stahdnj.ac.id

STAH Dharma Nusantara Jakarta
Subscribe

ILMU PENGETAHUAN UNTUK KESEJAHTERAAN HIDUP UMAT MANUSIA, MENURUT PERSPEKTIF HINDU

August 24, 2011 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh AA. Raka Mas*

Setelah bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan, seluruh rakyat menyadari, bahwa meraih ilmu pengetahuan yang setinggi – tingginya menjadi idaman yang hendak dicapai. Tidak peduli apakah rakyat itu tergolong petani, pekerja kasar, buruh, pegawai negeri, pegawai swasta. Militer dan sebagainya. Tidak ada halangan untuk maju dan menyekolahkan anak – anak, saudara – saudara sampai mencapai jenjang yang tertinggi.

raka

Semangat belajar kini sangat mengebu – gebu, hanya sayang dunia pendidikan masih banyak menghadapi rintangan agar rakyat Indonesia dapat maju dalam segala bidang ilmu pengetahuan.

Memiliki dan memperdalam ilmu pengetahuan sedalam – dalamnya adalah suatu hal yang sangat positif. Tuhan tidak menghendaki umatnya menjadi bodoh (avydia) dan karena kebodohannya lalu menjadi miskin. Tuhan telah mewujudkan dirinya sebagai Dewi Saraswati, dan Sakti dari Dewa Brahma. Dewi Saraswati digambarkan sebagai sesosok wanita cantik dengan atribut lainnya. Maksud dari lambang itu antara lain adalah agar umatnya senang dan cinta pada ilmu pengetahuan.

Dalam canakya Niti Sastra Bab IV. Sloka 5 disebutkan : Ilmu pengetahuan ibaratnya bagaikan kamadhenu, yaitu yang setiap saat dapat memenuhi segala keinginan. Pada saat orang berada di Negara lain, ilmu pengetahuan bagaikan seorang ibu yang selalu memelihata kita. Orang bijaksana mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah kekayaan yang rahasia, harta yang tak kelihatan. Dari sloka di atas, ada 4 macam yang dapat dicatat, bahwa ilmu pengetahuan adalah :

1. Setiap orang dapat memenuhi segala keinginannya

2. Sebagai seorang ibu yang selalu memelihara kita

3. Kekayaan yang rahasia

4. Harta yang tak kelihatan

Meninjau kesimpulan yang dimaksud oleh sloka di atas, ternyata ilmu pengetahuan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan seseorang insan. Dari sloka lain masih dapat kita sebutkan bahwa ilmu pengetahuan mempunyai makna yang berbeda yaitu dikatakan sebagai berikut : “Lahir di keluarga mulia, tampan, muda, sehat dan kuat, tidak berguna sama sekali kalau tidak berpengetahuan, bagaikan bunga kimsuka yang amat indah tetapi tidak ada bau harumnya”. (Canakya Niti Sastra, Bab IV. 21).

Jadi dari sloka ini, pemilikan pengetahuan dikaitkan dengan kegunaan sebagai seorang manusia. Itu berarti bahwa seseorang yang memiliki pengetahuan yang cukup dianggap telah mampu menunjukkan dirinya sebagai seseorang yang bermanfaat.

Dari sloka lain “Canakya Niti Sastra” Bab X. 1 disebutkan sebagai berikut :

“dhana hina na hinas ca

dhanikah sa suniscayah

vydiratnena yo hinah

sa hinah sarvavastusu

Artinya :

Orang yang kurang dalam harta benda, bukanlah orang miskin

Sebaliknya orang kaya adalah dia yang memiliki ilmu pengetahuan

Dia yang kurang dalam ilmu pengetahuan, sesungguhnya dalam

segala keadaan ia disebut orang miskin

Jadi, jelas sekali bagaimana posisi pentingnya arti pemilikan terhadap ilmu pengetahuan itu. Dari Niti Sataka karya Bhartihari, seorang raja di kerajaan Ujayini yang sekarang dikenal dengan nama kota Ujain di India, karya ini diterjemahkan oleh Dr. Somvir, kita mendapat pandangan yang lebih luas lagi tentang pengetahuan itu, antara lain pada sloka 12 disebutkan sebagai berikut :

“Harturyati na gocaram kimapi sam pusnati yatservad

hyarthibhyah prati padyamanamanisam prapnoti Vrddhimparam

kalpantesvapi na prayati nidhanam vidhyakhy – amantardhanam

yesam tanprati manamujjnata nrpah kastai saha spardhate”

Dr. Somvir memberikan penjelasan terhadap isi sloka tersebut sebagai berikut :

“pengetahuan adalah kekayaan yang tidak bisa dicuri oleh siapapun,

semakin banyak diberikan akan semakin berkembang, dengan

memiliki pengetahuan akan hadir kedamaian dalam diri manusia”

Dalam sloka diatas penyair mengkritik para penguasa atau pemimpin yang menunjukkan kesombongan terhadap para ahli dalam sastra, agama dan mereka bukan hanya perlu dihormati di negaranya sendiri, akan tetapi di seluruh dunia. (Dr. Somvir, 2007 : 8).

Dari penjelasan di atas, ada 4 (empat) hal yang dapat dicatat :

1. Pengetahuan adalah kekayaan yang tidak bisa dicuri.

2. Semakin banyak diberikan (diajarkan) akan semakin berkembang.

3. Dengan memiliki pengetahuan akan menghadirkan kedamaian bagi

pemiliknya

4. Ada suatu pesan dan kritik oleh penulis Niti Sataka ini, adalah agar

orang yang berilmu dihormati baik di dalam dan di luar negeri. Para

penguasa hendaknya tidak sombong terhadap para ilmuwan tersebut.

Dari kedua sumber ini yakni Canakya Niti Sastra dan Niti Sataka, dapat dipetik inti sarinya, bahwa ilmu pengetahuan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pengetahuan dapat dipandang sebagai :

1. Kamadhenu ; yang dapat memenuhi segala keinginan setiap saat.

2. Seorang ibu yang selalu memelihara kita.

3. Kekayaan atau harta yang sangat rahasia.

4. Memiliki pengetahuan adalah memiliki kegunaan sebagai seorang

manusia.

5. Pengetahuan adalah kekayaan yang tidak dapat dicuri.

6. Semakin banyak pengetahuan itu diajarkan pengetahuan itu makin

berkembang.

7. Pemilik pengetahuan mampu menghadirkan kedamaian dalam

dirinya

8. Para ilmuwan seyogyanya dihormati oleh para penguasa (pemimpin

bangsa) baik di dalam dan di luar negeri.

Alangkah penting dan strategisnya nilai pengetahuan dan ilmuwan itu. Karena itu siapapun tanpa kecuali wajib mempelajari ilmu pengetahuan itu seluas – luasnya dan sedalam – dalamnya. Ilmu pengetahuan sangat ajaib sifatnya, makin banyak dipelajari terasa makin sedikit yang diketahui, karena ilmu pengetahuan adalah tak terbatas. Tak ada seorang manusia pun yang mampu menyombongkan dirinya, bahwa ia telah menguasai keseluruhan ilmu pengetahuan itu, walaupun ia telah menjuruskan dirinya pada hal – hal yang bersifat spesialis. Ada ahli (ilmuwan) pertanian, peternakan, kedokteran, hukum, teknik, perbintangan, ekonomi, politik, budaya, agama dan masih ada ratusan bahkan ribuan spesialis lainnya. Ini suatu pertanda bahwa ilmu pengetahuan itu sangat tak terbatas. Karena itu, kesombongan terhadap suatu spesialisasi adalah kesombongan yang sia – sia belaka. Dengan kesombongan – kesombongan tersebut, menunjukkan adanya suatu kemabukan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Hal ini sangat dilarang dan dalam ajaran agama Hindu termuat dalam sapta timira yaitu kemabukan (kegelapan) terhadap 7 hal, yaitu : kegelapan (mabuk) karena kekayaan (dhana), surupa (ketampanan), kulina (keturunan), yowana (keremajaan), kasuran (kemenangan), sura (minuman keras) dan guna (kepandaian, tingginya ilmu pengetahuan yang dimiliki).

Jika seseorang mabuk (mengalami kegelapan) terhadap ilmu pengetahuan yang dimiliki, maka orang itu belum mengambil makna daripada pengetahuan yang telah ia miliki itu. Tingginya kepandaian yang diraih oleh seseorang itu seharusnya mampu menekan egonya, dan menjadi orang yang bijaksana. Ditinjau dari atribut/symbol dari Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan antara lain terhadap symbol angsa di kakinya. Makna symbol itu adalah agar seseorang yang telah memiliki pengetahuan itu agar mampu menekan egonya dan menjadi sosok manusia yang bijaksana analog dengan sifat angsa itu sendiri yang dapat membedakan makanannya walaupun berada di lumpur dan bercampur dengan kerikil dan lumpur.

Kemabukan, kesombongan seseorang akan pengetahuan dan kepandaiannya yang tinggi itu menandakan bahwa orang itu belum mampu membedakan antara pengetahuan keduniawian dan rohani. Pengetahuan matematika, akunting, ekonomi, sosial politik, budaya dan lain-lainnya adalah pengetahuan untuk kehidupan bahagia di dunia ini, sedangkan pengetahuan rohani adalah pengetahuan untuk mempersiapkan diri hidup bahagia di alam yang kekal dan abadi. Keangkuhan ketakaburan dan bentuk-bentuk lain setelah memiliki kepandaian, ilmu pengetahuan yang tinggi itu, adalah pertanda runtuhnya kemuliaan manusia, sebab manusia yang sadar, kepandaian yang dimiliki itu belum seberapa besar dibandingkan dengan pengetahuan yang tak terbatas itu. Pengetahuan itu sendiri adalah Sang Hyang Widhi Wasa. Sat Citta Ananda Brahman (Sesungguhnya) Tuhan Adalah KEBENARAN, PENGETAHUAN TAK TERBATAS (Mahanirwana Tantra : Gde Pudja, 1983, 15), semoga hal ini dapat direnungkan.

Secara singkat dapat disimpulkan, bahwa untuk menggapai ilmu pengetahuan yang setinggi-tingginya adalah syah-syah saja, bahkan itu wajib bagi siapa saja, karena ilmu pengetahuan itu bukan saja untuk mengasah kecerdasan otak belaka, tapi untuk menjamin kesejahteran hidup dan bahkan demi kesejahteraan umat manusia. Alangkah tingginya nilai pemilikan ilmu pengetahuan itu. Selamat merenungkan !

*) Penulis adalah Dosen STAH Dharma Nusantara Jakarta

Comments are closed.