Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Oleh : I Gusti Komang Widana S.Ag. M.Fil.H
Dosen STAH, Dharma Nusantara Jakarta.

Agama merupakan tolak ukur kebenaran dan memiliki muatan nilai-nilai moralitas serta merupakan norma-norma yang berisi konsep untuk manata tindakan atau prilaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari tidak terlepas dari peran serta kaum perempuan terutama dalam mendidik anak-anaknya agar berperilaku sesuai dengan ajaran agama. Instansi agama sering kali melegitimasi tradisi yang mengabaikan kesetaraan jender, banyak tafsir – tafsir dipahami secara tekstual tanpa melihat konteksnya, dan juga hanya ditafsirkan secara parsial tidak komperhensif.
Pandangan Agama Hindu Terhadap Kesetaraan Jender
Tujuan agama Hindu ialah MOKSARTHAM JAGADHTAYA CA ITI DHARMA, artinya agama Hindu bertujuan untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan hidup jasmani.
Tujuan hidup manusia menurut ajaran Agama Hindu ada empat yang dalam bahasa Sansekerta disebut : catur Purusharta/empat tujuan utama yaitu : Dharma, Artha, Kama dan Moksa
Darma = Kebenaran ( ajaran Tuhan )
Artha = Biaya hidup (mencari harta sesuai dengan ajaran agama)
Kama = Nafsu / keinginan harus sesuai dengan ajaran agama.
Moksa = Mukti (lepasnya jiwatman mencapai kebahagiaan rohani yang kekal abadi)
Kitab Sarasmuscaya Sloka 9 disebutkan :
yo durlabhataram prapya manusyam lobhato narah,
dharmavamanta kamatma bhavet sakalavancitah.
Bila ada yang memperoleh kesempatan menjadi orang (manusia) ingkar akan pelaksanan dharma, sebaliknya amat suka ia mengejar harta dan kepuasan nafsu serta berhati tamak, orang itu disebut kesasar, tersesat dari jalan yang benar.
Kitab Sarasmuscaya Sloka 12 disebutkan :
komarthau lipsamanastu dharmmamevadiascaret,
nahi dharmmadapetyarthah kamo vapi kadacana.
Pada hakekatnya, jika artha dan kama dituntut, maka seharusnya dharma hendaknya dilakukan lebih dulu, tak tersangsikan lagi, pasti akan diperoleh artha dan kama itu nanti. Tidak akan ada artinya jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma.
Pengertian Jender dalam Agama Hindu
Pemahaman dan pengertian jender telah disusun oleh para ahli secara sistimatis akademis, tetapi sosialisasinya belum menyentuh secara keseluruhan sampai ketingkat kehidupan sosial masyarakat miskin dan pedesaan. Pemahaman dan pengertian jender masih sebatas kehidupan sosial sebagai masyarakat perkotaan dan terpelajar.
Jender merupakan interaksi sosial masyarakat yang membedakan perilaku antara laki-laki dan perempuan secara proporsional menyakut moral etika dan budaya, bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan diharapkan berperan dan bertindak sesuai dengan ketentuan sosial, moral, etika dan budaya dimana mereka berada.
Kodrat laki-laki dan perempuan memang berbeda, secara fisik dan mentalitas tidak sama. Secara fisik menyangkut kekuatan dan secara mentalitas menyangkut keberanian, perbedaan ini akan menentukan secara umum apa yang pantas dikerjakan, dilakukan atau dipakai oleh laki-laki atau oleh perempuan ditentukan oleh kesetaraan jender ditinjau dari sudut social,moral etika dan budaya.
Menurut ajaran Agama Hindu jender bukan merupakan perbedaan perlakuan sosial antara laki-laki dengan perempuan, tapi mempertimbangkan pada hal-hal mana yang pantas dilakukan oleh laki-laki dan mana yang pantas dilakukan oleh perempuan.
Agama Hindu mengajarkan bahwa seluruh umat manusia diperlakukan sama dihadapan Tuhan sesuai dengan dharma baktinya, dalam ajaran sucinya yang terdapat dalam kitab Sarasamuscaya sloka 2 disebut:
manusah sarvabhutesu varttate vai subhasubhe,
asubhesu samavistam subhesvevavakarayet
Diantara sesama mahluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk, leburlah kedalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu, demikian gunanya menjadi manusia
Sarasmuscaya Sloka 3 disebutkan :
upabhogaih parityaktam natmanamavasadayet,
candalatvepi manusyam sarvatha tata durlabham.
Oleh karena itu, janganlah sekali-sekali bersedih hati, sekalipun kehidupan tidak makmur, dilahirkan menjadi manusia itu, hendaklah menjadikan kamu berbesar hati, sebab amat sukar untuk dapat dilahirkan menjadi manusia, meskipun kelahiran hina sekalipun.
Dari uraian diatas tidak ditemukan adanya perbedaan perlakuan sosial kehidupan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam kehidupan keluarga terjadi kesepakatan untuk tercapainya kesejahteraan hidup sesuai dengan ajaran Hindu.
Laki-laki Hindu sangat menghormati perempuan, pekerjaan apapun bentuknya baik soal keagamaan maupun soal kemanusiaan tanpa melibatkan perempuan, pekerjaan tidak akan selesai dengan sempurna. Demikian sebaliknya tanpa melibatkan laki-laki pekerjaan tidak akan dapat selesai dengan sempurna, Tuhan menciptakan manusia laki-laki dan perempuan untuk saling mengisi dan membantu untuk kesejahteraan dunia. Dengan demikian laki-laki dan perempuan sama-sama punya peranan penting dalam mengaktualisasikan nilai-nilai kemanusiaan demi tercapainya kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin.
Menurut pandangan Hindu kedudukan laki-laki dan perempuat sama-sama terhormat, yang membedakan adalah tugas dan tanggungjawabnya sebagai kodrat manusia.
Sebagai kodrat manusia laki-laki dan perempuan memang berbeda, manusia lahir memiliki badan jasmani dan rohani sehingga menggambarkan sifat positif dan negatif, hal ini dikarenakan manusia lahir tidak dapat menghindari hukum rwabhineda, dua hal yang berbeda ada laki-laki dan perempuan, baik buruk, suka dan duka, gagal dan berhasil.
Kesimpulan:
Kesetaraan jender merupakan perwujudan kodrat manusia sebagai bagian dari hukum alam, laki-laki maupun perempuan sama-sama mempunyai hak dan kewajiban untuk melaksanakan swadharmanya masing-masing, yang membedakan adalah jenis pekerjaan, beban pekerjaan, volume pekerjaan, ditentukan pantas atau tidaknya pekerjaan itu dilakukan baik oleh laki-laki maupun oleh perempuan.