STAH Dharma Nusantara Jakarta

PROSESI PUJAWALI SEBAGAI REFLEKSI ETIKA KEHIDUPAN

Disampaikan dalam Pujawali Pura Kertajaya Tangerang

Sabtu, 28 Nopember 2009

Ketut Budiawan*

“Om Swastyastu”

BG. III.10

Saha yajnah prajah srstva

Puravaca Prajapatih

Anena prasavsyadhvam

Esa vo stv-kama-dhuk

Artinya : Sejak dahulu dikatakan,Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yajna, berkata : dengan (cara) ini engkau akan berkembang sebagai mana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri).


Dari Sloka tersebut dipahami bahwa Brahman menciptakan manusia melalui yajna, demikian pula hendaknya manusia selalu melaksanakan yajna. Yajna secara etimologi (pengetahuan kata) artinya segala sesuatu yang berhubungan dengan “Korban”, Korban yang dimaksud adalah korban yang didasarkan dengan pengabdian dan cinta kasih. Sehingga sering Yajna disebutkan suatu korban suci yang dilakukan dengan perasaan tulus iklas dan tidak mengikatkan diri dengan hasilnya. Jika saja kita tulus melayani semua yaitu tulus melayani Suami,melayani Istri,melayani orang tua,melayani putra-putri kita dan melayani sesama umat manusia, maka apa yang kita impikan dan selalu diucapkan sebagi penutup dalam Tri Sanhya dan Kramaning sembah yaitu Shanti (kedamaian) akan kita dapatkan.

Mungkinkah ruang kedamaian itu dapat kita raih ?, ada beberapa proses yang harus kita pahami.

Umat sedharma yang saya hormati, hendaknya ada beberapa hal yang patut kita ketahui bahwa yajna memiliki 3 (tiga) kualitas, yaitu :

1. Jika kita melakukan yajna didasari dengan penuh kesadaran dan semata-mata itu semua adalah kewajiban maka ini yang dikatakan yajna yang Sattvam,

2. Jika seseorang melakukan yajna hanya semata-mata ingin dihormati,ingin terkenal dan ingin diketahui oleh orang lain bahwa dia mampu (unsur pamer) maka yajna ini memiliki kualitas Rajas,

3. Melakukan yajna tidak berdasarkan sastra,tidak pernah mendengarkan nasehat orang lain dan masabodo ini yang disebut yajna yang memiliki kualitas Tamas.

Bagaimana agar kita semua bisa mendapatkan kualitas sattvam ?

Dalam BG. XVII. 11-14 dijelaskan bahwa agar yajna memiliki kualitas sattvam harus memiliki standar yaitu :

1. Sraddha : dilakukan dengan penuh keyakinan dan kemantapan hati

2. Sastra : sesuai dengan petunjuk sastra

3. Gita : terdapat lagu-lagu pujian kepada Brahman

4. Mantra : terdapat doa-doa pujaan yang dihaturkan untuk memuliakan Brahman

5. Lascarya : dilakukan dengan penuh kesadaran dan ketulusan hati

6. Daksina : pemberian penghormatan berupa Rsi Yajna kepada sang Sadhaka (Pandhita maupun Pinandhita)

7. Annaseva : menjamu dengan senang dan tulus setiap tamu dengan makanan yang menyehatkan badan dan rohani

8. Nasmita : tidak ada unsur pamer atau jor-joran.

Dari penjelasan sloka diatas maka dapat dipahami bahwa jika etika-etika tersebut yang dilandasi dengan cinta kasih maka Om Avignam Astu prosesi pujawali yang kita laksanakan bersama bisa meraih kualitas yang sattvam, sehingga apa yang menjadi impian kita semua yaitu Santih (kedamaian) dapat kita raih.

Dalam hal ini jika prosesi pujawali kita korelasikan dengan kehidupan sehari-hari maka momentum ini merupakan refleksi etika kehidupan karena didalamnya terdapat nilai nilai : keyakinan, bhakti, kebersamaan, ketulusan yang semua itu dilandasi dengan cinta kasih. Maka dalam konteks ini dapat saya simpulkan bahwa, Cinta kasih :

1. Bila dikaitkan dengan pikiran dia menjadi kebenaran

2. Bila dijadikan dasar perbuatan dia menjadi Dharma,

3. Bila jiwa kita diisi dengan cinta kasih dia menjadi damai

4. bila cinta dan kasih menyatu menjadi satu kesatuan dia menjadi kasih sayang

5. Bila kita berpikir tentang cinta kasih maka tidak akan ada kekerasan

Maka dapat disebutkan bahwa cinta kasih adalah bahan pokok untuk : Satya (kebenaran), Dharma (kebajikan), Shanti (kedamaian), Prema (kasih sayang) dan Ahimsa (tanpa kekerasan).

Demikianlah yang dapat saya sampaikan semoga dapat menjadi reperensi dalam kehidupan kita dan kita memiliki cinta kasih yang universal serta memperoleh cinta kasih Brahman.

“Om Shanti, Shanti, Shanti.

* Penulis adalah Penyuluh Agama Hindu di Wilayah Kab. Tangerang dan Dosen STAH Dharma Nusantara Jakarta