APLIKASI CATUR PURUSA ARTHA, MENGHADAPI HIMPITAN KEHIDUPAN YANG BERAT PADA ERA GLOBALISASI (SEBUAH TINJAUAN POLITIK & KEPEMIMPINAN HINDU)

Oleh : A. A. Gede Raka Mas*

Abstract

To know and understanding “Catur Purusa Artha”, as one concept of the Hindu’s teaching is very important. But, the most important is how to do in daily life. Fenomena that develop in our country today, are the raising of corruption, robbery, fighting between people of our village, and other amoral behaviors. Today, we know the condition is contrast from that teaching. We have to know, why this condition happened, and what’s the problem. Knowing the problems, I thing could find the solution, and hoping that solution can minimizing the moral degradation. The conclution we have to apply the Catur Purusa Artha in good action.

Keyword : Catur Purusa Artha, and the application.

A. Pendahuluan

Peneliti sangat tertarik dengan judul diatas. Setelah merenung cukup lama, membandingkan kehidupan peneliti ketika masih berumur 10 tahun di sebuah desa yang sangat tenang, aman dan sejahtera, sekitar tahun 50 (lima puluhan). Hari ini peneliti berumur 70 th, kondisi desa yang peneliti tinggalkan puluhan tahun yang lalu, wajahnya sudah sangat berbeda. Terjadi perubahan yang sangat signifikan, jika dibandingkan dengan kehidupan modern dewasa ini, sebagai suatu akibat dari pengaruh era globalisasi. Berdasarkan dengan fenomena masyarakat dewasa ini, yang tidak henti-hentinya diterpa oleh kejadian-kejadian yang memalukan, seperti terjadinya perbuatan amoral sebagai tanda adanya degradasi moral dan runtuhnya kemuliaan manusia, yaitu demikian maraknya perampokan, pencurian, pemerkosaan, tindakan kekerasan, bahkan terjadinya pembunuhan yang sangat sadis, demikian pula terjadinya penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang oleh oknum pejabat, menimbulkan motivasi yang sangat kuat bagi peneliti untuk mencari solusi dari permasalahan itu. Untuk mempersempit atau menyederhanakan objek penelitian ini, maka peneliti mengambil sebuah ajaran yang sangat populer di Bali (lebih-lebih di desa penulis) yaitu di desa Mas, Ubud, Gianyar, Bali.Ajaran itu adalah “Catur Purusa Artha”.Ajaran ini lebih terkenal di Bali, melalui produk sastra “Sekar Agung” yang berjudul “Prihen Temen”.


Bait satu sampai dengan bait-bait berikutnya merupakan bait-bait yang sangat penting, sebagai suatu pegangan, atau pedoman untuk pemimpin-pemimpin desa, kota, masyarakat, bahkan untuk bangsa dan Negara. Ajaran Catur Purusa Artha dan Sekar Agung yang berjudul Prihen Temen ini, sesungguhnya ajaran yang sangat bernilai tinggi, jika dikaitkan dengan nuansa politik Negara, lebih sederhananya sebagai ajaran kepemimpinan Hindu. Ajaran ini benar-benar bernilai tinggi, karena inti ajaran ini sudah terjadi sekian ribu tahun yang lalu, namun masih valid sampai detik ini.Inti ajaran ini disampaikan oleh Rama, untuk menasehati Wibisana, ketika dilantik menjadi Raja Alengka, menggantikan Rahwana (Kakaknya).Dengan demikian, nasehat ini dapat dikatakan sebagai satu wejangan yang berbau politik jika dianalogikan dengan kondisi dewasa ini.

Satu bait yang sangat penting dari Sekar Agung itu adalah sebagai berikut :

“Prihen temen, dharma dumeranang sarat”

Seraga sang sadu, sireka tutana

Tan artha tan kama, pidonia tan yasa

Ya sakti sang sajgana, dharma raksasa.

Jika “Sekar Agung”, diatas ini dikaitkan dengan situasi politik dan kepemimpinan Hindu jelas mempunyai relevansi yang cukup kuat dengan politik dan kepemimpinan bangsa (Indonesia).

Politik adalah (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan; dapat juga dikatakan sebagai urusan dan tindakan (kebijakan, siasat dsb) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi 2 : 780). Sedangkan kepemimpinan adalah perihal memimpin, cara memimpin (KBBI, Edisi : 769).

Yang menjadi pokok soal/issue pada Sekar Agung “Prihen Tenen” itu adalah bagaimana caranya mengatur, mengurus dan menyelenggarakan negara itu secara baik sehingga negara Alengka itu menjadi baik, dalam pengertian menjadi aman, tenteram, makmur dan sejahtera. Satu, inti dari Sekar Agung Prihen Temen atau dalam ajaran Catur Purusa Artha itu adalah pelaksanaan “dharma”, juga untuk mencapai kesuksesan dalam memimpin negara itu. Segala hal, terutama untuk memperoleh artha/kekayaan berupa benda, harus didasarkan pada “dharma”, demikian juga untuk mencapai keinginan (termasuk nafsu atau kama) harus didasarkan pada dharma itu sendiri. Demikian juga untuk mencapai ketenaran, kemasyhuran, juga harus berdasarkan dharma.

Hari ini, kondisi yang diharapkan itu masih jauh dari harapan.Fenomena yang terjadi sampai hari ini justru sangat memprihatinkan, tidak sedikit pejabat yang dipercaya oleh rakyat, tidak atau belum mampu membawa rakyat Indonesia pada kehidupan yang makmur, aman, dan sejahtera. Kenapa terjadi demikian, tentu harus dicari sebab-sebabnya, juga solusinya yang tepat. Karena itu, rumusan masalah yang perlu dijawab adalah, apa yang menjadi sebab-sebab dari degradasi moral itu. Sudah itu, perlu dikembangkan, solusi apakah yang patut diupayakan, agar mampu mencapai kebahagiaan lahir batin, bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sesuai judul karya ilmiah ini, yaitu “Aplikasi Catur Purusa Artha, Di dalam Kehidupan Sehari-hari Umat Hindu, Menghadapi Himpitan Kehidupan yang Berat Pada Era Globalisasi (Sebuah Tindakan Politik dan Kepemimpinan Hindu) dapat dijelaskan hal-hal di bawah ini :

B. Faktor-faktor dominan yang menyebabkan terjadinya degradasi moral, adalah :

1) Ketidaktahuan

2) Miskin keteladanan Pemimpin

3) Berkembangnya materialism

4) Ajaran Agama belum menjadi motivator untuk berbuat baik

5) Berkembangnya individualisme (meninggalkan kegotong-royongan)

6) Hedonisme

7) Lemahnya pemahaman terhadap tujuan agama dan tujuan hidup manusia

8) Ajaran agama hanya mampu dikuasai, tetapi tidak untuk dilaksanakan

9) To know, to do, and to be

10) Untuk apa hidup ini?

11) Kurangnya rasa bersyukur

C. Analisa

Sebelum menganalisa, membahas lebih dalam tentang isu-isu yang merupakan faktor dominan untuk mencapai aplikasi yang tepat tentang Catur Purusa Artha itu, terlebih dahulu akan dibahas apa yang di maksud dengan “Catur Purusa Artha”, nilai apa yang dapat diperoleh di dalam pembahasan dan kiat-kiat untuk mencapai kesuksesan di dalam kehidupan sehari-hari.

D. Pemahaman Catur Purusa Artha

Ajaran Catur Purusa Artha terdiri dari 3 suku kata yaitu Catur, Purusa, Artha. Catur artinya empat (4), Purusa (dalam hal ini artinya manusia) dan Artha artinya tujuan.Jadi ada 4 (empat) tujuan hidup manusia yang perlu di capai, yaitu Artha (kekayaan benda, materi), Kama (memenuhi keinginan, nafsu), Dharma (taat pada aturan, ketentuan, undang-undang, dan segala yang mengikat seorang pejabat untuk mencapai tujuan pemerintahannya). Dharma juga berarti kebaikan, kebajikan; Pada Sarasamuscaya 14 dikatakan; Dharma adalah seperti perahu yang akan menjadi alat untuk menyeberangi samudra (kehidupan). Moksa, tujuan ke empat dari manusia Hindu, yaitu kebahagiaan rohani yang tertinggi, menginginkan bersatunya Atman dengan Brahman. Moksa juga berarti Mukti yakni kebebasan dari ikatan Kama, kelahiran, kematian, serta belenggu dari hidup keduniawian. Moksa juga dikatakan sebagai tujuan tertinggi dari setiap insan Hindu.Untuk mencapai persatuan Atman dengan Tuhan adalah upaya yang sangat sukar, karena manusia di dalam dunia ini diikat oleh adanya benda-benda dunia yang serba menarik seperti wanita yang cantik, mobil yang mewah, kekuasaan yang menjanjikan kehidupan yang glamor, dan sebagainya. Seringkali rasio dan rasa manusia dimatikan oleh kehidupan yang mewah itu, sehingga terlena dan lupa akan tujuan tertinggi dari kelahiran manusia itu sendiri. Untuk menyadarkan manusia akan kemewahan dan keduniawian ini, sangat diperlukan pengendalian diri. Itulah 4 (empat) tujuan manusia yang menjadi unsur-unsur penting yang hendak dicapai manusia Hindu yang menjadi satu ikatan di dalam Catur Purusa Artha, atau pada “Sekar Agung”, Prihen Temen. Dari uraian singkat tentang Catur Purusa Artha dan Prihen Temen itu adalah Dharma. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dari tinjauan politik dan kepemimpinan Hindu, seberapa tinggi pun jabatan yang diampu oleh seorang pemimpin dan siapapun pejabat itu, harus dan mutlak mendasarkan dan berlandaskan pada aplikasi Dharma yang sebaik-baiknya. Jika seorang pemimpin Hindu mampu melaksanakan hal ini, yaitu menegakkan “Dharma” di dalam pemerintahannya, maka pemimpin itu bukan saja sukses di dalam tugas pekerjaan pemerintahannya namun juga mampu mencapai tujuan tertinggi dari kemanusiaannya yaitu Moksa.

E. Cara-cara mencapai tujuan manusia

Adapun cara-cara mencapai tujuan itu, sesuai dengan faktor-faktir dominan yang mempengaruhi sukses atau gagalnya nuansa politik dan kepemimpinannya akan di analisis di bawah ini sebagai berikut :

1) Ketidaktahuan

Berdasarkan observasi, hasil wawancara, bahwa terjadinya degradasi moral adalah akibat dari ketidaktahuan.Secara umum, setiap pribadi mempunyai mimpi, keinginan, kemauan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tanpa keinginan dan tanpa motivasi seseorang tidak akan dapat maju di dalam hidupnya. Nafsu dan keinginan itu mendorong manusia untuk beraktifitas, lebih-lebih untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.Kebutuhan manusia itu sangat banyak, dan bahkan beragam.Maslow mengatakan bahwa kebutuhan manusia itu terdiri dari kebutuhan fisik, misalnya kebutuhan untuk makan, minum, istirahat, dan sebagainya. Ada lagi kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan untuk bermasyarakat. Manusia tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bermasyarakat, bergaul; kemudian ada juga kebutuhan keamanan atau kebutuhan sekuriti.Manusia memerlukan keamanan dan ketenangan di dalam hidupnya; sudah itu ada kebutuhan untuk dihargai, dan ada lagi kebutuhan untuk mencapai sesuatu yang tertinggi di dalam hidupnya. Maslow mengatakan semua kebutuhan itu sebagai “Hierarchy of Needs”; kebutuhan manusia itu sangat beragam dan bertingkat-tingkat. Kebutuhan yang demikian banyak, memerlukan kesadaran dan pengendalian diri. Tidak mungkin semua manusia mampu memenuhi segala keinginan, bahkan kebutuhannya. Karena itu diperlukan kesadaran dan pengendalian diri. Dengan ketidaktahuan, baik untuk kebutuhan fisik, sosial, dan sebagainya, manusia itu dapat saja menabrak ke kiri dan ke kanan, akhirnya dapat pula mencelakakan dirinya. Tindakan korupsi, materialisme, dan hedonisme adalah perilaku-perilaku yang dapat menimbulkan runtuhnya kemuliaan manusia, karena itu terjadilah degradasi moral. Seseorang pemimpin yang tadinya dihormati oleh bawahannya, dan kemudian masuk penjara belasan tahun atas ketidaktahuannya menyalahgunakan kekuasaan, wewenang, menimbulkan kesengsaraan, malu, dan meruntuhkan wibawa dirinya. Secara politis, pejabat itu telah meruntuhkan kepemimpinannya.Karena itu, kesadaran diri dan pengendalian diri pantas di waspadai. Kesimpulannya, ketidaksadaran atau ketidaktahuan akan menimbulkan bencana, prahara, baik bagi dirinya, keluarganya, bahkan juga untuk bangsa dan negara.

2) Miskin Keteladanan Pemimpin

Untuk mencapai suatu tujuan, perlu ada manajemen yang diterapkan. Makin besar tujuan yang hendak di capai makin besar pula upaya yang akan dilaksanakan, sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat di capai dengan sebaik-baiknya. Secara umum, manajemen yang diterapkan meliputi 4 macam upaya yaitu, perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan controlling (pengawasan) (George Terry). Lebih-lebih jika yang hendak di capai adalah tujuan hidup manusia yaitu Catur Purusa Artha (meliputi tujuan harta kekayaan, keinginan-keinginan yang demikian banyak jumlahnya), kemudian berwujud menjadi kebutuhan manusia, berbuah kebaikan, kebajikan serta patuh akan aturan-aturan hidup (dharma), lalu mencapai kemerdekaan/kebebasan, yaitu lepas dari keduniawian (moksa) jelas memerlukan upaya-upaya yang sangat intensif. Dalam hal ini diperlukan pemimpin dan kepemimpinan yang handal. Dewasa ini, negara kita Indonesia yang tercinta mengalami krisis pemimpin dan kepemimpinan.Pemimpin yang kita harapkan sangat miskin memberikan teladan, bahkan cukup banyak yang tersandung pada korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan perilaku-perilaku lain yang bernuansa amoral atau berada pada tingkatan degradasi moral. Fenomena ini menjadi bukti bahwa pemimpin kita sangat miskin memberikan keteladanan, yang mampu mengarahkan rakyat pada kondisi yang aman, makmur dan sejahtera. Dapat disimpulkan bahwa rakyat mendapatkan kepemimpinan yang miskin dalam keteladanan. Kondisi yang seperti ini jelas akan menyusahkan untuk mencapai kehidupan rakyat yang baik, seperti yang diajarkan pada konsep ajaran “Catur Purusa Artha”, yaitu mampu memperoleh harta kekayaan, pemenuhan hawa nafsu dan keinginan-keinginan, pelaksanaan dharma yang tepat, lebih-lebih untuk moksa (bebas dari keduniawian, untuk menyatukan sang Atma dengan paramatma yaitu tujuan tertinggi manusia Hindu).

3) Berkembangnya materialisme

Setelah kemerdekaan Indonesia, rasa perjuangan rakyat makin luntur. Orang berlomba-lomba memikirkan diri sendiri menjadi kaya, menjadi pintar dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sebanyak-banyaknya. Oknum pejabat pemerintah menyalahgunakan kekuasaan dan wewenangnya. Berkembangnya mental materialisme tidak dapat di bending.Paham ini (materialisme) sangat mengecewakan dan merugikan negara, karena dampak paham ini menyebabkan terjadinya korupsi, nepotisme, perampokan, pencurian dan sifat-sifat amoral lainnya.Paham ini yaitu materialisme, meruntuhkan derajat moral masyarakat. Oknum pejabat yang menyalahgunakan wewenang, kekuasaan, makin banyak saja masuk rutan (rumah tahanan) atau penjara. Materialisme sangat merugikan negara, karena materialisme merupakan satu paham yang mengukur segala sesuatunya dengan ukuran materi, namun melupakan unsur norma yang berlaku dalam masyarakat. (Raka Mas, 2012 : 13) Kesuksesan hidup pun diukur dari kekayaan yang dimiliki oleh seseorang, tanpa memperhatikan aturan-aturan yang berlaku. Setiap kesempatan harus menjadi uang. Dengan berkembangnya mental materialisme, ajaran Catur Purusa Artha yang intinya harus berdasarkan dharma, makin jauh ditinggalkan. Yang penting bagaimana caranya agar bisa kaya, dapat punya mobil mewah, punya rumah bagus, dan sebagainya. Rakyat kecil yang tanpa jabatan dan kesempatan, makin miskin dan tidak mampu mengecap pendidikan pada sekolah yang baik. Semua kondisi seperti diatas ini akhirnya menimbulkan masalah kemiskinan, kebodohan, lemahnya penegakan hukum, dan runtuhnya kemuliaan manusia.

4) Hedonisme

Secara umum dapat diakui dan dibenarkan, bahwa hidup seorang manusia adalah untuk mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin. Kedua kebahagiaan itu dipersempit atau diperkecil menjadi kesenangan saja.Hedonisme adalah sebuah paham tentang kesenangan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 2 halaman 345, menyebutkan bahwa “hedonisme” ialah suatu pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama dalam hidup ini. Kalau kita tinjau dari tujuan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, maka mendapatkan kebahagiaan dunia tidak ada salahnya, ya syah-syah saja.Setiap orang ingin memperoleh kesenangan. Hanya sayang, jika hanya kesenangan materi yang dikejar, maka pada kesempatan tertentu, bisa jadi orang ini akan melalaikan kebajikan, melupakan hukum, undang-undang atau norma-norma kehidupan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa orang ini lupa dengan “dharma”.Dharma adalah dasar untuk memperoleh kesenangan maupun kebahagiaan. Kemungkinan besar orang ini akan menhalalkan segala cara asalkan memperoleh kesenangan. Selain itu bisa terjadi, bahwa orang-orang yang mempunyai jabatan dan kekuasaan akan menyalahgunakan wewenang dan kekuasaannya. Degradasi moral yang terjadi sekarang ini adalah wujud dari pemenuhan untuk mendapatkan kesenangan tanpa memperhatikan hukum yang berlaku. Jika dikaji “Sarasamuscaya 12” disebutkan sebagai berikut , “Yan paramarthanya, yang artha kama sadhyan, dharma juga lekasakena rumuhun, nyate katemwaning arthakama menetan paramartha wikatemwaning arthakama dening anasar sakeng dharma”.

Pada hakekatnya, jika artha dan kama di tuntut, maka seharusnya dharma hendaknya dilakukan lebih dulu, tak tersangsikan lagi, pasti akan diperoleh artha dan kama itu nanti tidak akan ada artinya, jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma (Kadjeng dkk, 2003 : 15). Jadi jelaslah, bahwa hedonisme sangat berbahaya bagi seorang pemimpin Hindu, terutama jika melanggar inti, dan makna daripada Sarasamuscaya 12 ini.

5) Ajaran Agama belum menjadi motivator untuk berbuat baik

Sering sekali kita mendengar bahwa rakyat Indonesia sangat agamis. Ada 5 (lima) agama yang diakui oleh pemerintah Indonesia. Karena itu wajar jika banyak orang yang mengklaim bahwa mereka adalah orang-orang yang agamis. Agama yang diakui adalah agama Islam, Kristen (Protestan dan Katholik), agama Hindu, Agama Budha, bahkan juga Kong Hu Cu. Setiap perayaan dari masing-masing agama itu, selalu dirayakan dengan kemeriahan. Kalau ada hari raya, umat beragama itu sangat tekun dan rajin menjalankan ibadah agamanya.Namun sayang, belum ada keseimbangan antara ramainya perayaan itu. Kerukunan umat beragama menjadi perlu dibina secara terus menerus, sehingga konflik yang terjadi antar agama itu dapat dikurangi secara signifikan. Toleransi juga masih perlu ditingkatkan agar kenyamanan dan keamanan tetap terjadi. Secara singkat dapat dikatakan bahwa umat beragama masih memerlukan bimbingan, binaan, agar umat beragama itu benar-benar menjadikan agama itu sebagai motivator untuk berbuat kebaikan.

Upaya lain

Faktor-faktor lain yang juga dominan menyebabkan terjadinya degradasi moral adalah berkembangnya individualisme, sehingga meninggalkan sifat kegotong-royongan yang tadinya merupakan kepribadian yang sangat positif di tengah masyarakat yang multibudaya. Lemahnya pemahaman terhadap tujuan agama dan tujuan individu beragama, patut juga diperhatikan, bahwa penguasaan/pemahaman ajaran agama secara baik agar mampu dilaksanakan didalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Ada ungkapan bahwa memahami ajaran agama secara baik (to know) adalah memang baik, tetapi lebih baik lagi kalau dapat dipraktekkan di masyarakat (to do), sehingga pemahaman ajaran agama itu mewujudkan masyarakat yang rukun, hormat-menghormati, dan mampu meningkatkan toleransi (to be). Dengan demikian kita akan menemukan kehidupan masyarakat yang aman, tenang, sejahtera, walaupun berada pada keragaman agama.

Jika demikian, maka kita dapat mewujudkan bahwa hidup di dunia dalam keragaman agama bukan saja agama itu baik di kalangan kelompok tertentu saja, namun pada keseluruhan umat beragama di Indonesia – Amin. Om Santih – Santih – Santih, Om.

Kesimpulan

Mengharapkan aplikasi Catur Purusa Artha yang sempurna dewasa ini adalah upaya yang sangat sulit. Sebabnya sangat bervariasi, karena tinjauannya bisa dilihat dari aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, agama dan lain-lainnya. Solusi yang diambil pada analisa permasalahan dan solusinya ditinjau dari politik dan kepemimpinan Hindu. Masalah yang dapat ditemukan dari aplikasi Catur Purusa Artha ini adalah : karena ketidaktahuan, miskin keteladanan pemimpin, berkembangnya mental materialisme, agama belum menjadi motivasi untuk berbuat kebaikan, berkembangnya hedonisme, dan lain-lainnya. Misalnya kurang ada kesadaran dan pengendalian diri terhadap keinginan untuk korupsi, penguasaan ilmu yang tinggi belum mampu menjadikan ilmuwan tersebut menjadi orang bijaksana, justru menyimpang dari makna penguasaan ilmu pengetahuan itu.

Lain dari itu juga karena kurangnya rasa bersyukur dan tidak paham akan buat apa hidup ini / dapat dikatakan lemahnya kecerdasan spiritual, terlalu tenggelam untuk mencapai kesenangan keduniawian.

*Dosen STAH DN Jakarta

Daftar Pustaka

Raka Mas, A.A. Gede, 2012. Runtuhnya Kemuliaan Manusia. Surabaya. Paramitha.

___________________ , 2012. Mutiara Hindu; Sebagai Menata Budi Pekerti Luhur.

___________________ , 2013. Etika Susila Untuk Pelayanan Umat Manusia. Surabaya. Paramitha.

___________________ , 2013. 33 (Tiga Puluh Tiga) Hal Yang Dapat Mempengaruhi dan Merubah Kehidupan. Surabaya. Paramitha.

Maslow, Abraham, 1986. Farthers Reaches of Human Nature. New York. Orbis.

Sztompka, Piotr, 1993. The Sociology of Social Change. Oxford. Blackwell.

Kadjeng, I Nyoman, 2000.Sarasamuscaya. Surabaya. Paramitha.