Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM

Peresensi : Arya Suta*
Tidak banyak buku bertemakan Hindu Indonesia yang diulas secara sosiologis, terlebih yang disajikan dengan data dan teori sosial-budaya yang dikemas secara apik dan rigid. Kiranya perlu membaca karya sosiologis mengenai agama sendiri sebagai langkah awal untuk secara terang dan jelas mengurai masalah sosial-keagamaan yang kita hadapi saat ini. Di samping itu, karya sosiologis membuat kita terbuka secara ilmiah-universal dalam menemukan rumusan masalah yang hendak kita jawab dengan mengandalkan akal sehat. Sifat yang ilmiah-universal menjadi sesuatu yang tak terhindarkan mengingat masyarakat Hindu di tanah air tidak dapat menyelesaikan masalahnya hanya dengan mengandalkan semangat komunitas yang cenderung tertutup.
Karya seperti inilah yang akhirnya dapat kita rasakan pada dua buah buku karya Prof. Dr. IBG Yudha Triguna, MS yang berjudul Strategi Hindu dan Mengapa Bali Unik? yang kami anggap sebagai representasi buku Sosiologi Hindu di tanah air.
Kedua buku ini ingin menjelaskan bahwa Agama Hindu oleh umatnya dianggap sebagai satu kesatuan yang integral, artinya bagi umat Hindu, agama tidak dapat dipisahkan dengan hidup dan kehidupan umat manusia. Manusia Hindu diharapkan menjadi manusia yang memiliki keperibadian yang utuh dalam pengamalan ajaran agama, setiap tingkah laku dan keperibadiannya, senantiasa mencerminkan pengamalan ajaran agama Hindu. Melihat kembali berbagai fungsi agama dalam kehidupan umat manusia, seperti sebagai faktor motivatif, edukatif, inspiratif, faktor sublimatif dan lain-lain, maka secara ringkas dapat dikatakan bahwa agama Hindu merupakan sesuatu yang relevan dengan segala tindakan intelektual, emosional manusia latar belakang sosial-budaya, geografis dan sebagainya.
Terdapat harapan yang secara eksplisit dipaparkan pada Kata Pengantar Mengapa Bali Unik? Penulis ingin Bali tetap diperkuat oleh energi toleransi, keramahan, kejujuran dan berpengatahuan. Sisi tradisional masyarakat Bali yang terbuka harus dibina. Karena itulah Bali harus menjadi wilayah sebagai pusat peradaban dunia, anti kekerasan, anti diskriminasi sekaligus sebagai poros tegaknya hak asasi manusia. Penulis juga bermaksud mendorong berfungsinya kebudayaan daerah di mana agama itu dianut. Kerenanya, setiap kebijakan harus diarahkan untuk memberdayakan potensi-potensi daerah secara maksimal. Dalam kebijakan seperti ini tidak berlaku konsepsi universalisme Hindu, karena yang dipentingkan adanya relativisme kultural. Jadi, semangat civilization consciousness harus lebih diarahkan pada tumbuhnya kesadaran akan kebudayaan sendiri (ix). Inilah mengapa di dalam buku Strategi Hindu banyak menjelaskan gerakan kegamaan seperti Gerakan Komunitas, Gerakan Keagamaan Hindu Dharma, Golongan Modernis, Fenomena Warga Pasek, Warga Pande dan gerakan lainnya yang secara dinamis memainkan peran dalam membangun struktur dan fungsi keagamaan Hindu di Indonesia.
Terdapat benang merah yang secara nyata dapat kita tarik dari kedua buku ini yakni sorotannya terhadap lembaga keumatan baik bersifat agama, pendidikan dan pemerintahan. Lembaga umat belum mampu secara maksimal mengantarkan umat untuk dapat mengenal identitas dirinya, melalui ajaran agama yang komprehensif, karena wawasan personal di samping interest oknum-oknum di lembaga/kelembagaan umat Hindu untuk mempertahankan privilege, warisan berabad-abad yang nyata-nyata bertentangan dengan ajaran agama Hindu. Mereka yang memahami, namun tidak memiliki akses untuk hal tersebut hanya tersenyum dan ketawa geli melihat oknum-oknum tersebut. Untuk itu sesuai semangat reformasi, maka reformasi kelembagaan, khususnya personal kelembagaan tersebut mesti diperbaiki, diganti oleh mereka yang memiki wawasan Hindu yang luas dan visi jauh ke depan.
Tidak seperti bacaan mainstream buku-buku Hindu yang kerap mengedepankan klaim-klaim narsistik tentang universalitas Agama Hindu, gaya bahasa di dalam buku ini sangat lugas dan menempatkan fakta dan cita-cita secara proporsional. Kita berharap ada gambar atau ilustrasi yang terselip di kedua buku ini pada cetakan-cetakan berikutnya, selain sebagai pemanis, hal ini sebagai representasi dari isi kedua judul dari buku tersebut. Adanya gambar justru memperjelas bahwa Bali memang unik bukan? *) Adalah Dosen STAH DN Jakarta