I Made Sudiada*
Sebuah Filosofi
Kata terlahir =manumadi (Maan duman) karena hidup adalah sebuah tugas.
Kata Meninggal = Matinggal terlepasnya Sang Hyang Sukme Sarira dari badan kasar ini (sukla sarira), selanjutnya sukma sarira inilah menuju mewali kegumine tis ( Nemu Tis) “Manunggal Kaula kelawan Igusti”
Syahdan ….Tersebutlah seorang bapak tua yang tinggal sendirian, jauh
dari desa Babahan di hutan Jatiluih, dia tinggal bertahun-tahun di sebuah gubuk bambu mungil yang dibangunnya sendiri di atas sebidang tanah terpencil di pinggiran hutan.
Ia menghidupi dirinya hanya dengan apa yang dihasilkan oleh tanaman yang ditanamnya serta apa yang bisa diperolehnya di hutan lepas dari hidup ketergantungan dari orang lain.
Seorang buruh tebang kayu dari Babahan Penebel Tabanan, yang biasa menebang kayu di hutan itu, adalah teman satu-satunya, yang singgah di gubuknya hanya kalau kebetulan mendapat perintah untuk menebang kayu dari dinas Perhutani, itu belum tentu tiga bulan sekali. Bapak tua itu bisa dibilang hidup sendiri, menyepi dan menyendiri, selama bertahun-tahun dijalani seperti ini, tertawa sendiri meringis sendiri terkadang menyanyikan tembang kamahayanika-pemahayon jagat dilantunkannya sendiri tanpa ada yang menterjemahkan apa makna, dan untuk siapa kidung kidung suci tersebut ritma lagunya hilang ditelan oleh riuhnya uraian daun cemara condong yang tertelan di kegelapan.
Suatu hari, ketika matahari condong ke Utara (utara-yana), si penebang kayu menyinggahinya. Pak Tua itu kelihatan sibuk menggali lubang di belakang gubuknya. disikut (diukur panjang dan lebar dirinya )
“Menggali lubang untuk apa Pak Tua?”, Tanya si penebang kayu itu dengan penuh keheranan.
Dengan sangat tenang Pak tua itu menjawab malahan sambil tersenyum seperti guyonan.
“Untuk kuburku”, jawabnya sambil menyeka keringat di dahinya sementara itu senyumnya semringah sepertinya yakin dengan kontraknya segera akan berakhir.
“Kuburan bapak?” sambil terperanjat si tukang kayu tersebut meyakinkan pertanyaannya.
“Ya …”, katanya seraya meletakkan cangkulnya, “kamu harus hadir
pada saat hari berbahagia itu tiba” kata pak Tua sambil penuharap.
“Tolong kuburkan tubuh renta ini di lubang ini”. Dengan nada yang sangat yakin.
“Kapan itu pak Tua?”
“Pada bulan Purnama bulan keempat ini”, jawabnya pasti dan melanjutkan penggaliannya tanpa menghiraukan si tukang kayu apakah itu benar atau sekedar guyonan, sepertinya untuk menggali rumah masa depannya sendiri sesuai (sikutnya) ukuran sendiri 2×1 meter.
Hampir tiga bulan kemudian mendadak si tukang kayu mendapatkan order dari Perhutani untuk menebang pohon jati yang rindang yang sangat dekat dengan pondok Pak Tua tersebut, tanpa disadari entah pituduh siapa sebelum menebang kayu, seperti dipaksa kakinya tuk melangkah menuju pondok pak tua tersebut, sambil menanyakan keadaannya.
Namun apa yang terjadi……. Si Tukang kayu itu melihat sekujur tubuh Pak tua itu tergeletak dilantai, sudah tak bernafas lagi, dicoba tuk menyadarkannya, rasanya masih hangat mungkin hanya beselang beberapa menit yang lalu Pak Tua ini menghembuskan nafasnya untuk terakhir kalinya….. Tukang Kayu mencoba mengingat hari ini hari apa….ternyata sangat bertepatan dengan -Purnaman Kapat, sesuai dengan yang pak Tua sebutkan ketika menggali kuburan untuk dirinya.
Pak Tua telah pergi untuk selamanya sambil tersenyum manis yang menghias bibirnya seolah olah mengucapkan selamat tinggal semuanya, kini aku telah menemukan suatu ke-abadian dialam yang kekal, inilah yang sesungguhnya disebutkan dengan “NEMU TIS dan
bukan NUMITIS”.
Dan sesuai pesan almarhum, usai menguburkan jasad temannya itu, si penebang kayu memancang plang papan kayu jati di sisi Timur
liang, yang bertuliskan: “LAHIR MENANGIS – MATI TERSENYUM”.
*) Mahasiswa STAH DN Angkatan 2010