Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Agama dan sains kerapdianggap sebagais esuatu yang saling bertentangan. Sains yang berpedoman pada fakta empiris kerap mendiskreditkan agama sebagai mitos paling muktahir dalam sejarah peradaban dunia.Sedangkan agama menganggap sainssebagai bentuk arogansi pengetahuan karena logika penolakan unsur ilahi.Namun adakalanya keduanya bertemu dan saling mengisi satu sama lain. Pembuktian-pembuktian sains tentang aktivita salam semesta kerap sejalan dengan apa yang tertera di kitabsuci. Bahkan ilmu perbintangan yang muncul dari agama-agama sebelum kelahiran Kristus memiliki akurasi (ketepatan) yang bisa dibuktikan secara ilmiah.Sayangnya kultur dialektis seperti ini tidak cukup banyak diungkap kehadapan publik sebagai perekat dua golongan (agama dansains) yang sama-sama memiliki tujuan mulia pada bidangnya masing-masing.

Minggu, 29 Juni 2013, merupakan hari di mana dialektika itu tersampaikan. Bertepatan di Graha Aditya Sabha, tengah berlangsung Stadium Generale (KuliahUmum) bertajuk Vedanta and Science yang dibawakan oleh His Holiness Subhag Swami Maharaj dari International Society for Krishna Consciousness. Acara yang terselenggara berkat kerjasama antara Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta, Parisada Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Bhakti Vedanta ini melibatkan seluruh elemen masyarakat Hindu Sejabodetabek. Kuliah Umum yang berlangsung dari pukul 09.00 – 14.00 WIB juga menampilkan sejarah perjalanan organisasi International Society for Krishna Consciousness, termasuk kedatangan Sri Srimad AC Bhaktivedanta Swami Prabhupada ke PuraAditya Jaya Rawamangun pada tahun 1973.

Sebelum memasuki ruang seminar, His Holiness Subhag Swami Maharaj disambut oleh barisan mahasiswa serta pengalungan bunga oleh Ketua Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta, Prof. Dr. Ir. I Made Kartika D., Dipl.-Ing. KuliahUmum kali inidipanduoleh Ni PutuRatni, S.Pd.H serta penerjemah Nara sumber oleh Nyoman Tri Astawa, Sp.PD (Trata Dasa) mengingat kuliah yang disampaikan bersifat bilingual yakni Inggris dan Indonesia.
Kuliah umum ini kali menekankan pada bagaiamana proses mendapatkan kebenaran di dalam Veda juga senada dengan apa yang dilakukan oleh sains. Bahkan jika ditilik dari metodologi sains yang murni pada pengamatan empiris yang bersifat distingrif dan terukur, namun pada kenyataannya banyak sekali teori-teori sains, terutama teori sains terkenal, lebih bersifat spekulatif dan tidak berpedoman pada prinsip-prinsip metodologis sains itu sendiri. Dalam seminar ini dicontohkan teori evolusi dari Charles Darwin sebagai teori yang bersifat sangat spekulatif. Beliau menjelaskan bahwa Teori evolusi Darwin memberikan suatu spekulasi teoritis bahwa perubahan perlahan (evolusi) yang dialami seluruh makhluk hidup berjalan begitu saja (secara acak).

Vedanta dan Sains sama-sama mengkaji tentang hakikat dan unsur alam semesta. Deskripsi ontologis tentang hakikat alam semesta sebenarnya sudah dituntaskan di Vedanta. Dan dengan bahasa yang berbeda sains juga mengkaji hal tersebut yang mana jika dibandingkan dengan Vedanta keduanya memiliki prinsip yang hampir sama. Seperti yang dijelaskan oleh Narasumber bahwa seorang Ilmuwan seperti A. Szent Gyorgi menyatakan“In my search for the secret of life, I ended up with atoms and electrons which have no life at all. Somewhere along the line, life has run out through my fingers. So, in my old age I am now retracing my steps. ”Penjelasan ini sejalan dengan prinsip Vedanta bahwa Tuhan sebagai yang absolut merupakan pengada namun beliau sendiri ‘ tidak terjelaskan’ secara materi atau sains.
Dalam seminar ini juga dapat dijelaskan bahwa Vedanta, bisa menjadi sebuah doktrini lmiah sekaligus teologis Hinduisme yang menjelaskan bahwa secara prinsip tidak ada pertentangan antara ilmu pengetahuan dengan agama.Faktanya, kedua bidang tersebut saling melengkapi. Hal ini disebabkan karena adanya pengertian bahwa ruang lingkup masing-masing bidang tersebut telah dibatasi dengan tegas. Dalam Hinduisme terdapat dua kategori pengetahuan—(1) paravidya—pengetahuan rohani dan (2) aparavidya – pengetahuan material. Pengetahuan ilmiah merupakan bagian dari aparavidya. Pengetahuan rohani – pengetahuan tentang Tuhan dan kehidupan termasuk dalam paravidya. Hinduisme menjelaskan bahwa pengetahuan ilmiah dapat menuntun kearah pengetahuan rohani.
Antusiasme umat terhadap ilmu pengetahuan terutama pengetahuan agama nampak terlihat padaa cara ini. Pertanyaan demi pertanyaan, yang berasal dari seluruh golongan baik mahasiswa maupun kelompok masyarakat, bertubi-tubi dilontarkan kepada pembicara. Nampaknya masyarakat sudah mulai kritis dengan segala bentuk informasi yang berhubungan dengani dentitas KeHinduan mereka. Ajaran Vedanta memang sangat luas, dan masyarakat (terutama di Indonesia) dapat menangkapnya lewat penjelasan komprehensif dari kitab Bhagavad Gita. Dari Bhagavad Gita lah manusia akan menemukan seluruh eksplanasi baik eksplanasi diri termasuk misterialam semesta.
Dalam wawancaranya dengan Bali TV, ketua panitia I Wayan Kantun Mandara, S.Ag., M.Fil.H memberikan tiga poin penting tentang tujuan dari kegiatan ini yakni, (1) Memberikan pencerahan tentang ajaran Vedanta dan relevasinya dengan sains (2) Membangun kesadaran baru bahwa Vedanta dapat beriringan dengan kehendak jaman, termasuk kemajuan sains (3) Menjalin kerja sama eksternal untuk ikut menumbuhkan atmosfer akademik di lingkungan Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta dan umat Hindu pada umumnya. Acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan kepada pembicara serta sertifikat kepada moderator yang diberikan secara langsung oleh Ketua STAH Dharma Nusantara Jakarta.Selesai pemberian kenang-kenangan dan sertifikat acara dilanjutkan dengan foto bersama antara Pembicara, Mahasiswa dan para umat. (ASW)