Mahasiswa Berwirausaha, Sebuah Pengembangan Diri

Oleh : Aryadi Sukmana*

Fenomena meningkatnya pengangguran menjadi salah satu problem sosial yang harus segera diselesaikan. Para pakar menilai, semakin sedikitnya lapangan pekerjaan yang ada saat ini, menjadi alasan utama bertambahnya angka pengangguran di negara ini. Ditambah lagi beberapa pabrik atau industri yang banyak merumahkan karyawannya karena mengalami kerugian.

Sebagai pribadi yang kreatif dan bertalenta, seyogyanya mahasiswa memiliki insting untuk menciptakan alternatif baru dalam mengatasi keterdesakan atas dirinya. Salah satunya adalah memulai untuk berwirausaha. Tujuan sederhananya adalah untuk mendorong para mahasiswa untuk menciptakan pekerjaan bukan mencari pekerjaan serta menumbuhkan motivasi berwirausaha dengan serius dengan cara mengubah pola pikirnya untuk membuka lapangan kerja.


Sebenarnya setiap orang, setiap mahasiswa, memiliki peluang untuk berwirausaha, namun mengapa jawaban saya demikian? Karena, meskipun semua orang memiliki peluang yang sama tapi tidak setiap mahasiswa memiliki potensi yang diperlukan untuk berwirausaha, seperti semangat, niat, keuletan, kreatifitas, inovatif, memiliki dedikasi tinggi untuk mengembangkan usahanya, dan yang terakhir tidak takut mengambil resiko. Maka bukanlah jalan yang sesuai bagi seorang mahasiswa untuk berwirausaha bila tidak memiliki ciri-ciri di atas. Namun kebanyakan mahasiswa setelah lulus hanya menjadi seorang pekerja, selalu bekerja menyenangkan atasan, bekerja lembur demi mendapatkan uang tambahan yang tidak seberapa demi keluarga. Dan paradigma yang seperti itulah yang dewasa ini terjadi di kalangan mahasiswa. Tapi menurut saya, mahasiswa-mahasiswa yang bertipe seperti itulah yang bisa saya katakan kurang sukses. Kalau kita bisa menjadi the big boss, why not ? dan peluang tersebut dapat dikembangkan dengan potensi yang anda miliki, bagaimana caranya? Anda tanamkan pada diri anda sendiri, yakinkan untuk berwirausaha, dari situ sudah ada niat dan semangat, bila di terus di jalani maka potensi-potensi yang lain akan bermunculan dengan sendirinya, saya sebut itu sebagai link effect. Jiwa seperti ini dikenal dengan istilah entrepreneur

Apa itu Entrepreneur?

Entrepreneur berasal dari bahasa Prancis, yaitu Entre berasal dari kata entrependere (bahasa France) artinya sebuah usaha yang berani dan penuh resiko (sulit). Jadi bisa dibilang, Entrepreneur adalah orang yang mampu mengolah sumber daya yang ada menjadi suatu produk yang mempunyai nilai dan Mencari keuntungan dari peluang yang belum digarap orang lain.

Menurut Peggy & Charles (1999) Entrepreneur harus memiliki 4 unsur pokok :

1. Kemampuan (IQ & Skill)

a. Membaca peluang.

b. Berinovasi.

c. Mengelola.

d. Menjual.

2. Keberanian (EQ & Mental)

a. Mengatasi ketakutan.

b. Mengendalikan resiko.

c. Keluar dari zona kenyamanan.

3. Keteguhan Hati (Motivasi Diri)

a. Persistence (ulet),

b. pantang menyerah.

c. Determinasi (teguh dalam keyakinannya)

d. Kekuatan akan pikiran (power of mind) bahwa Anda juga bisa.

4. Kreativitas Mencari peluang (experiences).

Menurut Edison, Ada 3 pokok utama yang harus dimiliki : Kenal diri. Percaya diri. Mempromosikan diri. Dari uraian tersebut diatas, bisa diterjemahkan bahwa Entrepreneur adalah suatu kemampuan untuk mengelola sesuatu yang ada pada diri kita untuk dimanfaatkan dan ditingkatkan agar lebih optimal, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup kita.Hal-hal yang harus dimiliki Entrepreneur : Pengetahuan (knowledge); Kemampuan (skill); Pengalaman (experiences); Jaringan (networking); Informasi (information); Sumber yang ada (sources); Uang, bakat, lingkungan, keluarga, dll; Waktu (time)Masa depan dan kesempatan (future & opportunity).

Pendidikan Kewirausahaan

Kewirausahaan merupakan jiwa dari seseorang yang diekspresikan melalui sikap dan perilaku yang kreatif dan inovatif untuk melakukan suatu kegiatan. Dengan demikian, perlu ditegaskan bahwa tujuan pembelajaran kewirausahaan sebenarnya tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan pebisnis atau business entrepreneur, tetapi mencakup seluruh profesi yang didasari oleh jiwa wirausaha atau entrepreneur.

Menurut Solomon dan Fernald (1991) serta Hisrich dan Peters (2002) sebagaimana dikutip Bell (2008), pendidikan kewirausahaan tradisional memfokuskan pada penyusunan rencana bisnis, bagaimana mendapatkan pembiayaan, proses pengembangan usaha dan manajemen usaha kecil. Pendidikan tersebut juga memberikan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip kewirausahaan dan keterampilan teknis bagaimana menjalankan bisnis. Namun demikian, peserta didik yang mengetahui prinsip-prinsip kewirausahaan dan pengelolaan bisnis tersebut belum tentu menjadi wirausaha yang sukses (Solomon and Fernald dalam Bell, 2008). Mereka perlu dibekali dengan berbagai atribut, keterampilan dan perilaku yang dapat meningkatkan kemampuan kewirausahaan mereka. Artinya mata kuliah kewirausahaan perlu dirancang secara khusus untuk dapat mengembangkan karakteristik kewirausahaan, seperti kreativitas, pengambilan keputusan, kepemimpinan, jejaring sosial, manajemen waktu, kerjasama tim, dll (Brockhaus; Rae, dalam Bell, 2008). Untuk itu diperlukan perubahan sistem pendidikan kewirausahaan yang tadinya difokuskan pada orientasi pengendalian fungsional seperti, keuangan, pemasaran, sumber daya manusia dan operasi (Meyer dalam Bell, 2008) menjadi fokus pada mengembangkan jiwa kewirausahaan pada peserta didik. Sehingga tantangannya adalah bagaimana sistem pembelajaran yang dapat mengembangkan diri peserta didik mereka dalam hal keterampilan, atribut dan sekaligus karakteristik perilaku seorang wirausaha (Gibb, dalam Bell, 2008)

Dalam konteks ini Ciputra (2007:16) membagi wirausaha menjadi 4 kelompok yang dimodifikasi urutannya sehingga dapat dihimpun dalam akronim BAGS, yaitu:

1. Business Entrepreneur, yang selanjutnya dibagi lagi menjadi 2 kelompok, yakni: owner entrepreneur dan professional entrepreneur. Owner entrepreneur adalah pencipta dan pemilik bisnis. Sedangkan professional entrepreneur ialah orang-orang yang memiliki daya wirausaha namun mempraktekkannya di perusahaan milik orang lain.

2. Academic Entrepreneur, merupakan menggambarkan akademisi yang mengajar atau mengelola lembaga pendidikan dengan pola dan gaya entrepreneur sambil tetap menjaga tujuan mulya pendidikan.

3. Government entrepreneur, ialah seorang atau kelompok orang yang memimpin serta mengelola lembaga negara atau instansi pemerintahan dengan jiwa dan kecakapan wirasaha.

4. Social Entrepreneur, yaitu para pendiri dan pengelolaorganisasi-organisasi sosial yang berhasil menghimpun dana masyarakat untuk melaksanakan tugas- tugas sosial.

Tujuan dari pembelajaran kewirausahaan adalah bagaimana mentransformasikan jiwa, sikap dan perilaku wirausaha dari kelompok busines entrepreneur yang dapat menjadi bahan dasar guna merambah lingkungan entrepreneur lainnya, yakni academic, govenrment dan social entrepreneur.

Desain pembelajaran yang diberikan adalah desain pembelajaran yang berorientasi atau diarahkan untuk menghasilkan business entrepreneur terutama yang menjadi owner entrepreneur atau calon wirausaha mandiri yang mampu mendirikan, memiliki dan mengelola usahanya serta dapat memasuki dunia bisnis dan dunia industri secara profesional. Karenanya pola dasar pembelajaran harus sistemik, yang didalamnya memuat aspek-aspek teori, praktek dan implementasi. Disamping itu dalam pelaksanaan pembelajaran hendaknya disertai oleh operasionalisasi pendidikan yang relatif utuh menyeluruh seperti pelatihan, bimbingan, pembinaan, konsultasi dan sebagainya.

Pembelajaran kewirausahaan diawali dengan persiapan serta pengadaan materi pembelajaran teori, praktek dan implementasi. Setelah persiapan dan pengadaan materi pembelajaran selesai, maka dilaksanakan proses pembelajaran kewirausahaan dengan tujuan utama mengisi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik. Jangan lupa, peserta didik harus diberikan semacam ruang untuk melakukan konsultasi tentang apa-apa saja yang menjadi keresahan atau unek-unek mereka tentang usahanya.

Bagaimana Memulainya?

Mahasiswa masih tergolong sebagai pelajar. Memang sebagian di antara mereka sudah memikul tanggung jawab yang lebih tinggi. Namun intinya, mahasiswa masih menempatkan tanggung jawab belajarnya di atas tanggung jawab mencari nafkah. Salah satu hukum yang harus ditempatkan di benak mahasiswa ketika memulai usahanya adalah enjoy. Enjoy saja dalam berwirausaha, apalagi jika hal yang memfaktori kita untuk berwirausaha adalah keinginan untuk mendapatkan ilmu (soft skill, dsb), bukan materi, meskipun salah satu tujuannya itu materi, namun bila sebagai mahasiswa jangan dijadikan tujuan utama dalam berwirausaha. Berwirausaha mampu mengembangkan jaringan relasi dan mengasah pengimplementasian hal-hal yang sudah kita dapatkan di bangku kuliah.

Kedua, adalah memperhatikan skill atau hobi kita yang dapat menghasilkan uang. Sebagai contoh, jika anda pandai membuat kue, dan membuat kue adalah hobi anda, maka anda bisa berwirausaha dengan mengandalkan hobi anda tersebut. Atau jika anda mahir di bidang komputer, maka jasa programer atau service software dan hardware bisa menjadi langkah baru anda untuk memulai usaha. Tiga teratas jenis usaha yang mengandalkan kemampuan mahasiswa adalah disain (kaos, web, majalah dan dsb), kuliner dan fotografi.

Ketiga, adalah dengan memperhatikan modal. Mahasiswa, terutama bagi mereka yang berada di tahun-tahun pertama, biasanya tidak memiliki tabungan yang cukup untuk memulai usahanya. Anda bisa bekerja sama dengan teman anda atau jika diijinkan, anda bisa meminjam kepada orang tua. Bagi mereka yang tidak memiliki modal biasanya memanfaatkan skill mereka untuk bekerja kepada orang lain hingga honor yang terkumpul bisa digunakan untuk membangun usaha kita. Bukankah bisnis pulsa elektronik tidak membutuhkan modal jutaan?

Keempat, bertanyalah kepada mereka yang telah berpengalaman. Kita akan mendapatkan segudang informasi dari pelaku usahanya langsung. Namun ada etika di dalam penggalian informasi. Ingat, disini kita belajar, bukan mencari jalan pintas dalam mencapai kesuksesan. Jika jawaban kepada teman atau kerabat kurang memuaskan, maka hal tersebut harus menjadi tantangan. Kita bisa belajar dari keseharian mereka menjalankan usahanya. Maka dari itu, dibutuhkan kepekaan.

Salah satu fungsi bisnis adalah sebagai media pelayanan kepada masyarakat luas dalam mendapatkan barang atau jasa yang dihasilkan oleh suatu bisnis. Pelayanan yang paling utama adalah memberikan produk barang atau jasa yang sesuai dengan biaya yang dikeluarkan oleh custumer atau konsumen.Kemasan barang dan isinya harus sesuai. Jangan kemasan barang dinyatakan asli, tetapi isi di dalamnya imitasi, bahkan benar-benar palsu. Demikian juga volumenya. Kalau kemasannya dinyatakan satu kilo misalnya jangan kenyataanya kurang dan satu kilo. Membohongi langganan atau menipu harga-harganya perbuatan dagang seperti itu sangat dilarang oleh kitab Manawa Dharmasastra IX, 287. Perbuatan seperti itu adalah perbuatan dosa yang patut dihukum oleh penguasa. Demikian Sloka Manawa Dharmasastra tersebut menyatakan.

Kita bisa sebut berwirausaha sebagai SAMBILAN YANG MENJADI TUJUAN, pada dasarnya tugas utama mahasiswa adalah kuliah, dan wirausaha adalah sebuah “sambilan”, bukan tujuan, karena tidak boleh diprioritaskan, dan kenapa juga “menjadi tujuan”? Karena mahasiswa berwirausaha itu untuk masa depannya saat telah lulus menjadi sarjana dengan bekal dari “sambilan” itu (soft skill, dsb). Jadi tidak bisa disebut sambilan saja, dan tujuan saja. Karena dua kata ini saling berhubungan.

Semisalnya, Mahasiswa A ini berwirausaha sebagai sambilan di samping kuliah, dan B berwirausaha sebagai tujuan di samping kuliahnya. Yang dilakukan A ini seperti masuk kuping kanan dan keluar dari kuping kiri, maksudnya dalam berwirausaha pada A, setelah proses kesepakatan antara A dan pelanggan selesai, materi dapat, sudah, hanya sampai di situ saja, lain halnya bila dalam berwirausaha, A juga mengaplikasikan tujuan dari sambilannya itu. Pada kasus B, bila berwirausaha itu hanya di tanamkan di pikirannya sebagai “tujuan”, maka secara lambat laun akan menggeser “tujuan” awal sebagai mahasiswa, yaitu kuliah. kedua-duanya (kuliah-wirausaha dan sambilan-tujuan) memiliki porsi yang sama pada mahasiswa.

*) Penulis adalah Lulusan filsafat UI & Pemilik taleus clothing