{"id":668,"date":"2011-03-25T15:20:10","date_gmt":"2011-03-25T15:20:10","guid":{"rendered":"http:\/\/stahdnj.ac.id\/?p=668"},"modified":"2011-06-07T13:03:31","modified_gmt":"2011-06-07T13:03:31","slug":"dharma-santi-nasional-perayaan-hari-raya-nyepi-tahun-baru-saka-1933","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/stahdnj.ac.id\/?p=668","title":{"rendered":"DHARMA SANTI NASIONAL PERAYAAN HARI RAYA NYEPI TAHUN BARU SAKA 1933"},"content":{"rendered":"<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal<\/w:View> <w:Zoom>0<\/w:Zoom> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables \/> <w:SnapToGridInCell \/> <w:WrapTextWithPunct \/> <w:UseAsianBreakRules \/> <\/w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4<\/w:BrowserLevel> <\/w:WordDocument> <\/xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class=\"mceItemObject\"   classid=\"clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D\" id=ieooui><\/span>\n<mce:style><!  st1\\:*{behavior:url(#ieooui) } --><\/p>\n<p><!--[endif]--><!--[if gte mso 10]>\n<mce:style><!   \/* Style Definitions *\/  table.MsoNormalTable \t{mso-style-name:\"Table Normal\"; \tmso-tstyle-rowband-size:0; \tmso-tstyle-colband-size:0; \tmso-style-noshow:yes; \tmso-style-parent:\"\"; \tmso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; \tmso-para-margin:0in; \tmso-para-margin-bottom:.0001pt; \tmso-pagination:widow-orphan; \tfont-size:10.0pt; \tfont-family:\"Times New Roman\";} --><\/p>\n<p><!--[endif]--><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-indent: 0.5in; line-height: 150%;\">Oleh : Eka Sulastri *<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;\">\u201c<strong>Dengan Melaksanakan Catur Brata Nyepi Kita Wujudkan Kehidupan yang<\/strong> <strong>Harmonis, Damai, dan Sejahtera<\/strong>\u201d. Inilah tema yang diangkat dalam Perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1933 yang diselenggarakan pada tanggal 21 Maret 2011 di GOR A.Yani Mabes TNI, Cilangkap \u2013 Jakarta. Acara<span> <\/span>yang dimulai pada pukul 17.00 WIB, diawali dengan melakukan persembahyangan Puja Tri Sandya yang dipimpin <span> <\/span>oleh Ida Pedanda Gde Panji Sogata dan diikuti oleh umat sedharma. Hal ini bertujuan agar dalam pelaksanaan dharmasanti dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;\">Setelah melakukan persembahyangan, sebagai penyambutan ditampilkan sebuah tarian yaitu Tari KATHAK (story of Lord Krishna) dan Tari Dhasavataram ( story about the incarnation of Lord Krishna) yang merupakan tarian berasal dari India.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;\">Acara perayaan Dharma santhi Nasional ini dihadiri masyarakat sedharma, Korpri, TNI dan Polri yang <span> <\/span>diselenggarakan pada hari Senin (21\/3\/2011).<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;\">Pada Acara ini Hadir Bapak Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Ani Bambang Yudhoyono, Bapak Wakil Presiden RI beserta Ibu Herawatie Boediono, dan para pejabat tinggi negara serta Pimpinan Majelis Agama.<\/p>\n<figure id=\"attachment_669\" aria-describedby=\"caption-attachment-669\" style=\"width: 455px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-669\" title=\"Dharma Santi Nasional\" src=\"https:\/\/stahdnj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/03\/perayaannyepinasional210311.jpg\" alt=\"Dharma Santi Nasional\" width=\"455\" height=\"294\" srcset=\"https:\/\/stahdnj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/03\/perayaannyepinasional210311.jpg 455w, https:\/\/stahdnj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/03\/perayaannyepinasional210311-300x193.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 455px) 100vw, 455px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-669\" class=\"wp-caption-text\">DHARMA SANTI NASIONAL. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (ketiga kiri), Ibu Negara Ny Ani Yudhoyono (keempat kiri), Wapres Boediono (ketujuh kanan) dan Ibu Herawati Boediono (keenam kanan) berfoto bersama dengan sejumlah pendukung acara Dharma Santi Nasional Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1933 di GOR Ahmad Yani, Kompleks Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (21\/3) malam. FOTO ANTARA\/Widodo S. Jusuf\/ama\/hm\/11.<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;\">Acara ini dimeriahkan dengan penampilan Dewa Bujana dkk dalam membawakan lagu-lagu rohani dengan penuh penghayatan dapat memukau seluruh undangan yang hadir.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;\">Usai Penyambutan Bapak Presiden RI beserta Ibu Ani Bambang Yudhoyono, Bapak Wakil Presiden RI beserta Ibu Herawatie Boediono, dan para pejabat tinggi negara serta Pimpinan Majelis Agama, seluruh hadirin menyanyikan Lagu Kebangsaan Nasional yaitu Lagu Indonesia Raya secara bersama-sama dengan diiringi kelompok drum band dari para anggota TNI. Suasana ruangan kembali tenang setelah selesai menyanyikan lagu Indonesia Raya Kekompakan dan kelincahan para penari yang menampilkan Tari Selat Segara membuat suasana kembali semarak. Menariknya lagi pembacaan Sloka Kitab Suci Weda yang dibawakan oleh putra putri dari Bali ( <em>Ni Luh Putu Nia Ernawati<\/em> sebagai pembaca dan <em>Ida Kumarayana<\/em> sebagai penerjemah) yang berpredikat sebagai pembaca sloka terbaik se-Kabupaten Karangasem sangat memikat hati para hadirin karena kepiawaian mereka dalam melantunkan sloka \u2013 slokanya.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;\">Dharmawacana disampaikan oleh Pinandita Soetarto dengan menguraikan Makna Hari Raya Nyepi.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;\">Ketua Panitia Penyelenggara Bapak Erlangga Mantik dalam sambutannya mengatakan tema perayaan nyepi tahun ini mengusung tema dengan melaksanakan Catur Brata Nyepi Kita Wujudkan Kehidupan Yang Harmonis, Damai dan Sejahtera.<br \/>\n\u201cSebagai penjabaran dari tujuan dan tema tersebut, panitia menetapkan lima program Nyepi tahun baru saka 1933 yang mencakup dimensi hubungan antar manusia dengan Tuhan Yang Maha Pencipta, dimensi hubungan antar manusia dengan sesamanya dan dimensi hubungan antar manusia dengan alam lingkungannya,\u201d\u00a0 kata Erlangga.<br \/>\nLima program tersebut meliputi, melaksanakan upacara melasti, melaksanakan upacara Bhuta Yajnya berupa tawur agung kesanga, melaksanakan bakti sosial, melaksanakan penghijauan bekerjasama dengan Kementerian Kehutananan dan Melaksanakan dharma santi nasional.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;\">Ucapan terima kasih juga disampaikan atas kehadiran para undangan dan kerja sama antara semua pihak sehingga seluruh rangkaian kegiatan Nyepi dapat terlaksana dengan baik.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;\">Bapak Presiden RI dalam sambutannya Mengemukakan bahwa Tema <span> <\/span>yang diangkat pada Perayaan Nyepi tahun ini, sangat relevan dengan upaya <span> <\/span>kita bersama untuk memantapkan kerukunan antar umat beragama, <span> <\/span>menciptakan <span> <\/span>kedamaian antar sesama, serta menumbuhkan sikap moral dan etika yang baik menuju <span> <\/span>kehidupan bangsa yang berbudi<span> <\/span>luhur Melalui tema ini, Presiden mengajak umat Hindu di seluruh tanah air untuk meningkatkan pengendalian diri, membangun keseimbangan rohani dan jasmani, serta meningkatkan kebersihan jiwa menuju kualitas kehidupan manusia yang mulia. Ajakan dan dorongan ini juga berlaku bagi kita sekalian, seluruh umat beragama di Indonesia. Bagi saudara-saudara umat Hindu, Nyepi memiliki arti penting untuk merenungkan hakekat dan makna kehidupan di alam fana ini. Nyepi merupakan sarana introspeksi dan evaluasi diri untuk membersihkan jiwa dari segala bentuk perilaku yang tidak baik, pikiran yang tidak jernih, dan perkataan yang tidak pada tempatnya. Pikiran dipusatkan pada jalan Tuhan, dengan cara mawas diri mencari ketenangan dan kedamaian.<span> <\/span>Hari Raya Nyepi juga menjadi sarana untuk memaknai kehidupan yang lebih berarti, serta menjaga kesucian rohani menuju jalan yang benar berdasarkan Dharma dan falsafah Tri Hita Karana. Pesan-pesan moral, spiritual, dan kebajikan dalam Dharma terasa amat teduh, yang hakekatnya bukan hanya untuk umat Hindu, tetapi juga bagi seluruh umat beragama di tanah air. Umat Hindu dikenal sebagai umat yang menjunjung tinggi kedamaian, ketentraman, toleransi, dan harmoni dalam kehidupan.<br \/>\nKedamaian, toleransi, dan harmoni perlu terus kita pelihara, kita hidupkan, dan kita segarkan di tengah bangsa yang majemuk ini. Jika semua itu dapat kita jaga, hidup kita akan diwarnai oleh sukacita dan kebahagiaan, dan bukan sebaliknya, pertengkaran dan ketakutan.<br \/>\nDemikian pula nilai-nilai filosofis Tri Hita Karana yang mengedepankan keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam lingkungan hidupnya, antara manusia dengan sesama, dan antara manusia dengan Sang Pencipta telah menjadi nilai-nilai universal yang diakui dunia. Kita patut bersyukur, Perserikatan Bangsa-Bangsa juga telah menggunakan falsafah Tri Hita Karana sebagai salah satu acuan konsep pembangunan ramah lingkungan yang berkelanjutan. Ajaran Tri Hita Karana serta keteladanan yang terkandung di dalamnya, dinilai memiliki peran penting dalam mendukung upaya global untuk mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim. Diakhir sambutannya presiden mengungkapkan bahwa kita memerlukan contoh dan teladan bagi masyarakat, baik teladan dalam kehidupan keseharian, teladan dalam menjalankan ajaran agama, dan teladan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan beliau<span> <\/span>mengajak para pemuka agama untuk memberikan contoh keteladanan itu, utamanya dalam menciptakan ketentraman, kedamaian, harmoni, dan persaudaraan dalam kehidupan masyarakat kita yang majemuk.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;\">Dipenghujung acara, Doa Keselamatan dan Kedamaian Bangsa yang dipimpin oleh Romo Pujo Broto Sejati dengan harapan agar Bangsa Indonesia terus bergerak maju dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat dan tetap berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945. Doa selesai diucapkan dan akhirnya sampai pada puncak acara.<span> <\/span><span> <\/span>Sebagai puncak acara pelaksanaan dharma santi tahun ini adalah pertunjukkan Oratorium \u201c Purusada Shanta \u201c yang isinya menggambarkan keteguhan dan kearifan Raja Sutasoma serta rela berkorban demi kepentingan rakyat. Pertunjukan ini sangat mengesankan karena pesan yang disampaikan dalam cerita tersebut adalah toleransi keberagaman <strong>Bhineka Tunggal Ika<\/strong> dalam masyarakat Indonesia yang berbangsa, berbahasa, dan bertanah air satu.<\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: right; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;\">*) Adalah Mahasiswa STAH DN Jakarta<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Eka Sulastri * \u201cDengan Melaksanakan Catur Brata Nyepi Kita Wujudkan Kehidupan yang Harmonis, Damai, dan Sejahtera\u201d. Inilah tema yang diangkat dalam Perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1933 yang diselenggarakan pada tanggal 21 Maret 2011 di GOR A.Yani Mabes TNI, Cilangkap \u2013 Jakarta. Acara yang dimulai pada pukul 17.00 WIB, diawali dengan melakukan persembahyangan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[374,373,376,375],"class_list":["post-668","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized","tag-brata","tag-catur","tag-dharma-shanti","tag-nyepi"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/stahdnj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/668","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/stahdnj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/stahdnj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stahdnj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stahdnj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=668"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/stahdnj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/668\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":671,"href":"https:\/\/stahdnj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/668\/revisions\/671"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/stahdnj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=668"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/stahdnj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=668"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/stahdnj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=668"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}