Ngayah Piodalan Pura Agung Wira Dharma Samudra

Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta pada Jumat, 13 Mei 2022 kembali melaksanakan kegiatan Ngayah dalam rangka piodalan yang dilaksanakan di Cilandak_Jakarta Selatan (13/05).

Pura Agung Wira Dharma Samudra diresmikan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh pada upacara Peresmian Penggunaan Pura Agung Wira Dharma Samudera, Minggu (25/5/2003) di Cilandak, Jakarta Selatan. Tentunya ini menjadi kebangaan bagi umat Hindu yang ada di wilayah Jakarta Selatan yang sudah mempunyai Pura sendiri dan pada Sabtu, 14 Mei 2022 juga akan dilaksanakan piodalan.

Pelaksanaan persiapan ini diikuti oleh umat yang ada di wilayah Jakarta Selatan dan dalam kesempatan ini dihadiri oleh Dosen dan Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Dharma Nusantara Jakarta. Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan pelaksanana pengabdian kepada masyarakat dengan program penyuluhan terprogram kepada umat.

Kegiatan yang diikuti dalam pelaksanaannya adalah pembuatan penjor,  banten, caru dan bersih-bersih lingkungan pura. Kegiatan yang dilaksanaka saat persiaapan pembuatan penjor dilaksanakan bersama dengan umat yang tinggal di wilayah Pura diikuti Dosen dan Mahasiswa yang ikut tergabung dalam tim.

Setelah persiapan pembuatan penjor dilanjutkan dengan proses penyelesaian penjor yang dirias semenarik mungkin. Kegiatan ini juga melatih nilai estetika bahwa pemujaan Tuhan ada nilai dan makna yang dituangkan melalui ritual dalam nuansa kebersamaan.

Di sisi lain ada pembuatan banten, caru dan bersih-bersih Pura  yang dilakukan oleh mahasiswa dan Dosen bersama dengan umat dan sarati banten yang ada di Pura tersebut. Proses pembuatan sarana upakara ini merupakan bagian dari pengejawantahan dari nilai-nilai ritual harus dibarengi dengan pemaknaan yang diterapkan dalam kehidupan.

Pembuatan banten  atau sarana yadnya dalam Lontar Yadnya Prakerti memiliki tiga arti sebagai simbol ritual yang sangat sakral. Dalam Lontar tersebut Banten disebutkan : Sahananing Banten Pinake Ragante Tuwi, Pinake Warna Rupaning Ida Batara, Pinaka Anda Bhuwana. Dalam Lontar ini ada tiga hal yang dibahasakan dalam wujud lambang oleh Banten yaitu:

  1. Pinaka Raganta twi artinya banten adalah lambang dirimu atau diri kita, contohnya adalah Banten Tataban Alit, Banten Peras, Penyeneng dan Sesayut.
  2. Pinaka Warna Rupaning Ida Batara artinya Banten merupakan Lambang Kemahakuasaan Tuhan, contohnya adalah banten dewa-dewi.
  1. Pinaka Anda Bhuwana artinya banten merupakan Lambang Alam Semesta (Bhuwana Agung), contohnya adalah pebangkit, pulegembal dan lain-lain.

Selanjutnya Banten disebut juga upakara yang merupakan bagian terpenting dari Upacara Yadnya. Dalam Kitab suci Bhagawadgita XVII: 11,12, dan 13 menyebutkan ada tiga tingkatan Yadnya dilihat dari segi kualitasnya, yaitu:

  1. Tamasika yadnya, yaitu tanpa mengindahkan petunjuk-petunjuk sastranya
  2. Rajasika yadnya, yaitu dilakukuan untuk pamer saja.
  3. Satwika yadnya, yaitu yadnya yang dilakukan berdasarkan petunjuk sastra.

Berdasarkan penjelasan lontar ini jelas menunjukan bahwa ada upaya nyata yang dilakukan oleh umat dalam mewujudkan ritual yang tidak hanya sekedar rutinitas melainkan ada upaya sublimasi pemahaman yang ada pada setiap individu. Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini menjadi bentuk implementasi bahwa Perguruan Tinggi ikut terlibat dalam kegiatan keumatan. Ketua STAH DN  Jakarta I Made Sutresna, S.Ag., MA menegaskan “bahwa pemaknaan pengabdian kepada masyarakat ini wujud nyata dosen dan mahasiswa hadir di tengah-tengah umat Hindu”, tegasnya.

Ketua Lembaga Penelitian, Pengembangan dan Pengabdian Kepada  Masyarakat Drs. I Wayan Budha, M.Pd juga memberikan penguatan tentang upaya dan program dari STAH DN Jakarta yang akan melaksanakan kegiatan sejenis yang ada di Pura Se-Jabodetabek yang melibatkan dosen dan mahasiswa bahkan mengajak alumni dan stakeholder untuk mewujudkan sinergi kelembagaan.

 

Penulis: Untung Suhardi.