Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Oleh: I Gede Suwantana *
Abstract
Mahatma Gandhi has been a master for himself. Master is meant in the sense that he has mastered all the lust, greed, violence, anger and other negative forms within. People who have been releasing these negative tendencies will have a special quality in it radiates purity, without tendentious and interests to be achieved fully for the common good. Gandhi demonstrated that to achieve this goal, using any means used must be in accordance with morality. By relying on the truth, Gandhi had his political career with courage. Tools to achieve it is Ahimsa, so that Satyagraha struggle could walk perfectly.
Key Words: Ahimsa, satyagraha, satya,
A. Pendahuluan
Gandhi mengatakan, ‘my life is my message’ kepada dunia. Cara inilah sesungguhnya mengapa Gandhi selalu mengetuk hati setiap umat manusia. Setiap gerakan tubuhnya mampu menyihir orang-orang yang ada di sekelilingnya. Detail ritmik tubuhnya seolah menebarkan aroma yang mampu membuat suasana chaos menjadi sejuk dan penuh kedamaian. Gandhi mengajar setiap orang melalui peragaan hidupnya, karena inilah model yang paling mendekati kebenaran baginya. Contoh akan selalu lebih baik dari kata-kata. Mendidik dengan contoh adalah yang paling ideal. Memberi pelajaran kepada orang lain tanpa si pengajar melakoni objek yang diajarkan tidak akan berarti apa-apa. Ajaran itu hanya sekedar hafalan yang tidak menyentuh nurani manusia dan bahkan mungkin ajaran itu menyesatkan. Bagi Gandhi ajaran akan memiliki makna apabila muncul dari apa yang setiap orang ragakan. Ajaran itu akan hidup dan mempengaruhi nurani manusia sehingga mampu merubah karakter buruk yang ada di dalamnya.
Pembentukan karakter harus dimulai dari keteladanan. Bangsa yang memiliki karakter adalah bangsa yang mampu memberikan teladan bagi generasinya. Keteladanan adalah bentuk pendidikan berantai yang hidup. Ia tidak hanya memberikan informasi tetapi mentransformasi sisi-sisi keagungan jiwa ke dalam hati generasi berikutnya. Keteladanan ibarat gen yang diwariskan dari pendahulunya. Bila gen pendahulunya unggul, maka dipastikan kelanjutan gen generasi berikutnya juga akan unggul, demikian sebaliknya. Keteladanan akan menghangatkan hati setiap generasi sehingga mampu menyalakan api jiwanya untuk menuntun tapak-tapak hidupnya demi sebuah cita-cita kehidupan yang suci, penuh dedikasi dan pengabdian.
Mahatma Gandhi pernah mengatakan ‘jika hanya satu kata dapat menyampaikan kebenaran, maka itu sudah cukup dan lebih berarti dibandingkan banyak kata tapi kosong. Yang dipentingkan bukan banyaknya kata, tetapi kebenaran yang terkandung di dalam kata itu. Banyak kata namun kosong tidak berarti apa-apa, hanya keributan, satu kata tapi menyatakan esensi, maka itulah yang utama. Jika kata-kata selalu menyatakan esensi maka ia akan menjadi mantra. Jika kata kita menjadi mantra, maka ia akan memiliki kekuatan ilahi yang tiada terkira. Jika kata kita memiliki kekuatan, maka ia akan dapat mengetuk nurani siapa saja yang mendengarkannya. Inilah dasar gerakan politik Mahatma Gandhi yang membuat namanya abadi sebagai tokoh tanpa kekerasan (Suwantana, 2012: 5).
Apa yang dinyatakan Mahatma Gandhi ini adalah hukum alam. Dengan demikian, setiap gesture tubuhnya sangat indah dan mempesona banyak orang. Kemanapun jemari telunjuknya diarahkan, ribuan orang menurutinya. Apapun yang disampaikannya selalu menggugah perasaan pendengarnya. Mahatma Gandhi bukanlah siapa-siapa, namun seorang manusia yang hidupnya terus-menerus didedikasikan pada kebenaran hukum semesta. Semakin selaras hidup manusia dengan alam, maka semakin mereka memiliki kekuatan untuk mengatasi alam. Bagi Mahatma Gandhi, mengatasi alam beserta seluruh yang ada di dalamnya bukan dengan melakukan penguasaan atau kekerasan terhadapnya, namun justru selaras dengannya. Dengan senjata politik ini, Gandhi mampu memenangkan masyarakatnya untuk merdeka terhindar dari belenggu kebodohan dan penjajahan asing.
Jejak politik Mahatma Gandhi ini telah membersihkan tanah India dari kekotoran penjajahan, serta membangkitkan masyarakatnya dari reruntuhan dan kegelapan. Jurang-jurang pemisah dan pemecah masyarakat berhasil direkatkan dan disatukan kembali atas nama kesederajatan. Pemecah masyarakat seperti sistem kasta, kefanatikan terhadap sampradaya (garis perguruan) tertentu, subordinasi kaum perempuan, pernikahan usia dini, dan penolakan atau menajiskan kaum tertentu, secara perlahan tetapi pasti, Gandhi berhasil menghalaunya serta menyambung kembali keretakan-keretakan itu menjadi sebuah kekuatan Bangsa yang berkarakter. Dari stand-point kemanusiaan dan persamaan derajat, jurang-jurang itu semakin hari semakin berkurang pengaruhnya di dalam masyarakat. Kaum untouchable (Dalit) dimana Gandhi menyebut mereka sebagai Harijan (anak Tuhan) mulai diperbolehkan masuk kuil untuk sembahyang. Pengidentifikasian kaum Dalit sebagai orang yang tak boleh disentuh oleh golongan/kasta tertentu mulai ditinggalkan. Kaum perempuan mulai mendapat tempat di berbagai lini kehidupan. Perempuan mulai diperbolehkan mengenyam pendidikan sama seperti laki-laki, demikian juga di dalam memilih pekerjaan, perempuan tidak hanya bertugas mengurus rumah tangga. Perempuan juga mulai mendapat hak untuk mengerjakan apa saja sesuai bidangnya.
Dilihat dari besarnya prestasi masing-masing tokoh penentu sejarah dan dampak inspirasional masing-masing dari mereka telah melakukan sesuatu yang besar untuk dunia, Gandhi muncul yang tertinggi di antara para pemimpin modern yang pernah ada. Pada abad yang memiliki perbedaan mengagumkan dari yang paling kejam dalam sejarah Gandhi, menghadapinya dengan tanpa kekerasan, yang terbesar, kekuasaan yang paling kuat dan menjanjikan kebebasan bagi India, yang kemudian memiliki seperlima dari seluruh penduduk dunia, dan diinduksi perubahan spektrum yang luas di bidang politik, ekonomi dan sosial di dalamnya. Beliau kemudian mengilhami perjuangan tanpa kekerasan oleh rakyat yang dicapai di seluruh dekolonisasi dunia, mengakhiri penindasan rasial di Amerika Serikat dan Afrika Selatan dan kediktatoran pada akhirnya juga berakhir di Polandia, Rumania, Hungaria, Cekoslowakia, Republik Demokratik Jerman, Estonia, Latvia, Lithuania, Filipina, Uni Soviet, Chili, Serbia, Georgia Ukraina, Uzbekistan, Tunisia dan Mesir. Inspirasinya terus terlihat dalam heroik perjuangan rakyat Tibet dan Burma dan kaum ekolog, aktivis lingkungan sosial dan lain-lain di seluruh dunia. Selain itu, Gandhi memiliki lebih banyak buku yang berasal dari tulisan orang lain tentang dirinya dan banyak komunitas dan pusat informasi di seluruh dunia mempromosikan strategi tanpa kekerasan yang diambil dari modelnya. Dia juga satu-satunya dari seluruh pahlawan perdamaian yang dihormati dengan opera panjang – ‘Satyagraha’ oleh Phillip Glass – yang meskipun dinyanyikan dalam Sansekerta telah mewarnai gedung-gedung konser di kota-kota terkemuka AS dan Eropa. Film Richard Attenborough tentang Gandhi telah ditonton oleh banyak orang, lebih banyak orang menontonnya dibandingkan film lain dalam hal pemimpin modern. Dalam jajak pendapat yang diambil pada tahun 1999 untuk ‘Man of the Millenium‘ Gandhi berada di atas dan dalam tiga teratas dengan yang lainnya (Nazareth, 2011: 3).
B. Komponen Kepemimpinan Gandhi dalam Ranah Politik
Gandhi sebagai tokoh politik sekaligus tokoh moral terdepan abad ke-20 ini memiliki cirri khas yang unik yang tidak dimiliki oleh yang lainnya. Keyakinannya akan kebenaran, kejujuran, dan cinta kasih dalam politik ini Gandhi telah sukses mengawinkan antara politik dan moral. Moralitas tidak mesti bertolak-belakang dengan politik, melainkan mesti saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Politik tanpa moralitas (Gandhi menyebutkan politik tanpa prinsip) akan membuat masyarakat dunia semakin kacau. Keadilan, kesejahteraan, dan kesetaraan mustahil terjadi tanpa adanya nilai-nilai moral di dalam politik yang terkait dengan kepemerintahan. Menurut Pascal Alan Nazareth ada beberapa komponen yang ada di dalam kepemimpinan Mahatma Gandhi di balik kesuksesannya menerapkan prinsip-prinsip yang tegas di dalam politik (2011: 13 – 48).
Pertama, komponen utama dari politik Gandhi adalah visinya yang menyatakan bahwa manusia, manifestasi tertinggi dari ciptaan Tuhan, dapat dan akan hidup dalam keselarasan dan kedamaian, tegas mengikuti Kebenaran, Keadilan, Cinta dan Tanpa–kekerasan. Gandhi melihat kaum diktator dan tiran mempertahankan dirinya hanya bersifat sementara. Semua kerajaan yang dibangun dengan pedang berakhir di tong sampah sejarah. Hanya sesuatu yang dibangun di atas spirit Kebenaran, cinta dan pengorbanan diri seperti yang para pencari dan Nabi besar dapat bertahan dan berkembang.
Dalam visinya terhadap Kebenaran dan Tanpa-Kekerasan, Gandhi melihat bahwa antara tujuan/hasil yang ingin dicapai dan alat yang digunakan untuk mencapainya tidak bisa dipisahkan. Gandhi dengan tegas menolak dikotomi, yang telah diyakini oleh sebagain besar masyarakat baik di bidang politik, filsafat, psikologi, maupun yang lainnya, antara alat dan tujuan/hasil/akhir. Raghavan N. Iyer dalam artikelnya ‘Means and Ends in Politik’ menyatakan:
“Gandhi seems to stand almost alone among social and political thinkers in his firm rejection of the rigid dichotomy between ends and means and in his extreme moral preoccupation with the means to the extent that they rather than the ends provide the standard of reference”.
Dikotomi serupa juga terjadi, seperti misalnya antara yang sementara dan yang kekal, jangka panjang dan jangka pendek, pribadi dan umum, yang bisa dicapai dan yang utopi, esensi dan tujuan yang diinginkan, dan lain sebagainya. Pembahasan tentang ‘alat/cara’ tidak akan bisa melepaskan pertanyaan tentang implikasi moralnya atau tentang nilai-nilai atau tujuan yang diinginkannya. Disamping hal tersebut, adalah sebuah dogma yang membahayakan dimana tujuan akhir secara penuh membenarkan cara/alat. Seperti misalnya dalam konteks Mahatma Gandhi dengan kemerdekaan India, untuk meraih kemerdekaan tersebut, beliau tidak bisa menggunakan cara yang melanggar norma kemanusiaan. Meskipun Inggris telah menjajah India, namun Gandhi tidak bisa mengusirnya dengan cara-cara yang tidak pantas. Mereka juga manusia yang membutuhkan penghormatan. Mahatma Gandhi dalam Hind. Swaraj (p. 115) menulis:
“The means may be likened to a seed, the end to a tree; and there is just the same inviolable connection between the means and the end as there is between the seed and the tree.”
Tentang kebenaran hubungan antara akhir/hasil dan cara Gandhi secara jelas menyatakannya dalam beberapa tulisan (seperti yang disarikan oleh Raghavan N. Iyer) misalnya : “Bagiku adalah cukup dengan mengetahui cara. Cara dan akhir adalah hal yang sama dalam filosofi hidupku” (Young India, December 1924). “Kita mesti selalu mengontrol cara tapi tidak usah memperdulikan akhirnya (D. G. Tendulkar, Mahatma, Volume 5 (1st edition), p. 366). “Aku rasa perkembangan kita terhadap goal terletak pada kemurnian alat yang kita gunakan (D. G. Tendulkar, Mahatma, Volume 5 (1st edition),p. 256). “Mereka mengatakan bahwa alat adalah semata-mata alat, tetapi bagiku alat adalah segalanya. Sebagaimana alatnya maka seperti itulah hasil akhirnya” (Harijan, February 1937). Aldous Huxley (1938) juga sependapat dengan Gandhi tentang hubungan “antara sarana dan akhir “. Dia menulis “akhir tidak dapat membenarkan sarana dari alasan sederhana dimana sesungguhnya cara yang digunakan menentukan sifat akhir dari yang diciptakan“.
Kedua, keberanian dan karakter. Pada waktu kecil Gandhi bukanlah seorang pemberani, melainkan beliau selalu dihantui oeh rasa takut yang berlebihan terhadap hal-hal yang tidak masuk akal, seperti misalnya takut akan hantu, ular, dan bahkan takut berhubungan dengan teman lainnya. Pembantunya waktu kecil sangat berperan besar di dalam mengubah rasa takut tersebut dengan mengajarkan japa Rama kepadanya. Perubahan terlihat dari ketakutan menuju keberanian ketika beliau dikeluarkan secara kasar dari kantor agen Politik Inggris di Rajkot, Charles Ollivant, pada bulan Desember 1892. Gandhi begitu marah oleh perlakuan kasar, dirinya menerima (yang ia gambarkan sebagai “kejutan pertama” dan salah satu yang “mengubah jalannya” hidupnya) bahwa dirinya serius menggunakan tindakan hukum terhadap Ollivant untuk “serangan” balik.
Transformasi berikutnya utamanya datang dalam waktu sepuluh hari dari kedatangannya di Afrika Selatan. Dia sedang dalam perjalanan dari Durban ke Johannesberg ketika ia dilemparkan keluar dari kereta di Pietermaritzberg meskipun ia memiliki tiket sah kelas pertama, pakaian yang rapi dan tidak ada yang terganggu. Kejahatannya hanya karena ia duduk di kompartemen “orang kulit putih”. Prasangka ras/apartheid waktu itu di Afrika Selatan sangat keras terjadi. Orang kulit hitam atau yang berwarna hanya boleh maik di kereta kelas tiga (Suwantana, 2007: 8). Dalam segala hal orang kulit putih sangat istimewa dibandingkan orang kulit berwarna. “Kedua kejutan” tersebut merubah cara pandang kehidupan Gandhi, dimana pada awalnya adalah “perjuangan untuk menghormati diri” sedangkan yang kedua adalah kebangkitan dari kejahatan sosial atas prasangka warna.
Kunci untuk memahami transformasi Gandhi dari ketakutan ekstrim menuju kepemimpinan yang berani dapat ditemukan dalam evolusi spiritualnya. Ia dibesarkan sebagai seorang Hindu Waisnawa yang taat dan sepanjang hidup memuja Rama. Namun, ia belum membaca Bhagawad-gita sampai ia pergi ke London, di mana dia belajar tentang hal itu dari dua orang Theosofis yang akhirnya berkenalan dengan ‘Song Celestial’ karya Edwin Arnold. Karya Tolstoy ‘Kerajaan Allah ada di dalam dirimu’, yang ia baca di Durban tahun 1894 ‘mempengaruhi‘ dan “meninggalkan kesan abadi” pada dirinya. Dia membaca bukunya Ruskin “Unto this Last‘ ketika dalam perjalanan kereta api dari Johannesburg ke Durban di tahun 1904. Dalam Otobiografinya ia menulis bahwa “membawa suasana yang seketika dan transformasi praktis dalam hidupku. Aku percaya bahwa aku menemukan beberapa keyakinan terdalam yang tercermin dalam buku besar Ruskin ini“.
‘Satyagraha’ lahir segera setelah hari bersejarah 11 September 1906 yang mana terjadi pertemuan publik di Lapangan umum Kekaisaran di Johannesberg, yang telah diselenggarakan oleh Gandhi dan di mana, menurut Louis Fischer, Gandhi tampak sangat “mengagumkan”. Sharp (dalam www.mkgandhi.org) mengatakan:
“Satyagraha, a technique which is best translated as the firmness which comes from reliance on truth, and truth here has connotations of essence of being. A rather philosophical term, perhaps, but this technique was in Gandhi’s view based on firm political reality and one of the most fundamental of all insights into the nature of government”
Kata satyagraha sendiri berarti kepatuhan akan kebenaran yang menjadi esensi seluruh alam semesta. Barangkali kata ini lebih merujuk pada filsafat ketimbang praktek hidup sehari-hari. Namun, Gandhi menggunakannya sebagai cara praktis di dalam realitas politik yang menjadi cahaya terang bagi pemerintah untuk mengatur Negara. Kepemerintahan Negara harus dipegang oleh orang-orang yang berpatokan pada prinsip kebenaran ini sehingga masyarakat yang merdeka, adil, dan sejahtera terbentuk.
Ketiga, Welas Asih, Dedikasi dan Ketetapan Hati. Kasih sayangnya Gandhi jelas terlihat dalam fokusnya yang konstan pada orang yang tertindas dan miskin. Dia mengidentifikasi dirinya dan berempati dengan mereka, berpakaian seperti mereka dan setelah tahun 1917 bahkan hidup seperti mereka di sebuah gubuk lumpur, meskipun dibesarkan dalam kemewahan di masa mudanya dan memegang gelar hukum Inggris. Dedikasi Gandhi, khususnya untuk persatuan India dan pencegahan terhadap perpecahannya dibuktikan oleh empat belas kali pertemuannya dengan Jinnah pada bulan September 1944 di mana ia bahkan menawarkan kepadanya kantor Perdana Menteri.
Keteguhan tekad Gandhi terlihat saat keterpanggilannya dalam insiden kekerasan yang terjadi menyangkut gerakan Satyagrahanya. James K. Mathews (1989) memuji tekad Gandhi: “Dalam sebagian rahasia besar kepemimpinannya berada pada kekuatan tujuannya. Dia tidak merubahnya sehingga menjadi jelas baik bagi dirinya maupun rekan–rekannya.” Demikian juga mengomentari hal ini, Shean Vincent (1949) menulis:
“Tidak ada tindakan hidupnya yang lebih membingungkan bagi massa India daripada Satyagrahanya saat ini. Butuh waktu lama bagi India secara umum, Hindu dan Muslim, untuk memahami laki-laki kecil yang lemah ini tentang apa yang ia katakan, bahwa ia memiliki kehendak besi, dan bahwa tidak ada kekuatan apapun di bumi ini yang bisa membatalkan tindakannya jika ia merasa ada yang melanggar prinsip-prinsipnya.”
Tekadnya juga terlihat dalam sejarah dirinya “puasa sampai mati” pada bulan September 1932 atas kehendak Inggris untuk mengadakan pemisahan atas hak pilih bagi orang “untouchable”. Di India masalah kasta adalah sesuatu yang besar. Pemisahan kelas sosial berdasarkan kasta masih sangat tinggi. Dalam banyak perjalanannya, Gandhi selalu mengunjungi dan tinggal bersama orang-orang yang direndahkan atau paria dan menyebut mereka sebagai anak-anak Tuhan (Harijan).
Keempat, Komunikasi yang kuat. Keterampilan komunikasi Gandhi awalnya diasah dengan menulis surat kepada pemerintah Inggris di Afrika Selatan dan surat kabar. Pada 1904 dia mulai koran pertamanya ‘Indian Opinion’ di Afrika Selatan dan kemudian di India ‘Young India’ dan ‘Harijan’ (keduanya dalam bahasa Inggris) dan Navjeevan (dalam Gujarati). Buklet yang luar biasa ‘Hind Swaraj’, sebuah manifesto untuk India merdeka, ditulis hanya dalam sepuluh hari antara 13 – 22 November 1909 di atas kapal ‘Kildoman Castle’. Autobiografinya berjudul ‘Cerita tentang Percobaanku dengan Kebenaran’, diterbitkan pada tahun 1927, adalah yang paling komunikatif dari semua tulisan-tulisannya dan terus terang mengungkapkan rincian tentang kehidupannya. Bentuk lain komunikasinya adalah Satyagraha, Padayatra, puasa dan pertemuan doa.
Kelima, Kharisma dan kemampuan berorganisasi. Keterampilan organisasi Gandhi paling baik dapat dilihat dalam hal di mana ia merestrukturisasi Kongres Nasional India antara 1915 dan 1930. Gandhi mendirikan sebuah ashram di desa Kochrab di Gujarat. Dengan ini basis operasionalnya tertanam kuat di pedesaan India dan dekat dengan petani. Kemudian, ashram itu pindah ke Desa Sabarmathi, dekat dengan Ahmedabad. Prestasi besar Gandhi dalam mendorong orang-orang besar seperti Vallabhai Patel, Mahadev Desai, Rajendra Prasad, Vinobha Bhave, Jay Prakash Narayan, J.B. Kriplani, C. Rajagopalchari, Motilal, Jawaharlal Nehru, Abdul Gaffar Khan, dan banyak orang lain baik dari India maupun luar negeri, untuk bergabung dengannya adalah bukti karisma yang cukup luar biasa. Antony Copley (1987) menulis “Pengaruh moral Gandhi terhadap para pengikutnya sangat menakjubkan”.
Contoh lain tentang Karismanya Mahatma Gandhi adalah mengenai Motilal Nehru. Martin Green (1993) menulis “Motilal melaju ke pengadilan dengan berseragam ala Barat dan tinggal di rumah yang disebut Anand Bhavan, dilengkapi dengan kenyamanan modern termasuk bahasa Inggris, anggur dan cerutu …. Ketika Motilal mengikuti Jawaharlal ke kampnya Gandhi, semua gaya hidupnya mengubah – mobil, pakaian, makanan, minuman – dari keInggris-Inggrisan menuju keIndia-Indiaan, dari modernitas ke tradisi, dari kemegahan menuju kesederhanaan. Api unggun asing Anand Bhavan adalah salah satu yang terbesardan pengorbanan paling berat.”
Keenam, Strategi. Gandhi terbukti jenius dalam hal strategi. Gandhi mampu menggabungkan Kebenaran, tanpa-kekerasan dan penderitaan di dalam strategi Satyagraha secara inovatif. Secara harfiah Satyagraha berarti ‘tegas mengikuti Kebenaran ‘tetapi pada umumnya diartikan‘ Kekuatan Kebenaran‘, ‘Soul Force’ atau ‘Kekuatan Cinta‘. Erikson (1969), Krishanlal Sridharani (1962) dan Richard Gregg (1960) menjelaskan Satyagraha sebagai “militant tanpa-kekerasan”, “perang tanpa kekerasan” dan “moral jiu-jitsu”. Tentang militansinya Mahatma Gandhi Gandhi, Mark Jugensmeyer (2003) juga menulis “Gandhi adalah seorang pejuang. Apa pun yang bisa dikatakan tentang dirinya apakah seorang santo, seorang politikus atau “fakir penghasut“, Gandhi tahu bagaimana untuk melawan. Faktanya, pendekatannya terhadap resolusi konflik adalah salah satu warisan abadi Mohandas Gandhi.”
Ketujuh, kemampuan manajemen. Unsur-unsur utama dalam manajemen Satyagraha, padayatras, puasa, pertemuan doa dan negosiasi dengan saingan politik dan penguasa Inggris adalah transparansi, pendekatan metodis dan manusiawi, dan desakan pada etika untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Nazareth, 2011: 33). Contoh terbaik dari pendekatan transparannya adalah suratnya ke Viceroy Lord Irwin sebelum melakukan Satyagraha garamnya. Di dalamnya, setelah mendaftar berbagai ketentuan ketidakadilan yang ditujukan pada orang-orang India, ia menulis: “Jika anda tidak dapat melihat cara anda menangani kejahatan-kejahatan, dan surat saya membuat banding ke jantung Anda, pada hari kesebelas dari bulan ini, saya akan melanjutkan dengan rekan kerja dari Ashram, untuk mengabaikan ketentuan Pajak Garam.
Pendekatan metodisnya yang terbaik terlihat dalam satyagraha Champaran. Dilakukan pada bulan April 1917 tentang permohonan dari seorang petani buta huruf. Dengan berempati kepada massa, berdoa, bekerja dan tinggal bersama mereka, memilih masalah sederhana seperti kapas dan garam yang mereka mengerti Gandhi berhasil menginspirasi dan memberi semangat mereka, meyakinkan mereka bahwa Kebenaran, tanpa-kekerasan dan roda pemintal adalah senjata efektif untuk politik India, ekonomi dan emansipasi sosial.
Delapan, murah hati. Kemurahan hati Gandhi jelas terungkap dalam pengampunannya kepada orang-orang yang membenci, mencerca dan menyerangnya. Empat kali ia diserang secara fisik – di Durban pada bulan Januari 1897, di Johannesberg pada bulan Januari 1908, di Pune pada bulan Juni 1933 dan di New Delhi pada tanggal 22 Januari 1948 (ketika sebuah bom meledak di pertemuan doanya). Dalam setiap kasus ia memaafkan penyerang dan bersikeras tidak menuntut mereka.
Sembilan, jaminan diri. Gandhi diberkahi dengan keyakinan diri, ketenangan dan humor. Ini memungkinkan dirinya untuk tetap tenang bahkan ketika tuduhan palsu dan ejekan dilemparkan padanya. Gandhi tidak pernah merasa takut terhadap ancaman apapun. Gandhi memiliki jaminan diri yang demikian kuat dengan mengatakan jika Tuhan telah melindungi dari dalam, maka perlindungan luar tidak diperlukan.
Terakhir, tercerahkan dalam agama, nasionalis dan patriotis. Kontribusi mendasar Gandhi di bidang agama adalah memberikan keunggulan atas Kebenaran dan rasionalitas daripada kesesuaian dengan praktek-praktek tradisional. Bahkan ia membuat Kebenaran sebagai dasar semua moralitas. Nasionalisme dan patriotisnya tampak seperti di dalam pandangannya tentang kemerdekaan India bahwa kemerdekaan tersebut menjadi milik semua orang India, milik agama yang berbeda, hidup dalam persahabatan yang sempurna. Tentang ketercerahan Mahatma Gandhi ini, Fischer (1950) menulis “Mahatma Gandhi, seorang Hindu yang sangat taat, tidak mampu mendiskriminasi terhadap siapa pun karena agama, ras, kasta, warna atau apapun. Kontribusinya terhadap kesetaraan bagi kaum tak tersentuh dan pendidikan bagi generasi baru yang adalah India bukan hanya Hindu atau Muslim atau Parsi atau Kristen memiliki signifikansi dunia.”
C. Ekadasavrata
Mahatma Gandhi sendiri memiliki aturan sendiri untuk menjalani kehidupannya yang disebut dengan ekadasavrata, sebelas macam brata/ pantangan/aturan/prinsip yang harus ditaati kapan dan dimanapun. Dengan kesebelas vrata ini, Gandhi mampu membentuk aura yang kuat sehingga mampu menggerakkan Bangsa India untuk maju menentang Inggris guna meraih kemerdekaan. Kesebelas vrata ini juga merupakan aturan yang wajib dilaksanakan oleh seluruh warga Ashram yang beliau bangun sendiri. Adapun kesebelas prinsip tersebut, yakni: Ahimsa, Satya, Asteya, Brahmacharya, Asangraha, Sarirasrama, Asvada, Sarvarta Bhayavarjana, Sarva Dharma Samanatva, Svadesi, dan Sparsabhavana (Suwantana, 2012: 110-126).
Ahimsa diterjemahkan ‘tanpa kekerasan’. Meskipun frase ini kurang memadai tetapi telah menunjukkan adanya keterhubungan di antara keduanya. Ahimsa tidak hanya menunjuk pada ketiadaan unsur kekerasan fisik, tetapi lebih pada mental. Tanpa kekerasan dalam bentuk fisik hanya akan terwujud apabila mental telah lepas dari kekerasan itu. Kekerasan fisik hanyalah konsekuensi dari kekerasan mental. Jika pribadi-pribadi tidak lagi ditumpangi oleh unsur kekerasan, maka konsekuensinya masyarakat yang terbentuk juga masyarakat tanpa kekerasan. Pribadi yang utuh akan melahirkan masyarakat yang utuh pula. Jadi kondisi masyarakat ditentukan oleh kondisi pribadi-pribadi pembentuk masyarakat itu. Power (www.mkgandhi.org ) memaknai ahimsa sebagai fungsi dan kebaikan yang optimal dalam mencapai kebenaran dalam kehidupan masyarakat dan politik.
Sebagai alat moral yakni guide untuk tindakan, Ahimsa memiliki tujuan seperti dua bilah dalam satu pedang. Tujuannya adalah untuk mentransformasi individu dan masyarakat secara bersamaan. Individu yang Ahimsa akan membentuk masyarakat yang Ahimsa, demikian juga jika masyarakat melakoni praktek Ahimsa akan mempengaruhi kesadaran individu untuk berpegang pada Ahimsa. Pekerjaan besar umat manusia menurut Mahatma Gandhi adalah menciptakan politik, ekonomi, dan strata masyarakat yang Ahimsa. Tujuan social ideal yang dicita-citakan tersebut adalah Sarvodaya, yakni kesejahteraan bagi seluruh masyarakat tanpa kecuali. Ahimsa adalah hukum alam semesta. Pernyataan Ahimsa Paramo Dharmah (Ahimsa adalah kebenaran yang tertinggi) adalah kutipan dari Mahabharata yang menjadi pegangan dasar perjuangan Gandhi memerdekakan bangsanya.
Gandhi telah memperagakan ajaran ini kedalam kehidupannya sehari-hari sehingga bisa dikatakan ia adalah masterpiece Ahimsa. Ketika orang berbicara tentang Ahimsa, mereka langsung merujuk pada Mahatma Gandhi. Beliau mengatakan: “Non-violence is the first article of my faith. It is also the last article of my creed” (Young India, 23-3-1922, p166).
Namun ada banyak mungkin pertanyaan yang muncul apakah Ahimsa akan mampu mengatasi kondisi masyarakat sekarang ini yang cenderung menggunakan kekerasan di dalam setiap geraknya. Kehidupan sosial, politik, ekonomi, agama, dan yang lainnya sarat dengan kekerasan. Bukankah tanpa kekerasan adalah bentuk kelemahan?
Mahatma Gandhi menyatakan: “My faith helps me to discover new truths every day. Ahimsa is the attribute of the soul, and therefore, to be practiced by everybody in all the affairs of life. If it cannot be practiced in all departments, it has no practical value” (Harijan, 2-3-1940, p23). Tanpa kekerasan adalah atribut dari jiwa. Seluruh kekuatan yang ada di alam semesta ini terpusat pada jiwa. Jika jiwa didasari oleh ahimsa, maka bentuk ini tidak bisa dikatakan kelemahan, melainkan sebuah kekuatan yang tanpa batas.
Gandhi menyatakan bahwa moralitas yang utuh yang bisa dipancangkan dihati masyarakat adalah tanpa kekerasan. Tidak ada yang disebut moralitas apabila kekerasan masih mewarnainya. Tanpa kekerasan tidaklah sama dengan kelemahan. Kelemahan adalah ketidakmampuan melakukan sesuatu yang mesti ia lakukan dengan benar. Melakukan tindakan kekerasan sesungguhnya bentuk kelemahan itu. Betapapun tangguhnya seseorang dalam aksi kekerasannya, tetapi tindakan itu adalah tindakan yang muncul karena kelemahan. Jauh di dalam diri orang yang melakukan kekerasan adalah ketakutan. Ketakutan adalah unsur kelemahan yang paling mengakar. Ketakutan adalah awal munculnya kekerasan. Jika masyarakat mampu menghilangkan rasa takutnya, maka mereka akan mampu dengan sendirinya mengusir kelemahannya. Dan dengan cara demikian orang baru mampu melakukan tanpa kekerasan. Tanpa kekerasan muncul bukan karena kelemahan tetapi justru muncul karena keberanian. Orang yang berani adalah orang yang tidak mengenal takut. Ia tidak akan takut ketika kedudukannya diambil. Ia tidak akan takut kalau berani mengatakan sesuatu itu pada porsinya. Ia tidak takut kehilangan apapun demi kebenaran, bahkan ia tidak takut saat jiwanya terancam. Jika orang dihantui rasa takut, maka mereka melakukan serangan dan setiap serangan yang dimunculkan adalah kekerasan. Oleh karena demikian tanpa kekerasan merupakan kekuatan sedangkan kekerasan adalah kelemahan.
Satya artinya kebenaran. Ahimsa dan Satya adalah prinsip dasar dari filsafat Gandhi. Beliau sendiri mengatakan: “My faith in truth and non-violence is ever growing, and as I am ever trying to follow them in my life, I too am growing every moment. I see new implications about them. I see them in a newer light every day and read in them a newer meaning” (Harijan, 1-5-1934, p94). Pada tingkatan yang paling tinggi manusia akan melebur dan menyatu dengan Tuhan. Realitas yang ideal juga merupakan nilai yang ideal. Oleh karenanya, kebenaran bagi Mahatma Gandhi adalah Tuhan dan kasih sayang merupakan bentuk ahimsa yang paling sempurna. Kondisi yang ideal ini akan terwujud apabila realisasi diri, manusia dengan Tuhannya telah menyatu. Namun Mahatma Gandhi menyadari bahwa sepanjang manusia masih berada di dalam badan, jarak antara manusia dengan Tuhan masih ada. Ia melihat bahwa badan adalah belenggu dan pembatas seseorang untuk menyatu dengan-Nya. Tapi meskipun demikian jurang pemisah itu bisa dipersempit. Jurang pemisah itulah indikasi ketidaksempurnaan sifat manusia. Karena sifat ketidaksempurnaan inilah manusia cenderung bisa jatuh ke dalam bentuk tindakan-tindakan yang bertentangan dengan moral ideal tersebut.
Dari sudut ini Gandhi melihat bahwa oleh karena ketidaksempurnaannya manusia bisa melakukan kesalahan sehingga kita tidak bisa menghakimi orang yang melakukan kesalahan dengan jalan kekerasan. Pendekatan moral dan cara-cara tanpa kekerasan adalah cara yang paling ampuh sebab dengan demikian mereka akan menyadari nuraninya sendiri. Mengetuk nurani manusia lainnya untuk menjadi sadar akan hakikat dirinya lebih memiliki makna ketimbang menghukum orang dengan ganjaran kekerasan. Gandhi menyadari bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan tetapi kesalahan itu akan hilang dengan sendirinya ketika kita menyadari dan mengakuinya. Disini Gandhi mengatakan “confession of error works like a broom, sweeps away filt. Confession does no less”. Pengakuanlah yang membuat seseorang tetap mulia, bukan tidak pernahnya melakukan kesalahan. Ini bukan berarti dibenarkan bahwa kita boleh melakukan kesalahan lalu kita akui. Gandhi menekankan bahwa karena ketidaksempurnaan manusia itulah penyebab terjadinya kesalahan, sehingga jika itu terjadi memaafkan kesalahan itu serta mengakui bahwa itu salah adalah yang terbaik. Jadi di sini yang dipentingkan adalah ikhtiar yang terus-menerus untuk bereksperimen pada kebenaran.
Asteya artinya tidak mencuri. Term ‘asteya’ bagi Mahatma Gandhi bermakna sangat dalam. Ia tidak mengartikan pencuri hanya sekedar orang yang mengambil barang milik orang lain tanpa sepengetahuan si pemilik. Pencuri adalah di samping pengertian tersebut juga dialamatkan bagi mereka yang mengambil sesuatu yang tidak dibutuhkannya. Gandhi lebih menekankan bahwa sifat serakah adalah mencuri. Keinginan untuk memiliki lebih dari apa yang kita perlukan untuk memenuhi kebutuhan vital kita adalah definisi yang lebih mendekati apa yang dimaksudkan oleh Mahatma Gandhi tentang pencuri dan mencuri. Sehingga asteya berarti kita melakukan kebalikannya yakni hilangnya keinginan untuk memiliki sesuatu yang tidak kita perlukan.
Dari prinsip ini, bentuk kehidupan yang ideal adalah kesederhanaan. Hidup sederhana adalah hidup yang mendekati kesempurnaan, sebab keinginan yang berlebih bisa ditinggalkan serta konsumsi yang berlebihan bisa diminimalisir. Prinsip hidup ini menjadikan orang kaya sebab tidak ada lagi keinginan yang berlebihan yang ingin dicapainya. Kesederhanaan akan membawa ketenangan dan kedamaian jiwa. Gelombang hawa nafsu tidak lagi memenuhi pikiran. Tentang hal ini Martin Kingsleiy mengatakan “Peace and a high standard of living are incompatible.” If a man encumbers himself with property, then he cannot do without police. By the same token, an Empire implies soldiers and war (www.mkgandhi.org).
Brahmacharya artinya kemurnian. Orang yang selalu tekun di jalan Tuhan disebut Brahmachari. Dalam Catur Ashrama disebutkan Brahmachari berada pada urutan pertama yang artinya mereka yang masih tekun menuntut ilmu dalam usia sejak lahir sampai menjelang grhasta. Dalam Parampara Sampradaya atau perkumpulan spiritual, brahmachari adalah mereka yang telah memutuskan untuk tidak menikah dengan suatu ritual tertentu dan kehidupannya didedikasikan sepenuhnya di kaki Tuhan baik melalui pelayanan masyarakat maupun pelayanan murti (arca). Pijakan dari semua itu adalah kemurnian. Gandhi mengatakan:
Life without Brahmacharya appears to me to be insipid and animal-like. The brute by nature knows to self-restraint. Man is man because he is capable of, and only in so far as he exercises, self-restraint. What formerly appeared to me to be extravagant praise of Brahmacharya in our religious books seems now, with increasing clearness every day, to be absolutely proper and founded on experience (Harijan, p. 234).
Bagi Mahatma Gandhi Brahmacharya ini adalah prinsip yang mutlak sebab hanya dengan kemurnian pikiran kita bisa berhadap-hadapan dengan Tuhan. Tuhan hanya dapat didekati melalui kemurnian. Baginya, penghalang kemurnian yang paling signifikan adalah nafsu birahi, kama yang telah mendarah daging bersama kelahiran. Oleh karena demikian melalui peragaan hidupnya Gandhi bersumpah untuk melaksanakan Brahmacharya secara ketat dengan jalan tidak melakukan hubungan seksual bersama istrinya. Dalam usianya yang baru menginjak 35 tahun, tindakan ini sangat susah dilakoni. Gandhi pun di dalam perjalanannya sempat jatuh beberapa kali, tetapi ikhtiar tidak pernah berhenti sehingga akhirnya kemurnian itu bisa diraihnya dengan sempurna.
Asangraha artinya tanpa keterikatan. Krishna dalam Bhagavad-gita mengatakan bahwa kesedihan muncul karena keterikatan. Jalan untuk melenyapkan kesedihan itu hanya ada dibaliknya yakni tanpa keterikatan. Arjuna sedih saat berada di tengah medan Kuruksetra oleh karena keterikatannya dengan sanak keluarga. Mahatma Gandhi juga melihat bahwa kita hidup dewasa ini adalah representasi dari apa yang dialami Arjuna. Menghilangkan kemelekatan duniawi melalui cara-cara spiritual adalah salah satu metode yang sangat ampuh. Ia mengatakan bahwa Tuhan akan memurnikan diri kita dari kemelekatan ini melalui doa. Doa akan mengikis habis segala kemelekatan ini sebab doa adalah jalan Tuhan.
Gandhi memberi contoh bahwa keterikatan itu dapat kita hilangkan dari diri melalui latihan hidup sederhana secara ketat. Ia mengambil sesuatu hanya jika diperlukan. Menahan diri untuk menumpuk kekayaan adalah tapa yang terbaik. Apakah Gandhi menolak kekayaan? Di dalam teori trushteeship yang beliau kemukakan menyatakan bahwa untuk menjadi tidak terikat tidak perlu miskin sehingga ia tidak menolak kapital. Demikian juga ia menolak bentuk sosialismenya Marx sebab baginya setiap orang memiliki kebutuhan dan bakat alam yang berbeda. Bakat atau minat yang berbeda akan membutuhkan sesuatu yang berbeda dengan kuantitas yang berbeda pula. Ketidakterikatan disini dapat dilatih dengan adanya kesadaran untuk berbagi. Bagi mereka yang mampu menggali potensi dirinya lebih jauh sehingga secara materi penghasilannya melebihi dari apa yang dibutuhkan, maka mereka tidak segan-segan untuk mau membagikan penghasilannya tersebut kepada orang yang membutuhkan pertolongan. Menjadi kaya adalah ikhtiar orang bekerja dan mulia tetapi menumpuk kekayaan apapun alasannya adalah racun bagi kerja keras mereka dan membuatnya menderita.
Gandhi yakin bahwa tidak akan ada lagi orang miskin di dunia ini jika orang yang kaya mau berbagi. Penjabaran dari Isavasya Upanisad sloka pertama beliau mengatakan “alam ini telah memproduksi cukup bagi setiap kebutuhan manusia tetapi tidak akan pernah cukup atas keserakahannya”. Dengan jalan memahami ini, maka keterikatan duniawi akan secara bertahap berkurang sehingga akhirnya kita terlepas sempurna dan menyatu dengan kesadaran Ilahi.
Sarirasrama atau kerja tangan. Gandhi melihat bahwa kerja fisik sangat penting bagi tubuh untuk kesehatan. Berbagai jenis penyakit yang bersarang di tubuh manusia dewasa ini karena sebagian besar dari mereka mengabaikan aktivitas fisik. Dibandingkan menyediakan waktu untuk melakukan olah raga, kerja fisik ternyata lebih efektif, pertama, pekerjaan selesai dengan baik, kedua badan bergerak, dan ketiga adalah efektif waktu. Dalam ranah spiritualitas, kerja fisik bisa dijadikan sebagai salah satu metoda Yoga. Setiap gerak dari badan adalah ritmik dan harmoni. Gerak yang dilakukan bisa dijadikan alat untuk menjadi harmoni dengan alam semesta.
Asvada artinya pengendalian selera lidah. Nafsu birahi dan selera lidah adalah hal yang paling sulit dikendalikan. Oleh karena itu, Mahatma Gandhi sangat menekankan praktek Brahmacarya dan Asvada ini untuk menjaga kemurnian hati. Ia yang mampu menanggalkan selera lidahnya terhadap berbagai jenis makanan akan mampu menghilangkan jenis selera yang lainnya secara langsung. Banyak orang terbunuh oleh karena konsumsi yang tidak pada tempatnya. Kondisi buruk yang menimpa umat manusia dewasa ini salah satu penyebab utamanya adalah pemenuhan selera lidah yang tanpa batas. Memanjakan selera lidah adalah salah satu kebodohan manusia yang paling fatal. Semua bentuk penderitaan yang ada berawal dari kebodohan ini. Mahatma Gandhi mengatalan:
“A man who wants to control his animal passions easily does so if he controls his palate. I fear this is one of the most difficult vows to follow …. Unless we are prepared to rid ourselves of stimulating, heating, able to control the over-abundant, unnecessary, and exciting stimulation of the animal passions…. If we do not do that …., we are likely to abuse the sacred trust of our bodies that has been given us , and to become less than animals and brutes, eating, drinking and indulging in passions which we share in common with the animals.” (Prabu & Rao, 1960: 260).
Mahatma Gandhi selalu menekankan pentingnya pengaturan makanan. Makanan diperlukan hanya untuk keperluan energi kita bukan untuk memuaskan selera lidah. Jika asupan energi ke dalam tubuh telah cukup maka makanan lain betapapun enaknya tidak diperlukan lagi. Mahatma Gandhi memperagakan prinsip ini dengan jalan memakan-makanan tanpa bumbu, tidak minum minuman beralkohol, mengurangi makanan yang berasal dari hewan bahkan sampai tidak sama sekali (total vegetarian), tidak merokok atau penggunaan narkoba, dan makan secukupnya.
Kemudian penguasaan selera lidah yang lebih penting adalah berusaha untuk tidak berbicara jika hal itu tidak penting. Gandhi setiap minggu secara rutin melakukan mauna, puasa tidak bicara. Praktek ini sangat efektif untuk memulihkan kecerdasan kita sebab sebagian besar kecerdasan kita dihabiskan hanya untuk membicarakan sesuatu yang tidak penting. Gandhi mengatakan “satu kata sudah cukup jika mampu menyampaikan kebenaran daripada banyak kata tetapi justru mengaburkan kebenaran”. Pesan yang dapat kita petik adalah kata-kata hanyalah digunakan sebagai alat untuk menyampaikan kebenaran. Jika tidak, diam adalah cara yang terbaik. Kata-kata yang diucapkan tanpa tujuan untuk menyampaikan kebenaran hanya akan menjadi racun. Berbagai ketegangan, permusuhan, lenyapnya persahabatan muncul sebagai akibat ketidakmampuan kita untuk mengendalikan lidah kita. Kata-kata yang keluar dari mulut kita jika tidak digunakan dengan benar maka akan berbalik dan sangat berbahaya. Oleh karena demikian pengendalian selera lidah untuk selalu berkata sedikit tetapi bermakna adalah jalan terbaik di dalam menjalin persahabatan, menciptakan perdamaian dan membersihkan bhatin kita.
Sarvatra Bhayavarjana. Frase ini berarti sebuah kondisi dimana kita berada di dalam ketidaktakutan terhadap segala sesuatu. Manusia lahir telah dihinggapi oleh rasa takut ini. Faktor penyebab ketakutan ini ada banyak. Pertama muncul karena kelahiran. Ketakutan ini inheren di dalam diri manusia semenjak ia dilahirkan. Dalam kepercayaan Hindu dan Buddha, ketakutan ini muncul sebagai akibat karma masa lalu mereka. Gandhi melihat bahwa ketakutan ini ada di dalam diri manusia sebagai akibat ketidaksempurnaan dan kegelapan yang membelenggunya. Kedua, ketakutan muncul dari ajaran, dogma, adat dan budaya. Hampir sebagian besar umat manusia merasa takut karena hal ini. Mereka takut kalau melenceng dari dogma atau ajaran yang diyakini atau ketakutan kalau ajaran itu tidak dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat. Mereka takut akan sanksi yang dibebankan padanya jika tidak bisa melakukannya. Ketakutan jenis ini adalah ketakutan bentukan oleh sebuah suasana. Ketiga, ketakutan yang muncul dari kekacauan politik dan perang. Keempat, ketakutan ketidakmampuan bersaing ditengah-tengah kehidupan global. Banyak dari mereka yang stress dan akhirnya bunuh diri dari kondisi ini. Kelima, dalam lingkungan keluarga ketakutan ini muncul dari kekangan orang tua terhadap anak, pemaksaan kehendak orang tua kepada anaknya, ketakutan orang tua akan masa depan anaknya, ketakutan akibat kekerasan rumah tangga dan lain sebagainya. Semua ketakutan tersebut terakumulasi dan membentuk masyarakat seperti yang kita hadapi dewasa ini. Mahatma Gandhi mengungkapkan:
“I suggest to you that there is only one whom we have to fear, that is God. When we fear God, then we shall fear no man, however high –placed he may be; and if you want to follows the vow of Truth, then fearless-ness is absolutely necessary.” (Prabu & Rao, 1960: 262).
Sekali manusia menyadari dan menemukan cahayanya bahwa dirinya adalah jiwa yang agung, maka segala bentuk ketakutan akan hilang dengan sendirinya. Tidak ada yang mesti ditakuti sebab sesuatu yang lain yang ada di luar tidak berbeda dengan dirinya. Identitas pribadinya telah mengalami perluasan tidak hanya ada pada diri-ego semata tetapi Sang Diri Yang Agung yang bersemayam di setiap ciptaanNya. Sumber ketakutan, yakni kebodohan kita telah kehilangan akarnya.
Ketakutan adalah bentuk ketidaksempurnaan manusia dan karenanya menjadi halangan terbesar manusia dalam berbagai hal. Mantra Atharva menyatakan “semoga hamba tidak takut kepada kawan maupun lawan, akan pengetahuan maupun yang tidak dikenal, waktu siang hari maupun malam hari, dan seluruh penjuru mata angin berkawan padaku”. Ketakutan terhadap musuh mungkin tidak terlalu besar bagi sebagain besar orang. Yang paling berat adalah ketakutan terhadap kawan. Terhadap musuh kita bisa melakukan resistensi dengan mudah. Resistensi adalah cara yang paling mudah menguasai ketakutan. Ketakutan terekspresikan lewat resistensi. Terhadap kawan, kita tidak bisa melakukan resistensi, meskipun pada saat kawan kita salah. Berbagai kejahatan yang terjadi di bumi ini terjadi sebagai akibat ketidakmampuan orang mengoreksi temannya yang melakukan kesalahan. Membisu terhadap teman yang berbuat tidak benar adalah bentuk ketakutan yang paling berbahaya dari jenis ketakutan lainnya. Oleh karena demikian mantra ini dengan tepat mengoreksi diri kita untuk selalu ingat bahwa akar ketakutan harus dimusnahkan. Jika rasa ketakutan ini hilang, maka segala bentuk kejahatan akan dapat diatasi. Ia yang ketakutannya telah musnah, tidak ada musuh atau kawan, tidak ada siang atau malam, tidak ada kondisi yang membuatnya lari dari kebenaran.
Sarva Dharma Samanatva, hormat terhadap semua agama dan kepercayaan! Gandhi di dalam eksperimennya tentang kebenaran berkesimpulan bahwa ‘kebenaran adalah Tuhan’. Ini artinya bahwa apapun yang eksis di muka bumi ini yang mendorong kemajuan umat manusia menuju kesempurnaannya adalah kebenaran. Dan sesuatu yang eksis itu selalu abadi baik di masa lalu, saat ini, dan di masa yang akan datang atau dengan kata lain ia tidak berada di masa lalu, saat ini, maupun di waktu yang akan datang. Kebenaran adalah awal dan akhir atau secara bersamaan tanpa awal dan tanpa akhir. Kebenaran adalah alat sekaligus tujuan atau bukan kedua-duanya. Kebenaran itu abadi, tetap, dan akan ada selamanya. Tidak ada satupun kekuatan yang mampu merubahnya. Ia kekal dan sumber dari segala sumber kekuatan. Kelemahan tidak bisa menghampirinya. Ia bersemayam di dalam setiap ciptaannya.
Semua inti agama mengajarkan hal yang sama, mengajarkan kebenaran yang sama. Cara, bentuk, dan bahasa yang digunakan mungkin berbeda menyesuaikan dengan budaya dimana agama dan kepercayaan itu berkembang, tetapi esensi dan tujuannya satu, yakni mencapai kebenaran yang tertinggi. Agama dan kepercayaan itu seperti sungai. Setiap sungai memiliki kelokan yang berbeda, medan yang tidak sama, tetapi muaranya berada pada samudera yang satu. Oleh karena demikian menghormati setiap ajaran agama adalah sebuah keharusan. Setiap orang mesti merasa bebas di dalam mengekspresikan kepercayaannya kepada Tuhan tanpa merasa ditekan atau ketakutan. Kebebasan memeluk agama dan beribadah sesuai dengan ajarannya adalah bentuk hak asasi manusia yang paling mendasar. Setiap orang memiliki cara dan rasa yang berbeda di dalam berhadap-hadapan dengan Tuhannya tergantung di keluarga dan budaya mana mereka dilahirkan. Tuhan yang satu dan sama disebut dengan banyak nama oleh para Maha Suci.
Svadeshi. Gerakan svadeshi ini sangat positif bagi perkembangan ekonomi bangsa. Mahatma Gandhi melihat bahwa jika setiap wilayah baik di tingkat keluarga, desa, distrik, dan propinsi mampu ber-svadeshi, memproduksi cukup untuk memenuhi kebutuhannya, maka ketergantungan dari pihak lain bisa diminimalisir dan bahkan bisa dihilangkan sama sekali. Mungkin jenis produksi setiap region berbeda sesuai dengan sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Satu region bisa memasukkan barang produksinya ke region lain yang tidak memiliki barang produksi tersebut, demikian juga region tersebut bisa mengambil jenis barang produksi lain yang dibutuhkan dari region lain asalkan nilai nominalnya seimbang. Jika kondisi ini bisa dipertahankan maka setiap region bisa dikatakan berdiri di atas kaki sendiri tidak tergantung sepenuhnya dari pihak lain. Kemakmuran secara merata pasti terjadi dengan sendiri. Setiap region tidak ada yang mengambil keuntungan lebih dari region lainnya. Mereka mengkonsumsi barang hanya dari hasil jerih payahnya sendiri. Svadeshi adalah konsep yang sangat ideal di dalam kemakmuran bagi semua orang. Gandhi mengatakan: “So when we find that there are many things that we cannot get in the country , we must try to do without them. We may have to do without many things; but believe me, when you have that frame of mind, you will find a great burden taken off your shoulders” (Prabu & Rao, 1960. 261).
Sparsabhavana. Rasa empati kepada semua ciptaan tumbuh apabila sensitifitas kita berkembang dengan baik. Merasakan identitas yang sama terhadap kondisi orang lain adalah arti dari terma sparsabhavana ini. Orang yang perasaannya tertutup sangat sulit berempati. Sensitifitasnya tertutup oleh lapisan pengalaman masa lalu yang menghambat perkembangannya. Setiap orang sesungguhnya memiliki potensi yang sama untuk sensitif, tetapi oleh karena keadaan sebagian besar umat manusia kehilangan sifatnya yang paling berharga ini. Bukti nyata terhadap ketidaksensitifan seseorang dewasa ini adalah terbentuknya masyarakat atomis. Masyarakat individualis yang muncul adalah wujud nyata dari hilangnya rasa empati terhadap orang lain.
D. Penutup
Awal abad ke-20 para pemimpin berhasil mementahkan kultus kekerasan dan ketidakadilan rasisme, kolonialisme, kasta, dan lainnya seperti kejahatan politik dan sosial, dan orang yang memiliki strategi anti kekerasan yang efektif tersebut adalah Mohandas Karamchand Gandhi, dihormati oleh jutaan orang sebagai “Mahatma”. Banyak buku yang telah ditulis tentang Kebenaran dan strategi tanpa kekerasan ‘Satyagraha’nya, “mode”, kelemahan, asketisme dan prestasinya, demikian juga tentang kepemimpinannya, kualitas dan perawakannya, bagaimana itu diperoleh dan berdampak pada orang, masyarakat, gerakan, lembaga, disiplin akademik dan sejarah, dan relevansinya terhadap scenario perang kontemporer, kekerasan dan terorisme.
Melihat semua kejadian sekarang ini setiap orang mesti kembali ke belakang untuk menemukan orang-orang yang menarik perhatian begitu kuat seperti Gandhi lakukan terhadap hati nurani individu manusia. Mereka adalah orang-orang beragama, di era lain. Gandhi menunjukkan bahwa spirit Kristus dan Buddha dan beberapa Nabi Ibrani dan Nabi Yunani, bisa diterapkan di zaman modern dan untuk politik modern. Ia tidak berkhotbah tentang Tuhan atau agama, ia adalah khotbah yang hidup. Dia adalah pria yang baik di dunia ia melawan korosi pengaruh kekuasaan, kekayaan dan kesombongan.
Skenario global telah sangat berubah dalam enam dekade terakhir. Hampir semua negara sekarang independen dan memerintah diri mereka sendiri. Teknologi modern telah menyusupi seluruh dunia. Perjalanan yang awalnya mengambil waktu bulanan atau mingguan, sekarang selesai dalam hitungan jam. Suara, teks dan pesan bergambar ditransmisikan dalam hitungan detik. Di sisi lain, senjata penghancuran massal bisa, dan telah mengurangi kota-kota besar menjadi abu dalam hitungan detik. Itu bidang ekonomi sekarang didominasi oleh perusahaan multinasional dan perusahaan besar yang tindakannya bisa mempengaruhi jutaan nyawa, tetapi masih sangat kecil dikendalikan oleh hukum negara manapun. Disinilah Ajaran Mahatma Gandhi menjadi sangat relevan untuk diperhitungkan. Segala konsekuensi yang timbul dari perkembangan yang demikian pesat ini sangat memerlukan pemikiran arif dan bijaksana dalam segala hal. Gandhi adalah sosok contoh yang sempurna untuk ini.
* I Gede Suwantana
Dosen Fak. Brahma Widya IHDN Denpasar
Doktor dan Magister Agama ini kini menjabat sebagai Direktur Indra Udayana Institute of Vedanta
Daftar Pustaka
Copley, Antony. 1987. Gandhi Against the Tide. Oxford: Oxford University Press.
Erikson, Erik, 1969. Gandhi’s Truth: On the Origins of Militant Non Violence. New York: Norton.
Fischer, Louis, 1950. The Life of Mahatma Gandhi: Harper & Row.
Gandhi, M.K. 1927. An Autobiography – Story of My Experiments withTruth. Ahmedabad: Navjivan.
Green, Martin, 1993. Gandhi : Voice of a New Age Revolution.New York: Harper Collins.
Gregg, Richard, 1960. The Power of Non-Violence. Ahmedabad: Navjivan.
Huxley, Aldous . 1938. Ends and Means : An Inquiry into the Nature of Ideals and Methods Employed for their Realization. Edinburgh: Chatto & Windus.
Iyer, Raghavan N. 2012. ‘Means and Ends in Politics’. http://www.mkgandhi.org/g_ relevance/chap10.htm
Jurgensmeyer, Mark. 2003. Gandhi’s Way: A Handbook of Conflict Resolution. Berkley: University of California Press.
Mathews, James 1989. The Matchless Weapon – Satyagraha. Bombay: Bharatiya Vidya Bhavan.
Martin, Kingsleiy. 2012. Mahatma Gandhi: Saint or Politician. http://www.mkgandhi.org/g_ relevance/chap10.htm
Nazareth, Pascal Alan. 2011. Gandhi’s Outstanding Leadership. Bangalore: Sarvodaya International Trust.
Power, Paul. F., 2012. A Gandhian Model For World Politics : http://www.mkgandhi.org/g_ relevance/chap10.htm
Prabu, R.K & Rao, U.R. (Eds. ). 1960. Mind of Mahatma Gandhi (Encyclopedia of Gandhi’s Thoughts). Ahmedabad: Navajivan Trust.
Shean, Vincent 1949. Lead Kindly Light. New York, Random House.
Sharp, Gene. 2012. Gandhi’s Political Significance Today: http://www.mkgandhi.org/g_ relevance/chap10.htm
Shridharani, K. 1962. War Without Violence. Bombay: Bharatiya Vidya Bhavan,
Suwantana, I Gede. 2007. Mahatma Gandhi. Bandung: Ganeca Press.
Suwantana, I Gede. 2012. Gandhi Giri Ajaran Mahatma di Bali. Klungkung: Ashram Gandhi Puri, Indra Udayana Institute of Vedanta.