STAHDNJ.AC.ID

Vidyaya, Vijnanam, Vidvan
Subscribe

Archive for the ‘Artikel Pendidikan’

PENDIDIKAN SPIRITUAL MENUJU PEMIMPIN DAN RAKYAT YANG BERBUDI LUHUR

March 19, 2015 By: admin Category: Artikel Pendidikan

Oleh :

I Ketut Ulianta

Abstract

Advanced and prosperous nation can be realized with the leaders and virtuous people. Spiritual education is derived from the religious values containing high philosophical values and taught to the actual learning outcomes and not just pure pursuit quantitative figures but full make internalized moral values and then reflected in the attitudes, actions and behavior. A few are universal values of Hinduism raised in this paper in addition to many more that are still scattered in the Vedas which are expected to be extracted in other occasions and echoed so became the life guide of the people and leaders, so can create leaders and virtuous people.

Key Words : Spiritual Education, The learders, The virtuous peaple

1. Latar Belakang Masalah

Menurunnya etika, moral, dan sensitifitas individu dan masyarakat sebagai akibat dari terjadinya verbalisme dalam pendidikan etika dan tata nilai yang cenderung mendewakan satu aspek saja dari tiga aspek yang menjadi learning outcome pendidikan yang seharusnya, baik di sisi proses maupun penilaian.

Masalah ini meluas dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan perilaku dalam berbagai segi kehidupan yang dilakukan, masyarakat, baik yang tergolong rakyat dengan perilakunya yang tidak disiplin dan memudarnya toleransi dan budaya saling menghormati yang berimpas kepada terjadinya kerusuhan maupun upaya-upaya destruktif lainya. Juga dilakukan oleh pejabat dalam bentuk korupsi serta pembodohan yang secara disengaja. Serta tidak disiplin melakukan tugas sesuai sumpah jabatannya.

Masalah tersebut sebagai akibat menurunnya internalisasi tata nilai dalam diri insan elemen masyarakat sebagai akibat semakin tingginya tingkat verbalisme pendidikan dimana hasil – hasil belajar hanya sebatas konsep dan teori yang dihapal tanpa dipraktekan, diaplikasikan. Pembiasaan menerapkan nilai-nilai yang luhur sebagai aspek afektif dari hasil belajar dalam pendidikan kita jarang dilakukan, jarang dikontrol dan kurang menjadi perhatian dalam evaluasi pembelajaran di sekolah yang hanya mementingkan nilai angka kuantitaif yang semestinya dikombinasi dengan nilai kualitatif. Disamping itu peran orang tua juga menurun tingkat partisipasinya untuk menanamkan nilai-nilai dasar dalam pendidikan pertama dan utama, karena terpenjara oleh waktunya yang sebagian besar dihabiskan untuk mengejar kebutuhan hidup yang harus ada sebagai tuntutan kebutuhan keluarga.

2. Penguasaan Konsep, Internalisasi Nilai dan Penerapan dalam tindakan nyata

Diperlukan kesadaran yang lebih terhadap penerapan konsep bahwa hasil belajar terdiri dari aspek kognitif, afektif dan psikomotor sesuai dengan pendapat Bloom, dimana semua aspek tersebut hendaknya dilatih, dibiasakan dan diperhatikan secara seimbang dalam pendidikan kita baik dalam proses pembelajarannya maupun dalam penilaiannya. Dalam proses pembelajaran, bagaimana bentuk pembelajaran maupun tugas serta kegiatan siswa diarahkan untuk dapat aktif mempraktekkan serta memahami konsep untuk pemecahan masalah dalam hidup maupun berinteraksi dengan lingkungan. Disisi penilaian hendaknya jangan terlalu mendewakan aspek kognitif, yang sangat penting justru bagaimana pengetahuan/kognitif yang telah dimiliki itu digunakannya dan diterapkannya dalam memecahkan persoalan serta berperilaku sesuai dengan tata nilai sehingga nilai-nilai yang dipahami dan dipelajari melalui konsep dapat menginternalisasi dalam dirinya yang akan digunakan untuk hidup dimasyarakat yang akan sangat menentukan kesuksesan hidup seseorang. Gadner dalam kecerdasan majemuk mengungkapkan 8 kecerdasan yang dimiliki individu. Kecerdasan tersebut membutuhkan peran pendidikan dalam pengembangannya. Tidak hanya kecerdasan logika-matematika, tapi banyak yang lainnya. Bagaimana individu berkomunikasi antar sesama melalui kecerdasasan linguistik, bagaimana berinteraksi dengan orang lain sesuai dengan tata nilai melalui kecerdasan interpersonal, bagaimana individu itu bertanggung jawab terhadap diri sendiri, bekerja mandiri melalui kecerdasan intrapersonal, bagaimana individu itu memahami ruang dan waktu melalui kecerdasan spasial, bagaimana individu menghargai dan mempraktekan seni, musik melalui kecerdasan musikal, melalui kecerdasan kinestetik individu memanfaatkan indera gerak dan psikomotoriknya serta melalui kecerdasan naturalis manusia menghargai dan memelihara alam.

Demikian luasnya yang perlu diperhatikan dan dikembangkan sehingga sudah seharusnya kita tidak hanya menuntut peran guru disekolah saja tetapi semua guru harus berperan baik guru di masyarakat, guru disekolah, guru dirumah maupun pemerintah dan tidak saling lempar tanggung jawab.

(more…)

LEMAHNYA KECERDASAN SPIRITUAL DALAM KEPEMIMPINAN BANGSA INDONESIA (Sebuah Tinjauan Character Building Bangsa Menurut Perspektif Hindu)

July 17, 2014 By: admin Category: Artikel Pendidikan

Oleh:

Anak Agung Gede Raka Mas

Abstract

This article should try to describe the leadership of our nation to day, using the break of spiritual as the strategie issue. The fenomena that exist in our country were “the raising”, of corruption, murder, robbery, and the other amoral behavior or moral degradition. These all of condition motivating me to know the problem and searching the volution. The metodology applying in this article was descriptif an kwalitatif method. Hoping this article will be have any value.

Keyword : leadership, spiritual intellegences, nation, character building

A. Latar Belakang

Sebagai seorang anak bangsa, merasa tertegun memperhatikan kericuhan, keributan dan hingar bingar kondisi bangsa ini. Berita dan kejadian sehari-hari dipenuhi oleh adanya perbuatan amoral, seperti maraknya pencurian, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, penyalahgunaan narkoba, korupsi, serta penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan oleh oknum pejabat. Jelas sekali kejadian-kejadian itu bukan hanya merupakan suatu fenomena saja, tetapi fakta yang nyata di dalam kehidupan bangsa ini. Apa yang tersurat bukan juga merupakan suatu provokasi sastra, namun sebagai bukti-bukti kepemimpinan bangsa sedang mengalami tanda-tanda keruntuhan kemuliaan bangsa dan tidak pasnya kepemimpinan bangsa. Karena itu fenomena dan fakta kehidupan bangsa ini perlu ada suatu tinjauan dan penelitian yang dalam, kenapa hal ini dapat terjadi.

Ada beberapa metode penilitian yang dapat disarankan, misalnya saja penelitian sosiologi, historis, religius, ekonomi, psikologi, dan sebagainya. Selain itu dapat juga dipertimbangkan metode penelitian yang mana dianggap paling cocok, apakah deskriprif, kualitatif, atau kuantitatif. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kondisi dan fenomena bangsa ini menjadi satu motivasi yang kuat untuk meninjau dan menguji nilai kepemimpinan yang diterapkan. Diharapkan melalui penelitian ini terdapat benang merah yang jelas, apa yang menjadi sebab-musababnya dan menemukan solusi untuk memperbaiki kondisi itu, sehingga tujuan bernegara dan berbangsa pada era kemerdekaan ini dapat tercapai, yaitu mampu melindungi seluruh rakyat Indonesisa dalam taraf kehidupan yang aman, makmur, adil dan sejahtera – (mengutip semboyan lama, bangsa ini berada dalam kondisi gemah ripah, loh jinawi, murah kang tinuku, subur kang tinandur, bebek manuk pulang ke kandange dewe-dewe). Salah satu faktor yang memegang peranan penting sesuai dengan objek penelitian ini adalah agar menemukan kepemimpinan yang tepat dalam rangka character building menurut perspektif Hindu. Issu pokok yang hendak dibahas dengan dalam adalah lemahnya kecerdasan spiritual pada kepemimpinan bangsa.

B. Tujuan Penelitian; Umum dan Khusus

Secara umum dapat dijelaskan bahwa tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apa yang menyebabkan kepemimpinan bangsa ini sangat memprihatinkan. Dari 33 gubernur yang memimpin propinsi negara ini 50 % bermasalah (berita surat kabar, media elektronik, dan pengetahuan umum masyarakat, sedangkan dari 40 bupati yang memimpin kabupaten di negara kita lebih dari 50% bupati berurusan dengan jaksa dan hakim, termasuk yang dipenjarakan).

Hal ini merupakan sesuatu yang aneh tetapi nyata, mengingat para pejabat yang berada di rumah tahanan adalah orang-orang terpilih terutama dari sisi intelektual dan pengalaman. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang dominan yang menyebabkan kepemimpnan bangsa ini sangat terpuruk, kalau dilihat dari fenmena masyarakat (tinjauan sosiologis), maupun tinjauan religius. Oknum pejabat yang dipenjarakan itu adalah umat beragama yang rajin sembahyang, melakukan sholat dan kewajiban agama lainnya, kecuali adanya ketidakjujuran, dan perilaku yang menyalahi keentuan penyalahgunaan kekuasaan dan wewesang. Yang perlu didalami dalah kenapa korupsi, penyuapan itu terjadi, padahal oknum itu sudah mempunyai gaji (sallary) yang cukup tinggi, jika dibandingkan dengan kehidupan karyawan lain, lebih-lebih para buruh pabrik; dari tinjauan fasilitas juga para pejabat itusudah cukup memadai, misalnya sudah mendapatkan rumah, mobil, perabot perumahan, pembayaran penggunaan listrik, dan fasilitas lainnya.

C. Metode Pendekatan

Untuk mencapai tujuan penelitian secara baik dan tepat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu metode apa yang tepat dipakai, apakah metode pendekatan: sosiologis, historis, ekonomi, religius, psikologis, dan lainnya, misalnya metode deskriptif-kualitatif dari fenomena yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Adanya fenomena perilaku amoral, degradasi moral, serta runtuhnya kemuliaan manusia, penggunaan metode deskriptif-kualitatif dapat dipergunakan. Teori dan konsep Maxlouis tentang kebutuhan hidup manusia, dan teori pengendalian (sell) dapat digunakan. Teori kepemimpinan Hindu: Catur Purusa artha, Tri Kaya Parisudha, Teori 53, (Putu Yudiantara, 2009:49), juga identitas spiritual, mindfullness: 41,45 dan cara mengembangkan spiritualitas Stepen R. Covey, dalam Yudiantara, 118 dapat dipertimbangkan dan dikembangkan untuk mengatasi kelemahan spiritualitas bangsa. Asas Kepemimpinan Hindu, yaitu asta brata, dalam……….., 1995: 39 pantas digunakan untuk memperluaskan wawasan analisis tentang kepemimpinan Hindu. Asta Brata terdiri atas 2 (dua) kata yaitu asta dan brata. Asta artinya delapan dan brata artinya pegangan atau pedoman (Wiratmadja, 1995: 39-50).

D. Objek Penelitian

Yang menjadi objek penelitian dari artikel ini adalah kecerdasan spiritual, karena yang akan dibahas dan dianalisis pada kertas karya ini adalah lemahnya kecerdasan spiritual dalam kepemimpinan bangsa Indonesia, sebagai sebuah tinjauan character building bangsa menurut perspektif Hindu. Unutk pembalikan dan analisis tentang lemahnya kecerdasan spiritualitas akan dikembangkan terori keseimbangkan PQ (Physical Quetient), IQ (Intelectual Quetient), EQ (Emotional Quetient), SQ (Spiritual Quetiont), juga akan ditambahkan satu kecerdasan lagi yaitu AQ (Adversity Quetient).

E. Thema: Lemahnya kecerdasan spiritual dalam kepemimpinan Bangsa Indonesia, sebagai sebuah tinjauan character bangsa, menurut perspektif Hindu. Karena itu, pada halaman berikutnya akan dianalisis apa yang dimaksud dengan kecerdasan spiritual, kenapa kecerdasan spiritual ini menjadi lemah, dan upaya apa yang patut dikembangkan sehingga kegagalan kepemimpinan bangsa dapat diperbaiki untuk mencapai tujuan character building bangsa, sesuai dengan perspektif Hindu.

F. Analisis

Sebelum menganalisis, mengapa kepemimpinan bangsa sangat memprihatinkan, maka akan diuraikan terlebih dahulu kata-kata kunci yang terdapat pada artikel ini. Mencermati secara dalam tentang judul kertas karya ini terdapat beberapa kata kunci pada judul ini, yang berikutnya (selanjutnya) akan dibahas, dianalisis seperti di bawah ini; kata-kata kunci itu adalah: kecerdasan spiritual, kepemimpinan bangsa Indonesia, character building bangsa, perspektif Hindu.

G. 1. Kecerdasan Spiritual

Untuk mencapai hidup bermakna ada beberapa hal yang patut diperhatikan yaitu menyeimbangkan beberapa kecerdasan: pertama, kecerdasan fisik (PQ – Physical Quetient), kedua, kecerdasan intelektual (IQ – Intellectual Quetient), ketiga, kecerdasan emosi (EQ – Emotional Quetient) , dan keempat kecerdasan spiritual (SQ – Spiritual Quetiontl).

Keempat elemen ini, adalah fisik, intelek, emosi, dan spiritual. Jika keempat elemen ini tidak dikembangkan secara seimbang, akan terjadi kehidupan manusia yang tidak utuh, tidak sempurna dan tidak akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Fenomena yang terjadi dewasa ini adalah lemahnya elemen kecerdasan spiritual. Lemahnya kecerdasan spiritual ini mengakibatkan makin banyaknya oknum pejabat masuk rumah tahanan atau penjara, padahal beliau-beliau itu adalah terdiri dari orang-orang yang berpendidikan tinggi, berpengalaman di dalam profesinya, bahkan orang-orang yang agamis. Runtuhnya kemuliaan manusia ini menimbulkan dampak yang sangat luas, terutama di dalam kepemimpinan bangsa. Krisis kepemimpinan tidak dapat dihindari, karena itu untuk mengurangi, atau menghapuskan krisis kepemimpinan ini diperlukan upaya-upaya, antara lain, memekarkan nuansa spiritual, yatu senantiasa menghubungkan diri dengan tuhan, wayne Dyer (Yudiantara, 2009:11). Lain daripada itu, juga dapat diupayakan melalui pengembangan dan pemekaran kecerdasan spiritual dengan 3 (tiga) hubungan harmonis dengan Tuhan, dengan alam, dan manusia, serta harmonis dengan lingkungan formal. (Yudiantara 2009:119, dan tesis Raka Mas, 2013:104). Hal-hal lain yang pantas diperhatikan adalah mengupayakan didalam mendapatkan harta, kemasyuran dan kekuasaan melalui dharma. Dharma dapat diartikan sebagai aturan-aturan, ketentuan-ketentuan atau kebenaran. Secara lebih dalam dharma juga dapat diartikan sebagai kebajikan-kebajikan (Raka Mas: tesis, 2013: 107). Untuk meningkatkan kepemimpinan bangsa dan kemuliaan manusia agar menghindari kenistaan manusia yaitu: hapuskan kesombongan, keserakahan, iri hati, korupsi, nepotisme, merampok, mencuri, dan lain-lain, serta melaksanakan ajaran Hindu dengan lebih mantap, yaitu melalui pelaksanaan Tri Hita Karana, Tri Kaya Parisudha dan Catur Purusa Artha. Alangkah banyaknya ajaran Hindu yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepemimpinan bangsa Indonesia.

Dengan menghindari keruntuhan dan kenistaan manusia, pemimpin nasional juga perlu mengikuti ajaran Asta Brata, yaitu mengikuti sifat/ajaran dewa-dewa Hindu itu, adalah: Indra Brata (menyejukkan hati dan suasana masyarakat), Yama Brata (dalam menghadapi perbuatan jahat, pemimpin mampu menegakkan hukum, bagi setiap kejahatan), Surya Brata (yaitu memimpin dengan cara yang lemah lembut), Casi Brata (menyenangkan anak buah, membuat seluruh dunia merasa bahagia), Bayu Brata (menjalankan fungsi penyelidikan, fungsi inspeksi, fungsi pengawasan), Kuwera Brata (nikmatilah kelezatan dan kemewahan hidup ini, tanpa melewati batas dalam menikmati makanan, minuman, dan pakaian), Bay u Brata (dua kali tulis) (tanpa memberi ruang gerak bagi mereka yang jahat), Agni Brata (selalu membakar musuh, selalu menghanguskan penentangnya)*

*diambil dari intisari karya Prof. Dr. Tjok Rai Sudharta M.A dan Gik Adia Wiratmadja.

Demikian uraian singkat tentang lemahnya kecerdasan spiritual dalam kepemimpinan bangsa Indonesia. Sebuah tinjauan character building bangsa menurut perspektif Hindu. Kami yakin, materi ini belum sempurna betul, karena itu mohon saran-saran yang bermanfaat untuk perbaikan karya ini di masa yang akan datang. Terima kasih atas segala kebaikan pembaca dan mohon maaf atas kekurangannya.

G.2. Kesimpulan

Kecerdasan spiritual sangat penting intinya di dalam melaksanakan kepemimpinan yang baik. Dengan dilalaikan kecerdasan spiritual, akan menimbulkan ketidakseimbangan di dalam kepemimpinan itu. Kecerdasan fisik, intelektual, emosi, dan spiritual, dituntut supaya seimbang. Keseimbangan 4 faktor ini akan mengakibatkan kepemimpinan yang idela dan bermakna tinggi untuk kehidupan rakyat sebuah bangsa/negara.

Lebih-lebih kedelapan unsur yang tersebut dalam asta brata (delapan pedoman) kepemimpinan Hindu menjadi sangat strategis. Penegakan hukum, pemberian keadilan, sungguh sangat dielu-elukan oleh seluruh rakyat nusantara ini. Demonstrasi yang terjadi di ibu kota dan kota-kota lain di Indonesia, hampir keseluruhan menyangkut masalah penegakan hukum dan pencarian keadilan. Simaklah masalah Century apa yang terjadi. Belum kalau dibahas masalah kejahatan di Jakarta, dan kota-kota lain. Rakyat sangat mendambakan ketenangan, kesejukan, dan perlindungan (Casi Brata). Yang tidak kalah penting adalah kondisi rakyat yang sangat terpuruk di bidang ekonomi (kemiskinan). Dalam ajaran Indra Brata disebutkan bahwa Dewa Indra adalah dewa yang bertugas di sektor kemakmuran dan kesejahteraan. Jadi peranan penting Dewa Indra sangat diperlukan oleh seluruh rakyat Indonesia, terutama rakyat yang tenggelam dalam kemiskinan. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa kedelapan unsur yang ada pada asta brata, merupakan ajaran yang sangat valid untuk dapat dilaksanakan pada era globalisasi ini. Karena itu, seluruh pemimpin Indonesia dapat mengambil inti dan semangat ajaran asta brata ini sebagai pedoman untuk melindungi, memakmurkan, menyejahterakan, dan membahagiakan seluruh nusantara ini. Dengan jelas dapat dikatakan bahwa kepemimpinan yang bersumber pada ajaran asta brata merupakan ajaran yang tepat untuk dilaksanakan di Indonesia.

Daftar Pustaka

Sudharta, Tjok rai, 1992: Asta Brata Dalam Pembangunan Denpasa, Upada Sastra.

Wiratmadja, G.K. Adia, 1995: Kepemimpinan Hindu. Denpasar. Yayasan Dharma Naradha.

Raka Mas, A.A.Gede, 2013. Runtuhnya Kemuliaan Manusia. Surabaya. Paramita.

Tesis: Upaya Mengeliminasi Kehidupan Dehumanisasi Manusia Menuju Kehidupan Bahagia Paripurna Di Era Globalisasi. (suatu kajian sesuai dengan filsafat manusia dalam agama Hindu)

Yudiantara, I Putu, 2009: Mendayagunakan EQ dan SQ, Melalui Psikologi Hindi. Surabaya, Paramita.

Soekrisno agoes, Cenik Ardana, 2009: Etika Bisnis dan Profesi. Tantangan Membangun Manusia Seutuhnya.

MENUMBUHKAN INSAN KREATIF MELALUI PRAKTEK PENDIDIKAN SESUAI PERKEMBANGAN

March 13, 2013 By: admin Category: Artikel Pendidikan

by Ulianta

Dalam menilai sebuah lembaga pendidikan bermutu atau tidak, apakah lembaga tersebut dapat memenuhi kebutuhan akan pengetahuan atau ketrampilan yang ingin kita peroleh, salah satu komponen utama yang harus diperhatikan adalah Kurikulum lembaga Tersebut. Ini termasuk salah satu fungsi kurikulum. Dengan mempelajari kurikulumnya kita dapat melihat sejauh mana mutu dari lembaga tersebut.

Tujuan belajar apa yang akan dicapai, materi apa yang diberikan, pengalaman –pengalaman belajar apakah yang akan diperoleh setelah mengikuti proses pembelajaran dilembaga tersebut semua tergambar di dalam kurkulum lembaga tersebut.

Kurikulum sebagai suatu rencana mempunyai dua arti yaitu pertama sebagai suatu produk yang mengarah pada tercapainya tujuan akhir suatu program tertentu. Kedua, sebagai proses suatu perencanaan yang menunjuk pada prosedur-prosedur dan materi instruksional  yang dirancang oleh guru serta pengalaman-pengalaman belajar yang dirancang oleh guru agar dikuasai oleh siswa. Dalam arti pengalaman-pengalaman belajar dirancang untuk dikuasai siswa sebagai jalan menuju tercapai tujuan yang dinginkan. Secara komprehensif kurikulum dapat diartikan sebagai segala pengalaman dan kegiatan belajar yang diberikan oleh sekolah kepada siswa-siswanya.

(more…)