stahdnj.ac.id

STAH Dharma Nusantara Jakarta
Subscribe

MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN AGAMA HINDU

December 24, 2009 By: admin Category: Artikel Pendidikan

Oleh : I Ketut Ulianta*

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologketuti serta peradaban manusia, memaksa kita sebagai bagian masyarakat dunia, turut mengejar dan mengembangkan diri agar tidak tertinggal jauh dibelakang. Dalam rangka mengejar ketertinggalan ini sebagai bangsa harus terus menerus meningkatkan diri dalam segala aspek bidang kehidupan baik ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, hukum, dan teknologi melalui pembangunan. Pembangunan bidang pendidikan yang merupakan salah satu pembangunan aspek sosial dan budaya merupakan bagian yang sangat penting dan tidak dapat ditawar lagi dan menjadi suatu keharusan dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan/ketrampilan yang tinggi, moral dan budi pekerti yang luhur serta cerdas dan kreatif. Hal ini dimaksudkan agar mutu sumber daya manusia Indonesia dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memasuki era millennium goals, era globalisasi dan era informasi menuntut semua bidang kehidupan untuk menyesuaikan visi, misi, tujuan dan strategi agar sesuai dengan kebutuhan dan tidak ketinggalan zaman.

Penyesuaian-penyesuain yang dilakukan dalam bidang pendidikan demi meningkatkan kualitas pendidikan diantaranya memberlakukan kurilulum tingkat satuan pendidikan, sertifikasi tenaga pendidikan, mengadakan evaluasi hasil belajar secara nasional, mengadakan pelatihan-pelatihan kepada para pendidik serta peningkatan kualifikasi akademik guru dan dosen dengan harapan mereka mampu secara kreatif mengembangkan disain pembelajaran, variasi metode pembelajaran dan mengembangkan dan memanfaatkan berbagai media maupun sumber belajar.

Konsekwensi logis dari era globalisasi & era informasi yang meniadakan batas-batas lokal, regional dan international, adalah mempercepat pengaruh budaya, pola hidup serta perilaku yang tidak sesuai dengan budaya nasional. Fakta menunjukan di masyarakat telah terjadi dekadensi moral, penyalah gunaan narkoba, penurunan iman dan takwa, disharmonisasi antar warga masyarakat, kriminal serta meningkatnya korupsi dan perilaku sex yang menyimpang. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi dunia pendidikan khususnya pendidikan agama, pendidikan moral, pendidikan sosial budaya dan kesenian.

Memperhatikan hal-hal di atas kurikulum pendidikan dikembangkan dengan memperhatikan peningkatan iman dan takwa, peningkatan akhlak mulia, peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat perserta didik, keragaman potensi daerah dan lingkungan; tuntutan pembangunan daerah dan nasional; tuntutan dunia kerja; perkembangan ilmu pengetahuai, teknologi dan seni; agama; dinamika perkembangan global; persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

Pendidikan Agama Hindu sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional harus memiliki kontribusi dalam rangka mengentaskan dekadensi moral dan efek negative lainnya yang memang merupakan ranah garapan dari bidang ini sejajar dengan pendidikan agama lainnya di Indonesia, pendidikan moral dan pendidikan seni, sosial dan budaya. Dalam upaya itu peningkatan prestasi belajar siswa dalam agama hindu tidak hanya terfokus pada prestasi pada apek kognitif saja tetapi adanya keseimbangan dengan prestasi belajar pada aspek psikomotor dan aspek afektif. Strategi pembelajaran dalam pendidikan agama hindu harus diselenggarakan tidak hanya menggunakan strategi expository tetapi juga memanfaatkan strategi Inquiry yang pada akhirnya akan mempengaruhi penggunaan variasi metode belajar, media dan sumber belajar.

Strategi Expository mendorong penggunaan metode ceramah, demonstrasi, tanya jawab. Dalam hal ini lebih dominan terjadinya komunikasi searah dari guru/dosen kepada peserta didik, dimana pendidik mengexpos informasi, pengetahuan dan lainnya. Sedangkan dalam strategi Inquiry akan mendorong penggunaan metode diskusi, menemukan sendiri (discovery learning), studi tour, brainstorming, investigasi. Disamping itu strategi ini sangat mendorong pemanfaatan sumber belajar baik itu yang sengaja didisain( by design) untuk pembelajaran maupun yang tidak sengaja namun dapat dimanfaatkan ( by ultilization ) seperti sumber belajar berupa museum, laboratorium, internet, perpustakaan. Internet merupakan sumber belajar yang berupa produk perkembangan teknologi informasi dan komputer yang dapat dimanfaatkan dan memberikan kebebasan berkreatifitas bagi penggunanya dan merupakan gudang berbagai informasi dan pengetahuan.

Sejalan dengan upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia Hindu dalam rangka mempersiapkan insan-insan yang mampu bersaing di era global yang penuh dengan persaingan menjadi penting dan mutlak, menyusul perkembangan dan dinamika umat hindu yang hidup dalam minoritas yang penuh dengan tantangan. Tantangan sosial maupun tantangan karena pengaruh perubahan IPTEK dan perubahan politik yang terjadi dewasa ini.

Pembinaan umat hindu yang masih banyak memiliki kendala seperti minimnya dana, ketersediaan tenaga guru, dosen dan penyuluh yang sangat tidak sebanding dengan jumlah populasi umat, membutuhkan terobosan baru dalam menyikapi dan menggali hal-hal yang mungkin dilakukan dalam melakukan pembinaan dan pendidikan umat hindu

Dalam kaitan dengan peningkatan prestasi belajar agama hindu dalam rangka pembinaan umat, perlu juga digali dan dimanfaatkan terutama aplikasi teknologi pendidikan yaitu aplikasi pembelajaran jarak jauh (Distance Learning) melalui Internet diharapkan menjadi solusi meningkatkan kualitas juga dapat memperluas kesempatan belajar masyarakat.

a. Belajar, Pembelajaran dan Prestasi Belajar

Belajar adalah proses psikologis yaitu perubahan perilaku peserta didik, baik berupa pengetahuan, sikap ataupun ketrampilan. Proses belajar yang terjadi pada diri peserta didik selain dipengaruhi oleh faktor internal yang bersangkutan, juga dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan atau faktor eksternal lainnya. Skiner berpendapat bahwa belajar adalah suatu perubahan perilaku. Pada saat orang belajar maka responnya menjadi lebih baik sebaliknya apabila seseorang tidak belajar, maka responnya cenderung menurun.

Gagne berpendapat bahwa belajar merupakan proses dari yang sederhana ke yang kompleks ( Dinn Wahyudin, 2002 : 3.25). Peaget berpendapat belajar sifatnya individual artinya proses belajar merupakan interaksi individu dengan lingkungannya sedangkan Sund mengutamakan proses penemuan (discovery) dalam belajar. Suatu yang tidak dapat dipisahkan dengan belajar adalah pembelajaran.

Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur manusia, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran (Oemar Hamalik (1995:57). Kondisi ekternal yang berpengaruh pada belajar adalah bahan belajar, suasana belajar, media atau sumber belajar, dan pendidik itu sendiri. Bahan belajar yaitu materi yang secara langsung menjadi acuan bagi proses belajar mengajar. Suasana belajar adalah kondisi lingkungan, baik secara fisik maupun non fisik yang memberi pengaruh pada proses pembelajaran. Media atau sumber belajar yaitu segala sesuatu yang memfasilitasi seseorang untuk belajar. Pendidik merupakan subyek pembelajar siswa. Ia merupakan orang yang pertama dan utama yang secara langsung mengajar dan berinteraksi dengan peserta didik di kelas.Ia juga diharapkah mengadopsi paradigma baru yang berkembang di dunia pendidikan.

Dewasa ini dikenal ada pendekatan pembelajaran kontruktive dan interaktif Pembelajaran kontruktive dilandasi oleh paham kontruktivisme dalam filsafat. Faham ini memiliki konsep-konsep dasar, seperti hakikat pengetahuan, realitas dan kebenaran. (Rohman Arif, 2009 : 180).

Mengenai hakikat pengetahuan, menurut paham ini adalah hasil dari kontruksi (bentukan) manusia. Pengetahuan tidak bersumber dari luar akan tetapi dari dalam. Pengetahuan timbul akibat dari kontruksi kognitif atas kenyataan melalui kegiatan manusia, yaitu pengalaman. Proses kegiatan manusia berlangsung secara terus menerus melalui aneka pengalaman, akibatnya manusia memiliki pengetahuan yang selalu berkembang, dan pengetahuan itu mengalami terorganisasi terus menerus karena selalu ada pengetahuan yang baru. Belajar merupakan proses aktif pembelajar dan pelajar dalam mengkonstruksi pengetahuan melalui pemaknaan teks, pemaknaan fisik, dialog, dan perumusan pengetahuan. Belajar merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang dimilikinya sehingga pengertiannya dikembangkan Pembelajaran Interaktif merupakan pendekatan yang dilakukan dengan berfokus pada pembelajar/pelajar, terpadu, individual, ketuntasan, pemecahan masalah, berbasis pengalaman, peran guru sebagai fasilitator dan berbasis perpustakaan.

Model pembelajran yang tercakup dalam pendekatan interaktif yaitu : model pembelajaran konstektual, model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran tuntas, model pembelajaran berdasarkan pemecahan masalah, model pembelajaran berdasarkan proyek dan model pembelajaran berbasis computer atau teknologi informasi. (Rohman Arif, 2009 : 181).

Sebagai hasil dari belajar dan pembelajaran adalah prestasi belajar. Prestasi belajar adalah hasil belajar seseorang yang dicapai dengan kemampuan maksimal yang akhirnya mengalami perubahan tingkah laku secara tetap baik kognitif, afektif maupun psikomotor.

Pada umumnya hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah yaitu ranah kognitif, psikomotor dan afektif. Secara eksplisit ketiga ranah ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Setiap mata ajar selalu mengandung ketiga ranah tersebut, namun penekanannya selalu berbeda. Mata ajar praktek lebih menekankan pada ranah psikomotor, sedangkan mata ajar pemahaman konsep lebih menekankan pada ranah kognitif dan kedua ranah tersebut mengandung ranah afektif. (Mimin Haryati, 2007 : 22)

b. Media Pembelajaran

Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran.

Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.

Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik. (Akhmad Sudrajat, 2009 :1)

Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi efektivitas pembelajaran. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad Ke –20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet.

Media memiliki beberapa fungsi, diantaranya :

1. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar – gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.

2. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena : (a) obyek terlalu besar; (b) obyek terlalu kecil; (c) obyek yang bergerak terlalu lambat; (d) obyek yang bergerak terlalu cepat; (e) obyek yang terlalu kompleks; (f) obyek yang bunyinya terlalu halus; (f) obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.

3. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.

4. Media menghasilkan keseragaman pengamatan

5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.

6. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.

7. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.

8. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak

Terdapat berbagai jenis media belajar, diantaranya:

1. Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik

2. Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya

3. Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya

4. Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.

Sejalan dengan perkembangan IPTEK penggunaan media, baik yang bersifat visual, audio, projected still media maupun projected motion media bisa dilakukan secara bersama dan serempak melalui satu alat saja yang disebut Multi Media. Contoh : dewasa ini penggunaan komputer tidak hanya bersifat projected motion media, namun dapat meramu semua jenis media yang bersifat interaktif

c. Media Pembelajaran Berbasis Intenet

Secara harfiah, internet (kependekan daripada perkataan ‘interconnected-networking’) ialah rangkaian komputer yang terhubung di dalam beberapa rangkaian. Manakala Internet (huruf ‘I’ besar) ialah sistem komputer umum, yang berhubung secara global dan menggunakan TCP/IP sebagai protokol pertukaran paket (packet switching communication protocol). Rangkaian internet yang terbesar dinamakan Internet. Cara menghubungkan rangkaian dengan kaedah ini dinamakan internetworking. Perkembangan kemajuan teknologi internet yang sangat pesat merambah kepenjuru dunia telah dimanfaatkan oleh berbagai Negara, institusi dan ahli untuk berbagai kepentingan termasuk didalamnya untuk pendidikan dan pembelajaran.

Berbagai penelitian telah dilakukan dalam mengembangkan perangkat lunak (program aplikasi) yang dapat menunjang upaya peningkatan mutu/pembelajaran jarak jaub.

Seseorang tidak perlu lagi harus hadir diruang kelas/kuliah untuk mengikuti kegiatan pembelajaran/perkuliahan. Cukup di tempat masing-masing yang dilengkapi dengan komputer dan sambungan intenet kegiatan pembelajaran telah dapat dilaksanakan. Artinya peserta didik dapat berinteraksi dengan sumber belajar, baik berupa materi pembelajaran itu sendiri maupun instruktur/guru yang membina atau bertanggung jawab mengenai materi pembelajaran.

Pembelajaran jarak jauh dengan internet dapat diberikan dalam beberapa format Electronic Mail, Bulletin Board/Newsgroup for discussion of special group, Download of course of materials or tutorial, Interaktif tutorial on web dan Real time inteaktive conferencing using multi object oriented system atau Internet Relay Chat (IRC)

Dengan email dapat dilakukan pengiriman materi pembelajaran, rencana pembelajaran & tujuan pembelajaran, menerima dan memberi penguatan/feedback. Dengan Newsgroup dapat dilakukan diskusi untuk kelompok-kelompok dalam membahas materi khusus yang telah ditentukan sebagai tema pembahasan. Dengan Web yang telah dirancang khusus untuk pembelajaran jarak jauh atau pendidikan dengan system yang lengkap dapat digunakan menjalankan operasional sebuah kampus online sehingga semua hal yang berkaitan dengan administrasi baik keuangan maupun akademik dan kemahasiswaan, kegiatan belajar mengajar online, evaluasi pembelajaran serta pemberian feedback telah termasuk di dalam sistem tersebut. Disamping itu dengan Internet Relay Chat bahkan dapat dilakukan konferensi dan diskusi antara peserta didik secara bersama-sama secara real time.

Heinich dkk (1986) mengemukakan 6 bentuk interaksi pembelajaran yang dapat diaplikasikan dalam merancang sebuah media pembelajaran interaktif untuk system pembelajaran jarak jauh (Distance Learning). Adapun bentuk-bentuk tersebut adalah :

1. Drill & Practice / Praktek dan Latihan

2. Tutorial/Tutorial

3. Games/Permainan

4. Simulation/Simulasi

5. Discovery/Penemuan

6. Problem Solving / Pemecahan Masalah

Pada intinya penggunaan media internet ini berfungsi sebagai sarana yang menghubungkan antara audience dengan pengajar walaupun secara fisik kedua-duanya terpisah dalam jarak yang jauh tetap dapat berinteraksi.

Sejumlah institusi pendidikan jarak jauh didunia berupaya untuk menciptakan komunikasi yang interaktif melalui berbagai cara, misalnya dengan mendesain bahan ajar (learning materials) sedemikian rupa sehingga dapat digunakan sebagai sarana tutorial bagi pengajar dan yang belajar dengan memanfaatkan media intenet.

Dalam proses pembelajaran komunikasi dua arah (two way communication) berlangsung antara pengajar dan yang belajar, dimana pengajar menyampaikan materi pembelajaran dan yang belajar memberikan tanggapan (respon) terhadap materi pembelajaran yang diterimanya. Pengajar tidak hanya berperan sebagai penyampai materi tetapi juga menerima umpan balik (feedback) dari pelajar serta memberikan penguatan (reinforcement) terhadap hasil belajar yang telah mereka peroleh dari pembelajaran tersebut. Sehingga audience senantiasa mendapatkan motivasi.

d. Motivasi

Motivasi adalah dorongan psikologis yang mengarahkan seseorang ke arah suatu tujuan. Motivasi membuat keadaan dalam diri individu muncul, terarah, dan mempertahankan perilaku. Menurut Kartini Kartono motivasi menjadi dorongan (driving force) terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu.

Motivasi yang ada pada setiap orang tidaklah sama, berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Untuk itu, diperlukan pengetahuan mengenai pengertian dan hakikat motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan motivasi/dorongan bagi mereka untuk berbuat atau berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh individu lain/ organisasi.

Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan. (M. Sobry Sutikno, 2009 : 1)

Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik.

1. Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.

2. Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.

Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.

Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar. Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:

1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.

2. Hadiah Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.

3. Saingan/kompetisi Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

4. Pujian Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.

5. Hukuman Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. Meski hukuman adalah jalan terakhir yang dapat digunakan dalam pendidikan.

6. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.

7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik

8. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok

9. Menggunakan metode yang bervariasi, dan

10. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran

Dengan demikian variasi sumber belajar dan pemanfaatan media dalam pembelajaran dapat membangkitkan motivasi belajar siswa yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan prestasi belajarnya. Kemampuan profesionalisme guru menentukan apakah ia mampu dan memiliki kemampuan merancang disain pembelajaran berbasis multimedia serta menerapkannya dalam pembelajaran di kelas dalam tindakan nyata sehingga akhirnya mampu meningkatkan kualitas pendidikan khususnya dan kualitas sumber daya manusia umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Akhmad Sudrajat, 2009, 16.00 http://akhmadsudrajat.wordpress.com

Arikunto, Suharsimi, 2007, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Jakarta, Bumi aksara

Haryati, Mimin, 2007, Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi, Jakarta, GP Press

Mulyasa, E, 2007, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan,Bandung PT. Remaja Rosda Kaya

M. Sobry Sutikno, 2009, 16.00 http://www.bruderfic.or.id

Nazir, Moh., 2003, Metode Penelitian, Jakarta, Ghalia Indonesia

Rohman, Arif, 2009, Memahami Pendidikan & Ilmu Pendidikan, Yogyakarta, Laskbang Mediatama

Ulianta, I Ketut, 2008, Pembelajaran Jarak Jauh, Bulletin Akademika STAH DN Jakarta

Wahyudin, Dinn H., 2002, Pengantar Pendidikan, Jakarta, Universitas Terbuka

* Penulis adalah Staf pengajar di STAH DN Jakarta, Saat ini sedang menyelesaikan Pendidikan S2 di Universitas Negeri Jakarta

Comments are closed.

  • Categories

  • Recent Posts

  • Archives

  • Pages

  • Aneka Info

    Info Beasiswa S1 S2 S3

    Direktori Indonesia - Indonesian free listing directory, SEO friendly free link directory, a comprehensive directory of Indonesian website.

  • PASUPATI ISSN 2303-0860

    Jurnal Ilmiah Kajian Hindu & Humaniora (021) 4752750 Volume I No. 1 kulit1 Volume I No. 2 kulit2
  • DHARMAGITA

    Mrdukomala

    Ong sembah ninganatha tinghalana de tri loka sarana

    Ya Tuhan sembah hamba ini orang hina, silahkan lihat oleh Mu penguasa tiga dunia

    Wahya dhyatmika sembahing hulun ijongta tanhana waneh

    Lahir bathin sembah hamba tiada lain kehadapan kakiMu

    Sang lwir Agni sakeng tahen kadi minyak saking dadhi kita

    Engkau bagaikan api yang keluar dari kayu kering, bagaikan minyak yang keluar dari santan

    Sang saksat metu yan hana wwang ngamuter tutur pinahayu

    Engkau seakan-akan nyata tampak apabila ada orang yang mengolah ilmu bathin dengan baik

  • Pointer

    * Lembaga Pendidikan hendaknya tidak hanya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan saja, tetapi juga menciptakan setting sosial yang memungkinkan implementasi pengetahuan yang diperoleh untuk memecahkan problem-problem yang ada dalam masyarakat, lembaga pendidikan seharusnya merupakan contoh kehidupan masyarakat yang ideal.

  • Blog Advertising - Advertise on blogs with SponsoredReviews.com