STAHDNJ.AC.ID

Vidyaya, Vijnanam, Vidvan
Subscribe

STAH DN JAKARTA MELAKSANAKAN MEPANDES / METATAH / PANGUR (POTONG GIGI) MASSAL

August 31, 2016 By: admin Category: Berita/News

Stahdnj.ac.id, Jakarta. Bertempat di GOR Pura Agung Taman Sari Halim Perdana Kusuma Jakarta STAH DN Jakarta mengadakan Metatah Masal yang ketiga kalinya,  sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Kali ini dikuti oleh 24 peserta dari kalangan umum dan mahasiswa yang belum dipangur.

Peserta Metatah Massal STAH DNJ 2016

Peserta Metatah Massal STAH DNJ 2016

Upacara mepandes / potong gigi / matatah / pangur yang dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 2016 ini adalah salah satu yadnya yang termasuk kategori  “manusa yadnya”.  Disebut juga Mepandes/Metatah/mesangih, dan umumnya  dilaksanakan pada anak yang sudah menginjak dewasa. Sebagai simbol pembersihan sifat-sifat buruk dan bertujuan untuk mengendalikan 6 sifat buruk yang ada dalam diri manusia yang dikenal dengan Sad Ripu, antara lain: hawa nafsu, sifat  rakus/serakah,  kemarahan, mabuk membutakan pikiran, perasaan bingung, dan iri hati/ dengki. Dari unsur keindahan juga dapat diperoleh bahwa setelah pangur penampilan menjadi terlihat lebih bagus karena gigi taring dan gigi lainnya sudah terlihat rata dan rapi. Dalam metatah kali ini memang Sangging yang terdiri dari Jero Mangku I Made Kartika Dhiputra, Jero Mangku Made Sudiada, dan Jero Mangku Pasek benar-benar terlihat memperhatikan kerapihan tersebut agar benar-benar terlihat rapi.

Suasana sungkem anak terhadap orang tuanya sebelum dipangur memperlihatkan suasana haru dan bahagia dimana anak duduk memohon doa restu kepada orang tua dan orang tua memberikan nasehat-nasehat, petuah yang baik kepada anak serta mengantar anaknya untuk naik ke bale tempat mepandes/metatah.

Prosesi Metatah Salah Satu Peserta

Prosesi Metatah Salah Satu Peserta

Dalam acara metatah massal ini tampak hadir, Dirjen Bimas Hindu Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, Kementerian Agama Republik Indonesia,  Prof. Drs. I Ketut Widnya, MA, M.Phil., Ph.D, Direktur Urusan Agama Hindu Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, Kementerian Agama RI, Drs. I Wayan Budha, M.Pd, Direktur Pendidikan Agama Hindu Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, Kementerian Agama RI, Drs. Ida Bagus Gede Subawa, M.Si,  Perwakilan Pembimas DKI Jakarta, Parisada DKI, Ketua Pasaraman Pura Aditya Jaya, Pembimas Banten, Tokoh Umat Hindu  dan undangan lainnya yang berkenan hadir.

Dirjen Bimmas Hindu Kementerian Agama RI Prof. Drs. I Ketut Widnya, MA, M.Phil., Ph.D

Dirjen Bimmas Hindu Kementerian Agama RI
Prof. Drs. I Ketut Widnya, MA, M.Phil., Ph.D

Dalam Sambutannya Dirjen Bimas Hindu memberikan apresiasi kepada STAH Dhama Nusantara sebagai institusi pendidikan melaksanakan pengabdian masyarakat melalui metatah massal karena  sebagai salah satu upaya menjaga peradaban agama Hindu. Sebagai umat Hindu berkewajiban menjaga peradaban agar tidak hilang karena kita hidup dan ada dalam peradaban itu. Beliau menambahkan Agama Hindu dalam beragama tidak hanya sekedar berbicara tetapi juga langsung mempraktekan Agama itu sehingga benar-benar efektif untuk memberikan nilai-nilai ajaran agama seperti halnya dengan acara metatah massal ini. Mempraktekkan agama itu dengan Tantra, Yoga dan Yadnya. Dengan mempraktekkan agama maka agama itu akan bermanfaat dan umat menjadi baik dan mendorong mencapai pembebasan.  Saat ini adalah  jaman Kali Yuga yang sudah memasuki 5118 tahun. Pada zaman ini agama dijungkir balik, jarang dipraktekkan tetapi lebih banyak dijadikan alat pencitraan atau alat politik sehingga tidak bermanfaat. Umat Hindu Indonesia senantiasa mempraktekan agama dan harus terus dipertahankan dan dipraktekkan untuk mendapatkan manfaat bagi umat manusia. Saat ini Pura juga harus dipertahankan sebagai pusat peradaban. Tidak hanya peradaban untuk agama, untuk sembahyang tapi juga peradaban lain seperti peradaban dan pembangunan sosial, pembangunan pendidikan, peradaban dan pembangunan ekonomi umat, demikian Dirjen menegaskan.

Dharma Acarya, Kol. Purn. I Nengah Dana, S.Ag.

Dharma Acarya, Kol. Purn. I Nengah Dana, S.Ag.

Dalam Dharma Wacananya Bapak Kol. (Purn) I Nengah Dhana, S.Ag., menegaskan bahwa metatah ini adalah  tradisi nusantara, diselenggarakan diseluruh wilayah seperti : aceh, papua, timor, apalagi bali,  untuk mengingetkan orang yang baru menek kelih. Metatah ini bukan sekedar meratakan gigi agar terlihat indah tapi dimaksudkan untuk pengendalian diri terhadap gangguan yang muncul dalam masa pancaroba /menek kelih / meningkat remaja ini yang disebut sadripu.  Sadripu ini  mulai menganggu pada masa ini. Manusia harus memutar roda kehidupannya untuk mencapai tujuan hidup sesuai ajaran agama Hindu. Sadripu yang mengganggu : Kama (Nafsu), Loba (Tamak), Kroda (marah), Isya (Iri), Mada (Mabuk)  Moho (bingung).

Ratu Pedanda yang muput acara metatah ini adalah Ida Ratu Pendanda Panji Sogata dari Jakarta Selatan.

Pemuput Karya Ida Pedanda Paji Sogata Jakarta Selatan

Pemuput Karya Ida Pedanda Paji Sogata Jakarta Selatan

Sehari sebelum hari H,  tgl 29 Agustus 2016 malam dilaksanakan Matur Piuning di Utama Mandala Pura Taman Sari Halim  dilanjutkan persembahyangan dan Nekeb di tempat upacara. Esok hari setelah berhias, peserta mengenakan kain putih kuning dan kemben yang disediakan panitia peserta satu persatu mengikuti acara dengan urutan sesuai dengan yang telah direncanakan panitia.

Sungkeman dengan orang tua, naik ke bale tempat mepandes dengan terlebih dahulu menginjak caru sebagai lambang keharmonisan, sebagai simbol mohon kekuatan kepada Hyang Widhi dan ketiak kiri menjepit caket sebagai simbol kebulatan tekad untuk mewaspadai Sad Ripu.

Selama mepandes/metatah/pangur , air kumur dibuang di sebuah nyuh gading (Kelapa Gading) agar tidak menimbulkan keletehan. Dilanjutkan dengan mebiakala sebagai sarana penyucian serta menghilangkan mala untuk menyongsong kehidupan masa remaja.

Dilanjutkan dengan Mapedamel Tujuannya adalah setelah potong gigi adalah agar si anak dalam kehidupan masa remaja dan seterusnya menjadi orang yang bijaksana, yaitu tahap menghadapi suka duka kehidupan, selalu berpegang pada ajaran agama Hindu, mempunyai pandangan luas, dan dapat menentukan sikap yang baik, karena dapat memahami apa yang disebut dharma dan mana adharma.

Prosesi Metatah

“Secara simbolis ketika mepadamel, dilakukan sebagai berikut : Mengenakan kain putih, kampuh kuning,dan selempang samara ratih sebagai simbol restu dari Dewa Semara dan Dewi Ratih (berdasarkan lontar Semaradhana)” (Made Sudiasa, Baliretour.com: tgl 31 Agustus 2016 : 14:00wib) 1) Memakai benang pawitra berwarna tridatu (merah,putih,hitam) sebagai simbol pengikatan diri terhadap norma-norma agama. 2) Mencicipi Sad rasa yaitu enam rasa berupa rasa pahit dan asam sebagai simbol agar tabah menghadapi peristiwa kehidupan yang kadang-kadang tidak menyenangkan, rasa pedas sebagai simbol agar tidak menjadi marah bila mengalami atau mendengar hal yang menjengkelkan, rasa sepat sebagai simbol agar taat pada peraturan atau norma-norma yang berlaku, rasa asin sebagai simbol kebijaksanaan, selalu meningkatkan kualitas pengetahuan karena pembelajaran diri, dan rasa manis sebagai simbol kehidupan yang bahagia lahir bathin sesuai cita-cita akan diperoleh bilamana mampu menghadapi pahit getirnya kehidupan, berpandangan luas, disiplin, serta senantiasa waspada dengan adanya sad ripu dalam diri manusia. 3) Natab banten, tujuannya memohon anugerah Hyang Widhi agar apa yang menjadi tujuan melaksanakan upacara dapat tercapai. 4) Metapak, mengandung makna tanda bahwa kewajiban orang tua terhadap anaknya dimulai sejak berada dalam kandungan ibu sampai menjadi dewasa secara spiritual sudah selesai, makna lainnya adalah ucapan terima kasih si anak kepada orang tuanya karena telah memelihara dengan baik, serta memohon maaf atas kesalahan-kesalahan anak terhadap orang tua, juga mohon doa restu agar selamat dalam menempuh kehidupan di masa datang.

Usai semua rangkaian acara metatah pada pukul 14:00 diakhiri dengan foto bersama peserta, panitia dan undangan serta makan siang prasmanan bersama. Semoga acara ini bermanfaat bagi umat sedharma.(ULI)

Pemanfaatan Media Video dalam Menyampaikan Pesan Dharma

August 16, 2016 By: admin Category: Renungan

Melalui Mata Kuliah Pengembangan Media Komunikasi, Mahasiswa Jurusan Penerangan/Komunikasi STAH Dharma Nusantara Jakarta Mencoba mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah untuk mencoba membuat karya Mimbar Agama dalam bentuk media video dengan format sinema pendek…. Pembuatan media ini dimulai dari Pra produksi yaitu penulisan naskah (Penggalian Ide, Penyusunan Sinopsis, Penulisan shooting script dan storyboard), Produksi (Pemilihan pemain, hunting lokasi, shooting), Post Produksi (Editing, mixing, effect dan title). Hasil pembelajaran tersebut dapat disimak berikut ini :

MENERIMA MAHASISWA/I BARU TA 2016/2017

August 14, 2016 By: admin Category: Pengumuman

iklan_mediaHindu