STAHDNJ.AC.ID

Vidyaya, Vijnanam, Vidvan
Subscribe

RESENSI BUKU STRATEGI HINDU & MENGAPA BALI UNIK?

October 10, 2014 By: admin Category: Artikel

text

Peresensi : Arya Suta*

Tidak banyak buku bertemakan Hindu Indonesia yang diulas secara sosiologis, terlebih yang disajikan dengan data dan teori sosial-budaya yang dikemas secara apik dan rigid. Kiranya perlu membaca karya sosiologis mengenai agama sendiri sebagai langkah awal untuk secara terang dan jelas mengurai masalah sosial-keagamaan yang kita hadapi saat ini. Di samping itu, karya sosiologis membuat kita terbuka secara ilmiah-universal dalam menemukan rumusan masalah yang hendak kita jawab dengan mengandalkan akal sehat. Sifat yang ilmiah-universal menjadi sesuatu yang tak terhindarkan mengingat masyarakat Hindu di tanah air tidak dapat menyelesaikan masalahnya hanya dengan mengandalkan semangat komunitas yang cenderung tertutup.

Karya seperti inilah yang akhirnya dapat kita rasakan pada dua buah buku karya Prof. Dr. IBG Yudha Triguna, MS yang berjudul Strategi Hindu dan Mengapa Bali Unik? yang kami anggap sebagai representasi buku Sosiologi Hindu di tanah air.

Kedua buku ini ingin menjelaskan bahwa Agama Hindu oleh umatnya dianggap sebagai satu kesatuan yang integral, artinya bagi umat Hindu, agama tidak dapat dipisahkan dengan hidup dan kehidupan umat manusia. Manusia Hindu diharapkan menjadi manusia yang memiliki keperibadian yang utuh dalam pengamalan ajaran agama, setiap tingkah laku dan keperibadiannya, senantiasa mencerminkan pengamalan ajaran agama Hindu. Melihat kembali berbagai fungsi agama dalam kehidupan umat manusia, seperti sebagai faktor motivatif, edukatif, inspiratif, faktor sublimatif dan lain-lain, maka secara ringkas dapat dikatakan bahwa agama Hindu merupakan sesuatu yang relevan dengan segala tindakan intelektual, emosional manusia latar belakang sosial-budaya, geografis dan sebagainya.

resensiTerdapat harapan yang secara eksplisit dipaparkan pada Kata Pengantar Mengapa Bali Unik? Penulis ingin Bali tetap diperkuat oleh energi toleransi, keramahan, kejujuran dan berpengatahuan. Sisi tradisional masyarakat Bali yang terbuka harus dibina. Karena itulah Bali harus menjadi wilayah sebagai pusat peradaban dunia, anti kekerasan, anti diskriminasi sekaligus sebagai poros tegaknya hak asasi manusia. Penulis juga bermaksud mendorong berfungsinya kebudayaan daerah di mana agama itu dianut. Kerenanya, setiap kebijakan harus diarahkan untuk memberdayakan potensi-potensi daerah secara maksimal. Dalam kebijakan seperti ini tidak berlaku konsepsi universalisme Hindu, karena yang dipentingkan adanya relativisme kultural. Jadi, semangat civilization consciousness harus lebih diarahkan pada tumbuhnya kesadaran akan kebudayaan sendiri (ix). Inilah mengapa di dalam buku Strategi Hindu banyak menjelaskan gerakan kegamaan seperti Gerakan Komunitas, Gerakan Keagamaan Hindu Dharma, Golongan Modernis, Fenomena Warga Pasek, Warga Pande dan gerakan lainnya yang secara dinamis memainkan peran dalam membangun struktur dan fungsi keagamaan Hindu di Indonesia.

Terdapat benang merah yang secara nyata dapat kita tarik dari kedua buku ini yakni sorotannya terhadap lembaga keumatan baik bersifat agama, pendidikan dan pemerintahan. Lembaga umat belum mampu secara maksimal mengantarkan umat untuk dapat mengenal identitas dirinya, melalui ajaran agama yang komprehensif, karena wawasan personal di samping interest oknum-oknum di lembaga/kelembagaan umat Hindu untuk mempertahankan privilege, warisan berabad-abad yang nyata-nyata bertentangan dengan ajaran agama Hindu. Mereka yang memahami, namun tidak memiliki akses untuk hal tersebut hanya tersenyum dan ketawa geli melihat oknum-oknum tersebut. Untuk itu sesuai semangat reformasi, maka reformasi kelembagaan, khususnya personal kelembagaan tersebut mesti diperbaiki, diganti oleh mereka yang memiki wawasan Hindu yang luas dan visi jauh ke depan.

Tidak seperti bacaan mainstream buku-buku Hindu yang kerap mengedepankan klaim-klaim narsistik tentang universalitas Agama Hindu, gaya bahasa di dalam buku ini sangat lugas dan menempatkan fakta dan cita-cita secara proporsional. Kita berharap ada gambar atau ilustrasi yang terselip di kedua buku ini pada cetakan-cetakan berikutnya, selain sebagai pemanis, hal ini sebagai representasi dari isi kedua judul dari buku tersebut. Adanya gambar justru memperjelas bahwa Bali memang unik bukan? *) Adalah Dosen STAH DN Jakarta

APLIKASI CATUR PURUSA ARTHA, MENGHADAPI HIMPITAN KEHIDUPAN YANG BERAT PADA ERA GLOBALISASI (SEBUAH TINJAUAN POLITIK & KEPEMIMPINAN HINDU)

March 13, 2014 By: admin Category: Kepemimpinan

Oleh : A. A. Gede Raka Mas*

Abstract

To know and understanding “Catur Purusa Artha”, as one concept of the Hindu’s teaching is very important. But, the most important is how to do in daily life. Fenomena that develop in our country today, are the raising of corruption, robbery, fighting between people of our village, and other amoral behaviors. Today, we know the condition is contrast from that teaching. We have to know, why this condition happened, and what’s the problem. Knowing the problems, I thing could find the solution, and hoping that solution can minimizing the moral degradation. The conclution we have to apply the Catur Purusa Artha in good action.

Keyword : Catur Purusa Artha, and the application.

A. Pendahuluan

Peneliti sangat tertarik dengan judul diatas. Setelah merenung cukup lama, membandingkan kehidupan peneliti ketika masih berumur 10 tahun di sebuah desa yang sangat tenang, aman dan sejahtera, sekitar tahun 50 (lima puluhan). Hari ini peneliti berumur 70 th, kondisi desa yang peneliti tinggalkan puluhan tahun yang lalu, wajahnya sudah sangat berbeda. Terjadi perubahan yang sangat signifikan, jika dibandingkan dengan kehidupan modern dewasa ini, sebagai suatu akibat dari pengaruh era globalisasi. Berdasarkan dengan fenomena masyarakat dewasa ini, yang tidak henti-hentinya diterpa oleh kejadian-kejadian yang memalukan, seperti terjadinya perbuatan amoral sebagai tanda adanya degradasi moral dan runtuhnya kemuliaan manusia, yaitu demikian maraknya perampokan, pencurian, pemerkosaan, tindakan kekerasan, bahkan terjadinya pembunuhan yang sangat sadis, demikian pula terjadinya penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang oleh oknum pejabat, menimbulkan motivasi yang sangat kuat bagi peneliti untuk mencari solusi dari permasalahan itu. Untuk mempersempit atau menyederhanakan objek penelitian ini, maka peneliti mengambil sebuah ajaran yang sangat populer di Bali (lebih-lebih di desa penulis) yaitu di desa Mas, Ubud, Gianyar, Bali.Ajaran itu adalah “Catur Purusa Artha”.Ajaran ini lebih terkenal di Bali, melalui produk sastra “Sekar Agung” yang berjudul “Prihen Temen”.

(more…)

UPAYA PENINGKATAN MAKNA NORMA HINDU DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT DAN BERBANGSA

March 21, 2013 By: admin Category: Uncategorized

Oleh : I Ketut Oka Setiawan

Di dalam masyarakat, setiap anggotanya mempunyai kepentingan masing-masing. Kadang-kadang kepentingan mereka ada yang memiliki kesamaan, ada pula yang memiliki perbedaan. Terhadap yang disebut belakangan itu dalam banyak peristiwa kerap kali menimbulkan pertentangan atau perselisihan. Untuk menghindari terjadinya pertentangan yang seringkali berakhir dengan kekacauan itu, maka masyarakat memerlukan adanya suatu tatanan (orde / ordnung ), yaitu berupa aturan-aturan yang menjadi pedoman atau bimbingan bagi segala tingkah laku manusia dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Dengan adanya aturan-aturan tersebut setiap anggota masyarakat diharapkan dapat melaksanakan kepentingan yang berbeda itu secara tenteram dan damai.

(more…)