STAHDNJ.AC.ID

Vidyaya, Vijnanam, Vidvan
Subscribe

KOMUNIKASI POLITIK CALEG HINDU KOTA MATARAM DALAM PEMILU 2014 (Perspektif Sosiologi Agama)

December 03, 2015 By: admin Category: Komunikasi

Oleh :

I Wayan Wirata*)

ABSTRACT

           Hindus in Mataram should be proud because some Hindu leaders are qualified to join the fight in the arena of democracy to fight for the rights of Hindu people in the future. Thus the existence of the Hindu candidates is expected to be a community leader in the local and national level to hold the mandate in the interests of the people and Hindus in particular. In the presence of representatives of the Hindus in the legislature to increase the level of supervision and attention to the existence of Hinduism. So also the executive level representatives of Hindus are expected to more than one person in order to fight for the needs of the people, in addition to providing significant imaging of the existence of Hindus in contributing to the growth rate of development in the Republic of Indonesia. By looking at the phenomenon researchers are interested in raising them “How can political candidates komuniasi Hindu Mataram City in the 2014 ? The purpose of the study to describe political candidates komuniasi Hindu Mataram City in the 2014, while the usefulness of theoretically increase the repertoire of scientific and practical way to contribute to the policy holder associated with the philosophy of political communication. Methods of data capture using the technique of collecting data through observation, interviews, and documentation while the descriptive data analysis techniques are interpretive. From the results of research on political communication in the Hindu candidates as proof that the Hindu community is able to compete with the dominant people in positions of authority in order to fight for the rights of Hindus as well as to facilitate the interests of Hindus in both the local and central levels. In political communication Hindu Mataram city candidates in the 2014 elections conducted through interpersonal communication, persuasive, symbolic, mass, and socio-cultural communication .

 

Keywords : Political Communication, Legislative Candidates Hindu

Pendahuluan

Umat Hindu Indonesia bagian integral dari bangsa Indonesia. Umat Hindu salah satu penentu dalam kehidupan bernegara dan beragama dalam Negara Republik Indonesia. Untuk itu diperlukan peran serta partisipasi aktif umat dalam pembangunan untuk ikut memberikan kontribusi terhadap laju pertumbuhan pembangunan di Indonesia.

Suatu pilihan merupakan hal yang amat penting dalam menentukan arah serta regulasi kebijakan di kancah pemegang kebijakan. Untuk itu diperlukan tekad serta wawasan profesional dalam mengelola manajemen di tingkat pejabat untuk ikut menentukan arah kebijakan yang diambil demi kemajuan masyarakat Hindu ke depan.

Fenomena sekarang kondisi lembaga legislatif kurang kondusif akibat beberapa oknum-oknum di dalamnya melakukan skandal penyimpangan kepercayaan masyarakat. Untuk itu masyarakat Hindu tidak boleh berpangku tangan, karena di lembaga legislatif hanya ada (DPR/DPD) yang dapat dipercaya untuk memperjuangkan hak-hak rakyat. Dengan demikian keberadaan caleg-caleg Hindu diharapkan menjadi calon-calon pemimpin yang mumpuni di tingkat daerah maupun pusat yang dapat memegang amanat rakyat dengan berbuat maksimal demi kepentingan rakyat dan umat Hindu pada khususnya.

Sloka Atharva Veda menyebutkan V. XII. 1.45 adalah sebagai berikut.

Janam bibbhrati bahuda mimasacam

Nana dharmanam prthiwi yatokasam

Sahastram dhana drawinasya me duham

Dhruwewa dhenur anapaspuranti

 

Artinya :

Bekerja keraslah untuk tanah air dan bangsamu dengan berbagai cara, hormatilah cita-cita bangsamu. Ibu pertiwi sebagai sumber mengalirnya sungai kemakmuran dengan ratusan cabang. Hormatilah tanah airmu seperti kamu memuja Tuhan, dari jaman abdi Ibu pertiwi memberikan kehidupan kepadamu semua, karena itu anda telah berhutang semua kepada-Nya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa, umat manusia selalu bekerja keras sesuai dengan kompetensi dan profesionalismenya agar tetap berusaha dan berbuat sehingga hasil perbuatannya mendapat imbalan yang sepadan. Di samping itu setiap umat manusia diharapkan selalu eling serta sujud kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai pengendali semua alam semesta beserta isinya dengan harapan bersyukur serta melakukan yadnya sesuai dengan kemampuan dan ketulusannya yang diberikan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dalam era demokrasi, secara politik sebenarnya terjadi dikotomi bahkan marginalisasi kaum-kaum minoritas. Setiap warga negara punya hak dan kesempatan yang sama dalam menentukan konstitusinya serta menyampaikan aspirasinya. Dalam realitanya amanat konstitusi tidak sesuai bahkan jauh dari filosofi Negara Republik Indonesia yaitu Persatuan Indonesia yang didasari oleh kemanusiaan yang adil dan beradab. Adanya ketimpangan-ketimpangan terhadap kebijakan politik menyebabkan terjadinya pengebirian terhadap hak warga negara termasuk umat Hindu. Untuk itu, dalam pemilu legislatif tahun 2014, peran serta partisipasi umat Hindu untuk memperjuangkan hak-hak umat Hindu sangat diharapkan guna memperoleh keadilan yang seadil-adilnya untuk memperoleh kedudukan serta kesempatan yang sama.

Esensi lain yang terjadi pada ranah aspirasi umat Hindu belum dapat terakomodir dengan utuh dan komprehensif. Semua hal tersebut dapat terwujud bilamana adanya komitmen secara lahiriah dan batiniah tentang kesanggupan atau komitmen untuk ikut bersama-sama bersatu serta berkomitmen memberikan masukan ide serta gagasan-gagasan kepada legislator terhadap fenomena di lapangan tanpa mengesampingkan etika serta sopan-santun sebagai umat manusia yang memiliki budi pekerti dan moral yang luhur.

Dalam pemilu tahun 2014, daftar calon anggota DPRD dan DPR RI di seluruh Indonesia   dikeluarkan secara resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Kita sebagai umat Hindu di Kota Mataram sepatutnya merasa berbangga karena sejumlah tokoh-tokoh Hindu yang cukup berkualitas ikut bertarung dalam kancah demokrasi memperjuangkan hak umat-Hindu di masa yang akan datang.

Dengan wakil-wakil umat Hindu di tataran legislatif diharapkan dapat meningkatkan pembinaan serta perhatian terhadap eksistensi Hindu. Begitu juga dalam tataran eksekutif   wakil-wakil Hindu tidak hanya satu orang saja melainkan lebih dari itu sehingga dapat memperjuangkan kebutuhan umat, di samping memberikan pengakuan bahwa keberadaan umat Hindu cukup signifikan dalam memberikan kontribusi terhadap laju pertumbuhan pembangunan di Negara Republik Indonesia.

Selain itu terjadinya isu sara yang memarginalkan umat Hindu perlu diantisipasi sesegera mungkin. Dengan adanya umat Hindu di lembaga legislitif diharapkan dapat menyuarakan serta memperjuangkan aspirasi umat Hindu sekaligus dapat memfasilitasi pejabat-pejabat daerah maupun di tataran pusat. Di samping itu dapat memperjuangkan bantuan serta anggaran terkait dengan kebutuhan umat Hindu dalam kerangka pembinaan umat Hindu khususnya di Kota Mataram dalam berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi serta budaya dan yang lainnya.

Pembahasan

  1. Komunikasi Interpersonal

Dalam komunikasi interpersonal yang melibatkan keterbatasan orang untuk menyampaikan minat serta kepentingan pribadi calon legislatif. Dengan komunikasi yang disampaikan akan memberikan umpan balik (feed back), karena komunikan umumnya sudah dikenal terlebih dahulu sehingga lebih mudah dan leluasa dalam menyampaikan pikiran dan perasaannya dalam berkomunikasi. Pada umumnya dalam pemilihan caleg Kota Mataram lebih mengutamakan rasa kekeluargaan untuk dapat bertemu, berbicara, dan saling menyampaikan pikiran dan pandangan terhadap fenomena masyarakat Hindu yang termaginal bahkan tersisihkan dari berbagai kebijakan pemegang kekuasaan. Hal inilah membuat masyarakat Hindu banyak berpartisipasi dalam pemilihan anggota legislatif di Kota Mataram. Menurut I Wayan Wibawa informan Dapil Kecamatan Sekarbela menjelaskan :

“Saya mendaftarkan diri sebagai caleg mewakili umat Hindu di Kota Mataram adalah ingin membantu umat Hindu dalam berbagai kesulitan-kesulitan seperti sulitnya tempat pembuangan abu bagi umat yang melaksanakan upacara ngaben, di samping ingin membantu masyarakat dalam bentuk dana pada setiap upacara pujawali dengan mengeluarkan biaya yang cukup besar, sehingga dana yang dialokasikan untuk anggota legislatif sepenuhnya saya sumbangkan kepada umat yang membutuhkan demi meringankan beban umat Hindu di Kota Mataram (Khususnya di Kebendesaan Pagesangan). Selain itu ingin membantu umat Hindu dalam menyelesaikan persoalan-persoalan keumatan serta persoalan-persoalan yang memarginalkan umat Hindu seperti keberadaan tanah desa, kuburan, dan lain sebagainya. Seandainya saya bisa duduk di legislatif, saya dapat mengkomunikasikan serta memperjuangkan sekaligus menyampaikan kepada pemegang kebijakan terutama pemerintah untuk memberikan rasa keadilan kepada seluruh masyarakat Kota Mataram tanpa memandang suku, ras, dan golongan”.

Komunikasi tersebut dilakukan secara interpersonal melalui pimpinan banjar (Kelihan) atau kelompok yang dituakan sehingga niat serta tekad menjadi calon anggota legislatif disampaikan kepada masyarakatnya. Dalam Niti Sastra (1997 : 3) menjelaskan bahwa “ring jadmadika meta citta reseping sarwa prajangenaka” artinya semestinya orang yang terkemuka harus dapat menyenangkan hati orang banyak.

Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung baik secara verbal maupun non verbal. Komunikasi interpersonal tidak hanya dengan apa yang dikatakan, yaitu bahasa yang digunakan akan tetapi bagaimana yang dikatakan misalnya non verbal pesan yang dikirim, seperti nada suara dan ekspresi wajah (Mulyana, 2005 : 15).

Komunikasi interpersonal merupakan salah satu jenis komunikasi yang frekuensi cukup tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Efektifitas dalam komunikasi interpersonal mendorong terjadinya hubungan positif antara teman, keluarga, masyarakat maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan. Hal tersebut memberikan manfaat serta dapat memelihara hubungan antarpribadi dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga, masyarakat serta bangsa dan negara. Hal senada diungkapkan Cangara (2010 : 22-23) bahwa komunikasi interpersonal diperlukan untuk mengatur tata krama pergaulan antar manusia, sebab dengan melakukan komunikasi interpersonal dengan baik memberikan pengaruh langsung pada struktur seseorang dalam kehidupannya. Percakapan yang berlangsung dalam suasana bersahabat dan informal. Dialog berlangsung dalam situasi yang lebih intim, lebih dalam, dan lebih persona, sedangkan wawancara sifatnya lebih serius, yakni adanya pihak yang dominan pada posisi bertanya dan yang lainnya menjawab. Hal senada dipertegas dalam Bagavadgita III.8 menjelaskan :

Niyatam kuru karma tvam

Karma jyayo hyakarmanah

Sarira-yatrapi ca ten a

Prasiddhyed akarmanah

 

Artinya :

Bekerjalah seperti yang telah ditentukan, sebab berbuat lebih baik dari pada tidak berbuat, dan bahkan tubuhpun tidak akan berhasil terpelihara tanpa berkarya.

  1. Komunikasi Persuasif

Pada komunikasi dalam situasi menggunakan persuasi. Menurut Betting House (dalam Onong, 1981 : 107) menjelaskan bahwa dalam kepemimpinan dan komunikasi diperlukan suatu komunikasi mencakup usaha seseorang dengan sadar mengubah tingkah laku orang lain atau sekelompok orang lain melalui penyampaian beberapa pesan.

Dengan menggunakan komunikasi persuasi diharapkan dapat menyakinkan orang lain agar publiknya berbuat dan bertingkah laku seperti yang diharapkan oleh komunikator dengan cara membujuk tanpa paksaan. Hal tersebut dilakukan sebagai usaha untuk mencapai tujuan tertentu dalam upaya menyampaikan pesan dan maksud sehingga hal tersebut dapat tercapai secara maksimal. Tujuan pokok dari persuasi adalah untuk mempengaruhi pikiran, perasaan, dan tingkah laku seseorang, kelompok untuk melakukan upaya kemudian melakukan suatu tindakan sesuai dengan yang dikehendaki. Persuasi bukan sekedar membujuk namun lebih dari itu yaitu menggunakan data dan fakta psikologis, sosiologis dari orang-orang yang ingin dipengaruhi untuk mendapatkan hasil maksimal (Widjaja, 2010 : 68).

Dalam penerapan komunikasi persuasi beberapa hal perlu mendapat perhatian sebagai berikut : 1) pesan atau ajakan yang disampaikan kepada masyarakat atau pihak-pihak tertentu dapat menstimulir sesuatu pada saran; 2) pesan atau ajakan tersebut berisikan lambang-lambang atau benda-benda komunikasi yang sesuai dengan daya tangkap, daya serap, dan daya tafsir dari sebagian besar masyarakat atau golongan-golongan tertentu; 3) pesan atau ajakan harus dapat membangkitkan keperluan atau kepentingan tertentu pada sasarannya kemudian menyarankan usaha-usaha atau upaya tertentu untuk pemenuhan harapan tersebut; 4) pesan atau ajakan yang disampaikan memberikan suatu saran usaha dan upaya yang hendak disesuaikan dengan situasi dan norma kelompok dimana sasaran itu berada; dan 5) pesan atau ajakan dapat membangkitkan harapan-harapan tertentu.

Dalam hal lain I Ketut Bagiarta sebagai Caleg Propinsi menjelaskan :

“Saya ingin menjadi wakil Bapak/Ibu di Dewan tidak lain dan tidak bukan adalah untuk ikut bersama-sama memikirkan umat Hindu sekaligus memajukan umat menuju kesejahteraan dan kerahayuan. Dengan demikian wakil umat yang duduk di anggota Dewan memiliki sifat kritis dan cerdas dalam menyikapi fenomena yang terjadi sehingga umat tidak merasa malu menyalurkan aspirasinya yang didasari oleh pelayanan tulus dan ikhlas untuk membantu umat dari keterpinggiran dan terisolasi dari berbagai tantangan dan hambatan yang telah menimpa umat Hindu Propinsi Nusa Tenggara Barat termasuk Kota Mataram pada khususnya”.

Hal senada didukung oleh pernyataan Ngurah (1998 : 145) menjelaskan :

Yadanseyay hitay nasyat atmanaa karma purusa, Srapatrapeta va yena na tat kuryat kataycana

Artinya :

Hendaknya janganlah dilakukan perbuatan tercela kepada siapapun, bila perbuatan tersebut tidak mengantarkan orang kepada kerahayuan atau membawa malu kepada kita.

Hal tersebut senada dengan penjelasan Niti Sastra (1997 : 30 menjelaskan bahwa “gawe hala hajeng manuntun angering manuduhaken ulah tekeng tekan, kalinganika ring dadi wwang I sedeng hurip angulaha dharma sadhana.

Artinya :

Hanya kejahatan dan kebajikan yang mengikuti dan menunjukkan jalan akhirat, oleh karena itu selama hidup ini kita hendaknya selalu beramal saleh sebagai bekal untuk mencapai sorga.

 

  1. Komunikasi Simbolik

Adanya simbol-simbol Hindu yang digunakan sebagai media sosialisasi politik yang mengusungnya berasal dari etnis tertentu (etnis Bali) misalnya seorang caleg menggunakan baju adat dan kain kemudian menggunakan udeng (destar/ikat kepala) merah sebagai simbolisasi PDIP ketika berkunjung kelihatan lebih bersahabat/bersaudara dan menunjukkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan. Sebaliknya bilamana simbol-simbol tersebut dihadirkan pada etnis atau masyarakat di luar Hindu, justru menjadi ancaman sehingga diperlukan kerakteristik nasionalisme untuk mengeliminir kesenjangan adaptasi atau komunikasi dalam membangun pencitraan partai maupun diri politisi. Hal senada disampaikan pimpinan pasraman pagesangan adalah sebagai berikut :

”Salah satu komunikasi simbolik yang digunakan pada dasarnya menggunakan simbol pasraman sebagai pemujaan Kresna dengan menyampaikan komunikasi kepada masyarakat/kelompok pengikutnya dengan tujuan memperdalam ajaran agama disamping memperjuangkan umat Hindu untuk meningkatkan kesejahteraan lahir dan bathin” termasuk aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi dan yang lainnya.

Penjelasan di atas senada dengan konsep Veggers (dalam Ruslan, 2011: 28-29) menjelaskan bahwa interaksi simbolik selalu berhubungan dengan konsep kegiatan, konsep interaksi sosial, konsep aksi bersama, konsep diri, dan konsep objek. Jadi manusia mencoba mencari makna dari aksi yang dilakukan yang memungkinkan terjadinya komunikasi dan interaksi sosial dengan kelompok lain. Begitu pula dengan konsep aksi bersama (join action) yang merupakan kegiatan kolektif yang timbul dari penyesuaian dan keserasian perbuatan orang yang satu dengan pihak lainnya.

  1. Komunikasi Massa

Strategi politik Hindu di Kota Mataram tidak terlepas dari komunikasi massa yaitu melalui media. Jika terjadi relasi antara dunia politik dengan pembentukan opini atau tanggapan serta persepsi masyarakat Hindu di Kota Mataram, maka hasil dari proses politik dapat disosialisasikan melalui publik dan media sebagai sarananya. Dengan demikian, media merupakan sarana yang sangat penting dalam pembentukan citra calon legislatif. Media juga sangat dibutuhkan dalam membangun modal status calon legislatif terhadap opini publik, termasuk   mempengaruhi serta menjalin relasi dengan elit politisi lain dari partai politik yang berbeda. Hal senada sesuai dengan pernyataan Siregar (2006 : 43-44) menjelaskan bahwa Indeks Politik umumnya hanya bertumpu kepada hubungan antara media dengan kekuasaan. Sebenarnya pandangan tersebut memperluas pandangan bahwa indikator media menjadi indikator sosial. Bila masyarakat cerdas dan cermat menggunakan media, maka penggunaan media, baik resmi maupun tidak resmi merupakan pertanda dari kecenderungan masyarakat untuk mendapat modal pencitraan dan pengakuan publik. Hal senada Pudja (2002 : 61) menjelaskan :

Akamasya kriya kacid

Dracyate neha karhicid

Yadyadbhi karute kimcit

Tattat kamasya cestitam

 

Artinya :

Tidak ada suatu perbuatanpun di dunia ini nampaknya dilaksanakan oleh seseorang bebas dari keinginan, karena apa juapun yang dilakukan manusia adalah didorong oleh rasa keinginan.

Iklan-iklan politik bergelimangan terpampang di berbagai sudut perhatian (di perempatan, pertigaan maupun di pojok-pojok jalan) secara terus-menerus bermunculan dengan menawarkan berbagai macam slogan sosialisasinya untuk mendapat perhatian masyarakat. Dengan adanya media komunikasi tersebut, seorang politisi lebih mudah mensosialisasikan program visi, misi serta program kerjanya. Untuk itu diperlukan efisiensi dan efektifitas manajemen pengelolaan fenomena maupun isu sentral terhadap visi dan misi partainya. Adanya penggunaan media baru dengan cepat dan tepat membantu proses sosialisasi, koordinasi, serta memudahkan masyarakat Hindu kota Mataram dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan demikian peran media sangat penting dalam pembentukan opini masyarakat terhadap pencitraan politik Hindu kota Mataram. Hal tersebut akan lebih mudah dikonstruksi ketika semua informasi yang menjadi kebutuhan masyarakat terpenuhi.

Salah satu media yang digunakan caleg kota Mataram I Gusti Gde Matas untuk membangun citra atau modal publik yaitu TV lokal.

“Hasil visualisasi peneliti dari caleg atas tayangan TV lokal menyampaikan bahwa masyarakat Hindu agar tetap berkibar dan berjuang untuk tetap maju memperjuangkan umatnya dari kemelaratan dan penderitaan. Untuk itu perlu orang-orang yang mampu memperjuangkan umat Hindu dan bangkit dari ketertinggalan.

Selain itu media yang digunakan caleg Hindu kota Mataram membangun citra publik melalui media seperti koran, radio, spanduk, banner, flayer atau brosur, karena media tersebut punya potensi sebagai alternatif pilihan politisi Hindu kota Mataram. Di samping menggunakan serta memanfaatkan media lain seperti internet, youtube, website, blog dan yang lainnya sehingga lebih efektif dan produktif dalam mendesiminasikan informasi sesuai dengan kebutuhan dan keperluan masyarakat Hindu di kota Mataram. Senada dengan pernyataan Wilbur Schramm (dalam Kuswandi, 2008 : 8) menjelaskan bahwa pengaruh komunikasi massa ditentukan oleh audien karena setiap undividu yang terkena pengaruh komunikasi massa, tidak begitu saja menerima dari komunikator, namun dalam banyak hal komunikator justru berhadapan dengan apa yang disebut Obstinate Audience.

Obstinate Audience adalah suatu sikap individu yang terkena pengaruh komunikasi massa telah mempunyai predisposisi (sikap tertentu) serta persepsi selektif terhadap sesuatu isu. Selektivitas tersebut terbagi dalam tiga bentuk dan mempunyai suatu karakteristik tersendiri, yaitu selective perception, selective exposure serta selective retention.

 

  1. Komunikasi Sosial Budaya

Dalam mengkomunikasi pesan-pesan politik selalu mengacu kepada kearifan lokal masyarakat kota Mataram. Dengan melihat kondisi masyarakat Hindu kota Mataram yang pluralistik, maka diperlukan pendekatan pluralisme yang dapat mengakomodir berbagai kepentingan masyarakat Hindu kota Mataram. Dengan pengelolaan citra politik dengan mengedepankan identitas budaya Hindu Lombok, maka memberikan kesan rasa persaudaraan serta seperjuangan yang tinggi diantara masyarakat Hindu di kota Mataram. Senada dengan teori aksional (2011 : 17) menjelaskan bahwa orang-orang menciptakan makna didasari oleh suatu tujuan serta menentukan pilihan nyata. Padangan tersebut sebagai pijakan teleologis, yaitu menyatakan bahwa pengambilan keputusan dirancang untuk menciptakan tujuan-tujuan tertentu.

Di samping itu Kadjeng (2003 : 7) menjelaskan sebagai berikut.

Manusah sarvabhutenu varttatevai subhacubhe, Acbhevu samaviubam subhesvevavakarayet.

Artinya :

Di antara semua mahluk hidup hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk; leburlah ke dalam perbuatan yang baik karena perbuatan yang buruk akan menjadikan manusia tidak ada gunanya.

Hal tersebut dengan pandangan Niti Sastra (1997 : 45) menjelaskan sebagai berikut.

Wasita nimittanta manemu laksmi

Wasita nimittanta manemu mitra

Wasita nimaittanta manemu duhka

Wasita nimittanta pati kapangguh

 

Artinya :

Dengan kata-kata engkau mendapat bahagia, dengan kata-kata engkau mendapat teman, dengan kata-kata engkau mendapat penderitaan/kesusahan dan dengan kata-kata pun engkau mendapat kematian.

Selain itu untuk berkomunikasi memerlukan suatu organisasi-organisasi tertentu dalam hal ini adalah partai politik yang mengusung sekaligus sebagai kendaraan politik dalam memperjuangkan aspirasinya di legislatif. Hal senada didukung pernyataan Hobes (dalam Aloliliweri, 2001 : 10) seorang filsuf dan ahli Ilmu Politik pada abad XIX menulis buku berjudul Leviatham menyatakan bahwa setiap manusia mempunyai naluri berpolitik dan selalu melibatkan diri dalam organisasi sosial. Dalam naluri manusia terdapat sesuatu yang bersifat alamiah sehingga dapat melakukan tindakan untuk mengubah peranannya dalam masyarakat demi memenangkan dalam merebut kekuasaannya. Untuk menentukan hubungan yang paling radikal antara masyarakat dan kebudayaan diperlukan suatu politik sehingga dapat mempertahankan keinginan dan kebutuhannya.

 

Simpulan

Dari pembahasan tentang komunikasi politik calon legislatif Hindu kota Mataram dalam pemilu tahun 2014 dapat ditarik simpulan sebagai berikut :

  1. Adanya komunikasi politik umat Hindu dalam calon legislatif sebagai bukti bahwa masyarakat Hindu mampu bersanding dengan umat lain yang memegang kekuasaan sehingga eksistensinya dapat menyuarakan serta memperjuangkan aspirasi umat Hindu disamping dapat memfasilitasi pejabat-pejabat di tingkat daerah maupun di tataran pusat.
  2. Dalam komunikasi politik calon legislatif Hindu kota Mataram dalam pemilu tahun 2014 melalui komunikasi interpersonal, persuasif, simbolik, massa, dan komunikasi sosial budaya.

*) Dosen Program Pascasarjana STAHN Gde Pudja Mataram

 

Daftar Pustaka

Aloliliweri. 2001. Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Anonim. 1997. Kakawin Niti Sastra dan Putra Sasana. Mataram : Parisada Hindu Dharma Indonesia Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Cangara, Hafied. 2010. Pengantar Ilmu Komuniasi. Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada.

Kadjeng, I Nyoman. 2003. Sarascamuscaya. Surabaya : Paramita.

Kuswandi, Wawan. Komunikasi Massa Analisis Interkatif Budaya Massa. Jakarta : Rineka Cipta.

Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi Suatu Penghantar. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Ngurah, I Gusti Made dkk. 1998. Pendidikan Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi. Surabaya : Paramita.

Onong, Ushyana Effendy. 1981. Kepemimpinan dan Komunikasi. Bandung : Alumni.

Pudja, I Gde. 2004. Bhagawad Gita. Surabaya : Paramita.

Pudja, I Gde dan Tjokorda Rai Sudharta. 2002. Manawa Dharmasastra. Jakarta : CV. Felita Nursatama Lestari.

Ruslan, Rosadi. 2011. Etika Kehumasan Konsep dan Aplikasinya. Jakarta : RajaGrafindo Persada.

Siregar, Ashadi. 2006. Etika Komunikasi. Yogyakarta : Pustaka.

Widjaja, H.A.W. 2010. Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakrata : Bumi Aksara.

Comments are closed.

  • DOWNLOAD

  • Jurnal PASUPATI ISSN 2303-0860

  • Memajukan SDM Hindu

    Salah Satu Karya Dosen STAH DNJ

    Memajukan SDM Hindu

  • Categories

  • Recent Posts

  • Archives

  • DHARMAGITA

    Mrdukomala

    Ong sembah ninganatha tinghalana de tri loka sarana

    Ya Tuhan sembah hamba ini orang hina, silahkan lihat oleh Mu penguasa tiga dunia

    Wahya dhyatmika sembahing hulun ijongta tanhana waneh

    Lahir bathin sembah hamba tiada lain kehadapan kakiMu

    Sang lwir Agni sakeng tahen kadi minyak saking dadhi kita

    Engkau bagaikan api yang keluar dari kayu kering, bagaikan minyak yang keluar dari santan

    Sang saksat metu yan hana wwang ngamuter tutur pinahayu

    Engkau seakan-akan nyata tampak apabila ada orang yang mengolah ilmu bathin dengan baik

  • STATISTIK

  • Blog Advertising - Advertise on blogs with SponsoredReviews.com