STAHDNJ.AC.ID

Vidyaya, Vijnanam, Vidvan
Subscribe

Archive for the ‘Artikel Pendidikan’

MENUMBUHKAN INSAN KREATIF MELALUI PRAKTEK PENDIDIKAN SESUAI PERKEMBANGAN

March 13, 2013 By: admin Category: Artikel Pendidikan

by Ulianta

Dalam menilai sebuah lembaga pendidikan bermutu atau tidak, apakah lembaga tersebut dapat memenuhi kebutuhan akan pengetahuan atau ketrampilan yang ingin kita peroleh, salah satu komponen utama yang harus diperhatikan adalah Kurikulum lembaga Tersebut. Ini termasuk salah satu fungsi kurikulum. Dengan mempelajari kurikulumnya kita dapat melihat sejauh mana mutu dari lembaga tersebut.

Tujuan belajar apa yang akan dicapai, materi apa yang diberikan, pengalaman –pengalaman belajar apakah yang akan diperoleh setelah mengikuti proses pembelajaran dilembaga tersebut semua tergambar di dalam kurkulum lembaga tersebut.

Kurikulum sebagai suatu rencana mempunyai dua arti yaitu pertama sebagai suatu produk yang mengarah pada tercapainya tujuan akhir suatu program tertentu. Kedua, sebagai proses suatu perencanaan yang menunjuk pada prosedur-prosedur dan materi instruksional  yang dirancang oleh guru serta pengalaman-pengalaman belajar yang dirancang oleh guru agar dikuasai oleh siswa. Dalam arti pengalaman-pengalaman belajar dirancang untuk dikuasai siswa sebagai jalan menuju tercapai tujuan yang dinginkan. Secara komprehensif kurikulum dapat diartikan sebagai segala pengalaman dan kegiatan belajar yang diberikan oleh sekolah kepada siswa-siswanya.

(more…)

Sinergi Peran Catur Guru, Menuju Learning Outcome Pendidikan Agama Yang Benar

January 30, 2013 By: admin Category: Artikel Pendidikan

Oleh K. Ulianta

Menurunnya etika, moral, dan sensitifitas individu dan masyarakat sebagai akibat dari terjadinya verbalisme dalam pendidikan etika dan tata nilai yang cenderung mendewakan satu aspek saja dari tiga aspek yang menjadi learning outcome pendidikan yang seharusnya, baik di sisi proses maupun penilaian.

Masalah ini meluas dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan perilaku dalam berbagai segi kehidupan yang dilakukan, masyarakat, baik yang tergolong rakyat dengan perilakunya yang tidak disiplin dan memudarnya toleransi dan budaya saling menghormati yang berimpas kepada terjadinya kerusuhan maupun upaya-upaya destruktif lainya. Juga dilakukan oleh pejabat dalam bentuk korupsi serta pembodohan yang secara disengaja. Serta tidak disiplin melakukan tugas sesuai sumpah jabatannya.

Masalah tersebut sebagai akibat menurunnya internalisasi tata nilai dalam diri insan elemen masyarakat sebagai akibat semakin tingginya tingkat verbalisme pendidikan dimana hasil – hasil belajar hanya sebatas konsep dan teori yang dihapal tanpa dipraktekan, diaplikasikan. Pembiasaan menerapkan nilai-nilai yang luhur sebagai aspek afektif dari hasil belajar dalam pendidikan kita jarang dilakukan, jarang dikontrol dan kurang menjadi perhatian dalam evaluasi pembelajaran di sekolah yang hanya mementingkan nilai angka kuantitaif yang semestinya dikombinasi dengan nilai kualitatif. Disamping itu peran orang tua juga menurun tingkat partisipasinya untuk menanamkan nilai-nilai dasar dalam pendidikan pertama dan utama, karena terpenjara oleh waktunya yang sebagian besar dihabiskan untuk mengejar kebutuhan hidup yang harus ada sebagai tuntutan kebutuhan keluarga.

Diperlukan kesadaran yang lebih terhadap penerapan konsep bahwa hasil belajar terdiri dari aspek kognitif, afektif dan psikomotor sesuai dengan pendapat Bloom, dimana semua aspek tersebut hendaknya dilatih, dibiasakan dan diperhatikan secara seimbang dalam pendidikan kita baik dalam proses pembelajarannya maupun dalam penilaiannya. Dalam proses pembelajaran, bagaimana bentuk pembelajaran maupun tugas serta kegiatan siswa diarahkan untuk dapat aktif mempraktekkan serta memahami konsep untuk pemecahan masalah dalam hidup maupun berinteraksi dengan lingkungan. Disisi penilaian hendaknya jangan terlalu mendewakan aspek kognitif, yang sangat penting justru bagaimana pengetahuan/kognitif yang telah dimiliki itu digunakannya dan diterapkannya dalam memecahkan persoalan serta berperilaku sesuai dengan tata nilai sehingga nilai-nilai yang dipahami dan dipelajari melalui konsep dapat menginternalisasi dalam dirinya yang akan digunakan untuk hidup dimasyarakat yang akan sangat menentukan kesuksesan hidup seseorang. Gadner dalam kecerdasan majemuk mengungkapkan 8 kecerdasan yang dimiliki individu. Kecerdasan tersebut membutuhkan peran pendidikan dalam pengembangannya. Tidak hanya kecerdasan logika-matematika, tapi banyak yang lainnya. Bagaimana individu berkomunikasi antar sesama melalui kecerdasasan linguistik, bagaimana berinteraksi dengan orang lain sesuai dengan tata nilai melalui kecerdasan interpersonal, bagaimana individu itu bertanggung jawab terhadap diri sendiri, bekerja mandiri melalui kecerdasan intrapersonal, bagaimana individu itu memahami ruang dan waktu melalui kecerdasan spasial, bagaimana individu menghargai dan mempraktekan seni, musik melalui kecerdasan musikal, melalui kecerdasan kinestetik individu memanfaatkan indera gerak dan psikomotoriknya serta melalui kecerdasan naturalis manusia menghargai dan memelihara alam. Demikian luasnya yang perlu diperhatikan dan dikembangkan sehingga sudah seharusnya kita tidak hanya menuntut peran guru disekolah saja tetapi semua guru harus berperan baik guru di masyarakat, guru disekolah, guru dirumah maupun pemerintah dan tidak saling lempar tanggung jawab.

Hindu sebagai Sanatana Dharma telah mengajarkan konsep tersebut melalui ajaran Catur Guru yang seharusnya menjadi contoh, menanamkan nilai-nilai, memberikan pemahaman konsep-konsep yang diperlukan kepada anak didik yang belum dewasa sehingga dapat dijadikan pegangan dalam hidupnya menuju kedewasaan. Catur Guru yang dimaksud dalam Hindu adalah empat guru yang akan menuntundan menjadi contoh bagi manusia/insani:

1. Guru Rupaka adalah Orang tua kita di rumah. Orang tua adalah orang yang harus berperan menanamkan nilai-nilai yang pertama dan utama sejak anak baru dilahirkan hingga dia menjadi dewasa. Orang tua hendaknya jangan melempar seluruhnya tanggung jawabnya kepada guru di sekolah. Karena nilai-nilai yang ditanamkan di rumah menjadi bekal untuk dibawa keluar rumah dalam berinteraksi dengan orang lain di masyarakat. Bagaimana berhadapan dengan orang yang lebih tua, bagaiman sopan santun, bagaimana bertutur kata yang benar dan baik. Kini dapat dirasakan nilai-nilai seperti ini jarang sekali menjadi perhatian orang tua terutama di kota besar, karena orang tua masing-masing terpenjara karena mengejar material untuk kebutuhan hidup. Dalam hal ini diperlukan mendisain ulang pengelolaan waktunya untuk si anak. Anak membutuhkan perhatian dan petunjuk dari orang tua yang mana boleh dan tidak boleh. Yang mana yang benar dan tidak benar…. Juga sangat diperlukan nasehat-nasehat, pitutur dan pengertian-pengertian yang minim sekali diperolehnya dari guru lain selain guru rupaka. Peran Guru rupaka/orang tua di rumah seingat penulis saat masih kecil sering dilakukan dengan metode dongeng, cerita-cerita yang mengandung petuah dan nilai-nilai luhur sehingga cenderung diminati oleh seorang anak yang belum dewasa, yang mana metode dongeng ini jarang sekali dipraktekan oleh orang tua sekarang ini. Melalui cerita, anak mendapatkan nilai-nilai kebenaran, pengetahuan dan perbendaharan kata, contoh-contoh kebajikan (Dharma) yang harus dijunjung tinggi, nilai kejujuran, toleransi, kerjasama, tolong menolong dan masih banyak lagi. Orang tua sudah seharusnya tidak lagi menyalahkan guru disekolah tetapi mengevaluasi kembali dan mengambil peran masing-masing sebagai salah satu Catur Sinangguh Guru, yang harus menjadi contoh, memotivasi dan mendorong sesuai apa yang di ungkapkan oleh ki Hajar Dewantara yaitu Ing Ngarso Sung tulodo, Ing Madyo Mangun Karso dan Tut Wudi Handayani.

2. Guru Pengajian

Guru di sekolah, hendaknya jangan hanya mengajar tetapi juga mendidik seperti mengarahkan anak didik untuk bisa bersopan santun dalam bertindak dan menghadapi orang lain di masyarakat, memberi contoh perilaku yang baik. Tugas guru memang mengajarkan ilmu pengetahuan tetapi harus dihindari pembelajaran yang hanya sekedar tahu konsep tetapi dapat memanfaatkan konsep tersebut untuk hidup di masyarakat. Demikian juga evaluasi terhadap padatnya kurikulum dan cara penilaian yang cenderung didominasi oleh pengetahuan kognitif yang harus dikejar dan dihabiskan dalam proses pembelajaran karena akan diujikan melalui alat uji yang juga cenderung di dominasi oleh penilaian terhadap aspek kognitif perlu di kaji kembali, agar tersedia waktu yang lebih untuk mempraktekkan serta menginternalisasi konsep dan tata nilai yang dipelajari menjadi kompetensi pribadi yang utuh dalam diri anak didik. Tidak terkesan mengejar materi agar habis tetapi nyatanya anak tidak memiliki kompetensi apapun. Sehingga timbulah kemampuan-kemampuan semu dimana anak hanya bisa saat akan di tes atau ujian tetapi setelahnya tidak mampu apa-apa. Untuk ini guru disekolah juga mesti memulai menggunakan penilaian yang sesuai dengan / valid mengukur apa yang seharusnya diukur. Tidak selalu menggunakan tes dalam menilai siswa. Instrumen penilaian hendaknya memiliki validitas yang tinggi relevan dengan aspek apakah yang ingin diketahui dari instrument tersebut. Jika aspek kognitif yang akan dinilai memang relevan dengan menggunakan Tes tertulis, tetapi ketika hendak menilai aspek afektif lebih relevan menggunakan instrument nontes semisal skala sikap atau pun kuesioner maupun unjuk kerja. Demikian juga untuk menilai aspek psikomotor/keterampilan anak didik lebih valid menggunakan observasi terhadap tugas yang diberikan dan anak didik haruslah melakukan sesuatu dan kita amati dengan menggunakan pedoman pengamatan/rubrik yang sudah dirancang mengenai dimensi/aspek apa yang akan kita nilai sehingga unsur subyektif dapat kita minimalisir dalam penilaian. Sudah saatnya kita mulai mengadakan evaluasi tidak hanya diakhir pembelajaran tetapi juga saat proses pembelajarn berlangsung, dan instrumen yang kita gunakan tidak melulu tes tertulis, tetapi kita sesuaikan dengan aspek tadi ibarat kalau menimbang emas janganlah menggunakan timbangan beras karena hasilnya nanti bias tidak benar/semu. Terlebih lagi dalam pembelajaran Agama yang notebena learning outcome didominasi oleh aspek afektif dan psikomotor seyogyanya penilaiannya juga lebih banyak penilaian sikap dan psikomotor adapun kognitif serta konsep-konsep yang digunakan untuk mendukung dua aspek tersebut, dengan demikian akan tercapai tujuan pembelajaran agama yang sebenarnya.

3. Guru Wisesa

Pemerintah adalah termasuk salah satu dari catur guru, hendaknya perilaku, perkataannya dan pemikirannya menjadi contoh bagi rakyat. Hendaknya tidak melakukan tidakkan tidak terpuji seperti korupsi, bohong, membodohi, janji-janji yang muluk, tetapi sebaliknya harus mengarahkan masyarakat atau rakyat ke hal – hal yang positif. Janganlah berebut kekuasaan hanya untuk kepentingan pribadi. Guru wisesa harus mengutamakan kepentingan rakyat bukan kepentingan pribadi jika ingin berhasil menjadi guru wisesa. Ingatlah guru akan ditiru muridnya, pemerintah akan ditiru rakyatnya, rakyat meniru melanggar manakalah pemerintah sebagai guru wisesa tidak konsisten dan juga melanggar sumpah dan janjinya dalam menjalankan roda pemerintahan. Guru wisesa/pemerintah harus ingat bahwa dirinya adalah guru, yang memiliki tanggung jawab yang besar di depan menjadi teladan, ditengah memberikan motivasi dan dibelakang harus mampu mendorong dan menggerakan rakyat untuk melakukan tindakan positif. Pemerintah juga tidak boleh diskriminasi terhadap kelompok-kelompok tetapi harus adil dalam memberikan perlindungan terhadap rakyat sebagai anak didiknya dalam segala bidang baik bidang pendidikan, ekonomi, agama, pelayanan, kesehatan dan lainnya. Pemerintah mendidik masyarakat melalui aturan-aturan kebijakan maupun penghargaan-penghargaan untuk memberikan motivasi serta hukuman-hukuman agar hal yang dilarang tidak dilakukan. Hukuman hendaknya yang mendidik demikian juga penghargaan yang diberikan juga mendidik. Arahan-arahan kepada masyarakat juga digunakan melalalui pidato, diskusi, konferensi pers hendaknya digunakan untuk yang positif dan kepentingan anak didik/masyarakat dan bukan untuk pribadi.

4. Guru Swadyaya

Tuhan Yang Maha Esa/Sang Hyang Widhi adalah maha Guru yang memberikan tuntunan hidup manusia melalui ajaran-ajaran sucinya yang diturunkan melalui wahyu yang diterima oleh para maha Rsi/orang suci. Melalui keyakinan yang tinggi melaksanakan segala tuntunan dan menghindari semua yang tidak diperkenankan akan membawa manusia kealam pembebasan. Sradha dan Bhakti melahirkan kekuatan untuk mempelajari ajarannya, terinternalisasi dalam diri pribadi dan tercermin dalam perwujudan perilaku yang baik, jujur, kasih, sayang, tolong menolong, toleransi, tidak menghina, menghargai, menghormati, tidak menyakiti, menjauhi kekerasan atas alasan apapun, menjaga ciptaanNya.

Sinergi peran catur guru menuju pendidikan agama yang menghasilkan pribadi-pribadi yang tidak hanya hapal konsep-konsep, pintar kognitif, tetapi harus mampu mewujudkan dalam perilakunya dan pikirannya tentang tata nilai universal yang telah menginternalisasi dalam dirinya dan melandasi perilakunya dalam hidup bersama dan berguna bagi masyarakat manusia, alam dan seluruh ciptaanNya sehingga tercapai kedamaian di segala alam.

KURIKULUM BARU 2013

December 13, 2012 By: admin Category: Artikel Pendidikan

Kurikulum baru 2013 tingkat sma tidak lagi mengenal penjurusan Eksakta, Sosial, maupun Bahasa. Siswa akan dibebaskan memilih pelajaran yang disukai. Untuk Sekolah Menengah Atas, ada mata pelajaran wajib dan peminatan. Untuk yang wajib ada sembilan seperti Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Sejarah Indonesia, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Seni Budaya, Prakarya dan Pendidikan Jasmani. Mata pelajaran peminatan terbagi menjadi empat yakni Sains (Matematika, Biologi, Fisika dan Kimia), Sosial (Geografi, Ekonomi, Sejarah, Sosiologi dan Antropologi), Bahasa (Sastra Indonesia, Arab, Inggris dan Sastra Mandarin). Ada juga mata pelajaran pilihan seperti Literasi Media, Bahasa Lain, Teknologi Terapan, dan Pendalaman Minat atau Lintas Minat. Setiap pelajar SMA wajib mengambil 40 jam pelajaran dengan rincian 18 jam wajib, 16 jam peminatan, dan enam jam pelajaran pilihan. Enam jam pilihan bisa mengambil pelajaran peminatan lain. Sekolah bisa menawarkan pilihan lain maksimal empat jam pelajaran.

Pada tingkat SMP , jumlah mata pelajaran yang semula 12 nanti menjadi 10 mata pelajaran. Mata ajar muatan lokal dan pengembangan diri akan melebur ke dalam mata pelajaran seni budaya dan prakarya. Sedangkan mata pelajaran yang lain tetap, yakni Pendidikan Agama, Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Seni Budaya (muatan lokal), Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, serta Prakarya. Siswa SMP belajar disekolahnya bertambah dari 32 jam menjadi 38 jam pelajaran per minggu.

Pada tingkat SD, Mata pelajaran diintegrasikan bukan dihapus karena IPA dan IPS tetap akan masuk dalam kurikulum pelajaran sekolah dasar namun, memang diintegrasikan dalam pelajaran lain. Kurikulum 2013 yang kini sedang dalam tahapan uji publik menekankan pendidikan berbasis kompetensi, yakni sejak sekolah dasar anak diajarkan bagaimana bersikap jujur, memiliki keterampilan dan wawasan luas atau berilmu.

Seperti dijelaskan diatas dari 10 mata pelajaran sekolah dasar disisakan enam, seperti matematika, bahasa Indonesia, pendidikan agama, pendidikan jasmani dan kesehatan, pendidikan pancasila dan kewarganegaraan, dan kesenian. IPA dan IPS menjadi tematik di pelajaran lainnya.

Siswa SD nanti belajar di sekolahnya kurang lebih 36 jam per pekan. Bertambah sepuluh jam dari yang berlaku saat ini yang hanya 26 jam per pekan.

Kurikulum 2013 diharapkan mampu menghasilkan generasi emas yang mempunyai sifat produktif, kreatif, inovatif, dan afektif. “Dalam kurikulum 2013, ditargetkan para siswa mampu mengamati, menyimak, melihat, membaca, mendengar, bertanya, bernalar, mencoba, dan mengkomunikasikan.

Menurut Wapres Budiono yang memonitor langsung kerja Kementerian Pendidikan,  kurikulum baru akan menjawab keluhan terhadap lemahnya pembentukan watak dan perhatian soft skill para siswa. Wapres Budiono menyoroti perubahan fundamental dari kurikulum baru ini Intinya adalah keseimbangan antara kemampuan akademis teknis dan pembentukan sikap. Disebutkan istilah hard skill dan soft skill. Tapi soft skill itu juga bermacam-macam, termasuk kemampuan berkomunikasi, toleransi, kemampuan untuk kerja dalam tim.

Kurikulum baru berisi basis kompetensi dengan pemikiran kompetensi berbasis sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Guru dituntut banyak mencari tahu agar para siswa bisa dengan mudah mencari informasi dengan bebas melalui perkembangan teknologi.

Mendiknas M.Nuh yang Mantan Rektor Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS) menjelaskan, bahwa kurikulum baru ini didasari perkembangan dunia, kemajuan teknologi informasi, masalah lingkungan hidup, serta kebangkitan industri kreatif dan budaya.

M. Nuh juga menambahkan, para siswa akan didorong memiliki tanggung jawab lingkungan, kemampuan berkomunikasi, serta kemampuan berfikir kritis agar terbentuk generasi yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif.

Terilihat semangat penyederhanaan kurikulum sangat mewarnai perubahan kurikulum kali ini, dengan harapan pembelajaran dapat lebih mendalam dan memahami substansi dan tidak hanya menghapal. Disamping itu juga terdapat perubahan dalam penilaian yaitu menggunakan kombinasi tes hasil belajar dengan portofolio.

Kini kurikulum ini dalam tahap uji publik untuk mendapatkan masukan-masukan dari masyarakat pemangku kepentingan untuk penyempurnaan.

Yang lebih penting lagi harus dilakukan adalah ujicoba empiris secara terbatas dengan sampel seluruh propinsi yang ada di Indonesia agar dapat dievaluasi apa kekurangannya dan dimana penyempurnaan harus dilakukan, baru kemudian diberlakukan secara keseluruhan untuk mendapatkan hasil yang diharapkan.

Disamping itu diperlukan sekali pelatihan-pelatihan kepada pelaksana pembelajaran di lapangan yaitu guru. Ini sejalan usulan yang dikemukakan HAR Tilaar Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang turut hadir dalam uji publik membeberkan empat masukan tersebut. Pertama, implementasi kurikulum baru tergantung kualitas guru. Kedua, komitmen pemerintah daerah turut menentukan sehinggga diperlukan revisi Undang Undang Otonomi Daerah. Ketiga, penggabungan mata pelajaran seperti IPA-IPS di tingkat SD perlu ditinjau kembali. Sedangkan yang terakhir, diperlukan petunjuk pelaksanaan yang jelas dalam implementasi kurikulum 2013.<uli>