STAH Dharma Nusantara Jakarta

DISKUSI PANEL STAH DHARMA NUSANTARA JAKARTA

STAH Dharma Nusantara Jakarta, sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mengemban misi Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pembelajaran, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat). Disamping melaksanakan aktivitas pembelajaran kepada mahasiswanya juga dituntut melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. Dalam kaitan dengan penelitian dipandang perlu ada upaya – upaya dalam meningkatkan peran dosen & civitas akademika STAH DN Jakarta untuk melakukan penelitian sesuai dengan bidang kajian lembaga.

Upaya tersebut diwujudkan dalam sebuah kegiatan nyata yaitu Diskusi Panel yang diikuti oleh dosen dan segenap civitas akademika serta organisasi-organisasi lain seperti Peradah, KMHD UI, KMHD UI, KMHB UNJ, KPSHD Jakarta Timur, serta organisasi kepemudaan Hindu lainnya. yang dinilai mampu berkontribusi dalam memangun atmosfer diskusi. Diskusi ini menjadi bagian yang intergral dari kegiatan akademik lembaga. Tujuan diadakannya diskusi adalah :

1. Mengembangkan Studi Kehinduan di Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta

2. Meningkatkan Kompetensi dosen dan civitas akademika dalam bidang penelitian dan penulisan jurnal ilmiah.

3. Penyediaan materi jurnal/berkala lainnya demi kontinuitas penerbitan.

Diskusi panel pertama yang diselenggarakan di Kampus STAH DN Jakarta pada tanggal 14 Agustus 2010 mengambil tema “REPRODUKSI PENGETAHUAN AGAMA DAN diskusidenga sub tema: Kedayatahanan Agama dan Budaya. Diskusi ini menghadirkan 3 orang panelis yakni dr. I Ketut Lilamurti, S.Ag., I Gusti Made Arya, S.Hum dan I Ketut Bantas, S.Ag, M.Fil.H. , dengan moderator Wayan Mirta Astawa, M.Pd. Pada kesempatan ini hadir pula Ketua STAH Dharma Nusantara Jakarta, Prof. Dr. Ir. I Made Kartika D., Dipl.-Ing, yang pada kesempatan itu memberikan pengarahan kepada seluruh peserta diskusi. Inti dari pengarahan tersebut adalah, belajarlah untuk mendengar, berpendapat serta menerima kritik namun tetap berada pada koridor etika akademik.

Sejalan dengan temanya yang memang menarik, diskusi kali itu berjalan cukup seru. Setiap panelis secara merata dihujani pertanyaan oleh para penanya. Para penanya tidak hanya didominasi oleh para dosen tetapi juga oleh mahasiswa dan tamu undangan. Salah satu panelis yang dihujani pertanyaan adalah dr. I Ketut Lila Murti yang ketika itu makalahnya mengangkat masalah pengkonversian agama, yang mana umat Hindu sering menjadi objek dari pengkonversian tersebut. Menurut panelis yang akrab disapa Pak Dokter ini, terjadinya pengkonversian terhadap beberapa umat disebabkan oleh dua faktor, yakni karena kelemahan dari sistem institusi yang memiliki tanggung jawab sebagai pengayom umat, serta derasnya arus politik fundamentalis keagamaan.

Khusus mengenai fundamentalisme keagamaan, banyak sekali pertanyaan yang menyangkut pautkan tentang terorisme. Sebagian besar penanya menilai terorisme sebagai gerakan radikal yang semakin lama semakin subur pertumbuhannya di negara ini. Jawaban dari pertanyaan tersebut coba dijelaskan oleh sdr I Gusti Made Arya Suta Wirawan, bahwa salah satu letak permasalahan dari berkembangnya terorisme di negeri ini adalah sikap permisif beberapa masyarakat terhadap pelaku teroris. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya sejumlah warga yang akhirnya menjadi tersangka karena menyembunyikan para pelaku teroris. Bahkan ada beberapa teroris yang sempat-sempatnya poligami dan sampai beristri empat. Dengan kata lain, selama tidak ada kesamaan tujuan di antara seluruh warga negara, maka teroris akan sulit untuk diberantas. Namun bagi bpk. Dr. IGN Arsana, penyebab atau biang keladi dari munculnya teroris adalah injustice (ketidak-adilan).

Kegiatan yang berlangsung selama 4,5 (empat setengah jam ini) berakhir pukul 14.30 WIB dengan tambahan waktu 30 menit dari yang direncanakan dalam jadwal pukul 14.00 WIB. Peserta yang datang ketika itu diberikan sertifikat. (ASW)