STAHDNJ.AC.ID

Vidyaya, Vijnanam, Vidvan
Subscribe

STAH Dharma Nusantara Jakarta Melaksanakan Upacara Melaspas Tempat Suci Pelinggih Saraswati

November 12, 2020 By: admin Category: Berita/News

STAH Dharma Nusantara Jakarta – 31 Oktober 2020 bertepatan pada bulan Purnama Sasih Kalima dan Hari Tumpek Krulut telah terlaksana prosesi Upacara Melaspas Pelinggih Saraswati sebagai Tempat Suci untuk Bersembahyang yang bertempat di Kampus Jatiwaringin  Jl. Jatiwaringin Raya No. 24 Ruko Jatiwaringin Junction. Dalam suasana penuh hikmat dan religious, acara ini dihadiri oleh Ketua STAH Dharma Nusantara Jakarta Bapak I Made Sutresna, S.Ag.,M.A. dan undangan seluruh Senat, Dosen, Staff, serta BEM STAH Dharma Nusantara Jakarta.

Dengan situasi yang sedang di masa pandemi ini, maka Penerapan Protokol Kesehatan dilakukan dengan sangat ketat.

Acara dimulai pada pkl 09.00 WIB s/d 13.15 WIB. Diawali dengan pelaksanaan rangkaian proses Upakara Melaspas Pelinggih yang dipimpin oleh Bapak Pinandita Drs. I Wayan Budha, M.Pd. Kemudian dilanjut dengan Sambutan Ketua STAH Dharma Nusantara Jakarta. Proses selanjutnya adalah Dharmawacana yang disampaikan oleh Wakil Ketua III STAH Dharma Nusantara Jakarta Bpk. Dr. I Made Suparta, M.Hum. yang mengangkat tema “Filosofis Rangkaian Upacara Melaspas Pelinggih Saraswati di Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta”. Dilanjut acara penutup dengan menikmati Prasadam bersama.

Gambar 1 : Dokumen Pribadi

Ketua STAH Dharma Nusantara Jakarta, dalam sambutannya mengajak seluruh Civitas Akademika untuk saling bersinergi dalam kemajuan STAH Dharma Nusantara Jakarta kedepan. Dengan memanfaatkan sarana prasarana yang ada serta memanfaatkan tempat sembahyang selain sebagai tempat pemujaan juga digunakan untuk tempat belajar dalam mengasah diri secara religius.

Gambar 2 : Dokumen Pribadi

Tak kalah penting, dalam Dharmawacana yang diberikan oleh Bpk. Dr. I Made Suparta, M.Hum (Waka III) menjelaskan secara detail dari awal proses pembuatan tempat suci untuk pemujaan Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan. Beliau menjelaskan dari dasar fisolosis, teologis, sumber-sumber sastra, ikonologi/ikonografi/ikonometri dan dilanjutkan berdasarkan bahan yang digunakan untuk membuat arca Saraswati. Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Arca Istadewata Saraswati ini secara simbolik maupun factual akan menjadi “tugu peringatan” dalam membangun episteme dialektik-dialogik dari paradigma Pendidikan Veda/Hindu di masa depan hingga memungkinkan memicu lahirnya paradigma alternatif sebagai bentuk Trialektika dalam sistem pendidikan Hindu modern yang diarahkan menuju moderasi pola pikir guna menopang peradaban Dharma dan budaya Hindu Nusantara.

Acara diakhiri dengan foto bersama dan menikmati makan siang (prasadam) bersama.

Notulen (JNSP)

Comments are closed.