STAHDNJ.AC.ID

Vidyaya, Vijnanam, Vidvan
Subscribe

Archive for the ‘Artikel’

BHAKTI KEPADA HYANG WIDHI MELALUI GITA

August 29, 2018 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Oleh : Ni Nyoman Sudiani*

Gita adalah nyanyian, di dalam kitab Brhad-Aranyaka Upanisad kita kenal istilah udgita, dan ajaran mengenai irama terdapat dalam kitab Samaveda. Di kalangan umat Hindu di Indonesia kita mengenal istilah Dharmagita dimana Dharma artinya benar, kebenaran, kewajiban, sedangkan Gita artinya nyanyian. Jadi Dharmagita adalah nyanyian kebenaran, nyanyian mengenai hal-hal yang benar. Jika Dharma diartikan sebagai kewajiban, maka Dharmagita berarti kewajiban menyanyikan nyanyian suci untuk mendekatkan diri kepada Ida Sanga Hyang Widhi Wasa. Juga berarti kewajiban menyebarkan ajaran suci Veda melalui nyanyian. Kenapa Gita begitu penting dalam ajaran Hindu? karena ajaran Hindu diturunkan melalui Gita oleh Tuhan, contohnya Kitab Bhagavadgita dan selanjutnya disebarkan melalui Gita juga.

Ngayah Di Pura Agung Jagatkartta Gunung Salak

Ngayah Di Pura Agung Jagatkartta Gunung Salak

 

Menyanyikan nyanyian suci inilah yang dilakukan oleh Pesantian Gita Bhuana Santi Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Dharma Nusantara pada tanggal 18 Agustus 2018 di Wantilan Nista Mandala Pura Parahyangan Agung Jagatkartta Gunung Salak, dalam rangka ngayah (kerja bakti) menjelang pujawali ke XIII tepatnya pada Purnama Sasih Ketiga. Gita selalu dinyanyikan setiap umat Hindu melaksanakan upacara agama atau ritual, karena menyanyikan Gita merupakan syarat dari upacara yang satwika. Umat Hindu di Indonesia, dalam hal ini khususnya umat Hindu etnis Bali selalu menyanyikan Gita atau kidung-kidung suci setiap melakukan upacara agama baik di pura maupun di rumah. Kewajiban menyanyikan Gita atau nyanyian suci di setiap upacara agama dapat ditemukan pada kitab suci Rgveda X.71.11, bunyi mantranya adalah:

Rcam tvah posamaste pupusvanayatram

tvo gayati skvarisu,

brahma tvo vadati jatavidyam    

yajñasya matram vi mimita u tvah.

Artinya

“Seseorang (Hota) bertugas mengucapkan mantra Veda (Rgveda), seorang (Udgata) melakukan nyanyian-nyanyian pujian atau mengucapkan Gayatra (Samaveda) dalam metre Sakvari; seorang lagi yaitu Brahma yang menguasai pengetahuan Veda mengajarkan isi Veda dan memberitahukan apa yang harus dilakukan; dan yang lain (Adhvaryu) memastikan persediaan bahan persembahan dan mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci”

Merujuk pada kitab suci Rgveda X.71.11 tersebut maka setiap upacara agama selalu disertai dengan melantunkan sekar Alit, sekar Madya, sekar Agung, dan Sloka. Melalui gita tersebut umat Hindu mendapatkan pencerahan.

Pesantian Gita Bhuana Santi STAH Dharma Nusantara Jakarta

Pesantian Gita Bhuana Santi STAH Dharma Nusantara Jakarta

Persembahan Gita oleh Pesantian Gita Bhuana Santi STAH Dharma Nusantara Jakarta juga merupakan implementasi dari ajaran Catur Marga, yaitu Jñana Marga. Kenapa disebut Jñana Marga? Karena dalam hal ini melalui Gita tersebut Pesantian Gita Bhuana Santi menyebarkan ajaran agama Hindu.  Jñana Marga yang dilakukan oleh Pesantian Gita Bhuana Santi STAH Dharma Nusantara Jakarta juga dilandaskan oleh Bhakti Marga, yaitu dengan rasa tulus ikhlas melaksanakan ngayah sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Melantunkan Gita juga sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat oleh STAH DN Jakarta yang merupakan implementasi dari Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu ikut menyebarkan ajaran Hindu terutama tentang tradisi-tradisi baik yang dilakukan oleh para leluhur atau orang-orang suci pada masa lampau. Adapun Gita yang dinyanyikan pada hari itu adalah Geguritan Dalem Sidakarya. Tidak semua umat mengetahui tentang Babad Dalem Sidakarya terutama anak-anak yang lahir di luar Bali. Sebelum bernama Dalem Sidakarya beliau dipanggil Brahmana Keling, yaitu seorang Pandita dari Keling. Beliau berasal dari Pulau Jawa bagian timur, tepatnya dari desa Keling, dan  karena beliau berasal dari Keling maka beliau dipanggil Brahmana Keling. Nama beliau yang sebenarnya tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.

Brahmana Keling adalah putra Dang Hyang Kayu Manis, cucu dari Mpu Candra, kumpi dari Mpu Bahula, dan juga merupakan cicit dari Mpu Baradah. Beliau memiliki pasraman di gunung Bromo. Beliau diutus oleh Dang Hyang Kayu Manis agar datang ke Bali membantu memimpin upacara Eka Dasa Ludra di Pura Besakih yang diselenggarakan oleh Raja Waturenggong. Raja Waturenggong merupakan sepupu Brahmana Keling, namun karena Beliau melakukan perjalanan jauh sehingga seluruh pakaian beliau menjadi sangat kotor (dekil) sehingga rakyat Gelgel tidak percaya kepada Brahmana Keling ketika mengatakan sepupu dari raja. Raja Waturenggongpun tidak percaya dengan Brahmana Keling sebagai seorang Pandita lalu beliau diusir. Karena perlakuan sang Raja akhirnya Brahmana Keling mengutuk jagat Bali terkena bencana dan agar upacara di Besakih gagal. Untuk memulihkan keadaan itu maka raja memerintahkan untuk mencari Brahmana Keling. Akhirnya Brahmana Keling diajak menghadap raja di Pura Besakih dan mengatakan sanggup untuk mengembalikan keadaan jagat Bali seperti semula dan dapat membuat upacara di Pura Besakih berjalan dengan lancar. Brahmana Keling dapat membuat upacara di Pura Besakih menjadi sukses, akhirnya  sejak saat itu Beliau diberi nama Dalem Sidakarya.

Itulah cerita babad yang disampaikan oleh Pesantian Gita Bhuana Santi STAH DN Jakarta melalui nyanyian, yang tujuan utamanya adalah untuk menyebarkan tradisi-tradisi baik dan luhur yang telah dilakukan oleh orang-orang suci sejak jaman lampau untuk keselamatan alam semesta ini. Semoga apa yang dilakukan oleh Pesantian Gita Bhuana Santi STAH DN Jakarta bermanfaat bagi lestari dan berkembangnya ajaran Hindu, dan semaraknya umat melakukan, melestarikan dan mengembangkan kidung-kidung suci yang telah ada.

Referensi

Prakash, Ravi dan K.L Joshi, 2005. ?g Veda Samhita Mandala VIII, IX dan X terjemahan Dewanto, S.S. Surabaya: Paramita.

Radhakrishnan, S. 1989. The Principal Upanisads. Jakarta: Yayasan Parijata.

Sudiani, Ni Nyoman. Geguritan Dalem Sidakarya disalin dari kaset Luh Camplung. Bali: Aneka Record.

 

*)Dosen STAH Dharma Nusantara Jakarta

 

MENINGKATKAN PEMAHAMAN DAN REALISASI AJARAN AGAMA HINDU MELALUI PROGRAM VIDEO

July 02, 2017 By: admin Category: Artikel

(Studi Mahasiswa Jurusan Penerangan Agama Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH)  Dharma Nusantara Jakarta)

Oleh: I Made Jaya Negara SP

Proses Shooting

Agama Hindu adalah agama tertua di dunia yang telah mengalami rentang sejarah yang panjang. Hindu senantiasa bisa menerima ragam budaya dan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan, hingga memasuki era Teknologi dan informasi saat ini. Perkembanan media Video dan kemajuan teknologi, jaringan internet, percepatan aliran informasi serta ketersediaan sumber informasi mempengaruhi pula upaya dalam memberikan pencerahan kepada umat agar senantiasa menjadikan agama sebagai suluh dalam kehidupan. Pengetahuan agama dapat disebarkan dengan mudah, cepat dan murah, menyusul berkembangnya teknologi. Bayangkan saja, seorang pandita memberikan dharma wacana di pelataran/wantilan pura yang diproduksi dalam sebuat program video dan didistribusikan melalui jaringan internet ataupun menggunakan media televisi dan disiarkan secara langsung atau pun tidak langsung, dapat disaksikan oleh ratusan hingga ribuan umat sampai di pelosok desa yang masih terjangkau siaran televisi tersebut.

Persiapan Sebelum Mencoba Pengambilan Gambar

Penggunaan jaringan internet, dapat digunakan menggali beragam informasi, mendalami ilmu pengetahuan (science) dan mengekplorasi kemampuan yang ada pada diri kita untuk ikut berbagi dan menyumbangkan pemikiran yang positif, inspiratif, inovatif, kreatif  dan berwawasan yang didasarkan atas dharma dari ajaran-ajaran agama Hindu. Kecerdasan yang terbentuk pada pribadi masing-masing umat merupakan hasil intelektualitas diri yang bermoral, dibentengi oleh norma-norma yang berlaku dan dilingkupi oleh satu kebenaran tertingi yaitu dharma.

Ilmu pengetahuan dan teknologi di lingkungan perguruan tinggi haruslah mendapatkan perhatian yang lebih karena mengingat cara pandang dan pola pikir di lingkungan akademik berbeda dengan lulusan sekolah dasar, menengah dan sekolah tingkat atas. Hal ini menuntut selain pemahaman dalam bidang teoritis, juga menuntut untuk memahami dan mengaplikasikan teknologi guna membangun kemajuan diri dan bangsa.

Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Dharma Nusantara Jakarta memiliki dua program studi yaitu: (1) Program Studi Pendidikan yang berkonsentrasi sebagai wahana pembentukan pemimpin dharma dibidang pendidikan dan membangun/membentuk tenaga pendidik secara professional dibidang pendidikan dan Agama Hindu. (2) Program Studi Penerangan Agama Hindu yang berkonsentrasi sebagai wahana pembentukan pemimpin dharma dibidang penerangan/pemberi pencerahan Agama Hindu.

Lulusan STAH Dharma Nusantara Jakarta  dituntut tidak hanya pandai dan cakap dalam hal pengetahuan teoritis tetapi juga dituntut untuk memiliki sikap dan ketrampilan yang akan mendukung hidupnya kelak bertugas ditengah masyarakat ketika sudah lulus kelak. Penguasaan teknologi terkait tugas dan kompetensi yan dimiliki akan membawa dampak majunya  masyarakat Hindu secara menyeluruh.

Mahasiswa Semester IV Jurusan Penerangan, Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Dharma Nusantara Jakarta, dalam Mata Kuliah “Pengembangan Media Komunikasi” mengarahkan mahasiswa untuk memiliki kemampuan untuk mengembangan dan memproduksi media komunikasi untuk memberi pencerahan agama melalui kemasan media baik media audio, video, maupun media cetak. Pada semester genap 2017 ini mahasiswa dilatih untuk memproduksi tayangan video sejak dari pengumpulan ide, penulisan naskah video, mengembangan shooting script, Pemilihan Pemain, shooting, hingga editing. Serangkaian proses produksi sampai menghasilkan sebuah program video tersebutlah menjadi tagihan akhir yang akan dinilai oleh team dosen mata kuliah ini (Wayan Arif dan I Ketut Ulianta). Model pembelajaran yang digunakan oleh team dosen adalah PjBL (Project Base Learning). Dalam Pembelajaran ini mahasiswa diwajibkan membuat sebuah proyek film pendek. Dalam mata kuliah ini adalah sebuah film singkat berdurasi 20 menit dengan materi Pencerahan Agama Hindu.

Foto Bersama Dosen Tamu, Bpk Teguh Setiawan (Cameraman Senior dan Dosen Akademi Televisi Indonesia)

Untuk menambah dan memberikan pengayaan pengalaman langsung kepada mahasiswa dan sebagai sharing knowledge dalam bidang Teknik Produksi Video juga mendatangkan dosen tamu dari Akademi Televisi Indonesia (ITVI). Dalam hal ini mengundang Bp. Teguh Setiawan seorang Cameraman Senior dan Dosen ITVI. Sebagai sumber belajar tambahan tersebut diharapkan mahasiswa menyerap beberapa pengetahuan baru dari para praktisi dibidangnya serta mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan terkait perkembangan terbaru. Salah satu Program dari kelompok 1 tentang pemahaman Simbul dalam Agama Hindu, Dalam program tersebut menceritakan tentang bagaimana seorang umat yang ingin sekali mengetahui dan memahami tentang ajaran yang dianutnya dan anggapan serta pertanyaan-pertanyaan umat lain yg diluar kepercayaannya menjadikan inspirasi bagi pembuatan program video tersebut. Di satu sisi tujuannya memberikan pemahaman terhadap kepercayaannya sendiri dan di sisi lain menepis tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh umat lain (non-Hindu) terkait dengan tata cara pemujaan dan berkeyakinan dalam ajaran Hindu.  

Pembuatan program video ini adalah kreativitas mahasiswa ketika mengikuti pembelajaran dalam mata kuliah melibatkan dua kelompok dan menghasilkan 2 project proram video dengan tema berbeda. Kegiatan mahasiswa ini mendapat bimbingan dan diarahkan oleh dosen mata kuliah. Dalam penggarapan program video ini banyak mengulas makna-makna tentang ajaran Agama Hindu seperti Ketuhanan dalam Agama Hindu, simbol-simbol yang ada di bangunan tempat pemujaan dan konsep pemujaan yang dilaksanakan oleh umat Hindu. Dengan pembahasan bahwa Tuhan menurut ajaran Hindu merupakan asal dari semua yang ada. Pudja dalam bukunya yang berjudul “Theologi Hindu (Brahma Widya)” mengatakan bahwa sifat Tuhan adalah “Satya yang merupakan kebenaran, pengetahuan, tidak terbatas yang diucapkan dalam satu kerangka Mantra yaitu “Sat Cit Ananda Brahman” sesungguhnya Tuhan adalah perwujudan Kebenaran, Kesadaran dan kebahagiaan (1999 : 11).  Konsep ketuhanan dalam Agama Hindu ada dua aspek pemujaan kepada Tuhan yaitu bersifat Nirguna Brahman dan Saguna BrahmanNirguna Brahman adalah Tuhan yang bersifat Transenden merupakan cara berpikir tentang hal-hal yang melampaui apa yang terlihat, yang dapat ditemukan di alam semesta, pemikiran yang mempelajari sifat Tuhan yang dianggap begitu jauh, berjarak dan mustahil dipahami manusia. Saguna Brahman adalah Tuhan yang diwujudkan kedalam bentuk simbol-simbol, hal ini dikarenakan keterbatasan pemikiran manusia untuk memahami esensi dari Tuhan Yang Maha Esa tersebut, maka diperlukan bentuk atau simbol sebagai alat konsentrasi kepada Tuhan, apakah hal itu salah? Dalam ajaran Hindu kaitannya dengan pemujaan kepada Tuhan tidak ada yang salah. Karena di dalam Pustaka Suci Veda (Bhagavadgita) pada Bab.4.11 menyatakan bahwa “ Sejauh mana semua orang menyerahkan diri kepada-Ku, Aku menganugerahi mereka sesuai dengan penyerahan diri itu. Semua orang menempuh jalan-Ku dalam segala hal, wahai putera Partha.” Jadi pada intinya dengan cara apapun engkau memuja Tuhan, maka dengan cara itu pula Tuhan akan datang memberkati.

Bp. Made Jaya Dosen STAH dalam adegan Penjelasan simbul-simbul agama Hindu.

Penjelasan lebih lanjut tentang pelukisan Tuhan dalam bentuk patung, relief dan gambar adalah suatu cetusan rasa cinta (bhakti). Berbakti, dengan kata dasar “bakti” berarti:  tunduk dan hormat, perbuatan yang menyatakan setia  (kasih, hormat, tunduk). Berbakti kepada Tuhan adalah sebuah keputusan untuk menjadikan Tuhan sebagai pusat pengabdian hidup atau sasaran hidup,  “Sebab segala sesuatu adalah dari Ia, dan oleh Ia, dan kepada Ia” rasa bhakti ini juga diwujudkan dengan jalan menghormati dan menyayangi sesama ciptaan Tuhan dan orang yang menempuh jalan Bhakti di sebut Bhakta. Sebagaimana halnya jika seorang pemuda jatuh cinta pada kekasihnya, sampai tingkat madness (tergila-gila) maka bantal gulingpun dipeluknya erat-erat, diumpamakan kekasihnya., diapun ingin mengambarkan kekasihnya itu dengan sajak-sajak yang penuh dengan perumpamaan. Begitu pula dalam persembahan sajen (yang berisi makanan yang lezat dan buah-buahan) ke Pura, apakah berarti Tuhan umat Hindu seperti manusia, suka makan yang enak-enak? Pura dihias dan diukir sedemikian indah, apakah Tuhan umat Hindu suka dengan seni? Tentu saja tidak. Semua sajen dan kesenian ini hanyalah sebagai alat untuk mewujudkan rasa bhakti kepada Tuhan. Jadi Agama Hindu memberikan kebebasan pada umatnya untuk memuja dan mengilhami Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri, karena ada ungkapan didalam ajaran Hindu “Pujalah simbol sebagai Tuhan, jangan puja Tuhan sebagai simbol.”

Harapan dari penulis bahwa melalui film documenter tersebut, semoga memberikan dampak yang positif terhadap pemahaman dan perkembangan ajaran Hindu di lingkungan akademis dan non-akademis. Semoga ajaran Hindu yang universal dapat dihayati oleh umat Hindu maupun non-Hindu sehingga terciptanya kedamaian dan kesejahteraan masyarakat, Bangsa  dan Negara.  

*) Pemeran Dosen STAH dalam Program Video.

MAHA SHIVARATRI DI HALIM PERDANA KUSUMA JAKARTA

January 30, 2017 By: admin Category: Artikel Keagamaan

Pada hari Caturdasi Krnapaksa Maghamasa, malam 13/hari ke 14 bulan Magha (Sasih Kapitu) atau sehari sebelum tilem (bulan mati) Sasih Kapitu, yaitu malam yang paling gelap di dalam satu tahun, yang tahun ini jatuh pada tanggal 26 Januari 2017 dilaksanakan Maha Shivaratri, bertempat di Pura Taman Sari Halim Perdana Kusuma Jakarta Timur. Acara ini diikuti oleh umat sedharma serta mahasiswa dan dosen STAH Dharma Nusantara Jakarta. Hadir sebagai narasumber Bp. KS Arsana dan Bp. Wayan Kantun Mandara.

siwaratri1Prosesi yang diawali dengan persiapan oleh panitia kemudian persembahyangan bersama, dilanjutkan dengan Siva Puja dengan melantunkan 1008 nama Siva. Kurang lebih berdurasi 1 jam 40 menit Siva Puja selesai langsung dilanjutkan dengan Dharma Tula  yang dibawakan oleh kedua nara sumber. Suatu Kreasi yang Nampak bahwa sebelum Dharma Tula dimulai, sejenak ditampilkan Sekehe Geguntangan dan Shanti STAH DN Jakarta untuk memberikan semangat dan hiburan  kepada peserta. Usai penampilan tersebut MC yang diperankan oleh Mahasiswa STAH DN Jakarta langsung mengambil alih kendali acara dan Dharma Tula Dimulai.

Bp. Wayan Kantun Mandara dengan mengkombinasikan paparannya dengan tayangan film. Beliau menekankan bahwa malam Maha Shivaratri ini hendaknya dijadikan sarana untuk memperbaiki dan introsfeksi diri dan melihat kedalam diri sendiri, agar perilaku kita menjadi lebih baik. Jalan Bhakti seperti Padasevanam, berbakti kepada tuhan dengan cara memberikan pelayanan kepada Tuhan termasuk sesama dan menolong mahkluk-mahkluk ciptaaNya, perlu lebih dikedepankan sehingga akan memupuk Cinta kasih sesama makhluk hidup.gegun

Bp. KS Arsana, pada paparannya menekankan pemurnian pikiran dengan Cinta Kasih. Pikiran adalah akar dari segala kebaikan dan kejahatan. Penyebab dari kebahagiaan sejati maupun penderitaan. Oleh karenanya Hindu mengajarkan Tri Kaya Parisuda. Dengan mengucapkan nama Shiva pada Maha Shivaratri (Malam Agung Siva) maka orang tersebut akan dimurnikanNya pikiran orang tersebut dari kegelapan pikiran Menuju cahaya pengetahuan, dibersihkan hatinya dan dibimbing dirinya dari yang tak benar Menuju kebenaran.

Diskusi, pertanyaan dan tanggapan dari narasumber menambah suasana menjadi hidup sehingga mejagra (melek semalam suntuk) sebagai salah satu ritual yang dilaksanakan malam itu menjadi berjalan lancar. Ritual lainnya dalam pelaksanaan Maha Shivaratri ini disamping jagra yaitu monobrata dan upawasa.

siwar2Tepat Pukul 00.00 malam hari diadakan persembahyangan bersama yang dipimpin langsung Mangku Gede Pura Taman Sari Halim yaitu Jero Mangku Made Kartika Dhiputra, bersama dengan Jero Mangku Ketut Baret.  Usai Persembahyangan Acara Dharma Tula dilanjutkan sampai menjelang Pkl. 4.30 acara diakhiri dengan Kuis untuk memperebutkan Door Price bagi peserta hingga pukul 4.30 yang dilanjutkan dengan persembahyangan bersama kembali. (Uli)

  • DOWNLOAD

  • Jurnal PASUPATI ISSN 2303-0860

  • Memajukan SDM Hindu

    Salah Satu Karya Dosen STAH DNJ

    Memajukan SDM Hindu

  • Categories

  • Recent Posts

  • Archives

  • DHARMAGITA

    Mrdukomala

    Ong sembah ninganatha tinghalana de tri loka sarana

    Ya Tuhan sembah hamba ini orang hina, silahkan lihat oleh Mu penguasa tiga dunia

    Wahya dhyatmika sembahing hulun ijongta tanhana waneh

    Lahir bathin sembah hamba tiada lain kehadapan kakiMu

    Sang lwir Agni sakeng tahen kadi minyak saking dadhi kita

    Engkau bagaikan api yang keluar dari kayu kering, bagaikan minyak yang keluar dari santan

    Sang saksat metu yan hana wwang ngamuter tutur pinahayu

    Engkau seakan-akan nyata tampak apabila ada orang yang mengolah ilmu bathin dengan baik

  • STATISTIK

  • Blog Advertising - Advertise on blogs with SponsoredReviews.com