STAHDNJ.AC.ID

Vidyaya, Vijnanam, Vidvan
Subscribe

Archive for the ‘Komunikasi’

PRESS RELEASE DIES NATALIS XXII DAN WISUDA SARJANA XIV S-1 SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU DHARMA NUSANTARA JAKARTA

October 08, 2016 By: admin Category: Komunikasi

logostah

Sebuah perhelatan akbar telah dilakukan oleh Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta dalam Perayaan hari lahir (Dies Natalis) Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara ke XXII dimana rangkaian pelaksanaannya digabung dengan Pelaksanaan Wisuda yang ke XIV Sarjana S-1 Keguruan dan IlmuPendidikan, Prodi Pendidikan Agama Hindu, dan Wisuda ke I Sarjana S-1 Penerangan, Prodi Penerangan Agama Hindu lulusan tahun 2016, sebanyak 38 orang. Adapun rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan di Auditorium Binakarna, Hotel Bidakara, Jln. Gatot Soebroto Kav. 71-73, Pancoran Jakarta Selatan.

Adapun rangkaian dari acara tersebut telah dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 8 oktober 2016 yang dumulai pukul 07.30 wib hingga pukul 13.00 wib. Adapun sebagai pengisi acara dalam perhelatan akbar tersebut adalah seluruh civitas akademika STAH Dharma Nusantara Jakarta, baik sebagai pengisi acara maupun tata laksana dan teknis dari setiap rangkaian acara tersebut.

Dalam kesempatan ini juga dihadiri oleh seluruh tamu undangan yang selama ini telah memberikan dukungan dan apresiasinya kepada setiap pelaksanaan dan perkembangan STAH Dharma Nusantara. Adapun sebagai Ketua Panitia dalam Rangkaian Acara Dies Natalis ke XXII serta Wisuda Sarjana S-1 ke XIV STAH Dharma Nusantara adalah Dr. Ni Nyoman Sudiani, S.Pd.H., M.FIl.H, serta sambutan-sambutan yang disampaikan oleh Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu Prof. Drs. I Ketut Widnya, MA., M.Phil., Ph.D, Kementerian Agama RI Ketua Umum Yayasan Dharma Nusantara yaitu Ir I Gusti Ketut Gde Suena, serta Ketua STAH Dharma Nusantara Jakarta Prof. Dr. Ir. I Made Kartika Dhiputra, Dipl.-Ing.,. Adapun orasi ilmiah dalam kesempatan kali ini disampaikan oleh Deputi Pemasaran Mancanegara Kementerian Pariwisata, Prof. Dr. Ir. I Gede Pitana Brahmananda (Dibacakan Wakilnya).

Sebagai tema Dalam Dies Natalis XXII dan Wisuda ke XIV Sarjana S-1 Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan Wisuda I Penerangan, STAH Dharma Nusantara Jakarta, adalah “Membangun Karakter Generasi Muda Hindu dalam Menghadapi MEA”. Seperti yang disampaikan oleh Dirjen Bimas Hindu Prof. Drs. I Ketut Widnya, MA., M.Phil., Ph.D yang menyatakan bahwa Momentum ini harus dimanfaatkan oleh STAH DN Jakarta untuk menjalin kerjasama kemitraanI nternasional. Yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa dalam rangka menyambut Masyarakat Ekonomi Asia (MEA). Sehingga perlu dipikirkan pengembangan program studi bertarap internasional. Program studi internasional ini pasti akan diminati oleh mahasiswa dari berbagai Negara di dunia. Kalau Perguruan Tinggi Agama Hindu, seperti STAH Dharma Nusantara Jakarta, yang mempunyai keunggulan atau kelebihan karena beralamat atau berdomisili di Jakarta, bisa mengambil momentum ini, pasti akan menjadi prestasi yang membanggakan.  Untuk itu semua, STAH Dharma Nusantara Jakarta harus membangun koneksi  dan jaringan, supaya dapat mengumpulkan beragam Sumber Daya Manusia (SDM) dari berbagai daerah dan dari berbagai Negara di dunia. Dengan demikian, diharapkan STAH DN dapat mengaktualisasikan potensi dirinya sehingga menjadi kekuatan besar untuk membangun Program Studi Internasional. Sesuai dengan Visi yang dimiliki STAH Dharma Nusantara Jakarta: Pusat Kajian Hindu Berwawasan Nusantara dan Kemanusiaan, maka ini menjadi tantangan bagi STAH Dharma Nusantara Jakarta untuk mewujudkannya.

Sebuah prestasi yang telah dicapai oleh peserta wisuda pada kali ini, dimana mengalami peningkatan secara akademik. Seperti yang disampaikan oleh Ketua STAH Dharma Nusantara Jakarta yang dalam pidatonya menyatakan bahwa; Sesuai Surat Keputusan Ketua Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Dharma Nusantara Jakarta No. 114/SK/SK/STAH-DNJ/2016,tertanggal20 Agustus 2016,dan No.115/SK/STAH-DNJ/2016 tentang ketentuan pemakaian gelar kesarjanaan yang mulai diberlakukan, maka ditetapkan bahwa 38 mahasiswamemenuhi persyaratan Akademik dan dinyatakan LULUS dalam Sidang Yudisium Tahun Akademik 2015/2016 sehingga wajib untuk ikut Wisuda pada hari ini, dan kepadanyaberhak menyandang gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) bagi lulusan Program studi Pendidikan Agama Hindudan Sarjana Sosial (S.Sos.) bagi lulusan Program studi Penerangan Agama Hindu. Disamping itu ditetapkan juga bahwa, sebanyak 37 Wisudawan dari 38 Wisudawan, lulus ”TEPAT WAKTU” (4 tahun) adalah merupakan mahasiswa Angkatan ke-XVIII (2012/2013) dengan catatan bahwa: IPK tertinggi adalah 3,89 ; IPK terendah adalah 3,21 serta; IPK rata-rata untuk semua lulusan tahun akademik 2015/2016 adalah : 3,46. Terdaftar sebagai alumni termuda (~22th) adalah mahasiswaatas nama : Mudita Patmasari lahir di Sragen tanggal 05 Nopember 1994 dan terdaftar sebagai alumni tertua (~48 th) adalah mahasiswa Ni Made Kurniasih  lahir di Tabanan, Bali pada tanggal 09 Mei 1968. Ternyata sebanyak ~ 58%, lulusan adalah lulus dengan predikat Terpuji (IPK > 3,50) atau sebanyak 22 orang mahasiswa, termasuk lulus dengan predikat Cum Laude (IPK > 3,70 & persyaratan khusus) adalah sebanyak 6 orang.

 

Sebelumnya, ada rangkaian acara yang telah dilaksanakan sebagai rangkaian acara dari Dies Natalis XXII dan Wisuda ke XIV Sarjana S-1 Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan Wisuda I Penerangan, STAH Dharma Nusantara Jakarta  yaitu beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan dan disampaiakan dalam Laporan Ketua Panitia yaitu Dr. Ni Nyoman Sudiani, S.Pd.H., M.FIl.H,, kegiatan-kegiatan tersebut adalah;

  1. Rangkaian Acara:
  2. Upanayana mahasiswa baru Tahun Akademik 2016/2017 dan Samawartana lulusan Tahun AKademik 2016. Kegiatan keagamaan ini dipimpin oleh Sulinggih Ida Pedanda Gede Panji Sogata, pada tanggal 7 Oktober 2016 bertempat di Utama Mandala Pura Aditya Jaya Rawamangun, yang pelaksanaannya telah mendapat restu dari para Pandita Se-Jabodetabek. Mantra Yajurveda I.13 menyebutkan bahwa yajña akan melenyapkan cacat mental, itu berarti bahwa STAH DN Jakarta telah melenyapkan cacat mental mahasiswa secara utuh, karena dididik di kelas dan dididik secara ritual.
  3. Setelah selesai mengikuti proses pembelajaran yang diakhiri dengan ujian Komprehensif dan ujian Skripsi, serta dinyatakan lulus dan memenuhi syarat administrasi dalam Sidang Yudisium, maka seluruh lulusan Sarjana S-1 tahun ajaran 2016 tersebut diadakan inisiasi/samskara penutup dengan menghaturkan Savitri Puja.
  4. Prosesi Sidang Terbuka Senat dan Guru Besar STAH DN Jakarta, serta pelaksanaan Dies Natalis dan Wisuda dilaksanakan pada hari ini tanggal 8 Oktober 2016.

 

Jakarta, 7 Oktober 2016

Koordinator Panitia Publikasi Dan Dokumentasi

Dies Natalis XXII dan Wisuda ke XIV Sarjana S-1 STAH Dharma Nusantara Jakarta

KOMUNIKASI POLITIK CALEG HINDU KOTA MATARAM DALAM PEMILU 2014 (Perspektif Sosiologi Agama)

December 03, 2015 By: admin Category: Komunikasi

Oleh :

I Wayan Wirata*)

ABSTRACT

           Hindus in Mataram should be proud because some Hindu leaders are qualified to join the fight in the arena of democracy to fight for the rights of Hindu people in the future. Thus the existence of the Hindu candidates is expected to be a community leader in the local and national level to hold the mandate in the interests of the people and Hindus in particular. In the presence of representatives of the Hindus in the legislature to increase the level of supervision and attention to the existence of Hinduism. So also the executive level representatives of Hindus are expected to more than one person in order to fight for the needs of the people, in addition to providing significant imaging of the existence of Hindus in contributing to the growth rate of development in the Republic of Indonesia. By looking at the phenomenon researchers are interested in raising them “How can political candidates komuniasi Hindu Mataram City in the 2014 ? The purpose of the study to describe political candidates komuniasi Hindu Mataram City in the 2014, while the usefulness of theoretically increase the repertoire of scientific and practical way to contribute to the policy holder associated with the philosophy of political communication. Methods of data capture using the technique of collecting data through observation, interviews, and documentation while the descriptive data analysis techniques are interpretive. From the results of research on political communication in the Hindu candidates as proof that the Hindu community is able to compete with the dominant people in positions of authority in order to fight for the rights of Hindus as well as to facilitate the interests of Hindus in both the local and central levels. In political communication Hindu Mataram city candidates in the 2014 elections conducted through interpersonal communication, persuasive, symbolic, mass, and socio-cultural communication .

 

Keywords : Political Communication, Legislative Candidates Hindu

Pendahuluan

Umat Hindu Indonesia bagian integral dari bangsa Indonesia. Umat Hindu salah satu penentu dalam kehidupan bernegara dan beragama dalam Negara Republik Indonesia. Untuk itu diperlukan peran serta partisipasi aktif umat dalam pembangunan untuk ikut memberikan kontribusi terhadap laju pertumbuhan pembangunan di Indonesia.

Suatu pilihan merupakan hal yang amat penting dalam menentukan arah serta regulasi kebijakan di kancah pemegang kebijakan. Untuk itu diperlukan tekad serta wawasan profesional dalam mengelola manajemen di tingkat pejabat untuk ikut menentukan arah kebijakan yang diambil demi kemajuan masyarakat Hindu ke depan.

Fenomena sekarang kondisi lembaga legislatif kurang kondusif akibat beberapa oknum-oknum di dalamnya melakukan skandal penyimpangan kepercayaan masyarakat. Untuk itu masyarakat Hindu tidak boleh berpangku tangan, karena di lembaga legislatif hanya ada (DPR/DPD) yang dapat dipercaya untuk memperjuangkan hak-hak rakyat. Dengan demikian keberadaan caleg-caleg Hindu diharapkan menjadi calon-calon pemimpin yang mumpuni di tingkat daerah maupun pusat yang dapat memegang amanat rakyat dengan berbuat maksimal demi kepentingan rakyat dan umat Hindu pada khususnya.

Sloka Atharva Veda menyebutkan V. XII. 1.45 adalah sebagai berikut.

Janam bibbhrati bahuda mimasacam

Nana dharmanam prthiwi yatokasam

Sahastram dhana drawinasya me duham

Dhruwewa dhenur anapaspuranti

 

Artinya :

Bekerja keraslah untuk tanah air dan bangsamu dengan berbagai cara, hormatilah cita-cita bangsamu. Ibu pertiwi sebagai sumber mengalirnya sungai kemakmuran dengan ratusan cabang. Hormatilah tanah airmu seperti kamu memuja Tuhan, dari jaman abdi Ibu pertiwi memberikan kehidupan kepadamu semua, karena itu anda telah berhutang semua kepada-Nya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa, umat manusia selalu bekerja keras sesuai dengan kompetensi dan profesionalismenya agar tetap berusaha dan berbuat sehingga hasil perbuatannya mendapat imbalan yang sepadan. Di samping itu setiap umat manusia diharapkan selalu eling serta sujud kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai pengendali semua alam semesta beserta isinya dengan harapan bersyukur serta melakukan yadnya sesuai dengan kemampuan dan ketulusannya yang diberikan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dalam era demokrasi, secara politik sebenarnya terjadi dikotomi bahkan marginalisasi kaum-kaum minoritas. Setiap warga negara punya hak dan kesempatan yang sama dalam menentukan konstitusinya serta menyampaikan aspirasinya. Dalam realitanya amanat konstitusi tidak sesuai bahkan jauh dari filosofi Negara Republik Indonesia yaitu Persatuan Indonesia yang didasari oleh kemanusiaan yang adil dan beradab. Adanya ketimpangan-ketimpangan terhadap kebijakan politik menyebabkan terjadinya pengebirian terhadap hak warga negara termasuk umat Hindu. Untuk itu, dalam pemilu legislatif tahun 2014, peran serta partisipasi umat Hindu untuk memperjuangkan hak-hak umat Hindu sangat diharapkan guna memperoleh keadilan yang seadil-adilnya untuk memperoleh kedudukan serta kesempatan yang sama.

Esensi lain yang terjadi pada ranah aspirasi umat Hindu belum dapat terakomodir dengan utuh dan komprehensif. Semua hal tersebut dapat terwujud bilamana adanya komitmen secara lahiriah dan batiniah tentang kesanggupan atau komitmen untuk ikut bersama-sama bersatu serta berkomitmen memberikan masukan ide serta gagasan-gagasan kepada legislator terhadap fenomena di lapangan tanpa mengesampingkan etika serta sopan-santun sebagai umat manusia yang memiliki budi pekerti dan moral yang luhur.

Dalam pemilu tahun 2014, daftar calon anggota DPRD dan DPR RI di seluruh Indonesia   dikeluarkan secara resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Kita sebagai umat Hindu di Kota Mataram sepatutnya merasa berbangga karena sejumlah tokoh-tokoh Hindu yang cukup berkualitas ikut bertarung dalam kancah demokrasi memperjuangkan hak umat-Hindu di masa yang akan datang.

Dengan wakil-wakil umat Hindu di tataran legislatif diharapkan dapat meningkatkan pembinaan serta perhatian terhadap eksistensi Hindu. Begitu juga dalam tataran eksekutif   wakil-wakil Hindu tidak hanya satu orang saja melainkan lebih dari itu sehingga dapat memperjuangkan kebutuhan umat, di samping memberikan pengakuan bahwa keberadaan umat Hindu cukup signifikan dalam memberikan kontribusi terhadap laju pertumbuhan pembangunan di Negara Republik Indonesia.

Selain itu terjadinya isu sara yang memarginalkan umat Hindu perlu diantisipasi sesegera mungkin. Dengan adanya umat Hindu di lembaga legislitif diharapkan dapat menyuarakan serta memperjuangkan aspirasi umat Hindu sekaligus dapat memfasilitasi pejabat-pejabat daerah maupun di tataran pusat. Di samping itu dapat memperjuangkan bantuan serta anggaran terkait dengan kebutuhan umat Hindu dalam kerangka pembinaan umat Hindu khususnya di Kota Mataram dalam berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi serta budaya dan yang lainnya.

Pembahasan

  1. Komunikasi Interpersonal

Dalam komunikasi interpersonal yang melibatkan keterbatasan orang untuk menyampaikan minat serta kepentingan pribadi calon legislatif. Dengan komunikasi yang disampaikan akan memberikan umpan balik (feed back), karena komunikan umumnya sudah dikenal terlebih dahulu sehingga lebih mudah dan leluasa dalam menyampaikan pikiran dan perasaannya dalam berkomunikasi. Pada umumnya dalam pemilihan caleg Kota Mataram lebih mengutamakan rasa kekeluargaan untuk dapat bertemu, berbicara, dan saling menyampaikan pikiran dan pandangan terhadap fenomena masyarakat Hindu yang termaginal bahkan tersisihkan dari berbagai kebijakan pemegang kekuasaan. Hal inilah membuat masyarakat Hindu banyak berpartisipasi dalam pemilihan anggota legislatif di Kota Mataram. Menurut I Wayan Wibawa informan Dapil Kecamatan Sekarbela menjelaskan :

“Saya mendaftarkan diri sebagai caleg mewakili umat Hindu di Kota Mataram adalah ingin membantu umat Hindu dalam berbagai kesulitan-kesulitan seperti sulitnya tempat pembuangan abu bagi umat yang melaksanakan upacara ngaben, di samping ingin membantu masyarakat dalam bentuk dana pada setiap upacara pujawali dengan mengeluarkan biaya yang cukup besar, sehingga dana yang dialokasikan untuk anggota legislatif sepenuhnya saya sumbangkan kepada umat yang membutuhkan demi meringankan beban umat Hindu di Kota Mataram (Khususnya di Kebendesaan Pagesangan). Selain itu ingin membantu umat Hindu dalam menyelesaikan persoalan-persoalan keumatan serta persoalan-persoalan yang memarginalkan umat Hindu seperti keberadaan tanah desa, kuburan, dan lain sebagainya. Seandainya saya bisa duduk di legislatif, saya dapat mengkomunikasikan serta memperjuangkan sekaligus menyampaikan kepada pemegang kebijakan terutama pemerintah untuk memberikan rasa keadilan kepada seluruh masyarakat Kota Mataram tanpa memandang suku, ras, dan golongan”.

Komunikasi tersebut dilakukan secara interpersonal melalui pimpinan banjar (Kelihan) atau kelompok yang dituakan sehingga niat serta tekad menjadi calon anggota legislatif disampaikan kepada masyarakatnya. Dalam Niti Sastra (1997 : 3) menjelaskan bahwa “ring jadmadika meta citta reseping sarwa prajangenaka” artinya semestinya orang yang terkemuka harus dapat menyenangkan hati orang banyak.

Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung baik secara verbal maupun non verbal. Komunikasi interpersonal tidak hanya dengan apa yang dikatakan, yaitu bahasa yang digunakan akan tetapi bagaimana yang dikatakan misalnya non verbal pesan yang dikirim, seperti nada suara dan ekspresi wajah (Mulyana, 2005 : 15).

Komunikasi interpersonal merupakan salah satu jenis komunikasi yang frekuensi cukup tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Efektifitas dalam komunikasi interpersonal mendorong terjadinya hubungan positif antara teman, keluarga, masyarakat maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan. Hal tersebut memberikan manfaat serta dapat memelihara hubungan antarpribadi dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga, masyarakat serta bangsa dan negara. Hal senada diungkapkan Cangara (2010 : 22-23) bahwa komunikasi interpersonal diperlukan untuk mengatur tata krama pergaulan antar manusia, sebab dengan melakukan komunikasi interpersonal dengan baik memberikan pengaruh langsung pada struktur seseorang dalam kehidupannya. Percakapan yang berlangsung dalam suasana bersahabat dan informal. Dialog berlangsung dalam situasi yang lebih intim, lebih dalam, dan lebih persona, sedangkan wawancara sifatnya lebih serius, yakni adanya pihak yang dominan pada posisi bertanya dan yang lainnya menjawab. Hal senada dipertegas dalam Bagavadgita III.8 menjelaskan :

Niyatam kuru karma tvam

Karma jyayo hyakarmanah

Sarira-yatrapi ca ten a

Prasiddhyed akarmanah

 

Artinya :

Bekerjalah seperti yang telah ditentukan, sebab berbuat lebih baik dari pada tidak berbuat, dan bahkan tubuhpun tidak akan berhasil terpelihara tanpa berkarya.

  1. Komunikasi Persuasif

Pada komunikasi dalam situasi menggunakan persuasi. Menurut Betting House (dalam Onong, 1981 : 107) menjelaskan bahwa dalam kepemimpinan dan komunikasi diperlukan suatu komunikasi mencakup usaha seseorang dengan sadar mengubah tingkah laku orang lain atau sekelompok orang lain melalui penyampaian beberapa pesan.

Dengan menggunakan komunikasi persuasi diharapkan dapat menyakinkan orang lain agar publiknya berbuat dan bertingkah laku seperti yang diharapkan oleh komunikator dengan cara membujuk tanpa paksaan. Hal tersebut dilakukan sebagai usaha untuk mencapai tujuan tertentu dalam upaya menyampaikan pesan dan maksud sehingga hal tersebut dapat tercapai secara maksimal. Tujuan pokok dari persuasi adalah untuk mempengaruhi pikiran, perasaan, dan tingkah laku seseorang, kelompok untuk melakukan upaya kemudian melakukan suatu tindakan sesuai dengan yang dikehendaki. Persuasi bukan sekedar membujuk namun lebih dari itu yaitu menggunakan data dan fakta psikologis, sosiologis dari orang-orang yang ingin dipengaruhi untuk mendapatkan hasil maksimal (Widjaja, 2010 : 68).

Dalam penerapan komunikasi persuasi beberapa hal perlu mendapat perhatian sebagai berikut : 1) pesan atau ajakan yang disampaikan kepada masyarakat atau pihak-pihak tertentu dapat menstimulir sesuatu pada saran; 2) pesan atau ajakan tersebut berisikan lambang-lambang atau benda-benda komunikasi yang sesuai dengan daya tangkap, daya serap, dan daya tafsir dari sebagian besar masyarakat atau golongan-golongan tertentu; 3) pesan atau ajakan harus dapat membangkitkan keperluan atau kepentingan tertentu pada sasarannya kemudian menyarankan usaha-usaha atau upaya tertentu untuk pemenuhan harapan tersebut; 4) pesan atau ajakan yang disampaikan memberikan suatu saran usaha dan upaya yang hendak disesuaikan dengan situasi dan norma kelompok dimana sasaran itu berada; dan 5) pesan atau ajakan dapat membangkitkan harapan-harapan tertentu.

Dalam hal lain I Ketut Bagiarta sebagai Caleg Propinsi menjelaskan :

“Saya ingin menjadi wakil Bapak/Ibu di Dewan tidak lain dan tidak bukan adalah untuk ikut bersama-sama memikirkan umat Hindu sekaligus memajukan umat menuju kesejahteraan dan kerahayuan. Dengan demikian wakil umat yang duduk di anggota Dewan memiliki sifat kritis dan cerdas dalam menyikapi fenomena yang terjadi sehingga umat tidak merasa malu menyalurkan aspirasinya yang didasari oleh pelayanan tulus dan ikhlas untuk membantu umat dari keterpinggiran dan terisolasi dari berbagai tantangan dan hambatan yang telah menimpa umat Hindu Propinsi Nusa Tenggara Barat termasuk Kota Mataram pada khususnya”.

Hal senada didukung oleh pernyataan Ngurah (1998 : 145) menjelaskan :

Yadanseyay hitay nasyat atmanaa karma purusa, Srapatrapeta va yena na tat kuryat kataycana

Artinya :

Hendaknya janganlah dilakukan perbuatan tercela kepada siapapun, bila perbuatan tersebut tidak mengantarkan orang kepada kerahayuan atau membawa malu kepada kita.

Hal tersebut senada dengan penjelasan Niti Sastra (1997 : 30 menjelaskan bahwa “gawe hala hajeng manuntun angering manuduhaken ulah tekeng tekan, kalinganika ring dadi wwang I sedeng hurip angulaha dharma sadhana.

Artinya :

Hanya kejahatan dan kebajikan yang mengikuti dan menunjukkan jalan akhirat, oleh karena itu selama hidup ini kita hendaknya selalu beramal saleh sebagai bekal untuk mencapai sorga.

 

  1. Komunikasi Simbolik

Adanya simbol-simbol Hindu yang digunakan sebagai media sosialisasi politik yang mengusungnya berasal dari etnis tertentu (etnis Bali) misalnya seorang caleg menggunakan baju adat dan kain kemudian menggunakan udeng (destar/ikat kepala) merah sebagai simbolisasi PDIP ketika berkunjung kelihatan lebih bersahabat/bersaudara dan menunjukkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan. Sebaliknya bilamana simbol-simbol tersebut dihadirkan pada etnis atau masyarakat di luar Hindu, justru menjadi ancaman sehingga diperlukan kerakteristik nasionalisme untuk mengeliminir kesenjangan adaptasi atau komunikasi dalam membangun pencitraan partai maupun diri politisi. Hal senada disampaikan pimpinan pasraman pagesangan adalah sebagai berikut :

”Salah satu komunikasi simbolik yang digunakan pada dasarnya menggunakan simbol pasraman sebagai pemujaan Kresna dengan menyampaikan komunikasi kepada masyarakat/kelompok pengikutnya dengan tujuan memperdalam ajaran agama disamping memperjuangkan umat Hindu untuk meningkatkan kesejahteraan lahir dan bathin” termasuk aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi dan yang lainnya.

Penjelasan di atas senada dengan konsep Veggers (dalam Ruslan, 2011: 28-29) menjelaskan bahwa interaksi simbolik selalu berhubungan dengan konsep kegiatan, konsep interaksi sosial, konsep aksi bersama, konsep diri, dan konsep objek. Jadi manusia mencoba mencari makna dari aksi yang dilakukan yang memungkinkan terjadinya komunikasi dan interaksi sosial dengan kelompok lain. Begitu pula dengan konsep aksi bersama (join action) yang merupakan kegiatan kolektif yang timbul dari penyesuaian dan keserasian perbuatan orang yang satu dengan pihak lainnya.

  1. Komunikasi Massa

Strategi politik Hindu di Kota Mataram tidak terlepas dari komunikasi massa yaitu melalui media. Jika terjadi relasi antara dunia politik dengan pembentukan opini atau tanggapan serta persepsi masyarakat Hindu di Kota Mataram, maka hasil dari proses politik dapat disosialisasikan melalui publik dan media sebagai sarananya. Dengan demikian, media merupakan sarana yang sangat penting dalam pembentukan citra calon legislatif. Media juga sangat dibutuhkan dalam membangun modal status calon legislatif terhadap opini publik, termasuk   mempengaruhi serta menjalin relasi dengan elit politisi lain dari partai politik yang berbeda. Hal senada sesuai dengan pernyataan Siregar (2006 : 43-44) menjelaskan bahwa Indeks Politik umumnya hanya bertumpu kepada hubungan antara media dengan kekuasaan. Sebenarnya pandangan tersebut memperluas pandangan bahwa indikator media menjadi indikator sosial. Bila masyarakat cerdas dan cermat menggunakan media, maka penggunaan media, baik resmi maupun tidak resmi merupakan pertanda dari kecenderungan masyarakat untuk mendapat modal pencitraan dan pengakuan publik. Hal senada Pudja (2002 : 61) menjelaskan :

Akamasya kriya kacid

Dracyate neha karhicid

Yadyadbhi karute kimcit

Tattat kamasya cestitam

 

Artinya :

Tidak ada suatu perbuatanpun di dunia ini nampaknya dilaksanakan oleh seseorang bebas dari keinginan, karena apa juapun yang dilakukan manusia adalah didorong oleh rasa keinginan.

Iklan-iklan politik bergelimangan terpampang di berbagai sudut perhatian (di perempatan, pertigaan maupun di pojok-pojok jalan) secara terus-menerus bermunculan dengan menawarkan berbagai macam slogan sosialisasinya untuk mendapat perhatian masyarakat. Dengan adanya media komunikasi tersebut, seorang politisi lebih mudah mensosialisasikan program visi, misi serta program kerjanya. Untuk itu diperlukan efisiensi dan efektifitas manajemen pengelolaan fenomena maupun isu sentral terhadap visi dan misi partainya. Adanya penggunaan media baru dengan cepat dan tepat membantu proses sosialisasi, koordinasi, serta memudahkan masyarakat Hindu kota Mataram dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan demikian peran media sangat penting dalam pembentukan opini masyarakat terhadap pencitraan politik Hindu kota Mataram. Hal tersebut akan lebih mudah dikonstruksi ketika semua informasi yang menjadi kebutuhan masyarakat terpenuhi.

Salah satu media yang digunakan caleg kota Mataram I Gusti Gde Matas untuk membangun citra atau modal publik yaitu TV lokal.

“Hasil visualisasi peneliti dari caleg atas tayangan TV lokal menyampaikan bahwa masyarakat Hindu agar tetap berkibar dan berjuang untuk tetap maju memperjuangkan umatnya dari kemelaratan dan penderitaan. Untuk itu perlu orang-orang yang mampu memperjuangkan umat Hindu dan bangkit dari ketertinggalan.

Selain itu media yang digunakan caleg Hindu kota Mataram membangun citra publik melalui media seperti koran, radio, spanduk, banner, flayer atau brosur, karena media tersebut punya potensi sebagai alternatif pilihan politisi Hindu kota Mataram. Di samping menggunakan serta memanfaatkan media lain seperti internet, youtube, website, blog dan yang lainnya sehingga lebih efektif dan produktif dalam mendesiminasikan informasi sesuai dengan kebutuhan dan keperluan masyarakat Hindu di kota Mataram. Senada dengan pernyataan Wilbur Schramm (dalam Kuswandi, 2008 : 8) menjelaskan bahwa pengaruh komunikasi massa ditentukan oleh audien karena setiap undividu yang terkena pengaruh komunikasi massa, tidak begitu saja menerima dari komunikator, namun dalam banyak hal komunikator justru berhadapan dengan apa yang disebut Obstinate Audience.

Obstinate Audience adalah suatu sikap individu yang terkena pengaruh komunikasi massa telah mempunyai predisposisi (sikap tertentu) serta persepsi selektif terhadap sesuatu isu. Selektivitas tersebut terbagi dalam tiga bentuk dan mempunyai suatu karakteristik tersendiri, yaitu selective perception, selective exposure serta selective retention.

 

  1. Komunikasi Sosial Budaya

Dalam mengkomunikasi pesan-pesan politik selalu mengacu kepada kearifan lokal masyarakat kota Mataram. Dengan melihat kondisi masyarakat Hindu kota Mataram yang pluralistik, maka diperlukan pendekatan pluralisme yang dapat mengakomodir berbagai kepentingan masyarakat Hindu kota Mataram. Dengan pengelolaan citra politik dengan mengedepankan identitas budaya Hindu Lombok, maka memberikan kesan rasa persaudaraan serta seperjuangan yang tinggi diantara masyarakat Hindu di kota Mataram. Senada dengan teori aksional (2011 : 17) menjelaskan bahwa orang-orang menciptakan makna didasari oleh suatu tujuan serta menentukan pilihan nyata. Padangan tersebut sebagai pijakan teleologis, yaitu menyatakan bahwa pengambilan keputusan dirancang untuk menciptakan tujuan-tujuan tertentu.

Di samping itu Kadjeng (2003 : 7) menjelaskan sebagai berikut.

Manusah sarvabhutenu varttatevai subhacubhe, Acbhevu samaviubam subhesvevavakarayet.

Artinya :

Di antara semua mahluk hidup hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk; leburlah ke dalam perbuatan yang baik karena perbuatan yang buruk akan menjadikan manusia tidak ada gunanya.

Hal tersebut dengan pandangan Niti Sastra (1997 : 45) menjelaskan sebagai berikut.

Wasita nimittanta manemu laksmi

Wasita nimittanta manemu mitra

Wasita nimaittanta manemu duhka

Wasita nimittanta pati kapangguh

 

Artinya :

Dengan kata-kata engkau mendapat bahagia, dengan kata-kata engkau mendapat teman, dengan kata-kata engkau mendapat penderitaan/kesusahan dan dengan kata-kata pun engkau mendapat kematian.

Selain itu untuk berkomunikasi memerlukan suatu organisasi-organisasi tertentu dalam hal ini adalah partai politik yang mengusung sekaligus sebagai kendaraan politik dalam memperjuangkan aspirasinya di legislatif. Hal senada didukung pernyataan Hobes (dalam Aloliliweri, 2001 : 10) seorang filsuf dan ahli Ilmu Politik pada abad XIX menulis buku berjudul Leviatham menyatakan bahwa setiap manusia mempunyai naluri berpolitik dan selalu melibatkan diri dalam organisasi sosial. Dalam naluri manusia terdapat sesuatu yang bersifat alamiah sehingga dapat melakukan tindakan untuk mengubah peranannya dalam masyarakat demi memenangkan dalam merebut kekuasaannya. Untuk menentukan hubungan yang paling radikal antara masyarakat dan kebudayaan diperlukan suatu politik sehingga dapat mempertahankan keinginan dan kebutuhannya.

 

Simpulan

Dari pembahasan tentang komunikasi politik calon legislatif Hindu kota Mataram dalam pemilu tahun 2014 dapat ditarik simpulan sebagai berikut :

  1. Adanya komunikasi politik umat Hindu dalam calon legislatif sebagai bukti bahwa masyarakat Hindu mampu bersanding dengan umat lain yang memegang kekuasaan sehingga eksistensinya dapat menyuarakan serta memperjuangkan aspirasi umat Hindu disamping dapat memfasilitasi pejabat-pejabat di tingkat daerah maupun di tataran pusat.
  2. Dalam komunikasi politik calon legislatif Hindu kota Mataram dalam pemilu tahun 2014 melalui komunikasi interpersonal, persuasif, simbolik, massa, dan komunikasi sosial budaya.

*) Dosen Program Pascasarjana STAHN Gde Pudja Mataram

 

Daftar Pustaka

Aloliliweri. 2001. Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Anonim. 1997. Kakawin Niti Sastra dan Putra Sasana. Mataram : Parisada Hindu Dharma Indonesia Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Cangara, Hafied. 2010. Pengantar Ilmu Komuniasi. Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada.

Kadjeng, I Nyoman. 2003. Sarascamuscaya. Surabaya : Paramita.

Kuswandi, Wawan. Komunikasi Massa Analisis Interkatif Budaya Massa. Jakarta : Rineka Cipta.

Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi Suatu Penghantar. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Ngurah, I Gusti Made dkk. 1998. Pendidikan Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi. Surabaya : Paramita.

Onong, Ushyana Effendy. 1981. Kepemimpinan dan Komunikasi. Bandung : Alumni.

Pudja, I Gde. 2004. Bhagawad Gita. Surabaya : Paramita.

Pudja, I Gde dan Tjokorda Rai Sudharta. 2002. Manawa Dharmasastra. Jakarta : CV. Felita Nursatama Lestari.

Ruslan, Rosadi. 2011. Etika Kehumasan Konsep dan Aplikasinya. Jakarta : RajaGrafindo Persada.

Siregar, Ashadi. 2006. Etika Komunikasi. Yogyakarta : Pustaka.

Widjaja, H.A.W. 2010. Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakrata : Bumi Aksara.

LAUKIKA DAN WAIDIKA SEBAGAI KONSEP KOMUNIKASI HINDU DALAM EPISTEMOLOGI SABDA PRAMANA

October 12, 2015 By: admin Category: Komunikasi

Oleh

I Made Adi Surya Pradnya*)

 

Abstrak

Perkembangan pengetahuan saat ini begitu pesat, termasuk pada kajian dalam ajaran Hindu yang disesuaikan dengan metode penelitian, pengajaran dan pendidikan modern. Sehingga ilmu monodipliner menjadi multidipliner bahkan interdisipliner. Oleh karena itu, adanya lembaga pendidikan Agama Hindu bekerja keras melakukan kajian, sehingga agama Hindu dapat diterima sebagai sumber pengetahuan. Termasuk mengkaji konsep komunikasi dalam epsitemologi sabda pramana yang dalam darsana (filsafat india). Dalam kajian tersebut terdapat istilah laukika dan waidika, dimana pengetahuan di dapat melalui komunikasi atau dialog dari informan yang mengetahui ajaran Hindu kepada umat yang bertanya tentang ajaran tersebut, serta kitab suci sebagai kebenaran pengatahuan yang paling sujati dan tidak dapat dibantah atas kebenaranya itu.

Berdasarkan ajaran Hindu yang universal, laukika adalah konsep komunikasi Hindu yang menjadi sumber pengetahuan, pada zaman dahulu pengetahuan diperoleh dari maharsi kepada sisya dalam bentuk upanisad. Waidika adalah konsep komunikasi Hindu, dimana pengetahuan diperoleh atas kebenaran Weda sebagai kitab suci Hindu, pada teks suci terdapat dialog atau percakapan para dewa, maharsi, raja dan lain sebagainya. Konsep komunikasi Hindu Laukika dan Waidika berkembang saat ini khusunya di Indonesia dalam mendapatkan pengetahuan melalui metode penelitian, sehingga laukika adalah informan kunci yang mampu memberikan pengetahuan tentang objek penelitian dan waidika adalah pengetahuan tertinggi dalam menjelaskan objek penelitian, sehingga hasil penelitian mencapai kebenaran. Laukika dan waidika merupakan media penyebaran agama Hindu melalui enam metode pembinaan umat Hindu, sehingga ajaran Hindu berkembang selamanya (anadi ananta).

Kata Kunci: Laukika dan Waidika, Konsep Komunikasi Hindu dan epistemologi sabda pramana

  1. PENDAHULUAN

Perkembangan Agama Hindu khususnya dalam bidang pendidikan terus mengalami kemajuan. Hal ini disebabkan salah satunya peranan dari perguruan tinggi Agama Hindu yang berkretifitas dan berinovasi, bahkan dengan banyaknya berdiri sekolah maupun kampus bernuansa Hindu di nusantara, merupakan kemajuan pendidikan dalam agama Hindu sebagai perlawanan dari kebodohan atau ketidaktahuan umat Hindu dalam memahami keberadaan eksoterik dari ajaran agamanya.

Kemajuan dari dunia pendidikan yang berkembang di nusantara, telah menyebabkan pemikiran beragama Hindu tidak saja mengkaji ajaran agama Hindu yang pure saja, melainkan menjadi grand teori dalam bidang disiplin keilmuan lainya dan hal ini sesuai dengan perkembangan teori keilmuan di zaman postmodern, yaitu disilpin keilmuan telah menjadi multidisiplin dan agama dijadikan pedoman dasar dalam mengkaji keilmuan lainya. Seperti halnya teori komunikasi yang merupakan ilmu umum bagi masyarakat, sehingga dalam ajaran Hindu dapat mengkaji ilmu komunikasi. Ajaran Hindu dapat dijadikan refrensi bagi perkembangan ilmu selanjutnya, meskipun diperlukan metode dan pemikiran yang sesuai arah keilmuan dan terbatas sumber daya manusia dalam mengkaji ilmu ini, hal ini mesti diberikan apresiasi atas pemikiranya.

Pada ajaran darsana yang merupakan ajaran filsafat India dengan pembahasannya meliputi beberapa aspek materi yaitu etika, epistemologi dan metafisika atau yang berkaitan dengan ketiga hal itu. Uraian pembahasannya tetap dalam lingkup agama Hindu yang meliputi aspek Brahman, Atman, Karma, Punarbawa dan Moksa, karena pada hakikatnya darsanam bersumber dari kitab-kitab upanisad (Sumawa; Krisnu, 1996: 3). Bentuk dari epistemologi dalam darsana yang merupakan cara mendapatkan pengetahuan, sesuai dengan pengertian dari epistemologi atau filsafat pengetahuan, yaitu menjelaskan bahwa pada dasarnya epistemologi merupakan suatu upaya rasional untuk menimbang dan menentukan nilai kognitif pengalaman manusia dalam interaksinya dengan diri, lingkungan sosial dan alam sekitarnya. Epistemologi adalah suatu disiplin ilmu yang bersifat evaluative, normative dan kritis. Evaluative berarti bersifat menilai, ia menilai apakah suatu keyakinan, sikap, pernyataan pendapat, teori pengetahuan dapat dibenarkan, dijamin kebenaranya atau memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawablan secara nalar. Normative berarti menentukan norma atau tolak ukur dan dalam hal ini tolok ukur kenalaran bagi kebenaran pengetahuan. Normatif berarti menentukan norma dan tolok ukur dan dalam hal ini tolok ukur kenalaran bagi kebenaran pengetahuan. Kritis berarti banyak mempertanyakan dan menguji kenalaranan cara maupun hasil kegiatan manusia mengetahui (Sudarminta, 2002: 18-19).

Pemikiran berupa epistemologi dalam darsana secara umum dapat dibedakan menjadi tiga yaitu Tri Pramana yang terdiri dari Pratyaksa (pengamatan), anumana (penyimpulan) dan sabda (kesaksian). Pada ilmu komunikasi tri pramana adalah bagian dari pengertian komunikasi, yaitu menjelaskan fenomena yang berkaitan dengan produksi, proses dan pengaruh sistem dan lambang yang dipergunakan manusia dalam berkomunikasi. Komunikasi merupakan kumpulan pengetahuan berdasarkan fakta, baik dari pengamatan maupun dari hasil riset yang disusun secara sistematis menurut kaidah atau metode ilmiah dan secara normative hasilnya dapat diterapkan untuk meningkatkan kematangan dan kearifan dalam pribadi seseorang, maupun hubunganya dengan orang lain dalam bermasyarakat (Cangara, 2012: 13).

Epistemologi dalam darsana yang diperoleh melalui sabda pramana yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui kesaksian (sabda) dari seseorang yang dapat dipercaya dari kata-katanya maupun naskah-naskah yang diakui kebenaranya. Dalam hal ini terdapat dua kesaksian yaitu Laukika Sabda dan Waidika Sabda. Laukika sabda adalah bentuk kesaksian dari orang yang dapat dipercaya dan kesaksianya dapat diterima menurut logika dan akal sehat. Sedangkan Waidika Sabda adalah bentuk kesaksian yang didasarkan pada naskah-naskah suci veda sruti yang merupakan sabda Brahman yang tak mungkin salah. Kedua istilah ini, dikaji sebagai bentuk konsep ilmu komunikasi Hindu dalam kajian epistemologi sabda pramana dalam darsana. Pada pembahasan dikaji tentang konsep teoritis dan praktis dalam kehidupan masyarakat. Laukika yang menjadi konsep komunikasi Hindu; Waidika dalam konsep komunikasi Hindu; laukika dan waidika dalam metode penelitian; serta implementasi laukika dan waidika pada masyarakat.

Pembahasan yang diulas dan dikaji sesuai dengan sistematika berdasarkan ilmu komunikasi umum, kemudian dijabarkan melalui ajaran Hindu. khususnya dalam darsana, yaitu epistemologi sabda pramana. Dengan demikian diharapkan pemikiran ini dapat memperkaya refrensi Agama Hindu, khususnya berkaitan pada kajian komunikasi.

  1. PEMBAHASAN
    • Laukika Dalam Konsep Komunikasi Hindu

Pengertian dari laukika dalam epistemologi sabda pramana, yaitu bentuk kesaksian yang berasal dari orang yang dapat dipercaya dan kesaksianya dapat diterima menurut logika dan akal sehat (Maswinara, 2006: 134). Berdasarkan pengertian laukika itu, maka secara definisi maupun konsep laukika adalah sesuatu yang diungkapkan berdasarkan kesaksian yang dapat diterima secara logika. Hal ini sesuai definisi logika dalam bahasa latin disebut logos yang berarti perkataan atau sabda. Istilah lain yang dipergunakan sebagai gantinya adalah mantiq, kata arab yang berasal dari kata nataqa yang berarti berkata atau berucap (Mundiri, 2009: 1-2).

Laukika yang artinya berkata atau berucap yang disampaikan kepada seseorang kepada orang lain inilah yang disebut dengan komunikasi. Perkembangan komunikasi dalam laukika adalah lebih menekankan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan. Hal ini sesuai dengan konsep dari Tri Hita Karana yaitu tiga penyebab kebahagiaan.

Pada ajaran darsana, khususnya berkaitan dengan sad darsana kebenaran yang disampaikan berdasarkan laukika adalah disampikan oleh mereka yang telah bergelar maharsi. Keberadaan dari maharsi adalah mereka yang telah mengetahui tentang ajaran yang diwahyukan oleh Tuhan. Para penerima wahyu inilah kemudian membuat dan menyusun kembali kitab suci Weda, sehingga dapat dipelajari sampai saat ini. Seorang maharsi adalah tokoh pemikir dan ahli agama, ia juga seorang jnanin, filosuf dan pejuang dalam bidang agama. Ia adalah penyebar ajaran agama dan sekaligus moralis, singkatnya guru dengan berbagai sifat istimewa yang serba mulia. Ia rendah hati dan tahan uji, ia memiliki pendangan yang luas dan mampu menatap masa depan, mampu mengendalikan indrianya, suka melakukan tapa, brata, yoga dan samadhi, karena itu ia senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai ahli agama ia adalah pengayom yang memberikan keteduhan dan kesejukan pada siapa saja yang datang untuk memohon bimbinganya (Titib, 1996: 37).

Begitu mulianya para maharsi dalam menyebarkan ajaran agama Hindu patutnya komunikasi kepada para penganut ajaran Hindu, menjadikan ajaran Agama Hindu bersifat anadi ananta, tidak berawal dan berakhir serta abadi sampai akhir zaman. Begitu pula pada zaman upanisad, yaitu sekelompok sisya (murid) duduk dekat dengan sang guru untuk mempelajari dan mengkaji masalah yang hakiki dan men

lukika1

yampaikan kepada para sisya di dekat mereka. Upanisad berisi ajaran tentang ketuhanan yang gaib dari suku kata aum. Apabila pertanyaan timbul mengenai akhir dari umat manusia, yajnavalkya membisikan jawaban kepada salah seorang muridnya. Bentuk komunikasi dalam Hindu untuk mengetahui rahasia alam semesta, menurut Chandogya Upanisad adalah ajaran

Brahm

an boleh disampikan dari sang ayah kepada anak tertua atau kepada murid terpercaya dan tidak kepada orang lain, walaupun orang tersebut menyerahkan seluruh bumi beserta segala hart

anya (Radhakrishna

n, 2008: 4-5).

Gambar: Upanisad, Maharsi memberikan ajaran Ketuhanan (http://gosai.com/sites/gosai/files/articles/sadhus_3.6.jpg)

Pada ilmu komunikasi, pastilah terdapat orang yang menyampaikan dan menerima sebuah pesan, termasuk ajaran suci sekalipun yang disampaikan maharsi kepada para sisiyanya. Berikut adalah gambar bagan model komunikasi menurut Lasswell’s yang telah dikembangkan dari model komunikasi Aristoteles.

laukika2

Berdasarkan gambar bagan di atas Lasswell’s melihat bahwa suatu proses komunikasi selalu memiliki efek atau pengaruh. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau model lasswell banyak menstimuli riset komunikasi, khususnya di bidang komunikasi massa (Cangara, 2012: 46). Disamping itu pula, sebuah komunikasi terbangun apabila telah memenuhi beberapa unsur-unsur dalam komunikasi, yaitu pengirim (source), pesan (message), saluran/media (channel), penerima (receiver) dan akibat/ pengaruh (effect). Unsur-unsur ini disebut juga elemen komunikasi (Cangara, 2012: 25).

Ajaran agama Hindu yang diperoleh berdasarkan epistemologi sabda pramana, khususnya Laukika adalah pengetahuan yang disampaikan oleh pengirim atau speaker dalam hal ini adalah Maharsi (penerima wahyu Tuhan) dengan pesan yang disampikan adalah ajaran tentang kemaha kuasaan Tuhan beserta alam semesta dan bagaimana manusia dapat mencapai pelepasan dan menyatu dengan Tuhan. Media yang disampaikan dapat berupa asram atau tempat untuk menyampaikan ajaran rahasia dengan verbal maupun nonverbal. Penerima dari ajaran maharsi ini adalah para bhakta atau sisya, yang kemudian mendapat ajaran rohani mengolah batin untuk mencapai penyatuan Tuhan. Dengan adanya pesan yang disampikan maharsi kepada para sisya, maka sangat diharapkan ajaran yang disampaikan dapat dilaksanakan dan kemudian di share kan kembali kepada umat lainya, sehingga ajaran Agama Hindu tetap dapat berkembang sampai saat ini.

(more…)