STAHDNJ.AC.ID

Vidyaya, Vijnanam, Vidvan
Subscribe

Pertemuan Pejabat Ditjen Bimas Hindu Kementrian Agama RI Dengan Pengelola Perguruan Tinggi Hindu Seluruh Indonesia

May 01, 2015 By: admin Category: Berita/News

Badung, 30 April 2015, Pertemuan Pejabat Ditjen Bimas Hindu dengan Pengelola Perguruan Tinggi Agama Hindu diadakan di Adhi Jaya Hotel Sunset Road Kuta Bali pada tanggal 28 s/d 30 April 2015 dengan tema “Melalui Pertemuan Ditjen Bimas Hindu dengan Pengelola Perguruan Tinggi Agama Hindu Kita Selaraskan Persepsi dalam Membangun Perguruan Tinggi Yang Berdaya Saing”. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh perwakilan dari Perguruan Tinggi Hindu Seluruh Indonesia. Hadir sebagai Narasumber Prof. Drs. Ketut Widnya, MA, M.Phil., Ph.D (Dirjen Bimas Hindu)  Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si (Rektor IHDN Denpasar), DRS. IDA BAGUS GEDE SUBAWA, M.SI. (Direktur Pendidikan Agama Hindu), Sekretaris Ditjen I Wayan Suharta, S.Ag., MM, dan Kasubdit Pendidikan Tinggi Hindu I Made Sutresna, MA.

WIN_20150429_072517 (1)Acara berlangsung dengan pengaturan waktu yang disiplin oleh panitia. Setelah acara pembukaan diadakan pre-test kepada peserta, Paparan Narasumber kemudian diskusi multi arah dalam rangka mempertanyakan, memberi masukan, mengkritisi dan mencari solusi atas suatu masalah yang ditemukan oleh perti masing-masing. Sebelum penutupan peserta juga diberikan post-test dan juga terdapat kuesioner untuk evaluasi penyelenggaraan kegiatan ini oleh panitia.

Dalam Paparannya Dirjen Bimas Hindu Kementrian Agama RI mengatakan terdapat Sepuluh tantangan yang harus dihadapi perguruan tinggi untuk dapat memiliki daya saing yaitu : Kecepatan, Kenyamanan, Iptek, Adanya Pilihan, Gaya Hidup, Gelombang Generasi, Kompetisi Harga, Penambahan Nilai, Pelayanan pelanggan, dan Jaminan mutu. Kerangka berpikir untuk membangun daya saing hendaknya secara konsisten mulai dari Pembenahan Internal baik melalui adopsi, adaptasi dan responsif. Kemudian Pembenahan Eksternal meliputi pembangun jejaring dan kolaborasi dengan pihak-pihak eksternal sehingga akhirnya perguruan yang bersangkutan akan memiliki daya saing yang tinggi. (uli)

SEMINAR NASIONAL DALAM RANGKA HARI RAYA NYEPI TAHUN 2015 BERTEMPAT DI STAH DN JAKARTA

March 16, 2015 By: admin Category: Artikel Keagamaan

SEMINAR NASIONAL DALAM RANGKA HARI RAYA NYEPI BERTEMPAT DI STAH DN Jakarta, Sabtu 14 Maret 2015.

Dalam rangka perayaan HR Nyepi Panitia Dharma Shanti Nasional menyelenggarkan Seminar yang berupaya menggali nilai-nilai kebijaksanaan (kemanusiaan dan ketuhanan) yang terkandung dalam konsepsi filosofis dan konsepsi teologis Hari Raya Nyepi, mengambil tema : “Seminar Nasional, Sebagai Wahana Pembabaran Nilai Nyepi Menuju Kesucian Diri dan Pelestarian Alam. Seminar dibuka secara resmi oleh Bp Dirjen Bimas Hindu, Kementerian Agama RI. Bp. Prof. Drs. I Iketut Widnya, MA., M.Phil, Ph.D.

  1. SESI PEMAPARAN

Seminar kali ini dimoderatori oleh I Gusti Made Arya Suta Wirawan, S.Hum., M.Si. Seminar secara efektif mulai berjalan pukul 10.50 WIB. Moderator terlebih dahulu memberikan beberapa penjelasan terkait latar belakang kegiatan serta filosofi dari tema seminar kali ini. Filosofi seminar kali adalah bagaimana nilai-nilai ilmiah dan teologis memberikan pemaknaan terhadap perayaan hari raya Nyepi yang berdampak pada kesucian hati dan pelestarian alam. Kesucian diri dan pelestarian alam adalah dua hal yang saling berhubungan, di mana pelestarian alam dapat terjadi jika manusia memiliki kesucian diri.

Narasumber 1 (pertama) dalam seminar nasional kali ini yakni Prof. Dr. Ir. I Made Kartika D., Dipl.-Ing. Beliau membawakan materi yang seminar berjudul Up?cara Bh?ta Yajña: “Tawur Kesanga” Sebagai Refleksi Perwujudan Interaksi Komunikasi Manusia – Hindu Menuju Keseimbangan dan Harmonisasi Kosmos. Beliau mengawali paparan seminarnya dengan suatu pertanyaan mendasar, Adakah Kebenaran, Makna dan Manfaat Pelaksanaan ”Hari Raya Nyepi” saat ini dapat dibuktikan? Jawabannya adalah ya! Namun semua itu harus dilandasi oleh Nalar dan Nurani serta niat yang suci nirmala.

Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia Prof. Drs. I Iketut Widnya, MA., M.Phil, Ph.D. Membuka Secara Resmi Seminar Nasional Hari Raya Nyepi 2015 Di STAH Dharma Nusantara Jakarta

Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia Prof. Drs. I Iketut Widnya, MA., M.Phil, Ph.D. Membuka Secara Resmi Seminar Nasional Hari Raya Nyepi 2015 Di STAH Dharma Nusantara Jakarta

Beliau juga menjelaskan pandangan Albert Einstein tentang Agama yaitu: “Agama masa depan adalah agama alam semesta. Agama yang menghindari dogma dan teologi. Berlaku secara alamiah dan batiniah, serta berdasarkan pengertian agama yang muncul karena berbagai pengalaman, baik fisik maupun spiritual, dan merupakan suatu kesatuan yang sangat berarti.” Ajaran spiritual menyatakan bahwa Intuisi (prajña atau pratibh?) sebagai “kecerdasan melihat” (pa?yati buddhi) dan juga sebagai “kecerdasan melihat kebenaran” (rtamibharaha) dalam memahami “Kesunyataan” dan “Kebenaran” secara spontan dan lengkap, tanpa tercemar atau terkontaminasi walaupun menelusuri ketidak benaran. (Pada puncak relaksasi Sam?dhi para mah?rsi menerima wahyu).

Terkait dengan Hari Raya Nyepi, sehari sebelum pelaksanaan Hari Raya Nyepi yaitu pada Tilem Kesanga selalu diawali dengan up?cara bh?ta yajña: “tawur kesanga”, melaksanakan Kurban Suci demi menjaga Keseimbangan Kosmos dan Harmonisasi hubungan yang erat antara Buana Agung (Alam Semesta) dengan Manusia (Buana Alit). Keseimbangan ini harus tetap terjaga karena manusia sangat tergantung kehidupannya kepada alam, maka Makna “TAWUR KESANGA”, bukan hanya sebagai Perwujudan dari rasa Bhakti umat kepada Sang Pencipta, akan tetapi juga sebagai Perwujudan Interaksi Komunikasi Niat Baik umat untuk tetap melestarikan ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Yajñaning – Yajña).

Terkait dengan pawai Ogoh-ogoh, bahwa sebetulnya kegiatan ini tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bambu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara. Selain itu, ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti, yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara.

Narasumber 1, Moderator, dan narasumber 2 berturut-turut dari kiri ke kanan, Prof. Dr. Ir. I Made Kartika D., Dipl.-Ing, I Gusti Made Arya Suta Wirawan, M.Si, dan Dr. I Ketut Donder

Narasumber 1, Moderator, dan narasumber 2 berturut-turut dari kiri ke kanan, Prof. Dr. Ir. I Made Kartika D., Dipl.-Ing, I Gusti Made Arya Suta Wirawan, M.Si, dan Dr. I Ketut Donder

Beliau pun menjelaskan bahwa jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi, tetap mengandung arti dan makna yang masih relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara Ritual dan Spiritual agar alam semesta senantiasa menjadi sumber kehidupan. Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata “tawur” berarti mengembalikan atau membayar. Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi ke-seimbangan jiwa. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka.

Pada akhir pemaparannya beliau memberikan penjelasan mengenai Tiga Ciri Suksesnya Pengamalan Agama:

1. Adanya peningkatan kualitas hidup secara individual. Artinya dengan mengamalkan ajaran agama, seseorang hidupnya menjadi semakin berkualitas

2. Dinamika kehidupan sosial yang semakin harmonis tetapi tetap sinergis. Sinergi sosial itu mampu menumbuhkan pnoduktivitas sosial yang semakin kondusif menciptakan nilai-nilai spiritual dan nilai material yang seimbang dan berkesinambungan.

3. Pengamalan agama akan sukses dengan ciri tidak adanya perilaku manusia mengeksploitasi keseimbangan alam lingkungan yang melanggar hukum rta.

Narasumber 2 (kedua) yakni Dr. I Ketut Donder. Beliau membawakan makalah dengan judul Esensi Saintifik Brata Penyepian Relevansinya Dengan Upaya Reduksi Produksi Gas Polutan dan Efeknya terhadap Psikokosmos. Beliau mengawali seminarnya dengan penjabaran data ilmiah. Beliau mengatakan bahwa sejak beberapa tahun lalu telah banyak orang, baik sebagai perorangan maupun dalam bentuk organisasi telah mengetahui bahwa pelaksanaan hari nyepi adalah sarana yang sangat efektif untuk menguraingi bahaya pencemaran udara yang diakibatkan oleh aktivitas penggunaan peralatan bermesin atau berlistrik. Melalui nyepi (sepi) tanpa aktivitas bermesin dan berlistrik pada Hari Raya Nyepi di Bali selama 24 jam, maka hal itu diperkirakan dapat menurunkan emisi gas CO2 sekitar 20.000 ton sebagai gas pulutan (pencemaran). Belajar dari Bali, jika Indonesia dan dunia sepakat untuk menanggulangi bahaya dari efek pemanasan global, maka penetapan dan penerapan hari tenang nasional dan hari tenang sedunia perlu disepakati oleh dunia.

Beliau memberikan penjelasan tentang sulitnya membangun semangat Nyepi yang sesuai dengan cita-cita agama dengan menganalogikannya lewat sebuah ungkapan: “Bagaimanapun kebenaran masih dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir, karena itu, jika kebenaran ingin menang atau minimal seimbang, maka kebenaran juga harus menghimpun dirinya” ungkapan yang menurut narasumber berasal dari agama Islam namun jika diperhatikan secara seksama terdapat kebenaran dan makna yang cukup mendalam. Maka dari itu, terkait dengan anjuran untuk bergabung membentuk kelompok pergaulan yang baik, Sathya Narayana menyatakan bahwa “setiap orang hendaknya mencari pergaulan dengan orang-orang yang berperilaku benar, atau para bijak (sadhu). Orang-orang yang selalu sadar dengan siklus karakter waktu (yuga) itu tidak akan ikut larut dan hanyut bersamaan dengan penurunan kualitas karakter itu. Orang yang beginilah yang disebut manusia utama”.

Dari Kiri Ke Kanan  Drs. Wayan Buda, MSi, Direktur Urusan Agama Hindu Ditjen Bimas Hindu, Ketua Panita Dharma Shanti Nasional, Dirjen Bimas Hindu Prof. Drs. I ketut Widnya, MA., MSi., Ph.D., Dr. I Ketut Donder, dan Ketua STAH Dharma Nusantara JakartaProf. Dr. Ir. Made Kartika, Dipl. Eng

Dari Kiri Ke Kanan Drs. Wayan Buda, MSi, Direktur Urusan Agama Hindu Ditjen Bimas Hindu, Ketua Panita Dharma Shanti Nasional, Dirjen Bimas Hindu Prof. Drs. I ketut Widnya, MA., MSi., Ph.D., Dr. I Ketut Donder, dan Ketua STAH Dharma Nusantara JakartaProf. Dr. Ir. Made Kartika, Dipl. Eng

Di era Kaliyuga dewasa ini manusia lebih mudah terseret ke dalam perilaku jahat, dan hal itu tidak terkecuali bagi orang-orang yang dipandang intelek. Oleh karena itu adalah sesuatu yang alamiah jika dunia ini dilanda oleh berbagai kejahatan-kejahatan, karena tanpa disadari hati dan pikiran setiap orang diperebutkan oleh dua pihak, yaitu satu pihak terdiri dari tiga kekuatan keraksasaan, dan pihak kedua oleh satu kekuatan kedewataan. Oleh karena itu pula, sifat keraksasaan seperti senang (membunuh, berkelahi, ribut, marah, loba, iri hati, dengki, cemburu, mau menang sendiri, mencaci, memaki, memfitnah, dsb.) sangat dominan menguasai diri manusia dewasa ini. Karena itu, tidak jarang ditemukan manusia-manusia dengan sifat keraksasaan berkeliaran di mana-mana dengan cara bersiluman seperti dewa. Tiga orang di antara empat orang di sekitar kita senantiasa diintip oleh energi keraksasaan. Oleh sebab itu setiap orang sangat penting meningkatkan kewaspadaannya terhadap pergaulannya. Jangan sampai tertipu oleh para raksasa berbaju dewa. Dewasa ini, perjuangan untuk menegakkan dharma tidak dapat dilakukan oleh satu orang saja, sebab manusia sekarang tidak cukup tanggung untuk melawan kekuatan tiga raksasa yang ada dalam diri sendiri. Oleh sebab itu, orang-orang yang ingin menegakkan atau memenangkan dharma, maka mereka harus menghimpun diri untuk membentuk organisasi dharma.

Segala potensi baik potensi kedewataan maupun potensi ke-bhuta-an keduanya eksis di dalam diri manusia. Dengan kata lain potensi kebaikan dan keburukan bahkan hingga potensi kebinatangan semuanya tersedia dalam pikiran manusia, mengubah pikiran yang buruk menjadi pikiran yang baik itulah hakikat tertinggi dari kehadiran manusia. Sesungguhnya dalam rangka mempertahankan kualitas pikiran yang baik dan membunuh atau membuang pikiran jahat yang identik dengan sifat-sifat binatang itulah yang disimbolkan dengan ritual caru. Ritual caru yang menggunakan kurban binatang adalah simbol pembunuhan sifat-sifat kebintangan dalam diri manusia. Setelah semua sifat-sifat binatang itu keluar dari diri manusia, maka pada saat itulah manusia dapat menjadikan dirinya sendiri sebagai sarana kurban. Hal ini sangat sesuai dengan uraian dari Satswarupa Chaitanya dan Shakthiswarupa Chaitanya dalam bukunya yang berjudul Self Offerings. Karena itu setiap penyembelihan hewan atau binatang kurban, sesungguhnya adalah membunuhan sifat-sifat binatang dalam diri. Jika saja makna filososif dan makna teologis ini diketahui, maka betapa banyaknya sifat-sifat hewani dalam diri manusia telah musnah, dan mestinya sifat-sifat kedewataan telah memancar dari setiap diri umat Hindu yang melakukan ritual caru. Walaupun mungkin belum optimal, setidaknya dalam pikiran harus ada perubahan perilaku, sebab pikiran itulah sumber segalanya (cogito ergo sum). Jika di dalam pikiran saja tidak ada, mana mungkin akan ada dalam realitas fisik.

Oleh sebab itu dalam setiap kegiatan ritual caru, seharusnya setiap tetes darah binatang kurban itu harus menjadi sarana untuk membuang pikiran-pikiran hewani dan kemudian menteralkannya ke dalam bumi yang tidak lain adalah manifestasi dari wujud fisik kasih sayang ibu. Tetesan darah bintang itu seharusnya dibarengi dengan tetesan air mata yang bersatu dengan spiritu nyomia. Hanya dengan cara berpikir dan bersikap seperti itu kualitas caru akan menggiring manusia kepada taraf yang mulia.

Agnihotra bersumber dari Veda, bahkan beberapa profesor Vedic menyatakan bahwa dalam Veda hanya ada ritual Agnihotra. Tetapi ritual Agnihotra yang bersumber dari Veda ini tidak populer dalam lingkungan umat Hindu Indonesia hingga beberapa tahun lalu. Nanti belakangan ini ketika berbagai pihak secara diam-diam mengeluhkan ritual Hindu yang jorjoran di Bali, maka beberapa penekun spiritual menghimpun diri dalam ikatan Bali Homa Yajna, sejak itu ritual Agnihotra mulai dikenal kembali di Bali. Tetapi, ritual Agnihotra yang bersumber dari Veda ini tidak luput dari kecurigaan para tokoh Hindu di Bali terutama tokoh ritualistik yang menganggap bahwa Agnihotra akan memiliki dampak negatif terhadap ritual Hindu di Bali. Terlepas dari suka atau tidak suka terhadap ritual Agnihotra, namun ritual Agnihotra semakin mendapat tempat di hati sebagian umat Hindu karena mereka menganggap ritual Agnihotra sangat praktis dan fungsional.

Agnihotra bukan hanya sebagai ritual belaka, belakangan ini melalui riset para ahli Agnihotra telah menjadi sarana mengobatan alternatif modern yang tidak ada taranya. Agnihotra telah diakui sebagai pengobatan universal bukan sebagai pengobatan Veda, pengobatan Ayurveda, atau Pengobatan Hindu. Belakangan ini diketahui bahwa Agnihotra bukan saja dapat menyebuhkan penyakit manusia saja, tetapi juga dapat menyembuhkan penyakit yang diderita binatang, penyakit yang diderita oleh tumbuhan atau tanaman. Bahkan penyakit yang diderita oleh alam semesta pun dapat disembuhkan.

Beliau mengakhiri pemaparannya dengan sebuah kesimpulan bahwa Carut Brata Penyepian adalah sesuatu yang harus dilakukan secara sungguh-sungguh. Hal ini menjadi penting mengingat ritual ini mampu memunculkan kesadaran kemanusiaan manusia modern. Beliau khawatir karena di era Kaliyuga sifat manusia terdiri dari 75% binatang dan 25% dewata.

  1. SESI TANYA-JAWAB
  1. Termin I

Ketut Arnaya (PHDI Pusat):

  1. Apakah ada penelitian secara ilmiah bahwa caru memang dapat digunakan sebagai media pelestarian alam? (ditujukan kepada Narasumber 1)
  2. Apakah setiap binatang memiliki kategorisasinya tersendiri ketika mereka dijadikan media untuk proses pelestarian alam? (ditujukan kepada Narasumber 1)
  3. Apakah mungkin bagi umat Hindu di luar etnis Bali melaksanakn agni hotra sebagai pengganti upacara tawur kesanga? (ditujukan kepada Narasumber 2)

Jawaban:

1. Prof. Dr. Ir. Made Kartika D., Dipl.-Ing. : tiap-tiap binatang memang memiliki kategorisasinya tersendiri. Sebagai contoh bagaimana ayam yang digunakan dalam caru panca sata tidak bisa menggunakan sembarang ayam. Ayam harus terdiri dari lima warna dan tiap warna memiliki simbol yang berbeda-beda. Begitu pula ketika kita menggunakan bebek dalam caru panca sanak. Memang semua itu belum ada penelitian ilmiahnya namun semua itu based on practice di dalam sebuah praktek agama. Perlu diperhatikan bahwa ritual yang menggunakan hewan dilakukan dengan tata cara tertentu seperti halnya hewan yang akan dikurbankan harus dengan menggunakan mantra caru terlebih dahulu sehingga yang hewan yang mati diberikan ‘jiwa’ sehingga seolah-olah dia ‘hidup’. Permasalahannya tidak semua orang bisa dan mampu melakukan mantra caru tersebut. Setiap sarana ritual sudah memiliki fungsi dan simbol (makna) nya tersendiri, bahkan ada beberapa ritual yang memang harus menggunakan binatang sehingga ia tidak dapat diganti dengan jajanan atau hal yang lain.

Beliau pun setuju mengenai penggunaan ritual agni hotra sebagai alternatif bagi umat Hindu non Bali dalam menyambut perayaan hari raya nyepi. Berdasarkan pengalaman beliau di mana di rumah beliau terdapat api suci yang sejak dari tahun 1988 hingga sekarang api tersebut tidak padam. Memang semuanya kembali lagi pada sifat upacaranya yang harus dengan jelas mana upacara yang bisa cukup dengan doa dan mana upacara yang wajib menggunakan sarana dan saksi batara/dewata.

2. Dr. I Ketut Donder: ritual yang biasa dilakukan di Indonesia yang menggunakan animal sacrifice adalah ritual tantrik. Ritual ini di India sering dianggap sebagai ritual non vedic. Sementara di Indonesia menggunakan multi yakni sivaisme, vaisnawa dan tantrik sehingga terjadi perkawinan penggunaan sarana. Hal ini juga terjadi di West Bengal di mana penduduknya yang berjumlah 98 juta orang, 90% menjalankan upacara pemotongan kepala kambing saat durga puja. Namun pemenggalan tersebut harus benar-benar dilakukan tanpa menyebabkan kambing tersebut merasakan sekarat. Sehingga alat pemenggalnya harus benar-benar tajam dan dilakukan oleh pendeta terlatih yang dibantu dengan sarana-sarana lain untuk pemenggal kepala kambing tersebut.

Bahkan di kitab Manawa Dharmasastra terdapat sloka yang menjelaskan tentang penggunaan hewan dan tumbuhan sebagai kurban suci (yajna). Bahkan di sloka lain juga menjelaskan bahwa hewan dapat dikurbankan namun dengan cara yang benar. Meskipun teks ini berasal dari jaman kerta dan treta yuga namun nilai dan pemaknaannya masih digunakan hingga di jaman sekarang.

Sebenarnya kurban binatang adalah untuk common people yakni orang-orang biasa yang belum sampai pada tingkat spiritual tinggi sehingga binatang tersebut sebagai representasi atas pembunuhan sifat-sifat jahat (kebinatangan) yang ada pada dirinya sendiri. Sebagai bahwa ritual ini kerap ditentang oleh penggiat animal welfare yang merupakan gerakan pencinta binatang. Sehingga perlu kita jelaskan kepada mereka bahwa apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang bersumber dari kitab suci dan yang kita lakukan semata-mata untuk keperluan ritual spiritual. Dan yang terpenting adalah ketika melaksanakan ritual tersebut pikiran kita sudah fokus ke sarananya sehingga bisa dipakai sebagai media meditasi. Kesimpulannya, baik agni hotra maupun caru sama-sama dapat dilakukan sebagai sebuah ritual dalam menyambut hari raya nyepi.

A.A Raka Mas (Dosen STAH DNJ):

  1. Jika dihubungkan secara ilmiah antara angka (1 dan 0) dengan sembahyang yang diawali dan diakhiri dengan tangan puyung (kosong), apakah dengan demikian sembahyang memang dapat sebagai media untuk menjadikan diri kita menyatu dengan Tuhan? (ditujukan kepada Narasumber 1)
  2. Apakah kehancuran di bumi ada pengaruhnya dengan cara berpikir manusia yang bersifat antroposentrisme? (ditujukan kepada Narasumber 2)

Jawaban:

  1. Narasumber 1: siklus kehidupan seperti seperti perputaran roda cakra yang semakin jauh dari titik sentralnya maka ia semakin kaya. Maka ketika seorang mengatakan aham brahma asmi sebenarnya orang tersebut sudah tidak lagi mengingingkan apa-apa dan merasa tidak punya apa-apa sehingga apa yang dipikirkannya hanyalah just zero. Kondisi inilah yang memungkinkan orang tersebut masuk atau berada dalam kondisi sunya sehingga muncul kesadaran i am the part of the One (Tuhan) dan pada kondisi inilah ia menyatu dengan Tuhan.
  2. Narasumber 2: sangat setuju dengan pendapat bahwa antroposentrisme sebagai ideologi yang menyebabkan kehancuran alam. Ideologi inilah yang menyebabkan manusia ini sebagai mikro kosmos justru ingin menguasai macro kosmos (alam), yang ada justru pengeksploitasian terhadap alam.

Wayan Tantra Awiyana (Mahasiswa STAH DNJ):

  1. Mengapa penjelasan antara agnihotra dan yajna bisa tidak balance? Di satu sisi agnihotra menggunakan api sementara yajna menggunakan hewan yang sebelum dijadikan caru maka ia harus dikorbankan. Apakah keduanya memberikan efek yang sama? (ditujukan kepada Narasumber 2)

Jawaban:

  1. Narasumber 2: jangan memisahkan agni hotra dan yajna. Agni hotra dan caru sama-sama yajna. Pengurbanan hewan sudah ada di teks Manawa Dharmasastra adalah semata-mata untuk yajna bukan untuk mengenyangkan perut.

Manfaat agni hotra terhadap kehidupan adalah ilmiah. Sebacgai contaoh Insiden tragis yang terjadi di suatu malam tanggal 3 Dessember 1984, saat gas MIC yang beracun mengalami kebocoran di pabrik Union Carbide di Bhopal. Ratusan orang meninggal dan ribuan lainnya harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit, akan tetapi terdapat dua keluarga yang tinggal kira-kira 1 mil dari tempat kejadian yang tidak mengalami cedera apapun. Keluarga-keluarga ini melaksanakan Agnihotra secara teratur. Dalam keluarga ini tidak seorangpun meninggal, bahkan tidak ada satupun yang harus mendapatkan perawatan rumah sakit, meskipun mereka tinggal pada wilayah yang mengalami kerusakan paling parah akibat kebocoran gas beracun ini. Pengamatan ini menegaskan bahwa Agnihotra sudah terbukti menjadi antidote terhadap polusi.

Pabrik Union Carbide di Virginia Barat di Amerika Serikat mengetahui hal ini dan mereka menyumbangkan jutaan dolar untuk melakukan penelitian mengenai “efek Homa” ini di Universitas di Texas. Di Jerman penelitian juga tengah dilakukan. Pada tahun-tahun belakangan ini, terapi penyembuhan yang telah ada mulai mengenali peran psikologis dalam pencegahan dan penyembuhan berbagai macam penyakit. Karena di atmosfir prana dan pikiran itu saling berhubungan, maka individu secara alami akan merasakan relaksasi, kedamaian, ketenangan pikiran, hilangnya kekhawatiran dan kegelisahan dalam atmisfir yajna. Struktur Atmosfir yang mengelilingi tempat dilaksanakannya yajna (Agnihotra) dan abu yang dihasilkan dalam kunda dipenuhi dengan gelombang energi dan juga suasana yang menenangkan dan menggembirakan. Inilah yang menyelematkan keluarga tersebut.

II. Termin II

I.G.N Arsana (Dosen STAH DNJ)

Memberikan saran (tidak perlu ditanggapi), diantaranya:

  1. Seminar di tahun yang akan datang diharapkan agar memilih tema yang sesuai dengan kondisi bangsa atau cita-cita pemerintah. Hal in penting dilakukan mengingat Agama Hindu memiliki ajaran Dharma Agama dan Dharma Negara.
  2. Seminar nasional hendaknya terdiri dari tiga orang narasumber.
  3. Panitia seminar hendaknya lebih teliti terhadap atribut (perlengkapan) seminar. Jangan sampai tempat yang dijadikan pelaksanaan seminar tidak terpasang foto presiden dan burung Garuda Indonesia serta menempatkan bendera merah putih di atas panggung.

I Nengah Suamba (PHDI Bekasi)

  1. Adakah penelitian ilmiah yang menjelaskan tentang kebenaran Dharma (Dharma selalu menang) (ditujukan kepada Narasumber 2)

Jawaban:

  1. Narasumber 1: menanggapi pertanyaan mengenai keilmiahan tentang kebenaran dharma beliau memberikan contoh air yang diberikan mantra. Air yang telah diberikan mantra akan memiliki ketahanan sebesar 0 sehingga air tersebut sudah menjadi tirta pengelukatan dan tidak lagi menjadi air biasa yang bisa menjadi penghantar listrik.
  2. Narasumber 2: selama ini umat mengetahui Satyam Eva Jayate yakni Kebenaran Selalu Benar. Sebenarnya mantra ini bermakna bahwa kebenaran pada ‘akhirnya’ akan menang. Sehingga sebelum menang maka kebenaran itu ‘babak belur’. Seperti halnya Sri Rama yang menang perang namun sebelumnya ‘babak belur’.

Wayan Sinta (Mahasiswa STAH DNJ)

  1. Jika semua orang menjadi vegetarian apakan yajna itu masih ada? (ditujukan kepada Narasumber 2)
  2. Mengingat pelaksanaan caru yang kerap menggunakan binatang apakah dengan demikian dengan sendirinya kita menentang ajaran Upanisad yang menekankan ahimsa (tidak membunuh hewan) (ditujukan kepada Narasumber 2)

Jawaban:

Narasumber 2: yajna tidak akan pernah hilang. Jangan langsung mendefinisikan yajna sebagai caru. Melayani dan menghormati orang tua juga merupakan yajna. Termasuk memberikan bantuan beasiswa juga merupakan yajna. Mengorbankan diri sendiri adalah yajna yang tertinggi. Oleh sebab itu patram, puspam, palam, toyam memiliki makna segala sesuatunya adalah sebuah self offering yang berasal dari diri kita sendiri yang mana semua itu landasannya adalah pikiran yang suci sebelum kita melakukan yajna. Bagi mereka yang belum sampai pada tingkatan spiritual yang tinggi maka gunakanlah sarana-sarana yang ada sembari belajar untuk memahami esensi dari pelaksanaan ritual itu sendiri.

  1. KESIMPULAN

Konsep pengendalian diri tidak terbatas pada momentum nyepi saja, namun menjadi landasan ajaran disiplin hidup sepanjang hayat. Seluruh jiwa, pikiran dan perasaan difokuskan pada totalitas perenungan dan pembangkitan kesadaran akan jati diri manusia, pada pembauran spirit untuk menjalani kehidupan sebagai makhluk individu dan sosial serta makhluk ciptaan Nya. Di dalamnya termasuk perenungan akan segala perilakunya selama setahun silam, seluruh karma baik dan buruk yang telah mengisi hidupnya, untuk dievaluasi sebagai landasan mengatur langkah ke depan.

Hari raya Nyepi di dalamnya terdapat rangkaian Catur Brata Penyepian memiliki esensi yang sangat luhur dan memiliki efek positif mutli fungsi. Efek positif dari Catur Brata Penyepian tidak saja terhadap manusia tetapi juga terhadap alam semesta. Efek positif dari perayaan Nyepi terhadap umat manusia khususnya umat Hindu, adalah bahwa melalui Catur Brata Penyepian, umat Hindu memiliki kesempatan untuk melatih diri untuk belajar mengendalikan panca indria. Pengendalian panca indria melalui pembatasan terhadap pemenuhan nafsu makan dan nafsu liar lainnya akan berdampak positif pada peningkatan spiritual.

Ritual Nyepi adalah jeda di sela rutinitas kehidupan yang membuat manusia semakin terjebak oleh tidak adanya waktu untuk merenungkan kembali nilai-nilai moral masyarakat dan agamanya. Akibatnya, manusia terjerumus dalam permisifisme yang berlawanan dengan nilai-nilai kebenaran dan ajaran agamanya. Dengan kontemplasi ini, diharapkan pikiran bisa dijernihkan kembali, begitu pula jalan hidup dan kehidupan manusia, sehingga ia terhindar dari vibrasi-vibrasi kejahatan yang keluar dari pikiran buruk manusia.

  1. REKOMENDASI

Melalui Seminar Nasional yang bertajuk “Seminar Nasional sebagai Wahana Pembabaran Nilai Nyepi menuju Kesucian Diri dan Pelestarian Alam” yang telah berlangsung dari awal pemaparan para narasumber dan diskusi yang berkembang sampai akhirnnya dapat dituangkan beberapa Rekomendasi Seminar sebagai berikut :

1. Tugas terpenting bagi seluruh umat manusia di zaman Kaliyuga adalah membangun kemanusiaan yang menempatkan nilai-nilai ketuhanan dalam diri setiap insan.

2. Nilai-nilai Hari Raya Nyepi-Catur Brata Penyepian yang telah secara langsung dipraktekkan oleh umat Hindu seyogyanya disosialisasikan dalam ruang lingkup yang lebih luas bahkan ke keseluruhan umat manusia sebagai komponen negara dan dunia.

3. Ajaran Trihita Karana, Tatwam Asi, Karma Phala, Tri Kaya Parisudha dan Ajaran Universal Hindu lainnya sebagai implementasi nilai Hari Raya Nyepi menuju kesucian diri dan alam semesta diupayakan menjadi terlaksana dalam lingkungan lebih luas tidak hanya di Bali tetapi secara nasional-internasional dengan mempraktekkan Nyepi Dunia (World Silent Day) dalam rangka menanggulangi kekhawatiran akibat adanya isu pemanasan global , menuju tercapainya kesejahteraan semua makhluk.

4. Setiap mahluk dan benda di dunia ini memiliki kekuatan (power) yang bersumber dari matahari (Sang Hyang Surya) sehingga perlakukanlah secara arif bijaksana sehingga terjadi harmonisasi dan keseimbangan yang membawa kesejahteraan semua mahluk. Hal tersebut dilandasi oleh Aham Brahman Asmi (Saya adalah Brahman) dan Sarwam Kalwidam Brahman (Semua adalah Brahman).

5. Agama hendaknya selalu mewajibkan umatnya menjaga kelestarian alam semesta .

6. Hendaknya upacara Bhuta Yadnya/Caru  dilaksanakan sebagai media umat manusia untuk menjalin interaksi dengan alam baik alam semesta/bhuana agung dan bhuana alit (cosmos dan cosmis) sebagai perwujudan interaksi kepada sang pencipta, sehingga tercipta keharmonisan secara universal

7. Dharsana adalah ajaran yang mengkaji tentang Manusia, Alam dan Tuhan tidak hanya berdasarkan dugaan belaka dari para cendekiawan akan tetapi lebih bersifat spiritual dimana jiwa, jagat, dan brahman keberadaannya dan kebenarnnya hanya dapat dibuktikan dengan menjalani dan mengalami sendiri (secara spiritual).

8. Rangkaian Hari Raya nyepi dengan melaksanakan Tawur Kesanga yang berarti penyucian terhadap alam semesta, Catur Brata Penyepian yang berarti penyucian terhadap alam cosmis dan selanjutnya melaksanakan ngembak geni yang artinya mewujudkan cinta kasih kepada sesama, hal tersebut dapat disimpulkan apabila kesucian alam semesta terjaga, kesucian terhadap alam cosmis juga terjaga maka akhirnya akan terwujud cinta kasih yang merupakan benih-benih perdamaian dunia bagi semua makhluk.

9. Tiga ciri suksesnya pengamalan ajaran agama yaitu : 1) Peningkatan kualitas hidup secara, 2) Dinamika Kehidupan Sosial yang semakin Harmonis dan Sinergis, 3) Tidak adanya perilaku manusia mengeksploitasi keseimbangan alam lingkungan yang melanggar hukum rta (hukum alam)

STAH DN Jakarta

Dies Natalis XX dan Wisuda XII Sarjana Strata 1 STAH Dharma Nusantara Jakarta

September 28, 2014 By: admin Category: Berita/News

by Ulianta

Jakarta, 27 September 2014.Usai Upacara Sakral Samawartana dan Upanayana, Keesokan harinya Tanggal 27 September 2014 dilangsungkan Dies Natalis XX dan Wisuda XII STAH Dharma Nusantara Jakarta dengan semangat dan keihklasan, seluruh civitas akademika yang terlibat dalam acara Dies Natalis tersebut menumbuhkan jiwa dan semangat baru. Terlebih pelaksanaan Wisuda Kali ini sangat menumental karena tanggalnya bertepatan dengan hari lahirnya STAH DN Jakarta.

yuda2

Foto Bersama Wisudawan/Wati

Acara Dies Natalis dan Wisuda kali ini berlangsung di Gedung Astagina, Wisma Bhayangkari Jl. Sanjaya I/1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sebelum acara resmi dimulai, tabuh geguntangan yang dibawakan oleh sekehe geguntangan STAH DN Jakarta dikumandangkan mengiringi langkah kaki para undangan, wisudawan dan para orang tua menuju tempat acara.

Kegiatan panitia menjelang acara dimulai penuh dengan dinamika persiapan berangsur-angsur tenang sesaat menjelang dimulainya acara inti. Nampak Langkah-langkah cepat dan sigap untuk berusaha agar acara bisa dimulai sesuai dengan rencana. Tepat Pkl. 9.03 Acara dimulai serentak kesibukan tersebut terhenti setelah semua dinyatakan siap dan acara  dinyatakan bisa dimulai.

yuda3

Prof. Dr. IBG Yudha Triguna, MS., Dirjen Agama Hindu

Diawali dengan gemulai tarian penyambutan tamu undangan yang dibawakan oleh mahasiswi STAH Dharma Nusantara, menunjukkan kompetensinya bahwa tidak saja dalam bidang akademik dan keagamaan tapi juga terampil menari, mengolah gerak tubuh menjadi sesuatu yang indah dan seni serta dapat membuat suasana menjadi segar ceria dan mampu membawa vibrasi kebahagiaan seperti apa yang tengah dirasakan oleh para wisudawan-wisudawati serta keluarga sebagai hasil dari perjuangannya dibangku kuliah selama kurang lebih 4 tahun lamanya. Dengan segala suka dan duka, yang dialami dalam rangka menempuh proses belajar atau proses tranformasi yang terjadi dan direncanakan dengan sungguh-sungguh di Lembaga milik umat Hindu STAH Dharma Nusantara Jakarta dengan langkah yang penuh perjuangan ditengah – tengah derasnya pengaruh hiruk-pikuk Ibukota.

Suara Sunggu yang ditiup oleh Sampurno Sejati mahasiswa semester VII, dengan panjang dan menggema sebanyak tiga kali sebagai pertanda prosesi sidang terbuka Senat STAH DN Jakarta dimulai, petugas pembawa bendera dan perlengkapan prosesi dengan gerak langkah tegap menuntun barisan Senat menuju panggung kehormatan dengan diiringi lagu khas sebagai lagu perjuangan kebebasan akademik, dengan judul Gaudemus Igitur. (”Karenanya marilah kita bergembira”) adalah lagu berbahasa Latin yang merupakan lagu komersium akademik dan sering dinyanyikan di berbagai negara Eropa. Di negara-negara Barat, lagu ini dinyanyikan sebagai anthem dalam upacara kelulusan. Melodi lagu ini terinspirasi oleh lagu abad pertengahan, bishop of Bologna ciptaan Strada. Liriknya sendiri mencerminkan semangat para pelajar yang tetap semangat meskipun dengan pengetahuan bahwa pada suatu hari nanti kita semua akan mati, seperti terangkum dalam bait pertama pada baris ke-4 dan yang lebih diperjelas lagi pada isi bait ketiga, yang mengandung arti kesadaran akan dekatnya kematian dengan kehidupan manusia di bumi ini. Suasana bertambah khidmat dengan suara paduan suara yang berkumandang dan yang mendapat apresiasi dari bapak Dirjen Agama Hindu Kementerian Agama RI. Itulah buah atas kegigihan latihan para personilnya yang diasuh pelatihnya dengan penuh semangat.

Lagu Indonesia Raya dikumandangkan di awal sebagai penghormatan anak bangsa kepada bangsa dan negaranya. Selanjutnya pembacaan Weda Vakya oleh duet mahasiswa dan mahasiswi STAH DN Jakarta

Laporan Ketua Panitia penyelenggara Oleh I Wayan Kantun, M.Fil.H. Dalam kesempatan ini dilaporkan beberapa hal terkait dengan dasar penyelenggaraan dan keseluruhan rangkaian acara termasuk penyelenggaraan wiku saksi, guru daksina yang menghadirkan para pandita saat upacara Upanayana dan Samawartana sehari menjelang pelaksanan Wisuda. Wisudawan dan wisudawati yang dilantik sebanyak 31 orang. Dilaporkan pula yang mengikuti Upanayana yaitu 20 orang mahasiswa S1 yang bertempat di Pura Aditya Jaya Rawamangun Jakarta Timur.

Ketua Panitia I Wayan Kantun, S.Ag., M.Fil.H

Ketua Panitia I Wayan Kantun, S.Ag., M.Fil.H

Usai laporan ketua panitia, himne STAH DN Jakarta, dikumandangkan kembali oleh Group paduan suara dengan iringan melodi dan nampak Dirigen dengan gerak yang tangkas, sigap dan tegas memimpin peserta paduan suara.

Orasi Ilmiah yang dibawakan oleh Ngakan Putu Putra, mengetengahkan JudulMembangun Daya Kritis Umat Hindu Melalui Media” Dalam orasi ilmiahnya pemimpin redaksi Media Hindu ini mengungkapkan bahwa Agama Hindu menyebar luas ke berbagai belahan dunia karena daya tarik filsafat dan praktik spiritualnya (sadhana). Dizaman modern ini agama Hindu mau tidak mau bahkan harus menggunakan media massa untuk menyampaikan pesan nya yang bermanfaat bagi hidup bersama secara damai dan untuk membangun etika global dalam penyelamatan lingkungan. Media massa cetak dan elektronik merupakan saran yang sangat ampuh untuk siar agama. Siar agama dapat berupa bentuk berita, opini, features, diskusi, sinetron,kotbah dan lainnya yang semuanya itu mampu menembus ruang-ruang keluarga bahkan kamar tidur orang-orang Hindu. Lebih lanjut bahwa tanda adanya pemikiran kritis di dalam suatu agama adalah bilamana pertanyaan tentang hal-hal fundamental, misalnya tentang makna dari teks-teks suci, tentang hakikat Tuhan, tentang tindakan Tuhan, tentang manusia, diijinkan. Di dalam agama Hindu pertanyaan-pertanyaan semacam itu diijinkan.

Bhagawad Gita sepenuhnya menggunakan dialog kritis sebagai metode dalam menyampaikan ajarannya. Arjuna terus mengajukan pertanyaan akan keraguannya atas berbagai hal. Dan Krishna menjawabnya dengan sabar. Barulah pada percakapan XI. Arjuna percaya akan jawaban Krishna, setelah Krishna menunjukkan siapa dirinya, bahwa ia adalah Awatara Tuhan.

Lebih Jauh Ngakan Putra menambahkan didalam Upanisad ajaran-ajaran fundamental dari agama Hindu (tattwa) disampaikan dalam bentuk dialog kritis antara guru dengan sisyannya, antara manusia dengan Inkarnasi Tuhan (Awatara). Perintah utama didalam agama Hindu bukanlah “Sembahlah Aku saja!” Percayalah hanya padaku, kalau tidak kamu akan masuk neraka”. Tetapi “Ketahuilah itu, karena Itu karena Itu adalah Brahman”. Dan “Siapa yang mengetahui Brahman menjadi Brahman”. Ketika Brahman itu dasar dari semua sebab dan akibat, diketahui, hasil dari tindakan tidak akan mengikatmu”. Mereka yang menyampaikan Brahman dengan bergerak maju melalui jalan ini, tidak kembali ke dalam lingkaran kelahiran dan kematian.” Seseorang yang mengetahui kebahagiaan abadi (hakekat sesungguhnya dari) Brahman, tidak lagi memiliki ketakutan terhadap apapun.

senat1

Sidang Terbuka Senat STAH DN Jakarta

Veda mengajarkan metafisika tentang realitas tunggal yang meliputi atau meresapi segalanya (monisme atau panteisme) dan dari pada lahirnya mahawakya “Tat twam Asi” yang pada gilirannya melahirkan etika sosial tentang persaudaraan universal.

Veda mengajarkan kebijaksanaan, keutamaan tentang persahabatan, persaudaraan universal yang bermanfaat mencegah sektarianisme, radikalisme, kekerasan dan terorisme berdasarkan agama dan dengan demikian mendorong terbangunnya kehidupan bersama yang harmonis.

Veda mengajarkan etika tentang penghormatan terhadap manusia berdasarkan kesamaan jati dirinya, tentang etika kewajiban yang mengharuskan manusia mengambil tanggung jawab terhadap dirinya yang mendukung pembangunan karakter manusia unggul secara intelektual, moral dan prestasi.

Veda memiliki pengetahuan dan praktek rohani seperti yoga yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan ketenangan batin. Veda mememiliki ilmu pengetahuan antara lain matematika, kosmologi, astronomi, kedokteran dan lainnya yang memperkaya dan mendahului dan mendorong sain modern.

Media sangat diperlukan untuk menyebarluaskan ini semua kepada masyarakat. Media massa adalah sarana untuk menyampaikan informasi tentang ajaran Hindu yang konstruktif bagi kemajuan dan kesejahteraan manusia.

Disamping itu melalui media kita juga dapat memberikan klarifikasi atau koreksi atas berbagai opini negatif yang diproyeksikan terhadap agama Hindu baik secara disengaja maupun tidak.

Dalam era informasi ini masyarakat Hindu betul-betul memerlukan banyak Baudika, sebagai kesatria intelektual yang berjuang membela Hindu dengan pena, lewat tulisan di media massa, majalah dan buku. Sumber dari Kesatria Intelektual adalah Perguruan Tinggi Hindu. Perguruan Tinggi Hindu harus memiliki, media internal untuk ajang latihan bagi mahasiswa dan dosen untuk melahirkan tulisan-tulisan yang membangun daya kritis.

Perguruan Tinggi Hindu dapat memanfaatkan teknologi informasi untuk membuat sarana media online, seperti website yang dikelola secara profesional dan berani menerbitkan tulisan tulisan yang memiliki daya kritis. Mengakhiri orasi ilmiah ini disimpulkan kembali bahwa dengan memiliki daya kritis masyararakat Hindu terutama para sarjana Hindu, akan mampu membangun citra positif bagi Hindu Dharma dan memberikan sumbangan konstruktif dalam dialog agama pada khususnya dan dialog peradaban pada umumnya. Mereka yang mampu menggunakan daya kritis, akan lebih didengar atau diperhatikan oleh mitra dialognya, seperti prajurit pemberani di medan tempur, kalah atau menang, hidup atau mati, akan dipandang dengan hormat oleh kawan maupun lawan.

Usai Orasi ilmiah acara yang ditunggu-tunggu yaitu Pelantikan Wisudawan-wisudawati. Perlahan-lahan dengan langkah pasti satu persatu wisudawan menuju podium untuk dilantik oleh Ketua STAH Dharma Nusantara Jakarta Prof. Dr. Ir. I Made Kartika Dhiputra, Dipl.-Ing. Pada saat yang sama seluruh wisudawan menerima Ijazah dan Akta 4 (Empat). Suasana haru bercampur bahagia tercermin nampak pada wajah para wisudawan, bahwa inilah saatnya kebahagiaan hasil perjuangan selama ini di bangku kuliah. Gemblengan, tantangan, tugas, masalah semua dapat teratasi dengan kegigihan dan ketekunan tanpa mengenal putus asa.

Janji Wisudawan dibacakan oleh dua perwakilan mahasiswa dan mahasiswi yaitu yang diikuti secara serentak oleh seluruh wisudawan dan wisudawati,

Dilanjutkan kemudian Kesan dan Pesan Wisudawan yang dibawakan oleh Lulusan terbaik dengan IPK 3, 95 yaitu Eka Sulastri kelahiran Blitar Jawa Timur. Secara dalam kesan yang dikemukakan adalah bahwa mahasiswa merasa sangat bangga menjadi bagian dari keluarga besar STAH DN Jakarta karena telah mampu memberikan banyak pengalaman berharga yang berguna bagi pengembangan diri, dan mampu menggiring menjadi individu yang cerdas secara intelektual, spiritual dan emosional.

Lulusan Terbaik Wisuda 2014 STAH DN Jakarta

Eka Sulastri, Lulusan Terbaik Wisuda 2014 STAH DN Jakarta

Mampu pula menunjukkan eksistensi dalam berkarya terbukti dari beberapa prestasi yang telah ditorehkan dalam mengikuti ajang dan peristiwa yang dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas SDM Hindu baik tingkat lokal dan nasional sebagai wujud kesungguhan dalam upaya turut serta dalam meningkatkan kualitas diri dan masyarakat. Harapan juga terlontar dengan suatu maksud membangun kampus tercinta untuk lebih baik lagi meningkatkan management komunikasi baik antar dosen, staf, dosen dengan mahasiswa maupun dengan orang tua, karena salah satu unsur yang dapat memberikan sumbangsih dalam upaya meningkatkan kualitas lembaga adalah terjalinnya komunikasi yang efektif.

Acara dilanjutkan dengan penyerahan Kendi Ilmu Pengetahuan sebagai lambang mengalirnya terus menerus Ilmu pengetahuan tanpa henti dari generasi ke generasi, agar tak henti-hentinya kita belajar dan selalu berkesinambungan. Kendi ini diserahkan kepada mahasiwa baru oleh perwakilan wisudawan.

Lagu Bagimu Negeri mengingatkan bahwa kita harus berbuat untuk negeri sesuai swadarma masing-masing.

Sambutan-sambutan yang diawali dengan sambutan dari Ketua STAH DN Jakarta. Dalam sambutannya Ketua STAH DN Jakarta mengungkapkan bahwa STAH Dharma Nusantara Jakarta, adalah milik umat Hindu yang memiliki tujuan untuk mengembangkan mahasiswa menjadi sarjana yang Sujana. Jadi Jangan dilihat siapa yang memimpin tetapi lihatlah Stah sebagai institusi milik umat dengan tujuan mulia sehingga perlu didukung oleh seluruh umat Hindu sehingga keberadaannya dapat benar-benar berfungsi guna melahirkan insan-insan yang benar-benar memiliki kompetensi baik secara spiritual maupun intelektual yang memadai sehingga berguna bagi agama, keluarga, bangsa dan negaranya. Memiliki kualitas spiritual dan berbudi pekerti yang baik, lahir Hindu dan matipun tetap Hindu. Dalam kesempatan yang sama ketua STAH juga mengungkapkan bahwa saat ini telah sedang dalam proses Re-Akreditasi Ban PT setelah mengajukan /menyampaikan dokumen serta lampiran-lampiran yang dipersyaratkan dengan dokumen terkait dengan portfolio, Borang dan Evaluasi Diri dan juga telah divisitasi oleh tim Assesor yang terdiri dari Prof. Dr. Ida Ayu Gde Yadnyawati, M.Pd dan Dr. Ni Putu Listiawati, SE-Ak., MM pada tanggal 19September 2014. Sampai larut malam , dalam kiat, usaha dan upaya sehingga dapat terbentuk “Branch Image yang baik” bagi STAH Dharma Nusantara Jakarta sebagai satu-satunya Lembaga Pendidikan Tinggi Agama Hindu yang berwibawa dan kompetens di Jakarta. Dalam kesempatan ini pula Selaku Ketua dan Mewakili Pimpiman STAH DN Jakarta mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Team Assesor maupun semua pihak terkait : Sivitas Akademika, Pihak Yayasan Dharma Nusantara, Yayasan Mandira Widayaka, Pengurus dan Pengempon Pura Adiya Jaya Rawamangun Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat maupun DKI, Suka-Duka Hindu Dharma Se-Jabodetabek khususnya banjar Jakarta Timur, Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, beserta jajarannya terkait dalam pembinaan Lembaga Pendidikan Tinggi Agama Hindu, serta para Stake Holder lainya yang terpanggil “ Jengah, Lascarya dan Legowo untuk ikut berperan dan ambil bagian dalam rangka meningkatkan kualitas “Sumber Daya Manusia Hindu Nusantara yang cerdas dan religius” melalui proses pendidikan berkelanjutan, dengan segala bantuan baik moril , materiil maupun kerjasama dan doa restunya, semoga STAH Dharma Nusantara Jakarta dapat mempertahankan statusnya “B” Akreditasi BAN PT yang selama ini telah dicapai, guna pemantapan pengabdian Tri Dharma selanjutnya. Selain itu juga diungkapkan STAH juga telah berupaya pada penguatan sarana prasarana dan sampai kini masih berproses dan berharap kepada generasi muda tetap semangat dan meneruskan agar bersiap diri untuk tetap berjuang akan keberadaan lembaga Perguruan Tinggi Hindu yang satu-satuya di Ibukota ini sehingga mampu berdiri kokoh baik dari penguatan sisi sarana prasarana terutama Bangunan Gedung maupun Sistem dan Management untuk menunjang terlaksananya Tri Dharma Perguruan Tinggi .

Diakhir sambutannya Ketua STAH mengucapkan Selamat dan Sukses kepada para Wisudawan/Wisudawati beserta keluarga yang berbahagia atas keberhasilan mereka menyandang gelar S.Pd.H., maka mulai saat ini teruskanlah cita-cita Saudara semua sebagai Duta Agama Hindu dalam mencerahkan dan meningkatkan Sradha – Bhakti umat Hindu melalui Dharma Sadhana di Bumi Nusantara berpedoman “NIAT BAIK”, dan jangan pernah melupakan Almamater Saudara.

Terimakasih juga disampaikan terima kasih kepada Para Pandita/Sulinggih yang berkenan sebagai Manggala Upacara maupun Wiku Saksi dalam acara Upanayanam dan Samawartanam; kepada Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, Bapak Prof. Dr. IBG. Yudha Triguna MS yang dengan penuh ketulusan telah memberi dukungan moril maupun materiil dalam memajukan STAH Dharma Nusantara Jakarta; begitu juga kepada segenap Pengurus Yayasan Dharma Nusantara, para Guru Besar, Dosen dan Staf Akademik / non Akademik serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas kerja keras dan tim work-nya yang baik sehingga Upacara Dies Natalis ke XX dan Wisuda ke XII, dapat berlangsung sehidmat dan semeriah ini,Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa Asung krtha war?nugraha dalam membimbing kita semua.

Ketua Umum Yayasan Dharma Nusantara dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh IB Jayapati menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi atas kesuksesan lembaga STAH DN untuk ikut dalam upaya pencerdasan umat dan telah mampu melaksanakan wisuda kali ini yang berarti tahap-tahap proses pendidikan sebagaimana yang diisyaratkan oleh peraturan dan perundangan yang berlaku secara formal telah dijalankan oleh STAH hingga akhirnya seluruh mahasiswa pada jenjang tersebut dapat sampai pada tahap akhir dari proses yang diisyaratkan.

Dalam sambutannya ketua Yayasan juga mengajak dan mengingatkan bahwa kewajiban bagi seluruh umat untuk ikut serta berpartisipasi dan peduli terhadap upaya pembinaan anak-anak dalam menyiapkan mereka menjadi generasi penerus masa depan Hindu.

Diakhir sambutanya disampaikan ucapan selamat dan sukses kepada para wisudawan/wisudawati atas keberhasilan dalam menjalani seluruh proses yang panjang seraya berpesan bahwa teruslah belajar dan menerapkan ilmu yang diperoleh karena sesungguhnya universitas yang sebenarnya adalah dimasyarakat dalam hidup kita.

Sambutan Dirjen diawali dengan pujian secara tulus diberikan kepada team paduan suara yang telah menunjukan kesungguhan dan prestasinya dalam acara ini sehingga menghasilkan karya maksimal walaupun itu bukanlah bidangnya. Beliau menggaris bawahi, kalau kita rajin latihan dan semangat untuk itu walaupun bukan bidangnya pasti bisa juga berbuat maksimal bahkan berprestasi.

Beliau juga memberikan apresiasi dan penghargaan kepada STAH Dharma Nusantara atas segala prestasi yang telah dicapai selama ini. Sebagai wakil pemerintah tentu sangat mendukung dan akan berusaha memperhatikan dan sejauh mungkin memfasilitasi, setiap gagasan dan upaya positif dalam bidang pendidikan.

Kepada para Wisudawan dan Wisudawati yang telah berprestasi dan berhasil mendapatkan predikat Mahasiswa Terbaik dan Cum laude beliau menyarakan untuk mengirimkan aplikasi permohonan beasiswa kepada Dirjen Agama Hindu Kementerian Agama RI karena anggaran untuk itu ada dan harus diinformasikan, sehingga dapat dimanfaatkan oleh yang benar-benar memiliki prestasi untuk melanjutkan ke jenjang S2.

Diakhir sambutannya Dirjen mengucapkan selamat kepada Wisudawan dan Wisudawati semoga dengan meraik gelar Sarjana Pendidikan Agama Hindu (S.Pd.H) ini dapat berkecimpung dalam dunia pendidikan, serta dapat mengabdikan diri dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama.

Setelah dipanjatkan mantram doa penutup oleh Jero Mangku Nyoman Sutisna, salah seorang pinandita di Jakarta, prosesi penutupan Sidang Terbuka Senat STAH Dharma Nusantara Jakarta ditutup kembali oleh Ketua Senat dengan Mengetuk Palu sidang sebanyak 3 kali, iring-iringan bendera, bedel dan Para Senat dan Guru Besar meninggalkan Panggung Kehormatan.

Acara diakhiri dengan ramah-tamah tamu undangan para wisudawan, foto bersama dan makan siang bersama. Suasana menjadi bertambah ceria dengan alunan lagu-lagu bernada ceria mengiringi suasana makan siang bersama. Berangsur-angsur suasana kegembiraan terbawa ke rumah masing-masing tepat pukul 13.00 Wib sesuai waktu yang disediakan oleh pengelola gedung, dan ……susana bahagia, gembira, haru semoga bukan merupakan hal yang akhir tapi sebagai batu pijakan melanjutkan kehidupan yang lebih baik dalam menatap masa depan. Astungkara…!!!

  • DOWNLOAD

  • Jurnal PASUPATI ISSN 2303-0860

  • Memajukan SDM Hindu

    Salah Satu Karya Dosen STAH DNJ

    Memajukan SDM Hindu

  • Categories

  • Recent Posts

  • Archives

  • DHARMAGITA

    Mrdukomala

    Ong sembah ninganatha tinghalana de tri loka sarana

    Ya Tuhan sembah hamba ini orang hina, silahkan lihat oleh Mu penguasa tiga dunia

    Wahya dhyatmika sembahing hulun ijongta tanhana waneh

    Lahir bathin sembah hamba tiada lain kehadapan kakiMu

    Sang lwir Agni sakeng tahen kadi minyak saking dadhi kita

    Engkau bagaikan api yang keluar dari kayu kering, bagaikan minyak yang keluar dari santan

    Sang saksat metu yan hana wwang ngamuter tutur pinahayu

    Engkau seakan-akan nyata tampak apabila ada orang yang mengolah ilmu bathin dengan baik

  • STATISTIK

  • Blog Advertising - Advertise on blogs with SponsoredReviews.com