Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Oleh
I Made Adi Surya Pradnya*)
Abstrak
Perkembangan pengetahuan saat ini begitu pesat, termasuk pada kajian dalam ajaran Hindu yang disesuaikan dengan metode penelitian, pengajaran dan pendidikan modern. Sehingga ilmu monodipliner menjadi multidipliner bahkan interdisipliner. Oleh karena itu, adanya lembaga pendidikan Agama Hindu bekerja keras melakukan kajian, sehingga agama Hindu dapat diterima sebagai sumber pengetahuan. Termasuk mengkaji konsep komunikasi dalam epsitemologi sabda pramana yang dalam darsana (filsafat india). Dalam kajian tersebut terdapat istilah laukika dan waidika, dimana pengetahuan di dapat melalui komunikasi atau dialog dari informan yang mengetahui ajaran Hindu kepada umat yang bertanya tentang ajaran tersebut, serta kitab suci sebagai kebenaran pengatahuan yang paling sujati dan tidak dapat dibantah atas kebenaranya itu.
Berdasarkan ajaran Hindu yang universal, laukika adalah konsep komunikasi Hindu yang menjadi sumber pengetahuan, pada zaman dahulu pengetahuan diperoleh dari maharsi kepada sisya dalam bentuk upanisad. Waidika adalah konsep komunikasi Hindu, dimana pengetahuan diperoleh atas kebenaran Weda sebagai kitab suci Hindu, pada teks suci terdapat dialog atau percakapan para dewa, maharsi, raja dan lain sebagainya. Konsep komunikasi Hindu Laukika dan Waidika berkembang saat ini khusunya di Indonesia dalam mendapatkan pengetahuan melalui metode penelitian, sehingga laukika adalah informan kunci yang mampu memberikan pengetahuan tentang objek penelitian dan waidika adalah pengetahuan tertinggi dalam menjelaskan objek penelitian, sehingga hasil penelitian mencapai kebenaran. Laukika dan waidika merupakan media penyebaran agama Hindu melalui enam metode pembinaan umat Hindu, sehingga ajaran Hindu berkembang selamanya (anadi ananta).
Kata Kunci: Laukika dan Waidika, Konsep Komunikasi Hindu dan epistemologi sabda pramana
Perkembangan Agama Hindu khususnya dalam bidang pendidikan terus mengalami kemajuan. Hal ini disebabkan salah satunya peranan dari perguruan tinggi Agama Hindu yang berkretifitas dan berinovasi, bahkan dengan banyaknya berdiri sekolah maupun kampus bernuansa Hindu di nusantara, merupakan kemajuan pendidikan dalam agama Hindu sebagai perlawanan dari kebodohan atau ketidaktahuan umat Hindu dalam memahami keberadaan eksoterik dari ajaran agamanya.
Kemajuan dari dunia pendidikan yang berkembang di nusantara, telah menyebabkan pemikiran beragama Hindu tidak saja mengkaji ajaran agama Hindu yang pure saja, melainkan menjadi grand teori dalam bidang disiplin keilmuan lainya dan hal ini sesuai dengan perkembangan teori keilmuan di zaman postmodern, yaitu disilpin keilmuan telah menjadi multidisiplin dan agama dijadikan pedoman dasar dalam mengkaji keilmuan lainya. Seperti halnya teori komunikasi yang merupakan ilmu umum bagi masyarakat, sehingga dalam ajaran Hindu dapat mengkaji ilmu komunikasi. Ajaran Hindu dapat dijadikan refrensi bagi perkembangan ilmu selanjutnya, meskipun diperlukan metode dan pemikiran yang sesuai arah keilmuan dan terbatas sumber daya manusia dalam mengkaji ilmu ini, hal ini mesti diberikan apresiasi atas pemikiranya.
Pada ajaran darsana yang merupakan ajaran filsafat India dengan pembahasannya meliputi beberapa aspek materi yaitu etika, epistemologi dan metafisika atau yang berkaitan dengan ketiga hal itu. Uraian pembahasannya tetap dalam lingkup agama Hindu yang meliputi aspek Brahman, Atman, Karma, Punarbawa dan Moksa, karena pada hakikatnya darsanam bersumber dari kitab-kitab upanisad (Sumawa; Krisnu, 1996: 3). Bentuk dari epistemologi dalam darsana yang merupakan cara mendapatkan pengetahuan, sesuai dengan pengertian dari epistemologi atau filsafat pengetahuan, yaitu menjelaskan bahwa pada dasarnya epistemologi merupakan suatu upaya rasional untuk menimbang dan menentukan nilai kognitif pengalaman manusia dalam interaksinya dengan diri, lingkungan sosial dan alam sekitarnya. Epistemologi adalah suatu disiplin ilmu yang bersifat evaluative, normative dan kritis. Evaluative berarti bersifat menilai, ia menilai apakah suatu keyakinan, sikap, pernyataan pendapat, teori pengetahuan dapat dibenarkan, dijamin kebenaranya atau memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawablan secara nalar. Normative berarti menentukan norma atau tolak ukur dan dalam hal ini tolok ukur kenalaran bagi kebenaran pengetahuan. Normatif berarti menentukan norma dan tolok ukur dan dalam hal ini tolok ukur kenalaran bagi kebenaran pengetahuan. Kritis berarti banyak mempertanyakan dan menguji kenalaranan cara maupun hasil kegiatan manusia mengetahui (Sudarminta, 2002: 18-19).
Pemikiran berupa epistemologi dalam darsana secara umum dapat dibedakan menjadi tiga yaitu Tri Pramana yang terdiri dari Pratyaksa (pengamatan), anumana (penyimpulan) dan sabda (kesaksian). Pada ilmu komunikasi tri pramana adalah bagian dari pengertian komunikasi, yaitu menjelaskan fenomena yang berkaitan dengan produksi, proses dan pengaruh sistem dan lambang yang dipergunakan manusia dalam berkomunikasi. Komunikasi merupakan kumpulan pengetahuan berdasarkan fakta, baik dari pengamatan maupun dari hasil riset yang disusun secara sistematis menurut kaidah atau metode ilmiah dan secara normative hasilnya dapat diterapkan untuk meningkatkan kematangan dan kearifan dalam pribadi seseorang, maupun hubunganya dengan orang lain dalam bermasyarakat (Cangara, 2012: 13).
Epistemologi dalam darsana yang diperoleh melalui sabda pramana yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui kesaksian (sabda) dari seseorang yang dapat dipercaya dari kata-katanya maupun naskah-naskah yang diakui kebenaranya. Dalam hal ini terdapat dua kesaksian yaitu Laukika Sabda dan Waidika Sabda. Laukika sabda adalah bentuk kesaksian dari orang yang dapat dipercaya dan kesaksianya dapat diterima menurut logika dan akal sehat. Sedangkan Waidika Sabda adalah bentuk kesaksian yang didasarkan pada naskah-naskah suci veda sruti yang merupakan sabda Brahman yang tak mungkin salah. Kedua istilah ini, dikaji sebagai bentuk konsep ilmu komunikasi Hindu dalam kajian epistemologi sabda pramana dalam darsana. Pada pembahasan dikaji tentang konsep teoritis dan praktis dalam kehidupan masyarakat. Laukika yang menjadi konsep komunikasi Hindu; Waidika dalam konsep komunikasi Hindu; laukika dan waidika dalam metode penelitian; serta implementasi laukika dan waidika pada masyarakat.
Pembahasan yang diulas dan dikaji sesuai dengan sistematika berdasarkan ilmu komunikasi umum, kemudian dijabarkan melalui ajaran Hindu. khususnya dalam darsana, yaitu epistemologi sabda pramana. Dengan demikian diharapkan pemikiran ini dapat memperkaya refrensi Agama Hindu, khususnya berkaitan pada kajian komunikasi.
Pengertian dari laukika dalam epistemologi sabda pramana, yaitu bentuk kesaksian yang berasal dari orang yang dapat dipercaya dan kesaksianya dapat diterima menurut logika dan akal sehat (Maswinara, 2006: 134). Berdasarkan pengertian laukika itu, maka secara definisi maupun konsep laukika adalah sesuatu yang diungkapkan berdasarkan kesaksian yang dapat diterima secara logika. Hal ini sesuai definisi logika dalam bahasa latin disebut logos yang berarti perkataan atau sabda. Istilah lain yang dipergunakan sebagai gantinya adalah mantiq, kata arab yang berasal dari kata nataqa yang berarti berkata atau berucap (Mundiri, 2009: 1-2).
Laukika yang artinya berkata atau berucap yang disampaikan kepada seseorang kepada orang lain inilah yang disebut dengan komunikasi. Perkembangan komunikasi dalam laukika adalah lebih menekankan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan. Hal ini sesuai dengan konsep dari Tri Hita Karana yaitu tiga penyebab kebahagiaan.
Pada ajaran darsana, khususnya berkaitan dengan sad darsana kebenaran yang disampaikan berdasarkan laukika adalah disampikan oleh mereka yang telah bergelar maharsi. Keberadaan dari maharsi adalah mereka yang telah mengetahui tentang ajaran yang diwahyukan oleh Tuhan. Para penerima wahyu inilah kemudian membuat dan menyusun kembali kitab suci Weda, sehingga dapat dipelajari sampai saat ini. Seorang maharsi adalah tokoh pemikir dan ahli agama, ia juga seorang jnanin, filosuf dan pejuang dalam bidang agama. Ia adalah penyebar ajaran agama dan sekaligus moralis, singkatnya guru dengan berbagai sifat istimewa yang serba mulia. Ia rendah hati dan tahan uji, ia memiliki pendangan yang luas dan mampu menatap masa depan, mampu mengendalikan indrianya, suka melakukan tapa, brata, yoga dan samadhi, karena itu ia senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai ahli agama ia adalah pengayom yang memberikan keteduhan dan kesejukan pada siapa saja yang datang untuk memohon bimbinganya (Titib, 1996: 37).
Begitu mulianya para maharsi dalam menyebarkan ajaran agama Hindu patutnya komunikasi kepada para penganut ajaran Hindu, menjadikan ajaran Agama Hindu bersifat anadi ananta, tidak berawal dan berakhir serta abadi sampai akhir zaman. Begitu pula pada zaman upanisad, yaitu sekelompok sisya (murid) duduk dekat dengan sang guru untuk mempelajari dan mengkaji masalah yang hakiki dan men
yampaikan kepada para sisya di dekat mereka. Upanisad berisi ajaran tentang ketuhanan yang gaib dari suku kata aum. Apabila pertanyaan timbul mengenai akhir dari umat manusia, yajnavalkya membisikan jawaban kepada salah seorang muridnya. Bentuk komunikasi dalam Hindu untuk mengetahui rahasia alam semesta, menurut Chandogya Upanisad adalah ajaran
Brahm
an boleh disampikan dari sang ayah kepada anak tertua atau kepada murid terpercaya dan tidak kepada orang lain, walaupun orang tersebut menyerahkan seluruh bumi beserta segala hart
anya (Radhakrishna
n, 2008: 4-5).
Gambar: Upanisad, Maharsi memberikan ajaran Ketuhanan (http://gosai.com/sites/gosai/files/articles/sadhus_3.6.jpg)
Pada ilmu komunikasi, pastilah terdapat orang yang menyampaikan dan menerima sebuah pesan, termasuk ajaran suci sekalipun yang disampaikan maharsi kepada para sisiyanya. Berikut adalah gambar bagan model komunikasi menurut Lasswell’s yang telah dikembangkan dari model komunikasi Aristoteles.
Berdasarkan gambar bagan di atas Lasswell’s melihat bahwa suatu proses komunikasi selalu memiliki efek atau pengaruh. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau model lasswell banyak menstimuli riset komunikasi, khususnya di bidang komunikasi massa (Cangara, 2012: 46). Disamping itu pula, sebuah komunikasi terbangun apabila telah memenuhi beberapa unsur-unsur dalam komunikasi, yaitu pengirim (source), pesan (message), saluran/media (channel), penerima (receiver) dan akibat/ pengaruh (effect). Unsur-unsur ini disebut juga elemen komunikasi (Cangara, 2012: 25).
Ajaran agama Hindu yang diperoleh berdasarkan epistemologi sabda pramana, khususnya Laukika adalah pengetahuan yang disampaikan oleh pengirim atau speaker dalam hal ini adalah Maharsi (penerima wahyu Tuhan) dengan pesan yang disampikan adalah ajaran tentang kemaha kuasaan Tuhan beserta alam semesta dan bagaimana manusia dapat mencapai pelepasan dan menyatu dengan Tuhan. Media yang disampaikan dapat berupa asram atau tempat untuk menyampaikan ajaran rahasia dengan verbal maupun nonverbal. Penerima dari ajaran maharsi ini adalah para bhakta atau sisya, yang kemudian mendapat ajaran rohani mengolah batin untuk mencapai penyatuan Tuhan. Dengan adanya pesan yang disampikan maharsi kepada para sisya, maka sangat diharapkan ajaran yang disampaikan dapat dilaksanakan dan kemudian di share kan kembali kepada umat lainya, sehingga ajaran Agama Hindu tetap dapat berkembang sampai saat ini.
Ajaran yang telah disampikan berabad-abad yang lalu kepada para bhakta dan sisya dalam garis aguron-guron, kemudian diimplementasikan kepada seluruh umat Hindu di dunia dan pemikiran-pemikiran dari para maharsi banyak pula dipergunakan oleh penganut agama lain. Begitu pula dalam perkembangan ilmu dan teknologi, sehingga laukika adalah bentuk komunikasi yang sangat efektif dalam mendapatkan pengetahuan, khususnya pengetahuan tentang rohani.
Waidika adalah bentuk kesaksian yang didasarkan pada naskah-naskah suci Weda sruti yang merupakan sabda Brahman yang tak mungkin salah (Maswinara, 2006: 134). Kebenaran yang disampaikan pada ilmu adalah pada batasan hasil rizet, sedangkan pengetahuan yang benar dalam suatu agama adalah pada kitab sucinya. Karena kitab suci adalah wahyu Tuhan, yang sudah benar di uji kebenaranya. Oleh karena itu, setiap umat beragama harus menuruti dan taat pada kitab sucinya.
Sebagai salah satu syarat dari berdirinya suatu agama, maka haruslah memiliki kitab suci, yang dijadikan pedoman oleh umat dalam melangsungkan kehidupanya. Hal ini sesuai dengan definisi Frazer tentang agama, yaitu mencari kekuatan yang lebih tinggi dari manusia, yaitu kekuasaan yang disangka manusia dapat mengendalikan, menahan/menekan kelancaran alam kehidupan manusia (Tumanggor, 2014: 73). Kekuatan yang lebih tinggi dari manusia dimaksudkan adalah Tuhan atau Brahman. Untuk mencapai Brahman, maka manusia harus tahu jalan Tuhan dan salah satu untuk mengetahui itu adalah memahami kitab suci dalam hal ini adalah Weda. Hal ini juga disampaikan dalam epistemologi nyaya darsana, bahwa Weda adalah wahyu Tuhan, maka itu kesaksian Weda dipandang sebagai yang paling sempurna dan tidak dapat salah. Akan tetapi kesaksian manusia tidaklah demikian, dia baru dipandang benar bila orang yang menyaksikanya adalah orang yang dapat dipercaya (Sumawa dan Krisnu, 1996: 59).
Pada ilmu komunikasi, dalam penyampaian pesan diperlukan sebuah media, karena media adalah alat atau sarana yang dipergunakan untuk menyampikan pesan dari komunikator kepada khalayak (Cangara, 2012: 137). Berdasarkan hal tersebut kitab suci adalah sebagai media dalam memahami keberadaan Tuhan dan pencapaian tujuan tertinggi dari Agama Hindu, yaitu Moksatam Jagadhita ya ca iti dharma.
Bagi umat Hindu keberadaan kitab suci Weda, banyak yang belum memahami secara eksoteriknya, karena selama ini Weda bagi masyarakat Hindu khususnya di Indonesia sangatlah banyak. hal ini lah yang menyebabkan banyak dari umat Hindu yang tidak mengenal ajaran kitab sucinya, namun dengan adanya pembahasan bahasa kawi dari Weda berlahan-lahan umat Hindu mulai memahami ajaran yang diwahyukan oleh Tuhan. Selain itu kitab suci Weda yang telah dibahasa jawa kawi tersebut dibuat di atas daun lontar dan itu menjadi salah satu pegangan bagi umat Hindu, khususnya di Indonesia.
Salah satu alasan, Hindu memiliki banyak kitab suci, dijelaskan dalam Wraspati Tattwa, yang mengisahkan komunikasi antara Bhagawan Wraspati dengan Dewa Siwa, yaitu:
Berdasarkan kutipan teks di atas menunjukan bahwa didalam kitab suci terdapat komunikasi, pada umumnya dialog antar para dewa, para dewa dengan maharsi, para dewa dengan para raja. Oleh karena itulah, kebenaran dari kitab suci adalah pengetahuan yang paling hakiki dan tak terbantahkan lagi, sehingga para umat Hindu menjadikan kitab sucinya sebagai pedoman hidupnya.
Komunikasi dari segi bentuk sistem dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni sistem terbuka (open system) dan sistem tertutup (closed system). Sistem terbuka adalah sistem di mana prosesnya terbuka dari pengaruh lingkungan yang ada di sekitarnya, sedangkan sistem yang tertutup adalah sistem di mana prosesnya tertutup dari pengaruh luar. Dalam penerapanya, sistem terbuka banyak ditemui pada peristiwa-peristiwa sosial di mana suatu kegiatan banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor luar, misalnya agama (Cangara, 2012: 60).
Pengaruh dari kitab suci yang dijadikan pedoman dalam beragama dengan sistem terbuka contohnya: dijadikan sebagai media dalam penyampaian ajaran Hindu, disamping itu pesan dari komunikasi para dewa dijadikan panutan dan dianalisis, sehingga mampu menjawab setiap permasalaahn yang dihadapi umat. Pengetahuan yang suci dalam kitab suci khususnya mengenai filsafat ketuhanan mengantarkan umat manusia menjadi lebih baik. Apalagi dengan adanya berbagai bentuk dari kitab suci Hindu merupakan suatu hal yang patut dibanggakan, karena Tuahn telah mengetahui bahwa manusia yang lahir ke dunia memiliki yoni dan vasana yang berbeda-beda. Oleh karena itu, umat manusia dapat memilih wahyu Tuhan sesuai dengan kebutuhan dalam hidupnya dan menjadi tuntunan dalam penyempurnaan sang diri. Terlebih saat ini kitab suci telah disalin dan diterjemahkan untuk memudahkan umat Hindu memahami Tuhan.
Syarat ilmu adalah harus bersifat objektif, sistematis, bermetode dan bersifat universal. Pada kebenaran ilmu, maka diperlukan metode penelitian sebagai cara untuk mendapatkan pengetahuan yang sebenarnya. Salah satu cara mendapatkan pengetahuan tersebut adalah melakukan penelitian dan sebelum melakukan rizet, maka seorang peneliti mesti mengetahui metode penelitian. Perkembangan pengetahuan yang pesat, metodologi penelitian juga mengkaji berbagai hal, termasuk pula metodologi penelitian agama.
Seorang guru besar antropologi di New York University Amerika Serikat berpendapat bahwa penelitian agama (research on religion) berbeda dengan penelitian keagamaan (religious research). Yang pertema lebih menekankan pada materi agama, sehingga sasaranya adalah tiga element pusat, yaitu ritus, mitos dan magik. Yang kedua lebih menekankan kepada agama sebagai sistem atau sistem keagamaan. Berdasarkan tujuan penelitian yang hendak dicapai, penelitian dapat dibedakan menjadi (a) eksploratif; (b). deskriptif; (c). historis; (d). korelasional, (e). ekperiment dan (f). kuasai-eksperimen (Maman, dkk, 2006: 10 & 24). Bagi para akademisi maupun mahasiswa yang hendak menyelesaikan tugas akhirnya, tentu membuat skripsi, entah itu penelitian lapangan maupun teks dengan jenis penelitian kualitatif atau kuantitatif.
Penelitian terhadap agama, mendapat apresiasi dalam kemajuan pengetahuan, seperti yang dituliskan oleh Kaelan (2010, 20-21), bahwa metode penelitian terhadap agama, tidak saja dilakukan dengan monodipliner, melainkan berkembang menjadi multidipliner dan terakhir interdispliner. Ilmu monodisipliner merupakan suatu bidang ilmu tersendiri dengan objek formal dan material tertentu, serta metode ilmiah tersendiri. Ilmu multidisipliner merupakan suatu interkoneksi antara ilmu satu dengan lainya, namun masing-masing bekerja bekerja berdasarkan disiplin dan metodenya masing-masing. Sedangkan ilmu interdispliner adalah kerjasama antara ilmu satu dengan lainya, sehingga merupakan suatu kesatuan dengan satu metode tersendiri.
Berdasarkan hal di atas, penelitian agama interdisipliner dapat dikombinasikan dengan dispilin ilmu yang lainya, seperti teo-politik Hindu, sosio-teologi Hindu dan lain sebagainya. Hal ini lebih menguatkan kembali eksistensi agama dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi. Adapun sumber data dalam metode penelitian, terdiri dari sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer adalah data yang diperoleh dan dikumpulkan dari sumber pertama dan data sekunder adalah data yang diperoleh bukan dari sumber pertama, sumber kedua, ketiga dan seterusnya. Jadi data yang memiliki tingkat keautentikan yang paling tinggi adalah data primer, bukan data sekunder (Prastowo, 2011: 204-205). Sumber data primer dalam penelitian lapangan yaitu melalui wawancara, wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleang, 2001: 135), sedangkan data sekunder dalam penelitian lapangan terdiri dari buku-buku, majalah, jurnal maupun kepustakaan lainya.
Berdasarkan hal tersebut di atas, eksistensi dari konsep epistemologi agama Hindu laukika dan waidika sabda pramana adalah sumber pengetahuan di dalam metode penelitian, yang bertujuan mendapat kebenaran pengetahuan melalui penelitian. Implementasi konsep komunikasi Laukika dalam penelitian adalah mereka yang dianggap mengetahui dan dipercaya mengetahui tentang keberadaan dari objek penelitian, dalam hal ini khusus pada penelitian agama Hindu, sehingga perlu ditentukan sampel. Sampel dalam penelitian kualitatif, dijelaskan oleh Sugiyono (2010: 301) yaitu peneliti ketika memulai memasuki lapangan dan selama penelitian berlangsung, peneliti memilih orang orang tertentu yang dipertimbangkan akan memberikan data yang diperlukan; selanjutnya dari data atau informasi yang diperoleh dari sampel sebelumnya itu, peneliti dapat menetapkan sample lainya yang dipertimbangkan akan memberikan data lebih lengkap. Tentunya orang yang dipilih sebagai seorang informan adalah mereka yang tahu dalam objek penelitian, seperti bendesa adat, jro mangku, sulinggih dan lain sebagainya.
Waidika pada metode penelitian adalah sumber utama yang dipergunakan untuk memperkuat argument dari informan, waidika dipergunakan dengan mengutip teks-teks suci dari objek penelitian yang dikaji. Oleh karena itu, pengetahuan dari hasil penelitian menjadi lebih akurat, karena sumber kebenaran dari agama adalah dalam kitab suci. Kajian kitab suci dijadikan sumber data primer dengan peneliti mengkaji sebuah kitab suci maupun teks suci, seperti mengkaji lontar tentang ajaran Agama Hindu. Untuk menguatkan data penelitian, peneliti wajib mampu menganalisis sloka-sloka dalam kitab suci agar data dan tujuan dari penelitian dapat tercapai.
Laukika dan waidika sebagai epistemologi sabda pramana, memberikan komunikasi yang kemudian menjadi media penyebaran agama, karena sumber pengetahuan dapat disampikan dari orang yang terpercaya dan berdasarkan kitab suci. Hal ini kemudian di implementasikan berdasarkan kehidupan modern, sehingga ajaran agama Hindu dapat eksis sampai saat ini.
Pemahaman umat Hindu terhadap ajaran agamanya yang filosofis berdasarkan kitab suci tidak dipahami, karena berdasarkan historisnya legalitas formal Agama Hindu kalah jauh dengan pengakuan agama lain yang diakui di Indonesia. yaitu Agama Hindu diakui pada tahun 1958 sebagai agama resmi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Oleh karena itu, sangat diperlukan kesiapan para tokoh Hindu untuk membentuk lembaga umat yang disebut Parisada Dharma Hindu Bali (1959) dan pada tahun 1964 Parisada Dharma Hindu Bali diganti namanya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Pada saat ini, mulailah membangun agama Hindu berdasarkan dimensi eksoteriknya yang dilakukan dengan penerbitan buku agama Hindu, pesamuan agung, mahasabha dan mendirikan lembaga pendidikan agama, seperti PGAH, IHD dan STKIP (Lama dalam Nurkanca, 2009: 154-155).
Berdasarkan hal tersebut di atas, Agama Hindu yang terlembaga masih sangat awam bagi kepercayaan Hindu di nusantara, sehingga pembinaan dan pemahaman umat Hindu terhadap ajaran Hindu yang eksoterik tidak dipahami secara utuh. Apalagi pemahaman teks maupun kitab suci dari Agama Hindu serta ritual Agama Hindu yang murni (pure vedic) tidak dipahami dalam bentuk religiusitas. Dengan demikian, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta berdirinya sekolah agama Hindu, harus bekerja keras mengejar ketertinggalan dalam pembinaan umat Hindu, agar umat Hindu dapat lebih mengenal, memahami, mengerti tentang agamanya, terutama pemahaman umat Hindu terhadap kitab sucinya.
Pesamuhan Agung (semacam rapat kerja nasional) tahun 1990 telah menetapkan 6 metode pembinaan umat, yang terdiri dari: Dharma Wacana, Dharma Tula, Dharma Gita, Dharma Sadhana, Dharma Yatra, dan Dharma Santi. Melalui metode tersebut pembinaan terhadap umat Hindu di Indonesia diharapkan lebih efektif dilaksanakan. Berikut penjelasan dari enam metode pembinaan umat Hindu:
Gambar: Dharma Wacana sebagai media implementasi Laukika dan Waidika dalam penyebaran Agama Hindu
(sumber: penulis, 2014)
Berdasarkan dengan enam metode pembinaan umat beragama di atas laukika dan waidika adalah sumber informasi dari pengetahuan tentang ajaran Hindu dan dapat pula dikatakan sebagai media penyebaran ajaran Hindu. Media dari kitab suci yang merupakan wahyu Tuhan, seiring perkembangan zaman kini dapat diakses dengan mudah, melalui digitalisasi termasuk dalam media internet. Kecanggihan dari teknologi ini, membuka jendela dunia. Hal ini dikarenakan computer yang berbasis internet akan menjadi perpustakaan dunia yang dapat di akses melalui satu pintu yang namanya world wide word (www.). Internet juga menjadi media informasi surat kabar,program film, buku baru, serta lagu-lagu (Cangara, 2012: 155). Apalagi dengan kitab suci yang dapat di bawa dalam Handphone cukup mengakses internet, maka ajaran Hindu dalam kitab suci langsung dapat di baca bahkan didengarkan dengan audio dalam sofewear yang telah di buat. Berdasarkan hal ini lah kemudian ajaran Hindu terus berkembang dan mengikuti perkembangan zaman.
Selain penyebaran agama Hindu melalui media internet. Laukika dan waidika yang dipercaya oleh umat Hindu, khsusnya di nusantara saat ini adalah mereka yang telah diupacarai dengan upacara pawintenan atau diksa, yaitu bergelar jro mangku atau setelah di diksa bergelar sulinggih. Kedua rohaniawan ini pula dipercaya oleh lingkungan masyarakat atau sosial untuk memberikan pengetahuan tentang ajaran kebenaran dalam Hindu. Seperti pada gambar di bawah ini menunjukan Jro Mangku Dalang melakukan sebuah prosesi upacara melalui media wayang yang menyampaikan isi dari kitab suci berisi filsafat kehidupan mencakup di dalamnya filsafat ketuhanan. Sampai saat ini media wayang sangat digemari oleh umat Hindu, sehingga pesan yang disampikan Jro Mangku Dalang dapat diterima oleh masyarakat yang menyaksikan pertunjukan seni wayang.
Gambar: Implementasi konsep komunikasi Laukika dan Waidika dalam bentuk seni sakral wayang (sumber: penulis, 2014)
Hal di atas menunjukan tentang epistemologi sosial yang merupakan bagian dari macam-macam epistemologi. Pengertian dari epistemologi sosial adalah kajian filsosofis terhadap pengetahuan sebagai data sosiologis. Bagi epistemologi sosial, hubungan sosial, kepentingan sosial dan lembaga sosial dipandang sebagai faktor-faktor yang amat menentukan dalam proses, cara, maupun pemerolehan pengetahuan. Dalam upaya ini filsafat perlu memperhatikan apa yang disumbangkan oleh ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan dalam kajiannya mengenai sistem-sistem sosial dan kebudayaan, khususnya dalam melihat dampak pengaruhnya bagi pengetahuan manusia (Sudarminta, 2002: 23). Pengetahuan yang dapat diterima oleh masyarakat inilah yang dipertimbangkan, agar ilmu atau ajaran Hindu dapat lebih membumi sehingga mudah dipraktekan, salah satu caranya adalah melaksanakan tradisi budaya masyarakat maupun dengan kesenian yang sakral maupun propan.
Laukika merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui dialog dengan mereka yang mengetahui ajaran rahasia mencapai ketuhanan dalam hal ini terdapat pada darsana (filsafat india). Pada zaman dahulu laukika diperoleh dengan upanisad, yaitu duduk di bawah sang guru sambil mendengarkan ajaranya. Para pemberi upanisad ini adalah maharsi yang dipercaya sebagai penerima wahyu. Oleh karena itu, laukika adalah konsep komunikasi dalam ajaran Hindu yang terdapat dalam epistemologi sabda pramana yang diperoleh dengan dialog antara sang guru dengan sisiya.
Waidika dalam epistemology sabda pramana berarti pengetahuan diperoleh melalui kitab suci dan kebenearan dari kitab suci adalah mutlak, yaitu kebenaran yang tidak dapat terbantahkan lagi dengan pengetahuan lainya. melalui kitab suci inilah umat mengetahuai rahasia alam semesta dan dalam kitab suci pula, ada dialog antara para dewa, dewa dengan maharsi, dewa dengan raja, raja dengan raja dan lain sebagainya, sehingga kitab suci menjadi media penghubung antara umat dengan Tuhanya.
Laukika dengan waidika dalam epistemology sabda pramana sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka kebenaran sains adalah dengan mengadakan penelitian atau rizet. Pada metodologi penelitian, laukika dan waidika adalah sumber data, yaitu data primer maupun data sekunder, yang diperoleh melalui wawancara dengan orang yang dipercaya mampu memberikan penjelasan dari objek penelitian dan analisis dari kitab suci yang dapat menjelaskan objek penelitian, dengan demikian segala masalah dalam penelitian dapat dipecahkan dengan sloka yang terdapat dalam kitab suci Hindu, sehingga menemukan kebenaran pengetahuan yang sejati.
Perkembangan selanjutnya laukika dan waidika menjadi media penyebaran agama Hindu yang dilakukan dengan enam metode pembinaan umat Hindu, sehingga terjadi interaksi antara pemberi dan penerima yang berdampak ajaran Agama Hindu dapat disebarkan dan umat lebih memahami tentang ajaran Hindu. Proses penyampaian pembinaan ajaran Hindu ini adalah wujud implementasi dari ajaran laukika dan waidika sebagai komunikasi umat Hindu dalam epsitemologi sabda pramana.
*) Penulis adalah Dosen IHDN Denpasar
DAFTAR PUSTAKA
Cangara, Hafied, 2012. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Kaelan, H, 2010. Metode Penelitian Agama Kualitatif Interdisipliner. Yogyakarta: Paradigma
Maman, dkk, 2006. Metodologi Penelitian Agama Teori Dan Praktik. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Maswinara, I Wayan, 2006. Sistem Filsafat Hindu. Surabaya: Paramita
Mundiri, H, 2009. Logika. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Nurkancana, Wayan. 2009. Menguak Tabir Perkembangan Hindu. Denpasar: Pustaka Bali Post
Putra dan Sadia, 1998. Wraspati Tattwa. Surabaya: Paramita
Prastowo, Andi, 2011. Metode Penelitian Kualitatif Dalam Perspektif Rancangan Penelitian. Jogjakarta: Ar-Ruzz
Sudarminta, 2012. Epistemologi Dasar (Pengantar Filsafat Pengetahuan). Yogyakarta: Kanisius
Sumawa, I Wayan dan Krisnu, Tjokorda Raaka, 1996. Darsana. Jakarta:Dirjen Bimas Hindu dan Buddha, Departeman Agama
Sugiyono, 2010. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Bandung: Alfabeta
Tumanggor, Rusmin, 2014. Ilmu Jiwa Agama (The Psycology of religion). Jakarta: Kencana Prenadamedia Group