STAHDNJ.AC.ID

Vidyaya, Vijnanam, Vidvan
Subscribe

Archive for the ‘Artikel Keagamaan’

REINTERPRETASI ARCHA DALAM PEMUJAAN AGAMA HINDU

October 17, 2013 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh : Halfian *

A. Kasus

Sering sekali kita mendengar mengenai Archa atau pratima yang merupakan hal yang biasa dalam kegiatan keagamaan Hindu, terutama dalam upacara pujawali, melasti dan abhisekha atau pasupati (melaspas). Dalam khazanah ritual, agama Hindu memiliki keistimewaan tersendiri bila dibandingkan dengan agama lainnya terutama agama barat. Agama Hindu bila dilihat secara kasat mata maka pandangan yang akan diterima sangatlah rumit dan irrasional. Mengapa hal ini terjadi? Dikarenakan kita tidak mengetahui makna dibalik kegiatan agama Hindu tersebut. Sangat banyak tidak hanya opini dari agama non-Hindu namun juga umat Hindu sendiri yang banyak terjebak pada pemahaman secara agama sastra atau sabda suci. Hal ini wajar terjadi, bisa dikarenakan kurangnya pendistribusian buku agama, hegemoni agama, penyuluhan dan pembinaaan yang kurang atau bahkan karena guru agama atau tokoh agama yang berkecimpung di dalam permasalahan agama tidak` memahaminya. Sehingga memiliki makna yang tidak jelas atau nisbi mengenai hal tersebut.

Atau dikarenakan hegemoni agama, dikarenakan sebagai minoritas maka kita mengikuti bahkan menyamakan konsep yang ada sehingga menghilangkan sesuatu yang ada di agama kita. Semua agama berbeda dan mata dunia melihat dengan berbagai perspektif baik secara holistik, parsial maupun abstrak. Dalam kasus ini penulis ingin mengangkat sebuah kasus yang selalu ditemukan dimana saja ketika kita pergi ke sebuah pura atau mandir juga kuil suci Hindu. Ada banyak perspektif atau sudut pandang yang diterima oleh banyak umat Hindu saat ini. Penulis ingin membahas mengenai Archa yang merupakan sesuatu yang terpenting dalam pemujaan dalam agama Hindu karena berkaitan dengan keyakinan dan pengahayatan beragama.

Ketika penulis datang ke sebuah pura di Rawamangun, penulis menemukan dua orang berbincang-bincang mengenai Archa di dalam pura tersebut. Menurut penulis, tema perbincangan tersebut sering dibicarakan, katakanlah nama mereka Made dan Nyoman. Perbincangan mereka sangatlah menarik karena berkaitan dengan bagaimana mereka menginterpretasikan Archa sesuai dengan pemahamannya. Made memiliki pemahaman bahwa Archa Dewi Saraswati hanyalah sekedar media konsentrasi, agar kita dapat memusatkan pikiran yang selalu liar agar terikat pada satu objek citra suci, yang memang diciptakan oleh manusia untuk itu. Namun berbeda dengan Nyoman, ia memiliki pemahaman bahwa Archa hanyalah sebuah simbol dan berbeda dengan Tuhan yang sulit dipikirkan dan dilukiskan karena beliau tidak memiliki bentuk.

Mereka membahas dan berdiskusi mengenai hal ini melalui interpretasi pikirannya sendiri. Begitu juga paradigma yang berkembang yang memiliki makna yang sama dengan burung garuda ataupun bendera kebangsaan dengan Archa Tuhan. Begitu juga penafsiran mengenai perbedaan antara foto sang ayah dengan ayah sendiri. lnterpretasi atau pemberian makna kepada Archa sangatlah diberikan kebebasan dalam memaknai sesuatu namun bila sesuatu tersebut berkaitan dengan apa yang disebut sebagai tujuan umat manusia yaitu Tuhan, kita hendaknya merunut pada pandangan sastra Veda yang merupakan sabda suci dari Tuhan.

Tampaknya kita sebagai pemerhati dan calon pengajar agama Hindu dan akan terlibat dengan berbagai kasus masyarakat membahas mengenai “Pemujaan Archa” dalam masyarakat Hindu ini benar-benar suatu fenomena yang dapat memberikan kejelasan pada kasus tersebut, karena pemujaan terhadap Archa adalah bentuk praktik rohani yang banyak digemakan bahkan disalah mengerti baik oleh umat non-Hindu bahkan umat Hindu sendiri. Keadaan demikian sangatlah menyedihkan karena adalah orang-orang Hindu sendiri yang akan menjelaskan dengan baik, tepat dan benar praktik keagamaan yang telah menjadi bagian integral dalam masyarakat Hindu sejak jaman yang tak mampu diingat lagi. Tentunya penjelasan tersebut harus dimengerti sebagaimana seharusnya sehingga tidak memiliki suatu pandangan yang abstrak sehingga dapat memberikan dampak yang fatal bagi umat, bukan menurut pengertian terbatas dari paham-paham non-Hindu yang justru telah dilampaui oleh Maharsi atau Acharya.

Dengan demikian kita harus memiliki pandangan yang sejalur dengan mereka yang memiliki pengetahuan yang sempurna dalam praktik ini, bukan dari mereka yang memiliki pengetahuan parsial bahkan dari mereka yang sedari mula tidak menerima bentuk pemujaan Archa seperti umumnya pengikut agama Abrahamik. Sebelum memulainya maka kita perlu tahu bahwa apa yang dikatakan sebagai “patung Hindu” atau “berhala Hindu” oleh mereka yang tidak mengetahui apa yang dijelaskan menurut sastra suci Hindu,Veda. Bahkan istilah-istilah yang digunakan sudah menjelaskan hal ini. dalam bahasa sanskerta, kita memiliki terminologi yang kaya akan menyebutkan suatu ikon atau benda yang disucikan.

· Murti, yang memiliki pengertian sebagai wujud atau pengejawantahan sesuatu pada benda.

· Vigruha, sama dengan stana atau lingga dari Tuhan dan prabhawa-Nya.

· Pratima, keserupaan.

· Rupam, bentuk.

· Archa, pusat dari aktivitas pemujaan yaitu Tuhan sendiri dan dapat berarti sebagai tujuan dari pemujaan.

Selanjutnya untuk mengetahui hal ini kita juga harus memahami mengenai pramana atau dasar pembuktian dari kasus ini. ketika kita menjelaskan suatu praktik dalam agama Hindu, maka kita harus menggunakan sastra yang menjadi acuan. Adalah sastra-sastra agama yang akan menguraikan kehidupan ritualistik sehari-hari sehingga tidak ada sudut pandang “nak mulo keto atau dari dulu sudah demikian”. Dalam pustaka suci pula menjelaskan secara prosedural dari kegiatan keagamaan Hindu yang menggunakan berbagai sarana baik dilakukan di pura dan kuil bahkan di rumah.

B. Apa Yang Dikatakan Agama Sastra Tentang Archa?

Menurut ajaran-ajaran dari pustaka Agama, Sang Ada Tertinggi atau Tuhan berada di balik semua konsep duniawi, melampaui semua yang dikonsepkan dan bersifat mutlak. Tuhan berada diluar jangkauan pikiran manusia. Namun oleh belas kasih Tuhan Yang Tak Terbatas dan Kekuatan RohaniNya yang tak dapat dipahami, Tuhan memanifestasikan, mewujudkan, menampilkan Diri—Nya dalam citra suci yang dibentuk melalui aturan—aturan yang ketat dan sesuai dengan sastra suci, dikonsentrasikan dan dipuja sesuai prosedur ritual agama Hindu tersebut. Di dalam konsep ketuhanan Hindu dapat dipahami melalui 5 konsep yaitu:

1. Para, bentuk tertinggi atau transenden dari Tuhan beserta kemuliaannya yang tak terbatas.

2. Vyuha, bentuk ekspansi atau perluasan dari Tuhan, contohnya Vasudeva, Sankarsana, Pradyumma, Aniruddha.

3. Vaibhava, perwujudan Tuhan sebagai awatara—awatara yang memiliki misi untuk menegakan dharma.

4. Antaryami, Tuhan bersemayam dan meresapi segala ciptaan-Nya, sebagai objek meditasi.

5. Archa, Tuhan memasuki substansi yang menjadi objek pemujaan.

Dari konsep di atas jelas walaupun Tuhan Transenden, tak terpikirkan dan terlukiskan, namun Tuhan dapat distanakan di dalam Archa atau Pratima untuk menerima pengabdian suci dari penyembah-Nya dan menganugerahkan mereka anugerah. Citra suci merupakan manifestasi sebagai Tuhan di bumi yang merupakan objek dan titik pusat pemujaan yang sungguh—sungguh hadir dihadapan para penyembah. Bagaimana kita dapat memahami doktrin kebenaran tersebut? Pertama, Tuhan Hindu adalah Maha Ada, Meresapi Segalanya, Maha Tahu dan Maha Sakti (Omnipresent, Omniscient dan Omnipotent). Tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang melebihi kekuatan Beliau. Pada saat Citra suci di Abhisheka atau prana pratistha (dipasupati) dengan mengikuti aturan yang ada pada sastra dengan tepat dan benar, Tuhan dimohonkan hadir dalam Archa tersebut. Kedua, Tuhan merupakan saksi bathin yang mengetahui semua pikiran dan hati nurani manusia dan Tuhan pastilah akan membalas perasaan cinta kasih manusia kepada-Nya. Hubungan antara pemuja dan yang dipuja berlangsung dengan berbalas-balasan bukan hanya satu arah. Dengan memperhatikan hal ini maka dengan sebagian kecil dari kekuatan—Nya yang tak terbatas. Konsep ajaran ini dengan demikian merupakan suatu representasi unik yang tiada duanya dan dimiliki secara khusus sampai saat ini hanya oleh masyarakat Hindu. Contohnya pada waktu upacara pujawali, melasti, abhiseka atau prana pratistha (pasupati).

C. Memahami Perumpamaan Secara Jelas Dan Benar

Archa tidak hanya memiliki makna simbolis, yang memiliki makna suci atau sakral untuk pemujaan akan tetapi Archa adalah wujud Tuhan sendiri di Bumi. Ada beberapa interpretasi seseorang terhadap Archa yang sehingga memiliki multi tafsir yang dapat menyebabkan makna yang keliru terhadap pemaknaan Archa. Contohnya, Archa merupakan suatu bentuk yang dipikirkan oleh seseorang sebagai media pemujaan, seperti halnya bendera kebangsaan yang harus dihormati.

Dengan menganggap bahwa Archa hanya sekedar symbol dan itu berbeda dengan Tuhan Yang Tak Terpikirkan dan Terlukiskan. Dan berpikir bahwa semua bangsa di dunia ini mencintai dan menghayati bangsanya, tetapi cobalah bertanya, bagaimana wajah bangsanya? Tidak seorangpun dapat menggambarkannya Karena itulah membuat symbol sebagai representasi bangsanya yang besar. Pemahaman seperti ini sesungguhnya haruslah diluruskan dengan mengacu pada sastra yang ada yaitu : Bhagavata Purana 10.40.7 “Yajanti tvam maya vai bahu murtyeka murtikam, meskipun Tuhan mewujudkan diri dalam berbagai macam rupa dan bentuk, tetapi Anda tetap satu tiada dua, dan kami hanya menyembah diri-Mu saja”. Juga dalam Bhagavad Gita 4.6 “ajo pisan avyayatma bhutanam isvaro pisan, prakrtiim svam adhistanaya sambhavamy atma mayaya——walaupun Aku tidak dilahirkan, abadi dan penguasa segala makhluk, namun dengan menundukan prakrti-Ku sendiri, Aku mewujudkan diri-Ku melalui kekuatan maya-Ku” dan Bhagavad Gita 4.9 ‘janma karma ea me divyam, kelahiran dan kegiatan-Ku sepenuhnya adalah rohani”. Maka jelas Tuhan memiliki wujud rohani yang tidak dapat dibayangkan, dipikirkan bahkan dilukiskan, namun hanya melalui kehendak

Beliau seseorang dapat melihat wujud rohani Tuhan walaupun hanya sebagian dari kemuliaan dan kebesaran-Nya sesuai kemampuan seseorang yang ditunjang bhakti yang murni. Seperti Arjuna., Narada Muni, Vyasaveda dan acharya lainnya.

Dalam pembuatan Archa pun digunakan bahan-bahan yang dibenarkan oleh sastra, yaitu:

1. Arca terbuat dari kayu.

2. Arca terbuat dari logam (emas, perak, tembaga, dsb).

3. Arca terbuat dari tanah lihat.

4. Arca terbuat dari kain dan cat.

5. Arca terbuat dari pasir.

6. Arca terbuat dari batu.

7. Arca terbuat dari permata, dan

8. Arca yang dibayangkan dalam pikiran (Bhagavata Purana 11.27.12).

Masalahya adalah bila perumpamaan bendera atau burung garuda disamakan dan dijadikan tolak ukur untuk jawaban seperti itu sangatlah dapat memberikan makna yang kering sehingga rasa bhakti dan keyakinan pun kering, sehingga memaknai Archa hanya sebagai media konsentrasi atau simbol seperti bendera.

Mengenai pemikiran bahwa Tuhan tidak dapat diwujudkan atau tidak memiliki wujud dan tidak dapat digambarkan, maka hal ini bertentangan dengan kebesaran Tuhan Yang Maha Sempurna (Isha Upanisad, mantra pembuka juga Bhagavad Gita 10.10). Wujud Tuhan dalam Archa bukan dibentuk oleh sesuai angan-angan pikiran si pembuat, akan tetapi wujud tersebut ada dalam relung hati para Maharsi dan Acharya atau Alwar yang telah mengalami anubhavam (mengalami secara langsung menyatakan kesetujuan untuk memperlihatkan diri-Nya) seperti, Godai Devi, Haridasa Thakura, Narsi Mehta, Tulsidas, Appaya Diksitar, Kanaka Dasa dan lainnya. Murti sama dengan Tuhan, karena merupakan wahana ekspresi dari mantra Chaitanya yang merupakan Dewata (Sivananda Svami, 2003).

Umat Hindu yang mematuhi aturan-aturan Veda dan Agama dilarang keras untuk mengimajinasikan, menghayalkan, atau membuat sesuatu untuk kemudian dipuja tanpa mengikuti aturan atau prosedural sabda suci Veda. Di atas itu semua Tuhan sendiri telah menurunkan svayam-murti, citra suci yang tidak dibentuk oleh makhluk fana apapun, diberbagai tanah suci Hindu. Semua rupa dengan berbagai posisi, duduk, berdiri, berbaring telah diwujudkan oleh Tuhan sendiri sebagai model untuk pembentukan murti-murti berikutnya. Bahkan Tuhan juga hadir dalam wujud yang penuh dengan satyam, sivam dan sundaram. Seperti di Gandaki-sila yang ada di Thirucchalagramam-Nepal, Daru-Brahman di Jaganatha Puri-Orissa, Sri Rangam dan Srinivasa di Tirupati serta sebagainya.

* Penulis Dosen STAH DN Jakarta

Kuliah Umum Vedanta dan Sains

July 03, 2013 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Agama dan sains kerapdianggap sebagais esuatu yang saling bertentangan. Sains yang berpedoman pada fakta empiris kerap mendiskreditkan agama sebagai mitos paling muktahir dalam sejarah peradaban dunia.Sedangkan agama menganggap sainssebagai bentuk arogansi pengetahuan karena logika penolakan unsur ilahi.Namun adakalanya keduanya bertemu dan saling mengisi satu sama lain. Pembuktian-pembuktian sains tentang aktivita salam semesta kerap sejalan dengan apa yang tertera di kitabsuci. Bahkan ilmu perbintangan yang muncul dari agama-agama sebelum kelahiran Kristus memiliki akurasi (ketepatan) yang bisa dibuktikan secara ilmiah.Sayangnya kultur dialektis seperti ini tidak cukup banyak diungkap kehadapan publik sebagai perekat dua golongan (agama dansains) yang sama-sama memiliki tujuan mulia pada bidangnya masing-masing.

foto-1

Minggu, 29 Juni 2013, merupakan hari di mana dialektika itu tersampaikan. Bertepatan di Graha Aditya Sabha, tengah berlangsung Stadium Generale (KuliahUmum) bertajuk Vedanta and Science yang dibawakan oleh His Holiness Subhag Swami Maharaj dari International Society for Krishna Consciousness. Acara yang terselenggara berkat kerjasama antara Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta, Parisada Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Bhakti Vedanta ini melibatkan seluruh elemen masyarakat Hindu Sejabodetabek. Kuliah Umum yang berlangsung dari pukul 09.00 – 14.00 WIB juga menampilkan sejarah perjalanan organisasi International Society for Krishna Consciousness, termasuk kedatangan Sri Srimad AC Bhaktivedanta Swami Prabhupada ke PuraAditya Jaya Rawamangun pada tahun 1973.

foto-2

Sebelum memasuki ruang seminar, His Holiness Subhag Swami Maharaj disambut oleh barisan mahasiswa serta pengalungan bunga oleh Ketua Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta, Prof. Dr. Ir. I Made Kartika D., Dipl.-Ing. KuliahUmum kali inidipanduoleh Ni PutuRatni, S.Pd.H serta penerjemah Nara sumber oleh Nyoman Tri Astawa, Sp.PD (Trata Dasa) mengingat kuliah yang disampaikan bersifat bilingual yakni Inggris dan Indonesia.

Kuliah umum ini kali menekankan pada bagaiamana proses mendapatkan kebenaran di dalam Veda juga senada dengan apa yang dilakukan oleh sains. Bahkan jika ditilik dari metodologi sains yang murni pada pengamatan empiris yang bersifat distingrif dan terukur, namun pada kenyataannya banyak sekali teori-teori sains, terutama teori sains terkenal, lebih bersifat spekulatif dan tidak berpedoman pada prinsip-prinsip metodologis sains itu sendiri. Dalam seminar ini dicontohkan teori evolusi dari Charles Darwin sebagai teori yang bersifat sangat spekulatif. Beliau menjelaskan bahwa Teori evolusi Darwin memberikan suatu spekulasi teoritis bahwa perubahan perlahan (evolusi) yang dialami seluruh makhluk hidup berjalan begitu saja  (secara acak).

foto-3

Vedanta dan Sains sama-sama mengkaji tentang hakikat dan unsur alam semesta. Deskripsi ontologis tentang hakikat alam semesta sebenarnya sudah dituntaskan di Vedanta. Dan dengan bahasa yang berbeda sains juga mengkaji hal tersebut yang mana jika dibandingkan dengan Vedanta keduanya memiliki prinsip yang hampir sama. Seperti yang dijelaskan oleh Narasumber bahwa seorang Ilmuwan seperti  A. Szent Gyorgi menyatakan“In my search for the secret of life, I ended up with atoms and electrons which have no life at all. Somewhere along the line, life has run out through my fingers. So, in my old age I am now retracing my steps. ”Penjelasan ini sejalan dengan prinsip Vedanta bahwa Tuhan sebagai yang absolut merupakan pengada namun beliau sendiri ‘ tidak terjelaskan’ secara materi atau sains.

Dalam seminar ini juga dapat dijelaskan bahwa Vedanta, bisa menjadi sebuah doktrini lmiah sekaligus teologis Hinduisme yang menjelaskan bahwa secara prinsip tidak ada pertentangan antara ilmu pengetahuan dengan agama.Faktanya, kedua bidang tersebut saling melengkapi. Hal ini disebabkan karena adanya pengertian bahwa ruang lingkup masing-masing bidang tersebut telah dibatasi dengan tegas. Dalam Hinduisme terdapat dua kategori pengetahuan—(1) paravidya—pengetahuan rohani dan (2) aparavidya – pengetahuan material. Pengetahuan ilmiah merupakan bagian dari aparavidya. Pengetahuan rohani – pengetahuan tentang Tuhan dan kehidupan termasuk dalam paravidya. Hinduisme menjelaskan bahwa pengetahuan ilmiah dapat menuntun kearah pengetahuan rohani.

Antusiasme umat terhadap ilmu pengetahuan terutama pengetahuan agama nampak terlihat padaa cara ini. Pertanyaan demi pertanyaan, yang berasal dari seluruh golongan baik mahasiswa maupun kelompok masyarakat, bertubi-tubi dilontarkan kepada pembicara. Nampaknya masyarakat sudah mulai kritis dengan segala bentuk informasi yang berhubungan dengani dentitas KeHinduan mereka. Ajaran Vedanta memang sangat luas, dan masyarakat (terutama di Indonesia) dapat menangkapnya lewat penjelasan komprehensif dari kitab Bhagavad Gita. Dari Bhagavad Gita lah manusia akan menemukan seluruh eksplanasi baik eksplanasi diri termasuk misterialam semesta.

Dalam wawancaranya dengan Bali TV, ketua panitia I Wayan Kantun Mandara, S.Ag., M.Fil.H memberikan tiga poin penting tentang tujuan dari kegiatan ini yakni, (1) Memberikan pencerahan tentang ajaran Vedanta dan relevasinya dengan sains (2) Membangun kesadaran baru bahwa Vedanta dapat beriringan dengan kehendak jaman, termasuk kemajuan sains (3) Menjalin kerja sama eksternal untuk ikut menumbuhkan atmosfer akademik di lingkungan Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta dan umat Hindu pada umumnya. Acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan kepada pembicara serta sertifikat kepada moderator yang diberikan secara langsung oleh Ketua STAH Dharma Nusantara Jakarta.Selesai pemberian kenang-kenangan dan sertifikat acara dilanjutkan dengan foto bersama antara Pembicara, Mahasiswa dan para umat. (ASW)

MENGENAL DARI DEKAT TABUH LELONGGORAN DULU DAN KINI

January 29, 2013 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh : IGB.Sutarta*

Bali selain dikenal dengan icon pulau seribu Pura, pulau Kahyangan, pulau dengan keunikan sawah berundak dan pulau exotis, ragam budaya dan seni, bahkan juga kaya akan keragaman seni karawitannya. Karawitan adalah istilah lain daripada Musik tradisional yang lazim di kenal di Jawa dan Bali. Untuk menyebutkan istilah karawitan biasanya hanya dikenal pada komunitas pelakunya itu sendiri, sementara untuk masyarakat umum akrab dengan sebutan gamelan. Dalam satu perangkat gamlean disebut barungan, misalnya barungan gamelan gong kebyar, barungan gamelan semar pegulingan, barungan gamelan angklung , barungan Gong Gede dan sebagainya. Nah masing-masing barungan ini memiliki spesifikasi sendiri, baik fungsi dan juga pemanfaatannya. Seperti gong kebyar sesuai dengan namanya fungsinya adalah untuk jenis lagu kekebyaran, dan pemanfaatannya untuk iringan tari kekebyaran/ tari kreasi baru. Sementara itu barungan Gong Gede, biasanya fungsi dan pemanfaatannya sebagai iringan tabuh petegak/ instrumen, memainkan jenis lagu lelambatan,pengiring upacara Dewa Yadnya, sesekali juga dapat digunakan sebagai iringan tari-tari tertentu, baik itu tari klasik atau iringan praghmen tari. Barungan gamelan Semara Pegulingan/ Semarpegulingan ada istilah saih pitu/ daun bilahnya berjumlah 7 ( tujuh ) bilah, yakni Ndang, Ndaing, Nding,Ndong,Ndeng, Ndeung, Ndung ,(nada setengahan atau dikenal dengan istilah pemero) fungsi dan pemanfaatannya sebagai lagu-lagu yang bisa dimainkan dalam tangga nada mayor maupun minor diatonis atau selendro pelog dalam pentatonis. Biasanya semarpegulingan sebagai pengiring tari khusus bergenre Pelegongan. Selain contoh barungan gamelan diatas, masih ada puluhan jenis barungan gamelan lainnya. Satu diantara sekian banyak barungan gong kebyar, tetapi tidak di pergunakan untuk kekebyaran ansih, tetapi lebih dikenal sebagai barungan gamelan “ Lelonggoran”. Lebih lanjut akan penulis uraikan mengenai Tabuh Lelonggoran sebagai berikut :

Tabuh Lelonggoran :

Cikal bakal lahirnya/ munculnya tabuh Lelonggoran ini diperkirakan lahir bersamaan dengan perkiraan munculnya Gong Kebyar pada abad ke 19 kurang lebih pada tahun 1915 di Desa Bungkulan, Buleleng Singaraja, merujuk tulisan Colin Mc Phee, seorang peneliti barat dalam bukunya Music In Bali ( 1966:328) yang mengatakan bahwa pada tahun 1915, Gong Kebyar di gunakan membarung ( lomba/parade tetabuhan red.) di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan Buleleng ( Pande Made Sukerta, makalah seminar Gong Kebyar.2006) dari informasi inilah dipakai sebagai acuan , dan bahkan untuk lebih menguatkan lagi bahwa Gong Kebyar lahir di Desa Bungkulan. Hal lainnya juga tulisan Balyson( dalam majalah Bhawanagara tahun 1934), menjelaskan terbentuknya gamelan kebyar/ gamelan untuk iringan Tabuh Lelonggoran, diawali dengan mengubah jenis bilah gangsa (tungguh) dari lima bilah hingga akhirnya menjadi sepuluh bilah. Demikian sekilas perjalanan Gong Kebiar yang kelak sebagai instrumen untuk memainkan Tabuh Lelongoran.

Tabuh Lelonggoran sebagai salah satu sarana yang selalu harus ada didalam rangkaian ritual Upacara Dewa Yadnya, sebagai pengejawantahan suara Bajra sang Wiku atau Genta suara pitu sang sulinggih saat melangsungkan pemujaan sebagai Yajmana( Manggalaning Yadnya ) Tarian sebagai Mudraning sang Yajmana ( Ciwa Nata Raja ) dan Gita/Nyanyian Kidung personifikasi Mantra Puja. Untuk sebagian umat saat melaksanakan persembahyangan ( mebakti ) tanpa alunan suara lagu-lagu lelonggoran yang dimainkan secara agung dan terasa ada atmosfir maghis, yang menentramkan hati, jika sudah lewat fase lagu-lagu yang ber-irama menyerupai lagu mars yang di bawakan kelompok marching band. Tabuh Lelonggoran menurut beberapa penggiat pelaku tabuh Lelonggoran, bahkan salah satu dari pelaku tersebut adalah seorang cucu dari sang Maestro, I Gusti Bagus Suarsana yang kebetulan juga seorang seniman tabuh mengatakan :

Adalah I Gusti Nyoman Panji Gede (sudah moring acintya, Alm, red) yang pada saat menekuni, menggubah, mengajarkan tabuh Lelonggoran pada anak didiknya di seantero desa Bungkulan juga di pelosok jazirah Buleleng yang di kenal dengan istilah Dauh Enjung ( kalopaksa,tangguwisia,anturan,tukad mugga, buleleng barat red.) dan Dangin Enjug,(Jinengdalem, Penarukan, sangsit, Jagaraga, menyali dan desa bungkulan buleleng timur red.) diperkirakan berusia 50 (lima puluh) tahun, sekitar tahun 1930 an. Beliau I Gusti Nyoman, selain piawai mengarang lagu secara otodidak, belaiu juga piawai mengarang/ membuat lagu di tempat berlangsung acara mebarung ( perlombaan red.) ada salah satu karya beliau yang boleh dikatakan sangat sakral dan memiliki nilai maghis yakni gubahan tabuh yang diberi nama tabuh “ Sudha Mala”. Lagu /tabuhan mana yang kalau dimainkan satu hari satu malam, tanpa berhenti. Sayang lagu tersebut oleh generasi penerusnya termasuk salah satunya yang masih exist I GB. Suarsana, tak mampu/ memaninkan lagu Sudha Mala tersebut. Kini Suarsana hanya bisa mengenag saat mana ia dan sang Kakek memainkan lagu tersebut dengan ekpresi terkantuk-kantuk saking lama dan panjangnya lagu tersebut, sementara ia baru berusia belasan tahun di tahun 50 an. Namun selain lagu Sudha Mala, masih banyak repertoar lagu/tabuh lelonggoran yang masih secara utuh dan baik dapat dimainkan oleh Suarsana dan adik-adiknya. Adapun harapan dan maksud penulis mengangkat salah satu ensiklopedi musik tradisi yang pada zamannya adalah merupakan karya yang sangat genius dan berilian, dimana didalamnya inhern sudah masuk unsur-unsur pengaruh musik modern yang didalamnya ada seperti intro,tempo, atempo, canon, sinkope, dinamika, interlocking pet/ ubit-ubitan, bahkan prase-prase dengan beat yang terkadang bagaikan slow rock, bahkan menggelegar bagaikan dentuman marching band dan seterusnya. Juga ada fungsi mayorete/ dirighen yang di gantikan oleh Terompong Pengarep. Ia berfungsi sebagai introduction, dirighen, juga leader secara organik. Pemain lainnya tidak akan berani memulai sebelum sang pemain Terompong pengarep memberi aba-aba. Melalui tulisan ini diharapkan, para generasi penerus mengetahui secara pasti dan benar mengenai makna dan fungsi tabuh Lelonggoran, baik dalam persepektif pengiring upacara Dewa Yadnya, maupun sebagai salah satu Barungan/ Rumpun tetabuhan instrumental. Juga diharapkan penerus baik komunitas/ anak cucu keturunan sang Maestro maupun pemerhati dan penggiat seni karawitan bali, mengetahui sejak kapan Tabuh Lelongoran di kenal di desa Bungkulan khususnya dan Buleleng bahkan Bali pada umunya. Dengan demikian jangan sampai masyarakat Buleleng sendiri terlebih masyarakat Bungkulan mendengar Tabuh Lelonggoran sangat asing, bahkan jauh lebih akrab dengan aneka tabuh Lelambatan dan kreasi baru, bahkan musiknya Kitaro. Bahwa kita butuh apresiasi sah-sah saja. Dengan demikian generasi penerus kita tahu, pernah tercatat pada suatu masa seorang “komposer” sekelas Kitaro,Wolfgang Amizius Mozart, pernah lahir di tanah Bali.

Kini , dengan perjalanan waktu, tabuh Lelonggoran, selain komunitas pengusung genre musik ini sudah mulai tergerus jaman, karena faktor alam, usia, segmen/pasar yang membutuhkan untuk eksisnya genre Lelonggoran untuk tetap bertahan, ia semakin tergerus dan tergilas dengan aliran musik “kekebyaran” ber genre pop, maka Tabuh Lelonggoran perlahan namu pasti akan semakin mengecil kerlip cahayanya di jagat karawitan Bali. Sebuah keniscayaan, bahwa Institu Seni Indonesia, kala masih sebagai Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Denpasar konon sudah mendokumentasikan sebagai salah satu jenis karawitan/ tabuh yang memiliki kekhasan di zamannya.

Tabuh Lelonggoran, kejayaan riwayatmu dulu, dan kini hanya sesekali masih dimainkan setidaknya di Pura Pemaksan komunitas sang Maestro I Gusti Nyoman Panji Gede,di Banjar Jero Gusti Bungkulan, Kecamatan Sawan Buleleng Singaraja Bali. Semoga tulisan ini ada manfaatnya, paling tidak sebagai pengetahuan ragam jenis karawitan Bali. Semoga .

*Dosen STAH DN Jakarta

  • DOWNLOAD

  • Jurnal PASUPATI ISSN 2303-0860

  • Memajukan SDM Hindu

    Salah Satu Karya Dosen STAH DNJ

    Memajukan SDM Hindu

  • Categories

  • Recent Posts

  • Archives

  • DHARMAGITA

    Mrdukomala

    Ong sembah ninganatha tinghalana de tri loka sarana

    Ya Tuhan sembah hamba ini orang hina, silahkan lihat oleh Mu penguasa tiga dunia

    Wahya dhyatmika sembahing hulun ijongta tanhana waneh

    Lahir bathin sembah hamba tiada lain kehadapan kakiMu

    Sang lwir Agni sakeng tahen kadi minyak saking dadhi kita

    Engkau bagaikan api yang keluar dari kayu kering, bagaikan minyak yang keluar dari santan

    Sang saksat metu yan hana wwang ngamuter tutur pinahayu

    Engkau seakan-akan nyata tampak apabila ada orang yang mengolah ilmu bathin dengan baik

  • STATISTIK

  • Blog Advertising - Advertise on blogs with SponsoredReviews.com