stahdnj.ac.id

STAH Dharma Nusantara Jakarta
Subscribe

“Gempita Wisuda STAH DN Jakarta”

December 17, 2009 By: admin Category: Berita/News, Dharma Wacana

fotow2Setelah sukses melaksanakan acara Dies Natalis dan Wisuda di Hotel Bidakara setahun silam, STAH DN Jakarta kembali menuai kesuksesan yang sama ketika melaksanakan Dies Natalis XV dan Wisuda VII yang kali ini mengambil tempat di Balairung Gedung Sapta Pesona, Budpar. Acara ini tidak kalah megah ketika diadakan di Bidakara, hotel berbintang lima. Euforia kebahagiaan bahkan semakin terasa karena acara ini dilaksanakan untuk pertama kalinya ketika STAH DN Jakarta mendapat sertifikat Akreditasi dari BAN PT.


Kesuksesan besar ini menjadi pemandangan yang mengharu biru, dan penuh emosional mengingat perjalanan lembaga perguruan tinggi agama Hindu satu-satunya di jantung ibukota negara ini telah melalui begitu banyak onak dan duri. Namun terasa manis ketika semua orang yang terlibat di dalamnya seolah memancarkan aroma kebersamaan yang padu padan. Kehadiran para tokoh umat Hindu, seperti Putra fotow1Astaman, N. Suwandha, Soekerta Soeranta, Ida Pedanda Tianyar Sebali, I Gede Jaman, dll menjadi semakin bermakna dengan kehadiran Prof. Dr. IBG. Yudha Triguna, MS., Dirjen Bimas Hindu yang didampingi sejumlah pejabat Eselon II dan III dilingkungan Ditjen Bimas Hindu. Tidak ketinggalan hadir pula para alumni.

Dalam acara ini pula, STAH DN Jakarta melalui orasi ilmiah yang disampaikan salah seorang guru besarnya, Prof. Dr. I Ketut Oka Setiawan, SH., MH., memberikan sumbangan besar terutama perspektif ilmu hukum untuk matakuliah Hukum Hindu yang selama ini diberlakukan perguruan tinggi agama Hindu se Indonesia. Menurut Prof. Oka Setiawan, ajaran hukum Hindu yang tertuang dalam Dharma Sastra sudah cukup banyak mengakomodasi persoalan sistem hukum di Indonesia. Guru Besar hukum perdata ini secara tegas juga mengatakan bahwa substansi sumber hukum Hindu sejatinya telah sejajar dengan sistem hukum agama lain.

Pada bagian lain, dalam sambutannya, Ketua STAH DN Jakarta Prof. Dr. I Made Kartika, D., Dipl-Ing kembali mengajak seluruh elemen umat Hindu sejabodetabek untuk lascarya, satya wacanam, dan satya laksanam mendukung keberadaan STAH DN Jakarta sebagai lembaga pendidikan yang ke depan harus semakin maju. Seperti diakuinya, saat ini STAH DN Jakarta baru pada tahap pembenahan internal, termasuk melakukan perbaikan administrasi dan akademik yang dianggapnya masih perlu ditingkatkan.

Menurut Ketua STAH DN Jakarta yang juga Guru Besar di Universitas Indonesia ini, pembenahan dan perbaikan di bidang administrasi dan akademik akan berpengaruh langsung ke seluruh aspek kehidupan kampus. Besarnya animo mahasiswa yang sejak dua tahun belakangan ini kuantitasnya meningkat secara signifikan harus dirawat dengan memberikan perhatian besar pada dua hal tersebut. Prof. Made Kartika, sekali lagi mengajak semua pihak bahu membahu tanpa pamrih (nirlaba) untuk mewujudkan sebuah tujuan mulia. Ia juga berpesan, terutama kepada wisudawan untuk menghindari bodoh, kebodohan, dan pembodohan.

fotow3Sementara Prof. Yudha ketika memberikan sambutan segera merespon gagasan Prof. Oka Setiawan dan Prof. Made Kartika dengan menyatakan bahwa ia sangat setuju bahwa matakuliah Hukum Hindu harus diredifinisi dan akan ditindaklanjuti bersama Direktur Pendidikan Agama Hindu. Prof. Yudha dalam pidato tanpa teks tersebut juga mengingatkan pentingnya identitas sebuah perguruan tinggi dengan infrastruktur yang memadai. Ditjen Bimas Hindu akan selalu memberikan dukungan terbaik bagi perguruan tinggi yang mau berubah, termasuk menganggarkan biaya besar jika STAH DN Jakarta ingin mengembangkan infrastruktur itu. Dirjen juga menangkap kesan bahwa sebetulnya sangat banyak tokoh umat Hindu di Jakarta yang siap membantu. Menurut Dirjen yang sukses menahkodai Universitas Hindu Indonesia ini, dukungan moral dan material dari para tokoh ini harus segera ditangkap STAH DN Jakarta jika ingin menjadi salah satu perguruan tinggi agama Hindu yang berkualitas dan siap bersaing dengan perguruan tinggi agama Hindu lainnya. Penjaminan mutu pendidikan bisa dimulai dari hal ini.

Sambutan Dirjen yang diselingi banyak kejenakaan ini, tak pelak menumbuhkan energi dan spirit baru bagi sivitas akademika, sebagaimana disimbolisasikan ke dalam serah terima “Kendi Ilmu Pengetahuan” dari wisudawan kepada mahasiswa baru, sebuah tradisi baru yang melengkapi meriahnya acara wisuda. Paduan suara yang rancak juga menjadi simponi indah membuat acara semakin gegap gempita. Suasana batin yang juga diakui Dirjen dan para undangan lainnya. Beberapa sivitas akademika bahkan menitikkan air mata seolah tidak percaya STAH DN Jakarta yang masih kecil sanggup membuat perhelatan megah.

Upanayana dan Samawartana

Sebelum Dies Natalis dan Wisuda dilaksanakan, sehari sebelumnya pada 11 Desember 2009 bertempat di utama mandala Pura Aditya Jaya Rawamangun, para wisudawan melaksanakan upacara Samawartana dan Upanayana bagi mahasiswa baru. Kedua upacara ini terasa semakin sakral dan khidmat dengan kehadiran delapan pandita sejabodetabek yaitu Ida Pedanda Gede Oka Jelantik (Bogor), Ida Pedanda Gede Pasuruan Sidemahan (Halim), Ida Pedanda Istri Mayun (Rawamangun), Ida Pedanda Istri Oka Kemenuh (Cinere), Ida Pedanda Gede Panji Sogata (Lenteng Agung), Ida Pedanda Gede Parama Sudiksa (Kelapa dua, Cibubur), Romo Jati (Cilincing), sebagai Wiku Saksi yang langsung memberikan waranugraha (blessing) secara Upanisad. Samawartana dan Upanayana yang dipuput Ida Pedanda Panji Sogata juga diisi dengan Rsi Bojana sebagai wujud nyata Rsi Yajna yang dilakukan STAH DN Jakarta.

fotow4Ida Pedanda Panji Sogata dalam dharma wacananya menitip pesan penting kepada wisudawan untuk tetap mengabdikan ilmu agama di mana saja, sebab ilmu agama itu baru berguna jika sudah diaplikasikan. Samawartana menjadi upacara pelepasan secara niskala, namun secara sekala wisudawan tidak pernah dilepas karena masih memiliki tanggung jawab moral dan kewajiban untuk terus menyebarkan ilmu agama yang diperoleh. Karena setelah mendapat cukup ilmu, wisudawan tetap akan terikat sebagai dharma duta bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Sementara kepada mahasiswa baru yang memperoleh Upanayana, Ida Pedanda Panji Sogata juga berpesan untuk menjadi mahasiswa yang baik karena secara niskala dimohonkan untuk dapat mempelajari ajaran agama yang banyak mengandung rahasia, sakral dan tenget. Upanayana adalah inisiasi niskala, maka jadilah mahasiswa yang beretika dan bermoral, karena keduanya adalah fondasi yang kokoh.

Diselenggarakannya Samawartana dan Upanayana dengan menghadirkan pandita sebagai Wiku Saksi sekaligus Rsi Bojana sehari sebelum wisuda,  diharapkan memperjelas pemahaman umat Hindu bahwa penyelengaraan tata titi upacara seperti inilah yang dianggap benar secara etik dan religius karena menempatkannya secara proporsional. Samawartana, Upanayana, Wiku Saksi dan Rsi Bojana adalah upacara sakral, bagian penting dari ajaran agama. Pelaksanaannya tidak bisa dan tidak boleh dicampur aduk dengan kegiatan wisuda yang merupakan ranah akademik yang dilaksanakan secara propan dan sekuler [*]

Comments are closed.

  • Categories

  • Recent Posts

  • Archives

  • Pages

  • Aneka Info

    Info Beasiswa S1 S2 S3

    Direktori Indonesia - Indonesian free listing directory, SEO friendly free link directory, a comprehensive directory of Indonesian website.

  • PASUPATI ISSN 2303-0860

    Jurnal Ilmiah Kajian Hindu & Humaniora (021) 4752750 Volume I No. 1 kulit1 Volume I No. 2 kulit2
  • DHARMAGITA

    Mrdukomala

    Ong sembah ninganatha tinghalana de tri loka sarana

    Ya Tuhan sembah hamba ini orang hina, silahkan lihat oleh Mu penguasa tiga dunia

    Wahya dhyatmika sembahing hulun ijongta tanhana waneh

    Lahir bathin sembah hamba tiada lain kehadapan kakiMu

    Sang lwir Agni sakeng tahen kadi minyak saking dadhi kita

    Engkau bagaikan api yang keluar dari kayu kering, bagaikan minyak yang keluar dari santan

    Sang saksat metu yan hana wwang ngamuter tutur pinahayu

    Engkau seakan-akan nyata tampak apabila ada orang yang mengolah ilmu bathin dengan baik

  • Pointer

    * Lembaga Pendidikan hendaknya tidak hanya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan saja, tetapi juga menciptakan setting sosial yang memungkinkan implementasi pengetahuan yang diperoleh untuk memecahkan problem-problem yang ada dalam masyarakat, lembaga pendidikan seharusnya merupakan contoh kehidupan masyarakat yang ideal.

  • Blog Advertising - Advertise on blogs with SponsoredReviews.com