stahdnj.ac.id

STAH Dharma Nusantara Jakarta
Subscribe

APLIKASI CATUR PURUSA ARTHA, MENGHADAPI HIMPITAN KEHIDUPAN YANG BERAT PADA ERA GLOBALISASI (SEBUAH TINJAUAN POLITIK & KEPEMIMPINAN HINDU)

March 13, 2014 By: admin Category: Kepemimpinan

Oleh : A. A. Gede Raka Mas*

Abstract

To know and understanding “Catur Purusa Artha”, as one concept of the Hindu’s teaching is very important. But, the most important is how to do in daily life. Fenomena that develop in our country today, are the raising of corruption, robbery, fighting between people of our village, and other amoral behaviors. Today, we know the condition is contrast from that teaching. We have to know, why this condition happened, and what’s the problem. Knowing the problems, I thing could find the solution, and hoping that solution can minimizing the moral degradation. The conclution we have to apply the Catur Purusa Artha in good action.

Keyword : Catur Purusa Artha, and the application.

A. Pendahuluan

Peneliti sangat tertarik dengan judul diatas. Setelah merenung cukup lama, membandingkan kehidupan peneliti ketika masih berumur 10 tahun di sebuah desa yang sangat tenang, aman dan sejahtera, sekitar tahun 50 (lima puluhan). Hari ini peneliti berumur 70 th, kondisi desa yang peneliti tinggalkan puluhan tahun yang lalu, wajahnya sudah sangat berbeda. Terjadi perubahan yang sangat signifikan, jika dibandingkan dengan kehidupan modern dewasa ini, sebagai suatu akibat dari pengaruh era globalisasi. Berdasarkan dengan fenomena masyarakat dewasa ini, yang tidak henti-hentinya diterpa oleh kejadian-kejadian yang memalukan, seperti terjadinya perbuatan amoral sebagai tanda adanya degradasi moral dan runtuhnya kemuliaan manusia, yaitu demikian maraknya perampokan, pencurian, pemerkosaan, tindakan kekerasan, bahkan terjadinya pembunuhan yang sangat sadis, demikian pula terjadinya penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang oleh oknum pejabat, menimbulkan motivasi yang sangat kuat bagi peneliti untuk mencari solusi dari permasalahan itu. Untuk mempersempit atau menyederhanakan objek penelitian ini, maka peneliti mengambil sebuah ajaran yang sangat populer di Bali (lebih-lebih di desa penulis) yaitu di desa Mas, Ubud, Gianyar, Bali.Ajaran itu adalah “Catur Purusa Artha”.Ajaran ini lebih terkenal di Bali, melalui produk sastra “Sekar Agung” yang berjudul “Prihen Temen”.

(more…)

UPAYA PENINGKATAN MAKNA NORMA HINDU DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT DAN BERBANGSA

March 21, 2013 By: admin Category: Uncategorized

Oleh : I Ketut Oka Setiawan

Di dalam masyarakat, setiap anggotanya mempunyai kepentingan masing-masing. Kadang-kadang kepentingan mereka ada yang memiliki kesamaan, ada pula yang memiliki perbedaan. Terhadap yang disebut belakangan itu dalam banyak peristiwa kerap kali menimbulkan pertentangan atau perselisihan. Untuk menghindari terjadinya pertentangan yang seringkali berakhir dengan kekacauan itu, maka masyarakat memerlukan adanya suatu tatanan (orde / ordnung ), yaitu berupa aturan-aturan yang menjadi pedoman atau bimbingan bagi segala tingkah laku manusia dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Dengan adanya aturan-aturan tersebut setiap anggota masyarakat diharapkan dapat melaksanakan kepentingan yang berbeda itu secara tenteram dan damai.

(more…)

Sinergi Peran Catur Guru, Menuju Learning Outcome Pendidikan Agama Yang Benar

January 30, 2013 By: admin Category: Artikel Pendidikan

Oleh K. Ulianta

Menurunnya etika, moral, dan sensitifitas individu dan masyarakat sebagai akibat dari terjadinya verbalisme dalam pendidikan etika dan tata nilai yang cenderung mendewakan satu aspek saja dari tiga aspek yang menjadi learning outcome pendidikan yang seharusnya, baik di sisi proses maupun penilaian.

Masalah ini meluas dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan perilaku dalam berbagai segi kehidupan yang dilakukan, masyarakat, baik yang tergolong rakyat dengan perilakunya yang tidak disiplin dan memudarnya toleransi dan budaya saling menghormati yang berimpas kepada terjadinya kerusuhan maupun upaya-upaya destruktif lainya. Juga dilakukan oleh pejabat dalam bentuk korupsi serta pembodohan yang secara disengaja. Serta tidak disiplin melakukan tugas sesuai sumpah jabatannya.

Masalah tersebut sebagai akibat menurunnya internalisasi tata nilai dalam diri insan elemen masyarakat sebagai akibat semakin tingginya tingkat verbalisme pendidikan dimana hasil – hasil belajar hanya sebatas konsep dan teori yang dihapal tanpa dipraktekan, diaplikasikan. Pembiasaan menerapkan nilai-nilai yang luhur sebagai aspek afektif dari hasil belajar dalam pendidikan kita jarang dilakukan, jarang dikontrol dan kurang menjadi perhatian dalam evaluasi pembelajaran di sekolah yang hanya mementingkan nilai angka kuantitaif yang semestinya dikombinasi dengan nilai kualitatif. Disamping itu peran orang tua juga menurun tingkat partisipasinya untuk menanamkan nilai-nilai dasar dalam pendidikan pertama dan utama, karena terpenjara oleh waktunya yang sebagian besar dihabiskan untuk mengejar kebutuhan hidup yang harus ada sebagai tuntutan kebutuhan keluarga.

Diperlukan kesadaran yang lebih terhadap penerapan konsep bahwa hasil belajar terdiri dari aspek kognitif, afektif dan psikomotor sesuai dengan pendapat Bloom, dimana semua aspek tersebut hendaknya dilatih, dibiasakan dan diperhatikan secara seimbang dalam pendidikan kita baik dalam proses pembelajarannya maupun dalam penilaiannya. Dalam proses pembelajaran, bagaimana bentuk pembelajaran maupun tugas serta kegiatan siswa diarahkan untuk dapat aktif mempraktekkan serta memahami konsep untuk pemecahan masalah dalam hidup maupun berinteraksi dengan lingkungan. Disisi penilaian hendaknya jangan terlalu mendewakan aspek kognitif, yang sangat penting justru bagaimana pengetahuan/kognitif yang telah dimiliki itu digunakannya dan diterapkannya dalam memecahkan persoalan serta berperilaku sesuai dengan tata nilai sehingga nilai-nilai yang dipahami dan dipelajari melalui konsep dapat menginternalisasi dalam dirinya yang akan digunakan untuk hidup dimasyarakat yang akan sangat menentukan kesuksesan hidup seseorang. Gadner dalam kecerdasan majemuk mengungkapkan 8 kecerdasan yang dimiliki individu. Kecerdasan tersebut membutuhkan peran pendidikan dalam pengembangannya. Tidak hanya kecerdasan logika-matematika, tapi banyak yang lainnya. Bagaimana individu berkomunikasi antar sesama melalui kecerdasasan linguistik, bagaimana berinteraksi dengan orang lain sesuai dengan tata nilai melalui kecerdasan interpersonal, bagaimana individu itu bertanggung jawab terhadap diri sendiri, bekerja mandiri melalui kecerdasan intrapersonal, bagaimana individu itu memahami ruang dan waktu melalui kecerdasan spasial, bagaimana individu menghargai dan mempraktekan seni, musik melalui kecerdasan musikal, melalui kecerdasan kinestetik individu memanfaatkan indera gerak dan psikomotoriknya serta melalui kecerdasan naturalis manusia menghargai dan memelihara alam. Demikian luasnya yang perlu diperhatikan dan dikembangkan sehingga sudah seharusnya kita tidak hanya menuntut peran guru disekolah saja tetapi semua guru harus berperan baik guru di masyarakat, guru disekolah, guru dirumah maupun pemerintah dan tidak saling lempar tanggung jawab.

Hindu sebagai Sanatana Dharma telah mengajarkan konsep tersebut melalui ajaran Catur Guru yang seharusnya menjadi contoh, menanamkan nilai-nilai, memberikan pemahaman konsep-konsep yang diperlukan kepada anak didik yang belum dewasa sehingga dapat dijadikan pegangan dalam hidupnya menuju kedewasaan. Catur Guru yang dimaksud dalam Hindu adalah empat guru yang akan menuntundan menjadi contoh bagi manusia/insani:

1. Guru Rupaka adalah Orang tua kita di rumah. Orang tua adalah orang yang harus berperan menanamkan nilai-nilai yang pertama dan utama sejak anak baru dilahirkan hingga dia menjadi dewasa. Orang tua hendaknya jangan melempar seluruhnya tanggung jawabnya kepada guru di sekolah. Karena nilai-nilai yang ditanamkan di rumah menjadi bekal untuk dibawa keluar rumah dalam berinteraksi dengan orang lain di masyarakat. Bagaimana berhadapan dengan orang yang lebih tua, bagaiman sopan santun, bagaimana bertutur kata yang benar dan baik. Kini dapat dirasakan nilai-nilai seperti ini jarang sekali menjadi perhatian orang tua terutama di kota besar, karena orang tua masing-masing terpenjara karena mengejar material untuk kebutuhan hidup. Dalam hal ini diperlukan mendisain ulang pengelolaan waktunya untuk si anak. Anak membutuhkan perhatian dan petunjuk dari orang tua yang mana boleh dan tidak boleh. Yang mana yang benar dan tidak benar…. Juga sangat diperlukan nasehat-nasehat, pitutur dan pengertian-pengertian yang minim sekali diperolehnya dari guru lain selain guru rupaka. Peran Guru rupaka/orang tua di rumah seingat penulis saat masih kecil sering dilakukan dengan metode dongeng, cerita-cerita yang mengandung petuah dan nilai-nilai luhur sehingga cenderung diminati oleh seorang anak yang belum dewasa, yang mana metode dongeng ini jarang sekali dipraktekan oleh orang tua sekarang ini. Melalui cerita, anak mendapatkan nilai-nilai kebenaran, pengetahuan dan perbendaharan kata, contoh-contoh kebajikan (Dharma) yang harus dijunjung tinggi, nilai kejujuran, toleransi, kerjasama, tolong menolong dan masih banyak lagi. Orang tua sudah seharusnya tidak lagi menyalahkan guru disekolah tetapi mengevaluasi kembali dan mengambil peran masing-masing sebagai salah satu Catur Sinangguh Guru, yang harus menjadi contoh, memotivasi dan mendorong sesuai apa yang di ungkapkan oleh ki Hajar Dewantara yaitu Ing Ngarso Sung tulodo, Ing Madyo Mangun Karso dan Tut Wudi Handayani.

2. Guru Pengajian

Guru di sekolah, hendaknya jangan hanya mengajar tetapi juga mendidik seperti mengarahkan anak didik untuk bisa bersopan santun dalam bertindak dan menghadapi orang lain di masyarakat, memberi contoh perilaku yang baik. Tugas guru memang mengajarkan ilmu pengetahuan tetapi harus dihindari pembelajaran yang hanya sekedar tahu konsep tetapi dapat memanfaatkan konsep tersebut untuk hidup di masyarakat. Demikian juga evaluasi terhadap padatnya kurikulum dan cara penilaian yang cenderung didominasi oleh pengetahuan kognitif yang harus dikejar dan dihabiskan dalam proses pembelajaran karena akan diujikan melalui alat uji yang juga cenderung di dominasi oleh penilaian terhadap aspek kognitif perlu di kaji kembali, agar tersedia waktu yang lebih untuk mempraktekkan serta menginternalisasi konsep dan tata nilai yang dipelajari menjadi kompetensi pribadi yang utuh dalam diri anak didik. Tidak terkesan mengejar materi agar habis tetapi nyatanya anak tidak memiliki kompetensi apapun. Sehingga timbulah kemampuan-kemampuan semu dimana anak hanya bisa saat akan di tes atau ujian tetapi setelahnya tidak mampu apa-apa. Untuk ini guru disekolah juga mesti memulai menggunakan penilaian yang sesuai dengan / valid mengukur apa yang seharusnya diukur. Tidak selalu menggunakan tes dalam menilai siswa. Instrumen penilaian hendaknya memiliki validitas yang tinggi relevan dengan aspek apakah yang ingin diketahui dari instrument tersebut. Jika aspek kognitif yang akan dinilai memang relevan dengan menggunakan Tes tertulis, tetapi ketika hendak menilai aspek afektif lebih relevan menggunakan instrument nontes semisal skala sikap atau pun kuesioner maupun unjuk kerja. Demikian juga untuk menilai aspek psikomotor/keterampilan anak didik lebih valid menggunakan observasi terhadap tugas yang diberikan dan anak didik haruslah melakukan sesuatu dan kita amati dengan menggunakan pedoman pengamatan/rubrik yang sudah dirancang mengenai dimensi/aspek apa yang akan kita nilai sehingga unsur subyektif dapat kita minimalisir dalam penilaian. Sudah saatnya kita mulai mengadakan evaluasi tidak hanya diakhir pembelajaran tetapi juga saat proses pembelajarn berlangsung, dan instrumen yang kita gunakan tidak melulu tes tertulis, tetapi kita sesuaikan dengan aspek tadi ibarat kalau menimbang emas janganlah menggunakan timbangan beras karena hasilnya nanti bias tidak benar/semu. Terlebih lagi dalam pembelajaran Agama yang notebena learning outcome didominasi oleh aspek afektif dan psikomotor seyogyanya penilaiannya juga lebih banyak penilaian sikap dan psikomotor adapun kognitif serta konsep-konsep yang digunakan untuk mendukung dua aspek tersebut, dengan demikian akan tercapai tujuan pembelajaran agama yang sebenarnya.

3. Guru Wisesa

Pemerintah adalah termasuk salah satu dari catur guru, hendaknya perilaku, perkataannya dan pemikirannya menjadi contoh bagi rakyat. Hendaknya tidak melakukan tidakkan tidak terpuji seperti korupsi, bohong, membodohi, janji-janji yang muluk, tetapi sebaliknya harus mengarahkan masyarakat atau rakyat ke hal – hal yang positif. Janganlah berebut kekuasaan hanya untuk kepentingan pribadi. Guru wisesa harus mengutamakan kepentingan rakyat bukan kepentingan pribadi jika ingin berhasil menjadi guru wisesa. Ingatlah guru akan ditiru muridnya, pemerintah akan ditiru rakyatnya, rakyat meniru melanggar manakalah pemerintah sebagai guru wisesa tidak konsisten dan juga melanggar sumpah dan janjinya dalam menjalankan roda pemerintahan. Guru wisesa/pemerintah harus ingat bahwa dirinya adalah guru, yang memiliki tanggung jawab yang besar di depan menjadi teladan, ditengah memberikan motivasi dan dibelakang harus mampu mendorong dan menggerakan rakyat untuk melakukan tindakan positif. Pemerintah juga tidak boleh diskriminasi terhadap kelompok-kelompok tetapi harus adil dalam memberikan perlindungan terhadap rakyat sebagai anak didiknya dalam segala bidang baik bidang pendidikan, ekonomi, agama, pelayanan, kesehatan dan lainnya. Pemerintah mendidik masyarakat melalui aturan-aturan kebijakan maupun penghargaan-penghargaan untuk memberikan motivasi serta hukuman-hukuman agar hal yang dilarang tidak dilakukan. Hukuman hendaknya yang mendidik demikian juga penghargaan yang diberikan juga mendidik. Arahan-arahan kepada masyarakat juga digunakan melalalui pidato, diskusi, konferensi pers hendaknya digunakan untuk yang positif dan kepentingan anak didik/masyarakat dan bukan untuk pribadi.

4. Guru Swadyaya

Tuhan Yang Maha Esa/Sang Hyang Widhi adalah maha Guru yang memberikan tuntunan hidup manusia melalui ajaran-ajaran sucinya yang diturunkan melalui wahyu yang diterima oleh para maha Rsi/orang suci. Melalui keyakinan yang tinggi melaksanakan segala tuntunan dan menghindari semua yang tidak diperkenankan akan membawa manusia kealam pembebasan. Sradha dan Bhakti melahirkan kekuatan untuk mempelajari ajarannya, terinternalisasi dalam diri pribadi dan tercermin dalam perwujudan perilaku yang baik, jujur, kasih, sayang, tolong menolong, toleransi, tidak menghina, menghargai, menghormati, tidak menyakiti, menjauhi kekerasan atas alasan apapun, menjaga ciptaanNya.

Sinergi peran catur guru menuju pendidikan agama yang menghasilkan pribadi-pribadi yang tidak hanya hapal konsep-konsep, pintar kognitif, tetapi harus mampu mewujudkan dalam perilakunya dan pikirannya tentang tata nilai universal yang telah menginternalisasi dalam dirinya dan melandasi perilakunya dalam hidup bersama dan berguna bagi masyarakat manusia, alam dan seluruh ciptaanNya sehingga tercapai kedamaian di segala alam.

June 17, 2012 By: admin Category: Berita/News

SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU

DHARMA NUSANTARA JAKARTA

om2

Om Swastyastu

REINTERPRETASI ARCHA DALAM PEMUJAAN AGAMA HINDU

August 17, 2011 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh Halfian*

A. Kasus

Sering sekali kita mendengar mengenai Archa atau pratima yang merupakan hal yang biasa dalam kegiatan keagamaan Hindu, terutama dalam upacara pujawali, melasti dan abhisekha atau pasupati (melaspas). Dalam khazanah ritual, agama Hindu memiliki keistimewaan tersendiri bila dibandingkan dengan agama lainnya terutama agama barat. Agama Hindu bila dilihat secara kasat mata maka pandangan yang akan diterima sangatlah rumit dan irrasional. Mengapa hal ini terjadi? Dikarenakan kita tidak mengetahui makna dibalik kegiatan agama Hindu tersebut. Sangat banyak tidak hanya opini dari agama non-Hindu namun juga umat Hindu sendiri yang banyak terjebak pada pemahaman secara agama sastra atau sabda suci. Hal ini wajar terjadi, bisa dikarenakan kurangnya pendistribusian buku agama, hegemoni agama, penyuluhan dan pembinaaan yang kurang atau bahkan karena guru agama atau tokoh agama yang berkecimpung di dalam permasalahan agama tidak` memahaminya. Sehingga memiliki makna yang tidak jelas atau nisbi mengenai hal tersebut.

Atau dikarenakan hegemoni agama, dikarenakan sebagai minoritas maka kita mengikuti bahkan menyamakan konsep yang ada sehingga menghilangkan sesuatu yang ada di agama kita. Semua agama berbeda dan mata dunia melihat dengan berbagai perspektif baik secara holistik, parsial maupun abstrak. Dalam kasus ini penulis ingin mengangkat sebuah kasus yang selalu ditemukan dimana saja ketika kita pergi ke sebuah pura atau mandir juga kuil suci Hindu. Ada banyak perspektif atau sudut pandang yang diterima oleh banyak umat Hindu saat ini. Penulis ingin membahas mengenai Archa yang merupakan sesuatu yang terpenting dalam pemujaan dalam agama Hindu karena berkaitan dengan keyakinan dan penghayatan beragama.

(more…)

TEMU KARYA ILMIAH DAN LOMBA KETRAMPILAN AKADEMIK PERGURUAN TINGGI HINDU SELURUH INDONESIA 2001

July 25, 2011 By: admin Category: Berita/News

Perhelatan bergengsi perebutan piala bergilir dan adu kemampuan bagi putra-putri mahasiswa-mahasiswi Hindu seluruh Indonesia berlangsung di RedTop Hotel Jakarta. Acara pembukaan diselenggarakan pada tanggal 18 Juli 2011, malam yang dibuka Menteri Agama yang diwakili oleh Sekjen. Acara Pembukaan berlangsung semarak menampilkan beberapa tari-tarian dari berbagai daerah di Indonesia yang dibawakan oleh mahasiswa-mahasiswi Hindu.

269991_1443680949402_1754488954_660834_1847332_n

Tari Bali diiringi tetabuhan gambelan bali secara lengkap. Acara pembukaan ditutup dengan tampilnya bondres oleh mahasiswa Unhi denpasar.

Sebagai upaya meningkatkan dan mewujudkan kualitas lulusan Temu Karya Ilmiah dan Lomba Ketrampilan Akademik ini diselenggarakan guna memotivasi daya kreasi dan daya inovasi bagi dosen dan mahasiswa agar senantiasa mengembangkan ide-ide kreatif, inovatif berpikir sistematik dan holistik untuk meningkatkan diri sehingga menjadi insan-insan yang memiliki Sradha, bhakti dan berilmu serta berpengetahuan yang tinggi.

Ketua Umum Panitia

Ketua Umum Panitia

Perhelatan Nasional yang melibatkan kurang lebih 700 an personil baik peserta, juri, panitia dan para tokoh yang diundang cukup menarik dan sekaligus tantangan bagi panitia penyelenggara yang dalam hal ini dipercayakan kepada STAH Dharma Nusantara Jakarta sebagai Organising Comitte. Ketua Umum Panitia Dr. Nyoman Yoga segara optimis bahwa penyelenggarakan ini sukses.

Bidang bidang lomba yang diselenggarakan dalam Temu Karya Ilmiah dan Lomba Keterampilan Akademik Perguruan Tinggi Kali ini antara lain : Presentasi Hasil Penelitian; Penulisan Karya Tulis Ilmiah; Penulisan Naskah Mimbar; Dharma Wacana; Lomba Pembacaan Sloka; Lomba Oembacaan Phalawakya; Lomba Cipta Lagu Rohani Hindu Kontemporer; Lomba Tari Kreasi Keagamaan Hindu; Lomba Kaligrafi Huruf Dewanagara Bahasa Sansekerta; Menghafal sloka terbanyak; Lomba Seni Lukis Keagamaan Hindu; Lomba Yoga Asanas yang diikuti oleh seluruh Perguruan tinggi Hindu se Indonesia antara lain : IHDN Denpasar, UNHI Denpasar, STAHN Gde Pudja Mataram, STAHN Tampung Penyang Palangkaraya, STAH Dharma Nusantara Jakarta, STHD Klaten Jawa tengah, STAH Lampung, STKIP Agama Hindu Singaraja, STKIP Agama Hindu Amlapura Karangasem, UNIMA Manado, STAH Dharma Sentana Palu.

Dewan juri kali ini terdiri dari Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama dan Unsur Pakar/Profesional.

Disela-sela acara juga dimeriahkan dengan Sarasahan Nasional dengan menghadirkan Narasumber Direktur Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional, yang mengetengahkan tema Menumbuhkan Karakter Mahasiswa.

Penutupan acara dimeriahkan dengan penampilan para Juara bidang Tari Kreasi keagamaan Hindu dari Unhi Denpasar, Juara Bidang Yoga Asanas dari STAHN Gde Puja Mataram, dan Juara Bidang lomba Naskah Cipta Lagu Rohani Hindu Kontemporer dari STAH Dharma Nusantara Jakarta. Acara penutupan disemarakan pula oleh penampika Bondres yang penuh Humor dan sarat akan pesan-pesan moral dan keagamaan oleh Unhi Denpasar.

Acara ini ditutup oleh Dirjen Bimmas Hindu Prof. Dr. IB Gde Yudha Triguna, MS. Dalam sambutannya dikatakan bahwa penyelenggaraan Temu Karya Ilmiah dan Lomba Keterampilan Akademik Perguruan Tinggi Hindu sudah lebih meningkat menuju yang lebih baik.

STRATEGI PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN PERGURUAN TINGGI HINDU

April 12, 2011 By: admin Category: Artikel, Artikel Keagamaan, Artikel Pendidikan, Berita/News, Dharma Wacana, Kewirausahaan, Penelitian, Pengumuman, Renungan, Uncategorized

Generic Viagra cheap viagra online without prescription

Oleh Prof.  DR. I Made Titib*

Membangun pendidikan, lebih-lebih pendidikan tinggi, menurut Imam Suprayogo (13 Desember 2008) hakekatnya sama dengan berbicara tentang membangun peradaban bangsa. Pendidikan tinggi mengemban misi sebagai transformasi sosial, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan juga seharusnya termasuk membangun watak serta karakter bangsa. Atas dasar misi yang diemban itu, perguruan tinggi semestinya berada pada puncak tertinggi strata kehidupan masyarakat. Temuan-temuan hasil penelitian oleh para guru besar perguruan tinggi dimanfaatkan sebagai arah dan kekuatan pengubah masyarakat sesuai dengan perubahan zamannya. Jargon yang mengatakan bahwa pendidikan harus untuk semua, memang benar. Akan tetapi semestinya bukan pendidikan pada tingkat perguruan tinggi. Perguruan tinggi hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang memenuhi persyaratan yang cukup dan bagi orang-orang yang mencintai ilmu pengetahuan. Pendidikan tinggi memang bersifat elitis, dan karena itu selalu membutuhkan biaya mahal.
Demikian pula sejalan dengan pemikiran di atas, Pendidikan Tinggi Agama Hindu (Perti Hindu) pada hakekatnya juga membangun peradaban bangsa, oleh karena itu, kritik, sarana dan perbaikan pendidikan menjadi tanggung jawab bangsa Indonesia, khususnya umat Hindu. Tulisan singkat ini dimaksudkan untuk memberi gambaran bagaimana seharusnya strategi mengelola Perti Hindu. Namun harus dipahami, kenyataan di lapangan sangat jauh dengan yang diharapkan. Kondisi empirik menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan tinggi Hindu kurang mendapat perhatian yang sungguh-sungguh utamanya dari para tokoh-tokoh Hindu, sehingga kondisi ideal tersebut, terkadang hanya menjadi harapan semata.

Pendidikan Menurut Kitab Suci Veda

Di dalam ajaran Agama Hindu, baik kitab suci Veda maupun susastra lainnya dikenal adanya tiga lingkungan pendidikan, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Sekolah-sekolah pada jaman Veda disebut sakha atau patasala dan pada masa belakangan dikenal dengan nama ashrama. Di Bali, di samping istilah ashrama (kini disebut pasraman) dikenal pula istilah katyagan (dari kata Bahasa Sanskerta, tyaga yang berarti tempat untuk melepaskan diri dari ikatan rumah untuk belajar di sekolah) sedang komponen yang memberikan pendidikan (pendidik) dikenal dengan sebutan “tri kang sinangguh guru” yang artinya tiga yang disebut guru. Adapun ketiga guru itu adalah guru rupaka, yang berada dilingkungan rumah yaitu orang tua, guru pangajyan (dari kata adhyaya yang artinya belajar) yaitu guru yang memberikan pendidikan formal di sekolah-sekolah, dan guru wisesa seperti pemerintah, pemuka-pemuka agama atau tokoh-tokoh masyarakat.

Kegiatan pendidikan di dalam Agama Hindu, dikenal dengan istilah “aguron-guron”, atau “asewakadharma”. Pengertian pendidikan dalam Agama Hindu, tidak akan terlepas dari kedudukan kitab Veda sebagai sumber ajaran Agama Hindu. Oleh karena itu kitab Veda dan susastra Hindu lainnya berfungsi sebagai pedoman yang menuntun manusia dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, termasuk dalam kegiatan pendidikan.

Dalam sistem pendidikan menurut Veda, anak menjadi pusat perhatian, artinya anak merupakan aset dan peserta didik yang mendapat perhatian utama. Kata anak dalam bahasa Sanskerta adalah “putra” Kata “putra pada mulanya berarti kecil atau yang disayang, kemudian kata ini dipakai menjelaskan mengapa pentingnya seorang anak lahir dalam keluarga: “Oleh karena seorang anak yang akan menyeberangkan orang tuanya dari neraka yang disebut put (neraka lantaran tidak memiliki keturunan), oleh karena itu ia disebut Putra (Manavadharmasastra IX.138). Penjelasan yang sama juga dapat kita jumpai dalam Adiparva Mahabharata 74,27, juga dinyatakan sama dalam Valmiki Ramayana II,107-112. Putra yang mulia disebut “putra-suputra”. Kelahiran “putra suputra” ini merupakan tujuan ideal dari setiap perkawinan maupun dalam pendidikan Hindu. Kata yang lain untuk putra adalah: “sunu, atmaja, atmasambhava, nandana, kumara dan samtana”. Rupanya kata yang terakhir ini di Bali menjadi kata “sentana” yang berarti keturunan. “Seseorang dapat menundukkan dunia dengan lahirnya anak, ia memperoleh kesenangan yang abadi, memperoleh cucu-cucu dan kakek-kakek akan memperoleh kebahagiaan yang abadi dengan kelahiran cucu- cucunya” (Adiparva,74,38).

Pandangan susastra Hindu ini mendukung betapa pentingnya setiap keluarga memiliki anak. Tambahan pula Adiparva, Mahabharata memandang dari sudut yang berbeda tentang kelahiran anak ini. “Disebutkan bahwa seorang anak merupakan pengikat talikasih yang sangat kuat di dalam keluarga, ia merupakan pusat menyatunya cinta kasih orang tua. Apakah yang melebihi cinta kasih orang tua terhadap anak-anaknya, mengejar mereka, memangkunya, merangkul tubuhnya yang berdebu dan kotor (karena bermain-main). Demikian pula bau yang lembut dari bubuk cendana, atau sentuhan lembut tangan wanita atau sejuknya air, tidaklah demikian menyenangkan seperti halnya sentuhan bayi sendiri, memeluk dia erat-erat. Sungguh tidak ada di dunia ini yang demikian membahagiakan kecuali seorang anak” (74, 52, 55, 57).”Seseorang yang memperoleh anak, yang merupakan anaknya sendiri, tetapi tidak memelihara anaknya dengan baik, tidak mencapai tingkatan hidup yang lebih tinggi. Para leluhur menyatakan seorang anak melanjutkan keturunan dan mendukung persahabatan, oleh karena itu melahirkan anak adalah yang terbaik dari segala jenis perbuatan mulia (74, 61-63). Lebih jauh Maharsi Manu menyatakan pandangannya bahwa dengan lahirnya seorang anak, seseorang akan memperoleh kebahagiaan abadi, bersatu dengan Tuhan Yang Maha Esa” (II.28).

Berdasarkan keterangan tersebut di atas maka pendidikan, utamanya pendidikan moral dan budi pekerti sangat penting ditanamkan bagi seorang anak sejak usia dini, dan bahkan sejak bayi dalam kandungan. Tentang pendidikan ini, kitab suci Veda menyatakan: “Saudara laki-laki seharusnya tidak irihati terhadap kakak dan adik-adiknya laki-laki dan perempuan dan melakukan tugas-tugas yang sama yang dibebankan kepadanya. Hendaknya berbicara mesra di antara mereka” (Atharvaveda: III, 30. 3). “Putra dan orang tuanya yang saleh, gagah berani dan bercahaya bagaikan api menyinari bumi dengan perbuatan-perbuatannya yang mulia” (Rigveda I.160.3). “Ya Tuhan Yang Maha Esa, anugrahkanlah kepada kami seorang putra yang gagah berani, giat bekerja, cerdas, mampu memeras Soma (tekun berbakti) dan memiliki keimanan yang mantap lahir pada keluarga kami” (Rigveda III.4.9). “Ya Tuhan Yang Maha Esa, semogalah kami memperoleh putra dengan kulitnya yang kuning langsat, yang tampan, panjang umurnya, patuh kepada orang tua dan gurunya, berani dan saleh” (Rigveda II.3.9). “Wahai anak, datang dan berdirilah di atas batu ini. Kuatkanlah badanmu seperti batu ini” (Atharvaveda II.13.4). “Sesungguhnya anak laki-laki dari putra seorang ayah yang masyhur akan menjadi mulia” (Atharvaveda XX.128.3). Terjemahan mantra Veda yang terakhir ini adalah logis, bila orang tuanya memiliki nama yang harum, maka putranya memperoleh teladan yang baik menjadikan mereka mulia.

Bila diperhatikan dengan seksama, maka pendidikan menurut kitab suci Veda lebih menekankan pada pendidikan budi pekerti yang luhur, karena tujuan akhir dari pendidikan adalah karakter yang baik. Dengan karakter yang baik, serta kecerdasan, giat bekerja/suka bekerja keras, dan bertanggungjawab, maka seorang anak didik (mahasiswa) akan sukses menatap masa depan mereka.

Kondisi Pendidikan Tinggi Agama Hindu di Indonesia

Kini di Indonesia terdapat 11 Perti Hindu, 3 buah negeri yakni Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Gde Puja Mataram, Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangkaraya. Di luar 3 Perti Hindu negeri di atas, terdapat satu Perti Umum yakni Universitas Negeri Manado Sulawesi Utara mengelola 1 Prodi Pendidikan Agama Hindu, sedang lainnya adalah Perti Hindu Suasta baik di bawah pembinaan Kementerian Agama R.I (STAH Dharma Nusantara Jakarta, STAH Lampung, STAH Dharma Sentana Palu dan STHD Klaten, Jawa Tengah) dan di bawah pembinaan Kopertis (Universitas Hindu Indonesia Denpasar, STKIP Agama Hindu Amlapura, dan STKIP Agama Hindu Singaraja).

Dari keseluruhan Perti Hindu di atas tampak sangat terbatasnya SDM baik bagi pengelolaan maupun tenaga pendidikan (dosen), apalagi dalam kualifikasi guru besar yang sangat terbatas jumlahnya. Sangat terbatasnya para dosen yang berkeinginan untuk menempuh pendidikan S.2 dan S.3 di luar negeri. Demikian pula sarana dan prasarana, hampir semua Perti Hindu terbatas jumlah lahan yang dimiliki, jumlah ruang kuliah, fasilitas laboratorium, dan berbagai sarana penunjang proses belajar dan mengajar di Perti Hindu tersebut.

Di samping terbatasnya tenaga pendidikan seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, juga adalah row input mahasiswa, yang tidak semuanya sepenuhnya fokus menjadikan Perti Hindu sebagai pilihan utama, tidak sedikit dari mereka yang karena tidak diterima di PTN umum, mereka menjadikan Perti Hindu sebagai pilihan yang terakhir. Namun juga ada yang membanggakan, ada beberapa yang memang sudah menyelesaikan pendidikan jenjang S.1 umum, mengikuti pendidikan di Perti Hindu dalam upaya untuk mempersiapkan hari tua, utamanya setelah mereka pensiun dan terjun ke dalam masyarakat. Beberapa anak-anak muda yang memang berniat sejak dini untuk menjadi seorang pandita atau pinandita, yang memang di samping tuntutan dalam diri yang bersangkutan, tidak sedikit karena faktor lingkungan, misalnya anak atau keluarga dari seorang pandita atau pinandita.

Demikian pula berkaitan dengan besarnya SPP dan DPP, dana yang dikelola oleh Perti Hindu benar-benar sangat terbatas, dan termasuk kewajiban dari Perti Hindu memberikan beasiswa kepada para mahasiswanya, juga kepada para dosen yang mengikuti pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pengelolaan Perguruan Tinggi Hindu

Pengelolaan Perti Hindu sedapat mungkin dapat memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP) seperti yang diatur dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomoe 20 Tahun 2003 yang terdiri dari standar: isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga pendidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, serta penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. SNP digunakan sebagai acuan kurikulum, tenaga pendidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan. SNP adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berikut adalah rumusan dari SNP tersebut.

1) Standar isi adalah ruang lingkup materi yang dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan dan kajian, kompetensi mata pelajaran, serta silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

2) Standar proses adalah SNP yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.

3) Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan ketrampilan.

4) Standar tenaga pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.

5) Standar sarana dan prasarana adalah SNP yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolah raga, tempat beribadah, perpustakaan, laboiratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

6) Standar pengelolaan adalah SNP yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.

7) Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun.

8) Standar penilaian pendidikan adalah SNP yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen hasil belajar peserta didik.

Srategi pengelolaan Perti Hindu supaya mampu mengejar kriteria minimal SNP tersebut di atas, manajemen atau pengelola Perti Hindu dapat menerapkan analisis SWOT untuk menemukan langkah-langkah yang menjadi prioritas utama untuk mencapai standar minimal tersebut.

Mengelola Perti Hindu memerlukan kebersamaan semua komponen, civitas akademika termasuk peranan orang tua mahasiswa (POM) guna menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Dengan kebersamaan dan bekerja sama dengan berbagai pihak (MOU dengan berbagai lembaga pendidikan tinggi, pemerintah pusat dan daerah), yayasan-yayasan dan LSM serta optimisme serta tanggung jawab yang tingggi, pada saatnya kriteria minimal SNP tersebut akan dapat diwujudkan.

Penjaminan Mutu, Akreditasi, dan Good Universty Governance

Serian Wijanto dalam bukunya Pengelolaan Perguruan Tinggi secara Efisien, Efektif dan Ekonomis (2009:201) menyatakan bahwa secara umum yang dimaksud dengan penjaminan mutu adalah proses penerapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga konsumen, produsen, serta pihak lain yang berkepentingan memperoleh kepuasan. Dengan demikian, penjaminan mutu pendidikan tinggi adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga pemangku kepentingan memperoleh kepuasan.

Pendidikan tinggi di perguruan tinggi dinyatakan bermutu atau berkualitas, apabila:

1) PT tersebut mampuy menetapkan dan mewujudkan visnya melalui misinya (aspek deduktif), dan

2) PT tersebut mampu memenuhi pemangku kepentingan (aspek induktif) berupa kebutyuhan kemasyarakatan (societal needs), kebutuhan dunia kerja (industrial needs), dan kebutuhan profesional (professional needs).

Dengan demikian, PT harus mampu merencanakan, menjalankan, dan mengendalikan suatu proses yang menjamin pencapaian mutu sebagai telah dijelaskan di atas. Tujuan penjaminan mutu adalah memelihara dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan yang dijalankan oleh suatu PT secara internal untuk mewujudkan visi dan misinya serta memenuhi pemangku kepentingan melalui penyelenggaraan Tridharma PT. Pencapaian tujuan penjaminan mutu melalui kegiatan penjaminan mutu yang dijalankan secara internal oleh PT akan dikontrol dan diaudit melalui kegiatan akreditasi yang dijalankan oleh BAN-PT atau lembaga lain secara eksternal. Dengan demikian objektivitas penilaian terhadap pemeliharaan dan peningkatan mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan di suatu PT dapat diwujudkan.

Wijatno (2009:51) lebih jauh menyatakan bahwa akreditasi institusi PT dan program studi merupakan proses evaluasi dan penilaian secara komprehensif atas komitmen institusi PT dan program studi tersebut terhadap mutu dan kapasitas penyelenggaraan program tridharma PT, guna menentukan kelayakan institusi PT dan program studi dalam menyelenggarakan program akademisnya. Kriteria untuk mengevaluasi dan menilai komitmen tersebut dijabarkan dalam sejumlah standar akreditasi beserta parameternya. Sementara itu, mutu institusi PT dan program studi merupakan cerminan dari totalitas keadaan dan karakteristik masukan, proses, keluaran, hasil, dan damp[ak, atau layanan/kinerja yang diukur berdasarkan sejumlah standar yang ditetapkan.

Akredritasi institusi PT dan program studi ini bertujuan memberikan jaminan standar mutu pendidikan agar memenuhi standar yang ditetapkan oleh BAN-PT dengan merujuk pada Undang-Undang R.I. Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah R.I Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Hal itu mampu memberikan perlindungan bagi masyarakat dari penyelenggaraan institusi PT dan program studi yang tidak memenuhhi standar nasional pendidikan, seperti ditetapkan dalam operaturan perundang-undangan R.I. Selain itu, hl tersebut dapat mendorong institusi PT dan program studi untuk terus melakukan perbaikan dan mempertahankan mutu yang tinggi. Hasil akreditasi itu dapat dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam transfer kredit PT, pemberian bantuan, dan alokasi dana, serta pengakuan dari badan atau instansi lain.

Sangat penting pula dalam pengelolaan dan pengembangan Perti Hindu juga menerapkan good governance yang dikenal dengan istilah Good University Governance (GUG). Wijatno (2009:370) menyatakan bahwa secara sederhana GUG dapat dipandang sebagai penerapan prinsip-prinsip dasar good governance dalam sistem dan proses pengelolaan institusi PT melalui berbagai penyesuaian yang dilakukan berdasarkan nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi dalam penyelenggaraan PT secara khusus dan pendidikan secara umum.

Kewajiban penataan diri dengan menerapkan aspek good governance akan menjadi salah satu tolok ukur utama bagi PT. Untuk PT yang sudah mapan agar tidak cepat puas dengan kinerja yang ada, sedangkan PT baru memiliki fleksibilitas untuk segera mengadopsi good governance dalam operasional pendidikan mereka. Penerapan GUG secara kolektif membentuk struktur kerja dan menciptakan check and balances, sebab efektifitas mereka terkait dengan perbandingan biaya rutin dan biaya sewaktu-waktu yang dikeluarkan oleh PT yang hasilnya dapat dirasakan di kemudian hari.

Pada dasarnya setiap PT memiliki karakteristik yang berbeda dengan perusahaan pada umumnya. Namun demikian, terdapat juga beberapa persamaan mendasar, di antaranya masalah pengelolaan dan pertanggung-jawaban kepada pemangku kepentingan, oleh karena itu, penerapan good governance pada PT harus disesuaikan dengan karakteristik khusus PT.

Hal yang penting dalam pengelolaan Perti Hindu, seperti halnya dalam berbagai organisasi, maka manajemen kepemimpinan mutlak diperlukan. Seorang pemimpin harus menjadi teladan staf dan bawahannya. Keteladanan seorang pemimpin mutlak diperlukan. Dalam manajemen Hindu dikenal konsep kepemimpinan Catur Upaya Sandhi yang populer dikenal dengan Catur Naya Sandhi, yakni Sama, Bheda, Dana, dan Danda yang dalam manejemen modern hanya dikenal Reward and Punishment. Menerapkan ajaran kepemimpinan Hindu dengan baik, maka pengelolaan organisasi seperti halnya Perti Hindu akan berhasl baik. Kelebihan teori kepemimpinan Hindu sangat menekankan ajaran moral yang mesti diikuti oleh seorang pemimpin.

Demikian, Perti Hindu walaupun kondisinya tidak seperti yang diharapkan, namun usaha-usaha untuk mengarah kepada tata kelola yang baik (good governance) mutlak harus dilakukan.

Simpulan

Pengelolaan Perti Hindu walaupun dalam kondisinya yang serba “daridra” (miskin) dalam hal bala (SDM), kosa (sumber dana) dan wahana (dukungan mobilitas) namun masih memiliki untuk melaksanakan pendidikan agama pada Perti Hindu dengan baik. Perlahan tetapi pasti standar nasional pendidikan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Sisdiknas No.20 Tahun 2003 harus bisa memenuhi kriteria minimal dari ketentuan perundang-undangan tersebut. Pengelolaan dan pengembangan Perti Hindu hendaknya tetap mengikuti ketentuan tentang penjaminan mutu, akreditasi dan tata kelola yang baik (good governance) yang dikenal Good University Government. Dalam kaitannya dengan kepemimpinan dalam pengelolaan Perti Hindu sangat baik seorang pemimpin Perti Hindu menerapkan sepenuhnya ajaran kepemimpinan Hindu yang sangat menekankan pada ajaran moral dan keteladanan.

* Rektor IHDN Denpasar


LAHIRNYA SEORANG PEMIMPIN

December 23, 2010 By: admin Category: Artikel Keagamaan

by : Saras Dewi Dhamantra

Di dalam sejarah, semenjak beribu-ribu tahun lamanya agama Hindu telah menunjukan peran besarnya dalam membentuk serta melahirkan tokoh-tokoh pemimpin yang legendaris. Para pemimpin ini adalah sosok-sosok istimewa dengan cita-cita besar terhadap peradaban Hindu. Sebut saja kerajaan Majapahit dengan rajanya Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada, atau di India dengan tokohnya Mahatma Gandhi dan Jawahral Nehru. Semenjak zaman prasejarah, hingga era modern tidak bisa dipungkiri Hindu memberikan warisan penting dalam konsep-konsep kepemimpinan.

Salah satu konsep terpenting tentang kepemimpinan dapat ditemukan di dalam Nitishastra karya dari Chanakya. Nitishasastra bisa dikatakan suatu karya mutakhir yang mengulas tentang pedoman-pedoman moral yang harus dipatuhi oleh seorang raja. Chanakya merupakan pioner dalam perumusan teori-teori ekonomi dan politik. Dua karya termasyhurnya yaitu Arthashastra dan Nitishastras hingga sekarang masih menunjukan relevansinya terhadap dunia modern.

Chanakya adalah seorang penasehat bagi Raja Chandragupta di Kerajaan Maurya, India. Ia dikatakan sebagai Machiavelli-nya India. Keunikan dari Chanakya adalah ajarannya tentang sifat-sifat seorang pemimpin yang tidak saja sempurna secara pengetahuan praktis, tapi juga pengetahuan spiritual. Seorang pemimpin dikatakan memiliki kekuatan ketika ia menguasai baik kecerdasan intelektual, stabilitas emosional dan kesempurnaan spiritual. Ketiga hal ini menunjukan suatu sikap kematangan seorang pemimpin ketika mengarahkan negara atau rakyatnya.

Sifat-sifat yang dimaksudkan oleh Chanakya dikompilasikan menjadi Sad Sasana, atau Sad Warnaning Rajaniti, yaitu kemampuan yang harus dimiliki seorang pemimpin. Sifat pertama adalah Abhigamika, yakni kemampuan seorang pemimpin untuk menarik hati atau simpati dari rakyatnya. Kemampuan wacana atau orasi dari seorang pemimpin merupakan aspek penting untuk memenangkan hati rakyat. Karena kecakapan semacam ini menunjukan semacam kharisma yang membuat rakyat dapat mempercayai pemimpinnya.

Sifat kedua adalah Pradnya, yaitu seorang pemimpin harus memiliki sikap bijaksana, ia harus selalu berpikir dan bertindak bijaksana, agar dapat mengambil pilihan-pilihan yang tepat bagi rakyatnya. Sifat ketiga adalah Utsaha, ia diharuskan memiliki daya kreatifitas yang tinggi. Ia seorang visionaris yang selalu berusaha membuat inovasi-inovasi baru dalam menyempurnakan tata negaranya. Sifat keempat adalah

Atma Sampad, seorang pemimpin harus tulis dan murni atmannya, segala perbuatannya harus berlandaskan atas ‘good will’ atau kehendak baik, selalu berpegang pada hukum-hukum Dharma. Kesadaran akan moralitas yang luhur merupakan kualitas penting seorang pemimpin yang baik. Sifat kelima adalah Sakya Samanta, yaitu kemampuan seorang pemimpin untuk menunjukan ketegasannya di hadapan para rakyatnya. Ia mampu mengendalikan para bawahannya dan memperbaiki hal-hal yang kurang sempurna di dalam sistem pemerintahannya. Sifat terakhir adalah Aksura Parisatka, bahwa seorang pemimpin harus dapat menarik kesimpulan yang bijaksana. Ia mempu mempertimbangkan berbagai macam saran-saran dari para penasehatnya dan memutuskan yang terbaik bagi pemerintahannya.

Sad Warnaning Rajaniti menunjukan pakem-pakem seorang pemimpin yang sempurna. Dalam politik kenegaraan, untuk mencapai ‘order’ atau keharmonisan dan kemajuan negara, maka terlebih dahulu ia harus memiliki pemimpin yang baik. Seorang pemimpin menjadi amat vital sebagai upaya untuk mewujudkan kesuksesan suatu negara. Begitu juga sebaliknya, jenis-jenis kepemimpinan yang buruk akan berdampak buruk pula terhadap rakyat atau pemerintahannya. Strategi pemerintahan yang buruk dan tidak bijaksana bisa menyebabkan kesengsaraan rakyat dan menjerumuskan negaranya.

Kriteria-kriteria yang telah dipaparkan diatas menunjukan betapa berat beban tanggung jawab seorang pemimpin. Selain Nitishastra tema tentang kepemimpinan juga muncul di dalam Epos Ramayana. Dikisahkan Ramayana menasehati Wibhisana tentang kewajiban-kewajiban seorang pemimpin yang dimetaforakan seperti sifat-sifat kedelapan dewata. Adapula kewajiban-kewajiban ini dikenal sebagai Asta Berata, atau delapan kewajiban yang harus diterapkan seorang pemimpin.

“Hyang Indra Yama Surya Candranila Kuwera, Banyunagi nahan walu ta sira maka angga, Sang bupati matangyang inisti asta brata.” Dewa Indra, Yama, Surya, Chandra, Anila/Bayu, Kuwera, Baruna dan Agni itulah delapan Dewa yang merupakan badan sang pemimpin, kedelapannya itulah yang merupakan Asta Brata.

  1. Indra Berata yaitu kepemimpinan yang memegang teguh hukum keadilan. Seorang pemimpin harus bisa menunjukan sikap adil untuk mensejahterakan semua pihak.
  2. Yama Berata bahwa seorang pemimpin harus tegas dalam bersikap, ia harus memusnahkan ketidak adilan dan menghukum mereka yang menyimpang dan berbuat kesalahan.
  3. Surya Berata yaitu seorang pemimpin yang memiliki kewajiban untuk selalu menerangkan dan mencerahkan rakyatnya. Membimbing rakyatnya untuk menuju cita-cita akan kesejahteraan itu. Ia tidak akan mengabaikan suara rakyat dan membiarkan rakyatnya digelapkan akan kebodohan.
  4. Candra Berata yakni kecintaan seorang pemimpin terhadap seni budaya, membangun objek-objek estetis dan mengajarkan rakyatnya untuk menghargai seni budaya warisan para leluhur.
  5. Bayu Berata yakni kemampuan seorang pemimpin untuk menjaga keamanan rakyatnya. Bagaimana ia dapat memberikan rasa tentram dan aman dalam bermasyarakat. Ia harus selalu meninggikan hak azaziah rakyatnya dan mencegah segala pelanggaran terhadap hak-hak tersebut.
  6. Kwera Berata seorang pemimpin harus selalu mengutamakan suatu tingkat kesejahteraan yang merata. Ia piawai secara konsep-konsep ekonomi yang menjaga keadilan distribusi bagi rakyatnya.
  7. Baruna Berata seorang pemimpin harus menjaga martabat negaranya dengan membangun angkatan perang yang kuat dan tangguh. Agar negaranya terhindar dari jajahan-jajahan pihak asing.
  8. Agni Barata seorang pemimpin memiliki kewajiban untuk membangun semangat rakyatnya. Ia harus mampu memotivasi rakyatnya agar tetap membela negara dan keyakinan-keyakinan yang dianutnya.

Melalui konsep-konsep kepemimpinan yang disuguhkan oleh Hinduisme, maka dapat dilihat betapa kaya dan bijaksananya pandangan-pandangan ini. Tentu saja semua konsep-konsep ini berbeda konteks dan penggunannya di abad klasik dengan di abad modern. Bila dulu prinsip-prinsip ini berlaku di tengah kondisi sosial yang masih monarkis dan primitif, sedangkan sekarang seorang pemimpin memiliki kriteria-kriteria yang harus mendahulukan kepentingan rakyatnya. Kini tidak ada lagi pemaksaan kasta dan perbudakan. Zaman telah beralih pada paham demokrasi. Dimana setiap individu memiliki kebebasan berbicara dan mengkritik, sedangkan para pemimpinnya tidak lagi bersifat tirani/diktator, ia harus tunduk terhadap tuntutan rakyatnya. Seperti dikatakan oleh senat Roma, ‘Vox Populi Vox Dei’, suara rakyat adalah suara Tuhan. Seorang pemimpin modern harus memperhatikan suara rakyatnya, mengakomodasi tuntutan tersebut dan berani menerima kritik secara besar hati. Inilah modifikasi seorang pemimpin di abad modern.

Chanakya berkata di dalam Nitishastra, bahwa ‘pengetahuan adalah kekuasaan’ pandangan ini dapat diartikan bahwa pengetahuan dekat dengan kekuasaan. Seorang pemimpin dengan kapabilitas pengetahuan dan kemauan yang kuat maka ia dapat membawa rakyatnya pada kesejahteraan. To lead is an art, ia adalah suatu kerja seni, yang bisa dikuasai apabila syarat-syarat untuk menjadi pemimpin yang sempurna sudah terpenuhi. Dimana kemuliaan seorang pemimpin tercermin dari integritas dan loyalitasnya terhadap Dharma dan Negaranya.

Hindu dan Terorisme

August 24, 2009 By: suwira Category: Artikel Keagamaan

Oleh : Drs. Wayan S Satria, MM.*

Disampaikan dalam Seminar Nasional, Balitbang Dep.Agama, Selasa 13 September 2005, di Wisma Haji, Jl. Jaksa, Jakarta Pusat.

1. Pendahuluan.

Perkembangan dan kemajuan yang pesat dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi juga mempengaruhi perkembangan terorisme di dunia saat ini. Apa itu terorisme ? Mengapa terorisme menjadi topic pembicaraan yang menarik dalam diskusi akhir-akhir ini ? Apa yang menjadi pemicu sehingga terorisme itu terjadi ? Mungkinkan terorisme itu diberantas atau dihindari ? Itulah sederet pertanyaan yang ingin kita coba jawab dan coba ikut sharing dalam menuju tatanan masyarakat yang lebih bijaksana dan arif yang memungkinkan terciptanya perdamaian.

(more…)

Pembinaan Sanggar Seni Keagamaan di Palembang 2009

August 22, 2009 By: suwira Category: Artikel Keagamaan

 

Oleh : Drs. Wayan Suwira Satria, MM.*

(Ketua III Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, Dosen Filsafat Timur, FIB Univ. Indonesia, Puket III STAH DNJ)

Disampaikan dalam acara : Orientasi Pembinaan Sanggar Seni Keagamaan Hindu di Palembang, 25 Juli 2009

 

 

1. Latar Belakang.

Dengan melihat fenomena keberagamaan manusia di Indonesia semakin marak, dimana hampir semua tempat ibadah khususnya yang ada di kota-kota besar dipadati oleh umatnya pada setiap Jumaat, Minggu, Purnama dan Bulan Mati, dan pada setiap perayaan hari-hari besar keagamaan, di Mesjid bagi yang Islam, di Gereja bagi yang Katolik dan Kristen, di Pura/Candi/Mandir bagi yang Hindu, di Vihara bagi yang Buddha, di Klenteng bagi yang Kong Hu Chu. Hal ini secara sepintas menunjukkan bahwa betapa tingginya tingkat ketakwaan manusia Indonesia di dalam memuliakan Tuhannya. Bukan saja tempat-tempat ibadah semua agama saja yang marak, namun acara-acara yang ditampilkan di TV d dipenuhi oleh para pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka keagamaan, dalam usahanya meneruskan pesan-pesan rohani kepada masing-masing umatnya. Dialog lintas agamapun digelar oleh berbagai departemen dalam rangka memberikan latar belakang yang damai, yang akur, yang toleran, bersahabat diantara mereka yang berbeda itu, dan program-program yang digagas oleh departemen-departemen itu sepertinya telah mencerminkan nilai-nilai itu. Cara berpakaian dan pentas Seni keagamaan juga ikut marak. Seharusnya nilai-nilai keagamaan kita masing-masing akan terwujud dalam setiap prilaku umatnya dan pergaulan antar sesama dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.

(more…)

  • Categories

  • Recent Posts

  • Archives

  • Pages

  • Aneka Info

    Info Beasiswa S1 S2 S3

    Direktori Indonesia - Indonesian free listing directory, SEO friendly free link directory, a comprehensive directory of Indonesian website.

  • PASUPATI ISSN 2303-0860

    Jurnal Ilmiah Kajian Hindu & Humaniora (021) 4752750 Volume I No. 1 kulit1 Volume I No. 2 kulit2
  • DHARMAGITA

    Mrdukomala

    Ong sembah ninganatha tinghalana de tri loka sarana

    Ya Tuhan sembah hamba ini orang hina, silahkan lihat oleh Mu penguasa tiga dunia

    Wahya dhyatmika sembahing hulun ijongta tanhana waneh

    Lahir bathin sembah hamba tiada lain kehadapan kakiMu

    Sang lwir Agni sakeng tahen kadi minyak saking dadhi kita

    Engkau bagaikan api yang keluar dari kayu kering, bagaikan minyak yang keluar dari santan

    Sang saksat metu yan hana wwang ngamuter tutur pinahayu

    Engkau seakan-akan nyata tampak apabila ada orang yang mengolah ilmu bathin dengan baik

  • Pointer

    * Lembaga Pendidikan hendaknya tidak hanya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan saja, tetapi juga menciptakan setting sosial yang memungkinkan implementasi pengetahuan yang diperoleh untuk memecahkan problem-problem yang ada dalam masyarakat, lembaga pendidikan seharusnya merupakan contoh kehidupan masyarakat yang ideal.

  • Blog Advertising - Advertise on blogs with SponsoredReviews.com