stahdnj.ac.id

STAH Dharma Nusantara Jakarta
Subscribe

LAHIRNYA SEORANG PEMIMPIN

December 23, 2010 By: admin Category: Artikel Keagamaan

by : Saras Dewi Dhamantra

Di dalam sejarah, semenjak beribu-ribu tahun lamanya agama Hindu telah menunjukan peran besarnya dalam membentuk serta melahirkan tokoh-tokoh pemimpin yang legendaris. Para pemimpin ini adalah sosok-sosok istimewa dengan cita-cita besar terhadap peradaban Hindu. Sebut saja kerajaan Majapahit dengan rajanya Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada, atau di India dengan tokohnya Mahatma Gandhi dan Jawahral Nehru. Semenjak zaman prasejarah, hingga era modern tidak bisa dipungkiri Hindu memberikan warisan penting dalam konsep-konsep kepemimpinan.

Salah satu konsep terpenting tentang kepemimpinan dapat ditemukan di dalam Nitishastra karya dari Chanakya. Nitishasastra bisa dikatakan suatu karya mutakhir yang mengulas tentang pedoman-pedoman moral yang harus dipatuhi oleh seorang raja. Chanakya merupakan pioner dalam perumusan teori-teori ekonomi dan politik. Dua karya termasyhurnya yaitu Arthashastra dan Nitishastras hingga sekarang masih menunjukan relevansinya terhadap dunia modern.

Chanakya adalah seorang penasehat bagi Raja Chandragupta di Kerajaan Maurya, India. Ia dikatakan sebagai Machiavelli-nya India. Keunikan dari Chanakya adalah ajarannya tentang sifat-sifat seorang pemimpin yang tidak saja sempurna secara pengetahuan praktis, tapi juga pengetahuan spiritual. Seorang pemimpin dikatakan memiliki kekuatan ketika ia menguasai baik kecerdasan intelektual, stabilitas emosional dan kesempurnaan spiritual. Ketiga hal ini menunjukan suatu sikap kematangan seorang pemimpin ketika mengarahkan negara atau rakyatnya.

Sifat-sifat yang dimaksudkan oleh Chanakya dikompilasikan menjadi Sad Sasana, atau Sad Warnaning Rajaniti, yaitu kemampuan yang harus dimiliki seorang pemimpin. Sifat pertama adalah Abhigamika, yakni kemampuan seorang pemimpin untuk menarik hati atau simpati dari rakyatnya. Kemampuan wacana atau orasi dari seorang pemimpin merupakan aspek penting untuk memenangkan hati rakyat. Karena kecakapan semacam ini menunjukan semacam kharisma yang membuat rakyat dapat mempercayai pemimpinnya.

Sifat kedua adalah Pradnya, yaitu seorang pemimpin harus memiliki sikap bijaksana, ia harus selalu berpikir dan bertindak bijaksana, agar dapat mengambil pilihan-pilihan yang tepat bagi rakyatnya. Sifat ketiga adalah Utsaha, ia diharuskan memiliki daya kreatifitas yang tinggi. Ia seorang visionaris yang selalu berusaha membuat inovasi-inovasi baru dalam menyempurnakan tata negaranya. Sifat keempat adalah

Atma Sampad, seorang pemimpin harus tulis dan murni atmannya, segala perbuatannya harus berlandaskan atas ‘good will’ atau kehendak baik, selalu berpegang pada hukum-hukum Dharma. Kesadaran akan moralitas yang luhur merupakan kualitas penting seorang pemimpin yang baik. Sifat kelima adalah Sakya Samanta, yaitu kemampuan seorang pemimpin untuk menunjukan ketegasannya di hadapan para rakyatnya. Ia mampu mengendalikan para bawahannya dan memperbaiki hal-hal yang kurang sempurna di dalam sistem pemerintahannya. Sifat terakhir adalah Aksura Parisatka, bahwa seorang pemimpin harus dapat menarik kesimpulan yang bijaksana. Ia mempu mempertimbangkan berbagai macam saran-saran dari para penasehatnya dan memutuskan yang terbaik bagi pemerintahannya.

Sad Warnaning Rajaniti menunjukan pakem-pakem seorang pemimpin yang sempurna. Dalam politik kenegaraan, untuk mencapai ‘order’ atau keharmonisan dan kemajuan negara, maka terlebih dahulu ia harus memiliki pemimpin yang baik. Seorang pemimpin menjadi amat vital sebagai upaya untuk mewujudkan kesuksesan suatu negara. Begitu juga sebaliknya, jenis-jenis kepemimpinan yang buruk akan berdampak buruk pula terhadap rakyat atau pemerintahannya. Strategi pemerintahan yang buruk dan tidak bijaksana bisa menyebabkan kesengsaraan rakyat dan menjerumuskan negaranya.

Kriteria-kriteria yang telah dipaparkan diatas menunjukan betapa berat beban tanggung jawab seorang pemimpin. Selain Nitishastra tema tentang kepemimpinan juga muncul di dalam Epos Ramayana. Dikisahkan Ramayana menasehati Wibhisana tentang kewajiban-kewajiban seorang pemimpin yang dimetaforakan seperti sifat-sifat kedelapan dewata. Adapula kewajiban-kewajiban ini dikenal sebagai Asta Berata, atau delapan kewajiban yang harus diterapkan seorang pemimpin.

“Hyang Indra Yama Surya Candranila Kuwera, Banyunagi nahan walu ta sira maka angga, Sang bupati matangyang inisti asta brata.” Dewa Indra, Yama, Surya, Chandra, Anila/Bayu, Kuwera, Baruna dan Agni itulah delapan Dewa yang merupakan badan sang pemimpin, kedelapannya itulah yang merupakan Asta Brata.

  1. Indra Berata yaitu kepemimpinan yang memegang teguh hukum keadilan. Seorang pemimpin harus bisa menunjukan sikap adil untuk mensejahterakan semua pihak.
  2. Yama Berata bahwa seorang pemimpin harus tegas dalam bersikap, ia harus memusnahkan ketidak adilan dan menghukum mereka yang menyimpang dan berbuat kesalahan.
  3. Surya Berata yaitu seorang pemimpin yang memiliki kewajiban untuk selalu menerangkan dan mencerahkan rakyatnya. Membimbing rakyatnya untuk menuju cita-cita akan kesejahteraan itu. Ia tidak akan mengabaikan suara rakyat dan membiarkan rakyatnya digelapkan akan kebodohan.
  4. Candra Berata yakni kecintaan seorang pemimpin terhadap seni budaya, membangun objek-objek estetis dan mengajarkan rakyatnya untuk menghargai seni budaya warisan para leluhur.
  5. Bayu Berata yakni kemampuan seorang pemimpin untuk menjaga keamanan rakyatnya. Bagaimana ia dapat memberikan rasa tentram dan aman dalam bermasyarakat. Ia harus selalu meninggikan hak azaziah rakyatnya dan mencegah segala pelanggaran terhadap hak-hak tersebut.
  6. Kwera Berata seorang pemimpin harus selalu mengutamakan suatu tingkat kesejahteraan yang merata. Ia piawai secara konsep-konsep ekonomi yang menjaga keadilan distribusi bagi rakyatnya.
  7. Baruna Berata seorang pemimpin harus menjaga martabat negaranya dengan membangun angkatan perang yang kuat dan tangguh. Agar negaranya terhindar dari jajahan-jajahan pihak asing.
  8. Agni Barata seorang pemimpin memiliki kewajiban untuk membangun semangat rakyatnya. Ia harus mampu memotivasi rakyatnya agar tetap membela negara dan keyakinan-keyakinan yang dianutnya.

Melalui konsep-konsep kepemimpinan yang disuguhkan oleh Hinduisme, maka dapat dilihat betapa kaya dan bijaksananya pandangan-pandangan ini. Tentu saja semua konsep-konsep ini berbeda konteks dan penggunannya di abad klasik dengan di abad modern. Bila dulu prinsip-prinsip ini berlaku di tengah kondisi sosial yang masih monarkis dan primitif, sedangkan sekarang seorang pemimpin memiliki kriteria-kriteria yang harus mendahulukan kepentingan rakyatnya. Kini tidak ada lagi pemaksaan kasta dan perbudakan. Zaman telah beralih pada paham demokrasi. Dimana setiap individu memiliki kebebasan berbicara dan mengkritik, sedangkan para pemimpinnya tidak lagi bersifat tirani/diktator, ia harus tunduk terhadap tuntutan rakyatnya. Seperti dikatakan oleh senat Roma, ‘Vox Populi Vox Dei’, suara rakyat adalah suara Tuhan. Seorang pemimpin modern harus memperhatikan suara rakyatnya, mengakomodasi tuntutan tersebut dan berani menerima kritik secara besar hati. Inilah modifikasi seorang pemimpin di abad modern.

Chanakya berkata di dalam Nitishastra, bahwa ‘pengetahuan adalah kekuasaan’ pandangan ini dapat diartikan bahwa pengetahuan dekat dengan kekuasaan. Seorang pemimpin dengan kapabilitas pengetahuan dan kemauan yang kuat maka ia dapat membawa rakyatnya pada kesejahteraan. To lead is an art, ia adalah suatu kerja seni, yang bisa dikuasai apabila syarat-syarat untuk menjadi pemimpin yang sempurna sudah terpenuhi. Dimana kemuliaan seorang pemimpin tercermin dari integritas dan loyalitasnya terhadap Dharma dan Negaranya.