stahdnj.ac.id

STAH Dharma Nusantara Jakarta
Subscribe

Ayurweda

October 08, 2009 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Kitab suci Hindu terbagi atas dua kelompok besar / samhita, yakni kitab Struti dan Smerti. Kitab Weda Struti terbagi atas tiga kelompok yang terdiri atas kitab Mantra, Brahmana dan Upanisad. Masing-masing kelompok ini dibagi lagi atas sub-kelompok kitab. Kitab sub-kelompok Catur Samhita Weda yang paling dikenal oleh umat Hindu yakni Rg Weda, Sama Weda, Yajur Weda dan Atharwa Weda terdapat di dalam kelompok kitab Mantra Sruti. Kitab Weda Sruti Brahmana terbagi lagi dalam sub kelompok kitab Aitareya, Kausitaki, Tandya, Taittirya, Satapatha, Gopatha, dll. Kitab Weda Sruti Upanisad terdiri dari atas sub kelompok kitab Prashna, Mandukya, Chandogya, Kathawali, Isawasya, Pasupata dan lain-lain.

Kitab Weda Smerti terbagi atas tiga sub kelompok juga, yakni kitab Wedangga, Upaweda dan Agama. Kitab Smerti Wedangga terdiri dari enam buah kitab, yakni kitab Siksha, Vyakarana, Chanda, Nirukta, Jyotisha, dan Kalpa. Kitab Smerti Upaweda terdiri atas kitab Itihasa, Purana, Arthasastra, Ayurweda, Gandharwaweda, Dhanurweda, Silpkasastra, Kamasutra, dan lain-lain. Kitab Weda Smerti Agama terdiri atas sub kelompok kitab Brahmanisme, Wisnuisme, Siwaisme, Saktisme dan lain-lain.

struk

Ayurweda adalah sebuah pengetahuan pengobatan yang bersumber dari kitab Upaweda Smerti. Kitab Ayurweda berbeda dengan kitab Yajur Weda. Sering sekali kedua kitab ini dianggap sama. Padahal kitab Ayurweda mengulas tentang bagaimana tata caranya agar tetap sehat dan berumur panjang. Kitab ini berada di dalam sub kelompok Weda Smerti Upaweda. Sedangkan kitab Yajur Weda yang membahas tentang yadnya merupakan bagian dari kelompok Mantra Weda Sruti. Isi kitab Ayurweda lebih banyak mengacu atau merujuk pada kitab Mantra Atharwa Weda, bukan kepada kitab Mantra Yajur Weda.

Kitab Ayurweda isinya tidaklah hanya menguraikan tentang penyakit, pengobatan dan penyembuhan, seperti banyak di perkirakan orang. Ulasannya jauh lebih luas dari itu. Isinya menyangkut berbagai pengetahuan tentang kehidupan manusia (bhuana alit) yang hidup di dunia ini (bhuana Agung), terutama yang berkaitan dengan berbagai upaya agar manusia dapat hidup sehat dan berumur panjang. Menurut Ayurweda, hidup itu merupakan perpaduan antara raga sarira (stula sarira = badan kasar), suksma sarira (badan halus, manah = kemampuan berpikir), indriya (kemampuan mengindera), dan atma (jiwatman). Manusia yang dianggap hidup adalah manusia yang mampu melaksanakan aktivitas utama hidupnya (karma purusha), mampu melakukan dharma, sebagai suatu akumulasi atau perpaduan keseimbangan antara unsur tri dosha (cairan humoral) yang berada di dalam tubuh, sapta dhatu (jaringan tubuh), dan tri mala (limbah buangan, ekskreta). Jaringan tubuh atau sapta dhatu (rasa=plasma, rakta=darah, mamsa=otot, meda=lemak, asthi=tulang, majja=sumsum, dan sukra=energi vital) akan dapat berfungsi optimal bila unsur tri dosha (vata, pitta, kapha) berada dalam keadaan seimbang dan mala (berak, kencing, keringat) dibuang secara teratur. Berkeringat setiap saat, kencing setiap 8 jam, dan berak setiap 24 jam adalah bentuk mala yang harus dibuang secara teratur dari tubuh. Bila ini tidak dilakukan tidak terjadi maka keseimbangan dalam tubuh akan terganggu. Akibatnya manusia itu akan jatuh sakit.

Di dalam pengobatan tradisional Bali, kitab Ayurweda ini dikenal dengan nama lontar Usada atau kitab Usada. Isinya tidaklah persis sama seperti apa yang ditulis di dalam Ayurweda. Ada berbagai kearifan lokal yang masuk dan terdapat di dalam lontar Usada. Unsur tri dosha yang terdiri dari unsur vata (angin, udara), pitta (api) dan kapha(air) di dalam Usada untuk penyakit dipadankan dengan kata panes (panas), nyem(dingin), dan sebaa(kebus-dingin, sedang). Dalam bentuk obat dipadankan dengan kata anget(hangat), tis(dingin) dan dumalada(netral).

Mengikuti alur pikir ini, maka konsep dalam pengobatan Usada, berusaha menetralkan gejolak dari ketiga unsur tersebut (api, air, angin). Bila seseorang terkena panyakit panas (panes), akan dicarikan obat berkhasiat tis (dingin), agar panasnya turun. Kalau menderita sakit nyem(dingin) akan dibati dengan ramuan yang berkhasiat anget (panas). Jika terkena penyakit sebaa (panas-dingin) akan diobati dengan ramuan yang berkhasiat dumalada (netral). Yang jadi masalah adalah tata cara dalam menegakkan diagnosis, menetapkan jenis penyakitnya. Apakah yang dimaksudkan dengan sakit panes (panas), nyem(dingin) atau sebaa(panas-dingin). Demikian pula dalam menentukan potensi tumbuhan dan bagian-bagiannya. Apakah berkhasiat anget(hangat), tis(dingin), atau dumalada (netral). Sebatang tumbuhan kadang-kadang mempunyai lebih dari satu jenis potensi. Misalnya akarnya berpotensi anget(hangat), kulit batangnya berpotensi tis(dingin), dan daunnya dumalada(netral). Tetapi ada pula tanaman yang berpotensi sama dari akar, batang dan daun maupun buahnya.

Di dalam lontar Tarupramana yang ada di Bali disebutkan tentang potensi atau khasiat yang dikandung oleh berbagai tanaman. Misalnya belimbing memiliki akar, kulit batang dan daun yang berpotensi anget(hangat). Akar delima berpotensi dumalada(netral), sedangkan getahnya berkhasiat tis(dingin). Dijelaskan pula tentang potensi tumbuh-tumbuhan dilihat dari warna bunganya. Tumbuh-tumbuhan yang bunganya berwarna putih, kuning atau hijau memiliki potensi anget(hangat), sedangkan tumbuhan yang berbunga merah atau biru mempunyai potensi tis atau menyejukkan. Diluar dari warna ini pada umumnya tumbuhan tersebut berpotensi dumalada atau menetralkan. Jika ditinjau dari rasanya, maka tumbuhan yang memiliki rasa manis (swadu), atau masam(amla) berpotensi anget(hangat). Tumbuhan yang rasanya pahit (tikta), pedas (katu), atau sepet(ksaya) berpotensi tis untuk menyejukkan atau mendinginkan tubuh. Tumbuhan atau bagian tanaman yang rasanya campuran berpotensi dumalada untuk menetralkan panas-dingin badan.

(Disarikan dari Makalah, I Gusti Ngurah Nala dalam Seminar Nasional Temu Karya Ilmiah dan Lomba Ketrampilan Akademik Keagamaan Perguruan
Tinggi Hindu Se-Indonesia Di Denpasar Tgl 19-22 Mei 2009)

1 Comments to “Ayurweda”


  1. Osa,

    terima kasih infonya. apakah STAH sudah mulai mengajarkan Ayudveda atau belum ya dalam kurikulumnya. ilmu ini sangat penting di popularkan.
    bahkan diluar negari sudah banyak Institute Ayurveeda seperti:

    http://www.ayurveda.com/
    http://www.ayurvedainstitute.com/
    http://www.ayurveda-herbal-remedy.com/ayurveda-institutes/
    http://www.ayurvedaacademy.com/
    etc

    suksma
    http://www.sripadanectar.com

    1


  • Categories

  • Recent Posts

  • Archives

  • Pages

  • Aneka Info

    Info Beasiswa S1 S2 S3

    Direktori Indonesia - Indonesian free listing directory, SEO friendly free link directory, a comprehensive directory of Indonesian website.

  • PASUPATI ISSN 2303-0860

    Jurnal Ilmiah Kajian Hindu & Humaniora (021) 4752750 Volume I No. 1 kulit1 Volume I No. 2 kulit2
  • DHARMAGITA

    Mrdukomala

    Ong sembah ninganatha tinghalana de tri loka sarana

    Ya Tuhan sembah hamba ini orang hina, silahkan lihat oleh Mu penguasa tiga dunia

    Wahya dhyatmika sembahing hulun ijongta tanhana waneh

    Lahir bathin sembah hamba tiada lain kehadapan kakiMu

    Sang lwir Agni sakeng tahen kadi minyak saking dadhi kita

    Engkau bagaikan api yang keluar dari kayu kering, bagaikan minyak yang keluar dari santan

    Sang saksat metu yan hana wwang ngamuter tutur pinahayu

    Engkau seakan-akan nyata tampak apabila ada orang yang mengolah ilmu bathin dengan baik

  • Pointer

    * Lembaga Pendidikan hendaknya tidak hanya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan saja, tetapi juga menciptakan setting sosial yang memungkinkan implementasi pengetahuan yang diperoleh untuk memecahkan problem-problem yang ada dalam masyarakat, lembaga pendidikan seharusnya merupakan contoh kehidupan masyarakat yang ideal.

  • Blog Advertising - Advertise on blogs with SponsoredReviews.com