STAHDNJ.AC.ID

Vidyaya, Vijnanam, Vidvan
Subscribe

Pengamalan Ilmu Hendaknya Dilandasi Kesucian Dewi Saraswati

July 09, 2009 By: admin Category: Dharma Wacana

Oleh : I Ketut Bantas

Secara etimologi kata Saraswati berasal dari bahasa sansekerta dari kata saras yang berarti sesuatu yang mengalir atau ucapan, kata wati yang berarti memiliki, jadi kata Saraswati berarti sesuatu yang mengalir, atau makna dari ucapan. Ilmu pengetahuan itu sifatnya mengalir terus menerus tiada hentinya dan tidak pernah habis.

Saraswati juga berarti makna ucapan atau kata yang bermakna. Kata atau ucapan akan memberi makna apabila didasarkan pada ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan itu pula yang menyebabkan orang menjadi bijaksana. Kebijaksanaan merupakan dasar untuk mendapatkan kebahagiaan atau ananda. Dengan kesadaran yang tinggi kebahagiaan itu dapat mengantarkan atma untuk mencapai penunggalan luluh dengan Brahman.

Ada dua jenis ilmu pengetahuan yaitu pengetahuan tentang segala sesuatu mengenai ciptaan-Nya yang disebut apara vidya, seperti ilmu pengetahuan tentang alam semesta dengan segala aspeknya, misalnya bagaimana dan apa penyebab terjadinya gelombang laut, tsunami dan lain sebagainya. Kemudian pengetahuan tentang Sang Pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa dengan segala aspeknya, misalnya pengetahuan tentang hakekat Tuhan itu sendiri (Brahma vidya), proses penciptaan, pengetahuan tentang surga neraka, pralaya dan lain sebagainya.

Sistem pemujaan Hindu mengenal yantra yaitu alat atau simbul-simbul keagamaan yang diyakini mempunyai kekuatan spiritual untuk meningkatkan kesucian. Dewi Saraswati di patungkan atau diarcakan dan juga diwujudkan dalam lukisan dalam berbagai atribut yang melukiskan sifat-sifat ilmu pengetahuan.

Gambar atau patung Dewi Saraswati yang dikenal di Indonesia sesungguhnya berasal dari India, kemudian para seniman memberi apresiasi sehingga kemudian ada beberapa versi. Ada yang menggambarkan duduk, berdiri diatas angsa, dan ada pula yang menggambarkan berdiri di atas bunga padma, dengan angsa dan burung merak ada disebelah-menyebelah Dewi Saraswati.

Versi yang berbeda ini tidak perlu dipersoalkan karena yang terpenting dari penggambaran itu adalah makna filosofis yang ada dalam simbul gambar itu. Secara garis besar Dewi Saraswati selalu digambarkan sebagai orang Dewi yang amat cantik, berdiri di atas bunga padma, atau di atas angsa, dengan tangan memegang cakepan (lontar atau buku), genitri, wina, didampingi oleh burung merak. Adapun arti masing-masing adalah :

  1. Dewi Saraswati selalu digambarkan dengan wujud Dewi yang cantik dan berwibawa karena ilmu pengetahuan itu memiliki daya tarik yang kuat dan amat mengagumkan. Ilmu pengetahuan amat menarik untuk dipelajari dan setiap Orang yang mempelajarinya akan tertarik untuk mendalaminya. Kecantikan Dewi Saraswati bukan kecantikan atau kemolekan untuk merangsang birahi, melainkan kecantikan yang penuh wibawa.
  2. Cakepan atau lontar yang dipegang Dewi Saraswati merupakan lambang ilmu pengetahuan itu sendiri yang ditulis didalam daun lontar. Kadang-kadang ada yang melukiskan memegang buku, artinya sama karena buku juga tempat menuliskan ilmu pengetahuan, jadi lontar atau buku merupakan sumber ilmu pengetahuan.
  3. Genitri melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak habis-habisnya untuk dipelajari, walaupun seandainya seseorang menghabiskan umurnya untuk belajar saja. Genitri juga merupakan alat penuntun untuk berjapa, ini pula merupakan petunjuk bawah menuntut ilmu pengetahuan adalah juga merupakan sarana untuk memuja atau mendekatkan diri pada Tuhan. Dalam berjapa orang selalu menyebutkan nama Tuhan atau mengucapkan mantra-mantra yang berpusat pada Tuhan. Misalnya Om, Namah Siwaya, artinya Siva yang hamba puja, Om Maha Saraswati ya namah, artinya Dewi Saraswati yang Agung yang hamba puja dan lain-lain.
  4. Wina adalah alat musih yang memakai Snar atau dawai. Di Bali biasanya disebut rebab. Suaranya pada umumnya sangat merdu dan sendu membuat para pendengarnya terbuai terbawa suasana yang menyenangkan. Inilah gambaran bahwa ilmu pengetahuan mengandung atau dapat menciptakan seni budaya dan estetika yang tinggi.
  5. Bunga padma atau bunga teratai adalah lambing Bhuwana Agung stana Tuhan Yang Maha Esa. Ilmu pengetahuan meliputi seluruh Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit. Teratai juga melambangkan kesucian, sebagai hakekat ilmu pengetahuan. Ini juga merupakan pesan bahwa pengamalan ilmu pengetahuan hendaklah dilandasi oleh semangat kesucian, karena dengan kesucian ilmu pengetahuan membuat alam semesta beserta segala isinya dapat menikmati kesejahteraan dan kebahagiaan. Bila tidak diniati kesucian ilmu pengetahuan malah akan menghancurkan. Misalnya pengetahuan tentang bom atau nuklir, dapat menghancurkan umat manusia bila dipakai membuat bom, sebaliknya dapat mensejahterakan manusia bila dipergunakan untuk kesehatan di kalangan kedokteran, atau sebagai pembangkit tenaga listrik.
  6. Angsa atau swan, adalah sebangsa unggas yang memiliki sifat-sifat yang baik, tidak suka berkelahi, dan selalu hidup harmonis. Angsa juga memiliki kemampuan menyaring makanannya, walau diambil dari dalam Lumpur, hanya makanannya saja yang ditelan lumpurnya tidak. Jadi pengetahuan memberikan kemampuan wiweka, mampu memilih dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, dan kesadaran pada manusia agar hanya memilih yang baik dan yang benar saja. Dalam cerita-cerita ketuhanan misalnya digambarkan bahwa taman indraloka di sorga kolamnya dihiasi bunga-bunga padma yang indah serta di huni oleh kawanan burung angsa yang bulunya putih bersih.
  7. Burung merak, semua orang tahu bahwa burung merak memiliki bulu yang bagus dan indah, dikalangan jenis unggas burung merak merupakan burung terbaik ini menggambarkan bahwa ilmu pengetahuan mampu membuat orang berwibawa, bagi siapa saja yang menguasai ilmu pengetahuan kewibawaan akan dating dengan sendirinya asal pengetahuan itu diamalkan untuk kemuliaan umat manusia.

Dalam ajaran Hindu ditegaskan bawa selain memberi kesadaran dan kewibawaaan ilmu pengetahuan dapat menjadikan manusia itu sombong. Ilmu pengetahuan dapat menjadi sumber penyebab kemabukan, kalau tidak dilandasi kesucian Dewi Saraswati. Ditegaskan ada tiga sumber kemabukan pertama : Sura, artinya minuman keras, Kedua Laksmi, artinya harta kekayaan, dan Ketiga Saraswati yaitu Ilmu Pengetahuan.

Demikianlah sifat-sifat ilmu pengetahuan itu, sesungguhnya sangat menyangga kehidupan manusia, tetapi dapat pula menghancurkan kalau pengamalannya tidak berdasarkan atas kesucian.

Comments are closed.

  • Jurnal PASUPATI ISSN 2303-0860

  • Memajukan SDM Hindu

    Salah Satu Karya Dosen STAH DNJ

    Memajukan SDM Hindu

  • Categories

  • Recent Posts

  • Archives

  • DHARMAGITA

    Mrdukomala

    Ong sembah ninganatha tinghalana de tri loka sarana

    Ya Tuhan sembah hamba ini orang hina, silahkan lihat oleh Mu penguasa tiga dunia

    Wahya dhyatmika sembahing hulun ijongta tanhana waneh

    Lahir bathin sembah hamba tiada lain kehadapan kakiMu

    Sang lwir Agni sakeng tahen kadi minyak saking dadhi kita

    Engkau bagaikan api yang keluar dari kayu kering, bagaikan minyak yang keluar dari santan

    Sang saksat metu yan hana wwang ngamuter tutur pinahayu

    Engkau seakan-akan nyata tampak apabila ada orang yang mengolah ilmu bathin dengan baik

  • STATISTIK