Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Oleh : Ngakan Putra*
Om Swastyastu.
I. Pendahuluan.
Daya kritis saya maksudkan sebagai kemampuan untuk memberikan penilaian secara rasional atas suatu realitas atau ideologi termasuk yang bersumber dari agama yang dapat mempengaruhi perilaku masyarakat.
Yang dimaksud dengan “media” meliputi media cetak (surat kabar, majalah), eletronik (tv, radio), online (berita online, website) dan media sosial (facebook, twitter, dll).
Untuk apa membangun daya kritis? Dan mengapa melalui media?
Penyebaran agama-agama Semitik (rumpun Yahudi) sampai permulaan abad 20 menggunakan pola 3 M, yaitu: M = Mercenaries (tentara bayaran), Merchant (pedagang), Missionaris (penyebar agama).
Pola ini dapat dilihat dalam penyebaran agama Kristen dan Islam di India, dan juga di Indonesia. Sekarang pun pola 3 M juga masih dipergunakan. Tetapi secara umum M yang pertama tidak lagi merupakan singkatan dari Mercenaries (crusader, jihadi), tetapi Media, kecuali di beberapa negara di Timur Tengah dan Afrika Utara, di mana penyebaran agama masih menggunakan kekerasan ala tentara bayaran. M yang kedua adalah Money, uang dalam bentuk bantuan pendidikan, kesehatan, bantuan modal usaha, pekerjaan dll, yang bisa datang dari para Merchant, bisa juga dari iuran para anggota kelompok pemeluk agama yang memiliki semangat tinggi untuk menambah jumlah anggotanya.
Perlu dicatat, agama Hindu tidak pernah disebarkan dengan bantuan pasukan berkuda (mercenaries) sambil merampok dan menjarah, atau bujukan uang dalam bentuk bantuan modal usaha, pendidikan dan kesehatan (money). Agama Hindu menyebar luas ke berbagai belahan dunia, karena daya tarik filsafat dan praktik spiritualnya (sadhana). Di zaman modern ini, agama Hindu mau tidak mau bahkan harus menggunakan media massa untuk menyampaikan pesan-pesannya yang bermanfaat bagi hidup bersama secara damai dan untuk membangun etika global dalam penyelamatan lingkungan.
Media massa cetak dan elektronik, merupakan sarana yang sangat ampuh untuk siar agama. Surat kabar nasional, misalnya Kompas, dicetak sebanyak 600.000 eksemplar, dan satu eksemplar dibaca oleh satu keluarga, minimal 2 orang. Media elektronik, seperti TV ditonton oleh jutaan orang. Siar agama bisa dalam bentuk berita, opini, features, diskusi, sinetron, kotbah dllnya. Semua bentuk siar agama ini bisa tembus ke ruang keluarga, bahkan kamar tidur orang-orang Hindu.
Namun masyarakat Hindu belum dapat menggunakan sarana media massa cetak dan elektronik, karena dua alasan. Pertama, adalah hambatan modal. Belum ada pengusaha Hindu yang berani atau mampu menanamkan modalnya di media massa cetak atau elektronik dengan lingkup nasional, karena memerlukan biaya yang sangat besar. Kedua, adalah hambatan mental. Masyarakat Hindu umumnya, termasuk kaum intelektualnya, kurang berani atau masih enggan melakukan dialog kritis dengan pemikiran-pemikiran dari agama lain.
Saya lebih banyak akan mengangkat masalah kedua, karena orasi ilmiah ini bukan tentang membangun media massa, tetapi tentang membangun daya kritis, sambil mencari upaya bagaimana caranya kita menyiasati hambatan pertama dengan memanfaatkan teknologi informasi yang tersedia, seperti media online dan media sosial. Sekalipun kedua jenis media ini memang belum memperoleh kepercayaan yang tinggi dari masyarakat, tetapi keduanya boleh dikatakan menembus hegemoni dan ‘blokade’ dari media massa cetak dan elektronik.
II. Berpikir kritis dalam tradisi Hindu.
Tanda adanya pemikiran kritis di dalam suatu agama adalah bilamana pertanyaan tentang hal-hal fundamental, misalnya, tentang makna dari teks-teks suci, tentang hakikat Tuhan, tentang tindakan Tuhan, tentang manusia, diijinkan. Di dalam agama Hindu pertanyaan-pertanyaan semacam itu diijinkan. Di dalam Upanisad ajaran-ajaran fundamental dari agama Hindu (tattva) disampaikan dalam bentuk dialog kritis antara guru dengan sisyanya, antara manusia dengan Inkarnasi Tuhan (Avatara).
Salah satu dialog yang menarik di dalam Upanisad akan saya kemukakan di bawah ini sebagai contoh.
Vajrasravasa, karena menginginkan pahala surga dan duniawi, mengorbankan seluruh harta miliknya yaitu seekor kerbau tua yang sudah tidak bisa merumput, minum, menghasilkan susu, apalagi melahirkan anak.
Putranya, Nachiketas, sekalipun masih muda telah memiliki pandangan jauh ke depan. Ketika upacara itu dilaksanakan ia berpikir:
Upacara korban kerbau yang buruk ini, yang sudah terlalu tua untuk menghasilkan susu, bahkan tidak sanggup lagi makan rumput dan minum air, hanya akan membawa penderitaan. Dan ia berpikir untuk mengorbankan dirinya sendiri (sebagai dhakshina). Ia berkata kepada ayanya:
“Oh, ayah, kepada siapa engkau akan mempersembahkan aku?” Ayahnya tidak menjawab. Ia lalu mengulangi pertanyaannya: “Oh, ayah, kepada siapa engkau akan mempersembahkan aku?” Ayahnya diam. Untuk ketiga kalinya ia mengulangi pertanyaan itu: ”Ayah, kepada siapa engkau akan mempersembahkan aku?”
Ayahnya marah, lalu berkata: “Aku akan mempersembahkan kamu kepada Yama, penguasa kematian.”
Nachiketas terkejut oleh perkataan ayahnya, merenung dan memberi tahu ayahnya yang sekarang menyesal, bahwa ia jauh lebih baik dari banyak anak lain, dan tidak ada yang akan diperoleh dengan menjilat kata-kata yang sudah diucapkannya.
Nachiketas mengingatkan ayahnya bahwa tidak ada leluhur mereka, maupun keluarga mereka yang masih hidup yang merupakan orang-orang yang sopan melanggar janjinya. Lagi pula kehidupan manusia hanya bersifat sementara. Seperti sehelai rumput manusia mati dan lahir kembali.
Nachiketas pergi kepada Yama, Sang Penguasa kematian. Di sana ia menunggu selama tiga hari tiga malam tanpa makan dan minum. Pada hari ketiga Yama menemuinya, katanya: “kamu telah datang sebagai tamu suci ke tempatku, dan kamu telah diabaikan selama tiga hari tiga malam. Sekarang mintalah tiga hadiah.”
Nachiketas mengajukan tiga permohonan. Pertama agar kemarahan ayahnya diredakan. Kedua, agar dijelaskan kepadanya tentang api suci yang menuntun ke surga. Ketiga agar dijelaskan kepadanya apakah setelah seseorang mati, “ia ada” atau “ia tiada”?
Permohonan pertama dan kedua segera dikabulkan. Tetapi untuk permohonan ketiga Yama tidak menjawab. Sebagai gantinya Yama menawarkan kekayaan, kemashuran dan kekuasaan kepada Nachiketas. Nachiketas menolak tawaran itu, “karena apa artinya semua itu karena kematian ada di mana-mana?” Ia berkukuh agar Yama menjawab pertanyaannya yang ketiga. Apa yang terjadi setelah seseorang mati?
Yama mengelak untuk menjawab: “Pilihlah anak-anak dan cucu-cucu yang akan hidup seratus tahun, ternak dalam jumlah banyak, gajah, emas dan kuda. Pilihlah tanah yang luas dan hiduplah selama yang kamu inginkan.”
Nachiketas tidak terpengaruh oleh janji-janji itu. “Semua itu bersifat sementara dan semua kekuatan indriya manusia akan melemah. Lagi pula, seluruh hidup ini sangat singkat. Milikmulah kereta-kereta itu, milikmulah tarian dan nyanyian itu. Kumohon, beritahu aku mengenai keberangkatan besar itu.”
Nachiketas ingin mengetahui rahasia keberangkatan besar, mahan samparaya, dari mana tidak ada yang kembali (moksa). Karena kegigihan Nachiketas, Yama akhirnya mengajarinya tentang pengetahuan tertinggi itu, tentang perbedaan antara kemakmuran dunia dan pembebasan juga perbedaan antara pencerahan dan ketidak-tahuan. Sesudah itu Yama memuji Nachiketas dengan berkata: “Saya mengganggap Nachiketas sebagai seorang pencari pengetahuan, karena hal-hal yang didambakan, sekalipun banyak, tidak mengggodamu.” [1]
Bhagawad Gita sepenuhnya menggunakan dialog kritis sebagai metode dalam penyampaian ajarannya. Arjuna terus mengajukan pertanyaan akan keraguannya atas berbagai hal. Dan Krishna menjawabnya dengan sabar. Barulah pada percakapan XI, Arjuna percaya akan jawaban Krishna, setelah Krishna menunjukkan siapa dirinya, bahwa Ia adalah Avatara Tuhan.
Perintah utama di dalam agama Hindu bukan, “Sembahlah Aku saja!” atau “Percayalah hanya padaku, kalau tidak kamu akan masuk neraka”. Tetapi “Ketahuilah Itu, karena Itu adalah Brahman”.[2] Dan “Siapa yang mengetahui Brahman menjadi Brahman”.[3] “Ketika Brahman itu, dasar dari semua sebab dan akibat, diketahui, hasil dari tindakan tidak akan mengikatmu.” [4] “Mereka yang mencapai Brahman dengan bergerak maju melalui jalan ini, tidak kembali ke dalam lingkaran kelahiran dan kematian.” [5]“Seseorang yang mengetahui kebahagiaan abadi (hakikat sesungguhnya dari) Brahman, tidak lagi memiliki ketakutan terhadap apapun.” [6]
Pengetahuan itu membawa kesejahteraan dan pembebasan. Pengetahuan yang lebih rendah (apara vidya) membawa kesejahteraan (abhyudaya, prosperity). Pengetahuan yang lebih tinggi (para vidya) membawa pembebasan (moksa, nihsreyasa, liberation).
Para maharsi berpendapat, kepercayaan itu harus ada di dalam terang cahaya pengetahuan (jnana). Kepercayaan buta ditolak, karena buta dalam keyakinan berarti buta dalam akal dan hati nurani, ini jauh lebih buruk dari buta secara fisik. Kepercayaan buta berpotensi menjatuhkan manusia ke dalam jurang fanatisme, kebencian dan kekerasan. Orang semacam ini, menurut Blaise Pascal (filsuf Perancis 1623-1662), mampu melakukan kekejaman luar biasa dan dengan riang gembira pula.
Segala metode atau pramana (epistemologi) termasuk bertanya dan meragukan dipergunakan untuk memperoleh pengetahuan. Dan hanya orang yang memiliki daya kritis yang mampu bertanya dan meragukan secara benar. Makin sering kita bertanya tentang Tuhan makin dekat kita kepadanya. Dalam agama-agama lain, ada larangan meragukan dan bertanya tentang keyakinannya. “Janganlah engkau terlalu banyak bertanya, karena hal itu menyebabkan kamu akan kehilangan iman.”
Hindu bukan agama dogmatik atau legalistik yang tidak tidak tahan sorotan cahaya akal dan kritik sejarah. Hindu merupakan kumpulan dari pengalaman rohani yang luas dari para maharsi Veda yang memperoleh pengetahuan secara langsung (manunggaling kawula gusti). Oleh karena itu Hindu adalah agama filsafat dan spiritualitas. Filsafat bersifat rasional, dan spiritualitas berdasarkan pengalaman rohani yang nyata.
III. Purva paksa.
Tradisi dialog kritis berkembang menjadi purva paksa dalam kehidupan intelektual agama Hindu. Purva paksa artinya = prima facie view (pandangan yang kokoh), pandangan lawan; titik pandang sebelumnya. Secara umum, di dalam semua karya filsafat India, pertama pandangan lawan dikemukakan, dan kemudian, setelah pandangan ini ditolak, lalu pandangan sang penolak dikemukakan. [7]
Mereka yang kalah dalam perdebatan menjadi murid dari yang menang. Tidak jarang, seorang guru yang kalah berdebat dengan muridnya, lalu menjadi murid dari mantan muridnya itu. Tradisi purva paksa terbukti mampu mencegah konflik yang timbul dari pemaksaan kehendak untuk menciptakan ideologi monolit.
Metode ini dipergunakan oleh para filsuf Hindu sejak zaman klasik, dari Sankara sampai zaman modern, Radhakrishnan dan lain-lain. Di India, sudah sejak zaman Ramayana, para raja menyelenggarakan perdebatan antara para pandit tentang agama dan filsafat. Perbedaan pendapat di bidang agama dan filsafat bukan dilarang atau ditindas tetapi dirayakan dan disuburkan.
1. Shankaracharya.
Adi Shankara (788-820) juga dikenal sebagai (Adi) Shankaracharya dan Shankara Bhagavatpada, ?a?kara Bhagavatp?da, ?a?kara Bhagavatp?d?c?rya – adalah seorang filsuf Hindu yang paling dihormati yang mengkonsolidasi doktrin Advaita Veda nta.
Karya-karyanya dalam bahasa Sansekerta membangun doktrin advaita, kesatuan atman dan Nirguna Brahman “brahman tanpa sifat”. Karya-karyanya menguraikan ide-ide yang ditemukan dalam Upanisad. Dia menulis komentar secara rinci tentang ajaran Veda (Brahma Sutra, Upanisad Utama dan Bhagavad Gita) untuk mendukung tesisnya.
Di dalam bukunya “Brahma Sutra Bhasya” (tafsir dari Brahma Sutra) Veda, Upanisad, Bhagawad Gita diperdebatkan. Atau dengan kata lain, kitab-kitab Sruti itu dijelaskan dengan metode perdebatan. Dengan menggunakan model purva paksa Sankara juga mengeritik aliran filsafat lain, seperti Yoga[8], Sankhya[9], Vaisesika[10], Buddha[11] dan Jaina[12].
Sankara juga melakukan debat secara lisan dengan tokoh-tokoh Hindu yang berbeda pandangan filsafat dengannya, dan tokoh-tokoh Buddha dan Jaina yang tidak tunduk pada otoritas Veda . Sankara dianggap menegakkan kembali kejayaan Hindu di India, setelah hampir dikalahkan oleh Buddha yang berkembang pesat sejak zaman Asoka.
2. Swami Dayananda Saraswati.
Tentang kritiknya atas Alkitab Swami Dayananda mengatakan: “Ketika membaca terjemahannya dalam bahasa Hindi dan Sansekerta, saya memperoleh banyak keraguan tentangnya, mengenai mana beberapa diberikan di sini dalam bab 13 untuk menjadi pertimbangan publik. Resensi atau ulasan ini hanya untuk kepentingan penyebaran kebenaran dan melenyapkan kepalsuan, tetapi bukan untuk menyinggung perasaan siapapun, atau untuk melukainya, atau untuk menuduhkan kesalahan kepadanya. Sasaran dari ulasan ini sekaligus untuk mengetahui dari membaca dan apa yang mengikuti tentang buku macam apa Alkitab ini, dan agama macam apa Kekristenan itu.”
“Semua orang harus membaca kitab suci dari agama-agama lain dan menyatakan opininya tentang kitab suci itu. (……) bila orang tidak mengetahui agama-agama lain, mereka tidak akan dapat berbicara satu sama lain. Orang-orang yang bodoh akan jatuh ke dalam parit kebingungan.” [15]
Tentang kritiknya atas Al-Quran Swami Dayananda mengatakan: “Adalah tidak biasa bagi kita untuk mencari kesalahan agama apapun atau Islam; tetapi adalah tujuan kita untuk membawa ke dalam terang cahaya apapun yang baik dalam realitas dan apa yang jahat pada akhirnya untuk semua orang. Tidak seorangpun dapat memaksakan kepalsuan pada orang lain, atau menentang kemajuan dari kebenaran di dunia. Bahkan setelah kebenaran dan ketidak benaran ditentukan, setiap orang bebas untuk menerima atau menolak apa yang mereka sukai atau tidak sukai; tidak ada paksaan tetapi kebebasan sempurna untuk memilih”. [16]
3. Swami Vivekananda.
Swami Vivekananda (1863 –1902), sebagai satu-satunya wakil Hindu di dalam Parlemen Agama-agama Dunia yang diadakan di Chicago, AS, pada bulan September 1893, yang dihadiri oleh tujuh ribu orang, menyampaikan pandangan kritis terhadap dogma agama-agama Semitik yang masing-masing mengklaim sebagai satu-satu jalan keselamatan.
Swami Vivekananda mulai pidatonya, memberi salam kepada bangsa termuda atas nama “ordo terkuno dari para biarawan di dunia, ordo para Sannyasin Veda , agama yang telah mengajarkan dunia toleransi dan penerimaan universal”. Vivekananda mengutip dua bagian ilustrasi dari “Shiva Mahimna Stotram”: “Sebagai sungai-sungai yang berbeda memiliki sumber mereka di tempat yang berbeda semua lebur jadi satu di laut, demikianlah, ya Tuhan, jalan yang berbeda yang ditempuh manusia, melalui kecenderungan yang berbeda, sekalipun tampak beragam, bengkok atau lurus, semua mengarah ke Mu! “dan “Barang siapa datang kepada-Ku, melalui bentuk apapun, Aku menjengkaunya, semua orang berjuang melalui berbagai jalan yang pada akhirnya menuju padaKu.”
Presiden Parlemen John Henry Barrows berkata, “India, Bunda agama-agama diwakili oleh Swami Vivekananda, biarawan berjubah oranye yang memberikan pengaruh yang paling indah pada para pendengarnya”. Vivekananda menarik perhatian luas di media massa, yang menyebutnya “biksu angin topan dari India”. The New York Herald mencatat, “Vivekananda tidak diragukan lagi sosok terbesar dalam Parlemen Agama-agama. Setelah mendengar dia kita merasa betapa bodoh mengirim misionaris untuk bangsa terpelajar ini”.
Vivekananda mengkritik pokok keyakinan Kristen yang menyatakan manusia adalah pendosa. Adalah dosa mengatakan manusia sebagai pendosa, katanya. Kalian semua memiliki hakikat yang suci. “Kalian adalah mahluk suci dan sempurna, kalian adalah kedewataan di atas bumi – kalian pendosa? Adalah dosa untuk menyebut manusia sebagai pendosa.”[17]
Vivekananda percaya bahwa esensi dari agama Hindu yang terbaik disajikan dalam filsafat Vedanta, sebagaimana diinterpretasikan oleh Adi Shankara. Ia meringkas Veda nta sebagai berikut:
“Setiap jiwa berpotensi suci. Tujuannya adalah untuk mewujudkan Kedewataan di dalam diri ini dengan mengendalikan alam, di luar dan di dalam diri. Lakukan ini apakah dengan pekerjaan, atau ibadah, atau disiplin mental, atau filsafat-satu per satu, atau lebih, atau semua ini – dan menjadi bebas. Ini adalah agama secara keseluruhan. Doktrin, atau dogma-dogma, dan ritual, atau buku, atau tempat ibadah, atau bentuk-bentuk lainnya, hanyalah detail sekunder.”
4. M.K. Gandhi.
Mohandas Karamchand Gandhi (1869 – 1948), tokoh pejuang kemerdekaan India, melalui jalan non kekerasan (ahimsa dan satyagraha), juga melakukan dialog kritis dengan teman-temannya orang-orang Kristen dan para missionaris Kristen yang tidak kenal lelah untuk membujuknya masuk Kristen.
Gandhi membela agama Hindu dari kritik mereka, dan sebaliknya Gandhi juga memberikan
kritik terhadap agama Kristen, mengenai perilaku maupun doktrin utama mereka. Gandhi tidak percaya Yesus sebagai satu-satunya anak Tuhan. Bila memang ada konsep tentang anak Tuhan, kita semua adalah anak-anak Tuhan, karena sang diri atau diri sejati kita, jiwa adalah bagian atau pantulan dari Tuhan. Ia juga tidak percaya bahwa Yesus mampu menghidupkan orang mati atau kebangkitan Yesus dari kuburnya pada hari ketiga. Ia tidak percaya pada pengampunan dosa oleh kematian Yesus. Saya tidak ingin mencari pengampunan dosa, tetapi agar saya dijauhkan dari perbuatan dosa.
Dialog-dialog Gandhi tersebut di atas dikumpulkan dalam satu buku dan diterbitkan di AS dengan judul Gandhi On Christianity (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan diterbitkan oleh Media Hindu, dengan judul “Dialog Gandhi Dengan Missionaris Tentang Kristen dan Konversi”).
5. Sarvepalli Radhakrishnan.
Sarvepalli Radhakrishnan (1888 – 1975) adalah seorang filsuf dan negarawan India. Ia adalah seorang filsuf-raja (philosopher-king) yang diidealkan oleh Socrates. Ia adalah seorang filsuf India terbaik dan paling berpengaruh dalam abad puluh dalam bidang perbandingan agama dan filsafat. Ia pernah mendukuki berbagai jabatan penting di dunia akademis di India dan Spalding Profesor Agama Timur dan Etika di Universitas Oxford, Inggris (1936-1952). Ia menjabat sebagai wakil Presiden India (1952-1962) dan Presiden kedua India (1962-1967).
Filosofinya didasarkan pada Advaita Vedanta, menginterpretasi ulang tradisi ini untuk pemahaman kontemporer. Dia membela Hindu terhadap “kritik Barat yang kurang informasi”, memberikan kontribusi bagi pembentukan identitas Hindu kontemporer. Ia telah berpengaruh dalam membentuk pemahaman agama Hindu, baik di India dan barat, dan memperoleh reputasi sebagai pembangun jembatan antara India dan Barat.
Ketika ia memberi kuliah di Oxford, Inggris, Radhakrishnan memberi seri ceramah yang membela agama Hindu, yang kemudian dibukukan dengan judul The Hindu View of Life yang ditulisnya pada tahun 1926 (telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Media Hindu menjadi “Pandangan Hidup Hindu”).
Di dalam bukunya Eastern Religions And Western Thought, Oxford University Press, New York,1997, Radhakrishnan menjawab kritik dari para pemikir Barat, terutama Albert Schweitzer, dalam bukunya Indian Thought and Its Develovment, bahwa filsafat Hindu melahirkan etika penolakan dunia dan kehidupan (world and life negation) berlawanan dengan etika Kristen yang melahirkan penerimaan dunia dan kehidupan (world and life affirmation). Radhakrishnan tidak saja membantah kritik tersebut tetapi juga memberikan kritik terhadap doktrin Kristen yang justru melahirkan etika pelarian diri dari dunia. Misalnya, soal orang miskin (Lazarus yang surga) sementara orang kaya masuk neraka. Tentang dogma kiamat, menyebabkan manusia tidak mau berusaha atau bahkan berkeluarga karena akan sia-sia saja, sebab kiamat atau akhir dunia segera akan tiba.
6. Ram Swarup.
Ram Swarup (1920 – 1998), adalah pemikir Hindu independen dan penulis produktif. Karya-karyanya mengambil sikap kritis terhadap Kristen, Islam dan Komunisme. Karyanya telah mempengaruhi penulis India lainnya.
Salah satu buku Hindu View of Christianity and Islam (1993) memberikan pandangan kritis terhadap agama Kristen dan Islam. (Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Media Hindu, dengan judul “Pandangan Hindu atas Kristen dan Islam). Karyanya yang lain, Understanding Islam Through Hadits, dilarang beredar di India (dapat diunduh di internet).
Bila kita sudah membaca karya-karya mereka ini, barulah kita akan tahu di mana letak agama Hindu di dalam peta agama-agama besar di dunia ini. Hal ini membawa kita kepada subjek yang juga sangat penting, yaitu perbandingan agama.
IV. Perbandingan agama.
Banyak orang Hindu termasuk para intelektualnya menganggap perbadingan agama sebagai sesuatu yang sensitif dan bahkan berbahaya, oleh karena itu tabu untuk dibicarakan. Perbandingan agama merupakan suatu keniscayaan bagi masyarakat yang hidup dalam lingkungan yang sangat heterogin secara keyakinan. Perjumpaan dalam bentuk dialog agama tidak dapat dihindarkan, baik secara formal di ruang-ruang diskusi atau seminar maupun secara informal dalam pergaulan sehari-hari.
Di agama-agama lain, khususnya dilingkungan agama-agama Semitik, perbandingan agama sudah diajarkan sejak kecil, dan cara yang sangat subyektif, ekslusif dan negatif. Mereka diajarkan tentang dikotomi agama langit (samawi) versus agama bumi (aardi), juga tentang apartheid orang beriman vs orang kafir. Doktrin yang sangat subyektif ini telah menjadi sumber dari kebencian dan kekerasan agama.
Di perguruan tinggi agama Kristen, seperti Sekolah Tinggi Teologia, dan Seminari Tinggi Katolik, serta di perguruan tinggi agama Islam (IAIN, UIN), perbandingan agama merupakan kuliah wajib.
Sebenarnya dalam tradisi Hindu perbandingan filsafat dan agama sudah lama dikenal, dan diakui memiliki peran penting di dalam pemahaman yang lebih jelas tentang kategori-kategori realitas. Rsi Kanada (sekitar abad ke 2 BCE), pendiri Vaisesika Darsana, mengakui pentingnya perbandingan filsafat atau agama. Dia mengatakan sebagai berikut: “Pengetahuan tentang kategori–kategori Realitas, dapat disempurnakan dengan perbandingan dan kontras. Kita sering gagal untuk menyadari kebaikan dan cacat apa pun, serta prinsip-prinsip dasarnya selama perhatian kita terbatas pada hal itu saja.” [18]
Perbandingan agama, menurut Radhakrishnan, sangat penting, karena, “ini akan meningkatkan keyakinan kita tentang universalitas dari Tuhan dan rasa hormat kita kepada ras manusia. Ia menginduksi atau menimbulkan di dalam diri kita bukan sekedar sikap toleransi yang menyiratkan kesadaran superioritas, bukan rasa kasihan yang merendahkan (patronizing pity), tetapi rasa hormat dan apresiasi yang murni.” Dan, “Agama-agama yang berbeda sekarang telah hadir bersama, dan bila mereka tidak berlanjut dalam keadaan kompetisi dan konflik, mereka harus membangun semangat pemahaman yang akan memecahkan prasangka dan salah pengertian dan mengikat mereka bersama sebagai beragam ekspresi dari Kebenaran yang tunggal.” [19]
Perbandingan agama, dalam pandangan Radhakrishnan berfungsi untuk saling menyuburkan wawasan para pihak (cross fertilizing), atau sebagai peleburan cakrawala pemikiran (fusion of horizon). Tetapi tidak semua perbandingan agama bersifat simpatik sebagaimana yang dimaksud oleh Radhakrishnan. Ada juga bahkan mungkin banyak buku perbandingan agama yang bersikap eksklusif, di nama si penulis memuat keunggulan agamanya, dengan merendahkan agama-agama lain. Perbandingan agama yang netral adalah yang bersifat fenomenologis, di mana pokok-pokok ajaran atau doktrin dari agama-agama yang diperbandingkan, dibiarkan hadir dengan sendirinya, seperti membandingkan apel dengan apel, dan diberikan kebebasan dari para pembaca untuk menilainya.
V. Media sebagai sarana.
Veda mengajarkan metafisika tentang Realitas Tunggal yang meliputi atau meresapi segalanya (monisme atau panteisme) dan dari padanya lahir mahawakya “Tat tvam Asi” yang pada gilirannya melahirkan etika sosial tentang persaudaraan universal (vasudaiva kutumbakan). Metafisika dan etika ini bisa menjadi alternatif bagi ideologi devisif yang lahir dari paham ketuhanan yang partisan, pencemburu dan pemecah belah.
Veda mengajarkan kebijaksanaan (wisdoms), keutamaan (virtues) tentang persahabatan, persaudaran universal, yang bermanfaat untuk mencegah sektarianisme, radikalisme, kekerasan dan terorisme berdasarkan agama, dan dengan demikian mendorong terbangunnya kehidupan bersama yang harmonis.
Veda mengajarkan etika, tentang penghormatan terhadap manusia berdasarkan kesamaan jati dirinya, tentang etika kewajiban yang mengharuskan manusia mengambil tanggung jawab terhadap dirinya yang mendukung pembangunan karakter manusia unggul secara intelektual, moral dan prestasi. Veda memiliki pengetahuan dan praktik rohani seperti yoga yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan ketenangan batin.
Veda memiliki ilmu pengetahuan antara lain matematika, kosmologi, astonomi, kedokteran dll, yang memperkaya, mendahului dan mendorong sains modern.
Kita memerlukan media (massa) untuk menyebar luaskan dan membagi harta karun ini kepada masyarakat. Menyembunyikan atau menyimpannya untuk diri sendiri adalah sifat kikir yang sangat keliru, karena ini akan membuat dunia menjadi lebih miskin. Media massa adalah sarana untuk menyampaikan informasi tentang ajaran Hindu yang konstruktif bagi kemajuan dan kesejahteraan manusia.
Sayangnya, seperti telah dijelaskan pada Pendahuluan, masyarakat Hindu memiliki akses yang sangat terbatas terhadap media massa nasional. Tidak ada pengusaha Hindu yang memiliki media massa pada tingkat nasional.
Di Jakarta, kita hanya mempunyai Media Hindu, tetapi tidak bisa dikagetorikan sebagai media massa, karena segmen pembacanya yang khusus, yaitu masyarakat Hindu, sekalipun juga dibaca oleh orang-orang non-Hindu yang berminat, tetapi jumlahnya tidak banyak.
Media Hindu memang dimaksudkan untuk membangun daya kritis masyarakat Hindu, dengan menghidupkan atau memperkenalkan purva paksa dan perbandingan agama dalam artikel ataupun buku-buku yang diterbitkannya. Memang harus ada keberanian untuk mengambil risiko menerbitkan tulisan dan buku-buku semacam itu. Tetapi sejauh ini, selama 11 tahun Media Hindu melakukan hal itu, tidak ada masalah dari luar. Masalah justru kadang-kadang timbul dari dalam umat Hindu sendiri. Mereka yang sudah terbiasa di pojok nyaman terganggu rasa amannya.
Media Hindu adalah tempat pembibitan atau persemaian bagi para pemikir Hindu yang kompeten, percaya diri tetapi rendah hati di dalam menyampaikan ajaran Hindu Dharma. Sayangnya sarana ini belum banyak dimanfaatkan oleh mahasiswa dan dosen dari perguruan tinggi Hindu di Indonesia.
VI. Media Internal di Perguruan Tinggi Hindu.
Dalam era informasi ini masyarakat Hindu betul-betul memerlukan banyak Baudika, atau apa yang disebut oleh Dr David Frawly sebagai Intellectual Warrior (Ksatriya Intelektual) yang berjuang membela Hindu dengan pena, lewat tulisan di media massa, majalah atau buku.
Sumber dari para “Ksatriya Intelektual” adalah Perguruan Tinggi (PT) Hindu. PT Hindu harus memiliki media internal atau jurnal ilmiah sebagai ajang latihan bagi mahasiswa dan dosen untuk melahirkan tulisan-tulisan yang membangun daya kritis.
PT Hindu seharusnya memanfaatkan teknologi informasi untuk membuat sarana media online, seperti Website yang dikelola secara profesional. Di samping kompetensi, diperlukan keberanian untuk menerbitkan tulisan-tulisan yang memiliki daya kritis, terutama yang berkaitan dengan dialog antar agama.
Agar memiliki kompetensi mahasiswa, terutama dosen PT Hindu harus betul-betul menguasai filsafat dan sadhana Hindu secara mendalam. Inti dari filsafat Hindu terdapat di dalam Vedanta Darsana, maka Vedanta harus menjadi inti kuliah di PT Hindu. Karya-karya klasik dari para filsuf Vedanta, seperti Sankara, Radhakrishnan dan karya-karya klasik dari para pemikir Hindu, seperti Swami Dayananda Saraswati, dll yang telah disebutkan di atas, harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh PT Hindu. (Lihat Daftar Pustaka)
Terkait dengan hambatan mental, harus ada perubahan paradigma (paradigm shift) – meniru istilah yang sedang populer – harus ada revolusi mental dalam masyarakat akademis di PT Hindu. Di dunia pemikiran, dalam dialog intelektual, sama seperti di dunia akademis, tidak ada kategori-kategori mayoritas vs minoritas. Yang menentukan adalah rasionalitas dari argumen yang disampaikan; klaim tentang kebenaran harus dapat diverifikasi atau difalsifikasi. Para dosen di PT Hindu tidak boleh sudah merasa pantas memberi kuliah hanya dengan bermodal satu atau dua buku pegangan yang mungkin sudah usang.
Untuk membangun komptensi berdialog secara kritis dengan pemikiran dari keyakinan lain dalam masyarakat yang semakin majemuk, perbandingan agama harus diajarkan kepada semua mahasiswa PT Hindu. Buku-buku perbandingan agama harus ditulis oleh orang-orang Hindu untuk mengedepankan sudut pandang Hindu.
Sedangkan keberanian mengungkapkan pendapat kritis dapat dibangun melalui latihan debat, misalnya.
VII. Kesimpulan dan Saran.
Pemikiran kritis, merupakan tradisi di dalam agama Hindu, dimulai sejak zaman Upanisad. Tradisi ini diteruskan oleh filsuf dan para tokoh pembaru Hindu dari Sankara sampai sekarang.
Hindu Dharma memiliki ajaran tentang metafisika, etika, ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, keutamaan, dan praktik spiritual yang dapat disumbangkan bagi kemajuan masyarakat luas. Untuk ini media (massa) memegang peranan yang penting.
PT Hindu, melalui jurnal ilmiah internalnya berperan membangun daya kritis bagi dosen dan mahasiswanya, sebagai sumber dari baudika (ksatriya intelektual).
Dengan memiliki daya kritis, masyarakat Hindu, terutama para sarjana agama Hindu, akan mampu membangun citra positif bagi Hindu Dharma dan memberikan sumbangan konstruktif dalam dialog agama pada khususnya dan dialog peradaban pada umumnya.
Mereka yang mampu menggunakan daya kritis, akan lebih didengar atau diperhatikan oleh mitra dialognya, seperti prajurit pemberani di medan tempur, kalah atau menang, hidup atau mati, akan dipandang dengan hormat oleh kawan maupun lawan.
Savere aude, jangan takut menggunakan akalmu. (Immanuel Kant).
Om santi, santi, santi Om
Bekasi, 20 September 2014
*) Pemimpin Redaksi Media Hindu
Daftar Kepustakaan.
Gandhi, MK: “Dialog Gandhi Dengan Missionaris Tentang Kristen dan Konversi,” Media Hindu, jakarta 2012.
Grimes, John: A Concise Dictionary of Indian Philosophy, Sanskrit Terms Defined in English, State University of New York Press, New York, 1996.
Griswold, Harvey De Witt: Insight Into Modern Hinduism, Aryan Books International, New Delhi, 1996
Radhakarishnan, Sarvepalli: The Principal Upanisad, HarperCollins Publisher India, 1996
———————————: Eastern Religions And Western Thought, Oxford University Press, New York, 1997.
———————————: The Hindu View of Life, Unwin Books, London, 1971 (First edition, 1927)
——————————— and Moore, Charles A. ed: A Sourcebook in Indian Philosophy, Princeton University Press, 1989
——————————–-: The Principal Upanisads, HarperCollin Publisher India Pvt Ltd, New Delhi, 1994.
———————————: Indian Philosophy, vol 2, MacMillan Company, New York, 1996 (First edition 1927).
Sankaracharya: Brahma Sutra Bhasya, translated by Swami Gambhirananda, Advaita Ashram, Kolkata, 2011.
——————-: Upadesa Sahasri, translated by Swami Jagananda, Sri Ramakirishna Math, Cenai, 2009 (First edition, 1941).
——————: Aparokshanabhuti, translated by Swami Vimuktanana, Advaita Ashram, Kolkata, 2010 (First edition, 1938).
——————-: Self-Knowledge (Atmaboddha), Translated from the Sankrit with Notes, Comments, and Introduction by Swami Nikhilananda, Ramakrishna-Vivekananda Center, New York, 1974. Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Media Hindu dengan judul “ATMABODHA, Pengetahuan Diri Untuk Kedamaian Tertinggi”, Media Hindu, Jakarta, 2014.
——————: Vivekacudamani, Online.
Saraswati, Swami Dayananda : Satyarth Prakash (Light of Truth), Jan Gyan Prakasan, New Delhi, second edition, 1970
Schilpp, Paul Arthur: The Philosophy of Sarvepalli Radhakrishnan, Motilal Banarsidas Publishers Pct Ltd, Delhi, First Indian Edition. 1992.
Schweitzer, Albert : Indian Thought and Its Develovment, The Beacon Press, Boston, 1936
Svarup, Ram : “Pandangan Hindu atas Kristen dan Islam”, Media Hindu, Jakarta, 2008.
[1] Katha Upanisad I, 2-29, dan komentar dari S. Radhakrishnan dan Sankara. Dalam S. Radhakarishnan: The Principal Upanisad, HarperCollins Publisher India, 1996: 595-607. Cf Sankara: Brahma Sutra Bhasya: 236-257.
[2] Taittiriya Upanisad III.1
[3] Mundaka Upanisad III.11.19. Bhagawad Gita VIII.24
[4] Mundaka Upanisad II.ii.8.
[5] Chandogya Upanisad IV. Xv.5
[6] Taittiriya Upanisad II.ix.
[7] John Grimes: A Concise Dictionary of Indian Philosophy, Sanskrit Terms Defined in English, State University of New York Press, New York, 1996: : 252.
[8] Sankara: Brahma Sutra Bhasya, translated by Swami Gambhirananda, Advaita Ashram, Kolkata, 2011 (First edition, 1965): 305-307
[9] Ibid: 367-383
[10] Ibid: 383-402
[11] Ibid: 402 – 426
[12] Ibid: 426-433
[13] Swami Dayananda Saraswati: Satyarth Prakash (Light of Truth), Jan Gyan Prakasan, New Delhi, second edition, 1970: 460-505
[14] Ibid: 506-562.
[15] Ibid: 460.
[16] Ibid: 506.
[17] Harvey De Witt Griswold: Insight Into Modern Hinduism, Aryan Books International, New Delhi, 1996: 70.
[18] Dhirendra Mohan Data: Radhakrishnan and Comparative Philosophy” dalam Schilpp, Paul Arthur: The Philosophy of Sarvepalli Radhakrishnan, Motilal Banarsidas Publishers Pct Ltd, Delhi, First Indian Edition. 1992:661.
[19] Pernyataan ini terdapat dalam buku East and West in Religion, dikutip oleh Joachim Wach dalam tulisannya: Radhakrishnan And The Comparative Study Of Religion, dalam Schilpp, Paul Arthur: The Philosophy of Sarvepalli Radhakrishnan, Motilal Banarsidas Publishers Pct Ltd, Delhi, First Indian Edition. 1992: 445.