Menumbuhkan Karakter Mahasiswa Hindu

Oleh: Dewa K. Suratnaya*

Kampus PERTI (Perguruan Tinggi) Hindu bukanlah menara gading yang mengungkung berbagai pemikiran kritis dan revolusioner tentang Hindu. Sejatinya ia adalah menara suar, di mana kita belajar berbagai konsep teoritis kehinduan serta pencarian solusi secara empiris kasus-kasus yang dihadapi umat Hindu di lapangan. Idealnya, kampus PERTI Hindu adalah tempat pencetak generasi Hindu yang berkarakter, berdaya saing serta menghayati tri kaya yang harusnya selalu di parisudha; bukan malah mencetak robot-robot egois yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri, hanya ber hindu sendirian, tanpa peduli terhadap umat Hindu lain yang kondisinya memprihatinkan. Sehingga sangat disayangkan seandainya kemudian kampus PERTI Hindu dijadikan ajang perebutan untuk kekuasaan dan uang.

Wayan Agus & Agus Widodo Latihan Cipta Lagu Rohani Kontemporer
Wayan Agus & Agus Widodo Latihan Cipta Lagu Rohani Hindu Kontemporer

Para mahasiswa jangan memerangkap diri sendiri, dengan berpikir bahwa seusai pendidikan harus secepatnya mengejar status pegawai negeri, menjadi guru agama atau pegawai di kantor Kementrian Agama; karena terjamin di hari tua dengan adanya pensiun seumur hidup. Kalau ini yang terjadi maka suatu saat ketika seluruh peluang sudah penuh dan tertutup, maka seluruh PERTI Hindu pun akan sepi peminat dan bangkrut. Sesungguhnya pemikiran yang sempit ini hanya mencerminkan betapa tidak berimbangnya kemampuan otak kiri dan otak kanan para mahasiswa Hindu, yang menganggap bahwa alumni mahasiswa Hindu tidak bisa “mencari makan” di ranah lainnya. Ketidakseimbangan otak kiri dan otak kanan inilah yang sedang menjangkiti para pemimpin negeri ini, sehingga yang tumbuh subur hanyalah ego, bukan kebijaksanaan. Begitu bangun pagi, yang dipikirkan hanyalah bagaimana hari ini bisa mencuri uang Negara.

Tentu memilih karir adalah hak asasi masing-masing, tetapi juga akan lebih bijak, kalau tidak semata-mata mengharapkan sesuatu yang juga diharapkan ribuan kandidat lainnya. Boleh-boleh saja berkompetisi, tetapi juga harus siap untuk tersisih. Apalagi kalau harapan itu kini sudah menjadi komoditas yang diperjual belikan. Berinvestasi dengan menyuap aparat agar bisa mencapai tujuan adalah investasi yang berlandaskan keserakahan, dan return on investment nya juga penuh dengan warna keserakahan, yang apabila dinikmati hanya mencetak manusia-manusia yang juga serakah. Harus dipahami bahwa kampus tidak hanya ajang untuk menguasai dan memilik hard skill dalam wujud kemampuan memanfaatkan ajaran-ajaran dharma untuk mengabdikan diri kepada umat (dharma agama), tetapi juga untuk memupuk soft skill atau life skill untuk bekal hidup tanpa harus menjual diri secara murahan, namun tetap dapat melaksanakan dharma agama. Khusus tentang soft skill atau life skill ini tergantung kebijakan dan pintar-pintarnya otoritas kampus dengan programnya.


Ada lagi perilaku yang lebih parah, yaitu apabila tidak pernah mau tahu peta permasalahan yang mendera umat Hindu di kantong-kantong umat di pelosok Nusantara. Istilah kerennya, tidak punya visi dan misi terhadap keberadaan Hindu di Nusantara ini. Teorinya ya seperti ini, ideal memang; tetapi tidak mudah! Tapi kan harus ada teori dulu! Apa salahnya bermimpi dulu, sebelum menjadi kenyataan? Rasanya, semua pemimpin awalnya seorang pemimpi sebelum menjadi pemimpin beneran. Dengan mimpi kita akan memiliki visi, dengan misi kita mencapainya. Semuanya ini tentu memerlukan perjuangan. Perlu usaha dan upaya serta kemauan, tidak hanya bersikap seperti “dukun” atau duduk tekun, sementara pikirannya entah ke mana.

Mahasiswa, selain sedang mengecap dunia akademis yang menjadikannya berpikir empiris dan teoretis, serta tidak terikatnya kepada berbagai kepentingan, seyogyanya menjadikan mahasiswa memiliki perspektif dan pandangan luas untuk dapat bergerak di semua lapisan masyarakat.  Sehingga tidak berlebihan, ketika kepada mahasiswa disematkan predikat agent of changes (agen perubahan), agent of social control (agen kontrol sosial), dan iron stock (calon pemimpin). Tidak perlu muluk-muluk, paling tidak tiga merk ini bisa dijadikan sebagai pembentuk karakter mahasiswa Hindu, selain banyak lagi poin-poin yang menjadikan mahasiswa berkarakter. Namun landasan terpenting dari semuanya itu hanya satu kata, yang kini telah dilupakan, yaitu KEJUJURAN.

Agent of change

Sudahkah kita sebagai mahasiswa Hindu menyadari perannya atau setidaknya berkontribusi sedikit pada sebuah perubahan? Misalnya dari tiga kerangka dasar agama Hindu, sudahkah mahasiswa Hindu berpikir untuk mengkaji beberapa poin dari tatwa, lalu dengan cerdas meneliti implementasinya dalam masyarakat Hindu, lalu berpikir pula untuk mengembangkannya dengan landasan dharma sidhyartha (iksa, shakti, desa, kala, tatwa). Sudahkah mahasiswa mencoba meneliti sejauh mana etika sebagai perekat antara tatwa dan acara, sudah terimplementasi dalam interaksi sesama umat Hindu?

Atau kampus PERTI Hindu hanya menjadikan mahasiswa, sebagai pribadi-pribadi apatis pencari nilai A dan IPK keren, tetapi sepi aplikasi bahkan malu dan takut mengaku Hindu dalam kehidupan bermasyarakat? Atau kampus hanya sebagai dimensi untuk duduk tekun, dengan pikiran yang menerawang jauh, sehingga suara dosen hanya terdengar sayup-sayup. Lalu, grabak-grubuk, sibuk hanya menjelang ujian; yang akhirnya mengantongi sarjana hanya di atas kertas. Buntutnya, hanya menambah jumlah sarjana yang tidak punya integritas, tidak punya komitmen dan ikut “melamar” untuk mengisi posisi koruptor yang memenuhi hampir setiap sudut negeri ini.

Mahasiswa Hindu harus berani menjadi pionir-pionir perubahan. Tentu, yang pertama adalah berani merubah perilaku diri sendiri, sehingga mempunyai brand atau merk sebagai identitas manusia Hindu. Bahkan harus siap tampil beda, jangan dengan mudah menjual diri, melacurkan intelektualitas yang sudah sejak awal berpondasikan kehinduan. Kemudian dilanjutkan dengan membangun kemandirian, sebagai modal penting untuk menawarkan perubahan kepada lingkungan, khususnya masyarakat Hindu. untuk itu diperlukan penguasaan etika, cara-cara yang elegan, santun dan konsisten. Modal untuk menumbuhkan keberanian sebagai agent of changes di masyarakat akan didapatkan di kampus selama masa pendidikan; oleh karena itu pembelajaran selama periode di kampus bukan hal yang remeh. Kampus bukan tempat untuk istirahat, tetapi untuk menempa diri. Banyak sekali yang bisa dijadikan obyek yang sudah selayaknya mengalami perubahan sebagai bagian dari riset dan pengembangan Hindu. Tetapi semua itu harus bermula dari tiga kerangka dasar tadi.

Agent of Social Control

Kebiasaan yang sudah dipupuk untuk tidak mau tahu terhadap gejolak-gejolak sosial di kalangan masyarakat Hindu harus menjadi perhatian para mahasiswa. Ketidakpedulian terhadap kondisi umat Hindu di banyak wilayah di Indonesia ataupun di lingkungan kampus sendiri juga tidak boleh diabaikan begitu saja. Diperlukan kepekaan sosial terhadap semua yang terjadi, khususnya menyangkut kondisi sosial umat. Tidak perlu jauh-jauh, di Jabodetabek saja, misalnya, tidak sedikit umat Hindu yang kondisi sosial ekonominya sangat tertinggal, sehingga tidak mampu menyekolahkan anaknya. Kondisi ini tidak muncul ke permukaan, karena mereka malu, dan merasa tersisih serta terpinggirkan. Ini juga harus menjadi perhatian bersama.

Jangan pernah berpikir bahwa anda telah melaksanakan kewajiban sebagai umat Hindu secara utuh, karena secara individu telah melakukan berbagai kegiatan. Selama, ruang lingkupnya individu, maka sesungguhnya anda baru melaksanakan dharma sebagian saja, belum seutuhnya. Anda baru melaksanakan swadharma anda sebagai mahluk individu, belum sebagai mahluk sosial. Anda masih punya kewajiban yang belum terlaksana terhadap umat Hindu lain, khususnya yang membutuhkan uluran tangan. Jangan biarkan mereka ber Hindu sendirian, jangan mengangkangi kehinduan sendirian pula. Mahasiswa harus menjadi bagian dari kontrol sosial walaupun dalam lingkup terbatas, misalnya, untuk memonitor dengan kepekaan terhadap kondisi sosial tadi. Lalu, menganalisanya, mendiskusikannya dan berupaya menyampaikan kepada otoritas, dalam hal ini lembaga-lembaga yang punya kepedulian untuk itu.

Iron Stock (Calon Pemimpin)

Sesungguhnya ajaran Hindu telah mempersiapkan pemeluknya untuk menjadi pemimpin masa depan. Misalnya saja, melalui ritual rajaswala, seorang anak Hindu sudah mulai diingatkan untuk memulai hidup mandiri (swala) dan mulai belajar memimpin diri sendiri, yang ke depannya juga memimpin orang lain. Setelah menek bajang (akil balik), remaja-remaja Hindu sudah harus belajar menata dirinya, dan melatih diri untuk berperan di masa depan. Semuanya harus terobsesi untuk menjadi pemimpin, yang berani muncul di semua kondisi; tidak semata-mata di kalangan masyarakat Hindu. Tidak hanya menjadi jago kandang, tetapi juga jago di semua arena; karena “bibit” kualitas manusia Hindu memang sangat kompetitif. Pernyataan ini sangat argumentatif, nyatanya hanya manusia Hindu yang sebenarnya dimonitor terus keradaannya melalui ritual, sejak pengisian atman oleh Iswara, semasih dalam kandungan. Bahkan, hanya manusia Hindu yang meyakini bahwa sejak pengisian atman, para leluhur yang sudah sempurna bekerja keras untuk mewujudkan manusia yang berkualitas tinggi.

Berani duduk di depan, tidak hanya duduk di kursi barisan belakang, yang hanya berani berteriak rame-rame (suryak siu), tetapi berani tampil elegan dengan bahasa yang lugas tidak mencla-mencle. Jangan pernah membangun budaya basa-basi. Ini baru ciri-ciri mahasiswa Hindu yang pantas menjadi pemimpin. Untuk mempelajari konsep-konsep kepemimpinan, para mahasiswa perlu banyak membaca pustaka-pustaka seperti Nitisastra, Arthasastra dan lainnya. Malas membaca adalah petaka bagi mahasiswa Hindu, dan ini berarti kehancuran Hindu. Jadilah manusia-manusia yang berkarakter Hindu sejati.

*) Dosen STAH DN Jakarta