STAHDNJ.AC.ID

Vidyaya, Vijnanam, Vidvan
Subscribe

STRATEGI PENGEMBANGAN PERGURUAN TINGGI AGAMA HINDU SWASTA

March 14, 2011 By: admin Category: Artikel Pendidikan

Oleh :

Ida Bagus Rai Dwija*

Perguruan Tinggi sebagai sub sistem pendidikan nasional diharapkan menjadi pusat penyelenggara dan pengembangan pendidikan tinggi serta pemeliharaan, pembinaan dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni sebagai suatu masyarakat ilmiah yang penuh dengan cita-cita luhur, masyarakat berpendidikan gemar belajar dan mengabdi kepada masyarakat serta melaksanakan penelitian yang menghasilkan manfaat untuk meningkatkan mutu kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Sistem pendidikan nasional menetapkan bahwa pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik, professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

Begitu pula halnya dengan Perguruan tinggi Agama Hindu yang menyelenggarakan Pendidikan Tinggi Agama Hindu sebagai kelanjutan pendidikan menengah untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan memiliki kemampuan akademik, profesional, yang dapat menerapkan, mengembangkan, menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian, baik di bidang ilmu agama Hindu maupun ilmu lain yang diintegrasikan dengan agama hindu.

Penyelenggaraan Perguruan Tinggi Agama Hindu Swasta yang dilakukan Umat, dilaksanakan melalui badan yang sifatnya layanan sosial atau yayasan yang telah mendapatkan pengakuan dari pemerintah. Peluang ini semestinya dimanfaatkan betul oleh para tokoh-tokoh umat sehingga Perguruan Tinggi swasta bisa berkembang dan memiliki mutu yang berkwalitas, Perguruan Tinggi Agama Hindu Swasta semakin terancam karena belum memiliki strategi untuk pengembangan sebuah organisasi PTAHS, padahal Pengarahan dan sambutan Menteri Agama pada pelantikan eselon I dan II tgl 23 Juni 2006 bahwa pendidikan di lingkungan Depag pada tahun 2010 setara dengan kualitas pendidikan Diknas. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama, sebagai Pembina Perguruan Tinggi Swasta Agama Hindu sesuai Peraturan Menteri Agama Republik Inndonesia Nomor 3 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Perguruan Tinggi Agama Hindu.


Strategi Pengembangan Perguruan Tinggi Agama Hindu

Strategi adalah cara untuk mencapai tujuan dengan daya dan sarana yang dapat dihimpun (Soekarton (1993:35). Sedangkan Siagian (1985:21) menyebutkan bahwa strategi merupakan cara-cara yang sifatnya mendasar dan fundamental yang akan dipergunakan oleh suatu organisasi untuk mencapai tujuan dan berbagai sasarannya. Cara berpikir manusia secara sistematis adalah salah atu hakikat dari strategi. Kenneth Primozic (1991:7) menggolongkan berpikir manusia yakni “secara mekanik, institusi dan strategik”. Ketiga cara berpikir tersebut menurutnya bahwa cara strategik lebih kreatif dan dinamis selaras dengan permasalahan yang ditemukan. Agustinus SW (1996:4) mengemukakan bahwa karakteristik masalah strategik menyangkut orientasi ke masa depan; berhubungan dengan unit-unit kegiatan yang kompleks; perhatian manajemen puncak; pegaruh jangka panjang; alokasi sumber-sumber daya. Berkenaan dengan banyak pilihan sebagai alternatif pemecahan masalah, semakin kecil tingkat kesalahan yang timbul di masa depan.

Pengembangan organisasi merupakan upaya meningkatkan kemampuan organisasi berdasarkan persepektif waktu jangka panjang yang terdiri dari serangkaian penahapan dengan penekanan pada hubungan antar individu, kelompok dan organisasi sebagai keseluruhan. Pengembangan organisasi dapat juga dikatakan aplikasi pendekatan kesisteman terhadap hubungan fungsional, struktural, teknikal, dan personal dalam organisasi. Pengembangan organisasi merupakan suatu perubahan organisasi, oleh karena itu Sondang P Siagian (1995:21) mengatakan bahwa persepsi tentang perlunya perubahan harus dirasakan karena hanya dalam kondisi demikianlah para anggota organisasi dapat diyakinkan bahwa dalam upaya mencapai tujuan dan berbagai sasaran organisasi, diperlukan cara kerja baru, metode kerja baru, dan bahkan mungkin strategi dan visi yang baru. Salah satu ciri umum pengembangan organisasi adalah bahwa pengembangan organisasi merupakan suatu proses yang terus menerus dan dinamis. Pelaksanan harus mampu mengubah strategi selama proses sedang berlangsung sebagai akibat masalah-masalah yang timbul dan kejadian-kejadian organisasi. Moekijat (1993:8) mengutip pendapat Gary Dessler mengatakan bahwa ciri umum pengembangan organisasi adalah suatu strategi pendidikan yang dimaksudkan untuk menimbulkan perubahan organisasi yang telah direncanakan.

Pengembangan PTAHS semestinya mengupayakan dan mengoptimalkan mutu layanan PTAHS sesuai dengan tuntutan internal dan eskternal. Pengembangan PTAHS harus mengalami pergeseran pada mutu layanan (service), dikelola dengan baik dan transparan, dikembangkan berlandaskan visi dan misi yang jelas, dan diikuti serta dilaksanakan oleh setiap individu yang terlibat dalam pengelolaan PTAHS tersebut. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama, akan terus membina Perguruan Tinggi Hindu Swasta sesuai dengan Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Perguruan Tinggi Agama Hindu.

Ada empat tipe pengembangan organisasi, yakni pengembangan teknologi, pengembangan produk, administratif dan pengembangan sumber daya manusia. Pengembangan teknologi berkenaan dengan proses pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan layanan yang strategis, dan teknologi pendidikan yang dapat menunjang proses belajar mengajar. Sedangkan pengembangan produk adalah berkenaan dengan hasil atau layanan keluaran organisasi dalam proses pendidikan. Lain halnya dengan pengembangan administrasi yakni berkenaan organisasi pendidikan, mencakup struktur, tujuan, kebijakan, insentif, sistem informasi dan anggaran. Dan yang dimaksud dengan pengembangan sumber daya manusia adalah pengembangan sikap, keterampilan, pengharapan, kepercayaan, perilaku para pegawai termasuk pimpinan.

Kualitas sebuah lembaga pendidikan tinggi dapat dinilai dari kuantitas dan kualitas kegiatan penelitian serta pengembangan hasil penelitian pada lembaga itu. Kondisi demikian, hanya tercapai jika para ilmuan (scientists), pandit (scholars), dan teknologiwan (technologists) serta pakar lainnya secara sungguh-sungguh mampu melakukan penggalian ilmu pengetahuan melalui penelitian, pengkajian, penelaahan, perekaan, inovasi, dan terutama dalam menyebarluaskan hasil kegiatan itu melalui publikasi ilmiah.

Pengembangan PTAHS semestinya mengupayakan dan mengoptimalkan mutu layanan pendidikan dengan potensi sumber daya sesuai dengan PTAHS sesuai dengan tuntutan internal dan eskternal. Pengembangan PTAHS harus mengalami pergeseran pada mutu layanan (service), dikelola dengan baik dan transparan, dikembangkan berlandaskan visi dan misi yang jelas, dan diikuti serta dilaksanakan oleh setiap individu yang terlibat dalam pengelolaan PTAHS tersebut.

Di dalam rangka pengembangan organisasi, PTAHS hendaknya mengoptimalkan layanan pendidikan dengan  potensi sumber daya yang ada sesuai dengan tuntutan lingkungan internal dan eksternal. PTAHS juga harus memperkuat komitmen personil yang dapat mendorong untuk mencapai tujuan organisasi melalui visi organisasi. Dan yang tak kalah pentingnya, meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. Semoga dengan adanya perubahan strategi pengembangan organisasi PTAHS, pada akhirnya PTS tetap eksis dan dapat membantu peningkatan kualitas SDM Umat Hindu dan bangsa ini.

* Penulis adalah Kasi Pengajaran, Kurikulum dan

dan Akreditasi Perti Hindu di Kementerian Agama RI

Comments are closed.