Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Oleh:
Ni Gusti Ayu Ketut Kurniasari *)
ABSTRACT
Cultural understanding of Javanese and Balinese became an important note for Javanese Hindu priests and Hindu Priests of Balinese in the process preserving culture through the teachings of Hindu. This research raises the issue of how the communication pattern formula Hindu in Javanese and Balinese cultural understanding of the contemporary era. As the focus in this research is a case study on a Hindu priests in Jakarta as the interpretation of the contemporary era. This research using qualiatatif method with approach case studies. As a result of this research emphasis on two things, namely cultural identity and Social Identity. Hindu Javanese is emphasized on development faithful to able to survive in understanding of cultural values java as part of the process of cultural preservation java to teachings Hindu. Different with Hindu Balinese that is emphasized on mutual agreement to acculturation culture of effect Desa Kala Patra existence and identity officials in the midst of a social structure of society in the era of contemporary this.
Key Words: Hindu Priests, Javenese Culture, Balinese Culture, Contemporer Era.
Latar Belakang Masalah
Perkembangan agama Hindu di Indonesia tidak akan bisa dilepaskan dari perkembangan agama Hindu di India yang membawa filosofis Hindu ke Indonesia yang berkembang menjadi sebuah agama yaitu Hindu. Begitu juga dengan perkembangan agama Hindu di jawa dan Bali yang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan agama Hindu di Indonesia yang dalam sejarahnya mengalami peradaban dalam perkembangan kerajaan dan akulturasi budaya masyarakatnya. Hal tersebut dapat dilihat secara budaya, perkembangan agama Hindu di Jawa dan Bali dari peninggalan prasasti pada abad sebelum masehi sebagai bukti sejarah tersebut menceritakan proses kebesaran Hindu dari setiap fase yang terlewati. Besarnya peradaban Hindu di Jawa dan Bali dapat dilihat dengan jelas dari Prasasti, Candi serta Pura yang berdiri pada setiap era yang melambangkan kejayaan Hindu.
Budaya menjadi hal utama yang mempengaruhi perkembangan Hindu di Indonesia. Dapat dilihat eksistensi Budaya Jawa dan Bali yang diaplikasikan kedalam ajaran – ajaran Agama Hindu. Begitu pula budaya India yang diadopsi dalam ajaran agama Hindu di India. Budaya menjadi sebuah pilihan yang tepat dalam menyebarkan agama Hindu baik di India maupun di Indonesia khususnya di jawa dan Bali.
Hal tersebut menjadi penting jika melihat budaya sebagai sebuah identitas sosial yang mendukung peranan seluruh umat Hindu dalam memahami dan menyebarkan agama Hindu. Latar belakang yang dimiliki oleh para pemeluk agama Hindu didasari oleh latar belakang budaya yang berbeda. Latar belakang budaya yang berbeda akan mampu menciptakan cara berkomunikasi yang berbeda dalam mengaplikasikan ajaran – ajaran Hindu di masyarakat.
Setelah melihat latar belakang budaya yang berbeda, maka era yang dimiliki oleh masyarakat juga menentukan cara berkomunikasi yang berbeda dalam mengaplikasikan seluruh ajaran – ajaran Hindu yang dipahaminya. Setiap era memiliki budayanya dan setiap era memiliki cara berkomunikasinya. Begitu pula dengan era kontemporer yang diwakili oleh masyarakat Jakarta yang memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap teknologi dan aktivitas masyarakat yang sangat padat. Kondisi masyarakat yang sangat heterogen dengan pola berfikir yang sangat dinamis akan menghasilkan perilaku yang berbeda antara masyarakat urban dan masyarakat lainnya di daerah Indonesia. Jakarta sebagai interpretasi dari era kontemporer mampu mewakili pola komunikasi tersendiri dalam pengaplikasian ajaran – ajaran Hindu.
Terkait dengan perkembangan agama Hindu tersebut dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada setiap era yang menyertainya. Pada era kontemporer ini banyak perkembangan dan perubahan yang terjadi baik dalam pemahaman budaya Jawa dan Bali dalam mengaplikasikan ajaran – ajaran Hindu. Penerapan ajaran agama Hindu di Jawa dan Bali pasti memiliki perbedaan yang cukup signifikan dalam menerapkan ajaran-ajaran Hindu yang dipahami. Hal tersebut sangat penting jika melihat fungsi/peran seorang pemangku/pinandita dalam agama Hindu yang memiliki peranan yang sangat penting, dimana sebagai salah satu peranan terpentiing seorang pemangku adalah sebagai perantara antara umat Hindu yang mempunyai kerja dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Ida Bhatara Kawitan/Leluhur. Karena itu tugas pemangku sering disebut sebagai pelayang Ida Sang Hyang Widhi Wasa sehingga pemangku memiliki peranan yang sangat penting dan terhormat di masyarakat. Terkait dengan peran yang sangat penting tersebutlah maka seorang Pemangku diharapkan dapat memberikan contoh, panutan, bahkan harus menuntun dan membina warga masyarakat untuk bisa lebih mendekatkan diri kepada keagunangan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pemangku juga memiliki tanggung jawab untuk pelaksanaan Yajna di Pura yang tentu saja disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya. Perbedaan kondisi tersebut akan mengakibatkan perbedaan pelaksanaan upacara dan upakara yang tentu saja akan menghasilkan pola komunikasi tersendiri apalagi disesuikan dengan era kontemporer masyarakat Jakarta yang sangat plural.
Rumusan Masalah
Terkait dengan pemaparan latar belakang masalah maka sebagai rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana pola komunikasi Hindu dalam pemahaman budaya Jawa dan Bali pada era kontemporer dengan studi kasus pada pemangku agama Hindu di Jakarta?
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pola komunikasi Hindu dalam pemahaman budaya Jawa dan Bali pada era kontemporer dengan studi kasus pada pemangku agama Hindu di Jakarta.
Kerangka Teoritis
Budaya
Merujuk pada arti budaya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, budaya dapat diartikan sebagai 1) pikiran, akal budi; 2) adat istiadat; 3) sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju); dan 4) sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar dirubah.
Dalam pendekatan etnografi, budaya diartikan sebagai konstruksi sosial maupun historis yang menstransmisikan pola – pola tertentu melalui symbol, pemaknaan, premis, bahkan tertuang dalam aturan, (Gerry Philipsen dalam Nasrullah;2012;16).
Budaya setidaknya mampu memberikan arah bagaimana mengartikan kata budaya itu sendiri. Sehingga bisa diartikan budaya sebagai sebuah nilai atau praktik sosial yang berlaku dan dipertukarkan dalam hubungan antarmanusia baik sebagai individu tersebut, sehingga definisi budaya menurut Raymond Williams (dalam Nasrullah;2012;18) melihat istilah budaya sebagai:
Perbedaan budaya tentu saja akan menimbulkan perbedaan dalam tata cara berkomunikasi, hal tersebut dapat dijadikan landasan tentang pola komunikasi yang akan dihasilkan dari setiap individu yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Sehingga dapat dikatakan bahwa budaya sangat membutuhkan komunikasi.
Pemangku
Menurut Keputusan Mahasaba Parisada Hindu Dharma ke-2 tanggal 6 Desember 1968, yang dimaksud dengan Pemangku adalah mereka yang telah melaksanakan upacara Yajna Pawintenan sampai dengan Adiksa Widhi tanpa ditapak dan amari aran. Dimana kata pemangku berasal dari kata “Pangku” yang samakan artinya dengan “Nampa”, atau “Menyangga” atau “Memikul Beban” atau “Memikul Tanggung Jawab”. Dalam hal ini memikul beban atau tanggung jawab sebagai pelayan atau perantara antara orang yang punya kerja dengan Ida Sanghyang Widi Wasa dan atau Ida Bhatara Kawitan. Dengan kata lain, orang yang menerima tugas pekerjaan untuk memikul beban atau tanggung jawab sebagai pelayan Ida Sanghyang Widi Wasa sekaligus sebagai pelayan masyarakat itu dinamakan Pemangku. (Suhardana;2006;6)
Berdasarkan fungsinya, Pemangku dapat dibedakan dalam dua bagian yaitu (Suhardana;2006;7):
Pemangku tapakan Widhi atau pemangku Pura adalah Pemangku yang bertanggung jawab atas pelaksanaan Yajna di Pura, sedangkan Pemangku Dalang, Pemangku Tukang dan lain-lain adalah orang yang memikul beban atas tugas pekerjaan tertentu seperti pedalangan, tukang dan lain.
Berdasarkan tanggung jawab untuk melaksankan Yajna di Pura, jelaslah bahwa seorang Pemangku Tapakan Widhi atau Pemangku Pura mempunyai tugas yang cukup berat. Pemangku harus bertanggung jawab juga atas kesucian Pura dan lain-lain kegiatan yang berkaitan dengan Pura yang diemongnya. Pemangku harus selalu menjaga kesucian dirinya, harus selalu “mepeningan” atau “asuci Laksana” dengan selalu menjaga kebersihan dan kesucian jasmani maupun rokhaninya. Disamping itu Pemangku juga harus menjaga “kelingsirannya” meskipun usianya masih muda dalam arti harus dan selalu berfikir baik, berkata yang baik dan berbuat yang baik (mengamalkan ajaran Tri Kaya Parisudha). (Suhardana;2006;7)
Komunikasi Antarbudaya
Hubungan antara komunikasi dan kebudayaan menjadi penting dipahami terutama untuk menggambarkan perilaku komunikasi manusia dalam mengartikulasikan kepentingan – kepentingan politik yang diperankan. Hal senada diungkapkan oleh Porter dan Samovar ( dalam Muhtadi;2008;22) yang menyatakan bahwa :
Melalui pengaruh budaya orang – orang dapat saling mengkomunikasikan setiap pesan dengan sesamanya. Sebaliknya, melalui komunikasi sesuatu kebudayaan dapat tumbuh, berkembang dan diturunkan dalam satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap perilaku yang diperankan seseorang atau sekelompok orang dapat memberikan makna bagi yang lainnya, karena perilaku itu dipelajari dan diketahui melalui proses interaksi dan perilaku tersebut terikat oleh budaya.
Sebab setiap perilaku yang dilakukan oleh manusia pada dasarnya memiliki potensi komunikasi, sehingga tidak mungkin bagi manusia untuk tidak berkomunikasi. Perilaku komunikasi yang dilakukan oleh setiap individu dalam proses pertukaran makna, seperti diungkapkan oleh Smith ( dalam Muhtadi;2008;26 ) yang menyatakan bahwa :
Communication behavior in its simplest reciprocal form is the use of some action by one person, whether or not accompanied by a material object, as a stimulus to another person in such a way that the second person can perceive the experience of the stimulating person. The overt action of the first person plays the role of a symbol whose reference or meaning is the same for the two participants, with the result that common experience is perceived by both participants.
Pernyataan diatas, secara sederhana memperlihatkan adanya perilaku yang merepresentasikan seseorang melalui simbol – simbol yang memiliki makna dan referensi yang sama. Hal ini berkaitan dengan salah satu karakteristik komunikasi sebagai aktivitas simbolik seperti pernyataan Gudykunst dan Kim; 1992 (dalam Muhtadi;2008;27) yang menyatakan bahwa ” proses komunikasi senantiasa melibatkan simbol – simbol yang memiliki makna – makna yang berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya ”. Sebab makna tentang sesuatu perilaku bersifat subyektif sesuai dengan referensi yang diperoleh manusia melalui observasi terhadap lingkungannya serta pengalaman yang dilaluinya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa komunikasi antarbudaya menurut Liliweri (2001;14) merupakan ”komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh komunikator dan komunikan yang berbeda, bahkan dalam satu bangsa sekalipun. Konsep demikian didasarkan pada konsep tentang asumsi terhadap kebudayaan”.
Komunikasi antarbudaya memiliki definisi yang cukup beragam, namun jika dilihat secara sederhana komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaan. Bedasarkan pemahaman yang sama, maka komunikasi antarbudaya dapat diartikan melalui beberapa pernyataan Liliweri ( 2003;9 ) yang menyatakan bahwa :
Komunikasi antarbudaya adalah pernyataan diri antar – pribadi yang paling efektif antara dua orang yang saling berbeda latar belakang budaya. Komunikasi antarbudaya merupakan pertukaran pesan – pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya. Komunikasi antarbudaya adalah pertukaran makna yang berbentuk simbol yang dilakukan dua orang yang berbeda latar belakang budayanya. Komunikasi antarbudaya adalah setiap proses pembagian informasi, gagasan atau perasaan diantara mereka yang berbeda latar belakang budayanya. Proses pembagian informasi itu dilakukan secara lisan dan tertulis, juga melalui bahasa tubuh, gaya atau tampilan pribadi, atau bantuan hal lain disekitarnya yang memperjelas pesan.
Kita dapat dapat melihat bahwa proses perhatian komunikasi dan kebudayaan, terletak pada variasi langkah dan cara berkomunikasi yang melintasi komunitas atau kelompok manusia. Fokus perhatian studi komunikasi dan kebudayaan juga meliputi, bagaimana menjajagi makna, pola – pola tindakan, juga tentang bagaimana makna dan pola – pola itu diartikulasikan kedalam sebuah kelompok sosial, kelompok budaya, kelompok politik, proses pendidikan, bahkan lingkungan teknologi yang melibatkan interaksi antarmanusia.
Liliweri (2003;10) mencoba merangkum komunikasi antarbudaya bersumber dari ilmu – ilmu sebagai berikut :
Lustig dan Koester juga menyatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah suatu proses komunikasi simbolik, interpretatif, transaksional, kontekstual yang dilakukan oleh sejumlah orang – yang karena memiliki perbedaan derajat kepentingan tertentu – memberikan interpretasi dan harapan secara berbeda terhadap apa yang disampikan dalam bentuk perilaku tertentu sebagai makna yang dipertukarkan.
Pengertian – pengertian komunikasi antarbudaya tersebut membenarkan sebuah hipotesis proses komunikasi antarbudaya, bahwa semakin besar derajat perbedaan antarbudaya maka semakin besar pula kita kehilangan peluang untuk merumuskan suatu tingkat kepastian sebuah komunikasi yang efektif. Jadi harus ada jaminan terhadap akurasi interpretasi terhadap pesan – pesan verbal maupun non verbal. Hal ini disebabkan karena ketika kita berkomunikasi dengan seseorang dari kebudayaan yang berbeda, maka kita memiliki pula perbedaan dalam sejumlah hal. Dengan demikian manakala suatu masyarakat berada dalam kondisi kebudayaan yang beragam maka komunikasi antarpribadi dapat menyentuh nuansa – nuansa komunikasi antarbudaya.
Sebagaimana terlihat dalam kehidupan antar etnis yang memungkinkan banyak melakukan komunikasi diantara mereka dan masing – masing memiliki budaya yang berbeda, termasuk didalamnya memiliki pemaknaan terhadap simbol – simbol yang digunakan selama komunikasi berlangsung kadang berbeda pula dalam persepsinya. Senada dengan pernyataan Gudykunst, W. B. (dalam Mulyana;2005;156) menyatakan bahwa :
” The focus recent conceptual writing in intercultural communication has been on anumber of sensitizing concept that provide a framework for beginning it understand communication between people from different cultures ”.
Gudykunst dan Kim berpendapat (dalam Mulyana;2005;158) bahwa :
Pengaruh budaya dalam model itu meliputi faktor – faktor yang menjelaskan kemiripan dan perbedaan budaya, misalnya pandangan dunia (agama), bahasa, juga sikap kita terhadap manusia, misalnya apakah kita harus peduli terhadap individu (individualisme) atau berharap kolektivitas (kolektivisme). Faktor – faktor tersebut mempengaruhi nilai, norma, dan aturan yang mempengaruhi perilaku komunikasi kita. Pengaruh sosiobudaya adalah pengaruh yang menyangkut proses penataan sosial (social ordering process). Serta dimensi psikobudaya mencakup proses penataan pribadi (personal ordering process).
Identitas Budaya dan Peran
Peran merupakan sebuah identitas dari struktur sosial atau struktur kebudayaan (identitas peran: struktur kebudayaan dan struktur sosial). Karena itu kita harus jeli membedakan antara peran yang diharapkan (role expectations) sebagai bagian dari struktur budaya dengan tampilan peran (role performance) yang adalah bagian dari struktur budaya suatu masyarakat. Yang dimaksudkan dengan struktur budaya dalam pola-pola persepsi, berfikir dan perasaan, sedangkan struktur sosial adalah pola-pola perilaku sosial. Dalam kehidupan manusia dapat digambarkan sebagai berikut:
Posisi sosial setiap orang berkaitan erat dengan perannya dalam struktur budaya maupun struktur sosial, disini kita akan bicara dalam identitas peran (McCall&Simmons) yang dalam pandangan psikologi sosial, manakala posisi sosial telah terinternalisasi maka posisi itu merupakan identitas itu sendiri (Stryker dalam Liliweri;2007;231). Yang penting buat kita bahwa identitas budaya ditentukan oleh struktur budaya sedangkan identitas sosial ditentukan oleh struktur sosial. Oleh karena itu, sangat beralasan bila perubahan struktur budaya dan struktur sosial pada gilirannya akan mengubah identitas seorang individu, dan perubahan identitas budaya itu lebih dimaksudkan sebagai perubahan pola persepsi, berfikir dan perasaan dan bukan sekedar perubahan perilaku.
Menurut Maletzke (dalam Liliweri;2007;231) ada perbedaan cara berfikir antarbudaya sehingga mempengaruhi cara berpikir individu. Sekurang-kurangnya ada empat perbedaan;
Sehingga dapat dikatakan bahwa, pola komunikasi yang akan terbentuk akan dikaji berdasarkan dua hal yaitu identitas budaya yang dimiliki oleh para pemangku Hindu yang berasal dari etnis Jawa maupun Etnis Bali. Sedangkan hal selanjutnya akan dikaji dari Identitas sosial dari para informan yang berperan sebagai pinandita/pemangku dalam agama Hindu. Sehingga diharapkan akan mampu menghasilkan sebuah pola komunikasi Hindu dari para pemangku/pinandita tersebut yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda.
Metodologi
Paradigma Penelitian
Paradigma adalah ibarat sebuah jendela tempat orang mengamati dunia luar, tempat orang bertolak menjelajahi dunia dengan wawasannya (world-view). Namun secara umum, paradigma dapat diartikan sebagai seperangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menuntun seseorang dalam bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian ini sejalan dengan Guba yang dikonsepsikan oleh Thomas Kuhn sebagai seperangkat keyakinan mendasar yang memandu tindakan – tindakan kita, baik tindakan keseharian maupun dalam penyelidikan ilmiah. (Guba dalam Salim; 2001;33)
Dalam penelitian ini menggunakan Paradigma Konstruktivis yang secara ontologis, aliran ini menyatakan bahwa realitas itu ada dalam bentuk bermacam-macam konstruksi mental, berdasarkan pengalaman sosial, bersifat local dan spesifik dan tergantung pada orang yang melakukannya. Karena itu, suatu realitas yang diamati oleh seseorang tidak bisa digeneralisasikan kepada semua orang seperti yang biasa dilakukan dikalangan positivis dan postpositivis. Karena dasar filosofis ini, menurut aliran ini bersifat satu kesatuan, subjektif dan merupakan hasil perpaduan interaksi diantara keduanya.(Salim;2001;42)
Pendekatan Penelitian
Secara umum penelitian yang menggunakan metodologi kualitatif mempunyai ciri-ciri (Kriyantono;2006;57):
Metode Penelitian
Studi kasus adalah metode riset yang menggunakan berbagai sumber data (sebanyak mungkin data) yang bisa digunakan untuk meneliti, menguraikan, dan menjelaskan secara komprehensif berbagai aspek individu, kelompok, suatu program, organisasi atau peristiwa secara sitematis. Robert K. Yin (dalam Kriyantono;2006;65) memberikan batasan mengenai metode studi kasus sebagai riset yang menyelidiki fenomena didalam konteks kehidupan nyata, bilamana batas-batas anatara fenomena dan konteks tak tampak dengan jelas, dan dimana multisumber bukti dimanfaatkan.
Karena itu, studi kasus mempunyai ciri-ciri:
Definisi secara teknis diungkapkan oleh Yin (dalam Salim;2001;93), A case study is an empirical inquiry that;
Studi kasus juga dapat dilihat dari jumlah atau besaran kasus yang tercangkup dalam proses pengkajian. Menurut Mooney (dalam Salim;2001;94) studi kasus dapat dibagi dalam empat macam model pengembangan yang terkait dengan model analisisnya, yaitu;
Teknik Analisis Data
Analisis data menurut Patton 1980 (dalam Moleong;2004;103-104), adalah ” proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Ia membedakannya dengan penafsiran, yaitu memberikan arti yang signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian, dan mencari hubungan diantara dimensi – dimensi uraian ”.
Menurut Miles dan Hubermas; ”Analisis kualitatif tetap menggunakan kata-kata yang biasanya disusun ke dalam teks yang diperluas.” (dalam Denzim&Lincoln;2009;592). Berdasarkan hal itu, maka analisis dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga alur kegiatan yaitu :
1). Reduksi Data
Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data ini berlangsung terus-menerus selama proses penelitian kualitatif ini berlangsung.
Selama pengumpulan data, dilakukan pula tahap reduksi selanjutnya, membuat ringkasan, mengkode, menelusuri tema, membuat gugus, partisi dan menulis mereduksi data dan bahkan terus dilakukan sesudah penelitian lapangan, sampai laporan akhir tersusun, yang menurut Miles dan Hubermas:
Reduksi data merupakan bagian dari analisis, pilihan peneliti tentang bagian mana yang di kode, mana yang dibuang, pola mana yang meringkas sejumlah bagian yang tersebar, cerita apa yang sedang berkembang, semuanya adalah pilihan analitis. Reduksi merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa sehungga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan di verifikasi.
2).Penyajian Data
Menurut Miles dan Hubermas: ”Penyajian yang paling sering digunakan dalam data kualitatif pada masa lalu adalah teks naratif, “ Berdasarkan hal itu, penyajian data dalam penelitian ini dilakukan dengan berbagai jenis jaringan, tabel dan bagan yang dirancang sedemikian rupa guna menyajikan informasi yang tersusun dalam bentuk yang padu dan mudah diraih. Seperti yang dinyatakan oleh Miles dan Hubermas: “ dengan cara itu peneliti dapat melihat apa yang sedang terjadi dan menentukan apakah menarik kesimpulan secara benar ataukah terus melangkah melakukan analisis sesuai saran yang dikiaskan oleh penyajian sebagai sesuatu yang mungkin berguna”.
3). Penarikan kesimpulan/Verifikasi
Menurut Miles dan Hubermas (dalam Denzim&Lincoln;2009;592) :”penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari suatu kegiatan konfigurasi yang utuh. Kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian . Verifikasi mungkin sesingkat pikiran penganalisis selama ia menulis, tinjauan ulang pada catatan lapangan, tukar pikiran diantara teman sejawat untuk mengembangkan “kesepakatan intersubjektif”. Singkatnya makna-makna yang muncul dari data harus diuji kebenarannya, kekokohannya, dan kecocokannya, yakni validitasnya.
Model analisis data yang telah diuraikan di atas yang merupakan kesatuan sejajar dan saling jalin – menjalin tersebut jika digambarkan akan terlihat seperti gambar berikut ini :
Hasil Penelitian
Struktur Budaya sebagai Identitas Budaya
Struktur budaya Jawa dan Bali tentu saja berbeda jika dikaitkan dengan filosofis dari kedua budaya tersebut. Dalam paparan filosofisnya walaupun kedua budaya tersebut memiliki sejarah yang hampir sama jika dilihat dari perkembangan Hindu, namun menempatkan struktur budaya dalam pemahaman masyarakat Hindu Jawa dan Masyarakat Hindu Bali tentu saja akan berbeda. Pengemasan budaya dalam aplikasi ajaran-ajaran Hindu walau memiliki makna yang sama namun tentu saja aplikasi dalam aktivitas masyarakatnya akan berbeda.
Penguatan Identitas budaya Jawa dan Bali menjadi orientasi utama dalam penerapan nila – nilai budaya di ajaran-ajaran Hindu. Berdasarkan hasil penelitian dilapangan, penguatan identitas budaya juga dapat dilihat dari persepsi yang dimiliki oleh Umat Hindu Jawa dan Bali yang didasari oleh pengetahuan yang mereka miliki tentang Budaya Jawa dan Budaya Bali. Masyarakat Hindu Jawa mengelola unsur-unsur budaya dalam kemasan yang lebih sederhana dibandingkan dengan Hindu Bali. Pemahaman terhadap Banten/Sajen masih menjadi proses untuk mencapai kesepakatan bersama khususnya di budaya Jawa. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, umat Hindu Jawa umumnya masih memahami penempatan Banten dalam ajaran-ajaran Hindu yang disesuaikan dengan makna yang lebih sederhana seperti Saiban (Persembahan dari apa yang kita konsumsi setiap hari) sebagai wujud syukur kita kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Namun Banten/Sesajen dalam upacara umat Hindu Bali jauh lebih meriah karena tingginya kreativitas seni yang dimiliki oleh umat Hindu Bali dalam mengemas persembahan yang akan diberikan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.
Begitu jugta dengan pemahaman Upacara dan Upakara yang dilakukan oleh umat Hindu Jawa dan Umat Hindu Bali yang memiliki ritual dan tata cara yang berbeda. Umat Hindu Jawa memiliki pemahaman tentang Yadnya sesuai dengan yang mereka dapatkan dari para pemuka agama Hindu. Umat Hindu Jawa menjelaskan dengan detail paparan Yadnya yang dilakukan berdasarkan Nista Madya Utama, sehingga aplikasi ajaran – ajaran Hindu sangat disesuikan dengan kemampuan upacara/upakara yang harus dilakukan. Tentu ada perbedaan dengan upacara ataupun upakara yang dilakukan dengan umat Hindu Bali saat ini, walaupun pemahaman Nista Madya Utama tersebut dipahamai namun berdasarnya hasil penelitian yang dilakukan, keterikatan sosial dalam sistem banjar dan kekerabatan yang tinggi mengakibatkan adanya kelunturan terhadap pemahaman Nista Madya Utama tersebut kerena menjamu kerabat (masyarakat) masih menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh keluarga Hindu Bali.
Pemuka agama Hindu (pemangku) dalam struktur sosial masyarakat juga mengalami pergeseran fungsi dan peranan, jika secara filosofis dan teoritisnya pemangku sebagai penghubung antara manusia dan Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam pelaksanaan upacara/upakara Hindu, namun seiring pergeseran kebutuhan umat Hindu pada era kontemporer ini, banyak terjadi peralihan fungsi yang sudah diatur oleh Departemen Agama melalu Parisadha Pusat. Secara fungsional pemangku tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin upacara/upakara yang disesuaikan dengan kapasitasnya, namun kini para pemangku Hindu Jawa dan Bali juga harus mampu memberikan Dharma Wacana kepada umat Hindu yang membutuhkannya yang biasanya dilakukan ketika pelaksanaan upacara ataupun upakara berlangsung. Selain itu juga proses pemahaman budaya dalam upacara atau upakara Hindu juga mengalami pergeseran proses pada era kontemporer ini, jika dulu pemahaman budaya lebih bersifat istruksional atau pola komunikasi yang terbangun bersifat satu arah (one way communication) namun sekarang sudah bergeser pada proses dialogis antara pemangku dan umatnya sehingga komunikasi yang terjalin bersifat dua araha (two way communication), hal tersebut dikarena umat Hindu yang ada saat ini sudah berani untuk bertanya tentang makna upacara dan upakara yang dijalankannya. Hal tersebut dapat dilihat dari awal proses pelaksanaan upacara dan upakara yang akan dipilih oleh para umat Hindu Jawa dan Umat Hindu Bali, apakah Nista Madya atau Utama. Umat Hindu di Jakarta umumnya melakukan negosiasi dan berdiskusi terlebih dahulu kepada para pemangku yang telah dipilih untuk memimpin upacara dan upakara yang akan dilaksanakannya, karena pelaksanaan upacara dan upakara tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan financial atau ekonomi serta waktu yang dimiliki oleh para keluarga Hindu Jawa dan Bali. Para pemangku di Jakarta juga harus mampu memberikan solusi terbaik dari setiap keterbatasan yang dimiliki oleh para umat Hindu jawa dan Umat Hindu Bali di Jakarta.
Identitas budaya Jawa dan Bali pada era kontemporer juga semakin melemah. Melemahnya pemahaman budaya di era kontemporer karena efek desa Kala Patra yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang semakin sibuk dengan rutinitasnya. Banyak yang hilang dalam aplikasi budaya Jawa dan Hindu di Jakarta sebagai interpretasi dari era kontemporer tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, adanya kerinduan yang mendalam yang dirasakan oleh umat Hindu Jawa akan ritual-ritual budaya yang lazim diaplikasikan dalam pemahaman agama Hindu. Kerena yang dipahami saat ini adalah budaya dan agama seperti dua sisi mata uang yang selalu saling berkaitan. Umat Hindu Jawa di Jakarta beserta para pemangku Jawa di Jakarta memiliki kerinduan yang sama selama ini yaitu kerinduan yang besar terhadap Gending Jawa dan Gamelan Jawa dalam acara piodalan di pura-pura Jakarta walau secara jumlah umat Hindu Jawa lebih sedikit dibandingkan Umat Hindu Bali sehingga kesulitan untuk menikmati Kidung Jawa dan Gamelan Jawa sangat dirasakan oleh para umat Hindu Jawa di Jakarta.
Akulturasi budaya di era kontemporer termasuk dalam pelaksanaan upacara dan upakara yang sudah banyak mengalami pergeseran yang disesuaikan dengan Desa Kala Patra. Banyak hal yang sudah dikemas lebih sederhana dan simple. Karena pada era kontemporer, umat Hindu Jawa dan Bali sudah tidak lagi memiliki banyak waktu untuk melaksanakan uapacara-upakara secara utuh yang dipahami oleh umat Hindu Jawa dan Bali pada jaman dahulu. Banten dan persembahan sudah banyak disesuikan dengan kondisi masyarakat saat ini. Namun proses penyederhanaan tersebut masih dalam tuntunan dan arahan dari para pemuka Hindu atau para Pemangku yang sudah dipercaya. Sehingga pelaksanakaan upacara dan upakara sudah berangkat dari kesepakatan pemahaman yang dilakukan oleh para umat Hindu tersebut. Bukan hanya itu saja, proses pelaksanaan dan persiapan upacara dan upakara Hindu banyak mengalami perubahan yang signifikan. Jika jaman dulu pencahayaan sebagai bagian dari upacara menggunakan Damar namun kini sudah menggunakan listrik, jika dulu segala sesuatu masih banyak mengandalkan kekerabatan yang tinggi antar masyarakat dan banyak menggunakan cara-cara tradisional untuk menyebarkan informasi namun kini semuanya sdh jauh lebih mudah untuk dikoordinasikan dengan menggunakan telpon (Handphone), proses persiapan banten sudah dikoordinir dan dapat beli kepada jasa pembuatan banten, sehingga beberapa tradisi dalam budaya Jawa dan bali sudah mulai menyesuaikan dengan kondisi dan kemajuan teknologi di era kontemporer. Bukan hanya itu saja, kondisi Jakarta yang heterogen menghasilkan dominasi kekuatan budaya pada komunitas tertentu, domonasi gamelan Bali di pura-pura Jakarta juga sebagai wujud akulturasi budaya yang terjadi di Jakarta.
Struktur Sosial Sebagai Identitas Sosial
Identitas sosial sebagai Pemangku di daerah Jakarta hampir sama dengan pemangku yang ada di daerah lainnya di Indonesia. Masyarakat akan banyak sekali melihat dari sosok seorang pemangku. Sebagai salah satu hal yang tampak mudah dilihat adalah perilaku sosial Pemangku Jawa dan Bali memiliki perbedaan perilaku dalam melihat dan memahami budaya Jawa dan Bali dalam aplikasi ajaran-ajaran Hindu. Perbedaan perilaku tersebut yang akan menghasilkan perbedaan pola komunikasi Hindu Jawa dan Bali.
Pola komunikasi para pemangku Jawa dan Bali memiliki perbedaan yang cukup signifikan dimana para pemangku Jawa lebih terfokus pada pembinaan umat Hindu Jawa yang diyakini jumlahnya yang terus saja berkurang karena proses akulturasi budaya serta pemahaman budaya Jawa yang terus saja berkurang. Banyak hal seperti sarana dan prasarana yang dimiliki umat Hindu Jawa yang masih belum berfungsi secara maksimal karena pemahaman budaya dalam aplikasi keagaaman yang juga masih memubutuhkan pembinaan dari para pemuka agama Hindu khususnya para pemangku Hindu Jawa. Banyak harapan yang dimiliki oleh para umat Hindu Jawa dalam proses pelestarian budaya sehingga sangat wajar sekali jika pola komunikasi Pemangku Jawa lebih banyak terfokus pada pembinaan umat untuk lebih banyak lagi memahami budaya Jawa sehingga mempu mengaplikasikannya secara sempurna dalam ajaran-ajaran Hindu. Pemangku Jawa juga memiliki fungsi untuk melestarikan Budaya Jawa melalui pemberdayaan umat sehingga muncul istilah ”Menjawakan orang Jawa” dan “Kemerosotan Dharma”. Proses pelestarian budaya tersebut tentu saja, disesuaikan dengan karakteristik pelestarian budaya dalam kemasan kesederhanaan di era kontemporer. Namun perbedaan perilaku juga terjadi pada pemuka agama atau pemangku Bali yang ada di Jakarta yang lebih memfokus diri pada penerapan budaya Bali dalam ajaran-ajaran Hindu. Walau sudah terjadi akulturasi budaya dalam era kontemporer, namun penerapan budaya Bali masih terus berusaha disatukan dalam setiap pelaksanaan manusa yadnya yang dilakukan oleh umat Hindu Bali di Jakarta. Pemangku Hindu Bali lebih banyak memberikan arahan atau petunjuk dari proses akulturasi budaya tersebut sebagai efek dari Desa kala Patra, dimana penerapan budaya bali juga harus disesuikan dengan kondisi waktu dan perekonomian dari umat Hindu Bali di Jakarta. Pemangku yang memberikan petunjuk sebagai solusi dari setiap keterbatasan yang dimiliki oleh para Umat Hindu Bali di Jakarta.
Struktur sosial dalam identitas sebagai pemangku Hindu juga harus menyesuaikan dengan struktur sosial masyarakat di era kontemporer. Pola perilaku dan pola berfikir masyarakat di era kontemporer selalu berubah dalam kebutuhan dan kemajuan jaman. Kondisi masyarakat yang heterogen dan semakin majemuk serta tingginya tinggak pendidikan yang dimiliki, mengakibatkan para pemangku Hindu di Jakarta harus mampu menjawab pertanyaan kritis yang diajukan oleh umat dalam proses pemahaman ajaran-ajaran Hindu. Pemangku Hindu di Jakarta harus mampu mengalihkan fungsinya tidak hanya sebagai penghubung antara umat Hindu dan Ida Sang Hyang Widi Wasa atau sebagai pemimpin upacara dan upakara sebagai bagian dari Manusa Yadnya, namun para pemangku Hindu di Jakarta juga harus mampu memberikan pendidikan agama, pembinaan umat serta dharma wacana yang terkait dengan fungsi pemangku sebagai Dharma Duta. Pemangku juga harus mampu menjelaskan setiap makna yang terkandung dalam pelaksanaan upacara dan upakara yang dilakukan oleh umat Hindu di Jakarta.
Struktur sosial masyarakat Jakarta sebagai interpretasi dari kondisi masyarakat yang heterogen juga mempengaruhi sistem penghargaan dan penghormatan yang diberikan kepada pemangku Hindu. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, penghormatan dan penghargaan kepada pemangku justru lebih besar di dapatkan di daerah. Tata kesopanan yang rasa canggung untuk membangun komunikasi yang dialogis justru dirasakan oleh para pemangku tersebut ketika berkunjung ke daerah. Namun berbeda dengan penghargaan dan penghormatan yang diberikan oleh umat Hindu di Jakarta dimana mereka sudah tanpa ragu dan tanpa canggung menjadikan pemangku sebagai teman diskusi dalam segala hal yang berkaitan dengan proses memahami ajaran-ajaran Hindu. Bahkan dalam kemajuan teknologi yang terjadi di era kontemporer, beberapa pemangku di Jakarta sudah membuka layanan konsultasi via telepon, aplikasi sosial di telepon genggam serta sosial media. Kemudahan akses tersebut mengakibatkan para pemangku Hindu di Jakarta sebagai pusat informasi data yang berkaitan dengan ajaran-ajaran Hindu serta sejarah perkembangan Hindu bahkan hingga penerapan budaya Jawa dan Bali dalam setiap upacara maupun upakara Hindu.
Sebagai bagian dari struktur sosial masyarakat, para pemangku di Jakarta juga memiliki peran yang berbeda yaitu sebagai kepala keluarga. Memilikirkan masalah perekonomian keluarga dan masalah perekonomian umat yang tata kelola keuangan pura juga masih menjadi tanggung jawab para pemangku Hindu tersebut. Para pemangku Hindu Jawa memiliki pertimbangan financial yang lebih besar dibandingkan dengan pemangku Bali yang ada dijakarta karena berkaitan dengan fungsi lainnya dalam pembinaan umat di beberapa daerah di Jawa dan daerah lainnya di Indonesia. Keuangan yang dibutuhkan lebih banyak digunakan untuk mengaktifkan kembali beberapa warisan budaya jawa yang sudah semakin punah seperti Gamelan Jawa, Candi dan Situs, serta pelatihan Kidung Jawa. Namun berbeda sekali dengan pemangku Hindu Bali yang umumnya berasal dari pensiunan pegawai negeri sipil. Umumnya mereka menjadikan identitas pemangku sebagai wujud yadnya dan bakti kepada agama Hindu. Walaupun beberapa dari pemangku Hindu tersebut mendapatkan sari (upah sukarela) dari umat Hindu namun para pemangku tersebut tidak menjadikan hal tersebut sebagai profesi.
Pembahasan
Pola Komunikasi Hindu dalam Pemahaman Budaya Jawa
Perluasan fungsi dan peranan seorang pemangku Hindu Jawa menjadi sebuah karakteristik tertentu dalam melestarikan budaya Jawa di tengah gempuran teknologi pada era kontemporer. Penguatan terhadap identitas budaya Jawa menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi seorang pemangku Hindu Jawa. Bagaimana struktur budaya sebagai wijud identitas buday dapat terlihat dari symbol-simbol budaya yang masih terus dipertahankan dan dilestarikan ditengah menurunnya jumlah umat Hindu Jawa di Indonesia khususnya Jakarta. Sehingga pembinaan umat Hindu Jawa dalam penyebaran nilai-nilai budaya Jawa yang diimplementasikan kedalam agama Hindu menjadi sebuah prioritas utama yang dilakukan oleh pemangku Hindu Jawa dengan tujuan eksistensi serta rasa memiliki tumbuh semakin besar didalam diri setiap umat Hindu Jawa.
Sebagai identitas sosial masyarakat, pemangku Jawa juga memiliki fungsi yang sama yaitu penyebaran nilai-nilai budaya dalam aktivitas pembinaan umat dan pelestarian budaya Jawa. Pemangku Hindu Jawa tidak lagi berfungsi hanya sebagai penghubung antara umat Hindu dan Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam setiap pelaksanaan upacara maupun upakara, namun juga harus mampu membangun kesadaran masyarakat untuk bertahan dalam nilai-nilai budaya Jawa dan mencapai kesepakatan bersama untuk mengimplementasikannya dalam ajaran-ajaran Hindu. Tentu saja harus disesuaikan dengan ajaran Desa Kala Patra dimana kondisi setiap daerah menentukan keterbatasan umat dalam mengimplementasikan nilai-nilai budaya Jawa pada ajaran-ajaran agama Hindu tersebut.
Sumber: Diolah dari Hasil Penelitian, 2014
Pola Komunikasi Hindu dalam Pemahaman Budaya Bali
Pola komunikasi pemangku Hindu Bali tentu berbeda dengan pola komunikasi pemangku Hindu Jawa, dimana penguatan terhadap identitas budaya dan identitas sosial memiliki implementasi yang berbeda. Penguatan terhadap identitas budaya yang ada selama ini lebih menekankan pada pemahaman Desa Kala Patra sebagai proses akulturasi budaya. Beberapa nilai-nilai budaya Bali tidak bisa dilaksanakan dalam upacara dan upakara manusa yadnya di Jakarta sebagai interpretasi dari era kontemporer. Proses akulturasi budaya tersebut juga diakibatkan oleh keterbatasan waktu dan perekonomian yang dimiliki oleh umat Hindu Jakarta terlebigh lagi struktur sosial masyarakat yang berbeda yang tidak memungkinkan masyarakat Hindu Bali di Jakarta mampu mengimplementasikan seluruh nilai-nilai Budaya Bali sebagai warisan leluhur mampu diimplementasikan secara sempurna pada era kontemporer ini.
Identitas sosial para pemangku Hindu Bali lebih menekankan pada eksistensi Identitas sebagai pemangku dalam struktur sosial masyarakat. Dimana banyak sekali peralihan fungsi yang terjadi dari fungsi utamanya seorang mangku sebagai penghubung antara umat manusia dan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Pemangku Hindu juga harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup terkait nilai-nilai budaya Bali yang mampu dan tepat diimplementasikan dalam ajaran-ajaran Hindu. Karena sejatinya, budaya dan agama memiliki keterikatan yang sangat kuat sehingga agama Hindu sendiri dapat hidup dalam budaya Bali. Proses komunikasi yang dialogis harus mampu di bangun oleh para pemangku Hindu Bali ketika memberikan pemahaman terkait nilai-nilai budaya Bali serta akan selalu ada proses negosisasi terkait kesepakatan bersama tentang implementasi nilai-nilai buadaya Bali dalam ajaran-ajaran Hindu di era kontemporer.
Sumber: Diolah dari Hasil Penelitian, 2014.
Kesimpulan
Rasa memiliki terhadap nilai – nilai budaya yang dipahami berdasarkan keakuan bahwa saya Hindu Bali dan saya Hindu Jawa menjadi sebuah batasan yang jelas tentang perbedaan pola komunikasi Hindu jawa dan Hindu Bali baik dalam proses ritual upacara maupun upakara antara Hindu Jawa dan Hindu Bali serta dalam proses melestarikan budaya Jawa dan Bali. Sehingga butuh pemahaman yang kuat didalam Hindu Jawa itu sendiri, seperti Jawa Kuno, Jawa Mataram Lama, atau Jawa modern seperti era saat ini. Begitu pula dengan pemahaman nilai-nilai budaya bali yang sudah terakulturasi oleh kemajuan jaman di era kontemporer dan disesuikan dengan Desa Kala Patra.
Akulturasi budaya berdasarkan Desa Kala Patra tersebut akan menghasilkan nilai-nilai budaya baru yang tentu saja tidak akan menghilangkan makna-makna budaya yang lama. Namun masih dibutuhkan kesepakatan bersama dalam proses implementasi nilai-nilai budaya Jawa dan Bali dalam setiap pelaksanaan upacara dan uapakara manusa yadnya. Kesepakatan bersama tersebut harus disesuikan dengan keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh umat Hindu Jawa dan Umat Hindu Bali sebagai bagian dari proses pemahaman budaya Jawa dan Bali.
Perbedaan pola komunikasi antara hindu Jawa dan bali juga dapat dilihat dari karakteristik yang terbangun dalam proses pelestarian budaya. Sebagai skala prioritas yang dimiliki oleh pemangku Jawa uatu disesuaikan dengan tantangan yang harus dihadapi oleh umat Hindu Jawa yang terfokus pada proses bertahan dan melestarikan Budaya Jawa dalam ajaran-ajaran Hindu, sementara Hindu Bali lebih terfokus pada membangun pemahaman bersama tentang implementasi budaya Bali dalam ajaran Hindu di era kontemporer ini..
*) Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Budi Luhur
DAFTAR PUSTAKA
Creswell, Jhon W, 2003, RESEARCH DESIGN; Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Denzin,Norman K&Lincoln,Yvonna S, 2009, HANDBOOK OF QUALITATIVE RESEARCH,
Putakan Pelajar, Yogyakarta
Kriyantono, Rachmat, Ph.D, 2006, TEKNIK PRAKTIS RISET KOMUNIKASI, Kencana
Prenada Media Group, Jakarta
Liliweri, M.S., Alo, DR, 2001, GATRA – GATRA KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
——————————-, 2002, MAKNA BUDAYA DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA, LkiS Yogyakarta, Yogyakarta.
——————————-, 2007, DASAR – DASAR KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Lindlof, Thomas R, 1995, QUALITATIVE COMMUNICATION RESEARCH METHODS, Current Communication : An Advanced Text Series Volume 3, SAGE Publications.
Littlejohn, Stephen W&Foss, A Karen, 2009, Edisi Sembilan; TEORI KOMUNIKASI; THEORIES OF HUMAN COMMUNICATION, Salemba Humanika, Jakarta.
Miles, B. Matthew, A. Michael Hubermas,1992, Analisis Data Kualitatif, Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru, Jakarta : UI Press.
Moleong, Lexy, J, Dr, M.A., 2004, METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Moleong, Lexy, J, Dr, M.A., 2006, METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF Edisi Revisi, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Mulyana, Deddy, M. A, 2004, Metodologi Penelitian Kualitatif, Paradigma Baru Ilmu Komunikasi Dan Ilmu Sosial Lainnya, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Mulyana, Deddy, M. A, 2005, Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Mulyana, Deddy, M. A, Rakhmat Jalaluddin, Drs,Msc, 2005, Komunikasi Antarbudaya, Panduan Berkomunikasi Dengan Orang – Orang Berbeda Budaya, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Salim, Agus, 2001. TEORI DAN PARADIGMA PENELITIAN SOSIAL, Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta
Suhardana, RM, Drs, 2006, DASAR-DASAR PEMANGKUAN, Paramita, Surabaya.