa harus mengutamakan kepentingan rakyat bukan kepentingan pribadi jika ingin berhasil menjadi guru wisesa. Ingatlah guru akan ditiru muridnya, pemerintah akan ditiru rakyatnya, rakyat meniru melanggar manakalah pemerintah sebagai guru wisesa tidak konsisten dan juga melanggar sumpah dan janjinya dalam menjalankan roda pemerintahan. Guru wisesa/pemerintah harus ingat bahwa dirinya adalah guru, yang memiliki tanggung jawab yang besar di depan menjadi teladan, ditengah memberikan motivasi dan dibelakang harus mampu mendorong dan menggerakan rakyat untuk melakukan tindakan positif. Pemerintah juga tidak boleh diskriminasi terhadap kelompok-kelompok tetapi harus adil dalam memberikan perlindungan terhadap rakyat sebagai anak didiknya dalam segala bidang baik bidang pendidikan, ekonomi, agama, pelayanan, kesehatan dan lainnya. Pemerintah mendidik masyarakat melalui aturan-aturan kebijakan maupun penghargaan-penghargaan untuk memberikan motivasi serta hukuman-hukuman agar hal yang dilarang tidak dilakukan. Hukuman hendaknya yang mendidik demikian juga penghargaan yang diberikan juga mendidik. Arahan-arahan kepada masyarakat juga digunakan melalalui pidato, diskusi, konferensi pers hendaknya digunakan untuk yang positif dan kepentingan anak didik/masyarakat dan bukan untuk pribadi.

4. Guru Swadyaya

Tuhan Yang Maha Esa/Sang Hyang Widhi adalah maha Guru yang memberikan tuntunan hidup manusia melalui ajaran-ajaran sucinya yang diturunkan melalui wahyu yang diterima oleh para maha Rsi/orang suci. Melalui keyakinan yang tinggi melaksanakan segala tuntunan dan menghindari semua yang tidak diperkenankan akan membawa manusia kealam pembebasan. Sradha dan Bhakti melahirkan kekuatan untuk mempelajari ajarannya, terinternalisasi dalam diri pribadi dan tercermin dalam perwujudan perilaku yang baik, jujur, kasih, sayang, tolong menolong, toleransi, tidak menghina, menghargai, menghormati, tidak menyakiti, menjauhi kekerasan atas alasan apapun, menjaga ciptaanNya.

Sinergi peran catur guru menuju pendidikan agama yang menghasilkan pribadi-pribadi yang tidak hanya hapal konsep-konsep, pintar kognitif, tetapi harus mampu mewujudkan dalam perilakunya dan pikirannya tentang tata nilai universal yang telah menginternalisasi dalam dirinya dan melandasi perilakunya dalam hidup bersama dan berguna bagi masyarakat manusia, alam dan seluruh ciptaanNya sehingga tercapai kedamaian di segala alam.

MENGENAL DARI DEKAT TABUH LELONGGORAN DULU DAN KINI

January 29, 2013 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh : IGB.Sutarta*

Bali selain dikenal dengan icon pulau seribu Pura, pulau Kahyangan, pulau dengan keunikan sawah berundak dan pulau exotis, ragam budaya dan seni, bahkan juga kaya akan keragaman seni karawitannya. Karawitan adalah istilah lain daripada Musik tradisional yang lazim di kenal di Jawa dan Bali. Untuk menyebutkan istilah karawitan biasanya hanya dikenal pada komunitas pelakunya itu sendiri, sementara untuk masyarakat umum akrab dengan sebutan gamelan. Dalam satu perangkat gamlean disebut barungan, misalnya barungan gamelan gong kebyar, barungan gamelan semar pegulingan, barungan gamelan angklung , barungan Gong Gede dan sebagainya. Nah masing-masing barungan ini memiliki spesifikasi sendiri, baik fungsi dan juga pemanfaatannya. Seperti gong kebyar sesuai dengan namanya fungsinya adalah untuk jenis lagu kekebyaran, dan pemanfaatannya untuk iringan tari kekebyaran/ tari kreasi baru. Sementara itu barungan Gong Gede, biasanya fungsi dan pemanfaatannya sebagai iringan tabuh petegak/ instrumen, memainkan jenis lagu lelambatan,pengiring upacara Dewa Yadnya, sesekali juga dapat digunakan sebagai iringan tari-tari tertentu, baik itu tari klasik atau iringan praghmen tari. Barungan gamelan Semara Pegulingan/ Semarpegulingan ada istilah saih pitu/ daun bilahnya berjumlah 7 ( tujuh ) bilah, yakni Ndang, Ndaing, Nding,Ndong,Ndeng, Ndeung, Ndung ,(nada setengahan atau dikenal dengan istilah pemero) fungsi dan pemanfaatannya sebagai lagu-lagu yang bisa dimainkan dalam tangga nada mayor maupun minor diatonis atau selendro pelog dalam pentatonis. Biasanya semarpegulingan sebagai pengiring tari khusus bergenre Pelegongan. Selain contoh barungan gamelan diatas, masih ada puluhan jenis barungan gamelan lainnya. Satu diantara sekian banyak barungan gong kebyar, tetapi tidak di pergunakan untuk kekebyaran ansih, tetapi lebih dikenal sebagai barungan gamelan “ Lelonggoran”. Lebih lanjut akan penulis uraikan mengenai Tabuh Lelonggoran sebagai berikut :

Tabuh Lelonggoran :

Cikal bakal lahirnya/ munculnya tabuh Lelonggoran ini diperkirakan lahir bersamaan dengan perkiraan munculnya Gong Kebyar pada abad ke 19 kurang lebih pada tahun 1915 di Desa Bungkulan, Buleleng Singaraja, merujuk tulisan Colin Mc Phee, seorang peneliti barat dalam bukunya Music In Bali ( 1966:328) yang mengatakan bahwa pada tahun 1915, Gong Kebyar di gunakan membarung ( lomba/parade tetabuhan red.) di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan Buleleng ( Pande Made Sukerta, makalah seminar Gong Kebyar.2006) dari informasi inilah dipakai sebagai acuan , dan bahkan untuk lebih menguatkan lagi bahwa Gong Kebyar lahir di Desa Bungkulan. Hal lainnya juga tulisan Balyson( dalam majalah Bhawanagara tahun 1934), menjelaskan terbentuknya gamelan kebyar/ gamelan untuk iringan Tabuh Lelonggoran, diawali dengan mengubah jenis bilah gangsa (tungguh) dari lima bilah hingga akhirnya menjadi sepuluh bilah. Demikian sekilas perjalanan Gong Kebiar yang kelak sebagai instrumen untuk memainkan Tabuh Lelongoran.

Tabuh Lelonggoran sebagai salah satu sarana yang selalu harus ada didalam rangkaian ritual Upacara Dewa Yadnya, sebagai pengejawantahan suara Bajra sang Wiku atau Genta suara pitu sang sulinggih saat melangsungkan pemujaan sebagai Yajmana( Manggalaning Yadnya ) Tarian sebagai Mudraning sang Yajmana ( Ciwa Nata Raja ) dan Gita/Nyanyian Kidung personifikasi Mantra Puja. Untuk sebagian umat saat melaksanakan persembahyangan ( mebakti ) tanpa alunan suara lagu-lagu lelonggoran yang dimainkan secara agung dan terasa ada atmosfir maghis, yang menentramkan hati, jika sudah lewat fase lagu-lagu yang ber-irama menyerupai lagu mars yang di bawakan kelompok marching band. Tabuh Lelonggoran menurut beberapa penggiat pelaku tabuh Lelonggoran, bahkan salah satu dari pelaku tersebut adalah seorang cucu dari sang Maestro, I Gusti Bagus Suarsana yang kebetulan juga seorang seniman tabuh mengatakan :

Adalah I Gusti Nyoman Panji Gede (sudah moring acintya, Alm, red) yang pada saat menekuni, menggubah, mengajarkan tabuh Lelonggoran pada anak didiknya di seantero desa Bungkulan juga di pelosok jazirah Buleleng yang di kenal dengan istilah Dauh Enjung ( kalopaksa,tangguwisia,anturan,tukad mugga, buleleng barat red.) dan Dangin Enjug,(Jinengdalem, Penarukan, sangsit, Jagaraga, menyali dan desa bungkulan buleleng timur red.) diperkirakan berusia 50 (lima puluh) tahun, sekitar tahun 1930 an. Beliau I Gusti Nyoman, selain piawai mengarang lagu secara otodidak, belaiu juga piawai mengarang/ membuat lagu di tempat berlangsung acara mebarung ( perlombaan red.) ada salah satu karya beliau yang boleh dikatakan sangat sakral dan memiliki nilai maghis yakni gubahan tabuh yang diberi nama tabuh “ Sudha Mala”. Lagu /tabuhan mana yang kalau dimainkan satu hari satu malam, tanpa berhenti. Sayang lagu tersebut oleh generasi penerusnya termasuk salah satunya yang masih exist I GB. Suarsana, tak mampu/ memaninkan lagu Sudha Mala tersebut. Kini Suarsana hanya bisa mengenag saat mana ia dan sang Kakek memainkan lagu tersebut dengan ekpresi terkantuk-kantuk saking lama dan panjangnya lagu tersebut, sementara ia baru berusia belasan tahun di tahun 50 an. Namun selain lagu Sudha Mala, masih banyak repertoar lagu/tabuh lelonggoran yang masih secara utuh dan baik dapat dimainkan oleh Suarsana dan adik-adiknya. Adapun harapan dan maksud penulis mengangkat salah satu ensiklopedi musik tradisi yang pada zamannya adalah merupakan karya yang sangat genius dan berilian, dimana didalamnya inhern sudah masuk unsur-unsur pengaruh musik modern yang didalamnya ada seperti intro,tempo, atempo, canon, sinkope, dinamika, interlocking pet/ ubit-ubitan, bahkan prase-prase dengan beat yang terkadang bagaikan slow rock, bahkan menggelegar bagaikan dentuman marching band dan seterusnya. Juga ada fungsi mayorete/ dirighen yang di gantikan oleh Terompong Pengarep. Ia berfungsi sebagai introduction, dirighen, juga leader secara organik. Pemain lainnya tidak akan berani memulai sebelum sang pemain Terompong pengarep memberi aba-aba. Melalui tulisan ini diharapkan, para generasi penerus mengetahui secara pasti dan benar mengenai makna dan fungsi tabuh Lelonggoran, baik dalam persepektif pengiring upacara Dewa Yadnya, maupun sebagai salah satu Barungan/ Rumpun tetabuhan instrumental. Juga diharapkan penerus baik komunitas/ anak cucu keturunan sang Maestro maupun pemerhati dan penggiat seni karawitan bali, mengetahui sejak kapan Tabuh Lelongoran di kenal di desa Bungkulan khususnya dan Buleleng bahkan Bali pada umunya. Dengan demikian jangan sampai masyarakat Buleleng sendiri terlebih masyarakat Bungkulan mendengar Tabuh Lelonggoran sangat asing, bahkan jauh lebih akrab dengan aneka tabuh Lelambatan dan kreasi baru, bahkan musiknya Kitaro. Bahwa kita butuh apresiasi sah-sah saja. Dengan demikian generasi penerus kita tahu, pernah tercatat pada suatu masa seorang “komposer” sekelas Kitaro,Wolfgang Amizius Mozart, pernah lahir di tanah Bali.

Kini , dengan perjalanan waktu, tabuh Lelonggoran, selain komunitas pengusung genre musik ini sudah mulai tergerus jaman, karena faktor alam, usia, segmen/pasar yang membutuhkan untuk eksisnya genre Lelonggoran untuk tetap bertahan, ia semakin tergerus dan tergilas dengan aliran musik “kekebyaran” ber genre pop, maka Tabuh Lelonggoran perlahan namu pasti akan semakin mengecil kerlip cahayanya di jagat karawitan Bali. Sebuah keniscayaan, bahwa Institu Seni Indonesia, kala masih sebagai Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Denpasar konon sudah mendokumentasikan sebagai salah satu jenis karawitan/ tabuh yang memiliki kekhasan di zamannya.

Tabuh Lelonggoran, kejayaan riwayatmu dulu, dan kini hanya sesekali masih dimainkan setidaknya di Pura Pemaksan komunitas sang Maestro I Gusti Nyoman Panji Gede,di Banjar Jero Gusti Bungkulan, Kecamatan Sawan Buleleng Singaraja Bali. Semoga tulisan ini ada manfaatnya, paling tidak sebagai pengetahuan ragam jenis karawitan Bali. Semoga .

*Dosen STAH DN Jakarta

“AKTIVITAS SERTA KEGIATAN SARASWATI DARI SISI LAIN”

January 14, 2013 By: admin Category: Berita/News

sudiada

Serang Banten, Jeromangku Sudiada, S.Pd.H, seorang lulusan STAH Dharma Nusantara Jakarta dan aktivis di pura Eka Wira Ananta Serang Banten mencoba memaknai saraswati serta melakukan kegiatan positif dan bermakna bagi anak-anak dan seluruh umat di Banten sungguh suatu hal yang amat baik, inovatif dan kreatif sehingga kegiatan tersebut menjadi tidak membosankan dan menyenangkan, dan tetap mengarahkan tercapainya tujuan mulia. Berikut penuturan beliau lewat facebook yang cukup membuat ketertarikan dan layak untuk disebar luaskan semoga bisa menginspirasi umat sedharma di tempat lainnya.

Jeromangku Sudiada

“AKTIVITAS SERTA KEGIATAN SARASWATY DARI SISI LAIN”

Om Swastyastu.

Umat Sedharma bersama ini perkenankalah Kami (Jero Mangku Sudiada) sekedar sharing memberikan pemasukan mengenai kegiatan Saraswaty dari sisi lain, dengan harapan mudah mudahan kegiatan seperti ini bisa dilaksanakan ditempat lain karena kami telah melaksanakannya di Pesraman Eka-Wira Ananta Serang Banten berjalan dengan baik adapun advantage yang bisa kita dapatkan adalah.

1. Memberikan warna lain dalm kegiatan saraswaty tetapi tidak keluar dari sastra-sastra hindu yg berkaitan dengan Saraswati

2. Tetap menjalankan kegiatan saraswaty yang komplit dari sisi Ritual dan Management yg modern

3. PAKEM. Pemblajaran yang Aktip Kreatip dan Menyenangkan

4. Meningkatkan rasa Bangga thd agama Hindu yang diyakini menjadikan anak anak kita Hindu yg militant serta intelektual.

5. Dharma witarka Rasa percaya diri pada anak anak kita kalau berdebat tidak minder ( Koh Ngomong) akhirnya malu mengaku diri sebagai orang hindu.

Adapun kegiatan adalah :

1. UPANAYANA – Apa itu Upanayana (silahkan baca Posting JMS ) yang sudah lewat

Sasarannya adalah anak anak pemula Paud-TK-SD tingkat awal. Tambahkan dalam kegiatan ini pada saat Upanayana dengan pemasangan

- Sirowista ( Daun alang alang yang dirajut diikatkan pada kepala )

- Benang Tridatu Merah, Putih Hitam diikatkan pada tangan kanan

- Basma Merah dipasangkan di selaning lelata ( diantara kening )

2. Persembahyangan Saraswaty.

Sasarannya adalah untuk semua umat – sisipkan Dharmawacana tentang saraswaty

3. Banyupinaruh.

Sasarannya adalah semua umat terutama anak anak pelajar, Lokasi yah kalau bisa sih kelaut, tetapi itu akan cendrung waktu habis dijalan, dan dilaut nanti banyak hura huranya (bermain)

- yg unik dalam banyupinaruh adalah ketika sembahyang ke tiga ( dalam Panca sembah saraswaty ) sarining pebaktian bunganya dikumpulkan dan dimasukan pada Tempayan untuk mengisi wewangian pada air kumkuman

- Pemberian Jamu Sad Rasa ( enam rasa / Taste) semua anak anak diberikan untuk mengecap enam rasa dalam kehidupan ini sehingga mereka tau, pahit, manis, asin, asem, pengeh, lalah. (jelaskan semua makna itu)

- Bagikan air kumkuman itu untuk pada semua anak untuk diraupkan kekepala atau kalau bisa keramas akan lebih baik.

- Jelaskan makna Banyu Pinawruh. Intinya adalah menghilangkan kegelapan dan diperbanyak usaha untuk belajar jangan menjadi anak yg patalistis ( hanya berserah kepada nasib )

4. Malam Sastra ( In door training )

Sasaran kita adalah semua umat, usahakan anak anak sekolah dari SMP-SMA taruna teruni, lakukanlah kegiatan ini pada malam sastra atur waktunya jangan melewati jam 23.00 karena setelah itu akan diisi dengan kegiatan Meditasi-Traktaka tengah malam.

- Penelusuran bakat dan minat anak anak sekolah

Pandangan kedepan para pelajar setelah tamat terutama bagi mereka yang melanjutkan sekolah ini sangat penting pembekalan untuk mereka agar jangan sampai salah pilih jurusan dlm hidupnya.

- Bedah Bagawat Gita.

Pilih sloka sloka dalam bhagavat gita yang pas dan cocok bagi mereka para pelajar, tekankan pada mereka betapa penting ilmu pengetahuan untuk mengusir kegelapan, diantaranya dg ilmu pengetahuan kita bisa menyebrangi lautan dosa.

- Dharma Witarka.

Seni dalam berdebat agama, Ada kecendrungan anak anak kita malas menyatakan jati dirinya menjadi Hindu karena:

Kurangnya pengetahuan Hindu yang mereka miliki

Tidak menguasai teknik berdebat, emosional akhirnya hilang ilmu yg mereka miliki

Tidak kuat mental ketika berhadapan dengan orang lain terutama beda agam, nah hal inilah menyebabkan mereka tidak percaya diri dengan agama Hindu akhirnya malu mengakui diri sebagai orang Hindu, yg utama bangkitkan rasa percaya diri Self convident.

5. Dharma Witarka seni berdebat

Dalam Hindu ternyata memang ada kita ketemui cara cara yang asik untuk berdebat hanya saja sejauh ini sebagian besar hidup kita habiskan waktu untuk ritual serta beberapa bagian dari sastra hindu kita Nyaris tak tersentuh, celakanya ketika ada yang mencoba untuk menampilkan terkadang kecendrungan…..wah bawa aliran baru ya…..he….he…..

Teknik teknik pelaksanaan Dharma Witarka:

- Buatkan pembagian anak anak secara berkelompok ( usahakan besar kecil, kelas, pesertanya seimbang shg tidak timpang nanti dalam berdebat )

- Pesertanya maksimal 10 effectip 7 orang Sapta Rsi )

- List permasalahan yang ada setiap kelompok, setelah didapatkan permasalah seleksi masalah masalah mereka yang relepant dengan Perdebatan misalnya.

Agama Hindu adalah Kuno ikuti agama kami nabi yg terakhir yang paling sempurna

Agama Hindu adalah penyembah berhala, pemuja setan

Agama Hindu adalah agama Bumi hasil rekayasa manusia

Agama Hindu duitnya habis dibakar kebanyakan ritual

Dsbnya

- Semua materi yang muncul dari mereka jadikan toipic untuk perdebatan

- Setiap Group secara bergiliran diberikan kesempatan untuk memaparkan pendapatnya

- Setiap orang dalam group berikan kesempatan untuk maju dengan cara : setiap topic berikan kesempatan untuk berunding, biasanya kelompok yang berbicara terakhir paling baik maka dari itu usahakan kesempatan berbicara secara bergantian dan adil.

- Team Juri siap memantau pemaparan yang paling baik karena nanti akan diberikan hadiah

- Setelah selesai berdebat Luruskan permasalah jgn sampai terobsesi dgn jawaban keliru.

6. Traktaka – Meditasi tengah malam.

Ketika tengah malam lakukan meditasi pemusatan pikriran yg baik sehingga waktu untuk sembahyang tidak usah terlalu lama, namun sembahyanglah dengan cara yg effectip. Berikan penjelasan teknik teknik meditasi kemudian langsung Praktekan, kebetulan kami ada CD tentang teknik meditasi, kita putrakan semua anak – mengikutinya dengan baik.

7. Yoga Asanas

Pagi hari jam 05.00 Sembahyang pagi, diterukan dengan Yoga asanas, diakhir yoga asanas kembali kita berikan teknik teknik Relaxsasi, sampai mereka enjoy dengan hidup ini, kita bisa lihat peserta pulas semuanya.

8. Sarapan pagi sekedarnya

Mandi, bersihkan diri kemudian langsung Banyupinaruh

9. Out Bond.

Sebelum kegiatan ini dimulai lakukan pelaksanaan secara formal Appel pagi ini sangat baik dilakukan untuk menambahkan rasa kesatuan dan persatuan. Peserta dikumpulkan dengan agenda kegiatan sbb.

a) Pembukaan & Pengarahan

b) Menyanyikan Lagu Indonesiaraya

c) Mengheningkan cipta

d) Pembukaan oleh PHDI atau Ketua Pesraman

e) Kegiatan dimulai.

Sekitar jam 09.30, setelah selesai sembahyang banyu Pinawruh, adalah saat yang effectip untuk melakukan belajar sambil bermain, dengan teknik teknik out bond sangat effectip untuk melatih rasa percaya diri anak anak, Belajar sambil bermain dan inilah yang paling sangat digemari anak anak sekaran, karena sejauh ini belajar agama itu dilakukan monotone….dikelas melulu shg nereka merasa boring di dalam kelas,…dan materinya itu…..dan itu…..saja. jenis jenis permainan anda bisa pilihkan yang relephant dengan kesukaan anak anak, kalau bisa ikuti dengan music minimal orgent tunggal sehingga lebih meriah dan semarak, shg Nampak wajah aslinya masa remaja adalah masa hura…hura, dan inilah kesempatan bagi kita untuk mengarahkanya. contohnya

a) Team work.

Bagi perkelompok, usahakan pembagian merata, caranya bariskan dlm lingkaran suruh berhitung banyaknya sesuai kan dengan kolompok yang diinginkan, misalnya terdiri dari 5 orang, suruh berhitung dari satu s/d lima, satu kumpulkan dengan satu jadi group I, dua dengan No dua jadikan group II dst sehingga besar kecil menjadi merata.

Permainan gelontorkan bola pingpong dari peralan yang dibelah, panjangnya satu meter saja, terdiri dari tiga belahan disambung, bola pingpong berjalan dari a – z talang dari paralonpun dipindah sesuai dengan bergulirnya bola sambung menyambung.

Menimba air dengan tangan, Waskom disiapkan ditengah tengah kelompok, berbaris sesuai dengan kelompok, kemudian wakilnya mengambil air diwaskom ditrasnfer dengan tangan, dan yg paling belakang menampung air, berikan waktu secucuknya, pemenangnya adalah group yg dapat air terbanyak.

b) Kecerdasan angka.

Kembali lagi groupnya di acak buat group baru.

Panggil leader Group berikan penjelasan, bagikan kertas yang sudah ada buletan kecil ber no dari 1 – 100. Di acak suruh mereka menghubungankan dari no 1 – 100. Pemenangnya mereka yang tercepat tetapi benar menghubungkan angkanya.

c) Komunikasi yg effectip.

Kembali di acak groupnya dengan anggota yg effectip adalah 10 orang

Panggil leader nya, berikan penjelasan, ada kalimat yg tertulis minimal sepuluh kata, suruh diam menyampaikan kepada anggotanya yang dibariskan, Leader ini menyampaikan kalimat pesan bersambung,….ke A, …Ke…B, C dst nya dan penerima pesan terakhir suruh suruh menulis pesan tadi dan anda bisa bandingkan dengan kalimat yg anda instruksikan di awal. Pemenangnya adalah Kalimat yang paling mirip.

d) Banyak lagi jenis jenis permainan yg bisa kita sampaikan yg relephant dengan kegiatan anak anak sekarang silahkan di coba pasti Sukses…..he…..he…..kalau ada kesulitan undang JMS…… he…..he….

10. Jangan lupa setiap kegiatan kita sertakan Wortel dan cambuk sebagai penunggang kuda, maksudnya berani menghukum….tetapi bisa memberikan hadiah bagi mereka the Best.

Semoga bermanfaat. Kegiatan ini sudah dilakukan di Serang Saraswaty kemarin…….sukses luarbiasa..

Motto” HUNDU KEDEPAN TERLETAK PADA PUNDAK ANAK-ANAK KITA” makadari itu jangan pelit pelit melakukan sesuatu yang positip buat Hindu kedepan.

Thanks,

Tags:

10 Kuil Hindu Paling Indah di Dunia

January 08, 2013 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Hinduisme adalah salah satu agama tertua di dunia, dan memiliki lebih dari 900 juta pengikut di seluruh dunia. Meskipun sebagian besar umat Hindu tinggal di India, ada juga sejumlah pengikut Hindu dengan jumlah yang cukup banyak di Nepal, Bangladesh dan negara kita, Indonesia. Bangunan Hindu di India dimulai hampir 2000 tahun yang lalu dan menandai transisi Hindu dari agama Veda. Arsitektur kuil Hindu telah berkembang dan terdiri dari berbagai macam gaya. Kuil-kuil Hindu biasanya didedikasikan untuk salah satu Dewa Hindu utama dan mengandung Murti (citra suci) dari Dewa. Walaupun tidak wajib bagi seorang Hindu untuk mengunjungi sebuah kuil Hindu secara teratur, kuil-kuil tetap memainkan peran penting dalam masyarakat dan budaya Hindu.

Tanah Lottanahlot

Terletak di atas sebuah batu karang besar, Tanah Lot merupakan salah satu pura Hindu yang paling terkenal di Bali, dan mungkin juga pura yang paling sering difoto. Tanah Lot telah menjadi bagian dari mitologi Bali selama berabad-abad. Pura di Tanah Lot sendiri adalah salah satu dari 7 kuil laut, yang membentuk rantai sepanjang pantai barat Bali.

Kuil Kanchipuram

Kota 1000 Kuil, Kanchipuram, adalah salah satu kota tertukanchipurama di India Selatan, dan dikenal karena kuil kuno Hindu dan sari sutranya. Kota ini berisi beberapa kuil besar seperti Kuil Varadharaja Perumal untuk Dewa Wisnu dan Kuil Ekambaranatha yang merupakan salah satu dari lima bentuk tempat tinggal Dewa Siwa.


KuilBrihadeeswarar

Kuil Brihadishwara, kuilbrihadeeswararyang terletak di Thanjavur, India, dibangun oleh Raja Chola yaitu Rajaraja I pada abad ke-11. Kuil ini merupakan kuil pertama di dunia yang keseluruhannya dibangun dari batu granit. Brihadishwara adalah contoh brilian dari gaya arsitektur kuil Dravida. Menara kuil ini memiliki tinggi 66 meter sehingga menjadi salah satu kuil tertinggi di dunia.

Khajuraho

khajuraho

Desa Khajuraho merupakan salah satu tujuan wisata paling populer di India. Di desa ini banyak terdapat kuil Hindu dan Jain dengan patung erotisnya. Kuil-kuil disini dibangun selama rentang waktu 200 tahun, sejak tahun 950 sampai tahun 1150. Beberapa kuil didedikasikan untuk Dewa Jain dan sisanya untuk Dewa Hindu, yaitu Brahma, Wisnu dan Syiwa.

Banteay Srei

banteay-sreiMeskipun secara resmi merupakan bagian dari kompleks Angkor Wat, Banteay Srei terletak 25 km di timur laut dari kelompok utama kuil Angkor Wat. Kuil Hindu ini selesai pada tahun 967 dan dibangun sebagian besar dari batu pasir merah, media yang cocok untuk ukiran dinding dekoratif rumit yang masih jelas terlihat saat ini. Banteay Srei adalah satu-satunya kuil utama di Angkor yang tidak dibangun untuk raja, melainkan dibangun oleh salah satu penasihat raja RaJendravarman, yaitu Yajnyavahara.

Sri Ranganathaswamy

sriDidedikasikan untuk Dewa Ranganatha (salah satu bentuk Dewa Wisnu), Sri Ranganathaswamy di Srirangam, India adalah sebuah kuil penting yang menerima jutaan pengunjung dan peziarah setiap tahun. Dengan luas 156 hektar, Sri Ranganathaswamy adalah salah satu kompleks keagamaan terbesar di dunia.

Kuil Virupaksha

vuruKuil Virupaksha di kota Hampi di India dimulai sebagai sebuah kuil kecil dan tumbuh menjadi sebuah kompleks besar di bawah penguasa Wijayanagara. Diyakini bahwa kuil ini telah berfungsi tanpa terputus sejak kuil kecil yang dibangun pada abad ke-7 yang membuatnya menjadi salah satu kuil Hindu tertua yang masih berfungsi di India. Menara pintu masuk candi terbesar memiliki tinggi 50 meter.

Candi Prambanan

pramCandi Prambanan adalah kompleks Candi Hindu terbesar dan paling indah di Indonesia. Terletak sekitar 18 km sebelah timur Yogyakarta. Candi Prambanan memiliki tiga candi utama yang didedikasikan untuk Dewa Wisnu, Brahma, dan Syiwa dan dibangun sekitar tahun 850 oleh Kerajaan Mataram Kuno.

Kuil Meenakshi Amman

meeKuil Meenakshi Amman merupakan salah satu kuil Hindu yang paling penting di India, yang terletak di kota suci Madurai. Kuil ini didedikasikan untuk Sundareswar (bentuk Dewa Syiwa) dan Meenakshi (bentuk Dewi Parwati). Di kompleks ini terdapat 14 menara megah termasuk dua Gopuram emas untuk Dewa utama, yang dipahat dan dicat dengan rumit. Kuil ini adalah simbol yang signifikan bagi rakyat Tamil, dan dibangun pada awal abad ke 17.

Angkor Wat

angAngkor Wat yang dalam bahasa Indonesia berarti “Kota Kuil”, adalah sebuah kompleks kuil yang luas di Kamboja yang menampilkan sisa-sisa kemegahan ibukota dari kerajaan Khmer, dari abad 9 hingga abad ke-15 Masehi. Di dalam kompleks ini terdapat Kuil Angkor Wat yang terkenal, monumen tunggal keagamaan terbesar di dunia, dan kuil Bayon di Angkor Thom dengan banyaknya permukaan batu besar. Selama sejarahnya yang panjang, Angkor mengalami beberapa kali perubahan untuk mengkonversi agama Hindu menjadi Buddhisme



KURIKULUM BARU 2013

December 13, 2012 By: admin Category: Artikel Pendidikan

Kurikulum baru 2013 tingkat sma tidak lagi mengenal penjurusan Eksakta, Sosial, maupun Bahasa. Siswa akan dibebaskan memilih pelajaran yang disukai. Untuk Sekolah Menengah Atas, ada mata pelajaran wajib dan peminatan. Untuk yang wajib ada sembilan seperti Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Sejarah Indonesia, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Seni Budaya, Prakarya dan Pendidikan Jasmani. Mata pelajaran peminatan terbagi menjadi empat yakni Sains (Matematika, Biologi, Fisika dan Kimia), Sosial (Geografi, Ekonomi, Sejarah, Sosiologi dan Antropologi), Bahasa (Sastra Indonesia, Arab, Inggris dan Sastra Mandarin). Ada juga mata pelajaran pilihan seperti Literasi Media, Bahasa Lain, Teknologi Terapan, dan Pendalaman Minat atau Lintas Minat. Setiap pelajar SMA wajib mengambil 40 jam pelajaran dengan rincian 18 jam wajib, 16 jam peminatan, dan enam jam pelajaran pilihan. Enam jam pilihan bisa mengambil pelajaran peminatan lain. Sekolah bisa menawarkan pilihan lain maksimal empat jam pelajaran.

Pada tingkat SMP , jumlah mata pelajaran yang semula 12 nanti menjadi 10 mata pelajaran. Mata ajar muatan lokal dan pengembangan diri akan melebur ke dalam mata pelajaran seni budaya dan prakarya. Sedangkan mata pelajaran yang lain tetap, yakni Pendidikan Agama, Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Seni Budaya (muatan lokal), Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, serta Prakarya. Siswa SMP belajar disekolahnya bertambah dari 32 jam menjadi 38 jam pelajaran per minggu.

Pada tingkat SD, Mata pelajaran diintegrasikan bukan dihapus karena IPA dan IPS tetap akan masuk dalam kurikulum pelajaran sekolah dasar namun, memang diintegrasikan dalam pelajaran lain. Kurikulum 2013 yang kini sedang dalam tahapan uji publik menekankan pendidikan berbasis kompetensi, yakni sejak sekolah dasar anak diajarkan bagaimana bersikap jujur, memiliki keterampilan dan wawasan luas atau berilmu.

Seperti dijelaskan diatas dari 10 mata pelajaran sekolah dasar disisakan enam, seperti matematika, bahasa Indonesia, pendidikan agama, pendidikan jasmani dan kesehatan, pendidikan pancasila dan kewarganegaraan, dan kesenian. IPA dan IPS menjadi tematik di pelajaran lainnya.

Siswa SD nanti belajar di sekolahnya kurang lebih 36 jam per pekan. Bertambah sepuluh jam dari yang berlaku saat ini yang hanya 26 jam per pekan.

Kurikulum 2013 diharapkan mampu menghasilkan generasi emas yang mempunyai sifat produktif, kreatif, inovatif, dan afektif. “Dalam kurikulum 2013, ditargetkan para siswa mampu mengamati, menyimak, melihat, membaca, mendengar, bertanya, bernalar, mencoba, dan mengkomunikasikan.

Menurut Wapres Budiono yang memonitor langsung kerja Kementerian Pendidikan,  kurikulum baru akan menjawab keluhan terhadap lemahnya pembentukan watak dan perhatian soft skill para siswa. Wapres Budiono menyoroti perubahan fundamental dari kurikulum baru ini Intinya adalah keseimbangan antara kemampuan akademis teknis dan pembentukan sikap. Disebutkan istilah hard skill dan soft skill. Tapi soft skill itu juga bermacam-macam, termasuk kemampuan berkomunikasi, toleransi, kemampuan untuk kerja dalam tim.

Kurikulum baru berisi basis kompetensi dengan pemikiran kompetensi berbasis sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Guru dituntut banyak mencari tahu agar para siswa bisa dengan mudah mencari informasi dengan bebas melalui perkembangan teknologi.

Mendiknas M.Nuh yang Mantan Rektor Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS) menjelaskan, bahwa kurikulum baru ini didasari perkembangan dunia, kemajuan teknologi informasi, masalah lingkungan hidup, serta kebangkitan industri kreatif dan budaya.

M. Nuh juga menambahkan, para siswa akan didorong memiliki tanggung jawab lingkungan, kemampuan berkomunikasi, serta kemampuan berfikir kritis agar terbentuk generasi yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif.

Terilihat semangat penyederhanaan kurikulum sangat mewarnai perubahan kurikulum kali ini, dengan harapan pembelajaran dapat lebih mendalam dan memahami substansi dan tidak hanya menghapal. Disamping itu juga terdapat perubahan dalam penilaian yaitu menggunakan kombinasi tes hasil belajar dengan portofolio.

Kini kurikulum ini dalam tahap uji publik untuk mendapatkan masukan-masukan dari masyarakat pemangku kepentingan untuk penyempurnaan.

Yang lebih penting lagi harus dilakukan adalah ujicoba empiris secara terbatas dengan sampel seluruh propinsi yang ada di Indonesia agar dapat dievaluasi apa kekurangannya dan dimana penyempurnaan harus dilakukan, baru kemudian diberlakukan secara keseluruhan untuk mendapatkan hasil yang diharapkan.

Disamping itu diperlukan sekali pelatihan-pelatihan kepada pelaksana pembelajaran di lapangan yaitu guru. Ini sejalan usulan yang dikemukakan HAR Tilaar Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang turut hadir dalam uji publik membeberkan empat masukan tersebut. Pertama, implementasi kurikulum baru tergantung kualitas guru. Kedua, komitmen pemerintah daerah turut menentukan sehinggga diperlukan revisi Undang Undang Otonomi Daerah. Ketiga, penggabungan mata pelajaran seperti IPA-IPS di tingkat SD perlu ditinjau kembali. Sedangkan yang terakhir, diperlukan petunjuk pelaksanaan yang jelas dalam implementasi kurikulum 2013.<uli>

DIES NATALIS XVIII DAN WISUDA X SARJANA S-1 STAH DN JAKARTA 2012

November 05, 2012 By: admin Category: Berita/News

Oleh : Untung Suhardi *

Auditorium Bidakara Jakarta Selatan pada tanggal 29 September 2012 sebagai saksi bisu dari acara dies natalis xviii dan wisuda x STAH DN Jakara. Dengan diiringi geguntangan pimpinan bapak I Gusti Komang Widana, M.Fil.H serta alunan kidung suci turut memeriahkan acara tersebut. Para tamu mulai memasuki ruang acara dan para panitia sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Dari gelagat yang dilakukan panitia menunjukan adanya kesiapan untuk kelancaran jalanya prosesi wisuda dan dies natalis ini. Suara sudah mulai berangsur-angsur hening dan hikmat saat semua wisudawan dan wisudawati memasuki ruangan dengan ditandainya peniupan Sungu dan hentakan pedel serta pembawaan bendera merah putih dan bendera STAH DN Jakarta bahwa prosesi sidang senat terbuka STAH DN Jakarta siap untuk dimulai dengan langkah berirama menuntun anggota senat STAH DN Jakarta menuju ketempat sidang.

ll

Selang setelah itu kemudian, menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh dirigen Laksmi Prastika Dewi yang memimpin lagu kebangsaan ini sebagai simbol patriotisme dan nasionalisme pada tanah air tercinta yang dinyanyikan dengan penuh penghayatan dan rasa hormat yang tinggi. Setelah itu dilanjutkan dengan mengheningkan cipta yang dipimpin oleh Prof.Dr.Ir. I Made Kartika Dhiputra. Dipl.-ing selaku ketua senat. Sebagai tanda upacara penyambutan maka disuguhkanlah tarian puspanjali yang dibawakan oleh mahasiswa STAH DN Jakarta sebagai simbol untuk penyambutan tamu yang datang. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Veda Vakya yang dibawakan oleh Komang Agus dan Made Widhi dalam pembacaan sloka tersebut memuat inti bahwa dalam kehidupan ini kewajiban kita adalah harus bekerja dengan sebaik-baiknya, dengan prestasi kerja yang baik maka hasil dari kerja itulah yang akan mengikutinya.

Acara selanjutnya adalah laporan ketua penyelenggara oleh I Ketut Budiawan, MH yang melaporkan tentang dasar pelaksanaan wisuda dan dies natalies, urutan penyelenggaraan yang diawalai dengan ajaran rsi yajna dengan melakukan matur untuk mendapatkan restu serta penganugrahan ke-5 pandita dan nuwur pandita lokapalasraya sebagai wiku saksi pada upacara samawarthana diikuti oleh 45 wisudawan serta upanayana yang diikuti oleh 50 mahasiswa baru yang dilaksanakan pada tanggal 28 September 2012 di Pura Aditya jaya Ramamangun dengan dilanjutkan Rsi Bojana serta guru daksina. Sehingga sampai dengan tahun 2012 ini STAH DN Jakarta sudah meluluskan 482 mahasiswa untuk mengabdi secara dharma agama dan dharma negara.

Usai laporan ketua panitia penyelenggara dilanjutkan dengan pembukaan sidang terbuka senat STAH DN Jakarta dengan memukul palu sebanyak 3 kali. Kemudian dilanjutkan dengan Hymne STAH yang dipimpin oleh dirigen yang dengan sikap energiknya memimpin hymne tersebut sesuai dengan melodi dan birama yan dimainkan. Selanjutnya, pembawaan orasi ilmiah yang dibawakan oleh Dr. I Gede Ary Suta dengan tema “Kontribusi pemikiran Multikulturalisme terhadap Kerukunan Umat Beragama di Indonesia”. Dalam orasi ini Ary Suta menjelaskan bahwa dalam kehidupan ini kita harus cerdas dalam memilih untuk mendapatkan hal yang terbaik jangan sampai menjadi generasi yang rapuh secara mental yang tidak mampu bersing dalam era globalisasi. Setelah orasi ilmiah ini dilanjutkan dengan Mars STAH DN Jakarta yang dipimpin oleh dirigen yang dengan sikap yang mantap dan sigap memimpin jalannya alunan Mars STAH DN tersebut.

Dilanjutkan dengan pelantikan wisudawan hal ini merupakan saat yang paling dinanti oleh calon wisudawan yang sudah menati saat-saat seperti inii selama 4 tahun. Terlihat dengan jelas wajah penuh kegembiraan dan sikap optimis dari para calon wisudawan yang sudah mendapat tempaan dan pemantapan dari para dosen dan kehidupan nyata sebagai mahasiswa yang secara integral harus sudah mampu mengaplikasikan dalam kehidupan nyata. Selanjutnya para calon wisudawan dan wisudawati dipanggil satu persatu dengan langkah yang pelan tapi pasti para wisudawan secara berututan dilantik dan berhak menyandang gelar Sarjana Pendidikan Agama Hindu (S.Pd.H) alunan lagu syukur menambah hikmat dan membius para orang tua wisudawan bahwa anaknya telah menyelesaikan pendidikan S-1 dengan baik.

Dilanjutkan dengan janji wisudawan yang dibawakan oleh perwakilan Wisudawan yaitu Ika Susanti, S.Pd.H dan Halfian, S.Pd.H yang isinya adalah selalu menjunjung tinggi lokasamgraha dan dharma siddhiyarta menjaga nama baik kampus dan selalu berbhakti kepada agama dan negara berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Setelah selesai adalah kesan dan pesan wisudawan yang dibawakan oleh Pinandita Made Sudiada yang menjelaskan tentang masa bahagia dan kesedihan selama 4 tahun bersama teman-teman lainya dan sekarang sudah menuju puncak kebahagiaan secara akademik. Diungkapkan juga pengalamannya selama masa KKN di Desa Demping Karanganyar. Selanjutnya, penyerahan kendi ilmu pengetahuan hal ini mengandung makna bahwa ilmu pengetahuan itu selalu mengalir dan tidak akan pernah habis dari masa kemasa dan akan terus berkembang dari generasi kegenerasi untuk itu kita harus belajar dengan sebaik mungkin agar mendapatkan cahaya pengetahuan dari Hyang Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan. Setelah itu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu bagimu negeri.

Prosesi acara terus berlangsung sekarang tibalah waktunya adalah sambutan dari Ketua STAH DN Jakarta. Dalam sambutannya ketua STAH menyampaikan bahwa nilai kejujuran akademik bagi semua sivitas akademika sangat perlu untuk ditingkatkan sesuai dengan falsafah Satyam, Sivam, Sundaram yang harus diinternalisasi dalam diri masing-masing sivitas akademika baik pendidik maupun tenaga kependidikan. Selanjutnya, dibahas juga tentang proses pendewasaan institusional, pemantapan eksistensi kelembagaan dan peningkatan peran aktif pengabdian pada masyarakat maka pada tanggal 23-25 Agustus 2012 di rumah peristirahatan BI, suka bumi Jawa Barat dilangsungkannya rapat yang melibatkan pimpinan yayasan dharma nusantara, para pimpinan dan sivitas akademika serta perwakilan alumni STAH DN jakarta dan melibatkan stakehoder baik pemerintah maupun swasta serta narasumber yang berkompeten dibidang itu. Kegiatan ini membahas tentang action plan untuk penyususnan rencana strategi (Renstra 2012-2017), Peninjauan Kurikulum dan Persiapan Re-Akreditasi 2013/2014 untuk jurusan keguruan dan ilmu kependidikan. Serta adanya pembukaan program studi baru yaitu jurusan penerangan dan komunikasi – Program Studi Penerangan Agama Hindu yang sudah dimulai perkuliahan pada 10 September 2012 yang diikuti oleh 22 mahasiswa dengan total mahasiswa baru 50 yang berasal dari seluruh Nusantara. Selain itu, juga berpesan bahwa untuk mewujudkan generasi yang eling lan waspada, jengah, tengeh,tangen lan tangar serta perduli (be a ware and care) sebagai upaya untuk mewujudkan Hindu yang cerdas dan religius”. Dan sebagai satu-satunya pendidikkan tinggi agama Hindu yang berlokasi di ibu kota negara RI telah terakreditasi B, hal ini membuktikan bahwa eksistensi institusional dengan brand image semakin baik yang telah mampu memberikan semangat perubahan bagi generasi muda Hindu nusantara untuk ikut meningkatkan kualitas diri menjadi calon mahasiswa baru dalam Program Anak Asuh STAH DN Jakarta.

Sambutan selanjutnya adalah dari ketua yayasan Dharma Nusantara Jakarta yang dibawakan oleh Ir. I G.K. Gde Suena dalam sambutanya beliau menerangkan bahwa kehidupan bermasyarakat merupakan universitas yang sesungguhnya untuk itu kewajiban sebagai mahasiswa adalah untuk mengabdikan ilmu yang didapatkan dibangku kuliah untuk diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Selain itu, bahwa STAH DN jakarta merupakan milik bersama yang harus dijaga dan dilestarikan bersama dalam filsafat jawa dikatakan melu handerbeni (Ikut merasa memiliki) dan pada akhir sambutannya mengatakan bahwa berkat doa dan usaha pembangunan gedung baru di parung segera terlaksana sehingga mampu menyediakan sumber daya manusia Hindu yang cerdas dan religius untuk menghadapi tantangan dimasa depan.

Setelah sambutan selesai dilanjutkan dengan penyerahan data alumni dan penyematan atribut alumni STAH DN Jakarta yang bawakan oleh I Dewa Ketut Suratnaya, M.M.Pd sebagai Ketua Alumni STAH DN Jakarta. Kemudian dilanjutkan dengan sambut dari kementerian Agama yang diwakili oleh Drs. I Made Sujana, M.Pd dalam sambutannya belau mengatakan bahwa mutu pendidikan Hindu sangatlah bergantung pada generasi muda Hindu dan tenaga pendidik yang harus memiliki kompetensi seorang pendidik, selain itu juga diungkapkan bahwa pengembaangn Hindu kedepan merupakan prospek utama terkait dengan pengadaan gedung baru di daerah Parung-Bogor. Pada akhir sambutannya beliau mengucapkan selamat kepada para wisudawan bahwa ilmu yang didapatkannya adalah untuk diabdikan sesuai dengan dharma agama dan dharma negara. Acara selanjutnya adalah pembacaan doa yaitu melakukan persembahyangan madhya sandhya bersama, dilanjutkan dengan prosesi penutupan sidang senat oleh ketua sidang dan para guru besar serta sidang senat meninggalkan ruang sidang.

Pada acara selanjutnya adalah foto bersama antara wisudawan dan wisudawati beserta para dosen dan tenaga kependidikan STAH DN Jakarta. Dan pada ujung acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan keakraban bagi orang tua dan para wisudawan yang pada hari itu telah diwisuda dan menyandang gelar Sarjana. Suasana gedung menjadi meriah dan penuh dengan kegembiraan. Hal ini merupakan langkah awal untuk membuka tabir rahasia dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan dinamika ini dan digunakan sebagai pijakan untuk meneruskan langkah yang lebih baik pada masa yang akan datang. Pepatah barat mengatakan changes your habite to changes your life (ubahlah kebiasaanmu untuk mengubah hidupmu) dan berprinsip dalam hidup ini adalah kita mampu untuk mengubah halangan menjadi tantangan.

Bravo STAH DN Jakarta…………

Jakarta, 16 Oktober 2012

*Untung Suhardi, S.Pd.H

(Pengampu Matkul Ilmu Sosial dan Budaya Dasar)