STAHDNJ.AC.ID

Vidyaya, Vijnanam, Vidvan
Subscribe

Shadaranikaran Sebagai Model Komunikasi Hindu

October 21, 2015 By: admin Category: Penelitian

Oleh :

I Gusti Made Arya Suta Wirawan *

 

ABSTRACT

There is so much language variation which human use to express some meanings. Language is not merely verbal activity which set up on many word, it is also a non verbal activity like sign and symbol. Those varieties are surely effect either semantically or sociologically. Those consequences have been raised because language has interpretative side, meaning as long as the message has been interpreted by the sender and receiver. That mutual interpretation between sender and receiver is called as communication. Seventy percent of human activity is for communication, either by oral or writing. Even we can say that all problems in this world are raised by miss communication or waste communication. It is sure that effective communication could bring the interpersonal relationship becomes better that effectively strengthen between cultural relationship and human civilization. It is also likes Hindu civilization who always plug in communication complexity. As a civilization, Hindu is more than a religion. Hindu is a philosophy, an ethic, linguistic, technology, art and many things that still exist even today. In this article, the writer wants to dig the philosophical basses of Hindu communication that always relates on philosophy and art which is derives from Vakyapadiya and Natyashastra.

 

Keywords: Communication, Shadaranikaran, Natyashastra, Vakyapadiya    

 

Pendahuluan

Di dalam filsafat problem bahasa adalah problem yang bersifat hermeneutis. Istilah hermeneutika dikenal sebagai metode penafsiran teks dalam ilmu filsafat dan filologi (teologi). Hermeneutika dalam ilmu komunikasi masuk dalam kajian tradisi fenomenologi. Tradisi fenomenologi melakukan interpretasi sebagai proses sadar dan hati-hati dalam membentuk sebuah pemahaman. Hermeneutik dapat diartikan sebagai tindakan yang dilakukan secara sengaja dan berhati-hati untuk menginterpretasi teks (philology), maupun menginterpretasi manusia dan peristiwa sosial (social hermeneutics).

Hermeneutik modern dikembangkan oleh Friedrich Schleiermacher. Schleiermacher menggunakan teknik analisis saintifik untuk memahami makna yang dimaksudkan penulis. Salah satu tokoh yang juga membahas hermeneutik Wilhelm Dilthey berpendapat bahwa hermeneutik adalah kunci dari semua ilmu humanistik dan ilmu sosial. Bagi Dilthey, kita tidak dapat memahami semua aspek dalam kehidupan manusia melalui analisis scientific tetapi melalui interpretasi subjektif.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, hermeneutik terbagi menjadi dua. Hermeneutik yang digunakan untuk memahami teks, dan hermeneutik yang digunakan untuk memahami perilaku atau aksi. Tipe pertama disebut sebagai hermeneutik teks (text hermenutics) dan kedua disebut hermeneutik sosial/budaya (social or cultural hermenutics).

Secara umum teks adalah artefak yang dapat kita periksa dan interpretasi. Hermeneutik teks tidak terbatas pada pemaknaan teks tertulis, tapi juga segala sesuatu yang terekam, baik secara tulisan, elektronik, fotografi dll. Dalam proses melakukan hermeneutik dikenal sebuah siklus yang disebut sebagai hermeneutics circle. Maksudnya, kita menginterpretasi dari hal-hal umum ke hal-hal khusus, dan dari hal-hal khusus kembali ke hal-hal umum. Melalui siklus ini, kita akan selalu memahami objek berdasarkan pada pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki.

Masyarakat Hindu merupakan bagian dari peradaban tua dengan sejarah yang dikenal selama ribuan tahun dan memiliki identitas budaya yang berbeda sendiri. Hal ini merupakan warisan peradaban yang kaya secara kultural yang berakar pada periode Veda. Komunikasi (Sanchar) dan teorisasinya bukanlah konsep baru bagi masyarakat Hindu. Sebaliknya, baik komunikasi dan teori komunikasi adalah sesuatu yang sangat asli (murni) pada Bharatavarsha (India) kuno. Ada banyak konsep tradisional Hindu, teori dan metode, yang dapat digali untuk mengumpulkan relevansi dan signifikansi kontemporer mereka.

Banyak penulis yang tampaknya salah paham dalam mempertimbangkan teori komunikasi sebagai “produk dari Renaissance dan Pencerahan Eropa, di mana dasar-dasarnya yang dapat ditelusuri ke filsafat klasik Eropa” (lihat: Wong, Manvi, dan Wong, 1995, dalam Miike, 2006, hal 21), dan untuk alasan ini teori dan metode komunikasi merupakan murni gagasan Barat. Harus kita sadari bahwa, teorisasi, dan teori itu sendiri, baik komunikasi maupun cabang lain, merupakan hal yang sangat umum dalam sistem filosofi Hindu. Bahkan Filsafat Hindu kerap memiliki pandangan mengenai bersatunya teori dan praktek” (Balasubramanian, 1990, hal 16.). Dengan kata lain, para pemikir Hindu “selalu terlibat dalam berteori tentang praktek” (Mohanty, 2001, hal. 25), dan karenanya teori dapat didekati dengan cara yang sama.

Begitu banyak ragam komunikasi, baik verbal maupun non verbal, ekspresi wajah, gerak tubuh dan tangan dan lain sebagainya, namun dalam tradisi Hindu kuno (atau tradisi lain di dunia), komunikasi yang paling efektif adalah komunikasi menggunakan kata-kata. Seperti yang dijelaskan dalam kitab Vakyapadiya bahwa, terdapat hubungan permanen antara kata dan makna di dalamnya (V?kyapad?ya I. 23).

 

Layaknya organ indra pengelihatan memiliki kekuatan untuk menerima segala sesuatu yang datang ke dalam bidangnya, begitu pula kata-kata yang memiliki kapasitas alamiah untuk menyampaikan ide-ide. (Ibid. III. 29)

 

Menurut sistem filsafat Ny?ya dan Vai?e?ika, bahwa ‘kata’ memiliki kekuatan yang luar biasa yang disebut ‘Sakti’ yang bertanggungjawab dalam menyampaikan makna yang sebenarnya. Selanjutnya, teks-teks Ny?ya dan Vai?e?ika menyebut Sakti ini sebagai atribut Tuhan. Begitu pula dengan K?lid?sa yang mengatakan bahwa kata dan makna bersatu bersama seperti ?iva dan P?rvat? (Raghuvam?a I. 1).

Komunikasi tidak hanya menyampaikan informasi kepada seseorang. Jika informasi yang disampaikan tidak dimengerti oleh si penerima pesan, maka proses komunikasi tidaklah berhasil atau sempurna. Keberhasilan akan diraih ketika si pengirim menyatakan suatu materi (ide) yang dikemas ke dalam bahasa dan ‘kemasan’ tersebut dengan baik ditangkap oleh si penerima dan dengan segera si penerima memberikan feedback kepada si pengirim, yang tentunya lewat kemasan yang juga dapat dimengerti.

Dengan demikian proses komunikasi terdiri dari kebenaran, pengetahuan dan kesukacitaan (happiness)satya, jnana dan ananda, yang secara aktual merupakan karakteristik dari Brahman itu sendiri. Inilah mengapa kita menyebut sabda sebagai Brahman. Hal tersebut merupakan disposisi yang tepat dari manusia untuk mencapai hakikat dari sabda itu sendiri yang dapat disebut sebagai kesadaran hermeneutis. Hingga sesuatu yang disampaikan oleh sabda tidak dapat dimengerti maka di sinilah peran hermeneutika. Menurut romantisisme Jerman, pemahaman dan interpretasi merupakan satu kesatuan. Bahasa adalah media universal di mana pemahaman merealisasikan dirinya sendiri. Semua pemahaman merupakan sebuah interpretasi dan semua interpretasi mengambil tempat lewat media bahasa. Dengan demikian fenomena dari hermeneutika memperlihatkan suatu hubungan umum antara berpikir dan berbicara. Interpretasi bukanlah sesuatu yang pedadogis. Ia merupakan pemahaman itu sendiri yang terealisasi tidak hanya untuk sesuatu yang diinterpretasi tetapi juga untuk si penginterpretasi itu sendiri. Pemahaman dan interpretasi tidak terpisahkan. Dengan latar belakang hubungan antara interpretasi dan pemahaman ini serta hubungan mereka dengan bahasa dan komunikasi, dapat secara jelas kita lihat hubungan antara hermeneutika dan komunikasi.

Apa tanda komunikasi yang baik? Arthasastra memberikan beberapa istilah: arthakrama (pengaturan materi pengetahuan), sambandha (hubungan antara kata-kata), paripurnatha (keparipurnaan), sadhuryam (kemanisan), aidaryam (kemuliaan) dan spanutvam (kejelasan). Semua itu sesuai dengan prinsip-prinsip komunikasi sebagaimana diatur dalam studi manajemen. Sebagai contoh, untuk mendapatkan kejelasan, seseorang berusaha menghindari kata-kata asing dan menggunakan kata-kata yang tak asing (mudah dimengerti). Seperti halnya kalimat yang sering diungkapkan dalam dunia industri, “mesin tersebut mengarah pada peningkatan eksesif dan gejala audio yang tak lazim saat beroperasi pada suhu yang tinggi”. Kalimat tersebut dapat dengan mudah diturunkan ‘derajat’ kompleksitasnya menjadi “mesin tersebut menjadi berisik saat panas”.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan sebuah kajian pustaka terhadap dua kitab yakni Natyashastra dan Vakyapadiya. Dua kitab ini merupakan dua kitab yang secara konseptual memberikan penjelasan tentang komunikasi dalam konteks spiritualitas Hindu. Dua kitab ini tidak hanya memberikan penjelasan teknis namun juga hakekat dari komunikasi. Selain dua kitab tersebut, penelitian ini juga melakukan kajian terhadap beberapa jurnal dari Prof. Nirmala Mani Adhikary yang menjelaskan studi komunikasi dalam perspektif Hindu.

 

Shadaranikaran Sebagai Model Komunikasi Hindu

Usaha dalam mempelajari praktek komunikasi dalam masyarakat Hindu, terutama masyarakat India modern, dapat ditelusuri setidaknya lima dekade yang lalu (Majumdar, 1958). Namun, hal tersebut hanya terjadi pada awal tahun 1980 dan untuk selanjutnya para sarjana menekankan teori komunikasi ini dari perspektif Hindu (Dissanayake, 1981, 1982a, 1982b, 1983, 1986, 1987, 1988b, 1988c, Saral, 1983; Tewari, 1980; Yadawa, 1982 , 1987). Tewari (1980, 1992) dan Yadawa (1987, 1998) berpendapat bahwa sadharanikaran adalah konsep yang, dalam konteks Hindu, mengacu pada apa yang dimaksud dengan ‘communis’ dalam bahasa Latin dan ‘komunikasi’ versi modern dalam bahasa Inggris (juga lihat: Adhikary , 2009b, hal 70). Dalam perjalanan waktu, sadharanikaran telah dikenal sebagai teori komunikasi. Hal ini telah menjadi kebiasaan untuk menyebutkan sadharanikaran sebagai teori komunikasi Hindu/India, dan banyak lembaga akademis di India telah memasukkannya ke dalam kurikulum mereka.

Model Komunikasi Sadharanikaran (MKS) merupakan representasi dari proses komunikasi dalam perspektif Hindu. Ia merupakan deskripsi sistematis dalam bentuk diagram dari proses mencapai pemahaman bersama, sebuah kondisi timbal balik atau kesatuan antara pihak yang berkomunikasi. Ini menggambarkan bagaimana pihak yang berkomunikasi berinteraksi dalam sistem (yaitu, proses sadharanikaran) untuk pencapaian saharidayata. Saharidayata adalah konsep inti yang mana makna sadharanikaran berada di atasnya. Ini adalah keadaan dari orientasi, kesamaan, saling pengertian atau kesatuan umum. Dengan selesainya proses sadharanikaran pihak yang berkomunikasi (pengirim dan penerima pesan) akan menjadi sahridayas.

Sadharanikaran sebagai konsep/teori tidak harus dibingungkan dengan model sadharanikaran. Sadharanikaran, merupakan salah satu teori yang signifikan dalam bahasa puisi Sansekerta, memiliki akar dalam kitab Natyashastra dan diidentifikasi dengan Bhattanayaka. Sedangkan, yang terakhir mengacu pada model komunikasi yang mengacu pada konsep / teori sadharanikaran klasik bersama dengan sumber daya lainnya dalam rangka untuk memvisualisasikan perspektif Hindu pada komunikasi.

Sahridayata adalah konsep inti yang di atasnya makna sadharanikaran berada. Ini adalah keadaan orientasi umum, kesamaan atau kesatuan. Pengirim dan penerima menjadi sahridayas dengan selesainya proses sadharanikaran. Dalam masyarakat yang memiliki hubungan asimetris antara pihak-pihak yang berkomunikasi, hanya karena sahridayata komunikasi dua arah dan saling pengertian dapat dicapai. Dengan demikian, pihak yang berkomunikasi dapat mencapai sahridayata terlepas dari hirarki kasta, bahasa, budaya dan praktik keagamaan yang kompleks, dan proses komunikasi memenuhi syarat untuk dianggap sebagai sadharanikaran.

Sadharanikaran, sebagai proses komunikasi, terdiri dari sahridayas sebagai pihak yang berkomunikasi. Sebagai ‘istilah teknis’, kata tersebut menunjuk kepada orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mengirim dan menerima pesan. Mereka adalah pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi, dan mampu mengidentifikasi satu sama lain sebagai proses pengiriman dan penerimaan pesan. Seorang sahridaya adalah orang yang berada dalam keadaan intensitas emosional yang sama kedudukannya atau paralel dengan yang lain yang terlibat dalam komunikasi. Idealnya, istilah ini mengacu pada orang-orang tersebut yang tidak hanya bergerak di bidang komunikasi, tetapi juga yang telah mencapai keadaan khusus: sahridayata. Dengan demikian, sahridaya adalah seseorang yang telah mencapai sahridayata. Dengan demikian, sadharanikaran adalah proses mencapai sahridayata, dan, model sadharanikaran menggambarkan proses tersebut.

Model komunikasi sadharanikaran mengilustrasikan bagaimana pihak-pihak yang berkomunikasi berinteraksi dalam sebuah sistem (proses sadharanikaran) untuk mencapai sahridayata. Model tersebut mengandung elemen di bawah ini:

  1. Sahridayas (Preshaka-pengirim pesan, dan Prapaka-penerima pesan)
  2. Bhava (keadaan pikiran atau hati atau emosi)
  3. Abhivyanjana (ekspresi or encoding)
  4. Sandesha (pesan atau informasi)
  5. Sarani (saluran)
  6. Rasaswadana (penerima pertama, decoding dan menginterpretasi pesan dan

akhirnya mencapai rasa)

  1. Doshas (gangguan)
  2. Sandarbha (konteks)
  3. Pratikriya (proses timbal balik)

Mengacu pada ilmu komunikasi, abhivyanjana dapat diartikan sebagai sebuah ekspresi atau encoding. Dalam sadharanikaran, encoding sendiri bisa diartikan sebagai penyederhanaan (simplification). Penyederhanaan merupakan dimensi yang sangat esensial. Dalam proses komunikasi, konsep-konsep dan ide-ide yang kompleks disederhanakan lewat sang sumber (speaker) dengan menggunakan ilustrasi atau idiom-idiom sebagai sarana untuk terciptanya pemahaman bagi si pendengar (receiver). Pendekatan ini membuat komunikasi menjadi sesuatu yang dinamis, fleksibel, praktis dan instrumen efektif bagi kontrol dan hubungan sosial.

Jika komunikasi diambil sebagai proses langkah-demi-langkah, yang hanya demi memudahkan pemahaman, sahridaya-preshaka (pengirim), yang memiliki bhavas (suasana hati atau emosi atau pikiran atau ide) dalam pikiran, adalah inisiator dalam proses tersebut. Sang sahridaya (pengirim) harus melewati proses abhivyanjana untuk mengekspresikan bhavas mereka dalam bentuk yang dapat dipahami. Ini adalah sahridaya-prapaka (penerima) dengan siapa bhavas harus dibagi. Dia harus melewati proses rasaswadana.

Posisi sahridaya pengirim dan penerima sahridaya tidak statis. Kedua belah pihak terlibat dalam proses abhivyanjana dan rasaswadana. Ketika sadharanikaran berhasil, universalisasi atau generalisasi tengah berlangsung. Dalam Natyashastra sendiri, Bharata Muni telah menekankan pada upaya komunikasi total termasuk penggunaan kata-kata serta anggota badan, gerak tubuh, dan bahasa tubuh bersama dengan konteks fisik untuk memastikan komunikasi yang terbaik.

Manusia dalam esensi karakteristiknya merupakan ‘tumpukan’ bhavas yang membentuk keberadaan dan bentuknya yang merupakan bagian dari kesadaran totalnya. Hal ini disebabkan oleh bhavas, yang selalu manusia tuju, terlibat dalam komunikasi atau proses sadharanikaran. Jika tidak ada bhavas dan manusia tidak punya keinginan untuk berbagi bhavas mereka dengan orang lain, maka tidak akan ada kebutuhan komunikasi. Para bhavas telah dikategorikan ke dalam jenis yang berbeda, seperti sthayee bhavas (permanen dominan), atau vyabhichari sanchari bhavas (bergerak atau sementara) dan satvika atau sattvaja bhavas (berasal dari pikiran, temperamental).

gb1

Gambar 1. Model Komunikasi Sadharanikaran

Abhivyanjana mengacu pada kegiatan di mana sang sumber menerjemahkan bhavas menjadi bentuk yang dapat dirasakan oleh indera. Hal ini dapat dipahami sebagai ekspresi atau pengkodean dalam bahasa istilah komunikasi dalam perspektif barat. Pedoman utama ketika pengkodean sadharanikaran adalah penyederhanaan. Dalam proses komunikasi, konsep yang kompleks dan ide-ide disederhanakan oleh pembicara (source) dengan ilustrasi dan idiom yang tepat bagi pemahaman para pendengar (penerima pesan). Pendekatan ini membuat komunikasi yang dinamis, fleksibel, instrumen praktis dan efektif hubungan sosial dan kontrol.

 

Coding dan Encoding dalam Shadaranikaran

Sanketa (kode) adalah sebuah bagian integral dari abhivyanjana. Setiap code adalah sebuah keharusan dalam termanifestasikannya bhava (emosi). Sanketa merupakan simbol yang teroganisir dalam aturan-aturan yang spesifik. Sebagai contoh, bahasa adalah sebuah sanketa. Sehingga para pengirim informasi menyederhanakan kode-kode yang ada. Agar komunikasi bisa berhasil, baik pengirim maupun penerima informasi harus memahami kode-kode yang digunakan. Abhivyanjana dapat berupa kode verbal maupun non-verbal, dan kedua kode dapat digunakan secara simultan.

Pada abhivyanjana verbal, kata-kata/bahasa digunakan sebagai kode. Proses abhivyanjana terdiri dari empat tahap. Mengacu ke konsep bahasa sebagai kode yang dipahami dalam linguistik bahasa Sansekerta dan filsafat bahasa Hindu. Di sini, ada empat tingkatan kata atau tahapan bahasa (Shabda atau Vak) yang melewati: para, pashyanti, madhyama dan akhirnya kata yang terucap atau vaikhari. Dengan kata lain, bhava dapat dirasakan secara eksternal hanya ketika datang ke tingkat vaikhari.

Vaikhari Vak adalah bentuk perwujudan kata yang dalam hal ini berada pada tingkat yang paling eksternal. Kata tersebut sering diucapkan oleh pembicara dan didengar oleh pendengar. Sebelum diucapkan, kata atau Vak berada dalam pikiran atau intelektualitas, dan disebut sebagai madhyama. Ini adalah ide, atau serangkaian kata-kata, sebagaimana dipahami oleh pikiran setelah mendengar atau sebelum berbicara keluar. Ini dapat dianggap sebagai pidato dalam diri. Selanjutnya dan tahap terdalam, menurut Bhartrihari, adalah pashyanti Vak. Pashyanti adalah Vak pada tingkat intuisi langsung, dan dapat dipahami melalui pengalaman. Di sini, manusia mendapatkan pengalaman langsung dari vakya-sphota, sebagaimana yang dikatakan Bhartrihari. Dalam Vakyapadiya dan komentar Vritti nya, istilah ‘para’ tidak digunakan untuk menunjukkan tingkat keempat dalam berbicara. Bhartrihari mengatakan berbicara dibagi menjadi tiga bagian, dan ia memperlakukan tingkat ketiga (pasyanti) sebagai akhir. Hal ini kemudian dalam tradisi bahwa nama ‘para’ muncul, mengacu pada tingkat keempat. Para Vak adalah Shabda Brahman.

Dalam kasus abhivyanjana non-verbal, komunikator memiliki berbagai macam kode alternatif. Bharata Muni menggambarkan alternatif dari abhivyanjana termasuk gerakan anggota badan, representasi melalui make up dan ekspresi temperamental yang disampaikan lewat berbagai suara. Beberapa dari mereka sepenuhnya menangani aspek non-verbal sementara yang lain terdiri beberapa bentuk tersebut. Di bawah angika abhinaya, ia telah mengarahkan sebanyak 122 jenis karma (seni pertunjukan atau abhinayas) dengan menggunakan enam Anga (tubuh) dan enam upangas (penyukung tubuh) dari tubuh manusia (Adhikary, 2007d).

Menurut Bharata Muni, setiap bhava dikaitkan dengan baik pengalaman indrawi maupun emosi estetis. Dia menganggap bhavas sebagai representasi kondisi mental. Mereka tidak datang dari luar, melainkan mereka selalu tetap dalam pikiran. Namun, mereka tidak selalu dalam keadaan yang terbangun. Mereka harus atau diaduk oleh faktor eksternal yang disebut vibhava yang merupakan stimulus atau penentu seperti lagu, burung, gambar, dll. Vibhava mungkin berupa alamvana atau uddipana. Ketika kita melihat seekor ular, spontan muncul emosi tertentu yang mana emosi tersebut disebut alamvana vibhava. Rasa takut akan meningkat karena gerakan lidah ular dan stimulus tersebut memberikan kontribusi untuk peningkatan vibhava yang disebut sebagai uddipana vibhava.

Setelah bhavas dirangsang karena vibhava, anubhava telah di sana, yaitu, semacam manifestasi yang sekilas, mengangkat mata, senyum, dll. Anubhavas bisa sesuatu yang internal atau eksternal. Bharata Muni telah mengidentifikasi tiga anubhavas internal dan delapan yang eksternal. Para bhavas perlu semacam kode untuk manifestasi mereka. Untuk ini, mereka harus melewati proses abhivyanjana.

Dengan selesainya proses abhivyanjana, bhavas bermanifestasi sebagai sandesha. Dengan kata lain, sandesha adalah sebuah pesan yang merupakan manifestasi dari bhava yang menjadi bentuk (kode) agar dapat dipahami oleh indera. Ini menjadi semacam feedback bahwa si pengirim ingin menyampaikan kepada si penerima. Ini adalah produk fisik yang sebenarnya bahwa sumber encode, dan di mana alat indera penerima dapat mendeteksi. Dengan kata lain, hal tersebut adalah ide kode yang menyampaikan makna. Hanya dengan melakukan ‘namaste’ untuk menjelaskan semua pesan filosofi ‘Adwaita Vedanta’.

Pesan dalam verbal atau non-verbal mungkin tergantung pada encoding yang dilakukan oleh pengirim. Dalam kasus Natyashastra, pesan telah dibedakan sebagai angika (gerakan anggota badan), vachika (penyampaian lisan), aharya (representasi melalui kostum, make up dan perangkat eksternal) dan sattvika (emosi dan konsentrasi), masing-masing terdiri berbagai jenis. Misalnya, angika terdiri dari tiga jenis, sedangkan vachika memiliki dua belas bentuk.

Untuk transmisi sandesha, perlu ada sarani (saluran atau media), yang merupakan sarana di mana perjalanan sandesha melintasi ruang. Pesan yang dikirim oleh sumber atau pengirim tidak dapat mencapai penerima tanpa saluran atau media. Saluran mungkin sesuai alami untuk sifat biologis manusia seperti: auditori (pendengaran), taktil (menyentuh), visual (melihat), penciuman (bau) dan rasa (mencicipi melalui pengecap di lidah) saluran. Saluran bisa berupa yang artifactual seperti lukisan, patung, surat, dll. Kedua jenis saluran secara luas dijelaskan dalam Natyashastra. Saluran mungkin berupa benda mekanik seperti telepon, radio, TV, komputer dan sebagainya. Perlu untuk mempelajari apakah teks mewarisi konsep semacam saluran mechanical.

Komunikasi perspektif Hindu tidak akan selesai kecuali kedua manas (pikiran) dan sharira (tubuh manusia) dipahami sebagai sarani. Setidaknya hal tersebut merupakan media guna mencapai proses komunikasi pada dimensi spiritual. Manas dianggap sebagai indriya keenam (organ sensorik) dalam kepercayaan Hindu dan dianggap sebagai vibhu (master) dari panca indera. Namun, vibhu bukanlah otoritas tertinggi dalam hal ini. Sang vibhu adalah atman. Melampaui dari kehidupan mental merupakan fondasi dari filosofi Hindu. Bahkan, kehidupan manusia adalah sarana, bukan akhir. Dalam kepercayaan Hindu, tubuh bukanlah kebenaran hakiki meskipun sangat penting untuk eksistensi duniawi. Tubuh hanya tempat tinggal sementara atman, dan itu adalah alat atau sarana yang digunakan oleh atman. Dengan kata lain, sharira adalah sarani (saluran) dengan menggunakan atman yang telah mencapai moksha.

Dengan penggunaan yang tepat dari berbagai saranis seperti dibahas di atas, pengirim berhasil mengirimkan pesan ke penerima. Seperti abhivyanjana sangat penting bagi pengirim sedangkan rasaswadana untuk penerima. Istilah yang digunakan di sini harus dipahami sebagai ‘istilah teknis’ yang membawa berbagai makna. Radiusnya adalah dari menerima pesan ke decoding dan menafsirkan pesan dan akhirnya ke pencapaian rasa tersebut. Hindu ortodoks menggunakan istilah ini untuk merujuk pada pengalaman rasa oleh penerima (sahridaya). Dalam kasus komunikasi manusia yang bersifat kasual, rasaswadana dikatakan berhasil jika penerima membagi pesan sebagaimana dimaksud oleh pengirim. Namun, dimensi spiritual melampaui hal tersebut.

Tidak semua komunikasi menghasilkan pencapaian rasa dalam bentuk yang ideal. Rasa adalah esensi atau kenikmatan estetika. Bharata Muni mengistilahkan hal ini sebagai rasa karena hal tersebut layak untuk dinikmati. Ada rasa unik untuk setiap bhava.[1] Menurut Bharata Muni, kombinasi vibhavas dan anubhavas bersama dengan vyabhichari bhavas akan menghasilkan rasa. Ini adalah sthayee bhava yang mengarah ke rasa. Apa yang terjadi adalah sthayee bhava dirangsang oleh vibhava di dalam pikiran dan akan meningkat dengan anubhava dan sanchari bhava, dan pikiran akan sangat menerima pengalaman rasa pada pengalaman ini.

Masalah bagaimana makna dari pesan dicapai telah banyak diperdebatkan oleh para sarjana dan filsuf. Misalnya, ada perdebatan mengenai unit makna. Beberapa melihat kata-kata sebagai unit makna dalam komunikasi verbal, dimana Bhartrihari menganggap total kalimat sebagai unit dari makna. Bahkan jika sebuah kata diambil sebagai unit makna terdapat pandangan yang beragam tentang apa jenis entitas yang ditandai oleh kata.

Empat tingkat kata dalam kasus abhivyanjana yang memiliki tingkatan yang sesuai ketika mencoba rasaswadana. Sedangkan shravana sesuai dengan vaikhari, sebagaimana manana, nididhyasana dan sakshatkara dengan madhyama, pashyanti dan para masing-masing. Tidak semua orang yang terlibat dalam komunikasi akan melalui semua tahapan dari abhivyanjana dan rasaswadana. Sadharanikaran (komunikasi) sebagai kegiatan sosial dan mental akan hanya membutuhkan vaikhari dan madhyama di bagian pengirim dan shravana dan manana di bagian penerima. Tapi, dimensi spiritual dari proses tersebut juga akan membutuhkan tingkat lanjut. Dengan kata lain, tidak semua pihak yang berkomunikasi akan mencapai rasaswadana dalam bentuk yang ideal. Sebaliknya, itu hanya dapat dialami oleh sahridayas dalam arti ideal istilah.

Bharata Muni menjelaskan sadharanikaran sebagai titik klimaks dari drama ketika penonton menjadi satu dengan aktor yang menempatkan pengalaman melalui aktingnya di atas panggung dan secara bersamaan menghidupkan kembali pengalaman yang sama. Proses ini telah digambarkan sebagai rasaswadana. Ketika sadharanikaran terjadi, berbagi atau penyatuan dari pengalaman telah berlangsung dalam bentuk yang penuh. Menurut Bhattanayak, esensi sadharanikaran adalah untuk mencapai generalisasi atau kesatuan antara orang-orang.

Dua hal yang harus dicatat di sini. Pertama, vak (kata atau ucapan) dalam kontinum para-sakshatkara diidentifikasi dengan sang Brahman. Oleh karena itu, sakshatkara adalah keadaan mengalami Diri sebagai Brahman (“Aham Brahma asmi“). Kedua, Brahman dianggap sebagai rasa tertinggi (“rasovaisah“) dan karenanya rasaswadana di dalam tujuan utamanya akan menjadi rasaswadana dari Brahman. Dalam tahap ini juga ada kesatuan Diri dan sang Brahman. Dalam kedua hal, sadharanikaran memenuhi syarat untuk menjadi sarana bagi tercapainya moksha (Adhikary, 2007c).

 

Komunikasi Sebagai Proses Mencapai Sahridayata

Tidak ada komunikasi yang benar-benar sempurna. Ada kekuatan yang berlanjut pada cara kerja, doshas atau suara, yang cenderung mendistorsi pesan dan menyebabkan miskomunikasi. Jika kita mengacu pada puisi Hindu, terdapat konsep rasa-bhanga (gangguan pada rasaswadana). Mungkin terdapat banyak penyebab untuk masalah ini. Misalnya, ketidaksesuaian arti antara pengirim (encoder) dan penerima (decoder) pesan apapun dapat terjadi. Model tersebut harus diinterpretasi dengan mencakup semua suara, yaitu semantik, mekanik, dan lingkungan.

Bhartrihari telah mempertimbangkan kemungkinan ini dalam kitab Vakyapadiya, bahwa selalu ada cara untuk mengatakan hal-hal yang bertentangan tentang apa yang ada di dalam teks dan apa yang dimaksudkan oleh si subjek komunikasi. Untuk mengurangi ketidakpastian, beberapa teks suci dibuat otentik dengan pendirian yang kuat.[2] Pertimbangan ini membawa kita pada konsep sandarbha (konteks). Efektivitas dari pesan apapun tergantung pada lingkungan komunikasi. Pesan yang sama mungkin memiliki arti yang berbeda dalam konteks yang berbeda.

Gagasan mengenai konteks dalam proses komunikasi membuat konsep komunikasi Hindu menjadi komprehensif. Pentingnya sebuah konteks dilihat dari perannya yang dapat disematkan pada sebuah pesan bahkan jika si pengirim tidak teridentifikasi oleh si penerima. Dengan kata lain, berkat peran dari konteks, makna dari pesan apapun dapat dipastikan tanpa mendeterminasi maksud sebenarnya dalam pikiran pembicara, yakni cukup hanya dengan memperhitungkan faktor-faktor kontekstualnya. Jadi karena konteks sebuah teks dapat mempertahankan ke’obyektif’an maknanya.

Meskipun kedua pengirim dan penerima pesan harus mencapai sahridayas, Bhartrihari berteori komunikasi dari sudut pandang penerima. Dia telah membahas bagaimana arti yang dimaksud dipastikan meskipun ada kemungkinan makna yang bertentangan atau divergen dari pesan yang sama. Secara singkat, sandarbha (konteks), seperti dibahas di atas, dan intuisi (pratibha), yang terbawa kepada si penerima, memastikan pemahaman yang tepat dari setiap pesan.

Pratikriya mengacu pada tanggapan dari si penerima setelah menerima pesan. Ini adalah proses umpan balik, yang memungkinkan penerima untuk memiliki peran aktif dalam proses komunikasi. Umpan balik dapat dipahami sebagai kesamaan proses langkah-demi-langkah yang dalam mengembalikan pesan yang mengikuti langkah yang sama dijelaskan di atas. Proses Sadharanikaran menuntut sahridayas menjalani jenis dinamika otomatisasi yang sama dalam mengambil peran dari si pengirim dan si penerima secara bolak-balik. Di sini, kedua pihak (sahridaya-pengirim dan sahridaya-penerima) bertindak sebagai pengirim dan penerima secara bersamaan. Dan, proses encoding dan decoding juga terjadi secara bersamaan.

Ini tidak berarti bahwa umpan balik selalu mengafirmasi. Namun, umpan balik membuat proses komunikasi terus berlangsung. Salah satu fitur unik dari model sadharanikaran adalah bahwa pemberian umpan balik tidak universal. Proses umpan balik akan ada hanya ketika dibutuhkan. Hal ini diperlukan tentu dalam bentuk komunikasi fisik atau duniawi. Dalam komunikasi, umpan balik yang memadai yang dicari. Tapi setelah mencapai keadaan nididhyasana, tidak perlu umpan balik eksternal. Dalam keadaan ini, sahridayas menjadi mampu memahami satu sama lain dan mengalami hal yang sama secara jelas. Dalam keadaan sakshatkara, mereka yang telah tersahridaya sudah dalam keadaan moksha, yang merupakan tujuan akhir dari proses sadharanikaran.

Komunikasi, sebagaimana dipahami dalam model sadharanikaran, adalah proses mencapai sahridayata, yaitu, saling pengertian, kesamaan atau kesatuan. Hanya ketika pihak berkomunikasi mencapai sahridayata, dan pihak yang berkomunikasi mengidentifikasi satu sama lain sebagai sahridaya, maka proses komunikasi telah memenuhi syarat dan dapat dianggap sebagai sadharanikaran. Di sini, komunikasi adalah perpaduan antara pihak yang berkomunikasi (sahridayas) dengan maksud untuk tidak hanya membujuk satu atau yang lain tetapi untuk menikmati proses pada saat berbagi pesan. Selanjutnya, dari diskusi di bagian sebelumnya, kesimpulan berikut ini diambil pada:

Singkatnya, poin-poin berikut menyajikan garis besar MKS:

  1. Struktur model yang non-linear. Sturktur menggabungkan gagasan dua arah dari proses komunikasi sehingga muncul saling pengertian dari pihak yang berkomunikasi. Oleh karena itu bebas dari keterbatasan model komunikasi linier.
  2. Model ini menggambarkan bagaimana komunikasi yang sukses adalah mungkin dalam masyarakat Hindu di mana hierarki kompleks kasta, bahasa, budaya dan praktik keagamaan adalah sesuatu yang lazim. Sahridayata membantu mereka untuk berkomunikasi untuk menyerap hubungan yang tidak setara berlaku di masyarakat dan proses komunikasi yang sangat difasilitasi.
  3. Keterkaitan antara pihak yang berkomunikasi adalah sangat penting di sadharanikaran. Di sini bukan melihat penyebab hubungannya tetapi hubungan itu sendiri adalah sesuatu yang signifikan. Misalnya, hubungan guru-shishya selalu dianggap sakral dalam dirinya sendiri. Dan, tidak seperti teori komunikasi Barat yang mana tidak menekankan pada dominasi oleh sang pengirim pesan. Sebaliknya, model ini melihat kedua pihak yang berkomunikasi sebagai pihak yang sama-sama penting.
  4. Model ini menunjukkan bahwa abhivyanjana (encoding) dan rasaswadana (decoding) adalah kegiatan yang paling mendasar dalam komunikasi. Dengan kata lain, mereka adalah penentu dalam sadharanikaran.
  5. Hal ini menunjukkan bahwa perspektif Hindu pada komunikasi lebih menekankan pada aktivitas internal atau intrapersonal. Misalnya, kedua proses mengandung encoding dan decoding dari empat lapisan mekanisme dalam bentuk yang ideal. Komunikasi melibatkan pengalaman lainnya yang berjarak daripada rasionalitas objektif dari organ sensorik.
  6. Dengan tersedianya sandarbha (konteks), model ini menjelaskan bagaimana makna bisa diberikan pada sebuah pesan bahkan jika si pengirim tidak teridentifikasi ke penerima. Makna dimaksudkan pesan apapun dapat dipastikan karena konteks, tanpa menentukan maksud sebenarnya dalam pikiran pembicara hanya dengan mengambil faktor-faktor kontekstual ke rekening. Jadi karena konteks teks dapat mempertahankan ‘obyektif’ artinya.
  7. Ruang lingkup komunikasi dari perspektif Hindu yang luas. Seperti yang digambarkan dalam model, komunikasi yang lebih luas cukup untuk menangani semua dari tiga dimensi kehidupan: adhibhautika (fisik atau duniawi), adhidaivika (mental) dan adhyatmika (spiritual). Dalam konteks sosial atau duniawi, komunikasi adalah proses tersebut di mana, dalam kondisi ideal, manusia mencapai sahridayata. Dalam konteks mental, komunikasi adalah proses memperoleh pengetahuan yang benar serta pengalaman bersama yang bersifat mutual dan tentunya juga memiliki aspek spiritual.
  8. Tujuan dari komunikasi yang diusulkan dalam model ini tentu untuk mencapai generalisasi atau saling pengertian. Namun, tujuan tersebut tidak akan terbatas hanya sejauh ini. Sama seperti Hindu yang selalu menekankan untuk mencapai semua chatustayas purushartha (yaitu, empat tujuan hidup: artha, kama, dharma dan moksha), model ini juga menjadikan komunikasi sebagai sesuatu yang mampu mencapai seluruh tujuan ini. Dengan demikian, model ini seirama dengan pandangan Hindu.

Sanchar, seperti yang diharapkan dalam agama Hindu, telah terbukti sebagai sarana untuk mencapai moksha. Setelah menetapkan fakta bahwa yoga mengacu pada sistem atau metode untuk pencapaian moksha dan sudah mendirikan sanchar sebagai sarana tersebut, maka tak ada alasan apapun untuk tidak melihat sanchar juga sebagai yoga. Dengan demikian, dengan jelas bahwa proses komunikasi (sanchar) dapat diterima sebagai jenis yoga asalkan proses tersebut mampu sebagai sarana pencapaian moksha. Hindu telah menetapkan moksha sebagai tahapan tertinggi dari purushartha chatustaya (empat tujuan hidup manusia) dan telah memperkenalkan jalan yang beragam, seperti halnya beragam jenis yoga, untuk pencapaian moksha, dan sancharyoga dalam hal ini merupakan tambahan.

Istilah vidya telah diartikan dalam beragam makna dalam kitab-kitab Hindu. Terkadang ia digunakan hanya untuk merujuk pengetahuan teoritis dari kitab-kitab atau meditasi pada dewa-dewa (sebagai contoh Brihardaranyaka Upanishad-4.4.10; Ishavaya Upanishad-9). Namun, dalam arti positifnya, istilah yang sama digunakan untuk merujuk pada pengetahuan yang sesungguhnya, Brahmajnana, yang mengantarkan pada keabadian (Kena Upanishad-2.4). Kebalikan vidya yakni avidya, di mana pengetahuan mengenai dunia dan keduniawian. Pencapaian spiritualitas dan moksha adalah perhatian utama dari vidya.

Di dalam Hindu Ortodoks, martabat dari berbagai disiplin pengetahuan akan menjadi tinggi hanya jika hal tersebut berkualifikasi sebagai sebuah vidya (pengetahuan sejati). Hal ini berimplikasi bahwa setiap disiplin dari pengetahuan harus merupakan sebuah disiplin (shastra) tentang moksha pada puncaknya. Oleh sebab itu, ilmu komunikasi juga harus menjadikan pencapaian moksha sebagai tujuan utamanya agar sanchar-shastra bisa tergabung dalam Hindu Ortodoks. Dengan kata lain, ilmu komunikasi akan dianggap sebagai sebuah pengetahuan sejati (vidya) di dalam lingkungan Hindu jika, dan hanya jika, proses dari komunikasi memenuhi syarat untuk mencapai moksha.

Hal ini telah didiskusikan, dengan mengacu pada model sadharanikaran, komunikasi tersebut dapat menjadi tujuan dalam mencapai moksha. Dengan kata lain, komunikasi, sebagaimana yang diharapkan dalam Hinduisme, memiliki kemampuan tidak hanya sebagai sebuah proses sadharanikaran dalam kehidupan duniawi namun juga mampu dalam mencapai moksha di dalam kehidupan. Sebagai tambahan, hal tersebut telah dibentuk bahwa proses komunikasi (sanchar) dapat diterima sebagai sebuah jenis yoga. Hal ini telah memberikan dasar yang cukup untuk disiplin komunikasi agar dapat memenuhi syarat untuk dianggap sebagai vidya di dalam Hindu ortodoks.

Pendekatan komunikasi sebagai sebuah vidya tidak berimplikasi pada terbuangnya aspek avidya. Seperti yang dikatakan di atas, bentuk komunikasi Hindu berhubungan dengan semua dimensi kehidupan seperti adhibhautika (fisik atau fana), adhidaivika (mental) dan adhyatmika (spritual). Sedangkan disiplin komunikasi merupakan avidya di wilayah fisik dan mental, ia menjadi semacam vidya dengan menggabungkan gagasan dari sancharyoga. Ko-eksistensi dari aspek vidya dan avidya dalam disiplin komunikasi (sancharshastra) tidak mengundang berbagai situasi yang kontradiktif atau problematis; melainkan menaikkan signifikansi disiplin Hindu ortodoks. Karena seseorang yang mengetahui vidya dan avidya secara bersamaan mendapatkan keabadian lewat vidya dengan melewati kematian melalui avidya. (“Vidyamchavidyam cha yastadveda ubhayam saha, Avidyaya mrityum tirtva vidyayaamritamashunte”—Ishavasya Upanishad-11.)

Ada ruang untuk menggeneralisasikan konsep dan konstruk sahridayata dalam studi yang lebih luas dalam filsafat Hindu. Lebih jauh lagi, dengan membayangkan nilai positif dari sahridayata, teori sadharanikaran dan MKS memiliki ruang untuk digeneralisasikan dalam konteks global. Akar MKS yang berada dalam budaya Hindu tidak membatasi ruang lingkup untuk penguniversalisasian modelnya. Bahkan, ruang lingkup model komunikasi Hindu, seperti MKS, dalam mempromosikan perdamaian dan resolusi konflik harus dipahami dan digunakan secara tepat.

 

Kesimpulan

Bharata Natyashastra dan Bhartrihari Vakyapadiya merupakan sumber utama dalam teori dan praktek komunikasi Hindu. Sebagian besar konsep seperti sadharanikaran, sahridayata, rasaswadana, sakshatkara, dan lain-lain adalah konsep-konsep formal yang secara tegas didirikan pada puisi, estetika dan linguistik bahasa Sansekerta serta disiplin lain dari sistem filosofi pengetahuan agama Hindu.

Sadharanikaran sebagai konsep/teori tidak harus dibingungkan dengan Model Komunikasi Sadharanikaran (MKS). Sadharanikaran sebagai konsep/teori, yang merupakan salah satu teori yang signifikan dalam puisi sansekerta dan disiplin lainnya, memiliki akarnya pada kitab Natyashastra karangan Baratha Muni dan diidentifikasi dengan Bhattanayaka. Padahal, MKS mengacu pada model komunikasi, yang mengacu pada konsep klasik/teori sadharanikaran yang bersama dengan sumber daya lainnya dalam rangka untuk memvisualisasikan (teori) komunikasi dalam perspektif Hindu.

Asumsi meta-teoritis dari model ini bisa kita telusuri dalam Vedanta. Cara Hindu berkomunikasi tentu menekankan pada aktivitas internal atau intrapersonal. Hal ini dipahami bahwa abhivyanjana dan rasaswadana adalah kegiatan mendasar dalam komunikasi, dan dalam komunikasi kehidupan Hindu melibatkan pengalaman lainnya yang berjarak dari rasionalitas objektif dari organ sensorik. Kecenderungan ini memfasilitasi konsep sahridayata serta yang lainnya yang akan diwujudkan secara praktis.

*) Dosen Undiksa

 

Daftar Pustaka

 

Adhikary, Nirmala Mani. 2006. Understanding Mass Media Research; prashanti Pustak Bhandar, Ktm.

Adhikary, N. M. 2008. The Sadharanikaran Model and Aristotle?s Model of Communication: A Comparative Study. Bodhi: An Interdisciplinary Journal (volume 1 and 3 Bodhi)

Adhikary, N. M. 2010. Sancharyoga: Approaching Communication as a Vidya in Hindu Orthodoxy. China Media Research

Agus M. Hardjana. 2003. Komunikasi  Intrapersonal & Interpersonal. Yogyakarta: Kanisius.

Barnlund, D. 1968. Interpersonal Communication  Survey and Study. Boston-USA: Houghton Mifflin

Daryanto. 2011. Ilmu Komunikasi. Bandung: PT Sarana Tutorial  Nurani Sejahtera.

DeVito, J. 1997. Komunikasi Antarmanusia. Terjemahan Agus Maulana. Jakarta: Profesional Books

Pillai, K. Raghavan. 1971. The Vakyapadiya. Delhi: Motilal Banarsidass.

Rakhmat,  J. 2001. Psikologi Komunikasi. Edisi Revisi.  Bandung: PT Remaja Rosda Karya

————-  1989. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung:  Remajakarya

[1] Bharata Muni menjelaskan delapan rasa: Sringara (erotis), Hasya (humor), Karuna (Kesedihan), Raudra (kemarahan), Vira (heroik), Bhanyanaka (luar biasa) Bibhatsa (jijik) dan Adbhuta (misteri)

[2] Sarvo ‘drista-phalan arthan agamat pratipadayate viparitam cha sarvatra sakyate vaktum agame tasmad agamam kincht pramani-kritya vyavasthite tasmin ya kachid upapattir pramani-kritya vyavasthite tasmin ya kachid upapattir uchyamana pratipattav upodbalaktvam labhate. “telah diketehaui bersama bahwa efek yang tak terlihat akan didapat dengan melantunkan sesuatu dari teks suci. Namun selalu mungkin untuk mengatakan sesuatu yang bertentangan mengenai apa yang ada pada teks dan apa artinya. Dengan demikian, beberapa teks dibuat otentik dengan pendirian yang kuat. Di sana, menurut berbagai macam pemikiran dapat mendeterminasi agar menjadi sesuai”.