Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
by Ulianta
Dalam menilai sebuah lembaga pendidikan bermutu atau tidak, apakah lembaga tersebut dapat memenuhi kebutuhan akan pengetahuan atau ketrampilan yang ingin kita peroleh, salah satu komponen utama yang harus diperhatikan adalah Kurikulum lembaga Tersebut. Ini termasuk salah satu fungsi kurikulum. Dengan mempelajari kurikulumnya kita dapat melihat sejauh mana mutu dari lembaga tersebut.
Tujuan belajar apa yang akan dicapai, materi apa yang diberikan, pengalaman –pengalaman belajar apakah yang akan diperoleh setelah mengikuti proses pembelajaran dilembaga tersebut semua tergambar di dalam kurkulum lembaga tersebut.
Kurikulum sebagai suatu rencana mempunyai dua arti yaitu pertama sebagai suatu produk yang mengarah pada tercapainya tujuan akhir suatu program tertentu. Kedua, sebagai proses suatu perencanaan yang menunjuk pada prosedur-prosedur dan materi instruksional yang dirancang oleh guru serta pengalaman-pengalaman belajar yang dirancang oleh guru agar dikuasai oleh siswa. Dalam arti pengalaman-pengalaman belajar dirancang untuk dikuasai siswa sebagai jalan menuju tercapai tujuan yang dinginkan. Secara komprehensif kurikulum dapat diartikan sebagai segala pengalaman dan kegiatan belajar yang diberikan oleh sekolah kepada siswa-siswanya.
Umumnya semua bentuk lembaga pendidikan formal mempunyai buku kurikulum yang berfungsi semacam petunjuk yang menggambarkan arah dan tujuan program pendidikan tersebut. Program yang ada tidak hanya memuat kegiatan belajar siswa di dalam kelas, disuatu sekolah, namun juga melukiskan semua kegiatan belajar yang akan dilakukan siswa diluar sekolah yang dikoordinasi oleh dan menjadi tanggung jawab dari lembaga pendidikan tersebut.
Biasanya setiap lembaga telah mempunyai rancangan/struktur kurikulum dimana disana dimuat cara-cara bagaimana mengorganisasikan mata pelajaran atau pengalaman-pengalaman belajar yang dikoordinir oleh sekolah itu. Didalam rancangan kurikulum ini pula dimuat keluasan dari mata pelajaran (scope) dan urutan (sequence) sajian materi suatu mata pelajaran.
Berbagai jenis rancangan pengorganisasian kurikulum kita kenal diantaranya pengorganisasian secara terpisah-pisan antara mata pelajaran-mata pelajaran secara tersendiri (Subject mattered curriculum), rancangan berdasarkan atas rumpun (broadfield), Pengorganisasian berdasarkan aktivitas kehidupan (live activities curriculum), Pengorganisasian berdasar minat dan kebutuhan siswa, Pengorganisasi berdasarkan core/inti, Pengorganisasian Kurikulum Creatif (Creative Currikulum). Kurikulum ini dirancang untuk digunakan di program pendidikan Pra Sekolah.
Dalam tulisan ini akan memfokuskan kepada pada penerapan kurikulum kreatif ini. Ini menjadi penting untuk diangkat, karena kalau kita lihat hasil pendidikan kita secara keseluruhan/umum kurang berhasil untuk menumbuhkan sumber daya manusia yang memiliki daya kreatifitas yang tinggi. Yang semestinya dapat ditumbuhkan sejak dini kemudian dikembangkan di kelas-kelas selanjutnya. Kenyataan juga dapat kita lihat penerapan kurikulumnya terkesan dipaksakan menyesuaikan diri dengan tuntutan kelas diatasnya, dimana anak dipaksakan dan harus bisa membaca dan mengitung bahkan belajar layaknya seperti anak SD secara klasikal, yang berdampak pada matinya benih kreativitas anak, bahkan membuat anak menjadi kapok untuk datang ke sekolah karena praktek-praktek pendidikan tidak sesuai dengan fase-fase perkembangan anak. Saat ini Lingkungan belajar dan program belajar anak di pra sekolah dan TK dirancang sesuai dengan rencana guru (teacher oriented). Dalam kegiatan belajar itu guru-guru benar-benar mengajar. Rencana mengajar dirancang berdasarkan pada isi atau materi yang telah ditetapkan. Seharusnya dalam mengajar anak pra sekolah guru bertugas sebagai fasilitator, berkewajiban untuk menciptakan lingkungan belajar dimana anak dapat belajar dengan baik. Gairah belajar anak dikembangkan dalam lingkungan belajar tersebut dengan berinteraksi dengan langsung kepada teman sebayanya, orang dewasa, sumber belajar. Kegiatan belajar seharusnya untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan anak secara pragmatis misalnya aspek kejiwaan, aspek perkembangan fisik anak.
Anak hendaknya dipandang sebagai mahluk yang berkembang secara utuh, pertumbuhan dan perkembangannya secara holistic. Anak memiliki berbagai kebutuhan, minat, kesukaan dan cara belajar sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan baik jasmani maupun rohaninya yang berbeda dengan anak Sekolah Dasar dan Menengah.
Pendidikan Pra Sekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik diluar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar, yang diselenggarakan di jalur pendidikan sekolah atau jalur pendidikan luar sekolah. Pendidikan pra sekolah bertujuan untuk membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.
Bentuk satuan pendidikan pra sekolah meliputi Taman Kanak-Kanak, Kelompok Bermain, Penitipan anak, dan bentuk lain yang ditetapkan oleh Menteri. Program Kegiatan belajar juga dinyatakan bahwa isi program kegiatan belajar di Taman Kanak-kanak meliputi : Pengembangan Moral Pancasila, Agama, Disiplin, Kemampuan Berbahasa, Daya pikir, daya cipta, perasaan/emosi, kemampuan bermasyarakat, keterampilan, jasmani. Dalam membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan pengetahuan anak harus disesuaikan dengan usia dan tingkat penalaran anak didik.
Penyelenggaraan pendidikan di TK dilaksanakan dengan bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain sesuai dengan perkembangan jiwa anak didik.
Kurikulum Kreatif hendaknya dirancang sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan usia tersebut. Kurikulum kreatif memberi pedoman kepada guru bagaimana membimbing, membantu dan berkreasi dalam mengajar. Lingkungan belajar anak perlu dirancang agar anak dapat belajar sebanyak-banyaknya dari lingkungan itu. Dasar yang digunakan adalah karena anak pertama-tama belajar dari interaksinya dengan lingkungan sekitarnya. Didalam menata lingkungan belajar anak, yang utama perlu diperhatikan oleh guru adalah memilih materi-materi belajar yang mempunyai potensi baik untuk memenuhi minat dan kebutuhan anak, serta mampu memberi peluang anak untuk belajar. Kreasi disini diartikan sebagai guru selalu mencari cara-cara baru dalam memikirkan dan menggali pendapat dan sikap anak melalui dialog dengan anak, merancang cara-cara belajar melalui “Trial and error”. Belajar dari kesalahan dan kekurangan yang diperoleh selama kegiatan belajar mengajar. Kreatifitas anak berkembang dan tersalurkan melalui interaksinya dengan orang dewasa dan benda-benda lingkungannya.
Pengamatan di TK-TK yang ada dan melakukan proses belajar mengajar, masih jauh dari apa yang semestinya dilakukan dalam pembelajaran di TK, saat ini karena permintaan dari kelas diatasnya yaitu lembaga pendidikan SD yang akan dimasukinya setelah melalui TK yaitu anak sudah harus bisa membaca. Asumsi bahwa anak lulus dari TK telah bisa membaca, mempengaruhi setiap penyelenggara TK untuk memaksakan siswa-siswanya untuk belajar membaca sehingga membuat proses pembelajaran di TK berubah seperti layaknya di SD secara klasikal belajar membaca, berhitung dan menulis dan sedikit sekali waktu yang tersedia untuk Bermain sambil belajar. Waktu bermain hanya ada ketika anak tersebut keluar isitirahat dari pembelajaran di kelas. Kalau dilihat sekilas pembelajaran di TK Saat ini dengan SD tidak ada perbedaan yang signifikan. Lain ketika penulis dulu TK kegiatan benar-benar penuh dengan acara belajar sambil bermain, disain tempat duduk tidak ada yang seperti pengajaran klasikal seperti SD.
Kurikulum kreatif membagi-bagi kegiatan belajar anak menurut bidang-bidang minat (interest areas anak) Ini yang seharusnya dilakukan untuk memulai menumbuhkan kreatifitas sejak dini dengan harapan benih kreatifitas ini tumbuh dan berkembang di kelas-kelas selanjutnya sehingga pendidikan kita mampu menumbuhkan insan-insan kreatif penuh dengan ide-ide dan imajinasi baru.
Adapun Interest Area terdiri dari Blocks, House corner, Table Toys, Art, Sand and water, Library Corner, Outdoors.
Kurikulum Kreatif mendasarkan pada filsafat, teori dan praktek sesuai perkembangan dan prinsip-prinsip perkembangan jasmani yang sesuai. Teori-teori perkembangan anak yang banyak mempengaruhi kurikulum kreatif ini adalah teori Jean Piagiet dan teori Sosio-emosional dari Erik Erickson.
Hasil-hasil penelitian dibidang pendidikan menyimpulkan bahwa anak-anak belajar melalui melakukan atau berbuat sesuatu (learning by doing). Dasar dari pendapat ini adalah filsafat pragmatism yang dianut Williams James dan kemudian digunakan sebagai pedoman dalam pengembangan pendidikan oleh John Dewey.
Anak memandang dunia sekelilingnya secara kongkrit dan pandangan ini secara berangsur-angsur akan berubah seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman anak. Melalui interaksinya secara aktif dengan apa saja yang berbeda di lingkungan anak belajar mengamati, memegang benda-benda, kadang-kadang bagian-bagian dari benda itu dilepas, membangun benda tertentu dari balok-balok, menggambar, bercakap-cakap dengan teman usia sebaya atau dengan orang-orang dewasa. Melalui aktif berbuat ini mereka belajar konsep-konsep sederhana.
Didalam interaksi dengan lingkungannya, anak tak hanya berkembang aspek kognitifnya saja namun juga aspek sosio emosionalnya.Secara berangsur-angsur mereka mampu melepaskan diri dari ketergantungan pada orang dewasa dan mulai aktif bekerja sendiri.
Terdapat dua perkembangan sosio – emosional yang penting pada anak yaitu :
1. Belajar bekerja sendiri dan menguasai diri
2. Belajar berinisiatif dan berusaha diterima oleh kelompoknya.
Peran guru disini adalah mengembangkan rasa percaya anak terhadap lingkungan sekolahnya dan perasaan bahwa ia adalah anggota dari lingkungan sekolahnya. Perasaan ini akan mengarah pada rasa cinta pada lingkungan sekolah dan mendukung anak untuk aktif belajar.
Tujuan Umum dan Tujuan Khusus Kurikulum Kreatif (Goal and Objectives)
Pertumbuhan Kognitif
Kurikulum untuk pendidikan tahap awal (early) anak-anak memuat tujuan umum dan tujuan khusus untuk perkembangan bidang-bidang khusus seperti :
1. Kognitif
2. Sosio-emosional
3. Jasmani
Tujuan yang dirumuskan dengan jelas baik yang bersifat umum maupun khusus sangat membantu guru dalam merencanakan kegiatan belajar mengajar. Rumusan tujuan memuat apa yang diharapkan dapat dicapai siswa setelah selesai belajar.
Tujuan di Bidang Kognitif mencakup :
1. Meningkatkan sikap positif terhadap belajar
2. Meningkatkan kemampuan berpikir
3. Meningkatkan keterampilan berpikir logis
4. Mendorong anak memperoleh konsep-konsep dan informasi-informasi dari lingkungannya yang akan berguna untuk lebih memahami alam sekitarnya
5. Memperluas ketrampilan berkomunikasi secara verbal
6. Suka belajar berkomunikasi melalui tulisan
Tujuan di Bidang Sosio-emosional adalah untuk :
1. Memperoleh Rasa Harga Diri
2. Menunjukkan sikap positif dalam kehidupan sehari-hari
3. Menunjukkan sikap Kooperatif dan perilaku pro social
Tujuan di Bidang Pertumbuhan Jasmani meliputi :
1. Meningkatkan Ketrampilan otot-otot besar
2. Meningkatkan dan memperhalus keterampilan otot-otot kecil
3. Meningkatkan Kemampuan Jasmani melalui Latihan
Peranan Guru Dalam Menerapkan Kurikulum Kreatif
Agar tujuan umum dan khusus kurikulum kreatif tercapai guru hendaknya berperan :
Pertama-tama sebagai pengamat yang tekun, teliti dan obyektif. Ketelitian pengamatan guru Nampak dalam cara mengamati yang sistematis dan mencatat hasil pengamatan dalam buku catatan yang tersedia untuk itu. Dapat pula digunakan daftar cek yang khusus dirancang untuk observasi perilaku-perilaku spesifik pada usia-usia tertentu. Yang harus dihindari adalah membuat penilaian atas apa yang diamati. Yang dilakukan guru adalah mencatat semua kejadian dan perilaku yang diamati secara teliti dan sistematis. Hasil catatan didiskusikan bersama dengan orang tua dan dengan guru lain. Digunakan untuk membuat rencana-rencana baru tentang bagaimana mendorong agar kegiatan belajar melalui bermain meningkat.
Dalam kurikulum kreatif ada dua faktor penting yang harus diperhatikan guru adalah yang pertama kesesuaian kegiatan belajar dengan usia anak dan yang kedua adalah kesesuaian dengan perbedaan individual anak. Kondisi ini, saat ini di pendidikan di TK tidak terlaksana dengan baik. Banyak sekali kegiatan belajar yang tidak sesuai dengan karakteristik anak didik. Pembelajaran Klasikal seperti SD adalah hal yang tidak sama sekali memperhatikan perbedaan individual anak. Anak dianggap memiliki cara dan gaya belajar yang sama.Hendaknya tidak digunakan norma standar penilaian yang berlaku bagi semua anak. Jawaban setiap anak terhadap pertanyaan guru dan hasil karya setiap anak harus dihargai. Pertanyaan dengan jawaban terbuka adalah baik digunakan karena tidak menuntut satu jawaban yang benar. Usahakan anak bermain lebih bermakna. Bermain merupakan suatu proses dinamis. Kegiatan belajar anak pra sekolah dilakukan dengan bermain. Tugas guru dalam kurikulum kreatif adalah berusaha memenuhi minat dan kebutuhan anak yang selalu berubah-ubah. Melalui rancangan permainan yang bervariasi dan alat-alat pelajaran yang berjenis-jenis, kegiatan belajar anak melalui bermain dirangsang agar terus berkembang.
Saat ini orang banyak cenderung beranggapan hendaknya program-program kegiatan belajar anak setingkat pra sekolah hendaknya program-program kegiatan belajar yang dirancang secara akademik formal. Hal ini mempengaruhi penyelenggaraan pendidikan di TK yang dapat kita lihat dan diamati disetiap TK yang berkembangan saat ini. Semua hal yang cenderung membuat suasana yang kaku dan formal dapat mematikan kreatifitas anak dan harus dihindari.
Menurut Tyler (1950: 55) dalam mengorganiasi pengalaman belajar ada tiga prinsip yaitu : kontinuitas, urutan isi dan integrasi. Prinsip kontinuitas ada yang bersifat vertikal dan horizontal. Bersifat vertikal artinya bahwa pengalaman belajar yang diberikan harus memiliki kesinambungan yang diperlukan untuk pengembangan pengalaman belajar selanjutnya. Ini bukan berarti anak TK dipaksakan untuk bisa baca karena di SD tidak diajarkan lagi membaca dan menulis. Tetapi sebaliknya SD harus meneruskan/ menyempurnakan kembali apa yang belum dikuasai oleh siswa.
Dalam upaya menumbuhkan insan-insan manusia yang kreatif, inovatif dan produktif diperlukan pendidikan yang menerapkan kurikulum kreatif untuk memunculkan benih-benih kreatifitas sejak dini, yang diharapkan tumbuh dikelas-kelas selanjutnya sehingga terbentuk manusia-manusia Indonesia yang penuh dan jiwa-jiwa kreatifitas tinggi untuk membangun Indonesia dari Keterpurukan selama ini. Kenyataan memang menunjukan pendidikan saat ini belum mampu menumbuhkan manusia kreatif seperti yang dilakukan Negara-negara lain di dunia, terlihat dari penemuan-penemuan baru dari hasil-hasil penelitian mereka.
Sebagai upaya tersebut perlu diadakan pembenahan implementasi Kurikulum dari apa yang tertulis sebagai Kurikulum Writing. Diatas kertas Kurikulum Pendidikan Indonesia terlihat Ideal dan bagus tetapi lain dalam implementasinya dilapangan. Dilapangan penuh dengan penyimpangan-penyimpangan yang harus diluruskan.
Untuk Pendidikan Pra sekolah penerapan kurikulum kreatif diperlukan, dan pembelajaran klasikal seperti penerapan di sekolah dasar tidak perlu dipaksakan untuk memenuhi tuntutan sekolah diatasnya yang cenderung mau enaknya yang cenderung mematikan kreatifitas anak karena apa yang diajarkan belum saatnya dan tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Peran guru adalah mengembangkan rasa percaya anak terhadap lingkungan sekolahnya dan perasaan bahwa ia adalah anggota dari lingkungan sekolahnya akan mengarakah rasa cinta pada lingkungan sekolah dan mendukung anak untuk aktif belajar mengembangkan potensi dirinya.
Konsep Kurikulum Pendidikan dan Praktek Pendidikan sesuai perkembangan hendaknya di angkat kembali sehingga praktek pendidikan memiliki Kesesuaian dengan usia anak dan Sesuai dengan Perbedaan Individual anak.