STAHDNJ.AC.ID

Vidyaya, Vijnanam, Vidvan
Subscribe

Archive for the ‘Artikel’

Mahasiswa KKN STAH DN Jakarta, Bangun Kualitas SDM Hindu di Pringsewu

September 07, 2021 By: admin Category: Artikel, Penelitian

Pringsewu (7/9) merupakan daerah tujuan utama KKN Offline oleh Mahasiswa STAH Dharma Nusantara Jakarta. Tepatnya di Pura Sabha Aum Chara Karangsari, Pekon Waringinsari Timur, Kec. Adiluwih-Pringsewu. Daerah ini merupakan tujuan yang sangat tepat, karena kultur masyarakat yang terdiri dari lima agama berbeda (Islam, Hindu, Budha, Katolik, Kristen) Moderasi beragama dan masyarakat yang harmonis menjadikan contoh dan bukti nyata bahwa implementasi NKRI dan Pancasila ada di Pringsewu.

Hal ini yang mendasari mengapa STAH DN Jakarta melalui kegiatan KKN Mahasiswa memilih daerah yang sangat harmonis ini. Kegiatan KKN STAH DN Jakarta mengambil Tema: “Sinergisitas Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatran ke XVII Tahun 2021 STAH Dharma Nusantara Jakarta Dalam Mengoptimalkan SDM Hindu Untuk Indonesia Maju”. Kegiatan KKN Mahasiswa STAH DN Jakarta di Kabupaten Pringsewu ini dilaksanakan di Pura Sabha Aum Chara Karangsari, selama 2 hari penuh yaitu pada tanggal 4-5 September 2021.

Optimalisasi kegiatan KKN terletak pada sinergitas yang membangun jaringan komunikasi antar instansi keagamaan maupun pemerintah dan swasta. Untuk itu, STAH DN Jakarta menandatangani MoU dengan Bimas Hindu Kemenag Provinsi Lampung, serta PHDI Provinsi Lampung untuk bersama bergandengan tangan membangun kualitas SDM Hindu di seluruh wilayah Provinsi Lampung.

Acara ini dihadiri oleh Perwakilan dari Bimas Hindu Kemenag Provinsi Lampung bidang Ekonomi (Bapak Ketut Gede Riasa Astawa), PHDI Provinsi Lampung (Bapak I Wayan Ariyudi), PHDI Kabupaten Pringsewu (Bapak Misino), PHDI Kecataman Adiluwih (Bapak Ariyono), PHDI Pekon Waringinsari Timur (Bapak Sutarno), Lurah Pekon Waringinsari Timur (Bapak Ali Mustofa), Perwakilan STAH Lampung (Bapak Teguh Samiadi dan Bapak Suyono), beserta Dosen Pengampu Mata Kuliah KKN STAH DN Jakarta (Bapak I Wayan Kantun Mandara) dan Dosen STAH DN Jakarta (Bapak Indra Pramesari dan Ibu I Gusti Ketut Ayu Kurniasari). Ketua KKN adalah saudara I Komang Adi Wijaya yang dibantu oleh 26 mahasiswa yang terbagi menjadi tim offline dan online.

Kegiatan KKN ini mengangkat konsep Tri Hita Karana, yaitu Parahyangan, Pawongan dan Palemahan. Bagian Parahyangan yaitu memberikan bantuan berupa material bahan bangunan untuk merehab sekat Nista Mandala dan Madya Mandala Pura. Bagian Pawongan memberikan edukasi kepada masyarakat Hindu beserta anak-anak Hindu (SDM Hindu) dengan harapan motivasi untuk belajar dan mengenyam Pendidikan tinggi tumbuh dari dalam diri anak-anak Hindu (bantuan berupa buku-buku keagamaan Hindu). Bagian Palemahan memberikan bantuan berupa 5 ekor Kambing ternak dari STAH DN Jakarta serta 10 ekor Kambing Ternak dari PHDI Provinsi Lampung dan juga berupa bibit pertanian beserta pupuk organik (Donasi dari Bapak Wayan Supadno). Segala bantuan yang telah diberikan, diharapkan mampu memajukan kualitas SDM Hindu di Kabupaten Pringsewu-Lampung. (Arto)

APIK adalah Persyaratan Penelitian Yang Bagus

December 08, 2020 By: admin Category: Artikel, Artikel Pendidikan

Oleh : I Ketut Ulianta

Perdebatan, Ketegangan, Kelucuan, berkohesi larut turut membentuk atmosfer Akademik di ruang sidang Ketika verifikasi judul proposal skripsi berproses. Calon-calon peneliti pemula yang akan membuat karya telah berusaha mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar permasalahan dan judul penelitian lolos dan dapat diangkat menjadi penelitian untuk mendukung penyusunan tugas akhir mereka. Sebagai seorang peneliti pemula sewajarnya banyak kesulitan-kesulitan yang dialami dalam rangka mempersiapkan diri untuk merancang sebuah penelitian untuk tugas akhir studi. Dominasi kesulitan yang Nampak adalah memilih masalah penelitian.

Bagi calon penelitian memilih masalah bukanlah pekerjaan yang mudah, bahkan boleh dikatakan sulit. Meskipun secara konseptual telah memahami apa itu masalah penelitian, tetap saja Ketika ditanya Masalahnya Apa ? mahasiswa belum dapat menjawab dengan tepat, singkat, padat dan jelas, tetapi dengan cara penjelasan yang berputar-puter tidak jelas ujung pangkalnya sehingga akhirnya ditanya Kembali masalahnya apa ? sehingga memantik kelucuan dan semua peserta tertawa Bersama….!! Dari mana masalah kita dapatkan ? yang pasti harus merupakan bagian dari “kebutuhan”  seseorang untuk dicari solusinya (Arikunto, 2010, p. 69). Berbagai hal dapat memunculkan masalah. Para Pengemudi Angkot yang telah diberikan gaji, insentif, kendaraan yang bagus masih saja mengemudi dengan ugal-ugalan  disuatu kota adalah contoh masalah yang harus dicari solusinya. Seorang guru telah menggunakan berbagai media, metode maupun strategi yang bagus dalam Mengajar, masih saja belum mampu membawa murid-muridnya untuk melampaui KKM yang telah ditentukan, yang jelas mahasiswa harus banyak membaca dan berkonsultasi dengan orang lain yang kira-kira memahami permasalahan yang relevan dengan idenya. Mahasiswa juga harus memiliki data awal terkait masalah yang ingin diangkat. Masalah penelitian yang baik itu adalah masalah yang ditemukan sendiri dari pada masalah hasil pemberian orang lain. Mahasiswa akan lebih puas dan memahami masalah karena muncul dari pemikiran sendiri, mereka akan menghayati masalah dan akan lebih mudah dalam mengerjakan tahapan selanjutnya dalam penelitian. Mereka tentu akan lebih senang melaksanakannya.

Masalah menjadi penting dan harus ada dalam penelitian karena secara garis besar penelitian adalah kegiatan untuk memperoleh solusi  terhadap suatu permasalahan yang terjadi melalui Langkah-langkah ilmiah (Riadi, 2014, p. 1).

Hal penting lainnya sebagai syarat penelitian akan dapat berlangsung dengan baik adalah Sesuai minat peneliti karena ini terkait dengan kemampuan dan kompetensi serta sesuai dengan keahliannya. Penelitian juga harus dapat dilaksanakan dalam arti tersedia data untuk melakukan penelitian. Syarat yang paling penting adalah manfaat dari penelitian. Bagaimanapun bagusnya judul, permasalahan, metode dan lainnya jika peneltian tersebut tidak memiliki manfaat tidak akan berguna jerih payah dan biaya yang dikeluarkan.

Seorang Ahli peneltian  Unibraw “ Prof. Dr. Suhardjono berpendapat penelitian yang baik yaitu APIK singkatan dari Asli, Penting, Ilmiah dan Konsisten (Arikunto, 2010, p. 72)

Asli dimaksudkan  original dan bukan jiplakan, dan buatan sendiri, bukan dari hasil mengganti-ganti penelitian orang lain. Penelitian tersebut berbeda dari penelitian yang sudah pernah diteliti orang lain.

Penting dimaksudkan bermanfaat dan dipandang penting dalam rangka pengembangan ilmu dan mendukung tugas yang sedang dilaksanakan.

Ilmiah maksudnya menggunakan proses yang dibenarkan oleh teori-teori penelitian yaitu terdapat sistematika penelitian yang lazim berlaku.

Konsisten maksudnya adalah runtut antara bagian yang satu dengan bagian yang lain misalnya antara rumusan masalah, tujuan penelitian dan butir-butir kesimpulan.

BHAKTI KEPADA HYANG WIDHI MELALUI GITA

August 29, 2018 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh : Ni Nyoman Sudiani*

Gita adalah nyanyian, di dalam kitab Brhad-Aranyaka Upanisad kita kenal istilah udgita, dan ajaran mengenai irama terdapat dalam kitab Samaveda. Di kalangan umat Hindu di Indonesia kita mengenal istilah Dharmagita dimana Dharma artinya benar, kebenaran, kewajiban, sedangkan Gita artinya nyanyian. Jadi Dharmagita adalah nyanyian kebenaran, nyanyian mengenai hal-hal yang benar. Jika Dharma diartikan sebagai kewajiban, maka Dharmagita berarti kewajiban menyanyikan nyanyian suci untuk mendekatkan diri kepada Ida Sanga Hyang Widhi Wasa. Juga berarti kewajiban menyebarkan ajaran suci Veda melalui nyanyian. Kenapa Gita begitu penting dalam ajaran Hindu? karena ajaran Hindu diturunkan melalui Gita oleh Tuhan, contohnya Kitab Bhagavadgita dan selanjutnya disebarkan melalui Gita juga.

Ngayah Di Pura Agung Jagatkartta Gunung Salak

Ngayah Di Pura Agung Jagatkartta Gunung Salak

 

Menyanyikan nyanyian suci inilah yang dilakukan oleh Pesantian Gita Bhuana Santi Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Dharma Nusantara pada tanggal 18 Agustus 2018 di Wantilan Nista Mandala Pura Parahyangan Agung Jagatkartta Gunung Salak, dalam rangka ngayah (kerja bakti) menjelang pujawali ke XIII tepatnya pada Purnama Sasih Ketiga. Gita selalu dinyanyikan setiap umat Hindu melaksanakan upacara agama atau ritual, karena menyanyikan Gita merupakan syarat dari upacara yang satwika. Umat Hindu di Indonesia, dalam hal ini khususnya umat Hindu etnis Bali selalu menyanyikan Gita atau kidung-kidung suci setiap melakukan upacara agama baik di pura maupun di rumah. Kewajiban menyanyikan Gita atau nyanyian suci di setiap upacara agama dapat ditemukan pada kitab suci Rgveda X.71.11, bunyi mantranya adalah:

Rcam tvah posamaste pupusvanayatram

tvo gayati skvarisu,

brahma tvo vadati jatavidyam    

yajñasya matram vi mimita u tvah.

Artinya

“Seseorang (Hota) bertugas mengucapkan mantra Veda (Rgveda), seorang (Udgata) melakukan nyanyian-nyanyian pujian atau mengucapkan Gayatra (Samaveda) dalam metre Sakvari; seorang lagi yaitu Brahma yang menguasai pengetahuan Veda mengajarkan isi Veda dan memberitahukan apa yang harus dilakukan; dan yang lain (Adhvaryu) memastikan persediaan bahan persembahan dan mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci”

Merujuk pada kitab suci Rgveda X.71.11 tersebut maka setiap upacara agama selalu disertai dengan melantunkan sekar Alit, sekar Madya, sekar Agung, dan Sloka. Melalui gita tersebut umat Hindu mendapatkan pencerahan.

Pesantian Gita Bhuana Santi STAH Dharma Nusantara Jakarta

Pesantian Gita Bhuana Santi STAH Dharma Nusantara Jakarta

Persembahan Gita oleh Pesantian Gita Bhuana Santi STAH Dharma Nusantara Jakarta juga merupakan implementasi dari ajaran Catur Marga, yaitu Jñana Marga. Kenapa disebut Jñana Marga? Karena dalam hal ini melalui Gita tersebut Pesantian Gita Bhuana Santi menyebarkan ajaran agama Hindu.  Jñana Marga yang dilakukan oleh Pesantian Gita Bhuana Santi STAH Dharma Nusantara Jakarta juga dilandaskan oleh Bhakti Marga, yaitu dengan rasa tulus ikhlas melaksanakan ngayah sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Melantunkan Gita juga sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat oleh STAH DN Jakarta yang merupakan implementasi dari Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu ikut menyebarkan ajaran Hindu terutama tentang tradisi-tradisi baik yang dilakukan oleh para leluhur atau orang-orang suci pada masa lampau. Adapun Gita yang dinyanyikan pada hari itu adalah Geguritan Dalem Sidakarya. Tidak semua umat mengetahui tentang Babad Dalem Sidakarya terutama anak-anak yang lahir di luar Bali. Sebelum bernama Dalem Sidakarya beliau dipanggil Brahmana Keling, yaitu seorang Pandita dari Keling. Beliau berasal dari Pulau Jawa bagian timur, tepatnya dari desa Keling, dan  karena beliau berasal dari Keling maka beliau dipanggil Brahmana Keling. Nama beliau yang sebenarnya tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.

Brahmana Keling adalah putra Dang Hyang Kayu Manis, cucu dari Mpu Candra, kumpi dari Mpu Bahula, dan juga merupakan cicit dari Mpu Baradah. Beliau memiliki pasraman di gunung Bromo. Beliau diutus oleh Dang Hyang Kayu Manis agar datang ke Bali membantu memimpin upacara Eka Dasa Ludra di Pura Besakih yang diselenggarakan oleh Raja Waturenggong. Raja Waturenggong merupakan sepupu Brahmana Keling, namun karena Beliau melakukan perjalanan jauh sehingga seluruh pakaian beliau menjadi sangat kotor (dekil) sehingga rakyat Gelgel tidak percaya kepada Brahmana Keling ketika mengatakan sepupu dari raja. Raja Waturenggongpun tidak percaya dengan Brahmana Keling sebagai seorang Pandita lalu beliau diusir. Karena perlakuan sang Raja akhirnya Brahmana Keling mengutuk jagat Bali terkena bencana dan agar upacara di Besakih gagal. Untuk memulihkan keadaan itu maka raja memerintahkan untuk mencari Brahmana Keling. Akhirnya Brahmana Keling diajak menghadap raja di Pura Besakih dan mengatakan sanggup untuk mengembalikan keadaan jagat Bali seperti semula dan dapat membuat upacara di Pura Besakih berjalan dengan lancar. Brahmana Keling dapat membuat upacara di Pura Besakih menjadi sukses, akhirnya  sejak saat itu Beliau diberi nama Dalem Sidakarya.

Itulah cerita babad yang disampaikan oleh Pesantian Gita Bhuana Santi STAH DN Jakarta melalui nyanyian, yang tujuan utamanya adalah untuk menyebarkan tradisi-tradisi baik dan luhur yang telah dilakukan oleh orang-orang suci sejak jaman lampau untuk keselamatan alam semesta ini. Semoga apa yang dilakukan oleh Pesantian Gita Bhuana Santi STAH DN Jakarta bermanfaat bagi lestari dan berkembangnya ajaran Hindu, dan semaraknya umat melakukan, melestarikan dan mengembangkan kidung-kidung suci yang telah ada.

Referensi

Prakash, Ravi dan K.L Joshi, 2005. ?g Veda Samhita Mandala VIII, IX dan X terjemahan Dewanto, S.S. Surabaya: Paramita.

Radhakrishnan, S. 1989. The Principal Upanisads. Jakarta: Yayasan Parijata.

Sudiani, Ni Nyoman. Geguritan Dalem Sidakarya disalin dari kaset Luh Camplung. Bali: Aneka Record.

 

*)Dosen STAH Dharma Nusantara Jakarta