stahdnj.ac.id

STAH Dharma Nusantara Jakarta
Subscribe

Menumbuhkan Karakter Mahasiswa Hindu

August 12, 2011 By: admin Category: Artikel Pendidikan

Oleh: Dewa K. Suratnaya*

Kampus PERTI (Perguruan Tinggi) Hindu bukanlah menara gading yang mengungkung berbagai pemikiran kritis dan revolusioner tentang Hindu. Sejatinya ia adalah menara suar, di mana kita belajar berbagai konsep teoritis kehinduan serta pencarian solusi secara empiris kasus-kasus yang dihadapi umat Hindu di lapangan. Idealnya, kampus PERTI Hindu adalah tempat pencetak generasi Hindu yang berkarakter, berdaya saing serta menghayati tri kaya yang harusnya selalu di parisudha; bukan malah mencetak robot-robot egois yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri, hanya ber hindu sendirian, tanpa peduli terhadap umat Hindu lain yang kondisinya memprihatinkan. Sehingga sangat disayangkan seandainya kemudian kampus PERTI Hindu dijadikan ajang perebutan untuk kekuasaan dan uang.

Wayan Agus & Agus Widodo Latihan Cipta Lagu Rohani Kontemporer

Wayan Agus & Agus Widodo Latihan Cipta Lagu Rohani Hindu Kontemporer

Para mahasiswa jangan memerangkap diri sendiri, dengan berpikir bahwa seusai pendidikan harus secepatnya mengejar status pegawai negeri, menjadi guru agama atau pegawai di kantor Kementrian Agama; karena terjamin di hari tua dengan adanya pensiun seumur hidup. Kalau ini yang terjadi maka suatu saat ketika seluruh peluang sudah penuh dan tertutup, maka seluruh PERTI Hindu pun akan sepi peminat dan bangkrut. Sesungguhnya pemikiran yang sempit ini hanya mencerminkan betapa tidak berimbangnya kemampuan otak kiri dan otak kanan para mahasiswa Hindu, yang menganggap bahwa alumni mahasiswa Hindu tidak bisa “mencari makan” di ranah lainnya. Ketidakseimbangan otak kiri dan otak kanan inilah yang sedang menjangkiti para pemimpin negeri ini, sehingga yang tumbuh subur hanyalah ego, bukan kebijaksanaan. Begitu bangun pagi, yang dipikirkan hanyalah bagaimana hari ini bisa mencuri uang Negara.

Tentu memilih karir adalah hak asasi masing-masing, tetapi juga akan lebih bijak, kalau tidak semata-mata mengharapkan sesuatu yang juga diharapkan ribuan kandidat lainnya. Boleh-boleh saja berkompetisi, tetapi juga harus siap untuk tersisih. Apalagi kalau harapan itu kini sudah menjadi komoditas yang diperjual belikan. Berinvestasi dengan menyuap aparat agar bisa mencapai tujuan adalah investasi yang berlandaskan keserakahan, dan return on investment nya juga penuh dengan warna keserakahan, yang apabila dinikmati hanya mencetak manusia-manusia yang juga serakah. Harus dipahami bahwa kampus tidak hanya ajang untuk menguasai dan memilik hard skill dalam wujud kemampuan memanfaatkan ajaran-ajaran dharma untuk mengabdikan diri kepada umat (dharma agama), tetapi juga untuk memupuk soft skill atau life skill untuk bekal hidup tanpa harus menjual diri secara murahan, namun tetap dapat melaksanakan dharma agama. Khusus tentang soft skill atau life skill ini tergantung kebijakan dan pintar-pintarnya otoritas kampus dengan programnya.

(more…)