Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Oleh:
Dr. I Putu Gede Ary Suta*
Terjadinya krisis global yang menimpa hampir seluruh belahan dunia ini telah menempatkan isu entrepreneurship yang didukung oleh sikap kepemimpinan menjadi semakin sentral. Entrepreneur adalah pemimpin yang berani untuk mengambil keputusan, walaupun tidak selamanya harus selalu benar. Di samping itu penemuan-penemuan baru di bidang brain science telah menjadikan isu kecerdasan (intelligence) menjadi perhatian mengingat banyaknya perubahan yang terjadi yang selama ini diyakini oleh mainstream neuroscientists.
Brain Power atau Intelligence merupakan determinant factor untuk meraih kesuksesan dalam kepemimpinan (leadership performance). Setiap pembicaraan yang menyangkut brain atau mind tidak pernah lepas dari pembahasan tentang intelligence. Faktor intelligence inilah yang secara mendasar membedakan manusia dari makhluk Tuhan lainnya. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: mengapa intelligence factor ini demikian pentingnya sehingga menjadi topik bahasan tidak hanya bagi neuroscientists dan psychologists, tetapi juga bagi para ahli dari disiplin ilmu lainnya termasuk ahli manajemen dan leadership.
Intelligence merupakan kapabilitas mental, emotional, dan spiritual yang melibatkan kemampuan manusia untuk berfikir, membuat rencana, berimajinasi, memecahkan masalah, mengerti dan memahami ide-ide yang bersifat kompleks serta mampu mentransformasikan pengalaman menjadi pengetahuan. Oleh karenanya masalah intelligence ini menjadi sangat relevan baik bagi pemimpin maupun para pengikutnya.
Pada dasarnya fungsi utama seorang leader adalah mendesain masa depan bangsa atau organisasi yang dipimpinnya dan leader yang bersangkutan dituntut untuk berani dan mampu menghadapi perubahan (deal with change). Karena pentingnya fungsi yang diembannya, maka greatness memerlukan great leader dan great leader memerlukan great leadership.
Brain power (executive intelligence) akan menentukan kualitas kepemimpinan seorang leader dalam membangun visinya dan membuat atau memilih strategi yang tepat guna mencapai tujuan organisasi. A great leader tidak akan pernah berhenti belajar dan belajar. Dengan pembelajaran ini seorang great leader akan mampu untuk: 1) mentransformasi pengalaman yang dimiliki menjadi knowledge, 2) menyederhanakan persoalan yang dihadapi, 3) secara skillful menggunakan informasi atau pengalaman yang ada untuk memecahkan persoalan yang dihadapi.
Berdasarkan pemikiran ini, seorang great leader harus memberikan perhatian lebih serius terhadap brain power (intelligence) karena dampaknya yang dapat ditimbulkan terhadap fungsi-fungsi kepemimpinan. Neuroplasticity mengandung arti juga bahwa otak akan mengalami perubahan secara berkelanjutan (the brain continously changes itself).
WHAT IS AN ENTREPRENEUR?
Seorang entrepreneur adalah orang yang melihat kesempatan dan memulai bisnisnya sendiri, memberdayakan kreativitas, kemampuan, pengetahuan, sumber daya dan usaha sendiri. Mereka biasanya mengoperasikan sendiri pada awal berdirinya perusahaan dan mempekerjakan orang lain di saat bisnis bertumbuh. Ada banyak karakteristik entrepreneur sukses yang disimpulkan oleh para akademisi di seluruh dunia, antara lain memiliki 1) Passion for business, ia harus mencintai bisnis yang dirintisnya; 2) Great Self-confidence, Seorang entrepreneur percaya bahwa dirinya akan sukses; 3) Perseverance with a “Never Say Die” Attitude, dalam perjalanan bisnisnya, entrepreneur harus memiliki mental baja untuk menghadapi berbagai macam kesulitan dan ketekunan untuk memecahkannya; 4) Great Curiosity, Rasa keingintahuan yang besar menjembatani entrepreneur untuk dapat bereaksi secara cepat terhadap setiap kesempatan yang muncul guna menunjang kesuksesan bisnisnya; 5) Ability to Focus on Goals and a Single-minded Mindset, seorang entrepreneur memiliki pemikiran tunggal dan sangat berorientasi pada tujuannya. Entrepreneur yang sukses selalu memulai dengan tujuan yang sangat jelas dalam pikirannya dan kemudian bekerja untuk mencapai tujuan tersebut; 6) People-oriented, Entrepreneur mempunyai kemampuan untuk bergaul dengan orang lain dari semua tingkatan yang ada di masyarakat; 7) Innovative and Creative, Entrepreneur yang kreatif memiliki probabilitas untuk meraih kesuksesan yang lebih besar dibandingkan dengan individu yang tidak kreatif.
Entrepreneur adalah seorang leader yang mengambil keputusan walaupun tidak harus setiap keputusan yang diambil selalu tepat. Jika tidak ingin mendapat kritikan, maka seseorang tidak melakukan apapun dan tidak akan mencapai tujuan satupun. Jika menemui kegagalan, setidaknya ia menyadari bahwa itu adalah hasil keputusannya sendiri dan bukan milik orang lain yang sebenarnya telah ia ragukan pada awalnya. Leader yang efektif mengetahui bahwa mereka mendapatkan usaha terbaik dari orang-orang yang bekerja bersamanya, dengan menolong mereka melakukan yang terbaik, dan dengan menunjukkan kepada mereka tentang bagaimana untuk lebih produktif.
BRAIN AND ITS FUNCTIONS
Secara umum dapat dikatakan bahwa brain merupakan anatomi dan bagian dari tubuh manusia, sedangkan mind merupakan fungsi dari brain itu sendiri. Fungsi brain dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1) mengatur proses berpikir atau pikiran (thought), memory, judgment, identitas personal dan aspek lainnya dari mind; 2) tempat bersemayamnya harapan dan cita-cita (hope) mimpi (dream), dan imajinasi; 3) merupakan pusat pembelajaran (center of learning).
Masyarakat luas telah mengetahui bahwa rational intelligence (Intelligent Quotient/ IQ) merupakan pengukuran tingkat kecerdasan manusia secara umum yang dimulai pada awal abad ke-20. Pengukuran dengan IQ dimaksudkan untuk mengukur kecerdasan (intelligence) melalui serangkaian tes yang mencakup kemampuan spatial, numerical, dan linguistic abilities. Selanjutnya IQ test digunakan pada sistem pendidikan dan bisnis untuk melihat kemampuan (kecerdasan) yang berkaitan dengan rational, logical, linear intelligence, untuk memecahkan problem-problem tertentu dari strategic thinking.
Banyak di antara kita belum berhasil memahami atau menempatkan secara tepat posisi intelligence dalam kaitannya dengan talent, genius, competence, maupun wisdom. Berdasarkan definisi intelligence yang disebutkan di atas, penulis mencoba untuk membuat framework hubungan antara intelligence dengan talent, genius, competence, dan wisdom tersebut sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Intelligent-Competence-Wisdom Framework
Critical thinking dipercaya sebagai mental ability untuk terciptanya kesuksesan di bidang bisnis, karena meliputi kemampuan untuk probing, proving, asking the right question dan mengantisipasi permasalahan. Semua hal tersebut merupakan aspek besar dari leadership.
Kualitas kepemimpinan maksimal yang hendak dicapai (greatness) membutuhkan keberadaan great leader. Great leader membutuhkan level kecerdasan excecutive (excecutive intelligent). Dan great leader pada akhirnya memerlukan great leadership. Lahirnya great leader umumnya melalui proses yang panjang karena tidak hanya melibatkan satu jenis kecerdasan. Dalam lingkungan yang sangat kompleks, penguasaan berbagai jenis intelligence,rasional, emotional dan spiritual, mutlak dimiliki oleh seorang great leader.
Mengingat great leadership merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan great leader, maka untuk mencapai itu, pendekatan yang dapat digunakan adalah intelligence based leadership.
Era of Limit
Era of limit ini merupakan aspek kepemimpinan yang penting namun kurang memperoleh perhatian yang seharusnya. Era of Limit menjadi semakin penting bukan karena ditujukan pada perseorangan, namun era tersebut memberikan informasi atau fakta sejarah, budaya, dan arena yang memungkinkan pemimpin untuk bertindak. Era of Limit ini berbeda dengan generasi yang berubah setiap periode tertentu. Namun era dimaksud ditandai oleh peristiwa penting (defining events) yang mungkin terjadi setiap kurang lebih dua puluh tahun. Sebagai contoh era dimana kita dibesarkan hingga menjelang dewasa tetap merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap kehidupan kita.
Fungsi utama seorang pemimpin adalah mendesain masa depan dari masyarakat (organisasi) yang dipimpinnya, yang memerlukan kemampuan dan seni tersendiri serta strategi yang tepat. Selama melibatkan masa depan, berarti peranan kemampuan dan intelligence menjadi sangat menonjol terutama pemanfaatan right hemishpere (otak kanan) karena melibatkan imajinasi dan kreativitas pemimpin tersebut. Disamping itu perlu diingat bahwa executive intelligence, sebagaimana diuraikan pada bagian leadership challenge, merupakan elemen yang penting dalam proses ini.
Fungsi kedua berhubungan dengan bagaimana menyikapi perubahan yang terjadi, melalui penetapan paradigma baru, dan berani mengambil keputusan serta bersedia untuk menanggung risiko terhadap kemungkinan yang terjadi. Perubahan dapat bersumber dari dalam organisasi atau dipaksakan oleh lingkungan yang selalu berubah. Untuk menyikapi perubahan yang terjadi perlu dikembangkan leadership competencies (Bennis, G. W. & Thomas, J. R., 2007), yang terdiri dari :
· Adaptive capacity, kemampuan untuk melakukan penyesuaian terhadap perubahan melalui kerja keras, pembelajaran, first class noticer) dan kreativitas.
· Share of meaning, memahami perasaan pihak lain melalui empathy, dan
· Voice, kemampuan untuk menetapkan tujuan, self awareness, self confidence dan emotional intelligence
· Integrity, memiliki keseimbangan ambisi, kompeten, dan moral compass.
Leadership performance akan selalu dikaitkan dengan kedua fungsi penting kepemimpinan di atas, selain fungsi manajemen lainnya yang sudah seharusnya dikuasai oleh pemimpin agar kinerjanya menjadi maksimal, termasuk membangun distinctive competence dan resources atau sumber daya dalam penciptaan nilai (value creation) sehingga akan tercipta competitive advantages secara berkesinambungan.
CONCLUSION
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan di atas, beberapa kesimpulan penting dapat diambil: Pertama, entrepreneur yang sukses didukung oleh sikap kepemimpinan yang didasari oleh intelligence. Bahwa peranan intelligence menjadi semakin penting setelah adanya pemahaman yang lebih luas terhadap fungsi-fungsi brain & mind. Kedua, akar dari kecerdasan adalah critical thinking dan intelligence merupakan akar dari talenta atau competencies. Selanjutnya competence akan melahirkan pendewasaan yang merupakan penyubur kelahiran wisdom. Wisdom akan merupakan the prime seater dari kebahagiaan. Ketiga, Kualitas kepemimpinan maksimal yang hendak dicapai (greatness) membutuhkan keberadaan great leader. Keempat, Setiap pemimpin yang sukses sudah sewajarnya mengetahui dan memahami tanda-tanda perubahan era (era of limit). Perubahan era ini mengakibatkan karakter kepemimpinan yang diperlukan juga berubah mengingat challenge yang dihadapi juga berbeda. Perbedaan tersebut meliputi antara lain pandangan hidup, aspirasi, live balance, dan tantangan lainnya. Perbedaan antar era memunculkan isu-isu kepemimpinan yang penting, antara lain: sejalan dengan keterbatasan usia manusia (limit of human presence), kapankah seorang pemimpin harus turun; kondisi apa yang menjadi faktor untuk dipertimbangkan (new era is waiting); sudahkah pemimpin menyiapkan pengganti (successor); dan siapkah secara mental sebagai pemimpin untuk dikalahkan oleh pemimpin lainnya (leadership transition). Kelima, Implikasi yang timbul adalah diperlukannya intelligence based leadership yang memanfaatkan secara maksimal potensi otak atau mind untuk menjawab tantangan yang ada dan mencapai kinerja kepemimpinan yang maksimal, melalui learning (study, observation, dan experience), mentoring dan pengembangan rational, emotional dan spiritual intelligence secara terus menerus disamping executive intelligence yang mutlak harus dimiliki setiap pemimpin yang sukses.
* Founder and Chairman of The Ary Suta Center, Member Board of Trustee and Lecturer University of Udayana, Chairman of PT. Kiran Resources Indonesia, Lecturer Graduate Scholl of Management University of Indonesia, Former Chairman of The Indonesia Capital Market Supervisory Agency (BAPEPAM) and Former Chairman of Indonesia Banking Restructuring Agency (IBRA).