Membumikan Nilai Universal Hindu Dalam Rangka Mendukung Pembangunan Moral Bangsa
Oleh : I Ketut Ulianta, S.Pd
Sebagai Sanatanadharma, Hindu hendaknya memiliki andil dalam mendukung pembangunan moral bangsa, ketika moral bangsa mulai terasa menurun dan perlu pembenahan serta upaya-upaya yang konsen akan pendidikan akhlak mulia melalui pendidikan agama yang efektif. Menurunnya moral bangsa yang ditandai banyak fakta Kriminal, korupsi, pemerkosaan, narkoba, Asusila, Perjudian serta hal lain yang bersumber dari menurunnya kualitas budi pekerti manusia-manusia yang menjadi bagian dari bangsa ini, sekaligus menjadi indikator efektifitas pendidikan Akhlak mulia yang notebena digarap bidang Agama dan pendidikan moral perlu digarap secara serius oleh semua pihak yang menjadi bagian dari bangsa ini.
Beberapa Konsep dan Srada Hindu perlu didengungkan dalam rangka memberikan sumbangsih kepada pembenahan moral bangsa yang kian menurun dari waktu ke waktu antara lain :
Srada Karma Phala
Penyadaran akan adanya Karma phala kepada setiap insan dan manusia-manusia Indonesia yang membentuk bangsa ini perlu terus diupayakan. Karma Phala yang berasal dari bahasa sansekerta yaitu Karma yang artinya Perbuatan dan Phala yang artinya Hasil sehingga secara keseluruhan artinya adalah Hasil dari Perbuatan. Setiap Insan akan menuai hasil dari perbuatannya sendiri. Perbuatan yang buruk (Acubakarma) memberikan hasil yang buruk pula sebaliknya perbuatan yang baik (cubakarma) juga akan memberikan hasil yang baik. Setiap Insan Yang berbuat tidak baik akan menerima hasil sebagai phala dari karma yang buruk dan setiap insan yang berbuat kebaikan akan menerima hasil sebagai phala dari karma yang baik. Sorga dan neraka sebagai hasil/buah atas karma-karma yang diperbuat manusia. Setiap perbuatan yang dilakukan akan membuahkan hasil baik itu hasil yang langsung didapat saat itu atau hasil yang didapatkan nanti maupun hasil yang masih sisa dari perbuatan nya yang telah lalu. Semuanya akan diterima oleh insan yang bersangkutan sebagai pribadi. Kesadaran akan hal ini dapat mengarahkan setiap perbuatan insan/manusia kepada ajaran Tri Kaya Parisuda (berpikir, berkata dan berbuat yang benar) serta menjauhkannya dari Tri Mala (berpikir, berkata dan berbuat yang buruk).Tujuan akhir hidup manusia sesungguhnya bukanlah Sorga tetapi Moksa. Sorga sebagai stimulus positif untuk mengarahkan manusia untuk berbuat sesuai ajaran Dharma, berbuat Dharma dan bukan Adharma sehingga memudahkan dalam rangka mencapai tujuan akhirnya yaitu Moksa (Kebebasan Jiwa dari pengaruh-pengaruh kegelapan/Awidya Bersatu Kembali Ke asalnya yaitu Tuhan Yang Maha Esa). Neraka sebagai stimulus negatif agar manusia menghindari perbuatan yang bertentangan dengan Ajaran Dharma. Jadi hukum kausalitas antara Karma dengan Phala itu bersifat inheren dan karena itu phala itu tidak dapat diminta-minta karena pasti adanya. Dan pasti ada setelah adanya karma itu.




