stahdnj.ac.id

STAH Dharma Nusantara Jakarta
Subscribe

Archive for the ‘Artikel Keagamaan’

REINTERPRETASI ARCHA DALAM PEMUJAAN AGAMA HINDU

October 17, 2013 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh : Halfian *

A. Kasus

Sering sekali kita mendengar mengenai Archa atau pratima yang merupakan hal yang biasa dalam kegiatan keagamaan Hindu, terutama dalam upacara pujawali, melasti dan abhisekha atau pasupati (melaspas). Dalam khazanah ritual, agama Hindu memiliki keistimewaan tersendiri bila dibandingkan dengan agama lainnya terutama agama barat. Agama Hindu bila dilihat secara kasat mata maka pandangan yang akan diterima sangatlah rumit dan irrasional. Mengapa hal ini terjadi? Dikarenakan kita tidak mengetahui makna dibalik kegiatan agama Hindu tersebut. Sangat banyak tidak hanya opini dari agama non-Hindu namun juga umat Hindu sendiri yang banyak terjebak pada pemahaman secara agama sastra atau sabda suci. Hal ini wajar terjadi, bisa dikarenakan kurangnya pendistribusian buku agama, hegemoni agama, penyuluhan dan pembinaaan yang kurang atau bahkan karena guru agama atau tokoh agama yang berkecimpung di dalam permasalahan agama tidak` memahaminya. Sehingga memiliki makna yang tidak jelas atau nisbi mengenai hal tersebut.

Atau dikarenakan hegemoni agama, dikarenakan sebagai minoritas maka kita mengikuti bahkan menyamakan konsep yang ada sehingga menghilangkan sesuatu yang ada di agama kita. Semua agama berbeda dan mata dunia melihat dengan berbagai perspektif baik secara holistik, parsial maupun abstrak. Dalam kasus ini penulis ingin mengangkat sebuah kasus yang selalu ditemukan dimana saja ketika kita pergi ke sebuah pura atau mandir juga kuil suci Hindu. Ada banyak perspektif atau sudut pandang yang diterima oleh banyak umat Hindu saat ini. Penulis ingin membahas mengenai Archa yang merupakan sesuatu yang terpenting dalam pemujaan dalam agama Hindu karena berkaitan dengan keyakinan dan pengahayatan beragama.

Ketika penulis datang ke sebuah pura di Rawamangun, penulis menemukan dua orang berbincang-bincang mengenai Archa di dalam pura tersebut. Menurut penulis, tema perbincangan tersebut sering dibicarakan, katakanlah nama mereka Made dan Nyoman. Perbincangan mereka sangatlah menarik karena berkaitan dengan bagaimana mereka menginterpretasikan Archa sesuai dengan pemahamannya. Made memiliki pemahaman bahwa Archa Dewi Saraswati hanyalah sekedar media konsentrasi, agar kita dapat memusatkan pikiran yang selalu liar agar terikat pada satu objek citra suci, yang memang diciptakan oleh manusia untuk itu. Namun berbeda dengan Nyoman, ia memiliki pemahaman bahwa Archa hanyalah sebuah simbol dan berbeda dengan Tuhan yang sulit dipikirkan dan dilukiskan karena beliau tidak memiliki bentuk.

Mereka membahas dan berdiskusi mengenai hal ini melalui interpretasi pikirannya sendiri. Begitu juga paradigma yang berkembang yang memiliki makna yang sama dengan burung garuda ataupun bendera kebangsaan dengan Archa Tuhan. Begitu juga penafsiran mengenai perbedaan antara foto sang ayah dengan ayah sendiri. lnterpretasi atau pemberian makna kepada Archa sangatlah diberikan kebebasan dalam memaknai sesuatu namun bila sesuatu tersebut berkaitan dengan apa yang disebut sebagai tujuan umat manusia yaitu Tuhan, kita hendaknya merunut pada pandangan sastra Veda yang merupakan sabda suci dari Tuhan.

Tampaknya kita sebagai pemerhati dan calon pengajar agama Hindu dan akan terlibat dengan berbagai kasus masyarakat membahas mengenai “Pemujaan Archa” dalam masyarakat Hindu ini benar-benar suatu fenomena yang dapat memberikan kejelasan pada kasus tersebut, karena pemujaan terhadap Archa adalah bentuk praktik rohani yang banyak digemakan bahkan disalah mengerti baik oleh umat non-Hindu bahkan umat Hindu sendiri. Keadaan demikian sangatlah menyedihkan karena adalah orang-orang Hindu sendiri yang akan menjelaskan dengan baik, tepat dan benar praktik keagamaan yang telah menjadi bagian integral dalam masyarakat Hindu sejak jaman yang tak mampu diingat lagi. Tentunya penjelasan tersebut harus dimengerti sebagaimana seharusnya sehingga tidak memiliki suatu pandangan yang abstrak sehingga dapat memberikan dampak yang fatal bagi umat, bukan menurut pengertian terbatas dari paham-paham non-Hindu yang justru telah dilampaui oleh Maharsi atau Acharya.

Dengan demikian kita harus memiliki pandangan yang sejalur dengan mereka yang memiliki pengetahuan yang sempurna dalam praktik ini, bukan dari mereka yang memiliki pengetahuan parsial bahkan dari mereka yang sedari mula tidak menerima bentuk pemujaan Archa seperti umumnya pengikut agama Abrahamik. Sebelum memulainya maka kita perlu tahu bahwa apa yang dikatakan sebagai “patung Hindu” atau “berhala Hindu” oleh mereka yang tidak mengetahui apa yang dijelaskan menurut sastra suci Hindu,Veda. Bahkan istilah-istilah yang digunakan sudah menjelaskan hal ini. dalam bahasa sanskerta, kita memiliki terminologi yang kaya akan menyebutkan suatu ikon atau benda yang disucikan.

· Murti, yang memiliki pengertian sebagai wujud atau pengejawantahan sesuatu pada benda.

· Vigruha, sama dengan stana atau lingga dari Tuhan dan prabhawa-Nya.

· Pratima, keserupaan.

· Rupam, bentuk.

· Archa, pusat dari aktivitas pemujaan yaitu Tuhan sendiri dan dapat berarti sebagai tujuan dari pemujaan.

Selanjutnya untuk mengetahui hal ini kita juga harus memahami mengenai pramana atau dasar pembuktian dari kasus ini. ketika kita menjelaskan suatu praktik dalam agama Hindu, maka kita harus menggunakan sastra yang menjadi acuan. Adalah sastra-sastra agama yang akan menguraikan kehidupan ritualistik sehari-hari sehingga tidak ada sudut pandang “nak mulo keto atau dari dulu sudah demikian”. Dalam pustaka suci pula menjelaskan secara prosedural dari kegiatan keagamaan Hindu yang menggunakan berbagai sarana baik dilakukan di pura dan kuil bahkan di rumah.

B. Apa Yang Dikatakan Agama Sastra Tentang Archa?

Menurut ajaran-ajaran dari pustaka Agama, Sang Ada Tertinggi atau Tuhan berada di balik semua konsep duniawi, melampaui semua yang dikonsepkan dan bersifat mutlak. Tuhan berada diluar jangkauan pikiran manusia. Namun oleh belas kasih Tuhan Yang Tak Terbatas dan Kekuatan RohaniNya yang tak dapat dipahami, Tuhan memanifestasikan, mewujudkan, menampilkan Diri—Nya dalam citra suci yang dibentuk melalui aturan—aturan yang ketat dan sesuai dengan sastra suci, dikonsentrasikan dan dipuja sesuai prosedur ritual agama Hindu tersebut. Di dalam konsep ketuhanan Hindu dapat dipahami melalui 5 konsep yaitu:

1. Para, bentuk tertinggi atau transenden dari Tuhan beserta kemuliaannya yang tak terbatas.

2. Vyuha, bentuk ekspansi atau perluasan dari Tuhan, contohnya Vasudeva, Sankarsana, Pradyumma, Aniruddha.

3. Vaibhava, perwujudan Tuhan sebagai awatara—awatara yang memiliki misi untuk menegakan dharma.

4. Antaryami, Tuhan bersemayam dan meresapi segala ciptaan-Nya, sebagai objek meditasi.

5. Archa, Tuhan memasuki substansi yang menjadi objek pemujaan.

Dari konsep di atas jelas walaupun Tuhan Transenden, tak terpikirkan dan terlukiskan, namun Tuhan dapat distanakan di dalam Archa atau Pratima untuk menerima pengabdian suci dari penyembah-Nya dan menganugerahkan mereka anugerah. Citra suci merupakan manifestasi sebagai Tuhan di bumi yang merupakan objek dan titik pusat pemujaan yang sungguh—sungguh hadir dihadapan para penyembah. Bagaimana kita dapat memahami doktrin kebenaran tersebut? Pertama, Tuhan Hindu adalah Maha Ada, Meresapi Segalanya, Maha Tahu dan Maha Sakti (Omnipresent, Omniscient dan Omnipotent). Tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang melebihi kekuatan Beliau. Pada saat Citra suci di Abhisheka atau prana pratistha (dipasupati) dengan mengikuti aturan yang ada pada sastra dengan tepat dan benar, Tuhan dimohonkan hadir dalam Archa tersebut. Kedua, Tuhan merupakan saksi bathin yang mengetahui semua pikiran dan hati nurani manusia dan Tuhan pastilah akan membalas perasaan cinta kasih manusia kepada-Nya. Hubungan antara pemuja dan yang dipuja berlangsung dengan berbalas-balasan bukan hanya satu arah. Dengan memperhatikan hal ini maka dengan sebagian kecil dari kekuatan—Nya yang tak terbatas. Konsep ajaran ini dengan demikian merupakan suatu representasi unik yang tiada duanya dan dimiliki secara khusus sampai saat ini hanya oleh masyarakat Hindu. Contohnya pada waktu upacara pujawali, melasti, abhiseka atau prana pratistha (pasupati).

C. Memahami Perumpamaan Secara Jelas Dan Benar

Archa tidak hanya memiliki makna simbolis, yang memiliki makna suci atau sakral untuk pemujaan akan tetapi Archa adalah wujud Tuhan sendiri di Bumi. Ada beberapa interpretasi seseorang terhadap Archa yang sehingga memiliki multi tafsir yang dapat menyebabkan makna yang keliru terhadap pemaknaan Archa. Contohnya, Archa merupakan suatu bentuk yang dipikirkan oleh seseorang sebagai media pemujaan, seperti halnya bendera kebangsaan yang harus dihormati.

Dengan menganggap bahwa Archa hanya sekedar symbol dan itu berbeda dengan Tuhan Yang Tak Terpikirkan dan Terlukiskan. Dan berpikir bahwa semua bangsa di dunia ini mencintai dan menghayati bangsanya, tetapi cobalah bertanya, bagaimana wajah bangsanya? Tidak seorangpun dapat menggambarkannya Karena itulah membuat symbol sebagai representasi bangsanya yang besar. Pemahaman seperti ini sesungguhnya haruslah diluruskan dengan mengacu pada sastra yang ada yaitu : Bhagavata Purana 10.40.7 “Yajanti tvam maya vai bahu murtyeka murtikam, meskipun Tuhan mewujudkan diri dalam berbagai macam rupa dan bentuk, tetapi Anda tetap satu tiada dua, dan kami hanya menyembah diri-Mu saja”. Juga dalam Bhagavad Gita 4.6 “ajo pisan avyayatma bhutanam isvaro pisan, prakrtiim svam adhistanaya sambhavamy atma mayaya——walaupun Aku tidak dilahirkan, abadi dan penguasa segala makhluk, namun dengan menundukan prakrti-Ku sendiri, Aku mewujudkan diri-Ku melalui kekuatan maya-Ku” dan Bhagavad Gita 4.9 ‘janma karma ea me divyam, kelahiran dan kegiatan-Ku sepenuhnya adalah rohani”. Maka jelas Tuhan memiliki wujud rohani yang tidak dapat dibayangkan, dipikirkan bahkan dilukiskan, namun hanya melalui kehendak

Beliau seseorang dapat melihat wujud rohani Tuhan walaupun hanya sebagian dari kemuliaan dan kebesaran-Nya sesuai kemampuan seseorang yang ditunjang bhakti yang murni. Seperti Arjuna., Narada Muni, Vyasaveda dan acharya lainnya.

Dalam pembuatan Archa pun digunakan bahan-bahan yang dibenarkan oleh sastra, yaitu:

1. Arca terbuat dari kayu.

2. Arca terbuat dari logam (emas, perak, tembaga, dsb).

3. Arca terbuat dari tanah lihat.

4. Arca terbuat dari kain dan cat.

5. Arca terbuat dari pasir.

6. Arca terbuat dari batu.

7. Arca terbuat dari permata, dan

8. Arca yang dibayangkan dalam pikiran (Bhagavata Purana 11.27.12).

Masalahya adalah bila perumpamaan bendera atau burung garuda disamakan dan dijadikan tolak ukur untuk jawaban seperti itu sangatlah dapat memberikan makna yang kering sehingga rasa bhakti dan keyakinan pun kering, sehingga memaknai Archa hanya sebagai media konsentrasi atau simbol seperti bendera.

Mengenai pemikiran bahwa Tuhan tidak dapat diwujudkan atau tidak memiliki wujud dan tidak dapat digambarkan, maka hal ini bertentangan dengan kebesaran Tuhan Yang Maha Sempurna (Isha Upanisad, mantra pembuka juga Bhagavad Gita 10.10). Wujud Tuhan dalam Archa bukan dibentuk oleh sesuai angan-angan pikiran si pembuat, akan tetapi wujud tersebut ada dalam relung hati para Maharsi dan Acharya atau Alwar yang telah mengalami anubhavam (mengalami secara langsung menyatakan kesetujuan untuk memperlihatkan diri-Nya) seperti, Godai Devi, Haridasa Thakura, Narsi Mehta, Tulsidas, Appaya Diksitar, Kanaka Dasa dan lainnya. Murti sama dengan Tuhan, karena merupakan wahana ekspresi dari mantra Chaitanya yang merupakan Dewata (Sivananda Svami, 2003).

Umat Hindu yang mematuhi aturan-aturan Veda dan Agama dilarang keras untuk mengimajinasikan, menghayalkan, atau membuat sesuatu untuk kemudian dipuja tanpa mengikuti aturan atau prosedural sabda suci Veda. Di atas itu semua Tuhan sendiri telah menurunkan svayam-murti, citra suci yang tidak dibentuk oleh makhluk fana apapun, diberbagai tanah suci Hindu. Semua rupa dengan berbagai posisi, duduk, berdiri, berbaring telah diwujudkan oleh Tuhan sendiri sebagai model untuk pembentukan murti-murti berikutnya. Bahkan Tuhan juga hadir dalam wujud yang penuh dengan satyam, sivam dan sundaram. Seperti di Gandaki-sila yang ada di Thirucchalagramam-Nepal, Daru-Brahman di Jaganatha Puri-Orissa, Sri Rangam dan Srinivasa di Tirupati serta sebagainya.

* Penulis Dosen STAH DN Jakarta

Kuliah Umum Vedanta dan Sains

July 03, 2013 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Agama dan sains kerapdianggap sebagais esuatu yang saling bertentangan. Sains yang berpedoman pada fakta empiris kerap mendiskreditkan agama sebagai mitos paling muktahir dalam sejarah peradaban dunia.Sedangkan agama menganggap sainssebagai bentuk arogansi pengetahuan karena logika penolakan unsur ilahi.Namun adakalanya keduanya bertemu dan saling mengisi satu sama lain. Pembuktian-pembuktian sains tentang aktivita salam semesta kerap sejalan dengan apa yang tertera di kitabsuci. Bahkan ilmu perbintangan yang muncul dari agama-agama sebelum kelahiran Kristus memiliki akurasi (ketepatan) yang bisa dibuktikan secara ilmiah.Sayangnya kultur dialektis seperti ini tidak cukup banyak diungkap kehadapan publik sebagai perekat dua golongan (agama dansains) yang sama-sama memiliki tujuan mulia pada bidangnya masing-masing.

foto-1

Minggu, 29 Juni 2013, merupakan hari di mana dialektika itu tersampaikan. Bertepatan di Graha Aditya Sabha, tengah berlangsung Stadium Generale (KuliahUmum) bertajuk Vedanta and Science yang dibawakan oleh His Holiness Subhag Swami Maharaj dari International Society for Krishna Consciousness. Acara yang terselenggara berkat kerjasama antara Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta, Parisada Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Bhakti Vedanta ini melibatkan seluruh elemen masyarakat Hindu Sejabodetabek. Kuliah Umum yang berlangsung dari pukul 09.00 – 14.00 WIB juga menampilkan sejarah perjalanan organisasi International Society for Krishna Consciousness, termasuk kedatangan Sri Srimad AC Bhaktivedanta Swami Prabhupada ke PuraAditya Jaya Rawamangun pada tahun 1973.

foto-2

Sebelum memasuki ruang seminar, His Holiness Subhag Swami Maharaj disambut oleh barisan mahasiswa serta pengalungan bunga oleh Ketua Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta, Prof. Dr. Ir. I Made Kartika D., Dipl.-Ing. KuliahUmum kali inidipanduoleh Ni PutuRatni, S.Pd.H serta penerjemah Nara sumber oleh Nyoman Tri Astawa, Sp.PD (Trata Dasa) mengingat kuliah yang disampaikan bersifat bilingual yakni Inggris dan Indonesia.

Kuliah umum ini kali menekankan pada bagaiamana proses mendapatkan kebenaran di dalam Veda juga senada dengan apa yang dilakukan oleh sains. Bahkan jika ditilik dari metodologi sains yang murni pada pengamatan empiris yang bersifat distingrif dan terukur, namun pada kenyataannya banyak sekali teori-teori sains, terutama teori sains terkenal, lebih bersifat spekulatif dan tidak berpedoman pada prinsip-prinsip metodologis sains itu sendiri. Dalam seminar ini dicontohkan teori evolusi dari Charles Darwin sebagai teori yang bersifat sangat spekulatif. Beliau menjelaskan bahwa Teori evolusi Darwin memberikan suatu spekulasi teoritis bahwa perubahan perlahan (evolusi) yang dialami seluruh makhluk hidup berjalan begitu saja  (secara acak).

foto-3

Vedanta dan Sains sama-sama mengkaji tentang hakikat dan unsur alam semesta. Deskripsi ontologis tentang hakikat alam semesta sebenarnya sudah dituntaskan di Vedanta. Dan dengan bahasa yang berbeda sains juga mengkaji hal tersebut yang mana jika dibandingkan dengan Vedanta keduanya memiliki prinsip yang hampir sama. Seperti yang dijelaskan oleh Narasumber bahwa seorang Ilmuwan seperti  A. Szent Gyorgi menyatakan“In my search for the secret of life, I ended up with atoms and electrons which have no life at all. Somewhere along the line, life has run out through my fingers. So, in my old age I am now retracing my steps. ”Penjelasan ini sejalan dengan prinsip Vedanta bahwa Tuhan sebagai yang absolut merupakan pengada namun beliau sendiri ‘ tidak terjelaskan’ secara materi atau sains.

Dalam seminar ini juga dapat dijelaskan bahwa Vedanta, bisa menjadi sebuah doktrini lmiah sekaligus teologis Hinduisme yang menjelaskan bahwa secara prinsip tidak ada pertentangan antara ilmu pengetahuan dengan agama.Faktanya, kedua bidang tersebut saling melengkapi. Hal ini disebabkan karena adanya pengertian bahwa ruang lingkup masing-masing bidang tersebut telah dibatasi dengan tegas. Dalam Hinduisme terdapat dua kategori pengetahuan—(1) paravidya—pengetahuan rohani dan (2) aparavidya – pengetahuan material. Pengetahuan ilmiah merupakan bagian dari aparavidya. Pengetahuan rohani – pengetahuan tentang Tuhan dan kehidupan termasuk dalam paravidya. Hinduisme menjelaskan bahwa pengetahuan ilmiah dapat menuntun kearah pengetahuan rohani.

Antusiasme umat terhadap ilmu pengetahuan terutama pengetahuan agama nampak terlihat padaa cara ini. Pertanyaan demi pertanyaan, yang berasal dari seluruh golongan baik mahasiswa maupun kelompok masyarakat, bertubi-tubi dilontarkan kepada pembicara. Nampaknya masyarakat sudah mulai kritis dengan segala bentuk informasi yang berhubungan dengani dentitas KeHinduan mereka. Ajaran Vedanta memang sangat luas, dan masyarakat (terutama di Indonesia) dapat menangkapnya lewat penjelasan komprehensif dari kitab Bhagavad Gita. Dari Bhagavad Gita lah manusia akan menemukan seluruh eksplanasi baik eksplanasi diri termasuk misterialam semesta.

Dalam wawancaranya dengan Bali TV, ketua panitia I Wayan Kantun Mandara, S.Ag., M.Fil.H memberikan tiga poin penting tentang tujuan dari kegiatan ini yakni, (1) Memberikan pencerahan tentang ajaran Vedanta dan relevasinya dengan sains (2) Membangun kesadaran baru bahwa Vedanta dapat beriringan dengan kehendak jaman, termasuk kemajuan sains (3) Menjalin kerja sama eksternal untuk ikut menumbuhkan atmosfer akademik di lingkungan Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta dan umat Hindu pada umumnya. Acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan kepada pembicara serta sertifikat kepada moderator yang diberikan secara langsung oleh Ketua STAH Dharma Nusantara Jakarta.Selesai pemberian kenang-kenangan dan sertifikat acara dilanjutkan dengan foto bersama antara Pembicara, Mahasiswa dan para umat. (ASW)

MENGENAL DARI DEKAT TABUH LELONGGORAN DULU DAN KINI

January 29, 2013 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh : IGB.Sutarta*

Bali selain dikenal dengan icon pulau seribu Pura, pulau Kahyangan, pulau dengan keunikan sawah berundak dan pulau exotis, ragam budaya dan seni, bahkan juga kaya akan keragaman seni karawitannya. Karawitan adalah istilah lain daripada Musik tradisional yang lazim di kenal di Jawa dan Bali. Untuk menyebutkan istilah karawitan biasanya hanya dikenal pada komunitas pelakunya itu sendiri, sementara untuk masyarakat umum akrab dengan sebutan gamelan. Dalam satu perangkat gamlean disebut barungan, misalnya barungan gamelan gong kebyar, barungan gamelan semar pegulingan, barungan gamelan angklung , barungan Gong Gede dan sebagainya. Nah masing-masing barungan ini memiliki spesifikasi sendiri, baik fungsi dan juga pemanfaatannya. Seperti gong kebyar sesuai dengan namanya fungsinya adalah untuk jenis lagu kekebyaran, dan pemanfaatannya untuk iringan tari kekebyaran/ tari kreasi baru. Sementara itu barungan Gong Gede, biasanya fungsi dan pemanfaatannya sebagai iringan tabuh petegak/ instrumen, memainkan jenis lagu lelambatan,pengiring upacara Dewa Yadnya, sesekali juga dapat digunakan sebagai iringan tari-tari tertentu, baik itu tari klasik atau iringan praghmen tari. Barungan gamelan Semara Pegulingan/ Semarpegulingan ada istilah saih pitu/ daun bilahnya berjumlah 7 ( tujuh ) bilah, yakni Ndang, Ndaing, Nding,Ndong,Ndeng, Ndeung, Ndung ,(nada setengahan atau dikenal dengan istilah pemero) fungsi dan pemanfaatannya sebagai lagu-lagu yang bisa dimainkan dalam tangga nada mayor maupun minor diatonis atau selendro pelog dalam pentatonis. Biasanya semarpegulingan sebagai pengiring tari khusus bergenre Pelegongan. Selain contoh barungan gamelan diatas, masih ada puluhan jenis barungan gamelan lainnya. Satu diantara sekian banyak barungan gong kebyar, tetapi tidak di pergunakan untuk kekebyaran ansih, tetapi lebih dikenal sebagai barungan gamelan “ Lelonggoran”. Lebih lanjut akan penulis uraikan mengenai Tabuh Lelonggoran sebagai berikut :

Tabuh Lelonggoran :

Cikal bakal lahirnya/ munculnya tabuh Lelonggoran ini diperkirakan lahir bersamaan dengan perkiraan munculnya Gong Kebyar pada abad ke 19 kurang lebih pada tahun 1915 di Desa Bungkulan, Buleleng Singaraja, merujuk tulisan Colin Mc Phee, seorang peneliti barat dalam bukunya Music In Bali ( 1966:328) yang mengatakan bahwa pada tahun 1915, Gong Kebyar di gunakan membarung ( lomba/parade tetabuhan red.) di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan Buleleng ( Pande Made Sukerta, makalah seminar Gong Kebyar.2006) dari informasi inilah dipakai sebagai acuan , dan bahkan untuk lebih menguatkan lagi bahwa Gong Kebyar lahir di Desa Bungkulan. Hal lainnya juga tulisan Balyson( dalam majalah Bhawanagara tahun 1934), menjelaskan terbentuknya gamelan kebyar/ gamelan untuk iringan Tabuh Lelonggoran, diawali dengan mengubah jenis bilah gangsa (tungguh) dari lima bilah hingga akhirnya menjadi sepuluh bilah. Demikian sekilas perjalanan Gong Kebiar yang kelak sebagai instrumen untuk memainkan Tabuh Lelongoran.

Tabuh Lelonggoran sebagai salah satu sarana yang selalu harus ada didalam rangkaian ritual Upacara Dewa Yadnya, sebagai pengejawantahan suara Bajra sang Wiku atau Genta suara pitu sang sulinggih saat melangsungkan pemujaan sebagai Yajmana( Manggalaning Yadnya ) Tarian sebagai Mudraning sang Yajmana ( Ciwa Nata Raja ) dan Gita/Nyanyian Kidung personifikasi Mantra Puja. Untuk sebagian umat saat melaksanakan persembahyangan ( mebakti ) tanpa alunan suara lagu-lagu lelonggoran yang dimainkan secara agung dan terasa ada atmosfir maghis, yang menentramkan hati, jika sudah lewat fase lagu-lagu yang ber-irama menyerupai lagu mars yang di bawakan kelompok marching band. Tabuh Lelonggoran menurut beberapa penggiat pelaku tabuh Lelonggoran, bahkan salah satu dari pelaku tersebut adalah seorang cucu dari sang Maestro, I Gusti Bagus Suarsana yang kebetulan juga seorang seniman tabuh mengatakan :

Adalah I Gusti Nyoman Panji Gede (sudah moring acintya, Alm, red) yang pada saat menekuni, menggubah, mengajarkan tabuh Lelonggoran pada anak didiknya di seantero desa Bungkulan juga di pelosok jazirah Buleleng yang di kenal dengan istilah Dauh Enjung ( kalopaksa,tangguwisia,anturan,tukad mugga, buleleng barat red.) dan Dangin Enjug,(Jinengdalem, Penarukan, sangsit, Jagaraga, menyali dan desa bungkulan buleleng timur red.) diperkirakan berusia 50 (lima puluh) tahun, sekitar tahun 1930 an. Beliau I Gusti Nyoman, selain piawai mengarang lagu secara otodidak, belaiu juga piawai mengarang/ membuat lagu di tempat berlangsung acara mebarung ( perlombaan red.) ada salah satu karya beliau yang boleh dikatakan sangat sakral dan memiliki nilai maghis yakni gubahan tabuh yang diberi nama tabuh “ Sudha Mala”. Lagu /tabuhan mana yang kalau dimainkan satu hari satu malam, tanpa berhenti. Sayang lagu tersebut oleh generasi penerusnya termasuk salah satunya yang masih exist I GB. Suarsana, tak mampu/ memaninkan lagu Sudha Mala tersebut. Kini Suarsana hanya bisa mengenag saat mana ia dan sang Kakek memainkan lagu tersebut dengan ekpresi terkantuk-kantuk saking lama dan panjangnya lagu tersebut, sementara ia baru berusia belasan tahun di tahun 50 an. Namun selain lagu Sudha Mala, masih banyak repertoar lagu/tabuh lelonggoran yang masih secara utuh dan baik dapat dimainkan oleh Suarsana dan adik-adiknya. Adapun harapan dan maksud penulis mengangkat salah satu ensiklopedi musik tradisi yang pada zamannya adalah merupakan karya yang sangat genius dan berilian, dimana didalamnya inhern sudah masuk unsur-unsur pengaruh musik modern yang didalamnya ada seperti intro,tempo, atempo, canon, sinkope, dinamika, interlocking pet/ ubit-ubitan, bahkan prase-prase dengan beat yang terkadang bagaikan slow rock, bahkan menggelegar bagaikan dentuman marching band dan seterusnya. Juga ada fungsi mayorete/ dirighen yang di gantikan oleh Terompong Pengarep. Ia berfungsi sebagai introduction, dirighen, juga leader secara organik. Pemain lainnya tidak akan berani memulai sebelum sang pemain Terompong pengarep memberi aba-aba. Melalui tulisan ini diharapkan, para generasi penerus mengetahui secara pasti dan benar mengenai makna dan fungsi tabuh Lelonggoran, baik dalam persepektif pengiring upacara Dewa Yadnya, maupun sebagai salah satu Barungan/ Rumpun tetabuhan instrumental. Juga diharapkan penerus baik komunitas/ anak cucu keturunan sang Maestro maupun pemerhati dan penggiat seni karawitan bali, mengetahui sejak kapan Tabuh Lelongoran di kenal di desa Bungkulan khususnya dan Buleleng bahkan Bali pada umunya. Dengan demikian jangan sampai masyarakat Buleleng sendiri terlebih masyarakat Bungkulan mendengar Tabuh Lelonggoran sangat asing, bahkan jauh lebih akrab dengan aneka tabuh Lelambatan dan kreasi baru, bahkan musiknya Kitaro. Bahwa kita butuh apresiasi sah-sah saja. Dengan demikian generasi penerus kita tahu, pernah tercatat pada suatu masa seorang “komposer” sekelas Kitaro,Wolfgang Amizius Mozart, pernah lahir di tanah Bali.

Kini , dengan perjalanan waktu, tabuh Lelonggoran, selain komunitas pengusung genre musik ini sudah mulai tergerus jaman, karena faktor alam, usia, segmen/pasar yang membutuhkan untuk eksisnya genre Lelonggoran untuk tetap bertahan, ia semakin tergerus dan tergilas dengan aliran musik “kekebyaran” ber genre pop, maka Tabuh Lelonggoran perlahan namu pasti akan semakin mengecil kerlip cahayanya di jagat karawitan Bali. Sebuah keniscayaan, bahwa Institu Seni Indonesia, kala masih sebagai Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Denpasar konon sudah mendokumentasikan sebagai salah satu jenis karawitan/ tabuh yang memiliki kekhasan di zamannya.

Tabuh Lelonggoran, kejayaan riwayatmu dulu, dan kini hanya sesekali masih dimainkan setidaknya di Pura Pemaksan komunitas sang Maestro I Gusti Nyoman Panji Gede,di Banjar Jero Gusti Bungkulan, Kecamatan Sawan Buleleng Singaraja Bali. Semoga tulisan ini ada manfaatnya, paling tidak sebagai pengetahuan ragam jenis karawitan Bali. Semoga .

*Dosen STAH DN Jakarta

10 Kuil Hindu Paling Indah di Dunia

January 08, 2013 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Hinduisme adalah salah satu agama tertua di dunia, dan memiliki lebih dari 900 juta pengikut di seluruh dunia. Meskipun sebagian besar umat Hindu tinggal di India, ada juga sejumlah pengikut Hindu dengan jumlah yang cukup banyak di Nepal, Bangladesh dan negara kita, Indonesia. Bangunan Hindu di India dimulai hampir 2000 tahun yang lalu dan menandai transisi Hindu dari agama Veda. Arsitektur kuil Hindu telah berkembang dan terdiri dari berbagai macam gaya. Kuil-kuil Hindu biasanya didedikasikan untuk salah satu Dewa Hindu utama dan mengandung Murti (citra suci) dari Dewa. Walaupun tidak wajib bagi seorang Hindu untuk mengunjungi sebuah kuil Hindu secara teratur, kuil-kuil tetap memainkan peran penting dalam masyarakat dan budaya Hindu.

Tanah Lottanahlot

Terletak di atas sebuah batu karang besar, Tanah Lot merupakan salah satu pura Hindu yang paling terkenal di Bali, dan mungkin juga pura yang paling sering difoto. Tanah Lot telah menjadi bagian dari mitologi Bali selama berabad-abad. Pura di Tanah Lot sendiri adalah salah satu dari 7 kuil laut, yang membentuk rantai sepanjang pantai barat Bali.

Kuil Kanchipuram

Kota 1000 Kuil, Kanchipuram, adalah salah satu kota tertukanchipurama di India Selatan, dan dikenal karena kuil kuno Hindu dan sari sutranya. Kota ini berisi beberapa kuil besar seperti Kuil Varadharaja Perumal untuk Dewa Wisnu dan Kuil Ekambaranatha yang merupakan salah satu dari lima bentuk tempat tinggal Dewa Siwa.


KuilBrihadeeswarar

Kuil Brihadishwara, kuilbrihadeeswararyang terletak di Thanjavur, India, dibangun oleh Raja Chola yaitu Rajaraja I pada abad ke-11. Kuil ini merupakan kuil pertama di dunia yang keseluruhannya dibangun dari batu granit. Brihadishwara adalah contoh brilian dari gaya arsitektur kuil Dravida. Menara kuil ini memiliki tinggi 66 meter sehingga menjadi salah satu kuil tertinggi di dunia.

Khajuraho

khajuraho

Desa Khajuraho merupakan salah satu tujuan wisata paling populer di India. Di desa ini banyak terdapat kuil Hindu dan Jain dengan patung erotisnya. Kuil-kuil disini dibangun selama rentang waktu 200 tahun, sejak tahun 950 sampai tahun 1150. Beberapa kuil didedikasikan untuk Dewa Jain dan sisanya untuk Dewa Hindu, yaitu Brahma, Wisnu dan Syiwa.

Banteay Srei

banteay-sreiMeskipun secara resmi merupakan bagian dari kompleks Angkor Wat, Banteay Srei terletak 25 km di timur laut dari kelompok utama kuil Angkor Wat. Kuil Hindu ini selesai pada tahun 967 dan dibangun sebagian besar dari batu pasir merah, media yang cocok untuk ukiran dinding dekoratif rumit yang masih jelas terlihat saat ini. Banteay Srei adalah satu-satunya kuil utama di Angkor yang tidak dibangun untuk raja, melainkan dibangun oleh salah satu penasihat raja RaJendravarman, yaitu Yajnyavahara.

Sri Ranganathaswamy

sriDidedikasikan untuk Dewa Ranganatha (salah satu bentuk Dewa Wisnu), Sri Ranganathaswamy di Srirangam, India adalah sebuah kuil penting yang menerima jutaan pengunjung dan peziarah setiap tahun. Dengan luas 156 hektar, Sri Ranganathaswamy adalah salah satu kompleks keagamaan terbesar di dunia.

Kuil Virupaksha

vuruKuil Virupaksha di kota Hampi di India dimulai sebagai sebuah kuil kecil dan tumbuh menjadi sebuah kompleks besar di bawah penguasa Wijayanagara. Diyakini bahwa kuil ini telah berfungsi tanpa terputus sejak kuil kecil yang dibangun pada abad ke-7 yang membuatnya menjadi salah satu kuil Hindu tertua yang masih berfungsi di India. Menara pintu masuk candi terbesar memiliki tinggi 50 meter.

Candi Prambanan

pramCandi Prambanan adalah kompleks Candi Hindu terbesar dan paling indah di Indonesia. Terletak sekitar 18 km sebelah timur Yogyakarta. Candi Prambanan memiliki tiga candi utama yang didedikasikan untuk Dewa Wisnu, Brahma, dan Syiwa dan dibangun sekitar tahun 850 oleh Kerajaan Mataram Kuno.

Kuil Meenakshi Amman

meeKuil Meenakshi Amman merupakan salah satu kuil Hindu yang paling penting di India, yang terletak di kota suci Madurai. Kuil ini didedikasikan untuk Sundareswar (bentuk Dewa Syiwa) dan Meenakshi (bentuk Dewi Parwati). Di kompleks ini terdapat 14 menara megah termasuk dua Gopuram emas untuk Dewa utama, yang dipahat dan dicat dengan rumit. Kuil ini adalah simbol yang signifikan bagi rakyat Tamil, dan dibangun pada awal abad ke 17.

Angkor Wat

angAngkor Wat yang dalam bahasa Indonesia berarti “Kota Kuil”, adalah sebuah kompleks kuil yang luas di Kamboja yang menampilkan sisa-sisa kemegahan ibukota dari kerajaan Khmer, dari abad 9 hingga abad ke-15 Masehi. Di dalam kompleks ini terdapat Kuil Angkor Wat yang terkenal, monumen tunggal keagamaan terbesar di dunia, dan kuil Bayon di Angkor Thom dengan banyaknya permukaan batu besar. Selama sejarahnya yang panjang, Angkor mengalami beberapa kali perubahan untuk mengkonversi agama Hindu menjadi Buddhisme



KEKUATAN PIKIRAN BAWAH SADAR (KAJIAN KRITIS FILSAFAT NYAYA)

August 25, 2011 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh : Made Wirawan, S.Ag., M.Fil.H*

Pendahuluan

Ilmu Filsafat adalah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana caranya mengungkapkan nilai-nilai kebenaran hakiki yang dijadikan landasan untuk hidup yang dicita-citakan. Demikian halnya ilmu filsafat yang ada di dalam ajaran Hindu yang juga disebut dengan Darsana, semuanya berusaha untuk mengungkapkan tentang nilai-nilai kebenaran dengan bersumber pada kitab suci Veda.

Tidak terkecuali dengan filsafat Nyaya yang berarti argumentasi dan mengindikasikan bahwa sistem ini secara dominan bersifat intelektual, analitik, logis, dan epistemologis. Sistem ini dikembangkan dengan menekankan pada aspek logika dan nalar dengan pendekatan ilmiah dan realisme. Oleh karena itu sistem ini juga disebut Nyaya-vidya atau Tarka sastra, ilmu logika dan nalar; Pramana–sastra, ilmu logika dan epistemologi; Hetu–vidya atau ilmu penyebab; Vada–vidya atau ilmu debat; Anviksiki, ilmu studi kritis. Sistem ini menganalisis hakekkat dan sumber pengetahuan dan validitas dan non validitasnya. Dengan menggunakan nalar yang sistematik, sistem ini mengembangkan dan menggunakan metoda konkrit untuk membedakan pengetahuan valid (prama) dari pengetahuan non valid. Sistem Nyaya merupakan sistem pertama yang meletakkan fondasi yang kuat ilmu logika India1.

Dengan penjelasan tersebut diatas dapatlah diketahui bahwa filsafat Nyaya menggunakan intelektual atau pikiran logis didalam mengungkapkan nilai-nilai kebenaran yang bersumber pada Veda. Oleh karena itu berkaitan dengan filsafat Nyaya penulis dalam hal ini berusaha untuk menampilkan sebuah pemikiran yang mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

(more…)

ILMU PENGETAHUAN UNTUK KESEJAHTERAAN HIDUP UMAT MANUSIA, MENURUT PERSPEKTIF HINDU

August 24, 2011 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh AA. Raka Mas*

Setelah bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan, seluruh rakyat menyadari, bahwa meraih ilmu pengetahuan yang setinggi – tingginya menjadi idaman yang hendak dicapai. Tidak peduli apakah rakyat itu tergolong petani, pekerja kasar, buruh, pegawai negeri, pegawai swasta. Militer dan sebagainya. Tidak ada halangan untuk maju dan menyekolahkan anak – anak, saudara – saudara sampai mencapai jenjang yang tertinggi.

raka

Semangat belajar kini sangat mengebu – gebu, hanya sayang dunia pendidikan masih banyak menghadapi rintangan agar rakyat Indonesia dapat maju dalam segala bidang ilmu pengetahuan.

Memiliki dan memperdalam ilmu pengetahuan sedalam – dalamnya adalah suatu hal yang sangat positif. Tuhan tidak menghendaki umatnya menjadi bodoh (avydia) dan karena kebodohannya lalu menjadi miskin. Tuhan telah mewujudkan dirinya sebagai Dewi Saraswati, dan Sakti dari Dewa Brahma. Dewi Saraswati digambarkan sebagai sesosok wanita cantik dengan atribut lainnya. Maksud dari lambang itu antara lain adalah agar umatnya senang dan cinta pada ilmu pengetahuan.

Dalam canakya Niti Sastra Bab IV. Sloka 5 disebutkan : Ilmu pengetahuan ibaratnya bagaikan kamadhenu, yaitu yang setiap saat dapat memenuhi segala keinginan. Pada saat orang berada di Negara lain, ilmu pengetahuan bagaikan seorang ibu yang selalu memelihata kita. Orang bijaksana mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah kekayaan yang rahasia, harta yang tak kelihatan. Dari sloka di atas, ada 4 macam yang dapat dicatat, bahwa ilmu pengetahuan adalah :

1. Setiap orang dapat memenuhi segala keinginannya

2. Sebagai seorang ibu yang selalu memelihara kita

3. Kekayaan yang rahasia

4. Harta yang tak kelihatan

Meninjau kesimpulan yang dimaksud oleh sloka di atas, ternyata ilmu pengetahuan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan seseorang insan. Dari sloka lain masih dapat kita sebutkan bahwa ilmu pengetahuan mempunyai makna yang berbeda yaitu dikatakan sebagai berikut : “Lahir di keluarga mulia, tampan, muda, sehat dan kuat, tidak berguna sama sekali kalau tidak berpengetahuan, bagaikan bunga kimsuka yang amat indah tetapi tidak ada bau harumnya”. (Canakya Niti Sastra, Bab IV. 21).

Jadi dari sloka ini, pemilikan pengetahuan dikaitkan dengan kegunaan sebagai seorang manusia. Itu berarti bahwa seseorang yang memiliki pengetahuan yang cukup dianggap telah mampu menunjukkan dirinya sebagai seseorang yang bermanfaat.

Dari sloka lain “Canakya Niti Sastra” Bab X. 1 disebutkan sebagai berikut :

“dhana hina na hinas ca

dhanikah sa suniscayah

vydiratnena yo hinah

sa hinah sarvavastusu

Artinya :

Orang yang kurang dalam harta benda, bukanlah orang miskin

Sebaliknya orang kaya adalah dia yang memiliki ilmu pengetahuan

Dia yang kurang dalam ilmu pengetahuan, sesungguhnya dalam

segala keadaan ia disebut orang miskin

Jadi, jelas sekali bagaimana posisi pentingnya arti pemilikan terhadap ilmu pengetahuan itu. Dari Niti Sataka karya Bhartihari, seorang raja di kerajaan Ujayini yang sekarang dikenal dengan nama kota Ujain di India, karya ini diterjemahkan oleh Dr. Somvir, kita mendapat pandangan yang lebih luas lagi tentang pengetahuan itu, antara lain pada sloka 12 disebutkan sebagai berikut :

“Harturyati na gocaram kimapi sam pusnati yatservad

hyarthibhyah prati padyamanamanisam prapnoti Vrddhimparam

kalpantesvapi na prayati nidhanam vidhyakhy – amantardhanam

yesam tanprati manamujjnata nrpah kastai saha spardhate”

Dr. Somvir memberikan penjelasan terhadap isi sloka tersebut sebagai berikut :

“pengetahuan adalah kekayaan yang tidak bisa dicuri oleh siapapun,

semakin banyak diberikan akan semakin berkembang, dengan

memiliki pengetahuan akan hadir kedamaian dalam diri manusia”

Dalam sloka diatas penyair mengkritik para penguasa atau pemimpin yang menunjukkan kesombongan terhadap para ahli dalam sastra, agama dan mereka bukan hanya perlu dihormati di negaranya sendiri, akan tetapi di seluruh dunia. (Dr. Somvir, 2007 : 8).

Dari penjelasan di atas, ada 4 (empat) hal yang dapat dicatat :

1. Pengetahuan adalah kekayaan yang tidak bisa dicuri.

2. Semakin banyak diberikan (diajarkan) akan semakin berkembang.

3. Dengan memiliki pengetahuan akan menghadirkan kedamaian bagi

pemiliknya

4. Ada suatu pesan dan kritik oleh penulis Niti Sataka ini, adalah agar

orang yang berilmu dihormati baik di dalam dan di luar negeri. Para

penguasa hendaknya tidak sombong terhadap para ilmuwan tersebut.

Dari kedua sumber ini yakni Canakya Niti Sastra dan Niti Sataka, dapat dipetik inti sarinya, bahwa ilmu pengetahuan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pengetahuan dapat dipandang sebagai :

1. Kamadhenu ; yang dapat memenuhi segala keinginan setiap saat.

2. Seorang ibu yang selalu memelihara kita.

3. Kekayaan atau harta yang sangat rahasia.

4. Memiliki pengetahuan adalah memiliki kegunaan sebagai seorang

manusia.

5. Pengetahuan adalah kekayaan yang tidak dapat dicuri.

6. Semakin banyak pengetahuan itu diajarkan pengetahuan itu makin

berkembang.

7. Pemilik pengetahuan mampu menghadirkan kedamaian dalam

dirinya

8. Para ilmuwan seyogyanya dihormati oleh para penguasa (pemimpin

bangsa) baik di dalam dan di luar negeri.

Alangkah penting dan strategisnya nilai pengetahuan dan ilmuwan itu. Karena itu siapapun tanpa kecuali wajib mempelajari ilmu pengetahuan itu seluas – luasnya dan sedalam – dalamnya. Ilmu pengetahuan sangat ajaib sifatnya, makin banyak dipelajari terasa makin sedikit yang diketahui, karena ilmu pengetahuan adalah tak terbatas. Tak ada seorang manusia pun yang mampu menyombongkan dirinya, bahwa ia telah menguasai keseluruhan ilmu pengetahuan itu, walaupun ia telah menjuruskan dirinya pada hal – hal yang bersifat spesialis. Ada ahli (ilmuwan) pertanian, peternakan, kedokteran, hukum, teknik, perbintangan, ekonomi, politik, budaya, agama dan masih ada ratusan bahkan ribuan spesialis lainnya. Ini suatu pertanda bahwa ilmu pengetahuan itu sangat tak terbatas. Karena itu, kesombongan terhadap suatu spesialisasi adalah kesombongan yang sia – sia belaka. Dengan kesombongan – kesombongan tersebut, menunjukkan adanya suatu kemabukan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Hal ini sangat dilarang dan dalam ajaran agama Hindu termuat dalam sapta timira yaitu kemabukan (kegelapan) terhadap 7 hal, yaitu : kegelapan (mabuk) karena kekayaan (dhana), surupa (ketampanan), kulina (keturunan), yowana (keremajaan), kasuran (kemenangan), sura (minuman keras) dan guna (kepandaian, tingginya ilmu pengetahuan yang dimiliki).

Jika seseorang mabuk (mengalami kegelapan) terhadap ilmu pengetahuan yang dimiliki, maka orang itu belum mengambil makna daripada pengetahuan yang telah ia miliki itu. Tingginya kepandaian yang diraih oleh seseorang itu seharusnya mampu menekan egonya, dan menjadi orang yang bijaksana. Ditinjau dari atribut/symbol dari Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan antara lain terhadap symbol angsa di kakinya. Makna symbol itu adalah agar seseorang yang telah memiliki pengetahuan itu agar mampu menekan egonya dan menjadi sosok manusia yang bijaksana analog dengan sifat angsa itu sendiri yang dapat membedakan makanannya walaupun berada di lumpur dan bercampur dengan kerikil dan lumpur.

Kemabukan, kesombongan seseorang akan pengetahuan dan kepandaiannya yang tinggi itu menandakan bahwa orang itu belum mampu membedakan antara pengetahuan keduniawian dan rohani. Pengetahuan matematika, akunting, ekonomi, sosial politik, budaya dan lain-lainnya adalah pengetahuan untuk kehidupan bahagia di dunia ini, sedangkan pengetahuan rohani adalah pengetahuan untuk mempersiapkan diri hidup bahagia di alam yang kekal dan abadi. Keangkuhan ketakaburan dan bentuk-bentuk lain setelah memiliki kepandaian, ilmu pengetahuan yang tinggi itu, adalah pertanda runtuhnya kemuliaan manusia, sebab manusia yang sadar, kepandaian yang dimiliki itu belum seberapa besar dibandingkan dengan pengetahuan yang tak terbatas itu. Pengetahuan itu sendiri adalah Sang Hyang Widhi Wasa. Sat Citta Ananda Brahman (Sesungguhnya) Tuhan Adalah KEBENARAN, PENGETAHUAN TAK TERBATAS (Mahanirwana Tantra : Gde Pudja, 1983, 15), semoga hal ini dapat direnungkan.

Secara singkat dapat disimpulkan, bahwa untuk menggapai ilmu pengetahuan yang setinggi-tingginya adalah syah-syah saja, bahkan itu wajib bagi siapa saja, karena ilmu pengetahuan itu bukan saja untuk mengasah kecerdasan otak belaka, tapi untuk menjamin kesejahteran hidup dan bahkan demi kesejahteraan umat manusia. Alangkah tingginya nilai pemilikan ilmu pengetahuan itu. Selamat merenungkan !

*) Penulis adalah Dosen STAH Dharma Nusantara Jakarta

REINTERPRETASI ARCHA DALAM PEMUJAAN AGAMA HINDU

August 17, 2011 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh Halfian*

A. Kasus

Sering sekali kita mendengar mengenai Archa atau pratima yang merupakan hal yang biasa dalam kegiatan keagamaan Hindu, terutama dalam upacara pujawali, melasti dan abhisekha atau pasupati (melaspas). Dalam khazanah ritual, agama Hindu memiliki keistimewaan tersendiri bila dibandingkan dengan agama lainnya terutama agama barat. Agama Hindu bila dilihat secara kasat mata maka pandangan yang akan diterima sangatlah rumit dan irrasional. Mengapa hal ini terjadi? Dikarenakan kita tidak mengetahui makna dibalik kegiatan agama Hindu tersebut. Sangat banyak tidak hanya opini dari agama non-Hindu namun juga umat Hindu sendiri yang banyak terjebak pada pemahaman secara agama sastra atau sabda suci. Hal ini wajar terjadi, bisa dikarenakan kurangnya pendistribusian buku agama, hegemoni agama, penyuluhan dan pembinaaan yang kurang atau bahkan karena guru agama atau tokoh agama yang berkecimpung di dalam permasalahan agama tidak` memahaminya. Sehingga memiliki makna yang tidak jelas atau nisbi mengenai hal tersebut.

Atau dikarenakan hegemoni agama, dikarenakan sebagai minoritas maka kita mengikuti bahkan menyamakan konsep yang ada sehingga menghilangkan sesuatu yang ada di agama kita. Semua agama berbeda dan mata dunia melihat dengan berbagai perspektif baik secara holistik, parsial maupun abstrak. Dalam kasus ini penulis ingin mengangkat sebuah kasus yang selalu ditemukan dimana saja ketika kita pergi ke sebuah pura atau mandir juga kuil suci Hindu. Ada banyak perspektif atau sudut pandang yang diterima oleh banyak umat Hindu saat ini. Penulis ingin membahas mengenai Archa yang merupakan sesuatu yang terpenting dalam pemujaan dalam agama Hindu karena berkaitan dengan keyakinan dan penghayatan beragama.

(more…)

TUHAN DI SEBATANG POHON

May 20, 2011 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh : Halfian*

Ketika umat Hindu melaksanakan ritual di bawah pohon, apa pandangan kita mengenai hal ini. Dan ketika kita melihat sebuah pelinggih atau altar di bawah pohon. Berbagai pernyataan akan muncul. Namun banyak pula yang memiliki anggapan bahwa pemujaan atau persembahyangan yang dilakukan di bawah pohon adalah suatu bentuk kepercayaan kuno, primitif, tidak memiliki pengetahuan bahkan tidak mengetahui Tuhan yang sejati, memuja roh-roh jahat yang menghuni. Adalah lebih baik jika pemujaan tersebut dilakukan diruangan tertutup dan bangunan yang berkubah atau tertutup. Namun tidak demikian menurut Vaidika Dharma. pohon

Dalam ajaran Hindu, pemujaan atau persembah-yangan yang dilakukan d itempat terbuka lebih baik, karena menyatukan hubungan dengan alam sekitar yang merupakan satu-kesatuan. Begitu juga pemujaan di bawah pohon memiliki makna harmonisasi dengan alam dan penghormatan kepada ciptaan Tuhan yang meliputi segalanya. Vaidika Dharma atau Hinduisme memerlukan sebuah pohon untuk melengkapi suatu sarana sesaji dalam pemujaan. Ada beberapa pohon yang dianggap suci menurut Hinduisme seperti, pippala atau kalpavrksa (beringin), tulasi dan bilwa. Pohon tidak lebih dari tempat-tempat alam lainnya. Penghormatan Veda terhadap pohon adalah dengan memperhatikan beberapa hal. Pohon adalah makhluk hidup, maksudnya memiliki atma atau jiwa. Pohon adalah suatu pribadi yang memberikan arti penting dan memberikan kehidupan bagi makhluk lainnya, apalagi semakin besar pohon tersebut maka semakin banyak makhluk yang tidak dapat dilihat oleh mata jasmani berdiam di sana. Pohon juga sebagai simbolisasi, dia dapat mengingatkan kita pada Tuhan penguasa sejati seluruh alam semesta ini.

(more…)

PERLUKAH SUMPAH PERKAWINAN DIUCAPKAN PADA SAAT UPACARA PERKAWINAN?

April 26, 2011 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh: Ni Nyoman Sudiani*

Perlukah Sumpah Perkawinan diucapkan pada saat upacara Perkawinan Umat Hindu etnis Bali dilaksanakan? Kalau perlu apa yang dijadikan sebagai landasannya? Pertanyaan ini timbul bukan hanya sekedar untuk ikut-ikutan atau meniru agama tetangga yang telah melaksanakannya, melainkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul di masyarakat, mengingat semakin kritisnya generasi muda Hindu saat ini. Hal ini perlu menjadi pertimbangan mengingat saat ini pergaulan generasi muda sudah sangat luas, khususnya di kota-kota besar yang masyarakatnya sangat heterogen. Pergaulan atau interaksi tidak hanya terjadi antar umat Hindu saja, akan tetapi sudah terjadi antar umat beragama.

(more…)

STRATEGI PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN PERGURUAN TINGGI HINDU

April 12, 2011 By: admin Category: Artikel, Artikel Keagamaan, Artikel Pendidikan, Berita/News, Dharma Wacana, Kewirausahaan, Penelitian, Pengumuman, Renungan, Uncategorized

Generic Viagra cheap viagra online without prescription

Oleh Prof.  DR. I Made Titib*

Membangun pendidikan, lebih-lebih pendidikan tinggi, menurut Imam Suprayogo (13 Desember 2008) hakekatnya sama dengan berbicara tentang membangun peradaban bangsa. Pendidikan tinggi mengemban misi sebagai transformasi sosial, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan juga seharusnya termasuk membangun watak serta karakter bangsa. Atas dasar misi yang diemban itu, perguruan tinggi semestinya berada pada puncak tertinggi strata kehidupan masyarakat. Temuan-temuan hasil penelitian oleh para guru besar perguruan tinggi dimanfaatkan sebagai arah dan kekuatan pengubah masyarakat sesuai dengan perubahan zamannya. Jargon yang mengatakan bahwa pendidikan harus untuk semua, memang benar. Akan tetapi semestinya bukan pendidikan pada tingkat perguruan tinggi. Perguruan tinggi hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang memenuhi persyaratan yang cukup dan bagi orang-orang yang mencintai ilmu pengetahuan. Pendidikan tinggi memang bersifat elitis, dan karena itu selalu membutuhkan biaya mahal.
Demikian pula sejalan dengan pemikiran di atas, Pendidikan Tinggi Agama Hindu (Perti Hindu) pada hakekatnya juga membangun peradaban bangsa, oleh karena itu, kritik, sarana dan perbaikan pendidikan menjadi tanggung jawab bangsa Indonesia, khususnya umat Hindu. Tulisan singkat ini dimaksudkan untuk memberi gambaran bagaimana seharusnya strategi mengelola Perti Hindu. Namun harus dipahami, kenyataan di lapangan sangat jauh dengan yang diharapkan. Kondisi empirik menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan tinggi Hindu kurang mendapat perhatian yang sungguh-sungguh utamanya dari para tokoh-tokoh Hindu, sehingga kondisi ideal tersebut, terkadang hanya menjadi harapan semata.

Pendidikan Menurut Kitab Suci Veda

Di dalam ajaran Agama Hindu, baik kitab suci Veda maupun susastra lainnya dikenal adanya tiga lingkungan pendidikan, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Sekolah-sekolah pada jaman Veda disebut sakha atau patasala dan pada masa belakangan dikenal dengan nama ashrama. Di Bali, di samping istilah ashrama (kini disebut pasraman) dikenal pula istilah katyagan (dari kata Bahasa Sanskerta, tyaga yang berarti tempat untuk melepaskan diri dari ikatan rumah untuk belajar di sekolah) sedang komponen yang memberikan pendidikan (pendidik) dikenal dengan sebutan “tri kang sinangguh guru” yang artinya tiga yang disebut guru. Adapun ketiga guru itu adalah guru rupaka, yang berada dilingkungan rumah yaitu orang tua, guru pangajyan (dari kata adhyaya yang artinya belajar) yaitu guru yang memberikan pendidikan formal di sekolah-sekolah, dan guru wisesa seperti pemerintah, pemuka-pemuka agama atau tokoh-tokoh masyarakat.

Kegiatan pendidikan di dalam Agama Hindu, dikenal dengan istilah “aguron-guron”, atau “asewakadharma”. Pengertian pendidikan dalam Agama Hindu, tidak akan terlepas dari kedudukan kitab Veda sebagai sumber ajaran Agama Hindu. Oleh karena itu kitab Veda dan susastra Hindu lainnya berfungsi sebagai pedoman yang menuntun manusia dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, termasuk dalam kegiatan pendidikan.

Dalam sistem pendidikan menurut Veda, anak menjadi pusat perhatian, artinya anak merupakan aset dan peserta didik yang mendapat perhatian utama. Kata anak dalam bahasa Sanskerta adalah “putra” Kata “putra pada mulanya berarti kecil atau yang disayang, kemudian kata ini dipakai menjelaskan mengapa pentingnya seorang anak lahir dalam keluarga: “Oleh karena seorang anak yang akan menyeberangkan orang tuanya dari neraka yang disebut put (neraka lantaran tidak memiliki keturunan), oleh karena itu ia disebut Putra (Manavadharmasastra IX.138). Penjelasan yang sama juga dapat kita jumpai dalam Adiparva Mahabharata 74,27, juga dinyatakan sama dalam Valmiki Ramayana II,107-112. Putra yang mulia disebut “putra-suputra”. Kelahiran “putra suputra” ini merupakan tujuan ideal dari setiap perkawinan maupun dalam pendidikan Hindu. Kata yang lain untuk putra adalah: “sunu, atmaja, atmasambhava, nandana, kumara dan samtana”. Rupanya kata yang terakhir ini di Bali menjadi kata “sentana” yang berarti keturunan. “Seseorang dapat menundukkan dunia dengan lahirnya anak, ia memperoleh kesenangan yang abadi, memperoleh cucu-cucu dan kakek-kakek akan memperoleh kebahagiaan yang abadi dengan kelahiran cucu- cucunya” (Adiparva,74,38).

Pandangan susastra Hindu ini mendukung betapa pentingnya setiap keluarga memiliki anak. Tambahan pula Adiparva, Mahabharata memandang dari sudut yang berbeda tentang kelahiran anak ini. “Disebutkan bahwa seorang anak merupakan pengikat talikasih yang sangat kuat di dalam keluarga, ia merupakan pusat menyatunya cinta kasih orang tua. Apakah yang melebihi cinta kasih orang tua terhadap anak-anaknya, mengejar mereka, memangkunya, merangkul tubuhnya yang berdebu dan kotor (karena bermain-main). Demikian pula bau yang lembut dari bubuk cendana, atau sentuhan lembut tangan wanita atau sejuknya air, tidaklah demikian menyenangkan seperti halnya sentuhan bayi sendiri, memeluk dia erat-erat. Sungguh tidak ada di dunia ini yang demikian membahagiakan kecuali seorang anak” (74, 52, 55, 57).”Seseorang yang memperoleh anak, yang merupakan anaknya sendiri, tetapi tidak memelihara anaknya dengan baik, tidak mencapai tingkatan hidup yang lebih tinggi. Para leluhur menyatakan seorang anak melanjutkan keturunan dan mendukung persahabatan, oleh karena itu melahirkan anak adalah yang terbaik dari segala jenis perbuatan mulia (74, 61-63). Lebih jauh Maharsi Manu menyatakan pandangannya bahwa dengan lahirnya seorang anak, seseorang akan memperoleh kebahagiaan abadi, bersatu dengan Tuhan Yang Maha Esa” (II.28).

Berdasarkan keterangan tersebut di atas maka pendidikan, utamanya pendidikan moral dan budi pekerti sangat penting ditanamkan bagi seorang anak sejak usia dini, dan bahkan sejak bayi dalam kandungan. Tentang pendidikan ini, kitab suci Veda menyatakan: “Saudara laki-laki seharusnya tidak irihati terhadap kakak dan adik-adiknya laki-laki dan perempuan dan melakukan tugas-tugas yang sama yang dibebankan kepadanya. Hendaknya berbicara mesra di antara mereka” (Atharvaveda: III, 30. 3). “Putra dan orang tuanya yang saleh, gagah berani dan bercahaya bagaikan api menyinari bumi dengan perbuatan-perbuatannya yang mulia” (Rigveda I.160.3). “Ya Tuhan Yang Maha Esa, anugrahkanlah kepada kami seorang putra yang gagah berani, giat bekerja, cerdas, mampu memeras Soma (tekun berbakti) dan memiliki keimanan yang mantap lahir pada keluarga kami” (Rigveda III.4.9). “Ya Tuhan Yang Maha Esa, semogalah kami memperoleh putra dengan kulitnya yang kuning langsat, yang tampan, panjang umurnya, patuh kepada orang tua dan gurunya, berani dan saleh” (Rigveda II.3.9). “Wahai anak, datang dan berdirilah di atas batu ini. Kuatkanlah badanmu seperti batu ini” (Atharvaveda II.13.4). “Sesungguhnya anak laki-laki dari putra seorang ayah yang masyhur akan menjadi mulia” (Atharvaveda XX.128.3). Terjemahan mantra Veda yang terakhir ini adalah logis, bila orang tuanya memiliki nama yang harum, maka putranya memperoleh teladan yang baik menjadikan mereka mulia.

Bila diperhatikan dengan seksama, maka pendidikan menurut kitab suci Veda lebih menekankan pada pendidikan budi pekerti yang luhur, karena tujuan akhir dari pendidikan adalah karakter yang baik. Dengan karakter yang baik, serta kecerdasan, giat bekerja/suka bekerja keras, dan bertanggungjawab, maka seorang anak didik (mahasiswa) akan sukses menatap masa depan mereka.

Kondisi Pendidikan Tinggi Agama Hindu di Indonesia

Kini di Indonesia terdapat 11 Perti Hindu, 3 buah negeri yakni Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Gde Puja Mataram, Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangkaraya. Di luar 3 Perti Hindu negeri di atas, terdapat satu Perti Umum yakni Universitas Negeri Manado Sulawesi Utara mengelola 1 Prodi Pendidikan Agama Hindu, sedang lainnya adalah Perti Hindu Suasta baik di bawah pembinaan Kementerian Agama R.I (STAH Dharma Nusantara Jakarta, STAH Lampung, STAH Dharma Sentana Palu dan STHD Klaten, Jawa Tengah) dan di bawah pembinaan Kopertis (Universitas Hindu Indonesia Denpasar, STKIP Agama Hindu Amlapura, dan STKIP Agama Hindu Singaraja).

Dari keseluruhan Perti Hindu di atas tampak sangat terbatasnya SDM baik bagi pengelolaan maupun tenaga pendidikan (dosen), apalagi dalam kualifikasi guru besar yang sangat terbatas jumlahnya. Sangat terbatasnya para dosen yang berkeinginan untuk menempuh pendidikan S.2 dan S.3 di luar negeri. Demikian pula sarana dan prasarana, hampir semua Perti Hindu terbatas jumlah lahan yang dimiliki, jumlah ruang kuliah, fasilitas laboratorium, dan berbagai sarana penunjang proses belajar dan mengajar di Perti Hindu tersebut.

Di samping terbatasnya tenaga pendidikan seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, juga adalah row input mahasiswa, yang tidak semuanya sepenuhnya fokus menjadikan Perti Hindu sebagai pilihan utama, tidak sedikit dari mereka yang karena tidak diterima di PTN umum, mereka menjadikan Perti Hindu sebagai pilihan yang terakhir. Namun juga ada yang membanggakan, ada beberapa yang memang sudah menyelesaikan pendidikan jenjang S.1 umum, mengikuti pendidikan di Perti Hindu dalam upaya untuk mempersiapkan hari tua, utamanya setelah mereka pensiun dan terjun ke dalam masyarakat. Beberapa anak-anak muda yang memang berniat sejak dini untuk menjadi seorang pandita atau pinandita, yang memang di samping tuntutan dalam diri yang bersangkutan, tidak sedikit karena faktor lingkungan, misalnya anak atau keluarga dari seorang pandita atau pinandita.

Demikian pula berkaitan dengan besarnya SPP dan DPP, dana yang dikelola oleh Perti Hindu benar-benar sangat terbatas, dan termasuk kewajiban dari Perti Hindu memberikan beasiswa kepada para mahasiswanya, juga kepada para dosen yang mengikuti pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pengelolaan Perguruan Tinggi Hindu

Pengelolaan Perti Hindu sedapat mungkin dapat memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP) seperti yang diatur dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomoe 20 Tahun 2003 yang terdiri dari standar: isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga pendidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, serta penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. SNP digunakan sebagai acuan kurikulum, tenaga pendidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan. SNP adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berikut adalah rumusan dari SNP tersebut.

1) Standar isi adalah ruang lingkup materi yang dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan dan kajian, kompetensi mata pelajaran, serta silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

2) Standar proses adalah SNP yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.

3) Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan ketrampilan.

4) Standar tenaga pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.

5) Standar sarana dan prasarana adalah SNP yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolah raga, tempat beribadah, perpustakaan, laboiratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

6) Standar pengelolaan adalah SNP yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.

7) Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun.

8) Standar penilaian pendidikan adalah SNP yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen hasil belajar peserta didik.

Srategi pengelolaan Perti Hindu supaya mampu mengejar kriteria minimal SNP tersebut di atas, manajemen atau pengelola Perti Hindu dapat menerapkan analisis SWOT untuk menemukan langkah-langkah yang menjadi prioritas utama untuk mencapai standar minimal tersebut.

Mengelola Perti Hindu memerlukan kebersamaan semua komponen, civitas akademika termasuk peranan orang tua mahasiswa (POM) guna menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Dengan kebersamaan dan bekerja sama dengan berbagai pihak (MOU dengan berbagai lembaga pendidikan tinggi, pemerintah pusat dan daerah), yayasan-yayasan dan LSM serta optimisme serta tanggung jawab yang tingggi, pada saatnya kriteria minimal SNP tersebut akan dapat diwujudkan.

Penjaminan Mutu, Akreditasi, dan Good Universty Governance

Serian Wijanto dalam bukunya Pengelolaan Perguruan Tinggi secara Efisien, Efektif dan Ekonomis (2009:201) menyatakan bahwa secara umum yang dimaksud dengan penjaminan mutu adalah proses penerapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga konsumen, produsen, serta pihak lain yang berkepentingan memperoleh kepuasan. Dengan demikian, penjaminan mutu pendidikan tinggi adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga pemangku kepentingan memperoleh kepuasan.

Pendidikan tinggi di perguruan tinggi dinyatakan bermutu atau berkualitas, apabila:

1) PT tersebut mampuy menetapkan dan mewujudkan visnya melalui misinya (aspek deduktif), dan

2) PT tersebut mampu memenuhi pemangku kepentingan (aspek induktif) berupa kebutyuhan kemasyarakatan (societal needs), kebutuhan dunia kerja (industrial needs), dan kebutuhan profesional (professional needs).

Dengan demikian, PT harus mampu merencanakan, menjalankan, dan mengendalikan suatu proses yang menjamin pencapaian mutu sebagai telah dijelaskan di atas. Tujuan penjaminan mutu adalah memelihara dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan yang dijalankan oleh suatu PT secara internal untuk mewujudkan visi dan misinya serta memenuhi pemangku kepentingan melalui penyelenggaraan Tridharma PT. Pencapaian tujuan penjaminan mutu melalui kegiatan penjaminan mutu yang dijalankan secara internal oleh PT akan dikontrol dan diaudit melalui kegiatan akreditasi yang dijalankan oleh BAN-PT atau lembaga lain secara eksternal. Dengan demikian objektivitas penilaian terhadap pemeliharaan dan peningkatan mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan di suatu PT dapat diwujudkan.

Wijatno (2009:51) lebih jauh menyatakan bahwa akreditasi institusi PT dan program studi merupakan proses evaluasi dan penilaian secara komprehensif atas komitmen institusi PT dan program studi tersebut terhadap mutu dan kapasitas penyelenggaraan program tridharma PT, guna menentukan kelayakan institusi PT dan program studi dalam menyelenggarakan program akademisnya. Kriteria untuk mengevaluasi dan menilai komitmen tersebut dijabarkan dalam sejumlah standar akreditasi beserta parameternya. Sementara itu, mutu institusi PT dan program studi merupakan cerminan dari totalitas keadaan dan karakteristik masukan, proses, keluaran, hasil, dan damp[ak, atau layanan/kinerja yang diukur berdasarkan sejumlah standar yang ditetapkan.

Akredritasi institusi PT dan program studi ini bertujuan memberikan jaminan standar mutu pendidikan agar memenuhi standar yang ditetapkan oleh BAN-PT dengan merujuk pada Undang-Undang R.I. Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah R.I Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Hal itu mampu memberikan perlindungan bagi masyarakat dari penyelenggaraan institusi PT dan program studi yang tidak memenuhhi standar nasional pendidikan, seperti ditetapkan dalam operaturan perundang-undangan R.I. Selain itu, hl tersebut dapat mendorong institusi PT dan program studi untuk terus melakukan perbaikan dan mempertahankan mutu yang tinggi. Hasil akreditasi itu dapat dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam transfer kredit PT, pemberian bantuan, dan alokasi dana, serta pengakuan dari badan atau instansi lain.

Sangat penting pula dalam pengelolaan dan pengembangan Perti Hindu juga menerapkan good governance yang dikenal dengan istilah Good University Governance (GUG). Wijatno (2009:370) menyatakan bahwa secara sederhana GUG dapat dipandang sebagai penerapan prinsip-prinsip dasar good governance dalam sistem dan proses pengelolaan institusi PT melalui berbagai penyesuaian yang dilakukan berdasarkan nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi dalam penyelenggaraan PT secara khusus dan pendidikan secara umum.

Kewajiban penataan diri dengan menerapkan aspek good governance akan menjadi salah satu tolok ukur utama bagi PT. Untuk PT yang sudah mapan agar tidak cepat puas dengan kinerja yang ada, sedangkan PT baru memiliki fleksibilitas untuk segera mengadopsi good governance dalam operasional pendidikan mereka. Penerapan GUG secara kolektif membentuk struktur kerja dan menciptakan check and balances, sebab efektifitas mereka terkait dengan perbandingan biaya rutin dan biaya sewaktu-waktu yang dikeluarkan oleh PT yang hasilnya dapat dirasakan di kemudian hari.

Pada dasarnya setiap PT memiliki karakteristik yang berbeda dengan perusahaan pada umumnya. Namun demikian, terdapat juga beberapa persamaan mendasar, di antaranya masalah pengelolaan dan pertanggung-jawaban kepada pemangku kepentingan, oleh karena itu, penerapan good governance pada PT harus disesuaikan dengan karakteristik khusus PT.

Hal yang penting dalam pengelolaan Perti Hindu, seperti halnya dalam berbagai organisasi, maka manajemen kepemimpinan mutlak diperlukan. Seorang pemimpin harus menjadi teladan staf dan bawahannya. Keteladanan seorang pemimpin mutlak diperlukan. Dalam manajemen Hindu dikenal konsep kepemimpinan Catur Upaya Sandhi yang populer dikenal dengan Catur Naya Sandhi, yakni Sama, Bheda, Dana, dan Danda yang dalam manejemen modern hanya dikenal Reward and Punishment. Menerapkan ajaran kepemimpinan Hindu dengan baik, maka pengelolaan organisasi seperti halnya Perti Hindu akan berhasl baik. Kelebihan teori kepemimpinan Hindu sangat menekankan ajaran moral yang mesti diikuti oleh seorang pemimpin.

Demikian, Perti Hindu walaupun kondisinya tidak seperti yang diharapkan, namun usaha-usaha untuk mengarah kepada tata kelola yang baik (good governance) mutlak harus dilakukan.

Simpulan

Pengelolaan Perti Hindu walaupun dalam kondisinya yang serba “daridra” (miskin) dalam hal bala (SDM), kosa (sumber dana) dan wahana (dukungan mobilitas) namun masih memiliki untuk melaksanakan pendidikan agama pada Perti Hindu dengan baik. Perlahan tetapi pasti standar nasional pendidikan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Sisdiknas No.20 Tahun 2003 harus bisa memenuhi kriteria minimal dari ketentuan perundang-undangan tersebut. Pengelolaan dan pengembangan Perti Hindu hendaknya tetap mengikuti ketentuan tentang penjaminan mutu, akreditasi dan tata kelola yang baik (good governance) yang dikenal Good University Government. Dalam kaitannya dengan kepemimpinan dalam pengelolaan Perti Hindu sangat baik seorang pemimpin Perti Hindu menerapkan sepenuhnya ajaran kepemimpinan Hindu yang sangat menekankan pada ajaran moral dan keteladanan.

* Rektor IHDN Denpasar


  • Categories

  • Recent Posts

  • Archives

  • Pages

  • Aneka Info

    Info Beasiswa S1 S2 S3

    Direktori Indonesia - Indonesian free listing directory, SEO friendly free link directory, a comprehensive directory of Indonesian website.

  • PASUPATI ISSN 2303-0860

    Jurnal Ilmiah Kajian Hindu & Humaniora (021) 4752750 Volume I No. 1 kulit1 Volume I No. 2 kulit2
  • DHARMAGITA

    Mrdukomala

    Ong sembah ninganatha tinghalana de tri loka sarana

    Ya Tuhan sembah hamba ini orang hina, silahkan lihat oleh Mu penguasa tiga dunia

    Wahya dhyatmika sembahing hulun ijongta tanhana waneh

    Lahir bathin sembah hamba tiada lain kehadapan kakiMu

    Sang lwir Agni sakeng tahen kadi minyak saking dadhi kita

    Engkau bagaikan api yang keluar dari kayu kering, bagaikan minyak yang keluar dari santan

    Sang saksat metu yan hana wwang ngamuter tutur pinahayu

    Engkau seakan-akan nyata tampak apabila ada orang yang mengolah ilmu bathin dengan baik

  • Pointer

    * Lembaga Pendidikan hendaknya tidak hanya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan saja, tetapi juga menciptakan setting sosial yang memungkinkan implementasi pengetahuan yang diperoleh untuk memecahkan problem-problem yang ada dalam masyarakat, lembaga pendidikan seharusnya merupakan contoh kehidupan masyarakat yang ideal.

  • Blog Advertising - Advertise on blogs with SponsoredReviews.com