stahdnj.ac.id

STAH Dharma Nusantara Jakarta
Subscribe

Archive for the ‘Artikel Keagamaan’

SEMINAR NASIONAL DALAM RANGKA HARI RAYA NYEPI TAHUN 2015 BERTEMPAT DI STAH DN JAKARTA

March 16, 2015 By: admin Category: Artikel Keagamaan

SEMINAR NASIONAL DALAM RANGKA HARI RAYA NYEPI BERTEMPAT DI STAH DN Jakarta, Sabtu 14 Maret 2015.

Dalam rangka perayaan HR Nyepi Panitia Dharma Shanti Nasional menyelenggarkan Seminar yang berupaya menggali nilai-nilai kebijaksanaan (kemanusiaan dan ketuhanan) yang terkandung dalam konsepsi filosofis dan konsepsi teologis Hari Raya Nyepi, mengambil tema : “Seminar Nasional, Sebagai Wahana Pembabaran Nilai Nyepi Menuju Kesucian Diri dan Pelestarian Alam. Seminar dibuka secara resmi oleh Bp Dirjen Bimas Hindu, Kementerian Agama RI. Bp. Prof. Drs. I Iketut Widnya, MA., M.Phil, Ph.D.

  1. SESI PEMAPARAN

Seminar kali ini dimoderatori oleh I Gusti Made Arya Suta Wirawan, S.Hum., M.Si. Seminar secara efektif mulai berjalan pukul 10.50 WIB. Moderator terlebih dahulu memberikan beberapa penjelasan terkait latar belakang kegiatan serta filosofi dari tema seminar kali ini. Filosofi seminar kali adalah bagaimana nilai-nilai ilmiah dan teologis memberikan pemaknaan terhadap perayaan hari raya Nyepi yang berdampak pada kesucian hati dan pelestarian alam. Kesucian diri dan pelestarian alam adalah dua hal yang saling berhubungan, di mana pelestarian alam dapat terjadi jika manusia memiliki kesucian diri.

Narasumber 1 (pertama) dalam seminar nasional kali ini yakni Prof. Dr. Ir. I Made Kartika D., Dipl.-Ing. Beliau membawakan materi yang seminar berjudul Up?cara Bh?ta Yajña: “Tawur Kesanga” Sebagai Refleksi Perwujudan Interaksi Komunikasi Manusia – Hindu Menuju Keseimbangan dan Harmonisasi Kosmos. Beliau mengawali paparan seminarnya dengan suatu pertanyaan mendasar, Adakah Kebenaran, Makna dan Manfaat Pelaksanaan ”Hari Raya Nyepi” saat ini dapat dibuktikan? Jawabannya adalah ya! Namun semua itu harus dilandasi oleh Nalar dan Nurani serta niat yang suci nirmala.

Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia Prof. Drs. I Iketut Widnya, MA., M.Phil, Ph.D. Membuka Secara Resmi Seminar Nasional Hari Raya Nyepi 2015 Di STAH Dharma Nusantara Jakarta

Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia Prof. Drs. I Iketut Widnya, MA., M.Phil, Ph.D. Membuka Secara Resmi Seminar Nasional Hari Raya Nyepi 2015 Di STAH Dharma Nusantara Jakarta

Beliau juga menjelaskan pandangan Albert Einstein tentang Agama yaitu: “Agama masa depan adalah agama alam semesta. Agama yang menghindari dogma dan teologi. Berlaku secara alamiah dan batiniah, serta berdasarkan pengertian agama yang muncul karena berbagai pengalaman, baik fisik maupun spiritual, dan merupakan suatu kesatuan yang sangat berarti.” Ajaran spiritual menyatakan bahwa Intuisi (prajña atau pratibh?) sebagai “kecerdasan melihat” (pa?yati buddhi) dan juga sebagai “kecerdasan melihat kebenaran” (rtamibharaha) dalam memahami “Kesunyataan” dan “Kebenaran” secara spontan dan lengkap, tanpa tercemar atau terkontaminasi walaupun menelusuri ketidak benaran. (Pada puncak relaksasi Sam?dhi para mah?rsi menerima wahyu).

Terkait dengan Hari Raya Nyepi, sehari sebelum pelaksanaan Hari Raya Nyepi yaitu pada Tilem Kesanga selalu diawali dengan up?cara bh?ta yajña: “tawur kesanga”, melaksanakan Kurban Suci demi menjaga Keseimbangan Kosmos dan Harmonisasi hubungan yang erat antara Buana Agung (Alam Semesta) dengan Manusia (Buana Alit). Keseimbangan ini harus tetap terjaga karena manusia sangat tergantung kehidupannya kepada alam, maka Makna “TAWUR KESANGA”, bukan hanya sebagai Perwujudan dari rasa Bhakti umat kepada Sang Pencipta, akan tetapi juga sebagai Perwujudan Interaksi Komunikasi Niat Baik umat untuk tetap melestarikan ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Yajñaning – Yajña).

Terkait dengan pawai Ogoh-ogoh, bahwa sebetulnya kegiatan ini tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bambu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara. Selain itu, ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti, yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara.

Narasumber 1, Moderator, dan narasumber 2 berturut-turut dari kiri ke kanan, Prof. Dr. Ir. I Made Kartika D., Dipl.-Ing, I Gusti Made Arya Suta Wirawan, M.Si, dan Dr. I Ketut Donder

Narasumber 1, Moderator, dan narasumber 2 berturut-turut dari kiri ke kanan, Prof. Dr. Ir. I Made Kartika D., Dipl.-Ing, I Gusti Made Arya Suta Wirawan, M.Si, dan Dr. I Ketut Donder

Beliau pun menjelaskan bahwa jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi, tetap mengandung arti dan makna yang masih relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara Ritual dan Spiritual agar alam semesta senantiasa menjadi sumber kehidupan. Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata “tawur” berarti mengembalikan atau membayar. Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi ke-seimbangan jiwa. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka.

Pada akhir pemaparannya beliau memberikan penjelasan mengenai Tiga Ciri Suksesnya Pengamalan Agama:

1. Adanya peningkatan kualitas hidup secara individual. Artinya dengan mengamalkan ajaran agama, seseorang hidupnya menjadi semakin berkualitas

2. Dinamika kehidupan sosial yang semakin harmonis tetapi tetap sinergis. Sinergi sosial itu mampu menumbuhkan pnoduktivitas sosial yang semakin kondusif menciptakan nilai-nilai spiritual dan nilai material yang seimbang dan berkesinambungan.

3. Pengamalan agama akan sukses dengan ciri tidak adanya perilaku manusia mengeksploitasi keseimbangan alam lingkungan yang melanggar hukum rta.

Narasumber 2 (kedua) yakni Dr. I Ketut Donder. Beliau membawakan makalah dengan judul Esensi Saintifik Brata Penyepian Relevansinya Dengan Upaya Reduksi Produksi Gas Polutan dan Efeknya terhadap Psikokosmos. Beliau mengawali seminarnya dengan penjabaran data ilmiah. Beliau mengatakan bahwa sejak beberapa tahun lalu telah banyak orang, baik sebagai perorangan maupun dalam bentuk organisasi telah mengetahui bahwa pelaksanaan hari nyepi adalah sarana yang sangat efektif untuk menguraingi bahaya pencemaran udara yang diakibatkan oleh aktivitas penggunaan peralatan bermesin atau berlistrik. Melalui nyepi (sepi) tanpa aktivitas bermesin dan berlistrik pada Hari Raya Nyepi di Bali selama 24 jam, maka hal itu diperkirakan dapat menurunkan emisi gas CO2 sekitar 20.000 ton sebagai gas pulutan (pencemaran). Belajar dari Bali, jika Indonesia dan dunia sepakat untuk menanggulangi bahaya dari efek pemanasan global, maka penetapan dan penerapan hari tenang nasional dan hari tenang sedunia perlu disepakati oleh dunia.

Beliau memberikan penjelasan tentang sulitnya membangun semangat Nyepi yang sesuai dengan cita-cita agama dengan menganalogikannya lewat sebuah ungkapan: “Bagaimanapun kebenaran masih dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir, karena itu, jika kebenaran ingin menang atau minimal seimbang, maka kebenaran juga harus menghimpun dirinya” ungkapan yang menurut narasumber berasal dari agama Islam namun jika diperhatikan secara seksama terdapat kebenaran dan makna yang cukup mendalam. Maka dari itu, terkait dengan anjuran untuk bergabung membentuk kelompok pergaulan yang baik, Sathya Narayana menyatakan bahwa “setiap orang hendaknya mencari pergaulan dengan orang-orang yang berperilaku benar, atau para bijak (sadhu). Orang-orang yang selalu sadar dengan siklus karakter waktu (yuga) itu tidak akan ikut larut dan hanyut bersamaan dengan penurunan kualitas karakter itu. Orang yang beginilah yang disebut manusia utama”.

Dari Kiri Ke Kanan  Drs. Wayan Buda, MSi, Direktur Urusan Agama Hindu Ditjen Bimas Hindu, Ketua Panita Dharma Shanti Nasional, Dirjen Bimas Hindu Prof. Drs. I ketut Widnya, MA., MSi., Ph.D., Dr. I Ketut Donder, dan Ketua STAH Dharma Nusantara JakartaProf. Dr. Ir. Made Kartika, Dipl. Eng

Dari Kiri Ke Kanan Drs. Wayan Buda, MSi, Direktur Urusan Agama Hindu Ditjen Bimas Hindu, Ketua Panita Dharma Shanti Nasional, Dirjen Bimas Hindu Prof. Drs. I ketut Widnya, MA., MSi., Ph.D., Dr. I Ketut Donder, dan Ketua STAH Dharma Nusantara JakartaProf. Dr. Ir. Made Kartika, Dipl. Eng

Di era Kaliyuga dewasa ini manusia lebih mudah terseret ke dalam perilaku jahat, dan hal itu tidak terkecuali bagi orang-orang yang dipandang intelek. Oleh karena itu adalah sesuatu yang alamiah jika dunia ini dilanda oleh berbagai kejahatan-kejahatan, karena tanpa disadari hati dan pikiran setiap orang diperebutkan oleh dua pihak, yaitu satu pihak terdiri dari tiga kekuatan keraksasaan, dan pihak kedua oleh satu kekuatan kedewataan. Oleh karena itu pula, sifat keraksasaan seperti senang (membunuh, berkelahi, ribut, marah, loba, iri hati, dengki, cemburu, mau menang sendiri, mencaci, memaki, memfitnah, dsb.) sangat dominan menguasai diri manusia dewasa ini. Karena itu, tidak jarang ditemukan manusia-manusia dengan sifat keraksasaan berkeliaran di mana-mana dengan cara bersiluman seperti dewa. Tiga orang di antara empat orang di sekitar kita senantiasa diintip oleh energi keraksasaan. Oleh sebab itu setiap orang sangat penting meningkatkan kewaspadaannya terhadap pergaulannya. Jangan sampai tertipu oleh para raksasa berbaju dewa. Dewasa ini, perjuangan untuk menegakkan dharma tidak dapat dilakukan oleh satu orang saja, sebab manusia sekarang tidak cukup tanggung untuk melawan kekuatan tiga raksasa yang ada dalam diri sendiri. Oleh sebab itu, orang-orang yang ingin menegakkan atau memenangkan dharma, maka mereka harus menghimpun diri untuk membentuk organisasi dharma.

Segala potensi baik potensi kedewataan maupun potensi ke-bhuta-an keduanya eksis di dalam diri manusia. Dengan kata lain potensi kebaikan dan keburukan bahkan hingga potensi kebinatangan semuanya tersedia dalam pikiran manusia, mengubah pikiran yang buruk menjadi pikiran yang baik itulah hakikat tertinggi dari kehadiran manusia. Sesungguhnya dalam rangka mempertahankan kualitas pikiran yang baik dan membunuh atau membuang pikiran jahat yang identik dengan sifat-sifat binatang itulah yang disimbolkan dengan ritual caru. Ritual caru yang menggunakan kurban binatang adalah simbol pembunuhan sifat-sifat kebintangan dalam diri manusia. Setelah semua sifat-sifat binatang itu keluar dari diri manusia, maka pada saat itulah manusia dapat menjadikan dirinya sendiri sebagai sarana kurban. Hal ini sangat sesuai dengan uraian dari Satswarupa Chaitanya dan Shakthiswarupa Chaitanya dalam bukunya yang berjudul Self Offerings. Karena itu setiap penyembelihan hewan atau binatang kurban, sesungguhnya adalah membunuhan sifat-sifat binatang dalam diri. Jika saja makna filososif dan makna teologis ini diketahui, maka betapa banyaknya sifat-sifat hewani dalam diri manusia telah musnah, dan mestinya sifat-sifat kedewataan telah memancar dari setiap diri umat Hindu yang melakukan ritual caru. Walaupun mungkin belum optimal, setidaknya dalam pikiran harus ada perubahan perilaku, sebab pikiran itulah sumber segalanya (cogito ergo sum). Jika di dalam pikiran saja tidak ada, mana mungkin akan ada dalam realitas fisik.

Oleh sebab itu dalam setiap kegiatan ritual caru, seharusnya setiap tetes darah binatang kurban itu harus menjadi sarana untuk membuang pikiran-pikiran hewani dan kemudian menteralkannya ke dalam bumi yang tidak lain adalah manifestasi dari wujud fisik kasih sayang ibu. Tetesan darah bintang itu seharusnya dibarengi dengan tetesan air mata yang bersatu dengan spiritu nyomia. Hanya dengan cara berpikir dan bersikap seperti itu kualitas caru akan menggiring manusia kepada taraf yang mulia.

Agnihotra bersumber dari Veda, bahkan beberapa profesor Vedic menyatakan bahwa dalam Veda hanya ada ritual Agnihotra. Tetapi ritual Agnihotra yang bersumber dari Veda ini tidak populer dalam lingkungan umat Hindu Indonesia hingga beberapa tahun lalu. Nanti belakangan ini ketika berbagai pihak secara diam-diam mengeluhkan ritual Hindu yang jorjoran di Bali, maka beberapa penekun spiritual menghimpun diri dalam ikatan Bali Homa Yajna, sejak itu ritual Agnihotra mulai dikenal kembali di Bali. Tetapi, ritual Agnihotra yang bersumber dari Veda ini tidak luput dari kecurigaan para tokoh Hindu di Bali terutama tokoh ritualistik yang menganggap bahwa Agnihotra akan memiliki dampak negatif terhadap ritual Hindu di Bali. Terlepas dari suka atau tidak suka terhadap ritual Agnihotra, namun ritual Agnihotra semakin mendapat tempat di hati sebagian umat Hindu karena mereka menganggap ritual Agnihotra sangat praktis dan fungsional.

Agnihotra bukan hanya sebagai ritual belaka, belakangan ini melalui riset para ahli Agnihotra telah menjadi sarana mengobatan alternatif modern yang tidak ada taranya. Agnihotra telah diakui sebagai pengobatan universal bukan sebagai pengobatan Veda, pengobatan Ayurveda, atau Pengobatan Hindu. Belakangan ini diketahui bahwa Agnihotra bukan saja dapat menyebuhkan penyakit manusia saja, tetapi juga dapat menyembuhkan penyakit yang diderita binatang, penyakit yang diderita oleh tumbuhan atau tanaman. Bahkan penyakit yang diderita oleh alam semesta pun dapat disembuhkan.

Beliau mengakhiri pemaparannya dengan sebuah kesimpulan bahwa Carut Brata Penyepian adalah sesuatu yang harus dilakukan secara sungguh-sungguh. Hal ini menjadi penting mengingat ritual ini mampu memunculkan kesadaran kemanusiaan manusia modern. Beliau khawatir karena di era Kaliyuga sifat manusia terdiri dari 75% binatang dan 25% dewata.

  1. SESI TANYA-JAWAB
  1. Termin I

Ketut Arnaya (PHDI Pusat):

  1. Apakah ada penelitian secara ilmiah bahwa caru memang dapat digunakan sebagai media pelestarian alam? (ditujukan kepada Narasumber 1)
  2. Apakah setiap binatang memiliki kategorisasinya tersendiri ketika mereka dijadikan media untuk proses pelestarian alam? (ditujukan kepada Narasumber 1)
  3. Apakah mungkin bagi umat Hindu di luar etnis Bali melaksanakn agni hotra sebagai pengganti upacara tawur kesanga? (ditujukan kepada Narasumber 2)

Jawaban:

1. Prof. Dr. Ir. Made Kartika D., Dipl.-Ing. : tiap-tiap binatang memang memiliki kategorisasinya tersendiri. Sebagai contoh bagaimana ayam yang digunakan dalam caru panca sata tidak bisa menggunakan sembarang ayam. Ayam harus terdiri dari lima warna dan tiap warna memiliki simbol yang berbeda-beda. Begitu pula ketika kita menggunakan bebek dalam caru panca sanak. Memang semua itu belum ada penelitian ilmiahnya namun semua itu based on practice di dalam sebuah praktek agama. Perlu diperhatikan bahwa ritual yang menggunakan hewan dilakukan dengan tata cara tertentu seperti halnya hewan yang akan dikurbankan harus dengan menggunakan mantra caru terlebih dahulu sehingga yang hewan yang mati diberikan ‘jiwa’ sehingga seolah-olah dia ‘hidup’. Permasalahannya tidak semua orang bisa dan mampu melakukan mantra caru tersebut. Setiap sarana ritual sudah memiliki fungsi dan simbol (makna) nya tersendiri, bahkan ada beberapa ritual yang memang harus menggunakan binatang sehingga ia tidak dapat diganti dengan jajanan atau hal yang lain.

Beliau pun setuju mengenai penggunaan ritual agni hotra sebagai alternatif bagi umat Hindu non Bali dalam menyambut perayaan hari raya nyepi. Berdasarkan pengalaman beliau di mana di rumah beliau terdapat api suci yang sejak dari tahun 1988 hingga sekarang api tersebut tidak padam. Memang semuanya kembali lagi pada sifat upacaranya yang harus dengan jelas mana upacara yang bisa cukup dengan doa dan mana upacara yang wajib menggunakan sarana dan saksi batara/dewata.

2. Dr. I Ketut Donder: ritual yang biasa dilakukan di Indonesia yang menggunakan animal sacrifice adalah ritual tantrik. Ritual ini di India sering dianggap sebagai ritual non vedic. Sementara di Indonesia menggunakan multi yakni sivaisme, vaisnawa dan tantrik sehingga terjadi perkawinan penggunaan sarana. Hal ini juga terjadi di West Bengal di mana penduduknya yang berjumlah 98 juta orang, 90% menjalankan upacara pemotongan kepala kambing saat durga puja. Namun pemenggalan tersebut harus benar-benar dilakukan tanpa menyebabkan kambing tersebut merasakan sekarat. Sehingga alat pemenggalnya harus benar-benar tajam dan dilakukan oleh pendeta terlatih yang dibantu dengan sarana-sarana lain untuk pemenggal kepala kambing tersebut.

Bahkan di kitab Manawa Dharmasastra terdapat sloka yang menjelaskan tentang penggunaan hewan dan tumbuhan sebagai kurban suci (yajna). Bahkan di sloka lain juga menjelaskan bahwa hewan dapat dikurbankan namun dengan cara yang benar. Meskipun teks ini berasal dari jaman kerta dan treta yuga namun nilai dan pemaknaannya masih digunakan hingga di jaman sekarang.

Sebenarnya kurban binatang adalah untuk common people yakni orang-orang biasa yang belum sampai pada tingkat spiritual tinggi sehingga binatang tersebut sebagai representasi atas pembunuhan sifat-sifat jahat (kebinatangan) yang ada pada dirinya sendiri. Sebagai bahwa ritual ini kerap ditentang oleh penggiat animal welfare yang merupakan gerakan pencinta binatang. Sehingga perlu kita jelaskan kepada mereka bahwa apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang bersumber dari kitab suci dan yang kita lakukan semata-mata untuk keperluan ritual spiritual. Dan yang terpenting adalah ketika melaksanakan ritual tersebut pikiran kita sudah fokus ke sarananya sehingga bisa dipakai sebagai media meditasi. Kesimpulannya, baik agni hotra maupun caru sama-sama dapat dilakukan sebagai sebuah ritual dalam menyambut hari raya nyepi.

A.A Raka Mas (Dosen STAH DNJ):

  1. Jika dihubungkan secara ilmiah antara angka (1 dan 0) dengan sembahyang yang diawali dan diakhiri dengan tangan puyung (kosong), apakah dengan demikian sembahyang memang dapat sebagai media untuk menjadikan diri kita menyatu dengan Tuhan? (ditujukan kepada Narasumber 1)
  2. Apakah kehancuran di bumi ada pengaruhnya dengan cara berpikir manusia yang bersifat antroposentrisme? (ditujukan kepada Narasumber 2)

Jawaban:

  1. Narasumber 1: siklus kehidupan seperti seperti perputaran roda cakra yang semakin jauh dari titik sentralnya maka ia semakin kaya. Maka ketika seorang mengatakan aham brahma asmi sebenarnya orang tersebut sudah tidak lagi mengingingkan apa-apa dan merasa tidak punya apa-apa sehingga apa yang dipikirkannya hanyalah just zero. Kondisi inilah yang memungkinkan orang tersebut masuk atau berada dalam kondisi sunya sehingga muncul kesadaran i am the part of the One (Tuhan) dan pada kondisi inilah ia menyatu dengan Tuhan.
  2. Narasumber 2: sangat setuju dengan pendapat bahwa antroposentrisme sebagai ideologi yang menyebabkan kehancuran alam. Ideologi inilah yang menyebabkan manusia ini sebagai mikro kosmos justru ingin menguasai macro kosmos (alam), yang ada justru pengeksploitasian terhadap alam.

Wayan Tantra Awiyana (Mahasiswa STAH DNJ):

  1. Mengapa penjelasan antara agnihotra dan yajna bisa tidak balance? Di satu sisi agnihotra menggunakan api sementara yajna menggunakan hewan yang sebelum dijadikan caru maka ia harus dikorbankan. Apakah keduanya memberikan efek yang sama? (ditujukan kepada Narasumber 2)

Jawaban:

  1. Narasumber 2: jangan memisahkan agni hotra dan yajna. Agni hotra dan caru sama-sama yajna. Pengurbanan hewan sudah ada di teks Manawa Dharmasastra adalah semata-mata untuk yajna bukan untuk mengenyangkan perut.

Manfaat agni hotra terhadap kehidupan adalah ilmiah. Sebacgai contaoh Insiden tragis yang terjadi di suatu malam tanggal 3 Dessember 1984, saat gas MIC yang beracun mengalami kebocoran di pabrik Union Carbide di Bhopal. Ratusan orang meninggal dan ribuan lainnya harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit, akan tetapi terdapat dua keluarga yang tinggal kira-kira 1 mil dari tempat kejadian yang tidak mengalami cedera apapun. Keluarga-keluarga ini melaksanakan Agnihotra secara teratur. Dalam keluarga ini tidak seorangpun meninggal, bahkan tidak ada satupun yang harus mendapatkan perawatan rumah sakit, meskipun mereka tinggal pada wilayah yang mengalami kerusakan paling parah akibat kebocoran gas beracun ini. Pengamatan ini menegaskan bahwa Agnihotra sudah terbukti menjadi antidote terhadap polusi.

Pabrik Union Carbide di Virginia Barat di Amerika Serikat mengetahui hal ini dan mereka menyumbangkan jutaan dolar untuk melakukan penelitian mengenai “efek Homa” ini di Universitas di Texas. Di Jerman penelitian juga tengah dilakukan. Pada tahun-tahun belakangan ini, terapi penyembuhan yang telah ada mulai mengenali peran psikologis dalam pencegahan dan penyembuhan berbagai macam penyakit. Karena di atmosfir prana dan pikiran itu saling berhubungan, maka individu secara alami akan merasakan relaksasi, kedamaian, ketenangan pikiran, hilangnya kekhawatiran dan kegelisahan dalam atmisfir yajna. Struktur Atmosfir yang mengelilingi tempat dilaksanakannya yajna (Agnihotra) dan abu yang dihasilkan dalam kunda dipenuhi dengan gelombang energi dan juga suasana yang menenangkan dan menggembirakan. Inilah yang menyelematkan keluarga tersebut.

II. Termin II

I.G.N Arsana (Dosen STAH DNJ)

Memberikan saran (tidak perlu ditanggapi), diantaranya:

  1. Seminar di tahun yang akan datang diharapkan agar memilih tema yang sesuai dengan kondisi bangsa atau cita-cita pemerintah. Hal in penting dilakukan mengingat Agama Hindu memiliki ajaran Dharma Agama dan Dharma Negara.
  2. Seminar nasional hendaknya terdiri dari tiga orang narasumber.
  3. Panitia seminar hendaknya lebih teliti terhadap atribut (perlengkapan) seminar. Jangan sampai tempat yang dijadikan pelaksanaan seminar tidak terpasang foto presiden dan burung Garuda Indonesia serta menempatkan bendera merah putih di atas panggung.

I Nengah Suamba (PHDI Bekasi)

  1. Adakah penelitian ilmiah yang menjelaskan tentang kebenaran Dharma (Dharma selalu menang) (ditujukan kepada Narasumber 2)

Jawaban:

  1. Narasumber 1: menanggapi pertanyaan mengenai keilmiahan tentang kebenaran dharma beliau memberikan contoh air yang diberikan mantra. Air yang telah diberikan mantra akan memiliki ketahanan sebesar 0 sehingga air tersebut sudah menjadi tirta pengelukatan dan tidak lagi menjadi air biasa yang bisa menjadi penghantar listrik.
  2. Narasumber 2: selama ini umat mengetahui Satyam Eva Jayate yakni Kebenaran Selalu Benar. Sebenarnya mantra ini bermakna bahwa kebenaran pada ‘akhirnya’ akan menang. Sehingga sebelum menang maka kebenaran itu ‘babak belur’. Seperti halnya Sri Rama yang menang perang namun sebelumnya ‘babak belur’.

Wayan Sinta (Mahasiswa STAH DNJ)

  1. Jika semua orang menjadi vegetarian apakan yajna itu masih ada? (ditujukan kepada Narasumber 2)
  2. Mengingat pelaksanaan caru yang kerap menggunakan binatang apakah dengan demikian dengan sendirinya kita menentang ajaran Upanisad yang menekankan ahimsa (tidak membunuh hewan) (ditujukan kepada Narasumber 2)

Jawaban:

Narasumber 2: yajna tidak akan pernah hilang. Jangan langsung mendefinisikan yajna sebagai caru. Melayani dan menghormati orang tua juga merupakan yajna. Termasuk memberikan bantuan beasiswa juga merupakan yajna. Mengorbankan diri sendiri adalah yajna yang tertinggi. Oleh sebab itu patram, puspam, palam, toyam memiliki makna segala sesuatunya adalah sebuah self offering yang berasal dari diri kita sendiri yang mana semua itu landasannya adalah pikiran yang suci sebelum kita melakukan yajna. Bagi mereka yang belum sampai pada tingkatan spiritual yang tinggi maka gunakanlah sarana-sarana yang ada sembari belajar untuk memahami esensi dari pelaksanaan ritual itu sendiri.

  1. KESIMPULAN

Konsep pengendalian diri tidak terbatas pada momentum nyepi saja, namun menjadi landasan ajaran disiplin hidup sepanjang hayat. Seluruh jiwa, pikiran dan perasaan difokuskan pada totalitas perenungan dan pembangkitan kesadaran akan jati diri manusia, pada pembauran spirit untuk menjalani kehidupan sebagai makhluk individu dan sosial serta makhluk ciptaan Nya. Di dalamnya termasuk perenungan akan segala perilakunya selama setahun silam, seluruh karma baik dan buruk yang telah mengisi hidupnya, untuk dievaluasi sebagai landasan mengatur langkah ke depan.

Hari raya Nyepi di dalamnya terdapat rangkaian Catur Brata Penyepian memiliki esensi yang sangat luhur dan memiliki efek positif mutli fungsi. Efek positif dari Catur Brata Penyepian tidak saja terhadap manusia tetapi juga terhadap alam semesta. Efek positif dari perayaan Nyepi terhadap umat manusia khususnya umat Hindu, adalah bahwa melalui Catur Brata Penyepian, umat Hindu memiliki kesempatan untuk melatih diri untuk belajar mengendalikan panca indria. Pengendalian panca indria melalui pembatasan terhadap pemenuhan nafsu makan dan nafsu liar lainnya akan berdampak positif pada peningkatan spiritual.

Ritual Nyepi adalah jeda di sela rutinitas kehidupan yang membuat manusia semakin terjebak oleh tidak adanya waktu untuk merenungkan kembali nilai-nilai moral masyarakat dan agamanya. Akibatnya, manusia terjerumus dalam permisifisme yang berlawanan dengan nilai-nilai kebenaran dan ajaran agamanya. Dengan kontemplasi ini, diharapkan pikiran bisa dijernihkan kembali, begitu pula jalan hidup dan kehidupan manusia, sehingga ia terhindar dari vibrasi-vibrasi kejahatan yang keluar dari pikiran buruk manusia.

  1. REKOMENDASI

Melalui Seminar Nasional yang bertajuk “Seminar Nasional sebagai Wahana Pembabaran Nilai Nyepi menuju Kesucian Diri dan Pelestarian Alam” yang telah berlangsung dari awal pemaparan para narasumber dan diskusi yang berkembang sampai akhirnnya dapat dituangkan beberapa Rekomendasi Seminar sebagai berikut :

1. Tugas terpenting bagi seluruh umat manusia di zaman Kaliyuga adalah membangun kemanusiaan yang menempatkan nilai-nilai ketuhanan dalam diri setiap insan.

2. Nilai-nilai Hari Raya Nyepi-Catur Brata Penyepian yang telah secara langsung dipraktekkan oleh umat Hindu seyogyanya disosialisasikan dalam ruang lingkup yang lebih luas bahkan ke keseluruhan umat manusia sebagai komponen negara dan dunia.

3. Ajaran Trihita Karana, Tatwam Asi, Karma Phala, Tri Kaya Parisudha dan Ajaran Universal Hindu lainnya sebagai implementasi nilai Hari Raya Nyepi menuju kesucian diri dan alam semesta diupayakan menjadi terlaksana dalam lingkungan lebih luas tidak hanya di Bali tetapi secara nasional-internasional dengan mempraktekkan Nyepi Dunia (World Silent Day) dalam rangka menanggulangi kekhawatiran akibat adanya isu pemanasan global , menuju tercapainya kesejahteraan semua makhluk.

4. Setiap mahluk dan benda di dunia ini memiliki kekuatan (power) yang bersumber dari matahari (Sang Hyang Surya) sehingga perlakukanlah secara arif bijaksana sehingga terjadi harmonisasi dan keseimbangan yang membawa kesejahteraan semua mahluk. Hal tersebut dilandasi oleh Aham Brahman Asmi (Saya adalah Brahman) dan Sarwam Kalwidam Brahman (Semua adalah Brahman).

5. Agama hendaknya selalu mewajibkan umatnya menjaga kelestarian alam semesta .

6. Hendaknya upacara Bhuta Yadnya/Caru  dilaksanakan sebagai media umat manusia untuk menjalin interaksi dengan alam baik alam semesta/bhuana agung dan bhuana alit (cosmos dan cosmis) sebagai perwujudan interaksi kepada sang pencipta, sehingga tercipta keharmonisan secara universal

7. Dharsana adalah ajaran yang mengkaji tentang Manusia, Alam dan Tuhan tidak hanya berdasarkan dugaan belaka dari para cendekiawan akan tetapi lebih bersifat spiritual dimana jiwa, jagat, dan brahman keberadaannya dan kebenarnnya hanya dapat dibuktikan dengan menjalani dan mengalami sendiri (secara spiritual).

8. Rangkaian Hari Raya nyepi dengan melaksanakan Tawur Kesanga yang berarti penyucian terhadap alam semesta, Catur Brata Penyepian yang berarti penyucian terhadap alam cosmis dan selanjutnya melaksanakan ngembak geni yang artinya mewujudkan cinta kasih kepada sesama, hal tersebut dapat disimpulkan apabila kesucian alam semesta terjaga, kesucian terhadap alam cosmis juga terjaga maka akhirnya akan terwujud cinta kasih yang merupakan benih-benih perdamaian dunia bagi semua makhluk.

9. Tiga ciri suksesnya pengamalan ajaran agama yaitu : 1) Peningkatan kualitas hidup secara, 2) Dinamika Kehidupan Sosial yang semakin Harmonis dan Sinergis, 3) Tidak adanya perilaku manusia mengeksploitasi keseimbangan alam lingkungan yang melanggar hukum rta (hukum alam)

STAH DN Jakarta

REINTERPRETASI ARCHA DALAM PEMUJAAN AGAMA HINDU

October 17, 2013 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh : Halfian *

A. Kasus

Sering sekali kita mendengar mengenai Archa atau pratima yang merupakan hal yang biasa dalam kegiatan keagamaan Hindu, terutama dalam upacara pujawali, melasti dan abhisekha atau pasupati (melaspas). Dalam khazanah ritual, agama Hindu memiliki keistimewaan tersendiri bila dibandingkan dengan agama lainnya terutama agama barat. Agama Hindu bila dilihat secara kasat mata maka pandangan yang akan diterima sangatlah rumit dan irrasional. Mengapa hal ini terjadi? Dikarenakan kita tidak mengetahui makna dibalik kegiatan agama Hindu tersebut. Sangat banyak tidak hanya opini dari agama non-Hindu namun juga umat Hindu sendiri yang banyak terjebak pada pemahaman secara agama sastra atau sabda suci. Hal ini wajar terjadi, bisa dikarenakan kurangnya pendistribusian buku agama, hegemoni agama, penyuluhan dan pembinaaan yang kurang atau bahkan karena guru agama atau tokoh agama yang berkecimpung di dalam permasalahan agama tidak` memahaminya. Sehingga memiliki makna yang tidak jelas atau nisbi mengenai hal tersebut.

Atau dikarenakan hegemoni agama, dikarenakan sebagai minoritas maka kita mengikuti bahkan menyamakan konsep yang ada sehingga menghilangkan sesuatu yang ada di agama kita. Semua agama berbeda dan mata dunia melihat dengan berbagai perspektif baik secara holistik, parsial maupun abstrak. Dalam kasus ini penulis ingin mengangkat sebuah kasus yang selalu ditemukan dimana saja ketika kita pergi ke sebuah pura atau mandir juga kuil suci Hindu. Ada banyak perspektif atau sudut pandang yang diterima oleh banyak umat Hindu saat ini. Penulis ingin membahas mengenai Archa yang merupakan sesuatu yang terpenting dalam pemujaan dalam agama Hindu karena berkaitan dengan keyakinan dan pengahayatan beragama.

Ketika penulis datang ke sebuah pura di Rawamangun, penulis menemukan dua orang berbincang-bincang mengenai Archa di dalam pura tersebut. Menurut penulis, tema perbincangan tersebut sering dibicarakan, katakanlah nama mereka Made dan Nyoman. Perbincangan mereka sangatlah menarik karena berkaitan dengan bagaimana mereka menginterpretasikan Archa sesuai dengan pemahamannya. Made memiliki pemahaman bahwa Archa Dewi Saraswati hanyalah sekedar media konsentrasi, agar kita dapat memusatkan pikiran yang selalu liar agar terikat pada satu objek citra suci, yang memang diciptakan oleh manusia untuk itu. Namun berbeda dengan Nyoman, ia memiliki pemahaman bahwa Archa hanyalah sebuah simbol dan berbeda dengan Tuhan yang sulit dipikirkan dan dilukiskan karena beliau tidak memiliki bentuk.

Mereka membahas dan berdiskusi mengenai hal ini melalui interpretasi pikirannya sendiri. Begitu juga paradigma yang berkembang yang memiliki makna yang sama dengan burung garuda ataupun bendera kebangsaan dengan Archa Tuhan. Begitu juga penafsiran mengenai perbedaan antara foto sang ayah dengan ayah sendiri. lnterpretasi atau pemberian makna kepada Archa sangatlah diberikan kebebasan dalam memaknai sesuatu namun bila sesuatu tersebut berkaitan dengan apa yang disebut sebagai tujuan umat manusia yaitu Tuhan, kita hendaknya merunut pada pandangan sastra Veda yang merupakan sabda suci dari Tuhan.

Tampaknya kita sebagai pemerhati dan calon pengajar agama Hindu dan akan terlibat dengan berbagai kasus masyarakat membahas mengenai “Pemujaan Archa” dalam masyarakat Hindu ini benar-benar suatu fenomena yang dapat memberikan kejelasan pada kasus tersebut, karena pemujaan terhadap Archa adalah bentuk praktik rohani yang banyak digemakan bahkan disalah mengerti baik oleh umat non-Hindu bahkan umat Hindu sendiri. Keadaan demikian sangatlah menyedihkan karena adalah orang-orang Hindu sendiri yang akan menjelaskan dengan baik, tepat dan benar praktik keagamaan yang telah menjadi bagian integral dalam masyarakat Hindu sejak jaman yang tak mampu diingat lagi. Tentunya penjelasan tersebut harus dimengerti sebagaimana seharusnya sehingga tidak memiliki suatu pandangan yang abstrak sehingga dapat memberikan dampak yang fatal bagi umat, bukan menurut pengertian terbatas dari paham-paham non-Hindu yang justru telah dilampaui oleh Maharsi atau Acharya.

Dengan demikian kita harus memiliki pandangan yang sejalur dengan mereka yang memiliki pengetahuan yang sempurna dalam praktik ini, bukan dari mereka yang memiliki pengetahuan parsial bahkan dari mereka yang sedari mula tidak menerima bentuk pemujaan Archa seperti umumnya pengikut agama Abrahamik. Sebelum memulainya maka kita perlu tahu bahwa apa yang dikatakan sebagai “patung Hindu” atau “berhala Hindu” oleh mereka yang tidak mengetahui apa yang dijelaskan menurut sastra suci Hindu,Veda. Bahkan istilah-istilah yang digunakan sudah menjelaskan hal ini. dalam bahasa sanskerta, kita memiliki terminologi yang kaya akan menyebutkan suatu ikon atau benda yang disucikan.

· Murti, yang memiliki pengertian sebagai wujud atau pengejawantahan sesuatu pada benda.

· Vigruha, sama dengan stana atau lingga dari Tuhan dan prabhawa-Nya.

· Pratima, keserupaan.

· Rupam, bentuk.

· Archa, pusat dari aktivitas pemujaan yaitu Tuhan sendiri dan dapat berarti sebagai tujuan dari pemujaan.

Selanjutnya untuk mengetahui hal ini kita juga harus memahami mengenai pramana atau dasar pembuktian dari kasus ini. ketika kita menjelaskan suatu praktik dalam agama Hindu, maka kita harus menggunakan sastra yang menjadi acuan. Adalah sastra-sastra agama yang akan menguraikan kehidupan ritualistik sehari-hari sehingga tidak ada sudut pandang “nak mulo keto atau dari dulu sudah demikian”. Dalam pustaka suci pula menjelaskan secara prosedural dari kegiatan keagamaan Hindu yang menggunakan berbagai sarana baik dilakukan di pura dan kuil bahkan di rumah.

B. Apa Yang Dikatakan Agama Sastra Tentang Archa?

Menurut ajaran-ajaran dari pustaka Agama, Sang Ada Tertinggi atau Tuhan berada di balik semua konsep duniawi, melampaui semua yang dikonsepkan dan bersifat mutlak. Tuhan berada diluar jangkauan pikiran manusia. Namun oleh belas kasih Tuhan Yang Tak Terbatas dan Kekuatan RohaniNya yang tak dapat dipahami, Tuhan memanifestasikan, mewujudkan, menampilkan Diri—Nya dalam citra suci yang dibentuk melalui aturan—aturan yang ketat dan sesuai dengan sastra suci, dikonsentrasikan dan dipuja sesuai prosedur ritual agama Hindu tersebut. Di dalam konsep ketuhanan Hindu dapat dipahami melalui 5 konsep yaitu:

1. Para, bentuk tertinggi atau transenden dari Tuhan beserta kemuliaannya yang tak terbatas.

2. Vyuha, bentuk ekspansi atau perluasan dari Tuhan, contohnya Vasudeva, Sankarsana, Pradyumma, Aniruddha.

3. Vaibhava, perwujudan Tuhan sebagai awatara—awatara yang memiliki misi untuk menegakan dharma.

4. Antaryami, Tuhan bersemayam dan meresapi segala ciptaan-Nya, sebagai objek meditasi.

5. Archa, Tuhan memasuki substansi yang menjadi objek pemujaan.

Dari konsep di atas jelas walaupun Tuhan Transenden, tak terpikirkan dan terlukiskan, namun Tuhan dapat distanakan di dalam Archa atau Pratima untuk menerima pengabdian suci dari penyembah-Nya dan menganugerahkan mereka anugerah. Citra suci merupakan manifestasi sebagai Tuhan di bumi yang merupakan objek dan titik pusat pemujaan yang sungguh—sungguh hadir dihadapan para penyembah. Bagaimana kita dapat memahami doktrin kebenaran tersebut? Pertama, Tuhan Hindu adalah Maha Ada, Meresapi Segalanya, Maha Tahu dan Maha Sakti (Omnipresent, Omniscient dan Omnipotent). Tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang melebihi kekuatan Beliau. Pada saat Citra suci di Abhisheka atau prana pratistha (dipasupati) dengan mengikuti aturan yang ada pada sastra dengan tepat dan benar, Tuhan dimohonkan hadir dalam Archa tersebut. Kedua, Tuhan merupakan saksi bathin yang mengetahui semua pikiran dan hati nurani manusia dan Tuhan pastilah akan membalas perasaan cinta kasih manusia kepada-Nya. Hubungan antara pemuja dan yang dipuja berlangsung dengan berbalas-balasan bukan hanya satu arah. Dengan memperhatikan hal ini maka dengan sebagian kecil dari kekuatan—Nya yang tak terbatas. Konsep ajaran ini dengan demikian merupakan suatu representasi unik yang tiada duanya dan dimiliki secara khusus sampai saat ini hanya oleh masyarakat Hindu. Contohnya pada waktu upacara pujawali, melasti, abhiseka atau prana pratistha (pasupati).

C. Memahami Perumpamaan Secara Jelas Dan Benar

Archa tidak hanya memiliki makna simbolis, yang memiliki makna suci atau sakral untuk pemujaan akan tetapi Archa adalah wujud Tuhan sendiri di Bumi. Ada beberapa interpretasi seseorang terhadap Archa yang sehingga memiliki multi tafsir yang dapat menyebabkan makna yang keliru terhadap pemaknaan Archa. Contohnya, Archa merupakan suatu bentuk yang dipikirkan oleh seseorang sebagai media pemujaan, seperti halnya bendera kebangsaan yang harus dihormati.

Dengan menganggap bahwa Archa hanya sekedar symbol dan itu berbeda dengan Tuhan Yang Tak Terpikirkan dan Terlukiskan. Dan berpikir bahwa semua bangsa di dunia ini mencintai dan menghayati bangsanya, tetapi cobalah bertanya, bagaimana wajah bangsanya? Tidak seorangpun dapat menggambarkannya Karena itulah membuat symbol sebagai representasi bangsanya yang besar. Pemahaman seperti ini sesungguhnya haruslah diluruskan dengan mengacu pada sastra yang ada yaitu : Bhagavata Purana 10.40.7 “Yajanti tvam maya vai bahu murtyeka murtikam, meskipun Tuhan mewujudkan diri dalam berbagai macam rupa dan bentuk, tetapi Anda tetap satu tiada dua, dan kami hanya menyembah diri-Mu saja”. Juga dalam Bhagavad Gita 4.6 “ajo pisan avyayatma bhutanam isvaro pisan, prakrtiim svam adhistanaya sambhavamy atma mayaya——walaupun Aku tidak dilahirkan, abadi dan penguasa segala makhluk, namun dengan menundukan prakrti-Ku sendiri, Aku mewujudkan diri-Ku melalui kekuatan maya-Ku” dan Bhagavad Gita 4.9 ‘janma karma ea me divyam, kelahiran dan kegiatan-Ku sepenuhnya adalah rohani”. Maka jelas Tuhan memiliki wujud rohani yang tidak dapat dibayangkan, dipikirkan bahkan dilukiskan, namun hanya melalui kehendak

Beliau seseorang dapat melihat wujud rohani Tuhan walaupun hanya sebagian dari kemuliaan dan kebesaran-Nya sesuai kemampuan seseorang yang ditunjang bhakti yang murni. Seperti Arjuna., Narada Muni, Vyasaveda dan acharya lainnya.

Dalam pembuatan Archa pun digunakan bahan-bahan yang dibenarkan oleh sastra, yaitu:

1. Arca terbuat dari kayu.

2. Arca terbuat dari logam (emas, perak, tembaga, dsb).

3. Arca terbuat dari tanah lihat.

4. Arca terbuat dari kain dan cat.

5. Arca terbuat dari pasir.

6. Arca terbuat dari batu.

7. Arca terbuat dari permata, dan

8. Arca yang dibayangkan dalam pikiran (Bhagavata Purana 11.27.12).

Masalahya adalah bila perumpamaan bendera atau burung garuda disamakan dan dijadikan tolak ukur untuk jawaban seperti itu sangatlah dapat memberikan makna yang kering sehingga rasa bhakti dan keyakinan pun kering, sehingga memaknai Archa hanya sebagai media konsentrasi atau simbol seperti bendera.

Mengenai pemikiran bahwa Tuhan tidak dapat diwujudkan atau tidak memiliki wujud dan tidak dapat digambarkan, maka hal ini bertentangan dengan kebesaran Tuhan Yang Maha Sempurna (Isha Upanisad, mantra pembuka juga Bhagavad Gita 10.10). Wujud Tuhan dalam Archa bukan dibentuk oleh sesuai angan-angan pikiran si pembuat, akan tetapi wujud tersebut ada dalam relung hati para Maharsi dan Acharya atau Alwar yang telah mengalami anubhavam (mengalami secara langsung menyatakan kesetujuan untuk memperlihatkan diri-Nya) seperti, Godai Devi, Haridasa Thakura, Narsi Mehta, Tulsidas, Appaya Diksitar, Kanaka Dasa dan lainnya. Murti sama dengan Tuhan, karena merupakan wahana ekspresi dari mantra Chaitanya yang merupakan Dewata (Sivananda Svami, 2003).

Umat Hindu yang mematuhi aturan-aturan Veda dan Agama dilarang keras untuk mengimajinasikan, menghayalkan, atau membuat sesuatu untuk kemudian dipuja tanpa mengikuti aturan atau prosedural sabda suci Veda. Di atas itu semua Tuhan sendiri telah menurunkan svayam-murti, citra suci yang tidak dibentuk oleh makhluk fana apapun, diberbagai tanah suci Hindu. Semua rupa dengan berbagai posisi, duduk, berdiri, berbaring telah diwujudkan oleh Tuhan sendiri sebagai model untuk pembentukan murti-murti berikutnya. Bahkan Tuhan juga hadir dalam wujud yang penuh dengan satyam, sivam dan sundaram. Seperti di Gandaki-sila yang ada di Thirucchalagramam-Nepal, Daru-Brahman di Jaganatha Puri-Orissa, Sri Rangam dan Srinivasa di Tirupati serta sebagainya.

* Penulis Dosen STAH DN Jakarta

Kuliah Umum Vedanta dan Sains

July 03, 2013 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Agama dan sains kerapdianggap sebagais esuatu yang saling bertentangan. Sains yang berpedoman pada fakta empiris kerap mendiskreditkan agama sebagai mitos paling muktahir dalam sejarah peradaban dunia.Sedangkan agama menganggap sainssebagai bentuk arogansi pengetahuan karena logika penolakan unsur ilahi.Namun adakalanya keduanya bertemu dan saling mengisi satu sama lain. Pembuktian-pembuktian sains tentang aktivita salam semesta kerap sejalan dengan apa yang tertera di kitabsuci. Bahkan ilmu perbintangan yang muncul dari agama-agama sebelum kelahiran Kristus memiliki akurasi (ketepatan) yang bisa dibuktikan secara ilmiah.Sayangnya kultur dialektis seperti ini tidak cukup banyak diungkap kehadapan publik sebagai perekat dua golongan (agama dansains) yang sama-sama memiliki tujuan mulia pada bidangnya masing-masing.

foto-1

Minggu, 29 Juni 2013, merupakan hari di mana dialektika itu tersampaikan. Bertepatan di Graha Aditya Sabha, tengah berlangsung Stadium Generale (KuliahUmum) bertajuk Vedanta and Science yang dibawakan oleh His Holiness Subhag Swami Maharaj dari International Society for Krishna Consciousness. Acara yang terselenggara berkat kerjasama antara Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta, Parisada Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Bhakti Vedanta ini melibatkan seluruh elemen masyarakat Hindu Sejabodetabek. Kuliah Umum yang berlangsung dari pukul 09.00 – 14.00 WIB juga menampilkan sejarah perjalanan organisasi International Society for Krishna Consciousness, termasuk kedatangan Sri Srimad AC Bhaktivedanta Swami Prabhupada ke PuraAditya Jaya Rawamangun pada tahun 1973.

foto-2

Sebelum memasuki ruang seminar, His Holiness Subhag Swami Maharaj disambut oleh barisan mahasiswa serta pengalungan bunga oleh Ketua Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta, Prof. Dr. Ir. I Made Kartika D., Dipl.-Ing. KuliahUmum kali inidipanduoleh Ni PutuRatni, S.Pd.H serta penerjemah Nara sumber oleh Nyoman Tri Astawa, Sp.PD (Trata Dasa) mengingat kuliah yang disampaikan bersifat bilingual yakni Inggris dan Indonesia.

Kuliah umum ini kali menekankan pada bagaiamana proses mendapatkan kebenaran di dalam Veda juga senada dengan apa yang dilakukan oleh sains. Bahkan jika ditilik dari metodologi sains yang murni pada pengamatan empiris yang bersifat distingrif dan terukur, namun pada kenyataannya banyak sekali teori-teori sains, terutama teori sains terkenal, lebih bersifat spekulatif dan tidak berpedoman pada prinsip-prinsip metodologis sains itu sendiri. Dalam seminar ini dicontohkan teori evolusi dari Charles Darwin sebagai teori yang bersifat sangat spekulatif. Beliau menjelaskan bahwa Teori evolusi Darwin memberikan suatu spekulasi teoritis bahwa perubahan perlahan (evolusi) yang dialami seluruh makhluk hidup berjalan begitu saja  (secara acak).

foto-3

Vedanta dan Sains sama-sama mengkaji tentang hakikat dan unsur alam semesta. Deskripsi ontologis tentang hakikat alam semesta sebenarnya sudah dituntaskan di Vedanta. Dan dengan bahasa yang berbeda sains juga mengkaji hal tersebut yang mana jika dibandingkan dengan Vedanta keduanya memiliki prinsip yang hampir sama. Seperti yang dijelaskan oleh Narasumber bahwa seorang Ilmuwan seperti  A. Szent Gyorgi menyatakan“In my search for the secret of life, I ended up with atoms and electrons which have no life at all. Somewhere along the line, life has run out through my fingers. So, in my old age I am now retracing my steps. ”Penjelasan ini sejalan dengan prinsip Vedanta bahwa Tuhan sebagai yang absolut merupakan pengada namun beliau sendiri ‘ tidak terjelaskan’ secara materi atau sains.

Dalam seminar ini juga dapat dijelaskan bahwa Vedanta, bisa menjadi sebuah doktrini lmiah sekaligus teologis Hinduisme yang menjelaskan bahwa secara prinsip tidak ada pertentangan antara ilmu pengetahuan dengan agama.Faktanya, kedua bidang tersebut saling melengkapi. Hal ini disebabkan karena adanya pengertian bahwa ruang lingkup masing-masing bidang tersebut telah dibatasi dengan tegas. Dalam Hinduisme terdapat dua kategori pengetahuan—(1) paravidya—pengetahuan rohani dan (2) aparavidya – pengetahuan material. Pengetahuan ilmiah merupakan bagian dari aparavidya. Pengetahuan rohani – pengetahuan tentang Tuhan dan kehidupan termasuk dalam paravidya. Hinduisme menjelaskan bahwa pengetahuan ilmiah dapat menuntun kearah pengetahuan rohani.

Antusiasme umat terhadap ilmu pengetahuan terutama pengetahuan agama nampak terlihat padaa cara ini. Pertanyaan demi pertanyaan, yang berasal dari seluruh golongan baik mahasiswa maupun kelompok masyarakat, bertubi-tubi dilontarkan kepada pembicara. Nampaknya masyarakat sudah mulai kritis dengan segala bentuk informasi yang berhubungan dengani dentitas KeHinduan mereka. Ajaran Vedanta memang sangat luas, dan masyarakat (terutama di Indonesia) dapat menangkapnya lewat penjelasan komprehensif dari kitab Bhagavad Gita. Dari Bhagavad Gita lah manusia akan menemukan seluruh eksplanasi baik eksplanasi diri termasuk misterialam semesta.

Dalam wawancaranya dengan Bali TV, ketua panitia I Wayan Kantun Mandara, S.Ag., M.Fil.H memberikan tiga poin penting tentang tujuan dari kegiatan ini yakni, (1) Memberikan pencerahan tentang ajaran Vedanta dan relevasinya dengan sains (2) Membangun kesadaran baru bahwa Vedanta dapat beriringan dengan kehendak jaman, termasuk kemajuan sains (3) Menjalin kerja sama eksternal untuk ikut menumbuhkan atmosfer akademik di lingkungan Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta dan umat Hindu pada umumnya. Acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan kepada pembicara serta sertifikat kepada moderator yang diberikan secara langsung oleh Ketua STAH Dharma Nusantara Jakarta.Selesai pemberian kenang-kenangan dan sertifikat acara dilanjutkan dengan foto bersama antara Pembicara, Mahasiswa dan para umat. (ASW)

MENGENAL DARI DEKAT TABUH LELONGGORAN DULU DAN KINI

January 29, 2013 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh : IGB.Sutarta*

Bali selain dikenal dengan icon pulau seribu Pura, pulau Kahyangan, pulau dengan keunikan sawah berundak dan pulau exotis, ragam budaya dan seni, bahkan juga kaya akan keragaman seni karawitannya. Karawitan adalah istilah lain daripada Musik tradisional yang lazim di kenal di Jawa dan Bali. Untuk menyebutkan istilah karawitan biasanya hanya dikenal pada komunitas pelakunya itu sendiri, sementara untuk masyarakat umum akrab dengan sebutan gamelan. Dalam satu perangkat gamlean disebut barungan, misalnya barungan gamelan gong kebyar, barungan gamelan semar pegulingan, barungan gamelan angklung , barungan Gong Gede dan sebagainya. Nah masing-masing barungan ini memiliki spesifikasi sendiri, baik fungsi dan juga pemanfaatannya. Seperti gong kebyar sesuai dengan namanya fungsinya adalah untuk jenis lagu kekebyaran, dan pemanfaatannya untuk iringan tari kekebyaran/ tari kreasi baru. Sementara itu barungan Gong Gede, biasanya fungsi dan pemanfaatannya sebagai iringan tabuh petegak/ instrumen, memainkan jenis lagu lelambatan,pengiring upacara Dewa Yadnya, sesekali juga dapat digunakan sebagai iringan tari-tari tertentu, baik itu tari klasik atau iringan praghmen tari. Barungan gamelan Semara Pegulingan/ Semarpegulingan ada istilah saih pitu/ daun bilahnya berjumlah 7 ( tujuh ) bilah, yakni Ndang, Ndaing, Nding,Ndong,Ndeng, Ndeung, Ndung ,(nada setengahan atau dikenal dengan istilah pemero) fungsi dan pemanfaatannya sebagai lagu-lagu yang bisa dimainkan dalam tangga nada mayor maupun minor diatonis atau selendro pelog dalam pentatonis. Biasanya semarpegulingan sebagai pengiring tari khusus bergenre Pelegongan. Selain contoh barungan gamelan diatas, masih ada puluhan jenis barungan gamelan lainnya. Satu diantara sekian banyak barungan gong kebyar, tetapi tidak di pergunakan untuk kekebyaran ansih, tetapi lebih dikenal sebagai barungan gamelan “ Lelonggoran”. Lebih lanjut akan penulis uraikan mengenai Tabuh Lelonggoran sebagai berikut :

Tabuh Lelonggoran :

Cikal bakal lahirnya/ munculnya tabuh Lelonggoran ini diperkirakan lahir bersamaan dengan perkiraan munculnya Gong Kebyar pada abad ke 19 kurang lebih pada tahun 1915 di Desa Bungkulan, Buleleng Singaraja, merujuk tulisan Colin Mc Phee, seorang peneliti barat dalam bukunya Music In Bali ( 1966:328) yang mengatakan bahwa pada tahun 1915, Gong Kebyar di gunakan membarung ( lomba/parade tetabuhan red.) di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan Buleleng ( Pande Made Sukerta, makalah seminar Gong Kebyar.2006) dari informasi inilah dipakai sebagai acuan , dan bahkan untuk lebih menguatkan lagi bahwa Gong Kebyar lahir di Desa Bungkulan. Hal lainnya juga tulisan Balyson( dalam majalah Bhawanagara tahun 1934), menjelaskan terbentuknya gamelan kebyar/ gamelan untuk iringan Tabuh Lelonggoran, diawali dengan mengubah jenis bilah gangsa (tungguh) dari lima bilah hingga akhirnya menjadi sepuluh bilah. Demikian sekilas perjalanan Gong Kebiar yang kelak sebagai instrumen untuk memainkan Tabuh Lelongoran.

Tabuh Lelonggoran sebagai salah satu sarana yang selalu harus ada didalam rangkaian ritual Upacara Dewa Yadnya, sebagai pengejawantahan suara Bajra sang Wiku atau Genta suara pitu sang sulinggih saat melangsungkan pemujaan sebagai Yajmana( Manggalaning Yadnya ) Tarian sebagai Mudraning sang Yajmana ( Ciwa Nata Raja ) dan Gita/Nyanyian Kidung personifikasi Mantra Puja. Untuk sebagian umat saat melaksanakan persembahyangan ( mebakti ) tanpa alunan suara lagu-lagu lelonggoran yang dimainkan secara agung dan terasa ada atmosfir maghis, yang menentramkan hati, jika sudah lewat fase lagu-lagu yang ber-irama menyerupai lagu mars yang di bawakan kelompok marching band. Tabuh Lelonggoran menurut beberapa penggiat pelaku tabuh Lelonggoran, bahkan salah satu dari pelaku tersebut adalah seorang cucu dari sang Maestro, I Gusti Bagus Suarsana yang kebetulan juga seorang seniman tabuh mengatakan :

Adalah I Gusti Nyoman Panji Gede (sudah moring acintya, Alm, red) yang pada saat menekuni, menggubah, mengajarkan tabuh Lelonggoran pada anak didiknya di seantero desa Bungkulan juga di pelosok jazirah Buleleng yang di kenal dengan istilah Dauh Enjung ( kalopaksa,tangguwisia,anturan,tukad mugga, buleleng barat red.) dan Dangin Enjug,(Jinengdalem, Penarukan, sangsit, Jagaraga, menyali dan desa bungkulan buleleng timur red.) diperkirakan berusia 50 (lima puluh) tahun, sekitar tahun 1930 an. Beliau I Gusti Nyoman, selain piawai mengarang lagu secara otodidak, belaiu juga piawai mengarang/ membuat lagu di tempat berlangsung acara mebarung ( perlombaan red.) ada salah satu karya beliau yang boleh dikatakan sangat sakral dan memiliki nilai maghis yakni gubahan tabuh yang diberi nama tabuh “ Sudha Mala”. Lagu /tabuhan mana yang kalau dimainkan satu hari satu malam, tanpa berhenti. Sayang lagu tersebut oleh generasi penerusnya termasuk salah satunya yang masih exist I GB. Suarsana, tak mampu/ memaninkan lagu Sudha Mala tersebut. Kini Suarsana hanya bisa mengenag saat mana ia dan sang Kakek memainkan lagu tersebut dengan ekpresi terkantuk-kantuk saking lama dan panjangnya lagu tersebut, sementara ia baru berusia belasan tahun di tahun 50 an. Namun selain lagu Sudha Mala, masih banyak repertoar lagu/tabuh lelonggoran yang masih secara utuh dan baik dapat dimainkan oleh Suarsana dan adik-adiknya. Adapun harapan dan maksud penulis mengangkat salah satu ensiklopedi musik tradisi yang pada zamannya adalah merupakan karya yang sangat genius dan berilian, dimana didalamnya inhern sudah masuk unsur-unsur pengaruh musik modern yang didalamnya ada seperti intro,tempo, atempo, canon, sinkope, dinamika, interlocking pet/ ubit-ubitan, bahkan prase-prase dengan beat yang terkadang bagaikan slow rock, bahkan menggelegar bagaikan dentuman marching band dan seterusnya. Juga ada fungsi mayorete/ dirighen yang di gantikan oleh Terompong Pengarep. Ia berfungsi sebagai introduction, dirighen, juga leader secara organik. Pemain lainnya tidak akan berani memulai sebelum sang pemain Terompong pengarep memberi aba-aba. Melalui tulisan ini diharapkan, para generasi penerus mengetahui secara pasti dan benar mengenai makna dan fungsi tabuh Lelonggoran, baik dalam persepektif pengiring upacara Dewa Yadnya, maupun sebagai salah satu Barungan/ Rumpun tetabuhan instrumental. Juga diharapkan penerus baik komunitas/ anak cucu keturunan sang Maestro maupun pemerhati dan penggiat seni karawitan bali, mengetahui sejak kapan Tabuh Lelongoran di kenal di desa Bungkulan khususnya dan Buleleng bahkan Bali pada umunya. Dengan demikian jangan sampai masyarakat Buleleng sendiri terlebih masyarakat Bungkulan mendengar Tabuh Lelonggoran sangat asing, bahkan jauh lebih akrab dengan aneka tabuh Lelambatan dan kreasi baru, bahkan musiknya Kitaro. Bahwa kita butuh apresiasi sah-sah saja. Dengan demikian generasi penerus kita tahu, pernah tercatat pada suatu masa seorang “komposer” sekelas Kitaro,Wolfgang Amizius Mozart, pernah lahir di tanah Bali.

Kini , dengan perjalanan waktu, tabuh Lelonggoran, selain komunitas pengusung genre musik ini sudah mulai tergerus jaman, karena faktor alam, usia, segmen/pasar yang membutuhkan untuk eksisnya genre Lelonggoran untuk tetap bertahan, ia semakin tergerus dan tergilas dengan aliran musik “kekebyaran” ber genre pop, maka Tabuh Lelonggoran perlahan namu pasti akan semakin mengecil kerlip cahayanya di jagat karawitan Bali. Sebuah keniscayaan, bahwa Institu Seni Indonesia, kala masih sebagai Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Denpasar konon sudah mendokumentasikan sebagai salah satu jenis karawitan/ tabuh yang memiliki kekhasan di zamannya.

Tabuh Lelonggoran, kejayaan riwayatmu dulu, dan kini hanya sesekali masih dimainkan setidaknya di Pura Pemaksan komunitas sang Maestro I Gusti Nyoman Panji Gede,di Banjar Jero Gusti Bungkulan, Kecamatan Sawan Buleleng Singaraja Bali. Semoga tulisan ini ada manfaatnya, paling tidak sebagai pengetahuan ragam jenis karawitan Bali. Semoga .

*Dosen STAH DN Jakarta

10 Kuil Hindu Paling Indah di Dunia

January 08, 2013 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Hinduisme adalah salah satu agama tertua di dunia, dan memiliki lebih dari 900 juta pengikut di seluruh dunia. Meskipun sebagian besar umat Hindu tinggal di India, ada juga sejumlah pengikut Hindu dengan jumlah yang cukup banyak di Nepal, Bangladesh dan negara kita, Indonesia. Bangunan Hindu di India dimulai hampir 2000 tahun yang lalu dan menandai transisi Hindu dari agama Veda. Arsitektur kuil Hindu telah berkembang dan terdiri dari berbagai macam gaya. Kuil-kuil Hindu biasanya didedikasikan untuk salah satu Dewa Hindu utama dan mengandung Murti (citra suci) dari Dewa. Walaupun tidak wajib bagi seorang Hindu untuk mengunjungi sebuah kuil Hindu secara teratur, kuil-kuil tetap memainkan peran penting dalam masyarakat dan budaya Hindu.

Tanah Lottanahlot

Terletak di atas sebuah batu karang besar, Tanah Lot merupakan salah satu pura Hindu yang paling terkenal di Bali, dan mungkin juga pura yang paling sering difoto. Tanah Lot telah menjadi bagian dari mitologi Bali selama berabad-abad. Pura di Tanah Lot sendiri adalah salah satu dari 7 kuil laut, yang membentuk rantai sepanjang pantai barat Bali.

Kuil Kanchipuram

Kota 1000 Kuil, Kanchipuram, adalah salah satu kota tertukanchipurama di India Selatan, dan dikenal karena kuil kuno Hindu dan sari sutranya. Kota ini berisi beberapa kuil besar seperti Kuil Varadharaja Perumal untuk Dewa Wisnu dan Kuil Ekambaranatha yang merupakan salah satu dari lima bentuk tempat tinggal Dewa Siwa.


KuilBrihadeeswarar

Kuil Brihadishwara, kuilbrihadeeswararyang terletak di Thanjavur, India, dibangun oleh Raja Chola yaitu Rajaraja I pada abad ke-11. Kuil ini merupakan kuil pertama di dunia yang keseluruhannya dibangun dari batu granit. Brihadishwara adalah contoh brilian dari gaya arsitektur kuil Dravida. Menara kuil ini memiliki tinggi 66 meter sehingga menjadi salah satu kuil tertinggi di dunia.

Khajuraho

khajuraho

Desa Khajuraho merupakan salah satu tujuan wisata paling populer di India. Di desa ini banyak terdapat kuil Hindu dan Jain dengan patung erotisnya. Kuil-kuil disini dibangun selama rentang waktu 200 tahun, sejak tahun 950 sampai tahun 1150. Beberapa kuil didedikasikan untuk Dewa Jain dan sisanya untuk Dewa Hindu, yaitu Brahma, Wisnu dan Syiwa.

Banteay Srei

banteay-sreiMeskipun secara resmi merupakan bagian dari kompleks Angkor Wat, Banteay Srei terletak 25 km di timur laut dari kelompok utama kuil Angkor Wat. Kuil Hindu ini selesai pada tahun 967 dan dibangun sebagian besar dari batu pasir merah, media yang cocok untuk ukiran dinding dekoratif rumit yang masih jelas terlihat saat ini. Banteay Srei adalah satu-satunya kuil utama di Angkor yang tidak dibangun untuk raja, melainkan dibangun oleh salah satu penasihat raja RaJendravarman, yaitu Yajnyavahara.

Sri Ranganathaswamy

sriDidedikasikan untuk Dewa Ranganatha (salah satu bentuk Dewa Wisnu), Sri Ranganathaswamy di Srirangam, India adalah sebuah kuil penting yang menerima jutaan pengunjung dan peziarah setiap tahun. Dengan luas 156 hektar, Sri Ranganathaswamy adalah salah satu kompleks keagamaan terbesar di dunia.

Kuil Virupaksha

vuruKuil Virupaksha di kota Hampi di India dimulai sebagai sebuah kuil kecil dan tumbuh menjadi sebuah kompleks besar di bawah penguasa Wijayanagara. Diyakini bahwa kuil ini telah berfungsi tanpa terputus sejak kuil kecil yang dibangun pada abad ke-7 yang membuatnya menjadi salah satu kuil Hindu tertua yang masih berfungsi di India. Menara pintu masuk candi terbesar memiliki tinggi 50 meter.

Candi Prambanan

pramCandi Prambanan adalah kompleks Candi Hindu terbesar dan paling indah di Indonesia. Terletak sekitar 18 km sebelah timur Yogyakarta. Candi Prambanan memiliki tiga candi utama yang didedikasikan untuk Dewa Wisnu, Brahma, dan Syiwa dan dibangun sekitar tahun 850 oleh Kerajaan Mataram Kuno.

Kuil Meenakshi Amman

meeKuil Meenakshi Amman merupakan salah satu kuil Hindu yang paling penting di India, yang terletak di kota suci Madurai. Kuil ini didedikasikan untuk Sundareswar (bentuk Dewa Syiwa) dan Meenakshi (bentuk Dewi Parwati). Di kompleks ini terdapat 14 menara megah termasuk dua Gopuram emas untuk Dewa utama, yang dipahat dan dicat dengan rumit. Kuil ini adalah simbol yang signifikan bagi rakyat Tamil, dan dibangun pada awal abad ke 17.

Angkor Wat

angAngkor Wat yang dalam bahasa Indonesia berarti “Kota Kuil”, adalah sebuah kompleks kuil yang luas di Kamboja yang menampilkan sisa-sisa kemegahan ibukota dari kerajaan Khmer, dari abad 9 hingga abad ke-15 Masehi. Di dalam kompleks ini terdapat Kuil Angkor Wat yang terkenal, monumen tunggal keagamaan terbesar di dunia, dan kuil Bayon di Angkor Thom dengan banyaknya permukaan batu besar. Selama sejarahnya yang panjang, Angkor mengalami beberapa kali perubahan untuk mengkonversi agama Hindu menjadi Buddhisme



KEKUATAN PIKIRAN BAWAH SADAR (KAJIAN KRITIS FILSAFAT NYAYA)

August 25, 2011 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh : Made Wirawan, S.Ag., M.Fil.H*

Pendahuluan

Ilmu Filsafat adalah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana caranya mengungkapkan nilai-nilai kebenaran hakiki yang dijadikan landasan untuk hidup yang dicita-citakan. Demikian halnya ilmu filsafat yang ada di dalam ajaran Hindu yang juga disebut dengan Darsana, semuanya berusaha untuk mengungkapkan tentang nilai-nilai kebenaran dengan bersumber pada kitab suci Veda.

Tidak terkecuali dengan filsafat Nyaya yang berarti argumentasi dan mengindikasikan bahwa sistem ini secara dominan bersifat intelektual, analitik, logis, dan epistemologis. Sistem ini dikembangkan dengan menekankan pada aspek logika dan nalar dengan pendekatan ilmiah dan realisme. Oleh karena itu sistem ini juga disebut Nyaya-vidya atau Tarka sastra, ilmu logika dan nalar; Pramana–sastra, ilmu logika dan epistemologi; Hetu–vidya atau ilmu penyebab; Vada–vidya atau ilmu debat; Anviksiki, ilmu studi kritis. Sistem ini menganalisis hakekkat dan sumber pengetahuan dan validitas dan non validitasnya. Dengan menggunakan nalar yang sistematik, sistem ini mengembangkan dan menggunakan metoda konkrit untuk membedakan pengetahuan valid (prama) dari pengetahuan non valid. Sistem Nyaya merupakan sistem pertama yang meletakkan fondasi yang kuat ilmu logika India1.

Dengan penjelasan tersebut diatas dapatlah diketahui bahwa filsafat Nyaya menggunakan intelektual atau pikiran logis didalam mengungkapkan nilai-nilai kebenaran yang bersumber pada Veda. Oleh karena itu berkaitan dengan filsafat Nyaya penulis dalam hal ini berusaha untuk menampilkan sebuah pemikiran yang mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

(more…)

ILMU PENGETAHUAN UNTUK KESEJAHTERAAN HIDUP UMAT MANUSIA, MENURUT PERSPEKTIF HINDU

August 24, 2011 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh AA. Raka Mas*

Setelah bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan, seluruh rakyat menyadari, bahwa meraih ilmu pengetahuan yang setinggi – tingginya menjadi idaman yang hendak dicapai. Tidak peduli apakah rakyat itu tergolong petani, pekerja kasar, buruh, pegawai negeri, pegawai swasta. Militer dan sebagainya. Tidak ada halangan untuk maju dan menyekolahkan anak – anak, saudara – saudara sampai mencapai jenjang yang tertinggi.

raka

Semangat belajar kini sangat mengebu – gebu, hanya sayang dunia pendidikan masih banyak menghadapi rintangan agar rakyat Indonesia dapat maju dalam segala bidang ilmu pengetahuan.

Memiliki dan memperdalam ilmu pengetahuan sedalam – dalamnya adalah suatu hal yang sangat positif. Tuhan tidak menghendaki umatnya menjadi bodoh (avydia) dan karena kebodohannya lalu menjadi miskin. Tuhan telah mewujudkan dirinya sebagai Dewi Saraswati, dan Sakti dari Dewa Brahma. Dewi Saraswati digambarkan sebagai sesosok wanita cantik dengan atribut lainnya. Maksud dari lambang itu antara lain adalah agar umatnya senang dan cinta pada ilmu pengetahuan.

Dalam canakya Niti Sastra Bab IV. Sloka 5 disebutkan : Ilmu pengetahuan ibaratnya bagaikan kamadhenu, yaitu yang setiap saat dapat memenuhi segala keinginan. Pada saat orang berada di Negara lain, ilmu pengetahuan bagaikan seorang ibu yang selalu memelihata kita. Orang bijaksana mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah kekayaan yang rahasia, harta yang tak kelihatan. Dari sloka di atas, ada 4 macam yang dapat dicatat, bahwa ilmu pengetahuan adalah :

1. Setiap orang dapat memenuhi segala keinginannya

2. Sebagai seorang ibu yang selalu memelihara kita

3. Kekayaan yang rahasia

4. Harta yang tak kelihatan

Meninjau kesimpulan yang dimaksud oleh sloka di atas, ternyata ilmu pengetahuan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan seseorang insan. Dari sloka lain masih dapat kita sebutkan bahwa ilmu pengetahuan mempunyai makna yang berbeda yaitu dikatakan sebagai berikut : “Lahir di keluarga mulia, tampan, muda, sehat dan kuat, tidak berguna sama sekali kalau tidak berpengetahuan, bagaikan bunga kimsuka yang amat indah tetapi tidak ada bau harumnya”. (Canakya Niti Sastra, Bab IV. 21).

Jadi dari sloka ini, pemilikan pengetahuan dikaitkan dengan kegunaan sebagai seorang manusia. Itu berarti bahwa seseorang yang memiliki pengetahuan yang cukup dianggap telah mampu menunjukkan dirinya sebagai seseorang yang bermanfaat.

Dari sloka lain “Canakya Niti Sastra” Bab X. 1 disebutkan sebagai berikut :

“dhana hina na hinas ca

dhanikah sa suniscayah

vydiratnena yo hinah

sa hinah sarvavastusu

Artinya :

Orang yang kurang dalam harta benda, bukanlah orang miskin

Sebaliknya orang kaya adalah dia yang memiliki ilmu pengetahuan

Dia yang kurang dalam ilmu pengetahuan, sesungguhnya dalam

segala keadaan ia disebut orang miskin

Jadi, jelas sekali bagaimana posisi pentingnya arti pemilikan terhadap ilmu pengetahuan itu. Dari Niti Sataka karya Bhartihari, seorang raja di kerajaan Ujayini yang sekarang dikenal dengan nama kota Ujain di India, karya ini diterjemahkan oleh Dr. Somvir, kita mendapat pandangan yang lebih luas lagi tentang pengetahuan itu, antara lain pada sloka 12 disebutkan sebagai berikut :

“Harturyati na gocaram kimapi sam pusnati yatservad

hyarthibhyah prati padyamanamanisam prapnoti Vrddhimparam

kalpantesvapi na prayati nidhanam vidhyakhy – amantardhanam

yesam tanprati manamujjnata nrpah kastai saha spardhate”

Dr. Somvir memberikan penjelasan terhadap isi sloka tersebut sebagai berikut :

“pengetahuan adalah kekayaan yang tidak bisa dicuri oleh siapapun,

semakin banyak diberikan akan semakin berkembang, dengan

memiliki pengetahuan akan hadir kedamaian dalam diri manusia”

Dalam sloka diatas penyair mengkritik para penguasa atau pemimpin yang menunjukkan kesombongan terhadap para ahli dalam sastra, agama dan mereka bukan hanya perlu dihormati di negaranya sendiri, akan tetapi di seluruh dunia. (Dr. Somvir, 2007 : 8).

Dari penjelasan di atas, ada 4 (empat) hal yang dapat dicatat :

1. Pengetahuan adalah kekayaan yang tidak bisa dicuri.

2. Semakin banyak diberikan (diajarkan) akan semakin berkembang.

3. Dengan memiliki pengetahuan akan menghadirkan kedamaian bagi

pemiliknya

4. Ada suatu pesan dan kritik oleh penulis Niti Sataka ini, adalah agar

orang yang berilmu dihormati baik di dalam dan di luar negeri. Para

penguasa hendaknya tidak sombong terhadap para ilmuwan tersebut.

Dari kedua sumber ini yakni Canakya Niti Sastra dan Niti Sataka, dapat dipetik inti sarinya, bahwa ilmu pengetahuan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pengetahuan dapat dipandang sebagai :

1. Kamadhenu ; yang dapat memenuhi segala keinginan setiap saat.

2. Seorang ibu yang selalu memelihara kita.

3. Kekayaan atau harta yang sangat rahasia.

4. Memiliki pengetahuan adalah memiliki kegunaan sebagai seorang

manusia.

5. Pengetahuan adalah kekayaan yang tidak dapat dicuri.

6. Semakin banyak pengetahuan itu diajarkan pengetahuan itu makin

berkembang.

7. Pemilik pengetahuan mampu menghadirkan kedamaian dalam

dirinya

8. Para ilmuwan seyogyanya dihormati oleh para penguasa (pemimpin

bangsa) baik di dalam dan di luar negeri.

Alangkah penting dan strategisnya nilai pengetahuan dan ilmuwan itu. Karena itu siapapun tanpa kecuali wajib mempelajari ilmu pengetahuan itu seluas – luasnya dan sedalam – dalamnya. Ilmu pengetahuan sangat ajaib sifatnya, makin banyak dipelajari terasa makin sedikit yang diketahui, karena ilmu pengetahuan adalah tak terbatas. Tak ada seorang manusia pun yang mampu menyombongkan dirinya, bahwa ia telah menguasai keseluruhan ilmu pengetahuan itu, walaupun ia telah menjuruskan dirinya pada hal – hal yang bersifat spesialis. Ada ahli (ilmuwan) pertanian, peternakan, kedokteran, hukum, teknik, perbintangan, ekonomi, politik, budaya, agama dan masih ada ratusan bahkan ribuan spesialis lainnya. Ini suatu pertanda bahwa ilmu pengetahuan itu sangat tak terbatas. Karena itu, kesombongan terhadap suatu spesialisasi adalah kesombongan yang sia – sia belaka. Dengan kesombongan – kesombongan tersebut, menunjukkan adanya suatu kemabukan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Hal ini sangat dilarang dan dalam ajaran agama Hindu termuat dalam sapta timira yaitu kemabukan (kegelapan) terhadap 7 hal, yaitu : kegelapan (mabuk) karena kekayaan (dhana), surupa (ketampanan), kulina (keturunan), yowana (keremajaan), kasuran (kemenangan), sura (minuman keras) dan guna (kepandaian, tingginya ilmu pengetahuan yang dimiliki).

Jika seseorang mabuk (mengalami kegelapan) terhadap ilmu pengetahuan yang dimiliki, maka orang itu belum mengambil makna daripada pengetahuan yang telah ia miliki itu. Tingginya kepandaian yang diraih oleh seseorang itu seharusnya mampu menekan egonya, dan menjadi orang yang bijaksana. Ditinjau dari atribut/symbol dari Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan antara lain terhadap symbol angsa di kakinya. Makna symbol itu adalah agar seseorang yang telah memiliki pengetahuan itu agar mampu menekan egonya dan menjadi sosok manusia yang bijaksana analog dengan sifat angsa itu sendiri yang dapat membedakan makanannya walaupun berada di lumpur dan bercampur dengan kerikil dan lumpur.

Kemabukan, kesombongan seseorang akan pengetahuan dan kepandaiannya yang tinggi itu menandakan bahwa orang itu belum mampu membedakan antara pengetahuan keduniawian dan rohani. Pengetahuan matematika, akunting, ekonomi, sosial politik, budaya dan lain-lainnya adalah pengetahuan untuk kehidupan bahagia di dunia ini, sedangkan pengetahuan rohani adalah pengetahuan untuk mempersiapkan diri hidup bahagia di alam yang kekal dan abadi. Keangkuhan ketakaburan dan bentuk-bentuk lain setelah memiliki kepandaian, ilmu pengetahuan yang tinggi itu, adalah pertanda runtuhnya kemuliaan manusia, sebab manusia yang sadar, kepandaian yang dimiliki itu belum seberapa besar dibandingkan dengan pengetahuan yang tak terbatas itu. Pengetahuan itu sendiri adalah Sang Hyang Widhi Wasa. Sat Citta Ananda Brahman (Sesungguhnya) Tuhan Adalah KEBENARAN, PENGETAHUAN TAK TERBATAS (Mahanirwana Tantra : Gde Pudja, 1983, 15), semoga hal ini dapat direnungkan.

Secara singkat dapat disimpulkan, bahwa untuk menggapai ilmu pengetahuan yang setinggi-tingginya adalah syah-syah saja, bahkan itu wajib bagi siapa saja, karena ilmu pengetahuan itu bukan saja untuk mengasah kecerdasan otak belaka, tapi untuk menjamin kesejahteran hidup dan bahkan demi kesejahteraan umat manusia. Alangkah tingginya nilai pemilikan ilmu pengetahuan itu. Selamat merenungkan !

*) Penulis adalah Dosen STAH Dharma Nusantara Jakarta

REINTERPRETASI ARCHA DALAM PEMUJAAN AGAMA HINDU

August 17, 2011 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh Halfian*

A. Kasus

Sering sekali kita mendengar mengenai Archa atau pratima yang merupakan hal yang biasa dalam kegiatan keagamaan Hindu, terutama dalam upacara pujawali, melasti dan abhisekha atau pasupati (melaspas). Dalam khazanah ritual, agama Hindu memiliki keistimewaan tersendiri bila dibandingkan dengan agama lainnya terutama agama barat. Agama Hindu bila dilihat secara kasat mata maka pandangan yang akan diterima sangatlah rumit dan irrasional. Mengapa hal ini terjadi? Dikarenakan kita tidak mengetahui makna dibalik kegiatan agama Hindu tersebut. Sangat banyak tidak hanya opini dari agama non-Hindu namun juga umat Hindu sendiri yang banyak terjebak pada pemahaman secara agama sastra atau sabda suci. Hal ini wajar terjadi, bisa dikarenakan kurangnya pendistribusian buku agama, hegemoni agama, penyuluhan dan pembinaaan yang kurang atau bahkan karena guru agama atau tokoh agama yang berkecimpung di dalam permasalahan agama tidak` memahaminya. Sehingga memiliki makna yang tidak jelas atau nisbi mengenai hal tersebut.

Atau dikarenakan hegemoni agama, dikarenakan sebagai minoritas maka kita mengikuti bahkan menyamakan konsep yang ada sehingga menghilangkan sesuatu yang ada di agama kita. Semua agama berbeda dan mata dunia melihat dengan berbagai perspektif baik secara holistik, parsial maupun abstrak. Dalam kasus ini penulis ingin mengangkat sebuah kasus yang selalu ditemukan dimana saja ketika kita pergi ke sebuah pura atau mandir juga kuil suci Hindu. Ada banyak perspektif atau sudut pandang yang diterima oleh banyak umat Hindu saat ini. Penulis ingin membahas mengenai Archa yang merupakan sesuatu yang terpenting dalam pemujaan dalam agama Hindu karena berkaitan dengan keyakinan dan penghayatan beragama.

(more…)

TUHAN DI SEBATANG POHON

May 20, 2011 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh : Halfian*

Ketika umat Hindu melaksanakan ritual di bawah pohon, apa pandangan kita mengenai hal ini. Dan ketika kita melihat sebuah pelinggih atau altar di bawah pohon. Berbagai pernyataan akan muncul. Namun banyak pula yang memiliki anggapan bahwa pemujaan atau persembahyangan yang dilakukan di bawah pohon adalah suatu bentuk kepercayaan kuno, primitif, tidak memiliki pengetahuan bahkan tidak mengetahui Tuhan yang sejati, memuja roh-roh jahat yang menghuni. Adalah lebih baik jika pemujaan tersebut dilakukan diruangan tertutup dan bangunan yang berkubah atau tertutup. Namun tidak demikian menurut Vaidika Dharma. pohon

Dalam ajaran Hindu, pemujaan atau persembah-yangan yang dilakukan d itempat terbuka lebih baik, karena menyatukan hubungan dengan alam sekitar yang merupakan satu-kesatuan. Begitu juga pemujaan di bawah pohon memiliki makna harmonisasi dengan alam dan penghormatan kepada ciptaan Tuhan yang meliputi segalanya. Vaidika Dharma atau Hinduisme memerlukan sebuah pohon untuk melengkapi suatu sarana sesaji dalam pemujaan. Ada beberapa pohon yang dianggap suci menurut Hinduisme seperti, pippala atau kalpavrksa (beringin), tulasi dan bilwa. Pohon tidak lebih dari tempat-tempat alam lainnya. Penghormatan Veda terhadap pohon adalah dengan memperhatikan beberapa hal. Pohon adalah makhluk hidup, maksudnya memiliki atma atau jiwa. Pohon adalah suatu pribadi yang memberikan arti penting dan memberikan kehidupan bagi makhluk lainnya, apalagi semakin besar pohon tersebut maka semakin banyak makhluk yang tidak dapat dilihat oleh mata jasmani berdiam di sana. Pohon juga sebagai simbolisasi, dia dapat mengingatkan kita pada Tuhan penguasa sejati seluruh alam semesta ini.

(more…)

PERLUKAH SUMPAH PERKAWINAN DIUCAPKAN PADA SAAT UPACARA PERKAWINAN?

April 26, 2011 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh: Ni Nyoman Sudiani*

Perlukah Sumpah Perkawinan diucapkan pada saat upacara Perkawinan Umat Hindu etnis Bali dilaksanakan? Kalau perlu apa yang dijadikan sebagai landasannya? Pertanyaan ini timbul bukan hanya sekedar untuk ikut-ikutan atau meniru agama tetangga yang telah melaksanakannya, melainkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul di masyarakat, mengingat semakin kritisnya generasi muda Hindu saat ini. Hal ini perlu menjadi pertimbangan mengingat saat ini pergaulan generasi muda sudah sangat luas, khususnya di kota-kota besar yang masyarakatnya sangat heterogen. Pergaulan atau interaksi tidak hanya terjadi antar umat Hindu saja, akan tetapi sudah terjadi antar umat beragama.

(more…)