STAH DN Jakarta Gelar Upacara Upanayana dan Samawartana 2025, Penanda Awal dan Akhir Proses Masa Brahmacari

Jakarta – Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara (STAH DN) Jakarta menggelar upacara Upanayana dan Samawartana pada Rabu,(24/9/2025), bertempat di Pura Aditya Jaya Rawamangun. Upacara yang berlangsung khidmat sejak pukul 09.00 hingga 12.30 WIB ini dipuput oleh Ida Pedanda Gede Panji Sogata.

Mengusung tema “Mahawidya Prajna, Integritas, Inovasi dan Unggul”, kegiatan ini menjadi penanda awal sekaligus akhir perjalanan pendidikan bagi mahasiswa Hindu. Sebanyak 24 mahasiswa baru mengikuti upacara Upanayana, sementara 48 lulusan mengikuti prosesi Samawartana.

Ketua panitia menyampaikan bahwa pelaksanaan upacara dilakukan secara luring dan daring untuk menyesuaikan kondisi peserta yang berasal dari berbagai daerah. “Upanayana dan Samawartana bukan hanya seremoni, tetapi bagian penting dari pembentukan karakter dan nilai-nilai dharma dalam dunia pendidikan Hindu,” ujarnya.

Simbol Awal dan Akhir Perjalanan Akademik

Dalam tradisi Hindu, Upanayana merupakan upacara spiritual yang menandai dimulainya perjalanan seorang siswa dalam menuntut ilmu. Mahasiswa dianggap memasuki tahapan brahmacari, yaitu masa belajar dengan penuh disiplin dan kesucian.

Sementara itu, Samawartana menjadi upacara yang menandai berakhirnya masa belajar. Bagi mahasiswa, prosesi ini bukan sekadar kelulusan, melainkan pengesahan untuk kembali ke masyarakat dengan membawa ilmu yang telah diserap selama masa studi.

Rangkaian Prosesi

Upacara diawali pukul 08.00 WIB dengan Mepuja, Astawa Puja, dan Penyucian Keliling yang dipimpin Ida Pedanda, didampingi sarathi banten, pinandita, dan panitia. Setelah itu, peserta memasuki utama mandala untuk menjalani prosesi ngelukat dan ngerajah, dilanjutkan sembahyang Trisandya hingga Krmaning Sembah.

Prosesi berlanjut dengan Mejaya-jaya, Natab Banten Upanayana dan Samawartana, nunas tirta, serta pemasangan karawista bagi seluruh peserta. Usai rangkaian inti, acara dilanjutkan dengan dharma wacana oleh Kol. Inf. (Purn) I Nengah Dana, S.Ag. yang menekankan pentingnya empat tahap kehidupan dalam Hindu. “Dalam catur asrama, tahap pertama adalah masa Brahmacari, yakni masa menuntut ilmu dengan disiplin dan kesucian diri. Masa ini menjadi pondasi untuk mencapai kebahagiaan dan keharmonisan hidup di tahap berikutnya,” jelasnya.

Setelah itu, acara diisi dengan sambutan Sekretaris Banjar Pura Aditya Jaya Rawamangun yang mewakili Ketua Banjar. Ia menegaskan dukungan banjar terhadap kegiatan keagamaan dan pendidikan Hindu. “Kami bangga Pura Aditya Jaya dapat menjadi ruang spiritual sekaligus akademik bagi generasi muda Hindu di Jakarta,” ujarnya.

Sambutan terakhir disampaikan oleh Ketua STAH Dharma Nusantara Jakarta. Dalam pesannya, ia menekankan pentingnya integritas dan inovasi mahasiswa Hindu. “Melalui Upanayana dan Samawartana ini, kami berharap mahasiswa STAH DN Jakarta tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan mampu mengabdi untuk masyarakat,” tuturnya.

Acara ini diharapkan mampu memperkuat identitas akademik dan spiritual mahasiswa Hindu serta menjadi inspirasi dalam menciptakan generasi intelektual yang berlandaskan dharma. Sebagai penutup, dilakukan sesi dokumentasi foto bersama seluruh peserta, panitia, dan tamu undangan sebagai penanda selesainya prosesi sakral tersebut.

admin
admin

Media Informasi & Komunikasi STAH Dharma Nusantara Jakarta, Intra Civitas Akademika, antar masyarakat dan umat se-dharma

Articles: 309