stahdnj.ac.id

STAH Dharma Nusantara Jakarta
Subscribe

Pembinaan Sanggar Seni Keagamaan di Palembang 2009

August 22, 2009 By: suwira Category: Artikel Keagamaan

 

Oleh : Drs. Wayan Suwira Satria, MM.*

(Ketua III Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, Dosen Filsafat Timur, FIB Univ. Indonesia, Puket III STAH DNJ)

Disampaikan dalam acara : Orientasi Pembinaan Sanggar Seni Keagamaan Hindu di Palembang, 25 Juli 2009

 

 

1. Latar Belakang.

Dengan melihat fenomena keberagamaan manusia di Indonesia semakin marak, dimana hampir semua tempat ibadah khususnya yang ada di kota-kota besar dipadati oleh umatnya pada setiap Jumaat, Minggu, Purnama dan Bulan Mati, dan pada setiap perayaan hari-hari besar keagamaan, di Mesjid bagi yang Islam, di Gereja bagi yang Katolik dan Kristen, di Pura/Candi/Mandir bagi yang Hindu, di Vihara bagi yang Buddha, di Klenteng bagi yang Kong Hu Chu. Hal ini secara sepintas menunjukkan bahwa betapa tingginya tingkat ketakwaan manusia Indonesia di dalam memuliakan Tuhannya. Bukan saja tempat-tempat ibadah semua agama saja yang marak, namun acara-acara yang ditampilkan di TV d dipenuhi oleh para pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka keagamaan, dalam usahanya meneruskan pesan-pesan rohani kepada masing-masing umatnya. Dialog lintas agamapun digelar oleh berbagai departemen dalam rangka memberikan latar belakang yang damai, yang akur, yang toleran, bersahabat diantara mereka yang berbeda itu, dan program-program yang digagas oleh departemen-departemen itu sepertinya telah mencerminkan nilai-nilai itu. Cara berpakaian dan pentas Seni keagamaan juga ikut marak. Seharusnya nilai-nilai keagamaan kita masing-masing akan terwujud dalam setiap prilaku umatnya dan pergaulan antar sesama dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kehidupan berbangsa dan bernegara kita dalam kenyataannya masih jauh dari nilai-nilai ideal yang kita miliki seperti yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945 dan bahkan masih jauh dari nilai-nilai yang menjadi harapan setiap agama. Korupsi yang begitu sulit diberantas, dimana negara kita merupakan negara yang tingkat korupsinya masih tinggi, sehingga perlu di buat lembaga khusus menangani masalah tersebut. Ketidakadilan dan diskriminatif masih ada diantara sesama anak bangsa. Bahkan yang lebih menyedihkan minggu lalu bom meledak untuk kedua kalinya pada 17 Juli 2009 di Hotel J W Marriot dan juga di Hotel Ritz Cartens, dengan puluhan korbannya. Semua ini merupakan tidak satunya kata dengan perbuatan yang merupakan tantangan bagi para pemuka agama agar secara terus menerus mensosialisasikan nilai-nilai keagamaannya secara lebih efektif, kepada umatnya masing-masing sehingga kesenjangan antara nilai-nilai secara teoritis tidak terlalu jauh dengan nilai-nilai yang dalam kenyataannya dipraktekkan oleh umatnya. Dalam hal ini Agama Hindu memandang perlu untuk untuk melakukan langkah secara nyata dan kongkrit di dalam mensosialisasikan nilai-nilai Hindu sehingga adanya kesatuan antara apa yang dipikirkan, diwacanakan dan yang diperbuat, tidak seperti sebagian manusia Indonesia yang masih munafik dan tidak bertanggung jawab terhadap negaranya. Salah satu caranya yaitu berkumpulnya kita bersama di Palembang pada hari ini untuk mengolah dan berupaya untuk menghaluskan dan menajamkan hati umat Hindu lewat pemahaman dan penghayatan seni keagamaan. Dirjen Bimas Hindu dan PHDI Pusat berupaya keras untuk melakukan pembinaan untuk Sanggar-Sanggar Seni Keagamaan yang ada di seluruh Indonesia, karena seni merupakan salah satu sarana yang efektif untuk menularkan nilai-nilai kehinduan kita.

 

2. Manusia dan Nilai-nilai.

 

Manusia adalah satu-satunya mahluk hidup di dunia ini yang memahami dan menghayati nilai-nilai. Ada 3 nilai utama dalam kehidupan ini yang selalu dikejar oleh manusia yaitu : 1. Nilai Kebenaran (Truth), 2. Nilai Kebaikan (Gooodness), 3. Nilai Keindahan (Beauty) (The Liang Gie : “Garis Besar Estetik”, 1976 : 13). Ketiga nilai ini oleh Max Scheler dimasukkan ke dalam gugus nilai-nilai rohani. Namun bagi manusia yang juga merupakan Homo Religius (manusia beragama), masih mengejar nilai yang merupakan nilai tertinggi yaitu Nilai Religius, Nilai Yang Kudus (Magnis Suseno : “12 Tokoh Etika Abad 20”, 2000 : 41).

Dari empat nilai-nilai yang dikejar oleh manusia maka untuk mencapai 1) nilai Kebenaran maka manusia mengembangkan Ilmu Pengetahuan, untuk memenuhi rasa ingin tahu manusia. Manusia bukan sekedar ingin tahu tapi ingin tahu yang benar. Untuk mencapai 2) nilai Kebaikan maka manusia akan mengembangkan Moral dan Etika, Susila. Dalam usahanya hidup di dunia ini ia menyadari bahwa ia hidup dengan manusia lainnya, maka dari itu ia berusaha untuk tidak menghambat atau merugikan manusia lainnya yang juga sama-sama mengembangkan dirinya. Untuk mencapai 3) nilai Keindahan maka manusia akan mengembangkan Seni dan Budaya, agar kehidupan ini dapat dijalankan dengan penuh sukacita, penuh harapan menuju kehidupan yang lebih baik. Sedangkan untuk mencapai nilai Tertinggi adalah 4) nilai Spiritual (Yang Kudus) manusia akan mengembangkan Agama, yang secara lebih detail di dalam Agama Hindu di urai menjadi 3 aspek penting, yang tak terpisahkan satu sama lainnya. Pengembangan diri manusia untuk menuju kepada kualitas manusia yang lebih baik ini, melibatkan keempat usaha manusia ini secara terintegrasi, secara bersama sama.

Hindu mengajarkan bahwa ada 3 aspek Agama Hindu yang merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan yang harus menjadi pedoman bagi manusia Hindu. Ketiganya harus dijalankan secara harmonis. Tiga aspek itu yaitu 1) Tatwa atau filsafat sebagai dasar, aspek 2) Susila sebagai landasan yang mengatur hubungan antara manusia dengan manusia lainnya dan antar manusia dengan alam dan aspek ketiga yaitu 3) Upacara yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan. Sebagai Homo Religius tiga kemampuan atau potensi manusia ini harus diaktualisasikan secara sinergi, namun pada saat kita mengaplikasikan potensi manusia dalam tata upacara keagamaan maka kita akan melibatkan nilai-nilai keindahan. Bagaimana potensi manusia dalam menciptakan keindahan lewat gerak, suara dan rupa dapat diwujudkan ? Disinilah manusia akan mengembangkan potensinya dalam menciptakan keindahan, sesuatu yang indah atau “seni”.

 

3. Apa itu Seni ?

 

“Seni” dalam bahasa Indonesia berarti “kecil” dan ada pula yang mengartikannya sebagai “persembahan”. Dalam bahasa Inggris berarti “art” yang berasal dari kata Latin “Ars” yang artinya “craft” (keterampilan), menunjukkan perbuatan apapun yang dilakukan dengan sengaja dan maksud tertentu yang mengacu pada apa yang indah (Kamus Filsafat, Lorens Bagus:987). Bahasa Yunani “seni” diberikan cakupan yang lebih luas dengan kata “techne” yang diartikan sebagai “craft” dan “art”. Techne adalah kemampuan membuat sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada, dengan kemampuan khusus dan dengan trujuan tertentu (Beardsley : 1985). Dari etimologis beberapa bahasa yang berbicara masalah “seni” menunjukkan keragaman difinisi yang merupakan persoalan sepanjang sejarah.

Pandangan beberapa filsuf : Plato memaknai seni sebagai kegiatan atau obyek perbuatan yang dikendalikan oleh gerakan dari teori menuju ke praktek. Dalam bukunya Republik buku X, seni diartikan sebagai fine arts yaitu “tiruan atas tiruan”. Menurut Aristoteles, manusia memiliki tiga jenis pengetahuan. Salah satu dari tiga jenis pengetahuan adalah “seni”, yaitu pengetahuan yang beurusan dengan prinsip-prinsip yang relevan dengan menghasilkan obyek-obyek yang indah atau yang berguna. Collingwood (1970) memandang: “Seni” adalah karya buatan manusia, yang dibedakan dari karya alam yang tidak terkait dengan kepentingan praktis. Menurutnya difinisi ini adalah “craft” yang menimbulkan pengalaman estetik. Walaupun kita berpegang pada difinisi “seni” seperti ini, perbedaan-perbedaan pandangan terus berlangsung dan berkelanjutan sampai saat ini. Seni itu bersifat dinamis sepanjang jaman.

Dari semua perkembangan difinisi tentang “seni” dapat kita sarikan sebagai berikut : Seni adalah sesuatu suatu hasil karya yang dapat dicerap dengan panca indra, yang bertujuan untuk menciptakan “keindahan”. Menurut David Hume dalam “Of the Standard of Taste” mengatakan bahwa : Keindahan bukanlah kwalitas yang terdapat dalam benda-benda itu sendiri : keindahan hanya berada dalam kesadaran yang merenungkan benda-benda itu. Maka dari itu ada dua jenis keindahan yaitu keindahan alamiah dan keindahan artistik. Sesuatu dikatakan indah secara alamiah kalau gagasan di dalam diri dari sesuatu itu dibiarkan tampil dengan cemerlang. Sesuatu dikatakan indah secara artistik, kalau ada pengulangan atau mengkopi dari sesuatu yang ada dalam alam dengan kedalaman dan kekuatan yang sama sekali baru, merefleksikan rahasia-rahasia terdalam dari realitas dalam suatu karya seni (Lorens Bagus, 2002:989). Leonardo da Vinci berbicara tentang tujuan seni lukis dan seni patung dalam kata-kata ”saper vedere” (tahu melihat), bahwa para pelukis dan pematung adalah guru-guru utama dalam bidang pengelihatan, mereka memiliki kesadaran akan bentuk sejati benda-benda. Kemampuan ini tidak didapat dari bakat alam atau bawaan ataupun bakat intuitif (Cassirer : 218). Friederich Schlegel (dalam Prosaische Jugendschriften, II, 290), mereka yang bisa menjadi seniman hanyalah mereka yang memiliki religinya sendiri, konsepsi orisinal tentang ”Yang Tak Terbatas”. ”Yang Indah” adalah sebagai representasi simbolis dari ”Yang Tak Terbatas”. Dalam budaya Hindu, Tuhan Yang Maha Esa seringkali dinyatakan sebagai : Siwam, Satyam, Sundaram.Tuhan adalah yang penuh kebahagiaan, yang penuh kebenaran dan yang penuh keindahan. Artinya bahwa keindahan dalam arti yang tak terbatas, yang murni, yang sejati adalah Tuhan itu sendiri, sedang keindahan duniawi adalah keindahan yang terbatas dan sementara, merupakan bagian dari keindahan sejati, Tuhan itu sendiri.

Seni dengan demikian mengetengahkan gerak-gerik jiwa manusia dalam seluruh kedalaman dan keanekaannya, yang berproses secara dinamis dari hidup itu sendiri, yang selalu terombang ambing dalam dua kutub dunia ini yang saling berlawanan, suka-duka, harapan-kekhawatiran, kegembiraan-keputusasaan, sakral dan profan, transenden-imanen. Seni mengubah kegetiran, kebiadaban, kekejaman, kekasaran menjadi sesuatu yang membebaskan (Cassirer : 225-226). Seni harus mengatasi dualisme dunia itulah pembebasan sejati, ketidak terikatan, menyatu dengan Yang Terindah. Seluruh potensi manusia yang begitu kompleks diwujudkannya dalam bentuk karya seni, sehingga ada keragaman dari karya seni yang diciptakan manusia.

 

4. Pengelompokan seni

Menurut Y. Sumandiyo Hadi dalam disertasinya yang berjudul : ”Seni Dalam Ritual Agama”, 2006: 283, mengelompokkan seni sesuai dengan alat dan obyek seni dapat diuraikan menjadi empat kelompok, sebagai berikut : 1) Seni Gerak, 2) Seni Suara, 3) Seni Rupa, 4) Seni Rekam. Seni Gerak yaitu gerakan atau komposisi tari yang menunjukkan ekspresi manusia yang diungkapkan lewat gerakan tubuh yang ritmis yang indah (pencak silat, senam tari) (Hadi, 2006: 284). Seni Suara yaitu nyanyian atau tembang yang dilagukan dengan iringan musik atau gamelan sesuai dengan nada dan iramanya, serta dibawakan dengan penuh perasaan (musik/gamelan vokal, musik/gamelan instrumental, dialog/ucapan, sastra prosa maupun puisi) (Hadi, 2006: 285). Seni Rupa yaitu seni yang diwujudkan meruang, sebagai simbol atau perlengkapan upacara yang indah, menarik dan komunikatif (lukis, grafis, gambar, patung, relief, ukiran, ragam hias,arsitektur, desain interior) (Hadi, 2006: 287). Seni Rekam yaitu mengabadikan karya seni dalam bentuk foto, film, radio, televisi (Hadi, 2006: 283). Masih ada suatu karya seni yang merupakan gabungan dari Seni Suara, Seni Gerak dan Seni Rupa, yang dinamakan Seni Multimedia seperti teatre, tari dan pewayangan.

 

5. Seni Budaya Hindu.

Dalam perjalanan sejarah, Budaya atau Peradaban Hindu pernah menghasilkan putra terbaik dibidang seni yaitu Rabindranath Tagore (1861-1941). Bertolak dari pengalaman hidupnya yang sangat menyedihkan secara berkepanjangan dan nilai-nilai Hindu yang begitu mulia dan agung menjadikan Tagore seorang seniman tingkat dunia. Ia mendapatkan hadiah Nobel Kesusastraan di tahun 1913 yang merupakan hadiah Nobel Pertama untuk orang Asia. Seluruh potensi hidupnya diabdikannya di bidang seni dan budaya. Karya-karyanya antara lain : Diumurnya yang ke 21 ia menulis puisi ”Nyanyian Senja” (1882). Ia menulis lebih dari 1000 puisi dengan judul Gitanyali (1912), lebih dari 2000 lagu dalam Sadhana (1913) dan salah satu dari lagu karangannya dijadikan sebagai lagu kebangsaan dua negara yaitu India dan Bangladesh. Ia telah mengarang 38 buah drama Personality (1917), 12 buah novel Gora (1924), 200 buah cerpen yang selevel karya Checov – Maupasant dan juga melukis yang sampai saat ini terhitung 2500 buah koleksinya (Suwira Satria, Sejarah Filsafat India, 2008:137-138). Seni tari, arsitektur, ragam hias, sastra, filsafat, yoga, kamasutra yang berbasis nilai-nilai Hindu tersebar luas di India dan sampai ke Indonesia, kitab Ramayana, Mahabharata, Bhagavadgita, Sarasamuccaya, Negara Kertagama, candi Borobudur, Prambanan, Besakih, Wayang yang kesemuanya itu menjadi warisan dunia.

Kalau ”pengetahuan” dalam melihat dunia dari bentuk-bentuknya secara indrawi dalam pengalaman sehari-hari dan menghubungkan gejala-gejala tersebut menurut katagori kausalitas atau finalitas saja. ”Seni” sebaliknya mengajarkan kepada kita untuk mejadikan benda-benda dunia itu tidak sekedar konsep atau manfaat belaka. Seni menyajikan citra realitas yang lebih kaya, lebih hidup dan penuh warna warni dengan wawasan yang lebih menukik kepada struktur formal dari realitas. Menunjukkan bahwa manusia tidak terpaku dalam cara pandang tertentu saja dalam mendekati realitas, sehingga mampu memilih sudut pandang yang dikehendakinya setelah mengembara dari satu aspek ke aspek lainnya, dalam rentang waktu dan keadaan tertentu.

6. Manusia menurut Hindu adalah mahluk istimewa, percikan dari Brahman.

 

Manusia pada hakekatnya adalah Atman, yang merupakan bagian dari Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Namun demikian ia berada di dunia ini oleh karena avidya, bodoh, tidak mengetahui hakekat dirinya yang sejati. Kebodohan disebabkan oleh keterikatan akan hal-hal yang bersifat ketubuhan atau materiil. Ia telah keliru mengidentifikasikan dirinya sendiri. Manusia adalah mahluk yang istimewa yang diciptakan Tuhan, karena ia memiliki tiga potensi sekaligus yaitu Bayu – Sabda – Idep. Dengan bayunya ia dapat mengembangkan diri secara fisik biologis, seperti makan, tumbuh, mempertahankan diri, memenuhi dorongan seksualnya untuk bereproduksi. Dengan kemampuan sabdanya ia dapat berkomunikasi dengan mempergunakan symbol-simbol dan dengan kemampuan idepnya ia mampu mengembangkan kesadarannya untuk dapat membedakan yang benar dan yang salah serta mendapatkan pengetahuan-pengetahuan yang kemudian diteruskannya secara turun temurun ke generasi berikutnya. Berbeda dengan kehidupan yang lain seperti binatang yang hanya memiliki dua potensi yaitu Bayu dan Sabda saja dan tumbuh-tumbuhan bahkan hanya miliki satu potensi saja yaitu Bayu. Binatang dapat berpindah mempunyai emosi, dapat berinteraksi maupun berkomunikasi yang sangat terbatas atas dorongan nalurinya. Tumbuhan bahkan lebih rendah lagi yaitu tak dapat berlari, berpindah, merespon dengan mara-marah pada saat ia ditebang ataukah tertawa pada saat ia disiram atau saat diberi pupuk. (Modul 2, MPKT, 2007 : 42).

Kelebihan manusia ini menyebabkan ia sebagai mahluk satu-satunya yang dapat membedakan yang baik dan yang buruk, yang indah dan yang tidak indah, yang salah dan yang benar (Sarasamuccaya, sloka : 2). Mahluk yang dapat membedakan baik dan buruk adalah mahluk etis, mahluk hidup yang menerapkan nilai-nilai moral dalam menjalankan kehidupannya. Mahluk hidup yang dapat membedakan benar dan salah adalah mahluk hokum, mahluk yang menerapkan nilai-nilai hokum dalam pergaulannya dengan sesama manusia lainnya. Mahluk hidup yang dapat membedakan mana yang indah dan tidak indah, adalah mahluk estetis, yang dapat merasakan keindahan baik panorama alam, karya seni berupa lukisan, tarian, drama, puisi, nyanyian dan lain sebagainya. Dari tiga potensi manusia ini, “pikiran”, daya dari budi yang menyebabkan ia dijuluki sebagai mahluk budaya, sedangkan mahluk hidup lainnya bukan sebagai mahluk budaya, karena kesadaran atau pikirannya tidak berkembang. Manusia sebagai mahluk budaya, menghasilkan kebudayaan.

 

 

7. Pengalaman Beragama Manusia Hindu dalam mencapai Tujuan Hidup.

 

Menurut Hindu kebudayaan yang dihasilkan oleh manusia bukan merupakan tujuan dari hidupnya. Tujuan hidup manusia Hindu adalah untuk mencapai Pembebasan atau moksa, yaitu kembali ke hakekatnya yang sejati dan tidak dilahirkan kembali ke dunia ini. Bila dalam kehidupan ini belum dapat mencapai pembebasan maka ia akan diberikan kesempatan lagi untuk mejalankanm kehidupan di dunia ini, sampai tujuan akhirnya tercapai. Jadi kalau demikian hidup manusia Hindu adalah suatu proses panjang yang berkelanjutan sampai ia mencapai tujuan akhirnya (moksa). Proses panjang ini ditandai dengan empat tujuan hidup manusia sebagai satu kesatuan paket yaitu : Artha, Kama, Dharma, Moksa. Keempat ini dirangkum dalam satu kalimat : Moksartham Jagadita ya ca Iti Dharma.

 

 

8. Seni Budaya dan Religiusitas Manusia Hindu

 

Kalau seni lebih merupakan cara pandang terhadap dunia dari salah satu aspek dan salah satu dari kemampuan indrawi (mata, hidung, lidah, kuping, kulit) manusia dalam memandang dunia sehingga menimbulkan beragam seni, seperti seni lukis, seni patung, seni ragam hias atau ukir, seni tari, seni drama atau sandiwara, seni berbicara, seni suara, seni musik, seni tabuh, seni sastra. Bila dilihat dari tujuan dari seni itu maka akan dapat kita bedakan seni sekuler atau profan dan seni sakral. Seni profan ditujukan kepada manusia dalam hubungan antar sesamanya dan atara manusia dengan alam, sedangkan seni sakral ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai wujud cinta bhakti manusia kepadaNYA. Pemaknaan ini pada awalnya bermula dari sang seniman sebagai penggagas sebuah karya seni, yang kemudian dalam perjalanan waktu akan dimaknai pula oleh berbagai orang, beragam orang sesuai dengan pemahamannya masing-masing. Dengan demikian akan terjadi keragaman makna dalam suatu karya seni tertentu karena makna itu secara dinamis berproses dan antara yang satu dengan yang lainnya dapat saja saling bertentangan. Maka dari itu keragaman ini harus disikapi dengan bermodalkan ilmu penafsiran atau hermeneutika.

Kalau seni hanya mempetimbangkan salah satu aspek indrawi dari kemampuan manusia dalam memandang dunia dan memaknainya, maka budaya melibatkan keseluruhan dari kemampuan manusia sebagai mahluk multi dimensi, sehingga aktivitas manusia dalam budaya terwujud dalam apa yang oleh Kuntjaraningrat sebagai ”The seven culturals universal”, yang oleh Cassirer terwujud dalam bermacam-macam bentuk simbolis, salah satunya adalah ”seni”. Keseluruhan kebudayaan manusia adalah proses maju menuju pembebasan diri manusia. Proses tersebut melibatkan bahasa, kesenian, religi, ilmu pengetahuan dimana manusia menemukan dan menunjukkan daya kekuatan baru yaitu kemampuan untuk membangun dunianya sendiri, dunia ideal.

 

9. Seni Profan dan Seni Sakral.

Kitab Ramayana, Mahabharata, Bhagavadgita, Sarasamuccaya, Negarakertagama, Niti Sastra, Tari/Pulau Bali, Wayang, Yoga, Candi Borobudur, Prambanan, Besakih telah menjadi warisan Dunia.

Karya seni juga dapat dibedakan antara “seni profan” dan “seni sakral”.

Seni Sakral pada umumnya bercirikan :

  1. “Seni sakral” yaitu karya seni yang ditujukan untuk Tuhan YME sebagai wujud cinta bhakti manusia kepadaNYA, sebagai persembahan.
  2. Tidak diperjualbelikan (untuk pariwisata).
  3. Berkaitan dengan Yadnya (panca yadnya).
  4. Membawa peralatan upacara.
  5. Contoh : tari rejang, tabuh gambang, wargasari, pratima, arca yang sudah di pasupati (diplaspas, ngentegang linggih).

Beberapa contoh Seni Sakral di Indonesia :

  1. Bali : Topeng Sida Karya, Tari Rejang, Wayang Lemah, Tari Baris Katekok Jago, Tari Gambuh.
  2. Jawa Tengah : Tari Bedaya Semang.
  3. Jawa Timur : Tari Sanyang atau Tari Seblang.
  4. Batak : Tari Tor-tor.
  5. Kalimantan : Tari Gantar.

Seni Profan bercirikan :

  1. “Seni profan” yaitu karya seni yang ditujukan kepada sesama manusia lainnya, lebih merupakan seni pertunjukan atau tontonan.
  2. Diperjualbelikan ke pariwisata atau acara di masyarakat (publik).
  3. Sebagai hiburan semata.
  4. Dalam melaksanakan seni itu tidak mempergunakan peralatan upacara.
  5. Tidak di pasupati.

 

Melihat keragaman kesenian dan kebudayaan di Indonesia baik yang individual maupun kelompok bersifat dinamis, serta peranan seni keagamaan begitu penting dalam mengembangkan SDM Hindu yang berkualitas, maka bagi pembina Sanggar Seni Keagamaan Hindu perlu menguasai tehnik pengembangan sanggar dengan baik dan professional antara lain :

  1. Diperlukan penguasaan ilmu pengetahuan “penafsiran” atau hermeneutik untuk memahami dan memaknai sebuah karya seni.
  2. Menguasai ilmu penafsiran mempermudah menitipkan pesan-pesan dalam suatu karya seni.
  3. Menguasai ilmu penafsiran (hermeneutik) memudahkan kita memaknai dan memahami suatu karya seni.

 

 

10. Kebijakan PHDI Pusat tentang Sanggar Seni Keagamaan Hindu.

Rekomendasi Pesamuhan Agung PHDI Pusat No: 5/Kep/P.A Parisada/XII/2003, tanggal 14 Desember 2003, Butir C.3 :

 

Pesantian menyelenggarakan pendidikan berbasis keagamaan dalam bentuk pelatihan disiplin rohani, pembacaan kitab suci Veda, dharmagita, seni sakral, yang peserta didiknya terdiri dari remaja, pemuda dan dewasa dari segenap lapisan Hindu.

 

 

Keputusan Maha Sabha IX PHDI : No : II/Tap/M. Sabha/IX/2006, Tanggal 17 Oktober 2006

<!–[if !supportLists]–> <!–[endif]–>Program Kerja/Garis Besar Kebijakan, Maha Sabha 2006 – 2011:

A. Bidang Tatwa dan Pemahaman Agama.

B. Bidang Penerangan dan Pendidikan.

C. Bidang Organisasi dan Managemen.

D. Bidang Usaha dan Dana.

E. Bidang Sosial, Budaya dan Kemasyarakatan.

Program Kerja : Bidang Sosial, Budaya dan Kemasyarakatan antara lain :

<!–[if !supportLists]–> <!–[endif]–>Butir 2 :

Melaksanakan lomba dan keterampilan mengembangkan budaya daerah yang bernafaskan Hindu, baik tarian, musik sampai kepada Utsawa Dharma Gita.

Mengapa PHDI membuat kebijakan untuk membina Sanggar Seni Keagamaan Hindu ?

Hindu menghormati keragaman budaya

  1. Hindu menghormati keragaman budaya daerah.
  2. Melestarikan budaya yang sudah ada, secara alami akan terjadi evolusi yang sinergis antara nilai-nilai Hindu dengan budaya setempat.
  3. Sinergi terjadi oleh karena nilai-nilai Hindu mengusung nilai yang sama dengan budaya setempat.
  4. Nilai-nilai yang diusung adalah nilai-nilai kemanusiaan, sebagai nilai utama.
  5. Manusia adalah mahluk istimewa, menurut Hindu.

 

 

 

<!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

 

 

 

 

<!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

 

 

 

<!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

 

 

 

<!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

 

 

 

 

<!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

 

 

 

<!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

 

 

 

<!–[if !supportLists]–>I. <!–[endif]–>Kesimpulan.

  1. Manusia adalah istimewa bila dibandingkan dengan mahluk hidup lainnya, karena ia diberikan tiga kemampuan sekaligus yaitu bayu-sabda-idep, yang oleh Ernest Cassirer memaknai manusia sebagai Homo Symbolicum atau mahluk budaya, Sarvepalli Radhakrishnan menyatakan kelebihan manusia terletak pada kemampuannya mengingat yang memungkinkan meneruskan tongkat estafet ”kebudayaan” dari generasi ke generasi lewat proses belajar.
  2. Kebudayaan melibatkan seluruh potensi manusia sebagai mahluk multidimensi yang menghasilkan mitos, religi, bahasa, seni, sejarah, pengetahuan. Seni adalah salah satu dari hasil kreativitas manusia yang bebas, dalam mempergunakan salah satu kemampuannya yaitu panca indra dalam menghasilkan karya seni.
  3. Keragaman kaya seni antara lain : seni lukis, seni patung, seni ragam hias atau ukir, seni tari, seni drama atau sandiwara, seni berbicara, seni suara, seni musik, seni tabuh, seni sastra, sebagai konsekwensi logis dari lima indra yang dimiliki manusia.
  4. Sesuai dengan makna dan nilai yang diusung oleh suatu karya seni, dapat dibedakan antara seni sakral sebagai tuntunan (wali atau bali) dan seni profan tontonan (wewalian atau bebalian yang berarti yang dipertontonkan dan bersifat hiburan).
  5. Kesenian atau kebudayaan bersifat dinamis, selalu dalam proses sehingga makna awal yang diusung olehnya dimaknai secara berbeda-beda oleh beragam orang di waktu-waktu yang akan datang, sehingga membutuhkan kecerdasan dalam pemahaman dengan menguasai ilmu penafsiran atau hermeneutika.
  6. Sanggar Seni Keagamaan harus meningkatkan kualitasnya, agar dapat membina partisipasi uamt dalam berkesenian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

1. Cassires, Ernest : Manusia dan Kebudayaan : Sebuah Essai Tentang Manusia, Gramedia, Jakarta, 1987.

2. Triguna, I.B.G.Yudha ed : Estetika Hindu dan Pembangunan Bali, Program Magister, Universitas Hindu, Denpasar, 2003.

3. Pitana, I Gde ed. : Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali, BP, Denpasar, 1994.

4. Peursen, C. A. Van : Strategi Kebudayaan, BPK Gunung Mulia, Jakarta,1985.

5. Radhakrishnan, Sarvepalli : Religion and Society, Program Magister UNHI, Denpasar (terj.), 2003.

6. Kadjeng, I Nyoman : Sarasamuccaya, Paramita, Surabaya, 2003.

7. Sutrisno, Mudji : Teks-Teks Kunci Filsafat Seni, Galang Press, Yogyakarta, 2005.

8. Sedyawati, Edi : Budaya Indonesia, Kajian Arkeologi, Seni dan Sejarah,Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007.

9. Gadamer, Hans-Georg : Truth and Method, Joel Weinsheimer and Donald G. Marshall, Cross Road, New York, 1975.

10. Satria, I Wayan Suwira : Sejarah Filsafat India, Buku Ajar Filsafat UI, 2008.

11. Modul MPKT Universitas Indonesia, 2007.

12. Hadi, Y. Sumandiyo : Seni Dalam Ritual Agama, Pustaka, 2006.

13. Wiana, Ketut : Bagaimana Umat Hindu Menghayati Tuhan, Manikgeni, 1993.

1 Comments to “Pembinaan Sanggar Seni Keagamaan di Palembang 2009”


  1. Greatings, Where are you from? Is it a secret? :)

    1