stahdnj.ac.id

STAH Dharma Nusantara Jakarta
Subscribe

DIES NATALIS XVII DAN WISUDA IX STAH DHARMA NUSANTARA JAKARTA

September 26, 2011 By: admin Category: Pengumuman

card

Pengumuman TES SPMB GEl II STAH DN Jakarta

August 08, 2011 By: admin Category: Pengumuman

Diumumkan Bahwa Ujian Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Gelombang II STAH Dharma Nusantara Jakarta akan diadakan pada :

Tgl. 20 Agustus 2011.

Materi Ujian

- Bahasa Inggris

- Agama Hindu

- TPA

Demikian Pengumuman ini atas perhatiannya diucapkan terima kasih

Panitia

SINERGI AGAMA HINDU DAN SENI SEBAGAI POTENSI PEMBENTUKAN BUDI PEKERTI

February 01, 2011 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh

I Wayan Gama*

Ketua STKIP Agama Hindu Amlapura

Manusia adalah mahluk ciptaan Yang Kuasa memiliki tingkat kecerdasan dan keunggulan tersendiri bila dibandingkan dengan mahluk lainnya. Salah satu keunggulan dimaksud adalah wiweka. Yakni pikiran pada tingkat lebih tinggi, dimana pikiran mampu melakukan seleksi terhadap sesuatu hal yang memiliki nilai kekal atau tidak kekal, benar atau tidak benar (Donder,2007:214). Ahli lain menyebutkan : ” pikiran adalah alat batin untuk berpikir” (Poerwadarminta,1976:752). Dengan demikian wiweka berarti kesadaran batin dalam tingkat yang lebih tinggi, atau akal budi baik, yang lebih dikenal dengan sebutan budi pakerti. Kesadaran batin ini bisa dicapai melalui berbagai aspek ilmu pengetahuan seperti : dalam ilmu sosial, budaya, agama, dan sebagainya.

Pengetahuan agama akan dapat memberikan tuntunan dalam berbagai aspek kehidupan, yang mencakup semua unsur kebudayaan seperti: sistem kepercayaan, organisasi, ilmu pengetahuan, bahasa, seni, mata pencaharian, dan teknologi. Dari tujuh unsur kebudayaan tampak seni memiliki fungsi yang sangat efektif, yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembinaan dan pembentukkan budi pekerti. Masalahnya adakah agama, yakni agama Hindu bersinergi dengan seni dalam pembentukan budi perkerti?

Agama sebagai pundamen pembentukan budi pekerti memilki dasar sastra sebagai pijakan, lebih-lebih agama Hindu sebagai agama tertua tentu memiliki dasar sastra yang bernilai tinggi. Sastra dimaksud antara lain :

Dalam Wi??u Samhit? disebutkan bahwa : kemampuan, kebenaran, pengendalian pikiran, kesucin, pelaksanaan amal, pengendalian diri, tanpa kekerasan, pelayanan guru, bersiarah, kesederhanaan, tanpa ketamakkan, pemujaan terhadap para dewa, kepada para brahmana, sebagai unsur dari S?m?ya Dharma, merupakan hukum umum bagi semua orang.

Dalam kitab Mah?bh?rata disebutkan bahwa pelaksanaan ?raddh? atau persembahan sajian kepada arwah leluhur, kesederhanaan keagamaan (tapa), kebenaran,

menghindari kemarahan, puas dengan seorang istri saja, kemurnian pendidikan, absensi cemburu, pengetahuan sang diri, dan kesabaran sebagai dasar dari Dharma.

Dalam Padma Pur?na dijelaskan bahwa dharma merupakan hasil dari pembatasan, kebenaran kesederhanaan, amal, pengendalian diri, kesabaran, kemurnian tanpa kekerasan, ketenangan dan tanpa mencuri, pemberian sedekah pada orang yang berhak, memusatkan pikiran pada Tuhan, memuliakan orang tuanya, persembahan satu porsi makanan sehari-hari pada semua makhluk, dan pemberian makanan pada seekor sapi, semua itu merupakan ciri-ciri dharma.

Dalam Matsya Pur?na dijelaskan bahwa bebas dari kebencian, absensi dari rasa iri hati, pengendalian indria, kesederhanaan, membujang, kebenaran, kesabaran, dan ketabahan, membentuk dasar san?tana dharma.

Mah?rsi Patañjali menguraikan filsafat Raja Yoga bahwa 10 kebajikan harus dilakukan oleh semua orang. Lima yang pertama adalah : ahimsa ( tanpa kekerasan), satya (kebenaran), brahmacari ( membujang dalam pikiran perkataan dan perbuatan), astya (tidak mencuri), dan aparigraha (tanpa iri hati) hal ini membentuk yama atau pengendalian diri. Lima pengendalian diri lagi yaitu : ?auca (kemurnian luar dan dalam), santosa (kepuasan), tapas (kesederhanaan), swadhy?ya (belajar kitab suci atau penguncaran mantra), dan ?warapranidh?na (menyerahkan segala hasil kerja pada Tuhan), yang semuanya itu membentuk nyama atau ibadah keagamaan (Sivananda, 1993:44). Semua butir-butir di atas mengandung jati diri yakni nilai-nilai etika yang mengarah pada pembentukan budi pekerti manusia sejati.

Manusia memiliki keyakinan terhadap Ida Sang Hang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta, pemelihara, pelebur serta mengetahui segalanya, Beliau diyakini memiliki kekuatan menciptakan hukum karma. Keyakinan ini menyusup sampai ke lubuk hati umat manusia, sehingga manusia sebagai makhluk berpikir berusaha menghidari perbuatan-perbuatan yang amat tercela (Parisada Hindu Dharma Kota Denpasar,2001:56). Mengacu pada pengertian dimaksud maka norma agama senaniasa menerapkan ajaran mulia yang tidak hanya sekadar penampilan luar saja, namun semuanya itu benar-benar menuntun orang-orang untuk dapat berbuat yang lebih luhur. Inilah yang menjadikan manusia memiliki etika, yang dalam ajaran agama Hindu dikenal dengan sebutan Etika Hindu

Untuk dapat terwujudnya tujuan-tujuan dimaksud maka materi yang diajarkan dalam agama Hindu adalah menyangkut perbuatan-perbuatan yang baik, dan semuanya bersumber dari kitab-kitab suci. Salah satu diantaranya yakni dalam Kitab Sarasamuccaya disebutkan sebagai berikut:

Surupatamatmagunam ca vistaram kulanvayam

Drvyasmad-dhisañcayam, naro hi sarvam labhate yathakrtam

Sadauubhenatmakrtena karmana.

( Sarasamuccaya, 21)

Terjemahan

Maka orang yang melakukan perbuatan, kelahirannya dari sorga kelak menjadi orang yang rupawan, gunawan, muliawan, hartawan, dan berkekuasaan, buah hasil perbuatan dapat olehnya.

Mengacu pada nilai sastra di atas maka inti dari pada eteka menekankan pada nilai atau asas-asas akhlak/moral, yang sesungguhnya etika ini memiliki kesepadanan makna dengan apa yang sering disebut dengan budi pekerti adalah akhlak berbuat kebaikan (Poerwadarminta,1976:158 ), dengan kata lain budi pekerti adalah pelajaran tentang apa yang benar atau baik dalam prilaku Budi pekerti memberi petunjuk pada manusia agar mereka berkelakuan terhadap satu sama lain, termasuk terhadap semua ciptaan Tuhan. Ia mengandung prinsip-prinsip sistematis, yakni bagaimana seharusnya orang bertindak mulia, sehingga secara lahiriah orang bisa menerima perlakuan dimaksud dengan rasa senang, santih/damai, dan secara niskala Sang Pencipta berkenan menyaksikan perilaku yang berbudi seperti itu. Inilah perilaku benar yag disebut ?ad?c?ra.

Prinsip dasar budi pekerti dan etika, dalam upanisad dijelaskan bahwa ?tman atau sang diri adalah satu, yakni satu kehidupan bergetar dan berkembang dalam semua aspek hidup, jiwa, rokh, termasuk pribadi dari pada rokh itu, baik itu dalam kehidupan binatang maupun manusia. Jadi yang tidak kalah penting ditekankan di sini adalah rasa kesamaan kemanusiaan yang disampaikan melalui ajaran “ Tat Twam Asi” mereka akan dapat menghayati secara menyeluruh dalam kesadaran mulia melalui alur pikiran yang dikaji secara pragmatis dan rasional (Pudja, 1983:13). Sebagai kebenaran agama yang menjadi pondasi dari etika, moral, atau prilaku yang benar, maka sehubungan dengan hal tersebut poin-poin yang digaris bawahi dalam prinsip yang dimaknai dan disikapi adalah :

  1. jangan membunuh,
  2. jangan merugikan orang lain,
  3. sayangi tetangga seperti menyayangi diri sendiri, (Sivananda,1993:65).

Prinsip-prinsip seperti tersebut di atas tentu merupakan intisari dari berbagai ragam istilah Hindu seperti: dwi marga, tri kaya parisda, catur dharma, panca yama brata, sad atatayi, sapta timira, asta dustha, sanga widha bhakti, dasa dharma, dan yang lainnya. Konsepsi ini perlu disentuhkan dan dipahami oleh masyarakat karena di dalamnya terkandung nilai-nilai dan pengertian yang isensial yakni:

a. Bila kita membunuh orang lain, sebenarnya kita membunuh diri sendiri.

b. Bila kita merugikan orang lain, sebenarnya kita merugikan diri sendiri.

c. Bila kita menyayangi tetangga, sebenarnya kita telah menyayangi diri sendiri.

Penanaman pengertian seperti itu sangat diperlukan, karena di dalamnya terkandung nilai-nilai kebenaran spiritual, bahwa segenap alam ini adalah diri kita sendiri. Inilah budi pekerti dan etika Hindu yang menjadi prinsip dasar kebenaran metaphisik yang melandasi seluruh kode etik Hindu, yang hidup bergetar menjiwai seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk di dalam kehidupan berkesenian.

Proses pemurnian sebagai Prinsip dasar budi pekerti meliputi poin-poin seperti tersebut di atas, maka akar dari pada budi pekerti adalah pemurnian mental melalui penahanan diri, dari semua prilaku dan perbuatan hina, serta melakukan kebajikan secara aktif dan terus-menerus. Melakukan kebajikan kepada semua pihak, meliputi segala ruang dan waktu dalam bentuk ahimsa, satya, dan brahmacarya. Semuanya itu melambangkan proses pelenyapan dosa. Dalam hal ini, sifat-sifat keakuan harus benar-benar dijauhi. Dikatakan demikian karena bila seseorang sedikit saja mendapat pengaruh keakuan, ia tidak akan dapat mengetahui apa yang benar dan apa yang salah. Untuk dapat mewujudkan proses pemurnian ini diperlukan kecerdasan yang sangat halus dan tajam, yang sesungguhnya proses pemurnian dimaksud secara mentradisi telah disampaikan secara turun-temurun oleh masyarakat pendukungnya kepada generasi penerus dengan berbagai cara, baik secara oral, yakni dengan teknik (matuturan satua), maupun dengan cara tertulis yakni berupa penyuratan dan pembacaan naskah sastra agama, dan yang tidak kalah pentingnya adalah melalui media seni.

Seni sebagai media, memiliki kekuatan yang dapat memenuhi kebutuhan dan keperluan manusia. Pada jaman prasejarah kelompok orang dalam masyarakat tampak memuja dewa, roh, atau sesuatu yang khusus dengan memukul gendang dan bunyi-bunyian. Jadi seni musik mempunyai fungsi kerohanian untuk mendekatkan manusia dengan dewa yang dipuja. Kemudian fungsi ini diteruskan dalam kehidupan tari-tarian. Dengan demikian seni tari juga meneruskan fungsi spiritual itu (The Liang Gie, 2004: 47-48). Hal ini wajar, karena kehidupan seni juga diamanatkan dalam kitab suci Veda ( Titib. 1998 : 464 – 467).

Bagi kehidupan masyarakat Hindu, fungsi dimaksud tampak masih berlangsung. Hal ini terbukti dari adanya gamelan dan tari-tarian sakral yang hanya dimanfaatkan atau disuguhkan dalam suatu upacara tertentu, seperti tari sangiang, topeng sidakarya, dan yang lainnya, yang difungsikan sebagai kekuatan penolak kejahatan dalam rangka memohon keselamatan dan kesejahtraan lahir batin bagi umat dalam arti luas.

Sejalan dengan kebutuhan hidup dan kehidupan masyarakat, maka fungsi seni juga mengalami perkembangan, seperti fungsi pendidikan, yang dapat menjangkau beberapa hal seperti : keterampilan, dan berbagai kreatifitas lainnya. Yang tidak kalah pentingnya dari pada fungsi seni itu sendiri adalah fungsi komunikatif. Dengan demikian kesenian memiliki konteks yang beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan dan struktur sosial budaya masyarakat pendukunya. Hal ini wajar karena seni pada dasarnya mengandung berbagai nilai. Nilai utamanya adalah estetika, yakni mencipta sesuatu yang menawan bagi penerimanya.

Nilai lainnya adalah nilai pengetahuan dan informasi. Lebih lanjut dikatakan bahwa yang paling penting dalam seni adalah nilai hidup yang diungkapkan di dalamnya. Nilai-nilai ini berupa problematik yang biasanya dipandang secara filsafati, disadari atau tidak oleh senimannya. Nilai hidup ini menunjukkan tingkat kepahaman seniman terhadap kehidupan ini, juga menunjukkan luasnya pandangan seniman. Nilai-nilai seni yang digemari oleh kaum cendekiawan adalah nilai-nilai ini. Kesenian lalu dipandang sebagai suatu metode untuk mengungkapkan kepahaman terhadap suatu kehidupan. Kalau ilmuwan dan filosuf memahami hidup ini dengan disiplin nalarnya, maka seniman bukan hanya bekerja berdasakan nalar, melainkan dengan seluruh aspek dimensi rohani manusia, seperti menghayati hidup sehari-hari. Bedanya bahwa bagi ilmuwan penghayatan hidup sehari-hari berlangsung tanpa bentuk, sedangkan pada seniman penghayatan, dibingkai dalam bentuk intisari hakiki pemahamannya ( Sumardjo,2000:199-200).

Uraian di atas menggambarkan bahwa keutamaan seni bukan hanya dinilai dari segi keindahan saja, melainkan juga kemapuannya mengungkap sesuatu seperti nilai sejarah, agama dan sebagainya. Khususnya berkaitan dengan agama, tidak terkecuali termasuk agama Hindu, dalam rangka penyampaikan ajaran-ajarannya sering dilakukan melalui media seni. Bahkan bagi kebanyakan seniman dan masyarakat pada umumnya menganggap dan merasakan bahwa penyampaian ajaran agama terasa lebih efektif dan lebih meresap bila dilakukan melalui pemanfaatan media seni. Dikatakan demikian karena melalui media seni di samping dapat disampaikan ajaran agama sekaligus juga sebagai hiburan. Dengan demikian seni memiliki multi fungsi. Multi fungsi ini yang menyebabkan orang merasa lebih tertarik dan lebih cepat mengerti mempelajari agama memlaui media seni, baik itu seni pentas seperti: seni pertopengan; seni pedalangan, seni rupa dan sebagainya. Melalui kesenian ini banyak dapat disampaikan tentang ajaran agama dan filsafat kehidupan manusia.

Kemanunggalan agama dan seni sebagai potensi pembentukan budi pekerti, telah dijelaskan bahwa nilai agama meresap dan menjiwai seluruh aspek kehidupan manusia termasuk kehidupan dalam berkesenian. Sebaliknya seni dapat dimanfaatkan sebagai media, baik untuk mendekatkan manusia dengan dewa yang dipuja maupun untuk menginformasikan dan mengkomunikasikan nilai-nilai agama kepada masyarakat. Ini bentuk kemanunggalan agama dan seni.

Realitanya tampak jelas ketika agama berbicara masalah unsur-unsur ritual, kehadiran seni dalam ritual agama tidak dapat dielakkan lagi, menjadi satu kesatuan yang akrab dan padu (Sumandiyo Hadi,2006:297). Dalam konteks ritual agama, khususnya dalam agama Hindu, tampak jelas bahwa polanya benar-benar alamiah. Kegiatan semacam ini dapat dilihat dalam pola-pola kepercayaan mitos dengan jenis-jenis ritus magis. Dalam hal ini seni diyakini mengandung kekuatan untuk dapat menghubungkan kehendak manusia dengan penguasa-Nya. atau untuk menyiasati perjalanan alam, dan mempengaruhi kekuatan lainya. Karena itu seni dimanfaatkan atau difungsikan sebagai media dalam kegiatan dimaksud, yang secara fungsional memiliki dimensi vertikal dan horisontal.

Secara vertical terkait antara hubungan munusia dengan Sang Pencipta atau Penguasa alam. Hal ini tampak jelas ketika seorang seniman ( penari) sering terjadi kontaks dengan Sang Pencipta dan terjadi trans (kerauhan). Sedangkan secara horizontal kaitannya, antara manusia dengan manusia, dalam hal ini seni berfungsi sebagai media informasi dan komunikasi untuk menyampaikan nilai-nilai ajaran agama, yang seakaligus berfungsi sebagai potensi pembentuk moral dan budi pekerti.

Hal ini jelas, karena seni sejatinya sebagai media informasi dan komunikasi, akan senantiasa mempublikasikan nilai-nila ajaran agama yang dikemas ke dalam nilai budaya agama Hindu yakni: siwam (kesucian), satyam (kebenaran), dan sundaram (keindahan) lewat potensi rasa dan intuisi, serta melalui potesi ini pula manusia /masyarakat dibawa dan diangkat ke dalam pengalaman-pengalaman intuitif dan moral yang lebih tinggi. Seni memberikan pengalaman-pengalaman transcendental yakni siraman rohani kepada manusia /masyarakat, yang bisa jadi pengalaman. Inilah moral yang digali dan diangkat dari bingkai agama Hindu kemudian disentuhkan kepada manusia /masyarakat melalui media seni, yang sesungguhnya semuanya itu merupakan sinergi antara agama Hindu dengan seni dalam rangka pembentukan budi pekerti manusia.

Kekuatan seni untuk mengangkat, menginformasikan dan mempublikasikan nilai agama dimaksud mencakup isi dari pada kerangka agama Hindu yakni: tattwa, susila dan upacara, dengan kemasan siwam, satyam, sundram. Pada prinsipnya semua seni memiliki kekuatan sebagai media infomasi dan potensi pembentukan budi pekrti seperti tersebut di atas, namun demikian dapat dipahami bahwa dari penggolongan seni yang ada, seni pertunjukan memiliki fungsi yang sangat dominan sebagai media, dan hampir semua jenis seni pertunjukkan memilki kekuatan seperti itu. Jenis kesenian seperti ini memiliki massa penggemar dari dunia ana-anak, dewasa dan orang tua. Salah satu jenis seni pertunjukkan yang memiliki massa penggemar semua lapisan masyarakat adalah seni pertopengan.

Dalam hal ini seninam melalui pertunjukkan topeng mendapat peluang terbuka untuk menyampaikan nilai-nilai ajaran agama termasuk nilai-nilai adat, dan intepretasi dialektika alam sekala dan niskala, secara oral melalui dialognya. Melalui pertunjukkan topeng dapat disampaikan simbol-simbol keagamaan yang difungsikan untuk mengejawantahkan nilai-nilai ajaran veda seperti itihasa yang divisualisasikan dalam bentuk drama seni pertunjukkan, misalnya seperti kekawin Mahabharata, Ramayana, Sutasoma, maupun berbagai caritera lain tentang sejarah, yang sarat akan kandungan filsafat, etika, tatakrama sebagai refleksi gambaran kehidupan. Inilah sebuah gambaran bentuk sinergi agama Hindu dengan seni sebagai potensi pembentukan moral dan budi pekerti, yang sesungguhnya sinergi ini memiliki cakupan yang sangat luas antar agama, masuk ke dalam semua penggolongan seni, dapat mengangakat harkat dan martabat manusia ke dalam potensi moral, etika, dan budi pekerti yang lebih mulia.

Peningkatan budi pekerti dimaksud teraplikasi dalam Tri Hita Karana, yakni dalam hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa, hubungan manusia dengan sesama, dan hubungan manusia dengan lingkungan. Hubungan antar manusia dengan Tuhan dapat meningkatkan rasa percaya yang lebih mendalam kehadapan


Beliau (Tuhan), sehingga tumbuh rasa hormat dan bakti kehadapan-Nya. Hubungan antar manusia dengan sesama menumbuhkan toleransi yang tinggi dengan segala etika baik dalam hal berpikir, berbicara maupun berbuat sesuatu. Hubungan antar manusia dengan alam lingkungan akan menumbuhkan rasa cinta terhadap alam lingkungan, sehingga manusia tidak berbuat sembarangan terhadap lingkungan, dan bahkan ingin memelihara lingkungan karena adanya rasa saling berkepentingan dan saling menguntungkan untuk kebutuhan hidup. Inilah wujud nyata sinergi agama Hindu dengan seni sebagai potensi pembentukan budi pekerti.

Agama Hindu senantiasa menerapkan ajaran-ajaran mulia yang benar-benar mendorong dan menuntun orang-orang untuk dapat berbuat yang lebih mulia. Dalam menyampaikan ajaran-ajarannya, seni merupakan salah satu media yang sangat efektif. Dikatakan demikian karena melalui media seni di samping masyarakat dapat menikmati hiburan sekalian dapat memetik nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam ajaran agama.

Kegiatan-kegiatan nyata seperti ini dapat dilihat dalam pola-pola kepercayaan mitos dengan jenis-jenis ritus magis. Dalam hal ini seni diyakini mengandng kekuatan yang dapat menghubungkan kehendak manusia dengan penguasa-Nya, dan dengan roh roh nenek moyang, atau dapat dimanfaatkan untuk menyiasati perjalanan alam dan mempengaruhi kekuatan lain. Dengan demikian secara fungsional seni memiliki dimensi vertikal dan horizontal. Secara vertical adalah menyangkut hubungan seni dengan Sang Pencipta, sedangkan secara horizontal adalah menyangkut hubungan seni dengan masyarakat pendukung/penikmat seni dalam sentuhan pesan-pesan spiritual agama meliputi tattwa, susila dan upacara yang disampaikan dengan kemasan siwam, satyam sundaram. Sehingga para pendukung/penikmat seni dapat mencerna dengan gamblang, nilai-nilai yang positif, yang dapat dimanfaatkan menuju ke arah peningkatan moral.

Kegiatan seperti ini biasa dijumpai dalam berbagai aktivitas dan kreativitas seni terutama dalam seni pertunjukan, seperti seni pertopengan, yang dalam konteks pementasannya senantiasa mensinergikan nilai-nilai ajaran agama dengan seni sebagai potensi pembentukan budi pekerti.

Acara Angayubagia STAH DN Jakarta Memancarkan Fibrasi Positif, Ketulusan & Kesucian Hati

July 29, 2009 By: admin Category: Berita/News

STAH DN J, Jakarta, Bertempat di Gedung Serba Guna Komplek Pura Adityajaya Rawamangun 26 Juli 2009, STAH Dharma Nusantara Jakarta mengadakan Acara Angayubagia telah terakreditasinya Prodi Pendidikan Agama Hindu STAH DN Jakarta Oleh BAN PT. Acara berlangsung semarak penuh kekeluargaan, suka cita dan kekompakan antar udangan yang hadir.

Diiringi Lagu Om, Swastyastu yang langsung dinyanyikan oleh Mc yaitu Bgs. Sutarta memberikan angayubagia suasana khusus pada acara ini sehingga memberikan energi positif, kesucian dan ketulusan hati untuk bergabung bersama dalam acara yang tergolong acara internal keluarga besar STAH DNJ ini.

Hadir dalam acara ini Ketua Dewan Pembina Yayasan Dharma Nusantara Bp. dr. Brata Punya, Ketua Yayasan Dharma Nusantara Bp. Ir. Made Sudarta, MBA, Ketua STAH Dharma Nusantara Jakarta Bp. Prof. DR. Ir. I Made Kartika D., Dipl-Ing, Puket I Stah Dharma Nusantara Jakarta Bp. I Nyoman Yoga Segara, M.Hum, Puket II Bp. IGAK Rai Sukiartha, S.Ag, MM, Puket III Bp. Drs. I Wayan Suwira Satria, MM Kelian Banjar Jakarta Timur, Selatan, Ratu Pedanda, Para Dosen, Pegawai, Alumni STAH DN J, Mahasiswa-mahasiswi STAH DN J serta undangan lainya.

Ketua STAH DN Jakarta, dalam sambutannya berharap agar prestasi selama ini yang telah diraih, perlu ditingkatkan lagi, dan jangan puas dan berhenti sampai pada Akreditasi. Tetapi yang lebih penting apakah yang harus dilakukan setelah akreditasi ini. Kepada Mahasiswa Ketua STAH berharap agar lebih giat lagi meningkatkan prestasi belajarnya, gunakan fasilitas yang telah disediakan dengan sebaik-baiknya seperti Laboratorium Bahasa, Perpustakaan. Ketua STAH juga berharap kepada keluarga besar STAH DN J untuk bekerja sama bahu membahu memajukan STAH DNJ khususnya dan memajukan pendidikan umat hindu umumnya.

Dalam Sambutannya, Ketua Yayasan Dharma Nusantara, menegaskan bahwa STAH Dharma Nusantara adalah Unit Usaha Yayasan yang bergerak dalam bidang pendidikan yang dimulai pada tahun 1998. Sehingga antara Yayasan dan STAH adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan Dalam perjalanannya STAH DN J mengalami berbagai tantangan dan cobaan dan berhasil dilaluinya dengan baik, hingga sekarang ini STAH Telah terakreditasi oleh BAN PT. Ketua Yayasan Berharap STAH menjadi lebih baik lagi dimasa mendatang.